19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
in Esai
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

Foto dari Canva

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di wilayah Bali Selatan dan kawasan-kawasan yang terhubung dengan ekonomi pariwisata. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mencatat bahwa antara tahun 2019 dan 2024 Bali telah kehilangan 6.522 hektar lahan sawah. Ini berarti, 1.304 hektar lahan sawah berubah menjadi lahan terbangun setiap tahun. Selain itu, kondisi di Bali juga menunjukkan persoalan lain yang terkait seperti kemacetan yang kian akut, banjir yang semakin sering, krisis sampah yang belum menemukan solusinya, hingga meningkatnya angka kriminalitas. Persoalan ini bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga persoalan ekologis, sosial, ekonomi, dan budaya.

Di tengah situasi tersebut, muncul usulan agar Bali mulai memberi ruang bagi bangunan yang lebih tinggi, yaitu sampai 45 meter. Alasan yang sering dikemukakan tampak logis pada permukaan: bila bangunan dapat dibuat vertikal, kebutuhan lahan horizontal dapat dikurangi; bila kebutuhan lahan berkurang, konversi sawah dan lahan pertanian dapat ditekan. Namun argumen ini perlu diperiksa dengan lebih hati-hati. Ia mengandung asumsi yang terlalu cepat, seolah-olah persoalan alih fungsi lahan dapat diselesaikan hanya dengan menambah ketinggian bangunan.

Aturan pembatasan ketinggian bangunan sendiri telah menjadi instrument pengendalian sejak tahun 1974 atau lima tahun sejak Bali ditetapkan sebagai pusat pengembangan kepariwisataan nasional untuk wilayah tengah Indonesia. Penetapan batasan ini, dalam pemahaman saya, memiliki setidaknya dua tujuan: pertama, dari sisi bisnis akan menjaga agar kelastarian budaya yang menjadi daya tarik Bali di mata audiens international terjaga; dan kedua, menjaga komposisi ruang tetap dalam skala manusia sehingga mencegah disorientasi orang Bali sebagai penghuni pulau. Keduanya memberikan Bali kemampuan untuk mengendalikan lansekap, menjaga hubungan visual antara bangunan dan alam, serta mempertahankan karakter ruang.

Selama ini, batas ketinggian bangunan di Bali bukan sekadar aturan teknis. Perda RTRW Bali yang berlaku saat ini adalah Perda Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2023 tentang RTRW Provinsi Bali 2023–2043. Dalam konteks sebelumnya, Perda Nomor 16 Tahun 2009 dan Perda Nomor 8 Tahun 2015 juga telah memuat prinsip pembatasan ketinggian bangunan maksimum 15 meter, meskipun regulasi tersebut kemudian diperbarui atau dicabut oleh kerangka RTRW yang lebih baru. Hal ini menunjukkan bahwa batas ketinggian 15 meter bukan muncul secara kebetulan, melainkan bagian dari sejarah panjang upaya pengendalian ruang Bali.

Masalah utama dalam usulan bangunan tinggi adalah anggapan bahwa vertikalisasi secara otomatis akan menghemat lahan. Saya sendiri memiliki pandangan sebaliknya karena pada kenyataannya, bangunan tinggi tidak selalu berarti pembangunan yang lebih hemat ruang secara sosial dan ekologis. Bangunan tinggi membutuhkan infrastruktur yang jauh lebih besar: akses jalan, parkir, air bersih, listrik, pengolahan limbah, sistem keselamatan kebakaran, jaringan logistik, dan kapasitas evakuasi. Jika infrastruktur tersebut tidak disiapkan, bangunan tinggi hanya memindahkan tekanan dari tanah ke sistem kota. Ia mungkin mengurangi tapak bangunan, tetapi dapat menambah beban kawasan.

Selanjutnya, kita perlu bertanya, siapa yang sebetulnya yang akan tinggal bangunan tinggi tersebut? Ini pertanyaan krusial karena banyak asumsi bahwa yang akan menghuni bangunan adalah mereka yang selama ini tinggal di perumahan tapak. Dan ini adalah asumsi yang memiliki kemungkinan tingkat kekeliruan yang tinggi. Bangunan tinggi hanya mungkin dibangun oleh investor kelas atas yang memiliki akses perbankan kuat. Karena itu, sasaran pasarnya bisa dipastikan adalah kelompok masyarakat dari golongan mampu. Jika bangunan tinggi dibangun untuk hotel, apartemen mewah, rumah sakit swasta, kampus komersial, atau properti investasi, maka ia tidak otomatis menjawab persoalan kebutuhan ruang masyarakat lokal. Bangunan tinggi bisa saja jatuh menjadi instrumen investasi, bukan alat pemerataan ruang seperti yang diasumsikan. Kemungkinan keberhasilan atau kegagalannya akan sangat ditentukan oleh mekanisme pasar. Satu contoh kegagalan bangunan tinggi adalah Forest City di Malaysia yang kini dijuluki sebagai kota hantu akibat semua asumsi yang dibuat sebelum pembangunan tidak terjadi setelah bangunan selesai.

Disinilah kehati-hatian dibutuhkan sebelum mengambil sikap yang akan mempengaruhi Bali di masa depan. Kebijakan tentang ketinggian bangunan bukanlah hal teknis semata tetapi ia adalah masalah ekonomi-politik lahan. Di Bali, tanah bukan sekadar komoditas properti. Tanah berkaitan dengan pertanian, banjar, pura, warisan keluarga, identitas desa, dan keberlanjutan sosial masyarakat. Ketika bangunan tinggi diperbolehkan, nilai lahan pada titik-titik tertentu dapat melonjak. Kenaikan nilai tanah ini berpotensi mempercepat spekulasi, mendorong pelepasan tanah oleh masyarakat lokal, dan memperbesar tekanan terhadap lahan-lahan yang sebelumnya masih bertahan sebagai ruang hidup komunal atau pertanian produktif. Alih-alih akan menyelamatkan lahan sawah, ia justru bisa menjadi faktor pendorong baru bagi konversi lahan yang lebih parah.

Sebelum kita memulai pembahasan yang lebih mendalam, pertanyaan yang harus diajukan bukan hanya “bolehkah Bali memiliki bangunan tinggi?”, tetapi “untuk siapa bangunan tinggi itu dibangun, di mana lokasinya, siapa yang memperoleh manfaatnya? Kemuadian yang tidak kalah krusial adalah memeriksa siapa yang menanggung bebannya, dan apakah ia benar-benar menyelesaikan persoalan yang diklaim ingin diselesaikan?” Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, kebijakan bangunan tinggi berisiko menjadi solusi yang tampak modern, tetapi secara substantif justru memperdalam persoalan lama tentang ketimpangan akses terhadap ruang.

Bangunan tinggi juga tidak dapat dilihat hanya sebagai bentuk fisik. Ia membawa logika kapital tertentu. Bangunan-bangunan tinggi bekerja dalam sistem ekonomi global yang padat modal, terintegrasi dengan pasar property internasional, perhotelan, investasi, dan konsumsi kelas menengah-atas. Logika di mana bangunan tinggi bekerja ini berbeda dengan struktur ruang Bali yang selama ini banyak dibentuk oleh desa adat, jaringan pura, sawah, pekarangan, ruang komunal, dan hubungan sosial berbasis banjar. Ketika bangunan tinggi masuk tanpa pengendalian yang ketat, ia bukan hanya mengubah garis langit, tetapi juga mengubah cara ruang diproduksi, dimiliki, digunakan, dan dimaknai. Lambat laun, ia akan menggeser cara pandang dan cara kerja budaya Masyarakat.

Usulan bangunan tinggi juga sering dikaitkan dengan persoalan kemacetan. Di sini, kehati-hatian sangat diperlukan. Sejauh ini, tidak ditemukan bukti empiris kuat bahwa kebijakan menaikkan batas ketinggian bangunan dengan sendirinya akan mengurangi kemacetan di Bali. Tom Tom Traffic Index mengeluarkan daftar kota-kota paling macet di dunia. Daftar tahun 2024 menyebutkan Davao, Bandung dan Manila sebagai tiga kota dengan Tingkat kemacetan paling tinggi. Ketiga kota tersebut mengijinkan bangunan tinggi. Dari sini kita bisa melihat bahwa kemacetan bukan persoalan ketinggian bangunan, melainkan persoalan sistem mobilitas. Ia berkaitan dengan distribusi aktivitas, ketergantungan pada kendaraan pribadi, keterbatasan transportasi publik, struktur jaringan jalan, lokasi hunian pekerja, pola perjalanan wisatawan, dan manajemen parkir.

Data mobilitas Bali justru menunjukkan bahwa masalah utama terletak pada ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. WRI Indonesia mencatat bahwa 62 persen mobilitas di Provinsi Bali menggunakan sepeda motor dan 33 persen menggunakan mobil, sementara mobilitas aktif seperti berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum hanya mencapai 1,55 persen perjalanan. WRI juga mencatat bahwa layanan transportasi umum seperti Trans Metro Dewata dan Trans Sarbagita baru menjangkau 18 persen luas area Sarbagita dan 43 persen penduduknya.

Dengan kondisi seperti itu, bangunan tinggi justru dapat memperbesar konsentrasi perjalanan jika tidak disertai transportasi publik massal yang andal. Hotel, apartemen, pusat komersial, rumah sakit, atau kampus vertikal akan menghasilkan perjalanan baru: tamu, penghuni, pekerja, pengunjung, kendaraan logistik, ojek daring, taksi, dan kendaraan servis. Bila semua perjalanan ini tetap bergantung pada kendaraan pribadi, maka vertikalisasi tidak mengurangi kemacetan, melainkan berpotensi memadatkan kemacetan pada titik-titik tertentu.

Dengan demikian, kebijakan bangunan tinggi tidak boleh diposisikan sebagai jawaban mudah atas krisis lahan atau kemacetan. Sebelum kebijakan semacam itu dipertimbangkan, perlu ada kajian komprehensif tentang dampaknya terhadap lanskap budaya, daya dukung infrastruktur, transportasi, air, energi, limbah, keselamatan, harga tanah, struktur sosial desa, dan akses masyarakat lokal terhadap ruang. Tanpa kajian tersebut, usulan bangunan tinggi lebih menyerupai klaim spekulatif daripada kebijakan publik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Krisis yang dihadapi Bali pasca pandemi ini adalah pengendalian pertumbuhan yang berakibat pada krisis mobilitas, lahan pertanian, krisis infrastruktur, dan terutama krisis tata kelola ruang. Memberikan ijin membangun secara vertical tanpa menyelesaiakan krisis-krisis tersebut bisa jadi akan menambah parah persoalan karena membuat harga lahan semakin tinggi, meningkatkan spekulasi, dan hal ini bisa menjauhkan keadilan ruang bagi Masyarakat Bali. Dengan demikian, bangunan tinggi, buat saya, bukanlah solusi teknis yang netral. Ini adalah usulan yang sarat kepentingan ekonomi-politik ruang neo-liberalistik. Pelonggaran aturan ketinggian bangunan adalah pilihan politik ruang yang beresiko jika dilakukan tanpa kajian yang mendalam dan menyeluruh. Ini seperti membuka kotak pandora baru.[T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Tags: arsitekturarsitektur balibaliPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

Next Post

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails
Next Post
UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co