7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
in Esai
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

Foto dari Canva

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di wilayah Bali Selatan dan kawasan-kawasan yang terhubung dengan ekonomi pariwisata. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mencatat bahwa antara tahun 2019 dan 2024 Bali telah kehilangan 6.522 hektar lahan sawah. Ini berarti, 1.304 hektar lahan sawah berubah menjadi lahan terbangun setiap tahun. Selain itu, kondisi di Bali juga menunjukkan persoalan lain yang terkait seperti kemacetan yang kian akut, banjir yang semakin sering, krisis sampah yang belum menemukan solusinya, hingga meningkatnya angka kriminalitas. Persoalan ini bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga persoalan ekologis, sosial, ekonomi, dan budaya.

Di tengah situasi tersebut, muncul usulan agar Bali mulai memberi ruang bagi bangunan yang lebih tinggi, yaitu sampai 45 meter. Alasan yang sering dikemukakan tampak logis pada permukaan: bila bangunan dapat dibuat vertikal, kebutuhan lahan horizontal dapat dikurangi; bila kebutuhan lahan berkurang, konversi sawah dan lahan pertanian dapat ditekan. Namun argumen ini perlu diperiksa dengan lebih hati-hati. Ia mengandung asumsi yang terlalu cepat, seolah-olah persoalan alih fungsi lahan dapat diselesaikan hanya dengan menambah ketinggian bangunan.

Aturan pembatasan ketinggian bangunan sendiri telah menjadi instrument pengendalian sejak tahun 1974 atau lima tahun sejak Bali ditetapkan sebagai pusat pengembangan kepariwisataan nasional untuk wilayah tengah Indonesia. Penetapan batasan ini, dalam pemahaman saya, memiliki setidaknya dua tujuan: pertama, dari sisi bisnis akan menjaga agar kelastarian budaya yang menjadi daya tarik Bali di mata audiens international terjaga; dan kedua, menjaga komposisi ruang tetap dalam skala manusia sehingga mencegah disorientasi orang Bali sebagai penghuni pulau. Keduanya memberikan Bali kemampuan untuk mengendalikan lansekap, menjaga hubungan visual antara bangunan dan alam, serta mempertahankan karakter ruang.

Selama ini, batas ketinggian bangunan di Bali bukan sekadar aturan teknis. Perda RTRW Bali yang berlaku saat ini adalah Perda Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2023 tentang RTRW Provinsi Bali 2023–2043. Dalam konteks sebelumnya, Perda Nomor 16 Tahun 2009 dan Perda Nomor 8 Tahun 2015 juga telah memuat prinsip pembatasan ketinggian bangunan maksimum 15 meter, meskipun regulasi tersebut kemudian diperbarui atau dicabut oleh kerangka RTRW yang lebih baru. Hal ini menunjukkan bahwa batas ketinggian 15 meter bukan muncul secara kebetulan, melainkan bagian dari sejarah panjang upaya pengendalian ruang Bali.

Masalah utama dalam usulan bangunan tinggi adalah anggapan bahwa vertikalisasi secara otomatis akan menghemat lahan. Saya sendiri memiliki pandangan sebaliknya karena pada kenyataannya, bangunan tinggi tidak selalu berarti pembangunan yang lebih hemat ruang secara sosial dan ekologis. Bangunan tinggi membutuhkan infrastruktur yang jauh lebih besar: akses jalan, parkir, air bersih, listrik, pengolahan limbah, sistem keselamatan kebakaran, jaringan logistik, dan kapasitas evakuasi. Jika infrastruktur tersebut tidak disiapkan, bangunan tinggi hanya memindahkan tekanan dari tanah ke sistem kota. Ia mungkin mengurangi tapak bangunan, tetapi dapat menambah beban kawasan.

Selanjutnya, kita perlu bertanya, siapa yang sebetulnya yang akan tinggal bangunan tinggi tersebut? Ini pertanyaan krusial karena banyak asumsi bahwa yang akan menghuni bangunan adalah mereka yang selama ini tinggal di perumahan tapak. Dan ini adalah asumsi yang memiliki kemungkinan tingkat kekeliruan yang tinggi. Bangunan tinggi hanya mungkin dibangun oleh investor kelas atas yang memiliki akses perbankan kuat. Karena itu, sasaran pasarnya bisa dipastikan adalah kelompok masyarakat dari golongan mampu. Jika bangunan tinggi dibangun untuk hotel, apartemen mewah, rumah sakit swasta, kampus komersial, atau properti investasi, maka ia tidak otomatis menjawab persoalan kebutuhan ruang masyarakat lokal. Bangunan tinggi bisa saja jatuh menjadi instrumen investasi, bukan alat pemerataan ruang seperti yang diasumsikan. Kemungkinan keberhasilan atau kegagalannya akan sangat ditentukan oleh mekanisme pasar. Satu contoh kegagalan bangunan tinggi adalah Forest City di Malaysia yang kini dijuluki sebagai kota hantu akibat semua asumsi yang dibuat sebelum pembangunan tidak terjadi setelah bangunan selesai.

Disinilah kehati-hatian dibutuhkan sebelum mengambil sikap yang akan mempengaruhi Bali di masa depan. Kebijakan tentang ketinggian bangunan bukanlah hal teknis semata tetapi ia adalah masalah ekonomi-politik lahan. Di Bali, tanah bukan sekadar komoditas properti. Tanah berkaitan dengan pertanian, banjar, pura, warisan keluarga, identitas desa, dan keberlanjutan sosial masyarakat. Ketika bangunan tinggi diperbolehkan, nilai lahan pada titik-titik tertentu dapat melonjak. Kenaikan nilai tanah ini berpotensi mempercepat spekulasi, mendorong pelepasan tanah oleh masyarakat lokal, dan memperbesar tekanan terhadap lahan-lahan yang sebelumnya masih bertahan sebagai ruang hidup komunal atau pertanian produktif. Alih-alih akan menyelamatkan lahan sawah, ia justru bisa menjadi faktor pendorong baru bagi konversi lahan yang lebih parah.

Sebelum kita memulai pembahasan yang lebih mendalam, pertanyaan yang harus diajukan bukan hanya “bolehkah Bali memiliki bangunan tinggi?”, tetapi “untuk siapa bangunan tinggi itu dibangun, di mana lokasinya, siapa yang memperoleh manfaatnya? Kemuadian yang tidak kalah krusial adalah memeriksa siapa yang menanggung bebannya, dan apakah ia benar-benar menyelesaikan persoalan yang diklaim ingin diselesaikan?” Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, kebijakan bangunan tinggi berisiko menjadi solusi yang tampak modern, tetapi secara substantif justru memperdalam persoalan lama tentang ketimpangan akses terhadap ruang.

Bangunan tinggi juga tidak dapat dilihat hanya sebagai bentuk fisik. Ia membawa logika kapital tertentu. Bangunan-bangunan tinggi bekerja dalam sistem ekonomi global yang padat modal, terintegrasi dengan pasar property internasional, perhotelan, investasi, dan konsumsi kelas menengah-atas. Logika di mana bangunan tinggi bekerja ini berbeda dengan struktur ruang Bali yang selama ini banyak dibentuk oleh desa adat, jaringan pura, sawah, pekarangan, ruang komunal, dan hubungan sosial berbasis banjar. Ketika bangunan tinggi masuk tanpa pengendalian yang ketat, ia bukan hanya mengubah garis langit, tetapi juga mengubah cara ruang diproduksi, dimiliki, digunakan, dan dimaknai. Lambat laun, ia akan menggeser cara pandang dan cara kerja budaya Masyarakat.

Usulan bangunan tinggi juga sering dikaitkan dengan persoalan kemacetan. Di sini, kehati-hatian sangat diperlukan. Sejauh ini, tidak ditemukan bukti empiris kuat bahwa kebijakan menaikkan batas ketinggian bangunan dengan sendirinya akan mengurangi kemacetan di Bali. Tom Tom Traffic Index mengeluarkan daftar kota-kota paling macet di dunia. Daftar tahun 2024 menyebutkan Davao, Bandung dan Manila sebagai tiga kota dengan Tingkat kemacetan paling tinggi. Ketiga kota tersebut mengijinkan bangunan tinggi. Dari sini kita bisa melihat bahwa kemacetan bukan persoalan ketinggian bangunan, melainkan persoalan sistem mobilitas. Ia berkaitan dengan distribusi aktivitas, ketergantungan pada kendaraan pribadi, keterbatasan transportasi publik, struktur jaringan jalan, lokasi hunian pekerja, pola perjalanan wisatawan, dan manajemen parkir.

Data mobilitas Bali justru menunjukkan bahwa masalah utama terletak pada ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. WRI Indonesia mencatat bahwa 62 persen mobilitas di Provinsi Bali menggunakan sepeda motor dan 33 persen menggunakan mobil, sementara mobilitas aktif seperti berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum hanya mencapai 1,55 persen perjalanan. WRI juga mencatat bahwa layanan transportasi umum seperti Trans Metro Dewata dan Trans Sarbagita baru menjangkau 18 persen luas area Sarbagita dan 43 persen penduduknya.

Dengan kondisi seperti itu, bangunan tinggi justru dapat memperbesar konsentrasi perjalanan jika tidak disertai transportasi publik massal yang andal. Hotel, apartemen, pusat komersial, rumah sakit, atau kampus vertikal akan menghasilkan perjalanan baru: tamu, penghuni, pekerja, pengunjung, kendaraan logistik, ojek daring, taksi, dan kendaraan servis. Bila semua perjalanan ini tetap bergantung pada kendaraan pribadi, maka vertikalisasi tidak mengurangi kemacetan, melainkan berpotensi memadatkan kemacetan pada titik-titik tertentu.

Dengan demikian, kebijakan bangunan tinggi tidak boleh diposisikan sebagai jawaban mudah atas krisis lahan atau kemacetan. Sebelum kebijakan semacam itu dipertimbangkan, perlu ada kajian komprehensif tentang dampaknya terhadap lanskap budaya, daya dukung infrastruktur, transportasi, air, energi, limbah, keselamatan, harga tanah, struktur sosial desa, dan akses masyarakat lokal terhadap ruang. Tanpa kajian tersebut, usulan bangunan tinggi lebih menyerupai klaim spekulatif daripada kebijakan publik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Krisis yang dihadapi Bali pasca pandemi ini adalah pengendalian pertumbuhan yang berakibat pada krisis mobilitas, lahan pertanian, krisis infrastruktur, dan terutama krisis tata kelola ruang. Memberikan ijin membangun secara vertical tanpa menyelesaiakan krisis-krisis tersebut bisa jadi akan menambah parah persoalan karena membuat harga lahan semakin tinggi, meningkatkan spekulasi, dan hal ini bisa menjauhkan keadilan ruang bagi Masyarakat Bali. Dengan demikian, bangunan tinggi, buat saya, bukanlah solusi teknis yang netral. Ini adalah usulan yang sarat kepentingan ekonomi-politik ruang neo-liberalistik. Pelonggaran aturan ketinggian bangunan adalah pilihan politik ruang yang beresiko jika dilakukan tanpa kajian yang mendalam dan menyeluruh. Ini seperti membuka kotak pandora baru.[T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Tags: arsitekturarsitektur balibaliPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

Next Post

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails
Next Post
UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co