28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
in Esai
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

Foto dari Canva

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di wilayah Bali Selatan dan kawasan-kawasan yang terhubung dengan ekonomi pariwisata. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mencatat bahwa antara tahun 2019 dan 2024 Bali telah kehilangan 6.522 hektar lahan sawah. Ini berarti, 1.304 hektar lahan sawah berubah menjadi lahan terbangun setiap tahun. Selain itu, kondisi di Bali juga menunjukkan persoalan lain yang terkait seperti kemacetan yang kian akut, banjir yang semakin sering, krisis sampah yang belum menemukan solusinya, hingga meningkatnya angka kriminalitas. Persoalan ini bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga persoalan ekologis, sosial, ekonomi, dan budaya.

Di tengah situasi tersebut, muncul usulan agar Bali mulai memberi ruang bagi bangunan yang lebih tinggi, yaitu sampai 45 meter. Alasan yang sering dikemukakan tampak logis pada permukaan: bila bangunan dapat dibuat vertikal, kebutuhan lahan horizontal dapat dikurangi; bila kebutuhan lahan berkurang, konversi sawah dan lahan pertanian dapat ditekan. Namun argumen ini perlu diperiksa dengan lebih hati-hati. Ia mengandung asumsi yang terlalu cepat, seolah-olah persoalan alih fungsi lahan dapat diselesaikan hanya dengan menambah ketinggian bangunan.

Aturan pembatasan ketinggian bangunan sendiri telah menjadi instrument pengendalian sejak tahun 1974 atau lima tahun sejak Bali ditetapkan sebagai pusat pengembangan kepariwisataan nasional untuk wilayah tengah Indonesia. Penetapan batasan ini, dalam pemahaman saya, memiliki setidaknya dua tujuan: pertama, dari sisi bisnis akan menjaga agar kelastarian budaya yang menjadi daya tarik Bali di mata audiens international terjaga; dan kedua, menjaga komposisi ruang tetap dalam skala manusia sehingga mencegah disorientasi orang Bali sebagai penghuni pulau. Keduanya memberikan Bali kemampuan untuk mengendalikan lansekap, menjaga hubungan visual antara bangunan dan alam, serta mempertahankan karakter ruang.

Selama ini, batas ketinggian bangunan di Bali bukan sekadar aturan teknis. Perda RTRW Bali yang berlaku saat ini adalah Perda Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2023 tentang RTRW Provinsi Bali 2023–2043. Dalam konteks sebelumnya, Perda Nomor 16 Tahun 2009 dan Perda Nomor 8 Tahun 2015 juga telah memuat prinsip pembatasan ketinggian bangunan maksimum 15 meter, meskipun regulasi tersebut kemudian diperbarui atau dicabut oleh kerangka RTRW yang lebih baru. Hal ini menunjukkan bahwa batas ketinggian 15 meter bukan muncul secara kebetulan, melainkan bagian dari sejarah panjang upaya pengendalian ruang Bali.

Masalah utama dalam usulan bangunan tinggi adalah anggapan bahwa vertikalisasi secara otomatis akan menghemat lahan. Saya sendiri memiliki pandangan sebaliknya karena pada kenyataannya, bangunan tinggi tidak selalu berarti pembangunan yang lebih hemat ruang secara sosial dan ekologis. Bangunan tinggi membutuhkan infrastruktur yang jauh lebih besar: akses jalan, parkir, air bersih, listrik, pengolahan limbah, sistem keselamatan kebakaran, jaringan logistik, dan kapasitas evakuasi. Jika infrastruktur tersebut tidak disiapkan, bangunan tinggi hanya memindahkan tekanan dari tanah ke sistem kota. Ia mungkin mengurangi tapak bangunan, tetapi dapat menambah beban kawasan.

Selanjutnya, kita perlu bertanya, siapa yang sebetulnya yang akan tinggal bangunan tinggi tersebut? Ini pertanyaan krusial karena banyak asumsi bahwa yang akan menghuni bangunan adalah mereka yang selama ini tinggal di perumahan tapak. Dan ini adalah asumsi yang memiliki kemungkinan tingkat kekeliruan yang tinggi. Bangunan tinggi hanya mungkin dibangun oleh investor kelas atas yang memiliki akses perbankan kuat. Karena itu, sasaran pasarnya bisa dipastikan adalah kelompok masyarakat dari golongan mampu. Jika bangunan tinggi dibangun untuk hotel, apartemen mewah, rumah sakit swasta, kampus komersial, atau properti investasi, maka ia tidak otomatis menjawab persoalan kebutuhan ruang masyarakat lokal. Bangunan tinggi bisa saja jatuh menjadi instrumen investasi, bukan alat pemerataan ruang seperti yang diasumsikan. Kemungkinan keberhasilan atau kegagalannya akan sangat ditentukan oleh mekanisme pasar. Satu contoh kegagalan bangunan tinggi adalah Forest City di Malaysia yang kini dijuluki sebagai kota hantu akibat semua asumsi yang dibuat sebelum pembangunan tidak terjadi setelah bangunan selesai.

Disinilah kehati-hatian dibutuhkan sebelum mengambil sikap yang akan mempengaruhi Bali di masa depan. Kebijakan tentang ketinggian bangunan bukanlah hal teknis semata tetapi ia adalah masalah ekonomi-politik lahan. Di Bali, tanah bukan sekadar komoditas properti. Tanah berkaitan dengan pertanian, banjar, pura, warisan keluarga, identitas desa, dan keberlanjutan sosial masyarakat. Ketika bangunan tinggi diperbolehkan, nilai lahan pada titik-titik tertentu dapat melonjak. Kenaikan nilai tanah ini berpotensi mempercepat spekulasi, mendorong pelepasan tanah oleh masyarakat lokal, dan memperbesar tekanan terhadap lahan-lahan yang sebelumnya masih bertahan sebagai ruang hidup komunal atau pertanian produktif. Alih-alih akan menyelamatkan lahan sawah, ia justru bisa menjadi faktor pendorong baru bagi konversi lahan yang lebih parah.

Sebelum kita memulai pembahasan yang lebih mendalam, pertanyaan yang harus diajukan bukan hanya “bolehkah Bali memiliki bangunan tinggi?”, tetapi “untuk siapa bangunan tinggi itu dibangun, di mana lokasinya, siapa yang memperoleh manfaatnya? Kemuadian yang tidak kalah krusial adalah memeriksa siapa yang menanggung bebannya, dan apakah ia benar-benar menyelesaikan persoalan yang diklaim ingin diselesaikan?” Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, kebijakan bangunan tinggi berisiko menjadi solusi yang tampak modern, tetapi secara substantif justru memperdalam persoalan lama tentang ketimpangan akses terhadap ruang.

Bangunan tinggi juga tidak dapat dilihat hanya sebagai bentuk fisik. Ia membawa logika kapital tertentu. Bangunan-bangunan tinggi bekerja dalam sistem ekonomi global yang padat modal, terintegrasi dengan pasar property internasional, perhotelan, investasi, dan konsumsi kelas menengah-atas. Logika di mana bangunan tinggi bekerja ini berbeda dengan struktur ruang Bali yang selama ini banyak dibentuk oleh desa adat, jaringan pura, sawah, pekarangan, ruang komunal, dan hubungan sosial berbasis banjar. Ketika bangunan tinggi masuk tanpa pengendalian yang ketat, ia bukan hanya mengubah garis langit, tetapi juga mengubah cara ruang diproduksi, dimiliki, digunakan, dan dimaknai. Lambat laun, ia akan menggeser cara pandang dan cara kerja budaya Masyarakat.

Usulan bangunan tinggi juga sering dikaitkan dengan persoalan kemacetan. Di sini, kehati-hatian sangat diperlukan. Sejauh ini, tidak ditemukan bukti empiris kuat bahwa kebijakan menaikkan batas ketinggian bangunan dengan sendirinya akan mengurangi kemacetan di Bali. Tom Tom Traffic Index mengeluarkan daftar kota-kota paling macet di dunia. Daftar tahun 2024 menyebutkan Davao, Bandung dan Manila sebagai tiga kota dengan Tingkat kemacetan paling tinggi. Ketiga kota tersebut mengijinkan bangunan tinggi. Dari sini kita bisa melihat bahwa kemacetan bukan persoalan ketinggian bangunan, melainkan persoalan sistem mobilitas. Ia berkaitan dengan distribusi aktivitas, ketergantungan pada kendaraan pribadi, keterbatasan transportasi publik, struktur jaringan jalan, lokasi hunian pekerja, pola perjalanan wisatawan, dan manajemen parkir.

Data mobilitas Bali justru menunjukkan bahwa masalah utama terletak pada ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. WRI Indonesia mencatat bahwa 62 persen mobilitas di Provinsi Bali menggunakan sepeda motor dan 33 persen menggunakan mobil, sementara mobilitas aktif seperti berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum hanya mencapai 1,55 persen perjalanan. WRI juga mencatat bahwa layanan transportasi umum seperti Trans Metro Dewata dan Trans Sarbagita baru menjangkau 18 persen luas area Sarbagita dan 43 persen penduduknya.

Dengan kondisi seperti itu, bangunan tinggi justru dapat memperbesar konsentrasi perjalanan jika tidak disertai transportasi publik massal yang andal. Hotel, apartemen, pusat komersial, rumah sakit, atau kampus vertikal akan menghasilkan perjalanan baru: tamu, penghuni, pekerja, pengunjung, kendaraan logistik, ojek daring, taksi, dan kendaraan servis. Bila semua perjalanan ini tetap bergantung pada kendaraan pribadi, maka vertikalisasi tidak mengurangi kemacetan, melainkan berpotensi memadatkan kemacetan pada titik-titik tertentu.

Dengan demikian, kebijakan bangunan tinggi tidak boleh diposisikan sebagai jawaban mudah atas krisis lahan atau kemacetan. Sebelum kebijakan semacam itu dipertimbangkan, perlu ada kajian komprehensif tentang dampaknya terhadap lanskap budaya, daya dukung infrastruktur, transportasi, air, energi, limbah, keselamatan, harga tanah, struktur sosial desa, dan akses masyarakat lokal terhadap ruang. Tanpa kajian tersebut, usulan bangunan tinggi lebih menyerupai klaim spekulatif daripada kebijakan publik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Krisis yang dihadapi Bali pasca pandemi ini adalah pengendalian pertumbuhan yang berakibat pada krisis mobilitas, lahan pertanian, krisis infrastruktur, dan terutama krisis tata kelola ruang. Memberikan ijin membangun secara vertical tanpa menyelesaiakan krisis-krisis tersebut bisa jadi akan menambah parah persoalan karena membuat harga lahan semakin tinggi, meningkatkan spekulasi, dan hal ini bisa menjauhkan keadilan ruang bagi Masyarakat Bali. Dengan demikian, bangunan tinggi, buat saya, bukanlah solusi teknis yang netral. Ini adalah usulan yang sarat kepentingan ekonomi-politik ruang neo-liberalistik. Pelonggaran aturan ketinggian bangunan adalah pilihan politik ruang yang beresiko jika dilakukan tanpa kajian yang mendalam dan menyeluruh. Ini seperti membuka kotak pandora baru.[T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Tags: arsitekturarsitektur balibaliPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

Next Post

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails
Next Post
UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co