TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran bersama bertajuk “Impulse” di Kalpataru Art Space, Sanur Art Hub. Pameran yang berlangsung di ruang kreatif independen yang menggabungkan galeri seni, area kuliner, serta tempat bersantai ini dibuka oleh Marlow Bandem pada 19 Agustus 2026 dan berlangsung hingga 15 September 2026.
Pertemuan ketiga perupa tersebut menjadi bagian penting dari gagasan yang ingin dibangun Sanur Art Hub sebagai ruang perjumpaan seni. “Kehadiran karya Made Mahendra Mangku, Wayan Arnata, dan Galung Wiratmaja dalam Impulse menjadi pengalaman istimewa baginya, sekaligus mempertemukan perjalanan dan proses panjang mereka dalam satu ruang. Sanur Art Hub kami hadirkan sebagai ruang terbuka bagi seni, kreativitas, dan pertemuan—tempat seniman, komunitas, generasi muda, dan masyarakat dapat bertemu dan berkembang bersama,” kata Founder sekaligus Art Director Sanur Art Hub, I Wayan “Apel” Hendrawan, dalam konferensi pers, Minggu, 16 Agustus 2026.
Ketika memasuki ruang pamer, perbedaan medium menjadi hal pertama yang mudah dikenali. Dalam pameran kali ini, ketiga perupa datang dengan medium dan pengalaman artistik yang berbeda. Mahendra Mangku bekerja dengan kertas, Wayan Arnata menggunakan benang, sementara Galung Wiratmaja menghadirkan karya di atas kanvas. Namun, ada satu hal yang mempertemukan mereka, yaitu abstraksi sebagai bahasa visual sekaligus ruang untuk membaca kembali pengalaman, lingkungan, tradisi, dan hubungan manusia dengan kehidupan.

Pertemuan ketiganya bukan sekadar menyatukan karya dalam satu ruang pamer. Ketiga perupa itu memiliki kedekatan pengalaman yang membuat mereka seperti berada dalam satu frekuensi. Ketiganya tumbuh di Sukawati, salah satu kantong seni rupa dan kriya penting di Bali. Berasal dari lingkungan tersebut, mereka mengenal tradisi, material, serta cara pandang terhadap seni yang kemudian berkembang menjadi praktik personal masing-masing.
Bagi Made Mahendra Mangku, tempat pameran ini menjadi ruang baru yang selalu memberikan rangsangan tersendiri. Ia merasakan kehadiran Sanur Art Hub sebagai dorongan untuk menciptakan karya yang mampu berdialog dengan ruang. Baginya, karya bukan sekadar eksplorasi material, tetapi juga bentuk respons emosional dan spiritual terhadap tempat.
Pendekatan itu tampak dalam karya-karyanya yang banyak berbicara tentang alam dan lingkungan. Namun, ia tidak menunjuk pada satu tempat tertentu, melainkan mengajak melihat persoalan yang lebih luas, yaitu bagaimana manusia memperlakukan alam dan bagaimana keharmonisan dapat terus dijaga.
Dalam prosesnya, Mahendra Mangku memberi ruang besar kepada air dan warna untuk menemukan jalannya sendiri di atas kertas. Teknik blobor, ketika pigmen dan air dibiarkan merambat secara bebas, menjadi bagian penting dari bahasa visualnya. Namun, kebebasan itu bukan berarti tanpa kendali.
Di balik proses tersebut terdapat pengalaman panjang yang membuatnya mampu membaca kapan aliran warna menghasilkan komposisi yang tepat dan kapan harus dihentikan. Spontanitas kemudian bertemu dengan kepekaan yang terbentuk dari puluhan tahun berhadapan dengan air, kertas, warna, dan ruang.



Abstraksi Mahendra Mangku pun terasa dekat dengan gagasan tentang alam yang selalu bergerak. Ia tidak berusaha meniru bentuk alam secara langsung, tetapi menangkap ritme dan energinya. “Alam hadir bukan sebagai objek yang harus digambarkan, melainkan sebagai pengalaman yang diterjemahkan melalui warna dan gerak,” ucap Mahendra Mangku.
Dari kertas dan aliran warna, perjalanan pameran kemudian beralih pada material yang memiliki hubungan lebih dekat dengan ingatan dan praktik ritual. Wayan Arnata membawa pengalaman yang berbeda. Ia menggunakan benang sebagai medium utama, sebuah pilihan yang memiliki hubungan erat dengan pengalaman masa kecilnya. Arnata tumbuh dengan ingatan tentang sang kakek, seorang sangging, yang mempraktikkan teknik anyaman serat atau benang (ngodi) pada sarana ritual.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan artistiknya. Helai demi helai benang, garis demi garis, disusun menjadi bahasa visual yang berbicara tentang keterhubungan, ketekunan, dan warisan budaya. Dalam pameran “Impulse”, Arnata juga menghadirkan dua karya baru, “Resonansi” dan “Lintasan Lelaku”. Keduanya menjadi bentuk respons terhadap ruang Sanur Art Hub sekaligus berhubungan dengan perjalanan personal sang perupa.
Bagi Arnata, benang bukan sekadar material. Di dalamnya terdapat ingatan tentang praktik ritual dan pengetahuan yang diwariskan. Ngodi sendiri merupakan bagian dari ruang sakral yang berkaitan dengan perjalanan atma menuju pembebasan. Ketika teknik tersebut dipindahkan ke dalam praktik seni rupa kontemporer, Arnata seolah membawa kembali warisan tersebut ke dalam konteks baru.
“Saya tidak sekadar mengulang tradisi, tetapi menerjemahkannya melalui bahasa abstrak yang personal. Tradisi menjadi akar, sementara abstraksi menjadi ruang untuk terus mencari bentuk baru,” papar Arnata.

Jika Mahendra Mangku berangkat dari alam dan Arnata dari ingatan tentang material serta ritual, Galung Wiratmaja memilih jalan yang berbeda. Kanvas menjadi ruang baginya untuk menghadirkan figur, siluet, dan berbagai kemungkinan hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya. Bentuk-bentuk yang muncul sering kali tidak diselesaikan secara utuh. Justru ketidakselesaian itu memberi ruang bagi pengunjung untuk membaca dan menafsirkan karya dari pengalaman masing-masing.
Galung banyak berangkat dari kehidupan sosial di sekitarnya. Figur manusia hadir sebagai pemantik emosi, bukan sebagai gambaran yang harus dibaca secara tunggal. “Saya tetap membiarkan bentuk tetap terbuka, sehingga pengunjung memiliki kebebasan untuk menemukan maknanya sendiri,” sebut Galung.
Tiga pendekatan tersebut kemudian dibaca oleh penulis pameran, Vincent Chandra, melalui tajuk “Impulse”. Ia menyebut “Impulse” sebagai pertemuan antara dorongan dan denyut. Dorongan bersifat personal dan spontan, sementara denyut bersifat kolektif dan mampu bertahan lintas generasi.
Kerangka tersebut menjadi dasar membaca karya ketiga perupa. Rangsangan dapat datang dari medium, memori, lingkungan, maupun warisan budaya. Rangsangan itu kemudian melahirkan dorongan untuk berkarya. Setelah melewati proses panjang, dorongan tersebut mengendap menjadi bahasa visual yang lebih tenang dan matang.
Perbedaan pendekatan ketiganya justru membuat “Impulse” menjadi menarik. Mahendra Mangku bergerak melalui alam dan spontanitas warna, Arnata melalui ingatan, benang, serta warisan ritual, sementara Galung melalui figur dan relasi sosial. Tiga jalan berbeda itu bertemu dalam satu wilayah, yaitu abstraksi yang tidak sepenuhnya meninggalkan pengalaman dan akar budaya.

Menurut Vincent, ketiga perupa ini merupakan bagian dari generasi yang sejak dekade 1990-an tetap setia mengembangkan bahasa abstrak. Mereka sama-sama tumbuh di Sukawati, tetapi menempuh perjalanan pendidikan dan artistik yang berbeda. Perbedaan itu justru menunjukkan bahwa abstraksi di Bali tidak lahir dari satu sumber pemikiran saja.
Dalam sejarah seni rupa Bali, abstraksi juga memiliki perjalanan yang panjang. Pengaruh pendidikan seni modern dari Yogyakarta bertemu dengan tradisi, mitologi, dan identitas lokal. Pertemuan tersebut melahirkan bentuk-bentuk baru yang tidak sepenuhnya Barat, tetapi juga tidak sekadar mengulang tradisi. “Pada titik ini, abstraksi menjadi lebih dari sekadar gaya. Ia menjadi bahasa untuk mempertemukan pengalaman personal dengan akar budaya,” ucap Vincent.
Hal itu terlihat pada ketiga perupa. Menurut Vincent, Mahendra Mangku menemukan hubungan antara spontanitas warna dan keharmonisan alam. Arnata membawa ingatan tentang ngodi dan tradisi ritual ke dalam susunan benang yang kontemporer. Galung menghadirkan figur yang tidak selesai sebagai refleksi tentang identitas dan kehidupan sosial yang terus berubah.
“Ketiganya menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Ia dapat hidup dalam cara seorang seniman memilih material, mengolah garis, menyusun komposisi, maupun merespons lingkungan,” paparnya.
Vincent menyebutkan, pendekatan tersebut juga berhubungan dengan gagasan Tri Hita Karana tentang menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Nilai tersebut tidak selalu ditampilkan secara literal, tetapi terasa sebagai kesadaran yang mengalir dalam karya.

Vincent menegaskan, “Impulse” bukan hanya tentang tiga perupa dan karya abstrak mereka. Pameran ini juga menjadi pertemuan antara pengalaman masa lalu dan pencarian masa kini. Mahendra Mangku, Arnata, dan Galung Wiratmaja telah menemukan karakter masing-masing. Namun, perjalanan mereka belum berhenti. Justru ketika seorang seniman telah memiliki bahasa visual yang kuat, tantangan berikutnya adalah bagaimana bahasa itu tetap berkembang dan tidak berubah menjadi sekadar formula.
Tajuk “Impulse” pun menemukan kaitannya dengan perjalanan ketiga perupa tersebut. Seni membutuhkan dorongan untuk bergerak, sekaligus denyut yang membuatnya tetap hidup. Seperti Kalpataru—pohon kehidupan yang terus tumbuh ketika akarnya dirawat—seni abstrak pun membutuhkan akar yang kuat sekaligus keberanian untuk terus mencari. Tradisi bukan sesuatu yang harus dibekukan, melainkan sumber energi yang dapat terus diterjemahkan melalui pengalaman zaman.
“Melalui “Impulse”, tiga perupa dari Sukawati ini memperlihatkan bahwa abstraksi dapat berbicara tentang alam, manusia, tradisi, ingatan, dan identitas tanpa harus kehilangan kebebasan artistiknya. Tiga jalan berbeda, satu denyut yang sama yaitu menjaga agar seni terus tumbuh, bergerak, dan menemukan kemungkinan baru,” paparnya.
Menutup rangkaian pembicaraan, Apel Hendrawan menambahkan bahwa kehadiran Kalpataru Art Space juga berangkat dari cita-cita untuk menghadirkan ruang seni yang tumbuh secara organik. Sanur selama ini dikenal sebagai kawasan pariwisata yang semakin berkembang, tetapi di tengah hiruk-pikuk tersebut masih terdapat ruang hijau, persawahan, dan suasana yang tenang. Sanur Art Hub mencoba mempertemukan suasana tersebut dengan kehidupan seni.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























