DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan warna demi warna dengan sapuan yang lahir dari emosi sesaat. Di sekelilingnya, penonton tidak hanya menyaksikan sebuah lukisan sedang diciptakan, tetapi juga proses yang sengaja dipertontonkan. Bagi Gotawa, seni tidak pernah selesai hanya pada hasil akhir.
Itulah semangat yang diusung dalam pameran tunggal bertajuk “Satya” yang dibuka pada Minggu, 19 Juli 2026, di Toke, Toko Kopi & Seni, Denpasar. Pameran yang berlangsung hingga 3 Agustus itu menjadi tonggak penting bagi seniman muda yang bernama lengkap Putu Agus Gotawa.
Ia lahir di Denpasar pada 11 April 2004. Gotawa dikenal sebagai pribadi yang tak pernah diam. Ada saja hal baru yang ingin dicoba, bahkan tak jarang tampak nyeleneh. Namun justru keberanian bereksperimen itulah membentuk karakternya sebagai seniman muda. Meski baru menginjak 22 tahun, banyak orang kerap terkecoh karena penampilannya yang khas dan nyentrik, seolah menunjukkan kedewasaan artistik yang melampaui usianya.


Keinginan menggelar pameran tunggal sebenarnya telah lama ia simpan. Kesempatan itu datang ketika mendapat ajakan untuk berpameran di Toke. Baginya, pameran solo memiliki makna tersendiri karena menjadi ruang bagi seorang seniman untuk memperlihatkan perjalanan artistik secara utuh sekaligus memperoleh ruang apresiasi lebih luas.
“Memang ada keinginan membuat pameran tunggal. Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa menampilkan karya secara solo. Selain itu, pameran seperti ini juga memberi ruang untuk eksposur yang lebih besar,” ujarnya.
Namun, yang ingin ia soroti bukan semata karya visual. Melalui tajuk “Satya”, Gotawa mengangkat satu nilai yang menurutnya kian langka dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya kesetiaan bukan hanya perkara hubungan antarpasangan. Nilai itu jauh lebih luas, menyentuh relasi manusia dengan sesama, alam, bahkan dengan tanggung jawab sosialnya. Ia menyoroti berbagai persoalan. Mulai dari korupsi, renggangnya hubungan antarmanusia, hingga pemerintah yang dinilai semakin jauh dari suara rakyat—berakar pada memudarnya kesetiaan terhadap amanah dan kemanusiaan.

“Saya ingin menyampaikan bahwa kesetiaan itu sesuatu yang mahal. ‘Satya’ bukan hanya soal cinta. Kita harus satya kepada sesama manusia, orang tua, pasangan, hewan, tumbuhan, hingga Tuhan. Pemerintah juga seharusnya satya kepada rakyatnya, menjadi pendengar dan pengayom, bukan malah acuh tak acuh,” katanya.
Gagasan tersebut tidak hanya hadir melalui lukisan. Saat pembukaan pameran, Gotawa merancang sebuah pertunjukan seni yang menggabungkan berbagai medium ekspresi. Ia memulai dengan menghadirkan tokoh Penasar, yang mengadaptasi unsur kecak dan gambuh dalam balutan humor. Setelah itu muncul sosok Dukuh, yang mengajak penonton memahami makna satya dari perspektif nilai-nilai tradisi, termasuk konsep satya wacana atau kesetiaan pada ucapan.
Puncaknya adalah aksi melukis secara langsung. Sebelum menyentuh kanvas, Gotawa terlebih dahulu melakukan persembahyangan sederhana sebagai simbol penyatuan diri dengan alam. Ritual itu kemudian berlanjut menjadi ledakan ekspresi warna yang diiringi musik eksperimental dari Tuki Gray serta pembacaan puisi penuh penghayatan oleh Ganesa.

“Tradisi dan modern saya satukan. Saya memulai dengan sembahyang sebagai bentuk penyatuan diri dengan alam, lalu melukis dengan ekspresi yang mengikuti emosi saat itu. Musik dan puisi menjadi bagian dari perjalanan karya tersebut,” jelasnya.
Pilihan menggelar pameran di Toke, Toko Kopi Seni pun bukan tanpa alasan. Menurut Gotawa, ruang tersebut telah lama menjadi tempat berkumpulnya pelaku seni dan memiliki audiens yang terbuka terhadap berbagai bentuk eksplorasi artistik.
Ia menilai Toke bukan sekadar kedai kopi, melainkan ruang berekspresi yang memberi kebebasan bagi seniman muda untuk bereksperimen tanpa merasa dihakimi. Dukungan dari pengelola dan komunitas yang telah terbentuk membuat tempat itu terasa tepat untuk menjadi lokasi debut pameran tunggalnya.


Meski pembukaan pameran berlangsung pada pertengahan Juli, proses penciptaan karya sebenarnya telah dimulai jauh sebelumnya. Menariknya, Gotawa menyebut pameran ini sebagai Art on Process, sebuah pameran yang tidak hanya menampilkan hasil akhir, tetapi juga memperlihatkan bagaimana proses terciptanya karya itu.
Ia memulai dengan tahap eksplorasi ekspresi tanpa bentuk, kemudian beralih ke bentuk yang mulai terbaca. Setelah itu, proses kembali memasuki fase ekspresif sebelum akhirnya menuju tahap perincian atau detailing.
“Menurut saya, karya seni tidak bisa selesai hanya dalam satu kali proses. Setiap hari kita punya emosi, pengalaman, dan suasana batin yang berbeda. Itu memengaruhi tarikan garis, kelenturan gerak, bahkan hasil akhirnya,” ujarnya. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto































