3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

Nur Kamilia by Nur Kamilia
August 14, 2026
in Esai
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

ilustrasi tatkala.co | Canva

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional. Salah satu manifestasi paling nyata dari semangat kebersamaan ini adalah konsep briuk siu, sebuah ungkapan yang menyimbolkan gerak serentak, kerja sama kolektif, dan kesatuan tekad masyarakat dalam menghadapi suatu pekerjaan atau beban sosial. Di dalam tatanan tradisional, briuk siu bukan sekadar aktivitas fisik untuk menyelesaikan pembangunan pura atau kegiatan desa adat semata, melainkan sebuah ritme kebudayaan yang merawat ikatan batin antarsesama warga. Namun, seiring dengan laju modernisasi yang begitu cepat, dinamika sosial di Bali mengalami pergeseran yang cukup signifikan.

Ruang-ruang perjumpaan fisik yang dulunya menjadi tempat merajut empati kolektif kini perlahan tereduksi oleh individualisme dan ritme hidup urban yang serba cepat. Di tengah situasi ini, solidaritas sosial kerap diuji. Ketika empati publik mulai tumpul dan kepekaan kolektif mengalami degradasi, ikatan kebersamaan yang menjadi marwah masyarakat Bali terancam kehilangan ruhnya. Tulisan ini mencoba menengok kembali wajah solidaritas kolektif di Bali, merefleksikan makna briuk siu di era modern, serta merajut kembali nalar kebersamaan yang berakar pada kemanusiaan yang hangat dan inklusif.

Pergeseran Makna Solidaritas di Tengah Arus Modernisasi

Arus modernisasi dan pariwisata massal di Bali membawa gelombang perubahan ekonomi yang masif. Transformasi ini memang mendatangkan kemajuan material, tetapi di sisi lain juga melahirkan polarisasi sosial dan gaya hidup yang cenderung individualistis. Ruang-ruang publik tradisional yang dulunya cair dan inklusif kini mulai tersekat oleh jarak ekonomi dan kepentingan pragmatis.

Solidaritas yang dahulu digerakkan oleh ketulusan batin dan rasa memiliki yang sama, perlahan bergeser menjadi relasi yang lebih transaksional. Dalam kehidupan sehari-hari, gejala memudaranya kepekaan sosial ini dapat dilihat dari bagaimana masyarakat merespons persoalan di sekitar mereka. Ketika terjadi musibah atau masalah sosial, respons yang muncul terkadang tidak lagi berlandaskan pada semangat meringankan beban sesama, melainkan terjebak dalam keriuhan media sosial atau sekadar formalitas seremonial. Nilai briuk siu yang seharusnya menjadi napas dalam menyelesaikan persoalan bersama, terkadang tereduksi menjadi slogan-slogan tanpa daya ikat emosional yang kuat.

Refleksi atas kondisi ini menuntut kita untuk jujur melihat ke dalam. Modernisasi tidak boleh serta-merta merusak modal sosial (social capital) yang telah dibangun oleh para leluhur. Solidaritas kolektif di Bali harus diselamatkan dari ancaman pengikisan makna, agar ia tetap relevan menjadi perisai sosial yang melindungi setiap warga dari keterasingan di tanah kelahirannya sendiri.

Menghidupkan Kembali Semangat “Briuk Siu” yang Inklusif dan Humanis

Menghidupkan kembali semangat briuk siu di era kontemporer memerlukan pembacaan ulang yang lebih segar dan kontekstual. Semangat keserentakan ini tidak boleh lagi dipahami secara sempit hanya sebatas mobilisasi massa untuk kepentingan fisik atau administratif desa adat semata. Lebih dari itu, briuk siu harus diterjemahkan sebagai gerakan moral bersama untuk merawat kemanusiaan, menjaga keadilan sosial, dan merangkul kelompok-kelompok rentan yang kerap terpinggirkan oleh derap pembangunan.

Solidaritas yang humanis menuntut adanya perluasan empati. Di tengah keragaman masyarakat Bali saat ini, yang tidak lagi bersifat homogen, ikatan kekeluargaan harus mampu menembus batas-batas sekat formal. Gotong royong harus hadir untuk menjawab persoalan-persoalan sosial kekinian, seperti ketimpangan ekonomi, kerentanan kesehatan mental, perlindungan hak-hak anak, hingga penjagaan ruang-ruang ekologis yang menjadi sumber penghidupan bersama.

Ketika briuk siu dihadirkan dalam bentuk kepedulian yang nyata terhadap sesama yang sedang mengalami kesulitan, nilai kebudayaan ini akan bertransformasi menjadi kekuatan transformatif. Ia tidak hanya melestarikan tradisi masa lalu, tetapi juga memberikan solusi atas kegelisahan sosial hari ini. Gotong royong yang sejati adalah gotong royong yang memuliakan setiap individu di dalamnya, tanpa ada yang merasa ditinggalkan atau dikecualikan.

Merawat Ruang Bersama dan Menjaga Marwah Kemanusiaan Bali

Masa depan solidaritas kolektif di Bali sangat bergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam merawat ruang-ruang dialog yang sehat dan setara. Ruang bersama ini bukan hanya merujuk pada ruang fisik seperti balai banjar atau, melainkan juga ruang batin dan ruang digital tempat masyarakat berinteraksi, bertukar pikiran, serta membangun kesadaran kolektif.

Di sinilah pentingnya peran komunitas, tokoh adat, lembaga kebudayaan, dan generasi muda untuk terus menyalakan obor empati. Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal harus diajarkan bukan sebagai doktrin kaku, laku hidup sehari-hari yang menumbuhkan rasa welas asih. Masyarakat Bali perlu diajak untuk kembali mengingat bahwa kekuatan utama pulau ini di mata dunia bukanlah sekadar keindahan alamnya, melainkan keluhuran budi pekerti dan kehangatan ikatan sosial warganya. Dengan merawat semangat briuk siu secara bijak, inklusif, dan penuh kesadaran kritis, Bali dapat berdiri kokoh di tengah badai perubahan zaman. Solidaritas kolektif akan tetap menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya, membuktikan bahwa kemajuan peradaban selalu berjalan seiring dengan terjaganya nalar kemanusiaan yang luhur.[T]

Tags: baliBudayagotong royong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Next Post

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails
Next Post
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co