14 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

Nur Kamilia by Nur Kamilia
August 14, 2026
in Esai
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

ilustrasi tatkala.co | Canva

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional. Salah satu manifestasi paling nyata dari semangat kebersamaan ini adalah konsep briuk siu, sebuah ungkapan yang menyimbolkan gerak serentak, kerja sama kolektif, dan kesatuan tekad masyarakat dalam menghadapi suatu pekerjaan atau beban sosial. Di dalam tatanan tradisional, briuk siu bukan sekadar aktivitas fisik untuk menyelesaikan pembangunan pura atau kegiatan desa adat semata, melainkan sebuah ritme kebudayaan yang merawat ikatan batin antarsesama warga. Namun, seiring dengan laju modernisasi yang begitu cepat, dinamika sosial di Bali mengalami pergeseran yang cukup signifikan.

Ruang-ruang perjumpaan fisik yang dulunya menjadi tempat merajut empati kolektif kini perlahan tereduksi oleh individualisme dan ritme hidup urban yang serba cepat. Di tengah situasi ini, solidaritas sosial kerap diuji. Ketika empati publik mulai tumpul dan kepekaan kolektif mengalami degradasi, ikatan kebersamaan yang menjadi marwah masyarakat Bali terancam kehilangan ruhnya. Tulisan ini mencoba menengok kembali wajah solidaritas kolektif di Bali, merefleksikan makna briuk siu di era modern, serta merajut kembali nalar kebersamaan yang berakar pada kemanusiaan yang hangat dan inklusif.

Pergeseran Makna Solidaritas di Tengah Arus Modernisasi

Arus modernisasi dan pariwisata massal di Bali membawa gelombang perubahan ekonomi yang masif. Transformasi ini memang mendatangkan kemajuan material, tetapi di sisi lain juga melahirkan polarisasi sosial dan gaya hidup yang cenderung individualistis. Ruang-ruang publik tradisional yang dulunya cair dan inklusif kini mulai tersekat oleh jarak ekonomi dan kepentingan pragmatis.

Solidaritas yang dahulu digerakkan oleh ketulusan batin dan rasa memiliki yang sama, perlahan bergeser menjadi relasi yang lebih transaksional. Dalam kehidupan sehari-hari, gejala memudaranya kepekaan sosial ini dapat dilihat dari bagaimana masyarakat merespons persoalan di sekitar mereka. Ketika terjadi musibah atau masalah sosial, respons yang muncul terkadang tidak lagi berlandaskan pada semangat meringankan beban sesama, melainkan terjebak dalam keriuhan media sosial atau sekadar formalitas seremonial. Nilai briuk siu yang seharusnya menjadi napas dalam menyelesaikan persoalan bersama, terkadang tereduksi menjadi slogan-slogan tanpa daya ikat emosional yang kuat.

Refleksi atas kondisi ini menuntut kita untuk jujur melihat ke dalam. Modernisasi tidak boleh serta-merta merusak modal sosial (social capital) yang telah dibangun oleh para leluhur. Solidaritas kolektif di Bali harus diselamatkan dari ancaman pengikisan makna, agar ia tetap relevan menjadi perisai sosial yang melindungi setiap warga dari keterasingan di tanah kelahirannya sendiri.

Menghidupkan Kembali Semangat “Briuk Siu” yang Inklusif dan Humanis

Menghidupkan kembali semangat briuk siu di era kontemporer memerlukan pembacaan ulang yang lebih segar dan kontekstual. Semangat keserentakan ini tidak boleh lagi dipahami secara sempit hanya sebatas mobilisasi massa untuk kepentingan fisik atau administratif desa adat semata. Lebih dari itu, briuk siu harus diterjemahkan sebagai gerakan moral bersama untuk merawat kemanusiaan, menjaga keadilan sosial, dan merangkul kelompok-kelompok rentan yang kerap terpinggirkan oleh derap pembangunan.

Solidaritas yang humanis menuntut adanya perluasan empati. Di tengah keragaman masyarakat Bali saat ini, yang tidak lagi bersifat homogen, ikatan kekeluargaan harus mampu menembus batas-batas sekat formal. Gotong royong harus hadir untuk menjawab persoalan-persoalan sosial kekinian, seperti ketimpangan ekonomi, kerentanan kesehatan mental, perlindungan hak-hak anak, hingga penjagaan ruang-ruang ekologis yang menjadi sumber penghidupan bersama.

Ketika briuk siu dihadirkan dalam bentuk kepedulian yang nyata terhadap sesama yang sedang mengalami kesulitan, nilai kebudayaan ini akan bertransformasi menjadi kekuatan transformatif. Ia tidak hanya melestarikan tradisi masa lalu, tetapi juga memberikan solusi atas kegelisahan sosial hari ini. Gotong royong yang sejati adalah gotong royong yang memuliakan setiap individu di dalamnya, tanpa ada yang merasa ditinggalkan atau dikecualikan.

Merawat Ruang Bersama dan Menjaga Marwah Kemanusiaan Bali

Masa depan solidaritas kolektif di Bali sangat bergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam merawat ruang-ruang dialog yang sehat dan setara. Ruang bersama ini bukan hanya merujuk pada ruang fisik seperti balai banjar atau, melainkan juga ruang batin dan ruang digital tempat masyarakat berinteraksi, bertukar pikiran, serta membangun kesadaran kolektif.

Di sinilah pentingnya peran komunitas, tokoh adat, lembaga kebudayaan, dan generasi muda untuk terus menyalakan obor empati. Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal harus diajarkan bukan sebagai doktrin kaku, laku hidup sehari-hari yang menumbuhkan rasa welas asih. Masyarakat Bali perlu diajak untuk kembali mengingat bahwa kekuatan utama pulau ini di mata dunia bukanlah sekadar keindahan alamnya, melainkan keluhuran budi pekerti dan kehangatan ikatan sosial warganya. Dengan merawat semangat briuk siu secara bijak, inklusif, dan penuh kesadaran kritis, Bali dapat berdiri kokoh di tengah badai perubahan zaman. Solidaritas kolektif akan tetap menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya, membuktikan bahwa kemajuan peradaban selalu berjalan seiring dengan terjaganya nalar kemanusiaan yang luhur.[T]

Tags: baliBudayagotong royong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

by Chusmeru
August 12, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

Read moreDetails

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
0
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

Read moreDetails

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
0
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

Read moreDetails

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

by Angga Wijaya
August 11, 2026
0
Telenovela

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali
Esai

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

by Nur Kamilia
August 14, 2026
AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan
Pendidikan

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Asosiasi Wirausaha Inklusif Indonesia (AWINDO) memperkuat dukungan bagi pelaku UMKM disabilitas melalui training legalitas usaha. Kegiatan ini menjadi bagian dari...

by Angga Wijaya
August 14, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana
Ulas Rupa

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

by Hartanto
August 13, 2026
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   
Esai

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih
Ulas Musik

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

by Mahesa Putra
August 13, 2026
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’
Panggung

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
Sekali Lagi tentang Dirgahayu
Bahasa

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

by I Made Sudiana
August 13, 2026
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   
Esai

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal
Esai

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co