4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

Nur Kamilia by Nur Kamilia
August 14, 2026
in Esai
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

ilustrasi tatkala.co | Canva

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional. Salah satu manifestasi paling nyata dari semangat kebersamaan ini adalah konsep briuk siu, sebuah ungkapan yang menyimbolkan gerak serentak, kerja sama kolektif, dan kesatuan tekad masyarakat dalam menghadapi suatu pekerjaan atau beban sosial. Di dalam tatanan tradisional, briuk siu bukan sekadar aktivitas fisik untuk menyelesaikan pembangunan pura atau kegiatan desa adat semata, melainkan sebuah ritme kebudayaan yang merawat ikatan batin antarsesama warga. Namun, seiring dengan laju modernisasi yang begitu cepat, dinamika sosial di Bali mengalami pergeseran yang cukup signifikan.

Ruang-ruang perjumpaan fisik yang dulunya menjadi tempat merajut empati kolektif kini perlahan tereduksi oleh individualisme dan ritme hidup urban yang serba cepat. Di tengah situasi ini, solidaritas sosial kerap diuji. Ketika empati publik mulai tumpul dan kepekaan kolektif mengalami degradasi, ikatan kebersamaan yang menjadi marwah masyarakat Bali terancam kehilangan ruhnya. Tulisan ini mencoba menengok kembali wajah solidaritas kolektif di Bali, merefleksikan makna briuk siu di era modern, serta merajut kembali nalar kebersamaan yang berakar pada kemanusiaan yang hangat dan inklusif.

Pergeseran Makna Solidaritas di Tengah Arus Modernisasi

Arus modernisasi dan pariwisata massal di Bali membawa gelombang perubahan ekonomi yang masif. Transformasi ini memang mendatangkan kemajuan material, tetapi di sisi lain juga melahirkan polarisasi sosial dan gaya hidup yang cenderung individualistis. Ruang-ruang publik tradisional yang dulunya cair dan inklusif kini mulai tersekat oleh jarak ekonomi dan kepentingan pragmatis.

Solidaritas yang dahulu digerakkan oleh ketulusan batin dan rasa memiliki yang sama, perlahan bergeser menjadi relasi yang lebih transaksional. Dalam kehidupan sehari-hari, gejala memudaranya kepekaan sosial ini dapat dilihat dari bagaimana masyarakat merespons persoalan di sekitar mereka. Ketika terjadi musibah atau masalah sosial, respons yang muncul terkadang tidak lagi berlandaskan pada semangat meringankan beban sesama, melainkan terjebak dalam keriuhan media sosial atau sekadar formalitas seremonial. Nilai briuk siu yang seharusnya menjadi napas dalam menyelesaikan persoalan bersama, terkadang tereduksi menjadi slogan-slogan tanpa daya ikat emosional yang kuat.

Refleksi atas kondisi ini menuntut kita untuk jujur melihat ke dalam. Modernisasi tidak boleh serta-merta merusak modal sosial (social capital) yang telah dibangun oleh para leluhur. Solidaritas kolektif di Bali harus diselamatkan dari ancaman pengikisan makna, agar ia tetap relevan menjadi perisai sosial yang melindungi setiap warga dari keterasingan di tanah kelahirannya sendiri.

Menghidupkan Kembali Semangat “Briuk Siu” yang Inklusif dan Humanis

Menghidupkan kembali semangat briuk siu di era kontemporer memerlukan pembacaan ulang yang lebih segar dan kontekstual. Semangat keserentakan ini tidak boleh lagi dipahami secara sempit hanya sebatas mobilisasi massa untuk kepentingan fisik atau administratif desa adat semata. Lebih dari itu, briuk siu harus diterjemahkan sebagai gerakan moral bersama untuk merawat kemanusiaan, menjaga keadilan sosial, dan merangkul kelompok-kelompok rentan yang kerap terpinggirkan oleh derap pembangunan.

Solidaritas yang humanis menuntut adanya perluasan empati. Di tengah keragaman masyarakat Bali saat ini, yang tidak lagi bersifat homogen, ikatan kekeluargaan harus mampu menembus batas-batas sekat formal. Gotong royong harus hadir untuk menjawab persoalan-persoalan sosial kekinian, seperti ketimpangan ekonomi, kerentanan kesehatan mental, perlindungan hak-hak anak, hingga penjagaan ruang-ruang ekologis yang menjadi sumber penghidupan bersama.

Ketika briuk siu dihadirkan dalam bentuk kepedulian yang nyata terhadap sesama yang sedang mengalami kesulitan, nilai kebudayaan ini akan bertransformasi menjadi kekuatan transformatif. Ia tidak hanya melestarikan tradisi masa lalu, tetapi juga memberikan solusi atas kegelisahan sosial hari ini. Gotong royong yang sejati adalah gotong royong yang memuliakan setiap individu di dalamnya, tanpa ada yang merasa ditinggalkan atau dikecualikan.

Merawat Ruang Bersama dan Menjaga Marwah Kemanusiaan Bali

Masa depan solidaritas kolektif di Bali sangat bergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam merawat ruang-ruang dialog yang sehat dan setara. Ruang bersama ini bukan hanya merujuk pada ruang fisik seperti balai banjar atau, melainkan juga ruang batin dan ruang digital tempat masyarakat berinteraksi, bertukar pikiran, serta membangun kesadaran kolektif.

Di sinilah pentingnya peran komunitas, tokoh adat, lembaga kebudayaan, dan generasi muda untuk terus menyalakan obor empati. Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal harus diajarkan bukan sebagai doktrin kaku, laku hidup sehari-hari yang menumbuhkan rasa welas asih. Masyarakat Bali perlu diajak untuk kembali mengingat bahwa kekuatan utama pulau ini di mata dunia bukanlah sekadar keindahan alamnya, melainkan keluhuran budi pekerti dan kehangatan ikatan sosial warganya. Dengan merawat semangat briuk siu secara bijak, inklusif, dan penuh kesadaran kritis, Bali dapat berdiri kokoh di tengah badai perubahan zaman. Solidaritas kolektif akan tetap menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya, membuktikan bahwa kemajuan peradaban selalu berjalan seiring dengan terjaganya nalar kemanusiaan yang luhur.[T]

Tags: baliBudayagotong royong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Next Post

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co