24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

Nur Kamilia by Nur Kamilia
August 14, 2026
in Esai
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

ilustrasi tatkala.co | Canva

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional. Salah satu manifestasi paling nyata dari semangat kebersamaan ini adalah konsep briuk siu, sebuah ungkapan yang menyimbolkan gerak serentak, kerja sama kolektif, dan kesatuan tekad masyarakat dalam menghadapi suatu pekerjaan atau beban sosial. Di dalam tatanan tradisional, briuk siu bukan sekadar aktivitas fisik untuk menyelesaikan pembangunan pura atau kegiatan desa adat semata, melainkan sebuah ritme kebudayaan yang merawat ikatan batin antarsesama warga. Namun, seiring dengan laju modernisasi yang begitu cepat, dinamika sosial di Bali mengalami pergeseran yang cukup signifikan.

Ruang-ruang perjumpaan fisik yang dulunya menjadi tempat merajut empati kolektif kini perlahan tereduksi oleh individualisme dan ritme hidup urban yang serba cepat. Di tengah situasi ini, solidaritas sosial kerap diuji. Ketika empati publik mulai tumpul dan kepekaan kolektif mengalami degradasi, ikatan kebersamaan yang menjadi marwah masyarakat Bali terancam kehilangan ruhnya. Tulisan ini mencoba menengok kembali wajah solidaritas kolektif di Bali, merefleksikan makna briuk siu di era modern, serta merajut kembali nalar kebersamaan yang berakar pada kemanusiaan yang hangat dan inklusif.

Pergeseran Makna Solidaritas di Tengah Arus Modernisasi

Arus modernisasi dan pariwisata massal di Bali membawa gelombang perubahan ekonomi yang masif. Transformasi ini memang mendatangkan kemajuan material, tetapi di sisi lain juga melahirkan polarisasi sosial dan gaya hidup yang cenderung individualistis. Ruang-ruang publik tradisional yang dulunya cair dan inklusif kini mulai tersekat oleh jarak ekonomi dan kepentingan pragmatis.

Solidaritas yang dahulu digerakkan oleh ketulusan batin dan rasa memiliki yang sama, perlahan bergeser menjadi relasi yang lebih transaksional. Dalam kehidupan sehari-hari, gejala memudaranya kepekaan sosial ini dapat dilihat dari bagaimana masyarakat merespons persoalan di sekitar mereka. Ketika terjadi musibah atau masalah sosial, respons yang muncul terkadang tidak lagi berlandaskan pada semangat meringankan beban sesama, melainkan terjebak dalam keriuhan media sosial atau sekadar formalitas seremonial. Nilai briuk siu yang seharusnya menjadi napas dalam menyelesaikan persoalan bersama, terkadang tereduksi menjadi slogan-slogan tanpa daya ikat emosional yang kuat.

Refleksi atas kondisi ini menuntut kita untuk jujur melihat ke dalam. Modernisasi tidak boleh serta-merta merusak modal sosial (social capital) yang telah dibangun oleh para leluhur. Solidaritas kolektif di Bali harus diselamatkan dari ancaman pengikisan makna, agar ia tetap relevan menjadi perisai sosial yang melindungi setiap warga dari keterasingan di tanah kelahirannya sendiri.

Menghidupkan Kembali Semangat “Briuk Siu” yang Inklusif dan Humanis

Menghidupkan kembali semangat briuk siu di era kontemporer memerlukan pembacaan ulang yang lebih segar dan kontekstual. Semangat keserentakan ini tidak boleh lagi dipahami secara sempit hanya sebatas mobilisasi massa untuk kepentingan fisik atau administratif desa adat semata. Lebih dari itu, briuk siu harus diterjemahkan sebagai gerakan moral bersama untuk merawat kemanusiaan, menjaga keadilan sosial, dan merangkul kelompok-kelompok rentan yang kerap terpinggirkan oleh derap pembangunan.

Solidaritas yang humanis menuntut adanya perluasan empati. Di tengah keragaman masyarakat Bali saat ini, yang tidak lagi bersifat homogen, ikatan kekeluargaan harus mampu menembus batas-batas sekat formal. Gotong royong harus hadir untuk menjawab persoalan-persoalan sosial kekinian, seperti ketimpangan ekonomi, kerentanan kesehatan mental, perlindungan hak-hak anak, hingga penjagaan ruang-ruang ekologis yang menjadi sumber penghidupan bersama.

Ketika briuk siu dihadirkan dalam bentuk kepedulian yang nyata terhadap sesama yang sedang mengalami kesulitan, nilai kebudayaan ini akan bertransformasi menjadi kekuatan transformatif. Ia tidak hanya melestarikan tradisi masa lalu, tetapi juga memberikan solusi atas kegelisahan sosial hari ini. Gotong royong yang sejati adalah gotong royong yang memuliakan setiap individu di dalamnya, tanpa ada yang merasa ditinggalkan atau dikecualikan.

Merawat Ruang Bersama dan Menjaga Marwah Kemanusiaan Bali

Masa depan solidaritas kolektif di Bali sangat bergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam merawat ruang-ruang dialog yang sehat dan setara. Ruang bersama ini bukan hanya merujuk pada ruang fisik seperti balai banjar atau, melainkan juga ruang batin dan ruang digital tempat masyarakat berinteraksi, bertukar pikiran, serta membangun kesadaran kolektif.

Di sinilah pentingnya peran komunitas, tokoh adat, lembaga kebudayaan, dan generasi muda untuk terus menyalakan obor empati. Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal harus diajarkan bukan sebagai doktrin kaku, laku hidup sehari-hari yang menumbuhkan rasa welas asih. Masyarakat Bali perlu diajak untuk kembali mengingat bahwa kekuatan utama pulau ini di mata dunia bukanlah sekadar keindahan alamnya, melainkan keluhuran budi pekerti dan kehangatan ikatan sosial warganya. Dengan merawat semangat briuk siu secara bijak, inklusif, dan penuh kesadaran kritis, Bali dapat berdiri kokoh di tengah badai perubahan zaman. Solidaritas kolektif akan tetap menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya, membuktikan bahwa kemajuan peradaban selalu berjalan seiring dengan terjaganya nalar kemanusiaan yang luhur.[T]

Tags: baliBudayagotong royong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Next Post

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co