25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
in Panggung
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Penampilan Genjek Pondok Pekak menjadi pembuka Ubud FolkFest 2026 di Biji World, Ubud, 14 Agustus 2026 | Foto: Istimewa

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki berbusana sederhana yang mengenakan udeng merah, saput poleng, kain berwarna gelap, dan bertelanjang dada, mereka duduk bersila. Pemain perempuan berkebaya nuansa hitam duduk bersimpuh di sebuah kalangan sejuk yang dikelilingi kolam.

Tubuh mereka bergerak mengikuti irama. Suara-suara vokal pun bermunculan, menirukan bunyi berbagai instrumen gamelan Bali, seperti kendang, cengceng, reong hingga kenyur (sir). Suara suling mengalir sebagai pemanis sekaligus pelengkap melodi, dan tentu memperindah jalinan suara yang lahir dari mulut para peniru bunyi gamelan tersebut.

Itulah penampilan Genjek Pondok Pekak menjadi pembuka Ubud FolkFest 2026 di Biji World, Ubud, 14 Agustus 2026. Sebanyak tujuh pemain genjek laki-laki, lima pemain genjek perempuan, dan lima pemain gamelan laki-laki terlibat dalam pertunjukan tersebut. Para pemain tidak hanya mengandalkan musikalitas, tetapi juga spontanitas. Candaan, pesan sosial, bahkan kritik disampaikan secara cair dan jenaka. Pada bagian pengecet, seorang pemain perempuan mengajak pengunjung untuk ikut menari dan bernyanyi. Batas antara penampil dan penonton pun seketika mencair.

Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, Ubud FolkFest kembali berlangsung pada 14–15 Agustus 2026 di Biji World, Ubud. Festival ini mempertemukan musik, seni, budaya, komunitas, dan berbagai bentuk kreativitas dalam ruang yang terbuka dan inklusif.

Selama dua hari, tiga panggung musik, galeri seni, pertunjukan budaya, lokakarya seni, aktivitas anak, art market, record store hingga drum circle hadir dalam satu ekosistem. Sejumlah musisi dari Bali, berbagai daerah di Indonesia, hingga mancanegara turut mengisi panggung, antara lain Navicula, Iksan Skuter, Ary Juliyant, Anda Perdana, Catur Hari Wijaya & The Sound Nomads, Supa Kalulu, Managona dari Taiwan, SUNZ dari New Zealand, Tanya George dari Australia, Orasare, Abink Ferry, WLBY, Tarawangsa, Nata Swara, Neo Nolin, Celticroom Bali, Aji Sang Aji, Kerta Art dan Pondok Pekak.

Namun, musik bukan satu-satunya denyut festival. Seni rupa menjadi bagian penting melalui pameran yang menghadirkan karya Made Bayak, Daniel Kho, Linkan Palenewen, Putu Eni, Dedi Junaedi, Bandrek, Chay, I.B. Rekha, Ayu Sri Rejeki, Sofiya Shukhova dan Arina Proboningtyas.
Di antara pertunjukan musik dan pameran seni, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai aktivitas, seperti tari tradisional, Kamasan Art, art stamping, kids art zone, live drawing model, social canvas, tie dye, flow art, breakdance, manual brew, drum circle, art market dan record store.

Penampilan Genjek Pondok Pekak menjadi pembuka Ubud FolkFest 2026 di Biji World, Ubud, 14 Agustus 2026 | Foto: Istimewa

Kehadiran program-program tersebut memperlihatkan upaya Ubud FolkFest untuk menempatkan pengunjung bukan sekadar sebagai penonton. Mereka diberi ruang untuk belajar, mencoba, mencipta, bereksperimen dan berinteraksi.

Seni sebagai Pengalaman

Gagasan tersebut diperkuat melalui program Fast Forward Ubud yang mengusung tema Short Stories. Big Ideas. Get Inspired. Enam pembicara dari berbagai latar belakang berbagi cerita, pengalaman dan gagasan secara singkat, antara lain Sandrina Malakiano, Rudolf Dethu, James Sukadana, Shinta Retnani, Gede Robi Navicula dan Mark Feldman.

Program ini menjadi ruang kecil untuk mempertemukan pengalaman personal dengan gagasan yang lebih luas. Seni, pada akhirnya, tidak berhenti pada karya yang dipamerkan atau pertunjukan yang disaksikan, tetapi juga pada cerita dan pemikiran yang menyertainya.

Sarah Hadi, salah seorang pendiri Ubud FolkFest mengungkapkan, gagasan tersebut berangkat dari kegelisahan melihat sisi kreatif Ubud yang dirasakannya mulai kurang terlihat dibandingkan masa sebelumnya. Selama beberapa hari festival, menurutnya, Ubud FolkFest berusaha menciptakan sebuah dunia kecil—sebuah mikrokosmos dari sisi kreatif Ubud yang dihimpun dalam satu tempat.

Ia masih mengingat penyelenggaraan pertama ketika seorang seniman melukis di tengah area Biji World, sementara musisi tampil di panggung dan seniman lain membuat sketsa arang secara langsung di galeri. “Orang-orang bertemu di sini dan menjalin persahabatan; sebagian dari kami bahkan mendapatkan sahabat seumur hidup melalui festival ini. Itu adalah hal yang sungguh istimewa,” katanya.

Bagi Sarah, keberlanjutan festival justru tidak dibangun melalui ambisi untuk tumbuh secara besar-besaran. Lokasi, sponsor dan komunitas menjadi modal penting, tetapi yang paling utama adalah bagaimana komunitas tersebut terus dirawat. Festival, menurutnya, boleh berkembang, tetapi pertumbuhan itu sebaiknya berlangsung secara organik.

Aksesibilitas juga menjadi perhatian. Ubud FolkFest berupaya menjaga harga tiket tetap terjangkau agar festival dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, sekaligus tetap memberikan dukungan kepada seniman dan musisi yang terlibat. “Bagi kami, pada akhirnya Ubud FolkFest adalah tentang menciptakan ruang di mana seni, musik, dan manusia dapat bersatu, serta memastikan ruang tersebut tetap terbuka bagi komunitas,” jelas Sarah.

Seni yang Harus Dilakukan

Sementara Ida Bagus Oka Genijaya, salah seorang pendiri Ubud FolkFest sekaligus pemilik Biji World, persoalan seni dan budaya berada pada wilayah yang lebih mendasar. “Akar dari republik ini adalah seni dan budaya. Dalam filosofi Hindu Bali, budaya adalah ibu, sesuatu yang melahirkan. Karena itu, seni dan budaya perlu ditanam, dijaga, dan yang paling penting, dilakukan,” ujarnya.

Oka Genijaya melihat ada kecenderungan nilai seni dan budaya semakin sering berhenti sebagai wacana. Seni dan budaya kerap digunakan sebagai filosofi untuk kepentingan pariwisata, tetapi belum tentu hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari. Ia teringat pesan ayahnya, yang mengatakan Jangan berfilosofi dengan saya. Filosofi itu seperti selimut. Untuk apa memakai selimut ketika cuaca sedang panas?”
Pesan tersebut menjadi semacam pegangan baginya. Seni dan budaya, kata Oka, tidak cukup hanya dibicarakan. Keduanya harus ditanam dan dilakukan.

Penampilan Genjek Pondok Pekak menjadi pembuka Ubud FolkFest 2026 di Biji World, Ubud, 14 Agustus 2026 | Foto: Istimewa

Karena itu, perjumpaannya dengan para pelaku seni, seperti seniman suara, tari, rupa dan berbagai bentuk kesenian lainnya, menjadi sesuatu yang penting. Mereka bukan sekadar pengisi acara, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat. Desa Mas, tempat Biji World berada, memiliki sejarah sebagai ruang tempat orang datang untuk belajar. Karakter tersebut, menurut Oka, semestinya terus dipelihara.

Ia juga melihat Ubud FolkFest sebagai bentuk resilience. Festival ini tidak dibangun dengan modal besar, melainkan dari kreativitas dan pertemanan. “Kami punya tim yang muda dan kecil, tetapi sangat solid. Saya rasa itulah salah satu alasan mengapa festival ini masih bisa terus berjalan. Ada kerja keras, ada pertemanan, dan ada orang-orang yang percaya pada apa yang sedang kami bangun bersama,” paparnya.

Kini Ubud FolkFest memasuki tahun kelima. Bagi Oka, angka lima memiliki makna tentang kekuatan dan fondasi. Ia berharap momentum tersebut menjadi kesempatan untuk kembali memperkuat akar festival. Festival yang sebelumnya berlangsung tiga hari kini digelar selama dua hari karena keterbatasan tim. Namun, ia berharap suatu hari nanti Ubud FolkFest dapat kembali berlangsung tiga hari ketika tim dan ekosistemnya semakin kuat.

Ada satu hal yang menurut Oka terasa seperti sebuah kebetulan sekaligus metafora: festival itu ditanam di tempat bernama Biji. “Biji berarti sesuatu yang kita tanam untuk hari esok,” lanjutnya.

Begitu pula seni dan budaya. Keduanya tidak semestinya hanya menjadi bahan pembicaraan. Ia harus ditanam hari ini agar tumbuh dan memberikan sesuatu bagi masa depan.

Folk sebagai Pesta Rakyat

Sementara itu, bagi Rizal Hadi, salah seorang pendiri Ubud FolkFest, nama festival ini memiliki makna sederhana. Diberi nama Ubud FolkFest karena folk berarti rakyat, sementara festival adalah pesta. Jadi, secara sederhana, Ubud FolkFest adalah pesta rakyat yang dibuat di Ubud.
Karena itu, festival tidak dimaksudkan untuk mewakili satu genre musik tertentu.

Folk bukan semata-mata musik folk dalam pengertian konvensional, melainkan rakyat dengan seluruh keragaman selera dan ekspresinya. Rakyat mendengarkan rock, hip-hop, jazz, musik tradisional, musik kontemporer dan berbagai genre lainnya. Semua itu dapat hadir dalam satu ruang.

Di Ubud FolkFest, musik tradisional dapat berdampingan dengan musik kontemporer. Selonding Bali dapat bertemu Tarawangsa dari Jawa Barat, sementara pendekatan tradisi lainnya hadir melalui karya Neo Nolin. Jazz fusion, musik kontemporer hingga hip-hop dari New Zealand juga menemukan tempatnya. “Keragaman tersebut justru menjadi kekuatan festival. Yang terpenting bagi kami adalah quality over quantity,” tegas Rizal.

Ia tidak ingin keberhasilan festival semata-mata diukur dari seberapa besar nama musisi yang tampil atau berapa banyak penonton yang datang. Yang lebih penting adalah kualitas karya dan pengalaman yang dibawa pulang oleh pengunjung.

Ketika seseorang meninggalkan Ubud FolkFest, diharapkan ada sesuatu yang tertinggal dalam ingatannya: musik yang bagus, karya seni yang ditemukan, pertunjukan budaya yang disaksikan, atau perjumpaan dengan orang-orang baru. “Itulah yang ingin kami bangun melalui Ubud FolkFest: bukan sekadar jumlah penonton, tetapi sebuah pengalaman yang akan terus mereka ingat,” lanjutnya.

Menjaga Ruang Kreatif Ubud

Ubud FolkFest lahir dari gagasan Rizal Hadi dan Sara Hadi, seniman, penyelenggara acara dan produser musik, bersama Ida Bagus Oka Genijaya, arsitek sekaligus seniman. Dari gagasan sederhana untuk menciptakan ruang pertemuan antara musik, seni, budaya dan manusia, festival ini tumbuh selama lima tahun.

Biji World menjadi ruang yang mempertemukan berbagai elemen tersebut. Musik, seni, kuliner, recording, komunitas kreatif dan berbagai kegiatan kolaboratif berkelindan dalam satu tempat.
Di tengah perubahan Ubud yang terus bergerak, ruang semacam ini menjadi penting. Sebab kebudayaan bukan sesuatu yang berdiri di luar kehidupan, melainkan tumbuh dari perjumpaan manusia, kreativitas, tradisi dan perubahan zaman.

Genjek Pondok Pekak yang membuka festival menjadi gambaran yang sederhana tentang hal itu. Tradisi hadir bukan sebagai artefak yang berjarak, melainkan sebagai pertunjukan yang hidup. Ia bersuara, bergerak, bercanda, mengkritik, bahkan mengajak penonton ikut bernyanyi dan menari.

Sesudahnya, musik dari berbagai genre mengambil alih panggung. Seni rupa memenuhi galeri. Anak-anak bermain dan mencipta. Komunitas bertemu. Gagasan dipertukarkan.

Di situlah Ubud FolkFest menemukan maknanya. Ia bukan sekadar festival musik, bukan pula hanya perhelatan seni dan budaya. Ia adalah sebuah ruang pertemuan—tempat berbagai bentuk ekspresi dapat hidup berdampingan. Dan seperti makna “biji” yang menjadi nama rumahnya, festival ini tampaknya memang sedang menanam sesuatu: sebuah ekosistem kreatif yang diharapkan tumbuh perlahan, berakar kuat, dan tetap memberi ruang bagi seni, budaya serta manusia untuk berkembang bersama.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Genjek Pondok PekakUbud FolkFestUbud FolkFest 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

Next Post

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails
Next Post
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co