KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki berbusana sederhana yang mengenakan udeng merah, saput poleng, kain berwarna gelap, dan bertelanjang dada, mereka duduk bersila. Pemain perempuan berkebaya nuansa hitam duduk bersimpuh di sebuah kalangan sejuk yang dikelilingi kolam.
Tubuh mereka bergerak mengikuti irama. Suara-suara vokal pun bermunculan, menirukan bunyi berbagai instrumen gamelan Bali, seperti kendang, cengceng, reong hingga kenyur (sir). Suara suling mengalir sebagai pemanis sekaligus pelengkap melodi, dan tentu memperindah jalinan suara yang lahir dari mulut para peniru bunyi gamelan tersebut.
Itulah penampilan Genjek Pondok Pekak menjadi pembuka Ubud FolkFest 2026 di Biji World, Ubud, 14 Agustus 2026. Sebanyak tujuh pemain genjek laki-laki, lima pemain genjek perempuan, dan lima pemain gamelan laki-laki terlibat dalam pertunjukan tersebut. Para pemain tidak hanya mengandalkan musikalitas, tetapi juga spontanitas. Candaan, pesan sosial, bahkan kritik disampaikan secara cair dan jenaka. Pada bagian pengecet, seorang pemain perempuan mengajak pengunjung untuk ikut menari dan bernyanyi. Batas antara penampil dan penonton pun seketika mencair.
Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, Ubud FolkFest kembali berlangsung pada 14–15 Agustus 2026 di Biji World, Ubud. Festival ini mempertemukan musik, seni, budaya, komunitas, dan berbagai bentuk kreativitas dalam ruang yang terbuka dan inklusif.
Selama dua hari, tiga panggung musik, galeri seni, pertunjukan budaya, lokakarya seni, aktivitas anak, art market, record store hingga drum circle hadir dalam satu ekosistem. Sejumlah musisi dari Bali, berbagai daerah di Indonesia, hingga mancanegara turut mengisi panggung, antara lain Navicula, Iksan Skuter, Ary Juliyant, Anda Perdana, Catur Hari Wijaya & The Sound Nomads, Supa Kalulu, Managona dari Taiwan, SUNZ dari New Zealand, Tanya George dari Australia, Orasare, Abink Ferry, WLBY, Tarawangsa, Nata Swara, Neo Nolin, Celticroom Bali, Aji Sang Aji, Kerta Art dan Pondok Pekak.
Namun, musik bukan satu-satunya denyut festival. Seni rupa menjadi bagian penting melalui pameran yang menghadirkan karya Made Bayak, Daniel Kho, Linkan Palenewen, Putu Eni, Dedi Junaedi, Bandrek, Chay, I.B. Rekha, Ayu Sri Rejeki, Sofiya Shukhova dan Arina Proboningtyas.
Di antara pertunjukan musik dan pameran seni, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai aktivitas, seperti tari tradisional, Kamasan Art, art stamping, kids art zone, live drawing model, social canvas, tie dye, flow art, breakdance, manual brew, drum circle, art market dan record store.

Kehadiran program-program tersebut memperlihatkan upaya Ubud FolkFest untuk menempatkan pengunjung bukan sekadar sebagai penonton. Mereka diberi ruang untuk belajar, mencoba, mencipta, bereksperimen dan berinteraksi.
Seni sebagai Pengalaman
Gagasan tersebut diperkuat melalui program Fast Forward Ubud yang mengusung tema Short Stories. Big Ideas. Get Inspired. Enam pembicara dari berbagai latar belakang berbagi cerita, pengalaman dan gagasan secara singkat, antara lain Sandrina Malakiano, Rudolf Dethu, James Sukadana, Shinta Retnani, Gede Robi Navicula dan Mark Feldman.
Program ini menjadi ruang kecil untuk mempertemukan pengalaman personal dengan gagasan yang lebih luas. Seni, pada akhirnya, tidak berhenti pada karya yang dipamerkan atau pertunjukan yang disaksikan, tetapi juga pada cerita dan pemikiran yang menyertainya.
Sarah Hadi, salah seorang pendiri Ubud FolkFest mengungkapkan, gagasan tersebut berangkat dari kegelisahan melihat sisi kreatif Ubud yang dirasakannya mulai kurang terlihat dibandingkan masa sebelumnya. Selama beberapa hari festival, menurutnya, Ubud FolkFest berusaha menciptakan sebuah dunia kecil—sebuah mikrokosmos dari sisi kreatif Ubud yang dihimpun dalam satu tempat.
Ia masih mengingat penyelenggaraan pertama ketika seorang seniman melukis di tengah area Biji World, sementara musisi tampil di panggung dan seniman lain membuat sketsa arang secara langsung di galeri. “Orang-orang bertemu di sini dan menjalin persahabatan; sebagian dari kami bahkan mendapatkan sahabat seumur hidup melalui festival ini. Itu adalah hal yang sungguh istimewa,” katanya.
Bagi Sarah, keberlanjutan festival justru tidak dibangun melalui ambisi untuk tumbuh secara besar-besaran. Lokasi, sponsor dan komunitas menjadi modal penting, tetapi yang paling utama adalah bagaimana komunitas tersebut terus dirawat. Festival, menurutnya, boleh berkembang, tetapi pertumbuhan itu sebaiknya berlangsung secara organik.
Aksesibilitas juga menjadi perhatian. Ubud FolkFest berupaya menjaga harga tiket tetap terjangkau agar festival dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, sekaligus tetap memberikan dukungan kepada seniman dan musisi yang terlibat. “Bagi kami, pada akhirnya Ubud FolkFest adalah tentang menciptakan ruang di mana seni, musik, dan manusia dapat bersatu, serta memastikan ruang tersebut tetap terbuka bagi komunitas,” jelas Sarah.
Seni yang Harus Dilakukan
Sementara Ida Bagus Oka Genijaya, salah seorang pendiri Ubud FolkFest sekaligus pemilik Biji World, persoalan seni dan budaya berada pada wilayah yang lebih mendasar. “Akar dari republik ini adalah seni dan budaya. Dalam filosofi Hindu Bali, budaya adalah ibu, sesuatu yang melahirkan. Karena itu, seni dan budaya perlu ditanam, dijaga, dan yang paling penting, dilakukan,” ujarnya.
Oka Genijaya melihat ada kecenderungan nilai seni dan budaya semakin sering berhenti sebagai wacana. Seni dan budaya kerap digunakan sebagai filosofi untuk kepentingan pariwisata, tetapi belum tentu hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari. Ia teringat pesan ayahnya, yang mengatakan Jangan berfilosofi dengan saya. Filosofi itu seperti selimut. Untuk apa memakai selimut ketika cuaca sedang panas?”
Pesan tersebut menjadi semacam pegangan baginya. Seni dan budaya, kata Oka, tidak cukup hanya dibicarakan. Keduanya harus ditanam dan dilakukan.

Karena itu, perjumpaannya dengan para pelaku seni, seperti seniman suara, tari, rupa dan berbagai bentuk kesenian lainnya, menjadi sesuatu yang penting. Mereka bukan sekadar pengisi acara, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat. Desa Mas, tempat Biji World berada, memiliki sejarah sebagai ruang tempat orang datang untuk belajar. Karakter tersebut, menurut Oka, semestinya terus dipelihara.
Ia juga melihat Ubud FolkFest sebagai bentuk resilience. Festival ini tidak dibangun dengan modal besar, melainkan dari kreativitas dan pertemanan. “Kami punya tim yang muda dan kecil, tetapi sangat solid. Saya rasa itulah salah satu alasan mengapa festival ini masih bisa terus berjalan. Ada kerja keras, ada pertemanan, dan ada orang-orang yang percaya pada apa yang sedang kami bangun bersama,” paparnya.
Kini Ubud FolkFest memasuki tahun kelima. Bagi Oka, angka lima memiliki makna tentang kekuatan dan fondasi. Ia berharap momentum tersebut menjadi kesempatan untuk kembali memperkuat akar festival. Festival yang sebelumnya berlangsung tiga hari kini digelar selama dua hari karena keterbatasan tim. Namun, ia berharap suatu hari nanti Ubud FolkFest dapat kembali berlangsung tiga hari ketika tim dan ekosistemnya semakin kuat.
Ada satu hal yang menurut Oka terasa seperti sebuah kebetulan sekaligus metafora: festival itu ditanam di tempat bernama Biji. “Biji berarti sesuatu yang kita tanam untuk hari esok,” lanjutnya.
Begitu pula seni dan budaya. Keduanya tidak semestinya hanya menjadi bahan pembicaraan. Ia harus ditanam hari ini agar tumbuh dan memberikan sesuatu bagi masa depan.
Folk sebagai Pesta Rakyat
Sementara itu, bagi Rizal Hadi, salah seorang pendiri Ubud FolkFest, nama festival ini memiliki makna sederhana. Diberi nama Ubud FolkFest karena folk berarti rakyat, sementara festival adalah pesta. Jadi, secara sederhana, Ubud FolkFest adalah pesta rakyat yang dibuat di Ubud.
Karena itu, festival tidak dimaksudkan untuk mewakili satu genre musik tertentu.
Folk bukan semata-mata musik folk dalam pengertian konvensional, melainkan rakyat dengan seluruh keragaman selera dan ekspresinya. Rakyat mendengarkan rock, hip-hop, jazz, musik tradisional, musik kontemporer dan berbagai genre lainnya. Semua itu dapat hadir dalam satu ruang.
Di Ubud FolkFest, musik tradisional dapat berdampingan dengan musik kontemporer. Selonding Bali dapat bertemu Tarawangsa dari Jawa Barat, sementara pendekatan tradisi lainnya hadir melalui karya Neo Nolin. Jazz fusion, musik kontemporer hingga hip-hop dari New Zealand juga menemukan tempatnya. “Keragaman tersebut justru menjadi kekuatan festival. Yang terpenting bagi kami adalah quality over quantity,” tegas Rizal.
Ia tidak ingin keberhasilan festival semata-mata diukur dari seberapa besar nama musisi yang tampil atau berapa banyak penonton yang datang. Yang lebih penting adalah kualitas karya dan pengalaman yang dibawa pulang oleh pengunjung.
Ketika seseorang meninggalkan Ubud FolkFest, diharapkan ada sesuatu yang tertinggal dalam ingatannya: musik yang bagus, karya seni yang ditemukan, pertunjukan budaya yang disaksikan, atau perjumpaan dengan orang-orang baru. “Itulah yang ingin kami bangun melalui Ubud FolkFest: bukan sekadar jumlah penonton, tetapi sebuah pengalaman yang akan terus mereka ingat,” lanjutnya.
Menjaga Ruang Kreatif Ubud
Ubud FolkFest lahir dari gagasan Rizal Hadi dan Sara Hadi, seniman, penyelenggara acara dan produser musik, bersama Ida Bagus Oka Genijaya, arsitek sekaligus seniman. Dari gagasan sederhana untuk menciptakan ruang pertemuan antara musik, seni, budaya dan manusia, festival ini tumbuh selama lima tahun.

Biji World menjadi ruang yang mempertemukan berbagai elemen tersebut. Musik, seni, kuliner, recording, komunitas kreatif dan berbagai kegiatan kolaboratif berkelindan dalam satu tempat.
Di tengah perubahan Ubud yang terus bergerak, ruang semacam ini menjadi penting. Sebab kebudayaan bukan sesuatu yang berdiri di luar kehidupan, melainkan tumbuh dari perjumpaan manusia, kreativitas, tradisi dan perubahan zaman.
Genjek Pondok Pekak yang membuka festival menjadi gambaran yang sederhana tentang hal itu. Tradisi hadir bukan sebagai artefak yang berjarak, melainkan sebagai pertunjukan yang hidup. Ia bersuara, bergerak, bercanda, mengkritik, bahkan mengajak penonton ikut bernyanyi dan menari.
Sesudahnya, musik dari berbagai genre mengambil alih panggung. Seni rupa memenuhi galeri. Anak-anak bermain dan mencipta. Komunitas bertemu. Gagasan dipertukarkan.
Di situlah Ubud FolkFest menemukan maknanya. Ia bukan sekadar festival musik, bukan pula hanya perhelatan seni dan budaya. Ia adalah sebuah ruang pertemuan—tempat berbagai bentuk ekspresi dapat hidup berdampingan. Dan seperti makna “biji” yang menjadi nama rumahnya, festival ini tampaknya memang sedang menanam sesuatu: sebuah ekosistem kreatif yang diharapkan tumbuh perlahan, berakar kuat, dan tetap memberi ruang bagi seni, budaya serta manusia untuk berkembang bersama.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























