TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratus orang yang saya wawancarai. Dari bupati, gubernur, anggota dewan, seniman, penyair, petani, sampai tukang parkir yang lebih pandai bercerita daripada pejabat yang gajinya puluhan juta rupiah.
Kemarin saya hanya duduk diam, yang banyak bicara adalah Reda, tunangan saya. Kami bertemu di sebuah kedai di Denpasar bersama dua mahasiswi Psikologi Universitas Udayana. Salah satunya bernama Maya. Ia sedang menyusun skripsi. Topiknya tentang pendamping orang dengan skizofrenia.
Saya sengaja tidak menyebut istilah caregiver saat itu. Kata itu terdengar terlalu resmi. Terlalu kampus. Bagi saya, Reda adalah Reda. Orang yang selama dua belas tahun terakhir mendengar keluhan-keluhan saya yang kadang tidak penting, menerima telepon ketika saya sedang cemas, orang yang berkali-kali saya kirimi puisi, dan bertahan lebih lama daripada yang pernah saya bayangkan.
Maya membuka buku catatannya, dan menyalakan alat rekam. Lalu wawancara dimulai. Awalnya saya santai saja. Saya pikir pertanyaannya tidak akan jauh-jauh dari pengalaman mendampingi seseorang yang pernah didiagnosis skizofrenia.
Ternyata saya keliru. Karena setiap jawaban Reda seperti membuka laci-laci lama yang sudah lama tidak saya buka. Ada banyak peristiwa yang ternyata masih diingatnya, banyak percakapan yang ternyata masih disimpannya, dan ada banyak hari yang sudah saya lupakan, tetapi masih hidup dalam ingatannya.
Dan saya mulai merasa seperti sedang mendengarkan hidup saya sendiri dari mulut orang lain. Ada satu momen yang masih saya ingat. Ketika Maya bertanya tentang perubahan yang ia lihat pada diri saya selama bertahun-tahun. Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawaban Reda membuat saya terdiam.
Ia bercerita tentang saya yang sekarang dan saya yang dulu. Tentang bagaimana seseorang bisa berubah tanpa benar-benar menyadari bahwa dirinya sedang berubah. Saya tidak ingat persis kalimat-kalimat yang ia gunakan. Wartawan pun kadang gagal menjadi pencatat yang baik ketika sedang sibuk menjadi manusia biasa.
Namun saya menangkap kesannya. Bahwa pemulihan ternyata lebih mudah dilihat dari luar daripada dari dalam. Kita yang menjalaninya sering merasa tidak bergerak ke mana-mana. Masih orang yang sama, membawa kecemasan yang sama, atau bergulat dengan masalah yang hampir serupa.
Tetapi orang yang setiap hari melihat kita rupanya bisa melihat hal-hal yang tidak kita sadari. Mereka melihat kita lebih sabar, tenang, mampu mengendalikan diri, dan lebih mampu menghadapi hidup. Atau setidaknya lebih mampu menertawakan hidup.
Saya tersenyum ketika mendengar sebagian cerita itu.Bukan karena bangga, melainkan karena merasa sedang mendengar biografi singkat tentang diri sendiri yang ditulis oleh orang lain. Ada bagian yang terasa akurat, ada bagian yang membuat saya ingin menyela. Juga, ada bagian yang membuat saya berpikir, “Benarkah saya seperti itu?”
Tetapi mungkin memang begitulah manusia. Kita mengenal diri sendiri sepanjang hidup, tetapi tetap ada sudut-sudut yang hanya bisa dilihat oleh orang lain. Saya lalu teringat sebuah kebiasaan lama. Ketika hubungan kami masih baru, saya sering mengirim tulisan kepada Reda sebelum tulisan itu dikirim ke media. Kadang puisi, esai, atau tulisan yang sekarang jika saya baca ulang mungkin akan membuat saya malu sendiri.
Anehnya, ia selalu membacanya. Tidak semua orang sanggup menjadi pembaca pertama bagi seorang penulis yang sedang belajar. Itu pekerjaan yang lebih berat daripada yang dibayangkan. Karena menjadi pembaca pertama berarti menyaksikan semua kegagalan sebelum orang lain melihat keberhasilannya.
Dan sore itu saya sadar, mungkin selama ini Reda bukan hanya saksi perjalanan hidup saya. Ia juga saksi perjalanan tulisan-tulisan saya, Dari hari-hari ketika saya belum memiliki buku, ketika saya mulai menerbitkan buku, dan saksi dari hari-hari ketika saya masih terus mencoba menjadi penulis yang lebih baik.
Saya pertama kali didiagnosis mengidap skizofrenia paranoid pada 2009. Sudah cukup lama berlalu, waktu yang cukup panjang untuk membuat seseorang lupa banyak hal. Tetapi ada beberapa hal yang tetap tinggal. Saya masih ingat perasaan bingung saat itu, masih ingat bagaimana hidup tiba-tiba terasa seperti jalan yang peta arahnya hilang.
Ketika masih muda, kita sering berpikir masa depan adalah sesuatu yang pasti. Kita membayangkan kuliah, bekerja, menikah, punya rumah, lalu tua dengan tenang Kenyataannya tidak selalu demikian. Hidup kadang melemparkan sesuatu yang tidak ada dalam rencana. Dan ketika itu terjadi, kita dipaksa belajar dari awal.
Belajar menerima, memahami, bertahan, dan berharap. Mungkin karena itulah saya selalu merasa orang yang pernah jatuh memiliki cara pandang berbeda terhadap hidup. Mereka tahu bahwa banyak hal yang dianggap pasti ternyata bisa berubah dalam sekejap.
Saya mengenal Reda beberapa tahun setelah diagnosis itu. Tahun 2014. Kalau dipikir-pikir sekarang, saya sering heran sendiri mengapa ia mau menjalin hubungan dengan saya. Saat itu saya bukan siapa-siapa, tidak punya banyak uang, prestasi, dan buku yang bisa dipamerkan. Belum punya nama yang dikenal orang. Saya hanya seorang lelaki yang sedang berusaha menyusun kembali hidupnya.
Kadang saya membayangkan jika kisah kami ditulis sebagai proposal investasi, mungkin tidak ada yang tertarik menanam modal. Risikonya terlalu besar, prospeknya belum jelas, dan masa depannya masih kabur. Tetapi untunglah cinta tidak bekerja seperti analis keuangan. Ia sering mengambil keputusan yang tidak masuk akal. Dan syukurlah untuk itu.
Dalam salah satu bagian wawancara, Maya bertanya tentang masa-masa awal hubungan kami. Saya melirik Reda. Ia tersenyum kecil sebelum menjawab. Saya tahu senyum itu, senyum yang biasanya muncul ketika seseorang sedang mengingat sesuatu yang jauh. Saya tidak ingat persis semua jawaban yang ia berikan.
Tetapi saya tahu inti ceritanya. Bahwa perjalanan kami tidak selalu mudah. Hubungan apa pun yang bertahan lebih dari satu dekade pasti pernah melewati masa-masa sulit. Apalagi hubungan yang dibangun di atas berbagai perbedaan. Kami berbeda agama, latar belakang keluarga. Kami berbeda dalam banyak hal.
Kadang saya berpikir satu-satunya kesamaan kami adalah sama-sama keras kepala. Mungkin itu juga alasan hubungan ini masih bertahan. Dua orang keras kepala yang sama-sama menolak menyerah.
Maya terus bertanya. Reda terus menjawab. Saya terus mendengarkan. Dan semakin lama saya merasa sore itu bukan lagi tentang skripsi. Ia berubah menjadi perjalanan melintasi waktu. Saya melihat kembali diri saya pada 2015. Tahun ketika saya mulai aktif kembali sebagai wartawan.
Saya masih ingat betapa bersemangatnya saya saat itu. Menulis berita, mengejar narasumber, enghadiri konferensi pers, atau menunggu pejabat yang terlambat datang. Pulang malam dengan kepala penuh catatan. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika seseorang kembali menemukan pekerjaannya.
Bagi sebagian orang, menjadi wartawan mungkin bukan pekerjaan impian. Tetapi bagi saya, pekerjaan itu seperti rumah yang selalu bisa saya datangi kembali. Di sana saya belajar mendengar orang lain, belajar bahwa setiap manusia membawa cerita. Dan di sana pula saya perlahan belajar bahwa saya pun memiliki cerita.
Karier menulis saya berkembang pelan-pelan. Tidak ada ledakan besar atau keajaiban mendadak. Saya tidak tiba-tiba menjadi penulis terkenal. Yang ada hanyalah kebiasaan menulis setiap hari. Menulis ketika suasana hati baik, atau sebaliknya; buruk. Menulis ketika ada ide, atau ketika tidak ada ide. Sampai akhirnya satu buku terbit. Lalu buku berikutnya. Lalu berikutnya lagi. Hari ini jumlahnya sudah dua puluh buku. Sembilan buku kumpulan puisi, dan sebelas kumpulan esai dan artikel.
Kadang saya sendiri heran melihat angka itu. Bukan karena merasa hebat, melainkan karena saya tahu dari mana saya memulainya. Saya tahu ada masa ketika bangun pagi saja terasa sulit. Karena itu setiap buku selalu terasa seperti kemenangan kecil. Bukan kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri.
Di tengah wawancara, saya tiba-tiba teringat sesuatu. Selama ini orang-orang sering mengucapkan selamat kepada saya. Selamat atas buku baru, penghargaan, artikel yang terbit, dan berbagai pencapaian kecil yang saya raih. Dan saya berterima kasih untuk semua itu.
Tetapi sore itu membuat saya berpikir bahwa ada banyak orang yang sebenarnya juga pantas menerima ucapan selamat. Mereka hanya tidak terlihat. Tidak menulis buku, nama mereka tidak muncul di koran, atau diundang menjadi pembicara. Mereka hanya hadir. Hari demi hari, tahun demi tahun. Tanpa banyak suara. Saya kira Reda termasuk di antaranya.
Ada satu pertanyaan yang tidak diajukan Maya, tetapi terus berputar di kepala saya. Bagaimana jika Reda pergi? Pertanyaan itu terdengar dramatis. Namun bukankah hidup sering berubah karena seseorang memutuskan pergi? Banyak persahabatan berakhir karena itu, hubungan kandas karena itu, dan mimpi runtuh karena itu. Tetapi Reda tidak pergi. Setidaknya sampai hari ini.
Ia masih ada ketika saya menulis artikel ini. Masih menjadi orang pertama yang membaca sebagian tulisan saya. Ia masih sering mengoreksi kesalahan-kesalahan kecil yang luput dari perhatian saya. Dan entah sudah berapa kali ia mengingatkan saya tentang hal-hal yang saya lupa. Usia mungkin membuat daya ingat manusia berkurang. Untung ada orang lain yang bersedia mengingatkan.
Menjelang sore, suasana kedai mulai berubah. Pengunjung bertambah ramai. Suara kendaraan dari jalan raya semakin terdengar. Maya masih mencatat. Sesekali ia mengajukan pertanyaan lanjutan. Saya memperhatikan kesungguhannya. Saya membayangkan skripsi itu suatu hari akan selesai. Mungkin akan dijilid dan disimpan di perpustakaan kampus. Mungkin akan dibaca mahasiswa lain bertahun-tahun kemudian. Dan mungkin di antara ratusan halaman itu akan ada sebagian kecil cerita tentang kami.
Tentang seorang perempuan yang mendampingi laki-laki yang pernah didiagnosis skizofrenia, tentang perjalanan yang tidak selalu mudah. Tentang kehidupan yang terus berjalan. Ketika wawancara selesai, kami pun beranjak pulang. Tidak ada peristiwa besar. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada musik pengiring seperti dalam film. Hanya sore biasa di Denpasar.
Tetapi sering kali hidup memang berubah melalui peristiwa-peristiwa biasa. Dalam perjalanan pulang, saya memikirkan banyak hal. Tentang waktu, cinta, dan pemulihan. Juga, tentang orang-orang yang diam-diam membantu kita menjadi diri kita hari ini. Lalu saya teringat kalimat yang sejak tadi berputar-putar di kepala.
Kemarin saya mendengarkan hidup saya sendiri dari mulut orang lain. Dan untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa hidup saya ternyata tidak hanya milik saya. Di dalamnya ada keluarga yang tidak pernah berhenti berdoa, dokter yang membantu ketika keadaan menjadi sulit, sahabat yang tetap bertahan. Ada pembaca yang terus memberi semangat. Dan tentu saja, ada Reda.
Perempuan yang selama dua belas tahun terakhir berjalan bersama. Menjadi saksi ketika hidup berada di titik terendah. Perempuan yang juga menyaksikan ketika hidup perlahan membaik. Tidak ada manusia yang benar-benar berjalan sendirian. Kita dibentuk oleh banyak tangan, banyak suara, banyak kehadiran.
Kemarin, melalui pertanyaan-pertanyaan Maya dan jawaban-jawaban Reda, saya diingatkan kembali tentang hal itu. Dan saya pulang dengan satu perasaan yang sangat sederhana. Syukur. Karena masih hidup, menulis, bekerja, masih bisa menjadi wartawan, pekerjaan yang pernah saya tinggalkan dan kemudian saya temukan Kembali. Selain itu, karena masih bisa menerbitkan buku-buku yang dulu hanya saya impikan. Juga, karena masih bisa tertawa pada hal-hal kecil yang dahulu terasa mustahil untuk ditertawakan.
Dan terutama karena, sampai hari ini, masih ada seseorang yang bersedia membantu saya mengingat bagian-bagian hidup yang mulai saya lupakan. Seseorang yang dua minggu lalu diwawancarai untuk sebuah skripsi. Tetapi bagi saya, ia jauh lebih dari sekadar narasumber penelitian. Ia adalah saksi. Saksi dari tahun-tahun yang berantakan, dari hari-hari yang penuh harapan. Saksi dari perjalanan panjang yang membawa saya sampai di titik ini.
Dan mungkin itulah arti cinta yang sesungguhnya. Bukan kata-kata besar atau janji-janji yang diucapkan pada hari-hari bahagia. Melainkan kesediaan untuk tetap tinggal ketika hidup sedang tidak mudah. Kesediaan untuk menemani seseorang melewati jalan panjang. Tahun depan, kami berencana untuk menikah. Semoga ikhtiar kami tidak menemui kendala yang berarti. Tiga minggu lalu, di sebuah kedai di Denpasar, saya tidak hanya mendengarkan jawaban-jawaban Reda. Saya mendengarkan hidup saya sendiri. Dan dalam cerita itu, nama Reda muncul hampir di setiap halaman. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole






























