9 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 18, 2026
in Esai
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

Reda Subagio (kanan) saat diwawancarai oleh mahasiswi Psikologi Universitas Udayana. (Foto: Angga Wijaya)

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratus orang yang saya wawancarai. Dari bupati, gubernur, anggota dewan, seniman, penyair, petani, sampai tukang parkir yang lebih pandai bercerita daripada pejabat yang gajinya puluhan juta rupiah.

Kemarin saya hanya duduk diam, yang banyak bicara adalah Reda, tunangan saya.  Kami bertemu di sebuah kedai di Denpasar bersama dua mahasiswi Psikologi Universitas Udayana. Salah satunya bernama Maya. Ia sedang menyusun skripsi. Topiknya tentang pendamping orang dengan skizofrenia.

Saya sengaja tidak menyebut istilah caregiver saat itu. Kata itu terdengar terlalu resmi. Terlalu kampus. Bagi saya, Reda adalah Reda. Orang yang selama dua belas tahun terakhir mendengar keluhan-keluhan saya yang kadang tidak penting, menerima telepon ketika saya sedang cemas, orang yang berkali-kali saya kirimi puisi, dan bertahan lebih lama daripada yang pernah saya bayangkan.  

Maya membuka buku catatannya, dan menyalakan alat rekam. Lalu wawancara dimulai. Awalnya saya santai saja. Saya pikir pertanyaannya tidak akan jauh-jauh dari pengalaman mendampingi seseorang yang pernah didiagnosis skizofrenia.

Ternyata saya keliru. Karena setiap jawaban Reda seperti membuka laci-laci lama yang sudah lama tidak saya buka. Ada banyak peristiwa yang ternyata masih diingatnya, banyak percakapan yang ternyata masih disimpannya, dan ada banyak hari yang sudah saya lupakan, tetapi masih hidup dalam ingatannya.

Dan saya mulai merasa seperti sedang mendengarkan hidup saya sendiri dari mulut orang lain. Ada satu momen yang masih saya ingat. Ketika Maya bertanya tentang perubahan yang ia lihat pada diri saya selama bertahun-tahun. Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawaban Reda membuat saya terdiam.

Ia bercerita tentang saya yang sekarang dan saya yang dulu. Tentang bagaimana seseorang bisa berubah tanpa benar-benar menyadari bahwa dirinya sedang berubah. Saya tidak ingat persis kalimat-kalimat yang ia gunakan. Wartawan pun kadang gagal menjadi pencatat yang baik ketika sedang sibuk menjadi manusia biasa.

Namun saya menangkap kesannya. Bahwa pemulihan ternyata lebih mudah dilihat dari luar daripada dari dalam. Kita yang menjalaninya sering merasa tidak bergerak ke mana-mana. Masih orang yang sama, membawa kecemasan yang sama, atau bergulat dengan masalah yang hampir serupa.

Tetapi orang yang setiap hari melihat kita rupanya bisa melihat hal-hal yang tidak kita sadari. Mereka melihat kita lebih sabar, tenang, mampu mengendalikan diri, dan lebih mampu menghadapi hidup. Atau setidaknya lebih mampu menertawakan hidup.

Saya tersenyum ketika mendengar sebagian cerita itu.Bukan karena bangga, melainkan karena merasa sedang mendengar biografi singkat tentang diri sendiri yang ditulis oleh orang lain. Ada bagian yang terasa akurat, ada bagian yang membuat saya ingin menyela. Juga, ada bagian yang membuat saya berpikir, “Benarkah saya seperti itu?”

Tetapi mungkin memang begitulah manusia. Kita mengenal diri sendiri sepanjang hidup, tetapi tetap ada sudut-sudut yang hanya bisa dilihat oleh orang lain. Saya lalu teringat sebuah kebiasaan lama. Ketika hubungan kami masih baru, saya sering mengirim tulisan kepada Reda sebelum tulisan itu dikirim ke media. Kadang puisi, esai, atau tulisan yang sekarang jika saya baca ulang mungkin akan membuat saya malu sendiri.

Anehnya, ia selalu membacanya. Tidak semua orang sanggup menjadi pembaca pertama bagi seorang penulis yang sedang belajar. Itu pekerjaan yang lebih berat daripada yang dibayangkan. Karena menjadi pembaca pertama berarti menyaksikan semua kegagalan sebelum orang lain melihat keberhasilannya.

Dan sore itu saya sadar, mungkin selama ini Reda bukan hanya saksi perjalanan hidup saya. Ia juga saksi perjalanan tulisan-tulisan saya, Dari hari-hari ketika saya belum memiliki buku, ketika saya mulai menerbitkan buku, dan saksi dari hari-hari ketika saya masih terus mencoba menjadi penulis yang lebih baik.

Saya pertama kali didiagnosis mengidap skizofrenia paranoid pada 2009. Sudah cukup lama berlalu, waktu yang cukup panjang untuk membuat seseorang lupa banyak hal. Tetapi ada beberapa hal yang tetap tinggal. Saya masih ingat perasaan bingung saat itu, masih ingat bagaimana hidup tiba-tiba terasa seperti jalan yang peta arahnya hilang.

Ketika masih muda, kita sering berpikir masa depan adalah sesuatu yang pasti. Kita membayangkan kuliah, bekerja, menikah, punya rumah, lalu tua dengan tenang Kenyataannya tidak selalu demikian. Hidup kadang melemparkan sesuatu yang tidak ada dalam rencana. Dan ketika itu terjadi, kita dipaksa belajar dari awal.

Belajar menerima, memahami, bertahan, dan berharap. Mungkin karena itulah saya selalu merasa orang yang pernah jatuh memiliki cara pandang berbeda terhadap hidup. Mereka tahu bahwa banyak hal yang dianggap pasti ternyata bisa berubah dalam sekejap.

Saya mengenal Reda beberapa tahun setelah diagnosis itu. Tahun 2014. Kalau dipikir-pikir sekarang, saya sering heran sendiri mengapa ia mau menjalin hubungan dengan saya. Saat itu saya bukan siapa-siapa, tidak punya banyak uang, prestasi, dan buku yang bisa dipamerkan. Belum punya nama yang dikenal orang. Saya hanya seorang lelaki yang sedang berusaha menyusun kembali hidupnya.

Kadang saya membayangkan jika kisah kami ditulis sebagai proposal investasi, mungkin tidak ada yang tertarik menanam modal. Risikonya terlalu besar, prospeknya belum jelas, dan masa depannya masih kabur. Tetapi untunglah cinta tidak bekerja seperti analis keuangan. Ia sering mengambil keputusan yang tidak masuk akal. Dan syukurlah untuk itu.

Dalam salah satu bagian wawancara, Maya bertanya tentang masa-masa awal hubungan kami. Saya melirik Reda. Ia tersenyum kecil sebelum menjawab. Saya tahu senyum itu, senyum yang biasanya muncul ketika seseorang sedang mengingat sesuatu yang jauh. Saya tidak ingat persis semua jawaban yang ia berikan.

Tetapi saya tahu inti ceritanya. Bahwa perjalanan kami tidak selalu mudah. Hubungan apa pun yang bertahan lebih dari satu dekade pasti pernah melewati masa-masa sulit. Apalagi hubungan yang dibangun di atas berbagai perbedaan. Kami berbeda agama, latar belakang keluarga. Kami berbeda dalam banyak hal.

Kadang saya berpikir satu-satunya kesamaan kami adalah sama-sama keras kepala. Mungkin itu juga alasan hubungan ini masih bertahan. Dua orang keras kepala yang sama-sama menolak menyerah.

Maya terus bertanya. Reda terus menjawab. Saya terus mendengarkan. Dan semakin lama saya merasa sore itu bukan lagi tentang skripsi. Ia berubah menjadi perjalanan melintasi waktu. Saya melihat kembali diri saya pada 2015. Tahun ketika saya mulai aktif kembali sebagai wartawan.

Saya masih ingat betapa bersemangatnya saya saat itu. Menulis berita, mengejar narasumber, enghadiri konferensi pers, atau menunggu pejabat yang terlambat datang. Pulang malam dengan kepala penuh catatan. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika seseorang kembali menemukan pekerjaannya.

Bagi sebagian orang, menjadi wartawan mungkin bukan pekerjaan impian. Tetapi bagi saya, pekerjaan itu seperti rumah yang selalu bisa saya datangi kembali. Di sana saya belajar mendengar orang lain, belajar bahwa setiap manusia membawa cerita. Dan di sana pula saya perlahan belajar bahwa saya pun memiliki cerita.

Karier menulis saya berkembang pelan-pelan. Tidak ada ledakan besar atau keajaiban mendadak. Saya tidak tiba-tiba menjadi penulis terkenal. Yang ada hanyalah kebiasaan menulis setiap hari. Menulis ketika suasana hati baik, atau sebaliknya; buruk. Menulis ketika ada ide, atau ketika tidak ada ide. Sampai akhirnya satu buku terbit. Lalu buku berikutnya. Lalu berikutnya lagi. Hari ini jumlahnya sudah dua puluh buku. Sembilan buku kumpulan puisi, dan sebelas kumpulan esai dan artikel.

Kadang saya sendiri heran melihat angka itu. Bukan karena merasa hebat, melainkan karena saya tahu dari mana saya memulainya. Saya tahu ada masa ketika bangun pagi saja terasa sulit. Karena itu setiap buku selalu terasa seperti kemenangan kecil. Bukan kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri.

Di tengah wawancara, saya tiba-tiba teringat sesuatu. Selama ini orang-orang sering mengucapkan selamat kepada saya. Selamat atas buku baru, penghargaan, artikel yang terbit, dan berbagai pencapaian kecil yang saya raih. Dan saya berterima kasih untuk semua itu.

Tetapi sore itu membuat saya berpikir bahwa ada banyak orang yang sebenarnya juga pantas menerima ucapan selamat. Mereka hanya tidak terlihat. Tidak menulis buku, nama mereka tidak muncul di koran, atau diundang menjadi pembicara. Mereka hanya hadir. Hari demi hari, tahun demi tahun. Tanpa banyak suara. Saya kira Reda termasuk di antaranya.

Ada satu pertanyaan yang tidak diajukan Maya, tetapi terus berputar di kepala saya. Bagaimana jika Reda pergi? Pertanyaan itu terdengar dramatis. Namun bukankah hidup sering berubah karena seseorang memutuskan pergi? Banyak persahabatan berakhir karena itu, hubungan kandas karena itu, dan mimpi runtuh karena itu. Tetapi Reda tidak pergi. Setidaknya sampai hari ini.

Ia masih ada ketika saya menulis artikel ini. Masih menjadi orang pertama yang membaca sebagian tulisan saya. Ia masih sering mengoreksi kesalahan-kesalahan kecil yang luput dari perhatian saya. Dan entah sudah berapa kali ia mengingatkan saya tentang hal-hal yang saya lupa. Usia mungkin membuat daya ingat manusia berkurang. Untung ada orang lain yang bersedia mengingatkan.

Menjelang sore, suasana kedai mulai berubah. Pengunjung bertambah ramai. Suara kendaraan dari jalan raya semakin terdengar. Maya masih mencatat. Sesekali ia mengajukan pertanyaan lanjutan. Saya memperhatikan kesungguhannya. Saya membayangkan skripsi itu suatu hari akan selesai. Mungkin akan dijilid dan disimpan di perpustakaan kampus. Mungkin akan dibaca mahasiswa lain bertahun-tahun kemudian. Dan mungkin di antara ratusan halaman itu akan ada sebagian kecil cerita tentang kami.

Tentang seorang perempuan yang mendampingi laki-laki yang pernah didiagnosis skizofrenia, tentang perjalanan yang tidak selalu mudah. Tentang kehidupan yang terus berjalan. Ketika wawancara selesai, kami pun beranjak pulang. Tidak ada peristiwa besar. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada musik pengiring seperti dalam film. Hanya sore biasa di Denpasar.

Tetapi sering kali hidup memang berubah melalui peristiwa-peristiwa biasa. Dalam perjalanan pulang, saya memikirkan banyak hal. Tentang waktu, cinta, dan pemulihan. Juga, tentang orang-orang yang diam-diam membantu kita menjadi diri kita hari ini. Lalu saya teringat kalimat yang sejak tadi berputar-putar di kepala.

Kemarin saya mendengarkan hidup saya sendiri dari mulut orang lain. Dan untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa hidup saya ternyata tidak hanya milik saya. Di dalamnya ada keluarga yang tidak pernah berhenti berdoa, dokter yang membantu ketika keadaan menjadi sulit, sahabat yang tetap bertahan. Ada pembaca yang terus memberi semangat. Dan tentu saja, ada Reda.

Perempuan yang selama dua belas tahun terakhir berjalan bersama. Menjadi saksi ketika hidup berada di titik terendah. Perempuan yang juga menyaksikan ketika hidup perlahan membaik. Tidak ada manusia yang benar-benar berjalan sendirian. Kita dibentuk oleh banyak tangan, banyak suara, banyak kehadiran.

Kemarin, melalui pertanyaan-pertanyaan Maya dan jawaban-jawaban Reda, saya diingatkan kembali tentang hal itu. Dan saya pulang dengan satu perasaan yang sangat sederhana. Syukur. Karena masih hidup, menulis, bekerja, masih bisa menjadi wartawan, pekerjaan yang pernah saya tinggalkan dan kemudian saya temukan Kembali. Selain itu, karena masih bisa menerbitkan buku-buku yang dulu hanya saya impikan. Juga, karena masih bisa tertawa pada hal-hal kecil yang dahulu terasa mustahil untuk ditertawakan.

Dan terutama karena, sampai hari ini, masih ada seseorang yang bersedia membantu saya mengingat bagian-bagian hidup yang mulai saya lupakan. Seseorang yang dua minggu lalu diwawancarai untuk sebuah skripsi. Tetapi bagi saya, ia jauh lebih dari sekadar narasumber penelitian. Ia adalah saksi. Saksi dari tahun-tahun yang berantakan, dari hari-hari yang penuh harapan. Saksi dari perjalanan panjang yang membawa saya sampai di titik ini.

Dan mungkin itulah arti cinta yang sesungguhnya. Bukan kata-kata besar atau janji-janji yang diucapkan pada hari-hari bahagia. Melainkan kesediaan untuk tetap tinggal ketika hidup sedang tidak mudah. Kesediaan untuk menemani seseorang melewati jalan panjang. Tahun depan, kami berencana untuk menikah. Semoga ikhtiar kami tidak menemui kendala yang berarti. Tiga minggu lalu, di sebuah kedai di Denpasar, saya tidak hanya mendengarkan jawaban-jawaban Reda. Saya mendengarkan hidup saya sendiri. Dan dalam cerita itu, nama Reda muncul hampir di setiap halaman. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: jurnalismekehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

Next Post

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

by Satria Aditya
July 7, 2026
0
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu...

Read moreDetails

Era Chatting Telah Berlalu

by Angga Wijaya
July 7, 2026
0
Era Chatting Telah Berlalu

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya...

Read moreDetails

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
0
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

Read moreDetails

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

by Ahmad Sihabudin
July 7, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PENGALAMAN mendengar Ambulan Zig Zag karya Iwan Fals memang seperti mendengar sirene yang tak pernah benar-benar berhenti. Sirene itu tidak...

Read moreDetails

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
0
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

Read moreDetails

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

Read moreDetails

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
0
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

Read moreDetails

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails
Next Post
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Bunglon di Republik Kita

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis
Ulas Rupa

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

by Angga Wijaya
July 8, 2026
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa
Ulas Rupa

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

by Sugi Lanus
July 7, 2026
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja
Esai

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu...

by Satria Aditya
July 7, 2026
Era Chatting Telah Berlalu
Esai

Era Chatting Telah Berlalu

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya...

by Angga Wijaya
July 7, 2026
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan
Esai

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar
Khas

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

PENGALAMAN mendengar Ambulan Zig Zag karya Iwan Fals memang seperti mendengar sirene yang tak pernah benar-benar berhenti. Sirene itu tidak...

by Ahmad Sihabudin
July 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co