18 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

Pande Susan by Pande Susan
June 18, 2026
in Esai
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma bahan-bahan basa genep yang diracik oleh bapak, sayup terdengar bunyi logam beradu, klek klek klek… Bunyi itu bukan berasal dari bilah pisau yang mencincang daging, melainkan dari stapler besi yang digerakkan dengan cekatan oleh tanganku dan tangan ibuku. Tradisi mejejaitan, yang dulunya merupakan ruang kognitif untuk meditasi, ketekunan, dan keheningan, kini perlahan bertransmisi menjadi aktivitas mekanis yang diburu oleh jarum jam modernitas.

Penjor sebagai salah satu penanda Hari Raya Galungan | Foto: Pande Susan

Di tengah riuh kosmopolitan, Pulau Dewata seolah berdiri di persimpangan jalan antara mempertahankan keajegan nilai spiritualitasnya atau larut dalam arus kepraktisan yang instan. Menjelang rerahinan jagat seperti Galungan, wajah kami bersolek rupa. Penjor-penjor menjulang tinggi melengkung di sepanjang jalan, menciptakan lanskap visual yang megah sekaligus eksotis. Namun, jika melangkah lebih dekat dan menatap pelinggih-pelinggih suci di pekarangan rumah, kita akan menemukan sebuah teater budaya yang sunyi pada selembar Lamak dan gantungan Ceniga.

Sanggah atau Merajan yang dipenuhi banten dan dihiasi lamak pada pelinggihnya saat Hari Raya Galungan | Foto: Pande Susan

Lelamak: Sepotong Sajak Kosmis yang Tergerus Estetika Instan

Lamak, selembar hiasan persegi panjang vertikal yang menyembul anggun di pelinggih, arca, hingga kendaraan bermotor. Ia bukan sekadar pemanis dekorasi ritual. Secara etimologis, lelamak berakar dari bahasa Kawi, yang berarti alas atau dasar. Sebelum banten atau sesajen ditempatkan di tempat suci, lamak terlebih dahulu dibentangkan sebagai landasan spiritual. Ia adalah jembatan estetis yang menghubungkan bumi (Bhuana Alit) dengan langit (Bhuana Agung), ruang transendental tempat manusia memohon anugerah sinar suci pengetahuan dari Sang Pencipta.

Lamak Galungan yang terbuat dari daun Ron dan daun Ambu | Foto: Pande Susan

Jika kita mengamati lembar demi lembar lamak tradisional, kita sedang membaca sebuah peta kosmologi yang kompleks. Ornamennya diatur dengan disiplin estetika yang ketat. Di bagian atasnya, ornamen sang surya yang memancarkan berkah kehidupan bersanding dengan figur cili sebagai simbol dualitas penciptaan (Purusa-Pradana atau Rwa Bhineda). Pada bagian tengah, hiasan Patra Mas-masan atau Kayonan menyimbolkan ketinggian suci tempat bersemayamnya para dewata. Terakhir, motif tumbuh-tumbuhan di bagian bawah, merepresentasikan kesuburan, kedamaian, dan keikhlasan hati manusia dalam ber-yadnya.

Ukiran berupa bunga, patra dan pohon pada lamak Galungan yang diletakkan di sanggah penjor | Foto: Pande Susan

Namun, kesakralan prosesi penciptaan lamak kini tengah berhadapan dengan badai komodifikasi. Sebelum aku lahir pada tahun 1990-an, membuat lamak adalah ritus keluarga yang intim. Kaum perempuan berkumpul di teras rumah, menganyam helai demi helai daun enau muda (ambu) yang putih kekuningan, lalu membingkainya dengan daun enau tua (ron) yang hijau pekat. Ada transfer pengetahuan kultural yang mengalir secara alami dari ibu ke anak perempuan dalam kehangatan percakapan domestik.

Dokumentasi akun instagram @istria_yds, suasana di pinggir jalan pertokoan pusat kota Gianyar yang dipenuhi penjual lamak Galungan dan diserbu pembeli yang keduanya adalah kaum ibu-ibu

Hari ini, keintiman itu menguap digantikan oleh transaksi cepat di pinggir jalan. Masyarakat Bali yang didera kesibukan kerja kantoran atau industri pariwisata lebih memilih membeli lamak Galungan siap pakai. Sentra-sentra penghasil lamak, seperti Banjar Angkling di Desa Babakan, Gianyar dan Banjar Serokadan di Desa Abuan, Bangli, kini menjadi pabrik musiman yang mendistribusikan ribuan lamak menjelang hari raya. Proses pembuatan yang dahulunya bersifat komunal dan personal, kini bergeser menjadi hubungan transaksional ekonomi. Bahkan, material alami yang memiliki filosofi kesucian karena dapat terurai kembali ke tanah mulai digantikan oleh bahan sintetis seperti pita plastik, kain, dan payet berwarna-warni demi keawetan dan kepraktisan visual.

Maceniga: Menggantungkan Cahaya (?)

Kisah serupa dialami oleh Ceniga. Benda ini sering kali disalahartikan sebagai lamak, padahal fungsinya adalah sebagai pelengkap. Ceniga atau juga disebut capah, sampian gantung, atau gantungan, berasal dari kata Cuni (cahaya/permata) dan Ga (terang/galang).

Contoh ceniga/capah/gantungan saat Hari Raya Galungan yang diletakkan di bawah banten | Foto: Pande Susan

Ceniga, Capah, atau Gantungan dibuat dengan dua sampai empat potongan janur. Pangkal janur dipotong sehingga membentuk rumbai yang akan bergerak jika ditiup angin. Di bagian atasnya melebar membentuk kerucut tanpa alas. Kemudian disambung pada bagian atas janur dan dibentuk menyerupai permata dengan empat sisi. Bagian paling atas (kepala capah) berbentuk seperti kerucut terbalik tanpa alas.

(a) Ilustrasi Capah dengan 4 janur

(b) Capah dengan 2 rontal yang digantung pada arca/togog

Ada beberapa cara yang digunakan untuk menggantung capah. Pertama, dengan menempelkan 1-4 ujung janur lain di bagian kepala capah kemudian diikat menjadi satu simpul. Kedua, dengan memasukan lidi janur dari bagian “permata” sampai menembus bagian kepala capah lalu ujungnya disimpul.

Secara teologis, memasang ceniga (disebut dengan istilah maceniga) adalah simbol permohonan agar pelinggih dan rumah senantiasa dipayungi oleh sinar suci Tuhan sebagai penolak bala. Tradisi maceniga dilakukan sore hari pada hari Penampahan, sehari sebelum Galungan. Pemilihan waktu tersebut dilandasi pertimbangan taktis: agar kelengkapan organik berupa ceniga, daun paku-pakuan, bunga ratna, dan daun edelweis kering tidak layu saat keesokan paginya upacara dimulai. Di dalam rumah-rumah tua atau pekarangan keluarga besar, maceniga menjadi momen pengenalan rerahinan bagi anak-anak. Mereka dituntun oleh orang tua untuk membersihkan pelinggih, memasang kain wastra, mengganti air suci di dalam caratan, hingga menggantungkan ceniga secara berpasangan menggunakan lidi janur pada paku pelinggih.

Di era modern yang menuntut efisiensi ruang dan waktu, tradisi maceniga mengalami penyusutan teknis. Demi kepraktisan, banyak umat kini tidak lagi menggantungkan ceniga secara mandiri pada pelinggih. Ceniga langsung disatukan secara paksa, sering kali di-staples, tepat di atas lembaran lamak. Secara visual ia memang terlihat menggantung di depan altar pelinggih, tetapi secara teknis tidak lagi tergantung secara bebas. Pergeseran kecil ini sesungguhnya menjadi metafora yang tajam bagi spiritualitas Bali modern: kita kerap kali menampilkan sesuatu yang tampaknya teguh dan indah di luar, namun kehilangan esensi proses dan kedalaman maknanya di dalam. Jika aku ditanya mengenai hal ini, aku akan balik bertanya, “yang penting secara visual masih cantik dan mempercepat waktu pemasangan, kan?”

Capah yang dipasang tergantung di sudut Bangunan Bale Dauh | Foto: Pande Susan
Capah yang dipasang  menempel pada lamak  di pelinggih  

Terkadang aku berpikir, benak kita melayang ke atas, ke hadapan dewata, namun kaki kita sudah melupakan bumi dan mengotorinya dengan bahan yang tidak bersahabat baginya.

Janur-Janur dalam Rakitan Besi

Ketika modernitas menawarkan kepraktisan, kebudayaan Bali sering kali harus membayar mahal dengan hilangnya keharmonisan ekologis. Salah satu transformasi kecil namun berdampak besar adalah peralihan dari penggunaan semat (lidi bambu tipis yang diraut gilik) menjadi staples besi dalam proses mejejaitan lamak dan ceniga.

​Staples logam dipilih karena murah, menghemat waktu pembuatan, serta mempermudah menyatukan bahan-bahan yang tebal atau ukurannya kecil. Namun, staples menimbulkan dilema teologis dan ekologis yang serius. Berbeda dengan semat yang merupakan unsur organik dan dapat terurai kembali ke dalam tanah bersama sisa sesajen (lungsuran), staples besi menjadi residu tajam yang mengotori tanah pekarangan dan pura, serta merusak kualitas kompos alami di Bali.

Capah/ ceniga yang dibuat dari rontal dengan staples dan hiasan dari pita merah dan payet hijau

Multi-dimensi Perempuan Bali

Di balik keindahan anyaman lamak dan gemerlap ceniga, ada beban sosial yang sangat berat yang dipikul oleh kami, perempuan Bali. Sebagai penjaga gerbang kebudayaan, kami mengemban tanggung jawab sosial-keagamaan yang masif. Tuntutan jam kerja profesional seperti perkantoran, hospitality dan kesehatan membatasi waktu yang kami bersentuhan dengan tradisi. Bahkan pertanyaan yang pernah terlontar dari rekan kerjaku ketika aku membawa janur ke kantor untuk persiapan hari raya, “Kak San mau buat canang sendiri? Aku jarang, malah nggak bisa buat?”.

Pertanyaan tersebut secara tidak langsung menjadi representasi kaum perempuan muda Bali yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang minim serta terkungkung waktu. Pada akhirnya, kondisi ini melahirkan pasar komersialisasi banten yang sangat besar di Bali. Membuat banten dan lamak tidak lagi menjadi ekspresi bhakti personal, melainkan tugas domestik yang dialihdayakan lewat rupiah.

Menjemput Sisa Spiritualisme Bali

Modernitas adalah keniscayaan, tetapi ia tidak harus menggilas orisinalitas jiwa kebudayaan Bali. Tantangannya adalah upaya kolektif dan peran multi-sektor dalam mentransmisikan pengetahuan dan praktik budaya kepada generasi muda. Kita perlu berintrospeksi dan berefleksi, sudah sejauh mana efektivitas regulasi pemerintah, penegakan hukum adat, penerapan kurikulum muatan lokal di sekolah, serta optimalisasi peran komunitas dan lembaga non-pemerintah sebagai ruang edukasi publik.

Pada akhirnya, lamak dan ceniga di atas pelinggih adalah cermin dari diri kita sendiri. Keindahan sejati Bali tidak terletak pada kemegahan visual yang instan dan penuh kepalsuan material sintetis, melainkan pada ketulusan proses, keringat perjuangan menganyam janur bersama keluarga, serta keharmonisan hubungan antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta.[T]

Penulis: Pande Susan
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BalipenjorTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

Next Post

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Pande Susan

Pande Susan

Perempuan unyil yang punya rasa ingin tahu maksimal dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam dan praktik tradisional. Si unyil senang mengumpulkan pengalaman di berbagai bidang, seperti farmasi, lingkungan, dan basis data serta penelitian, praktik, dan dokumentasi budaya. Sedang tertarik mengawinkan sains-sosial untuk membedah pengetahuan tradisional sebagai dasar untuk kemajuan budaya. Keep in touch with me on instagram @earth_susan

Related Posts

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails
Next Post
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 18, 2026
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta
Khas

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh
Esai

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
Indonesia yang Muncul di Beranda
Esai

Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

by Angga Wijaya
August 18, 2026
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi
Tualang

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung
Bahasa

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

by I Made Sudiana
August 18, 2026
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co