29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

Pande Susan by Pande Susan
June 18, 2026
in Esai
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma bahan-bahan basa genep yang diracik oleh bapak, sayup terdengar bunyi logam beradu, klek klek klek… Bunyi itu bukan berasal dari bilah pisau yang mencincang daging, melainkan dari stapler besi yang digerakkan dengan cekatan oleh tanganku dan tangan ibuku. Tradisi mejejaitan, yang dulunya merupakan ruang kognitif untuk meditasi, ketekunan, dan keheningan, kini perlahan bertransmisi menjadi aktivitas mekanis yang diburu oleh jarum jam modernitas.

Penjor sebagai salah satu penanda Hari Raya Galungan | Foto: Pande Susan

Di tengah riuh kosmopolitan, Pulau Dewata seolah berdiri di persimpangan jalan antara mempertahankan keajegan nilai spiritualitasnya atau larut dalam arus kepraktisan yang instan. Menjelang rerahinan jagat seperti Galungan, wajah kami bersolek rupa. Penjor-penjor menjulang tinggi melengkung di sepanjang jalan, menciptakan lanskap visual yang megah sekaligus eksotis. Namun, jika melangkah lebih dekat dan menatap pelinggih-pelinggih suci di pekarangan rumah, kita akan menemukan sebuah teater budaya yang sunyi pada selembar Lamak dan gantungan Ceniga.

Sanggah atau Merajan yang dipenuhi banten dan dihiasi lamak pada pelinggihnya saat Hari Raya Galungan | Foto: Pande Susan

Lelamak: Sepotong Sajak Kosmis yang Tergerus Estetika Instan

Lamak, selembar hiasan persegi panjang vertikal yang menyembul anggun di pelinggih, arca, hingga kendaraan bermotor. Ia bukan sekadar pemanis dekorasi ritual. Secara etimologis, lelamak berakar dari bahasa Kawi, yang berarti alas atau dasar. Sebelum banten atau sesajen ditempatkan di tempat suci, lamak terlebih dahulu dibentangkan sebagai landasan spiritual. Ia adalah jembatan estetis yang menghubungkan bumi (Bhuana Alit) dengan langit (Bhuana Agung), ruang transendental tempat manusia memohon anugerah sinar suci pengetahuan dari Sang Pencipta.

Lamak Galungan yang terbuat dari daun Ron dan daun Ambu | Foto: Pande Susan

Jika kita mengamati lembar demi lembar lamak tradisional, kita sedang membaca sebuah peta kosmologi yang kompleks. Ornamennya diatur dengan disiplin estetika yang ketat. Di bagian atasnya, ornamen sang surya yang memancarkan berkah kehidupan bersanding dengan figur cili sebagai simbol dualitas penciptaan (Purusa-Pradana atau Rwa Bhineda). Pada bagian tengah, hiasan Patra Mas-masan atau Kayonan menyimbolkan ketinggian suci tempat bersemayamnya para dewata. Terakhir, motif tumbuh-tumbuhan di bagian bawah, merepresentasikan kesuburan, kedamaian, dan keikhlasan hati manusia dalam ber-yadnya.

Ukiran berupa bunga, patra dan pohon pada lamak Galungan yang diletakkan di sanggah penjor | Foto: Pande Susan

Namun, kesakralan prosesi penciptaan lamak kini tengah berhadapan dengan badai komodifikasi. Sebelum aku lahir pada tahun 1990-an, membuat lamak adalah ritus keluarga yang intim. Kaum perempuan berkumpul di teras rumah, menganyam helai demi helai daun enau muda (ambu) yang putih kekuningan, lalu membingkainya dengan daun enau tua (ron) yang hijau pekat. Ada transfer pengetahuan kultural yang mengalir secara alami dari ibu ke anak perempuan dalam kehangatan percakapan domestik.

Dokumentasi akun instagram @istria_yds, suasana di pinggir jalan pertokoan pusat kota Gianyar yang dipenuhi penjual lamak Galungan dan diserbu pembeli yang keduanya adalah kaum ibu-ibu

Hari ini, keintiman itu menguap digantikan oleh transaksi cepat di pinggir jalan. Masyarakat Bali yang didera kesibukan kerja kantoran atau industri pariwisata lebih memilih membeli lamak Galungan siap pakai. Sentra-sentra penghasil lamak, seperti Banjar Angkling di Desa Babakan, Gianyar dan Banjar Serokadan di Desa Abuan, Bangli, kini menjadi pabrik musiman yang mendistribusikan ribuan lamak menjelang hari raya. Proses pembuatan yang dahulunya bersifat komunal dan personal, kini bergeser menjadi hubungan transaksional ekonomi. Bahkan, material alami yang memiliki filosofi kesucian karena dapat terurai kembali ke tanah mulai digantikan oleh bahan sintetis seperti pita plastik, kain, dan payet berwarna-warni demi keawetan dan kepraktisan visual.

Maceniga: Menggantungkan Cahaya (?)

Kisah serupa dialami oleh Ceniga. Benda ini sering kali disalahartikan sebagai lamak, padahal fungsinya adalah sebagai pelengkap. Ceniga atau juga disebut capah, sampian gantung, atau gantungan, berasal dari kata Cuni (cahaya/permata) dan Ga (terang/galang).

Contoh ceniga/capah/gantungan saat Hari Raya Galungan yang diletakkan di bawah banten | Foto: Pande Susan

Ceniga, Capah, atau Gantungan dibuat dengan dua sampai empat potongan janur. Pangkal janur dipotong sehingga membentuk rumbai yang akan bergerak jika ditiup angin. Di bagian atasnya melebar membentuk kerucut tanpa alas. Kemudian disambung pada bagian atas janur dan dibentuk menyerupai permata dengan empat sisi. Bagian paling atas (kepala capah) berbentuk seperti kerucut terbalik tanpa alas.

(a) Ilustrasi Capah dengan 4 janur

(b) Capah dengan 2 rontal yang digantung pada arca/togog

Ada beberapa cara yang digunakan untuk menggantung capah. Pertama, dengan menempelkan 1-4 ujung janur lain di bagian kepala capah kemudian diikat menjadi satu simpul. Kedua, dengan memasukan lidi janur dari bagian “permata” sampai menembus bagian kepala capah lalu ujungnya disimpul.

Secara teologis, memasang ceniga (disebut dengan istilah maceniga) adalah simbol permohonan agar pelinggih dan rumah senantiasa dipayungi oleh sinar suci Tuhan sebagai penolak bala. Tradisi maceniga dilakukan sore hari pada hari Penampahan, sehari sebelum Galungan. Pemilihan waktu tersebut dilandasi pertimbangan taktis: agar kelengkapan organik berupa ceniga, daun paku-pakuan, bunga ratna, dan daun edelweis kering tidak layu saat keesokan paginya upacara dimulai. Di dalam rumah-rumah tua atau pekarangan keluarga besar, maceniga menjadi momen pengenalan rerahinan bagi anak-anak. Mereka dituntun oleh orang tua untuk membersihkan pelinggih, memasang kain wastra, mengganti air suci di dalam caratan, hingga menggantungkan ceniga secara berpasangan menggunakan lidi janur pada paku pelinggih.

Di era modern yang menuntut efisiensi ruang dan waktu, tradisi maceniga mengalami penyusutan teknis. Demi kepraktisan, banyak umat kini tidak lagi menggantungkan ceniga secara mandiri pada pelinggih. Ceniga langsung disatukan secara paksa, sering kali di-staples, tepat di atas lembaran lamak. Secara visual ia memang terlihat menggantung di depan altar pelinggih, tetapi secara teknis tidak lagi tergantung secara bebas. Pergeseran kecil ini sesungguhnya menjadi metafora yang tajam bagi spiritualitas Bali modern: kita kerap kali menampilkan sesuatu yang tampaknya teguh dan indah di luar, namun kehilangan esensi proses dan kedalaman maknanya di dalam. Jika aku ditanya mengenai hal ini, aku akan balik bertanya, “yang penting secara visual masih cantik dan mempercepat waktu pemasangan, kan?”

Capah yang dipasang tergantung di sudut Bangunan Bale Dauh | Foto: Pande Susan
Capah yang dipasang  menempel pada lamak  di pelinggih  

Terkadang aku berpikir, benak kita melayang ke atas, ke hadapan dewata, namun kaki kita sudah melupakan bumi dan mengotorinya dengan bahan yang tidak bersahabat baginya.

Janur-Janur dalam Rakitan Besi

Ketika modernitas menawarkan kepraktisan, kebudayaan Bali sering kali harus membayar mahal dengan hilangnya keharmonisan ekologis. Salah satu transformasi kecil namun berdampak besar adalah peralihan dari penggunaan semat (lidi bambu tipis yang diraut gilik) menjadi staples besi dalam proses mejejaitan lamak dan ceniga.

​Staples logam dipilih karena murah, menghemat waktu pembuatan, serta mempermudah menyatukan bahan-bahan yang tebal atau ukurannya kecil. Namun, staples menimbulkan dilema teologis dan ekologis yang serius. Berbeda dengan semat yang merupakan unsur organik dan dapat terurai kembali ke dalam tanah bersama sisa sesajen (lungsuran), staples besi menjadi residu tajam yang mengotori tanah pekarangan dan pura, serta merusak kualitas kompos alami di Bali.

Capah/ ceniga yang dibuat dari rontal dengan staples dan hiasan dari pita merah dan payet hijau

Multi-dimensi Perempuan Bali

Di balik keindahan anyaman lamak dan gemerlap ceniga, ada beban sosial yang sangat berat yang dipikul oleh kami, perempuan Bali. Sebagai penjaga gerbang kebudayaan, kami mengemban tanggung jawab sosial-keagamaan yang masif. Tuntutan jam kerja profesional seperti perkantoran, hospitality dan kesehatan membatasi waktu yang kami bersentuhan dengan tradisi. Bahkan pertanyaan yang pernah terlontar dari rekan kerjaku ketika aku membawa janur ke kantor untuk persiapan hari raya, “Kak San mau buat canang sendiri? Aku jarang, malah nggak bisa buat?”.

Pertanyaan tersebut secara tidak langsung menjadi representasi kaum perempuan muda Bali yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang minim serta terkungkung waktu. Pada akhirnya, kondisi ini melahirkan pasar komersialisasi banten yang sangat besar di Bali. Membuat banten dan lamak tidak lagi menjadi ekspresi bhakti personal, melainkan tugas domestik yang dialihdayakan lewat rupiah.

Menjemput Sisa Spiritualisme Bali

Modernitas adalah keniscayaan, tetapi ia tidak harus menggilas orisinalitas jiwa kebudayaan Bali. Tantangannya adalah upaya kolektif dan peran multi-sektor dalam mentransmisikan pengetahuan dan praktik budaya kepada generasi muda. Kita perlu berintrospeksi dan berefleksi, sudah sejauh mana efektivitas regulasi pemerintah, penegakan hukum adat, penerapan kurikulum muatan lokal di sekolah, serta optimalisasi peran komunitas dan lembaga non-pemerintah sebagai ruang edukasi publik.

Pada akhirnya, lamak dan ceniga di atas pelinggih adalah cermin dari diri kita sendiri. Keindahan sejati Bali tidak terletak pada kemegahan visual yang instan dan penuh kepalsuan material sintetis, melainkan pada ketulusan proses, keringat perjuangan menganyam janur bersama keluarga, serta keharmonisan hubungan antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta.[T]

Penulis: Pande Susan
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BalipenjorTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

Next Post

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Pande Susan

Pande Susan

Perempuan unyil yang punya rasa ingin tahu maksimal dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam dan praktik tradisional. Si unyil senang mengumpulkan pengalaman di berbagai bidang, seperti farmasi, lingkungan, dan basis data serta penelitian, praktik, dan dokumentasi budaya. Sedang tertarik mengawinkan sains-sosial untuk membedah pengetahuan tradisional sebagai dasar untuk kemajuan budaya. Keep in touch with me on instagram @earth_susan

Related Posts

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails
Next Post
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co