18 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

Pande Susan by Pande Susan
June 18, 2026
in Esai
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma bahan-bahan basa genep yang diracik oleh bapak, sayup terdengar bunyi logam beradu, klek klek klek… Bunyi itu bukan berasal dari bilah pisau yang mencincang daging, melainkan dari stapler besi yang digerakkan dengan cekatan oleh tanganku dan tangan ibuku. Tradisi mejejaitan, yang dulunya merupakan ruang kognitif untuk meditasi, ketekunan, dan keheningan, kini perlahan bertransmisi menjadi aktivitas mekanis yang diburu oleh jarum jam modernitas.

Penjor sebagai salah satu penanda Hari Raya Galungan | Foto: Pande Susan

Di tengah riuh kosmopolitan, Pulau Dewata seolah berdiri di persimpangan jalan antara mempertahankan keajegan nilai spiritualitasnya atau larut dalam arus kepraktisan yang instan. Menjelang rerahinan jagat seperti Galungan, wajah kami bersolek rupa. Penjor-penjor menjulang tinggi melengkung di sepanjang jalan, menciptakan lanskap visual yang megah sekaligus eksotis. Namun, jika melangkah lebih dekat dan menatap pelinggih-pelinggih suci di pekarangan rumah, kita akan menemukan sebuah teater budaya yang sunyi pada selembar Lamak dan gantungan Ceniga.

Sanggah atau Merajan yang dipenuhi banten dan dihiasi lamak pada pelinggihnya saat Hari Raya Galungan | Foto: Pande Susan

Lelamak: Sepotong Sajak Kosmis yang Tergerus Estetika Instan

Lamak, selembar hiasan persegi panjang vertikal yang menyembul anggun di pelinggih, arca, hingga kendaraan bermotor. Ia bukan sekadar pemanis dekorasi ritual. Secara etimologis, lelamak berakar dari bahasa Kawi, yang berarti alas atau dasar. Sebelum banten atau sesajen ditempatkan di tempat suci, lamak terlebih dahulu dibentangkan sebagai landasan spiritual. Ia adalah jembatan estetis yang menghubungkan bumi (Bhuana Alit) dengan langit (Bhuana Agung), ruang transendental tempat manusia memohon anugerah sinar suci pengetahuan dari Sang Pencipta.

Lamak Galungan yang terbuat dari daun Ron dan daun Ambu | Foto: Pande Susan

Jika kita mengamati lembar demi lembar lamak tradisional, kita sedang membaca sebuah peta kosmologi yang kompleks. Ornamennya diatur dengan disiplin estetika yang ketat. Di bagian atasnya, ornamen sang surya yang memancarkan berkah kehidupan bersanding dengan figur cili sebagai simbol dualitas penciptaan (Purusa-Pradana atau Rwa Bhineda). Pada bagian tengah, hiasan Patra Mas-masan atau Kayonan menyimbolkan ketinggian suci tempat bersemayamnya para dewata. Terakhir, motif tumbuh-tumbuhan di bagian bawah, merepresentasikan kesuburan, kedamaian, dan keikhlasan hati manusia dalam ber-yadnya.

Ukiran berupa bunga, patra dan pohon pada lamak Galungan yang diletakkan di sanggah penjor | Foto: Pande Susan

Namun, kesakralan prosesi penciptaan lamak kini tengah berhadapan dengan badai komodifikasi. Sebelum aku lahir pada tahun 1990-an, membuat lamak adalah ritus keluarga yang intim. Kaum perempuan berkumpul di teras rumah, menganyam helai demi helai daun enau muda (ambu) yang putih kekuningan, lalu membingkainya dengan daun enau tua (ron) yang hijau pekat. Ada transfer pengetahuan kultural yang mengalir secara alami dari ibu ke anak perempuan dalam kehangatan percakapan domestik.

Dokumentasi akun instagram @istria_yds, suasana di pinggir jalan pertokoan pusat kota Gianyar yang dipenuhi penjual lamak Galungan dan diserbu pembeli yang keduanya adalah kaum ibu-ibu

Hari ini, keintiman itu menguap digantikan oleh transaksi cepat di pinggir jalan. Masyarakat Bali yang didera kesibukan kerja kantoran atau industri pariwisata lebih memilih membeli lamak Galungan siap pakai. Sentra-sentra penghasil lamak, seperti Banjar Angkling di Desa Babakan, Gianyar dan Banjar Serokadan di Desa Abuan, Bangli, kini menjadi pabrik musiman yang mendistribusikan ribuan lamak menjelang hari raya. Proses pembuatan yang dahulunya bersifat komunal dan personal, kini bergeser menjadi hubungan transaksional ekonomi. Bahkan, material alami yang memiliki filosofi kesucian karena dapat terurai kembali ke tanah mulai digantikan oleh bahan sintetis seperti pita plastik, kain, dan payet berwarna-warni demi keawetan dan kepraktisan visual.

Maceniga: Menggantungkan Cahaya (?)

Kisah serupa dialami oleh Ceniga. Benda ini sering kali disalahartikan sebagai lamak, padahal fungsinya adalah sebagai pelengkap. Ceniga atau juga disebut capah, sampian gantung, atau gantungan, berasal dari kata Cuni (cahaya/permata) dan Ga (terang/galang).

Contoh ceniga/capah/gantungan saat Hari Raya Galungan yang diletakkan di bawah banten | Foto: Pande Susan

Ceniga, Capah, atau Gantungan dibuat dengan dua sampai empat potongan janur. Pangkal janur dipotong sehingga membentuk rumbai yang akan bergerak jika ditiup angin. Di bagian atasnya melebar membentuk kerucut tanpa alas. Kemudian disambung pada bagian atas janur dan dibentuk menyerupai permata dengan empat sisi. Bagian paling atas (kepala capah) berbentuk seperti kerucut terbalik tanpa alas.

(a) Ilustrasi Capah dengan 4 janur

(b) Capah dengan 2 rontal yang digantung pada arca/togog

Ada beberapa cara yang digunakan untuk menggantung capah. Pertama, dengan menempelkan 1-4 ujung janur lain di bagian kepala capah kemudian diikat menjadi satu simpul. Kedua, dengan memasukan lidi janur dari bagian “permata” sampai menembus bagian kepala capah lalu ujungnya disimpul.

Secara teologis, memasang ceniga (disebut dengan istilah maceniga) adalah simbol permohonan agar pelinggih dan rumah senantiasa dipayungi oleh sinar suci Tuhan sebagai penolak bala. Tradisi maceniga dilakukan sore hari pada hari Penampahan, sehari sebelum Galungan. Pemilihan waktu tersebut dilandasi pertimbangan taktis: agar kelengkapan organik berupa ceniga, daun paku-pakuan, bunga ratna, dan daun edelweis kering tidak layu saat keesokan paginya upacara dimulai. Di dalam rumah-rumah tua atau pekarangan keluarga besar, maceniga menjadi momen pengenalan rerahinan bagi anak-anak. Mereka dituntun oleh orang tua untuk membersihkan pelinggih, memasang kain wastra, mengganti air suci di dalam caratan, hingga menggantungkan ceniga secara berpasangan menggunakan lidi janur pada paku pelinggih.

Di era modern yang menuntut efisiensi ruang dan waktu, tradisi maceniga mengalami penyusutan teknis. Demi kepraktisan, banyak umat kini tidak lagi menggantungkan ceniga secara mandiri pada pelinggih. Ceniga langsung disatukan secara paksa, sering kali di-staples, tepat di atas lembaran lamak. Secara visual ia memang terlihat menggantung di depan altar pelinggih, tetapi secara teknis tidak lagi tergantung secara bebas. Pergeseran kecil ini sesungguhnya menjadi metafora yang tajam bagi spiritualitas Bali modern: kita kerap kali menampilkan sesuatu yang tampaknya teguh dan indah di luar, namun kehilangan esensi proses dan kedalaman maknanya di dalam. Jika aku ditanya mengenai hal ini, aku akan balik bertanya, “yang penting secara visual masih cantik dan mempercepat waktu pemasangan, kan?”

Capah yang dipasang tergantung di sudut Bangunan Bale Dauh | Foto: Pande Susan
Capah yang dipasang  menempel pada lamak  di pelinggih  

Terkadang aku berpikir, benak kita melayang ke atas, ke hadapan dewata, namun kaki kita sudah melupakan bumi dan mengotorinya dengan bahan yang tidak bersahabat baginya.

Janur-Janur dalam Rakitan Besi

Ketika modernitas menawarkan kepraktisan, kebudayaan Bali sering kali harus membayar mahal dengan hilangnya keharmonisan ekologis. Salah satu transformasi kecil namun berdampak besar adalah peralihan dari penggunaan semat (lidi bambu tipis yang diraut gilik) menjadi staples besi dalam proses mejejaitan lamak dan ceniga.

​Staples logam dipilih karena murah, menghemat waktu pembuatan, serta mempermudah menyatukan bahan-bahan yang tebal atau ukurannya kecil. Namun, staples menimbulkan dilema teologis dan ekologis yang serius. Berbeda dengan semat yang merupakan unsur organik dan dapat terurai kembali ke dalam tanah bersama sisa sesajen (lungsuran), staples besi menjadi residu tajam yang mengotori tanah pekarangan dan pura, serta merusak kualitas kompos alami di Bali.

Capah/ ceniga yang dibuat dari rontal dengan staples dan hiasan dari pita merah dan payet hijau

Multi-dimensi Perempuan Bali

Di balik keindahan anyaman lamak dan gemerlap ceniga, ada beban sosial yang sangat berat yang dipikul oleh kami, perempuan Bali. Sebagai penjaga gerbang kebudayaan, kami mengemban tanggung jawab sosial-keagamaan yang masif. Tuntutan jam kerja profesional seperti perkantoran, hospitality dan kesehatan membatasi waktu yang kami bersentuhan dengan tradisi. Bahkan pertanyaan yang pernah terlontar dari rekan kerjaku ketika aku membawa janur ke kantor untuk persiapan hari raya, “Kak San mau buat canang sendiri? Aku jarang, malah nggak bisa buat?”.

Pertanyaan tersebut secara tidak langsung menjadi representasi kaum perempuan muda Bali yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang minim serta terkungkung waktu. Pada akhirnya, kondisi ini melahirkan pasar komersialisasi banten yang sangat besar di Bali. Membuat banten dan lamak tidak lagi menjadi ekspresi bhakti personal, melainkan tugas domestik yang dialihdayakan lewat rupiah.

Menjemput Sisa Spiritualisme Bali

Modernitas adalah keniscayaan, tetapi ia tidak harus menggilas orisinalitas jiwa kebudayaan Bali. Tantangannya adalah upaya kolektif dan peran multi-sektor dalam mentransmisikan pengetahuan dan praktik budaya kepada generasi muda. Kita perlu berintrospeksi dan berefleksi, sudah sejauh mana efektivitas regulasi pemerintah, penegakan hukum adat, penerapan kurikulum muatan lokal di sekolah, serta optimalisasi peran komunitas dan lembaga non-pemerintah sebagai ruang edukasi publik.

Pada akhirnya, lamak dan ceniga di atas pelinggih adalah cermin dari diri kita sendiri. Keindahan sejati Bali tidak terletak pada kemegahan visual yang instan dan penuh kepalsuan material sintetis, melainkan pada ketulusan proses, keringat perjuangan menganyam janur bersama keluarga, serta keharmonisan hubungan antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta.[T]

Penulis: Pande Susan
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BalipenjorTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

Pande Susan

Pande Susan

Perempuan unyil yang punya rasa ingin tahu maksimal dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam dan praktik tradisional. Si unyil senang mengumpulkan pengalaman di berbagai bidang, seperti farmasi, lingkungan, dan basis data serta penelitian, praktik, dan dokumentasi budaya. Sedang tertarik mengawinkan sains-sosial untuk membedah pengetahuan tradisional sebagai dasar untuk kemajuan budaya. Keep in touch with me on instagram @earth_susan

Related Posts

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails

Bung Karno di Rumah Petani   

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
0
Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

Read moreDetails

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
0
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

Read moreDetails

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
0
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

Read moreDetails

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
0
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

Read moreDetails

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

by Chusmeru
June 15, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

Read moreDetails

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
0
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

Read moreDetails

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas
Esai

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

by Pande Susan
June 18, 2026
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain
Esai

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

by Angga Wijaya
June 18, 2026
Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’
Pop

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang...

by Dede Putra Wiguna
June 18, 2026
Bung Karno di Rumah Petani   
Esai

Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar
Kuliner

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

by Jaswanto
June 17, 2026
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali
Esai

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik
Panggung

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca
Esai

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng
Pemerintahan

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi...

by tatkala
June 15, 2026
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

by Ingga Adelia
June 15, 2026
Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif
Pendidikan

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif

JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam),...

by Dede Putra Wiguna
June 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co