20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 29, 2026
in Pop
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang sekali ada ruang bagi suara lain yang justru paling sunyi, paling lama menyimpan luka, dan paling sulit mengucapkannya. Suara itu adalah suara anak.

Lewat single terbarunya, “Sing Nyidang Ngomong”, Mr. Rayen membuka ruang yang lama tertutup itu. Ia tidak sekadar bercerita tentang pengkhianatan dalam rumah tangga, tetapi menggali sesuatu yang lebih dalam, tentang bagaimana konflik orang tua diam-diam meretakkan batin anak, bahkan ketika tak satu kata pun terucap.

Mr. Rayen, yang memiliki nama asli I Komang Rayendra Umbara, adalah musisi asal Negara, Kabupaten Jembrana, Bali. Ia telah berkarya sejak pertengahan 2000-an dan dikenal sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu yang konsisten mengangkat tema kehidupan sehari-hari, terutama soal keluarga, relasi, dan realitas sosial masyarakat Bali. Ia sempat tergabung dalam Blueberry Band sebelum kemudian menempuh jalur solo.

Dalam perjalanan kariernya, Mr. Rayen telah merilis sejumlah lagu yang cukup dikenal, seperti “Demi Iluh”, “Liunan Masalah”, “Gara-Gara Hoax”, “Percuma”, hingga “Tresna Butuh Materi” yang sempat viral. Album perdananya bertajuk “Demi Iluh” dirilis pada 2018 bersama Mr. Rayen Band dan berisi sepuluh lagu dengan tema sosial dan relasi rumah tangga.

Yang menarik, dalam beberapa tahun terakhir, Mr. Rayen juga dikenal lewat kolaborasinya bersama anak perempuannya, Omang Verly. Duet keduanya menjadi warna tersendiri dalam karya-karyanya, karena tidak hanya menghadirkan harmoni vokal, tetapi juga menghadirkan hubungan ayah dan anak secara nyata di dalam musik. Salah satu yang mencuri perhatian adalah lagu “Tresna Butuh Materi”, di mana interaksi vokal mereka terasa natural dan emosional, sekaligus memperkuat tema cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kolaborasi ini tidak berhenti sebagai gimmick musikal. Kehadiran Omang Verly justru menjadi bagian dari narasi yang lebih luas dalam karya-karya Mr. Rayen, terutama ketika ia mulai mengangkat tema keluarga dari sudut pandang yang lebih personal. Dalam konteks inilah, “Sing Nyidang Ngomong” terasa seperti kelanjutan yang lebih dalam, sekaligus jembatan menuju proyek berikutnya yang akan memberi ruang lebih besar bagi suara sang anak.

Di balik produksi lagu ini, ada nama-nama yang turut membentuk warna musikal dan visualnya. Aransemen musik digarap oleh Abel Dipayana, sementara penggarapan video klip dipercayakan kepada Andremians sebagai videografer.

Ide lagu ini, menurutnya, bukan sekadar imajinasi. Ia berangkat dari peristiwa nyata yang sempat viral.

“Betul, ide itu muncul dari kisah nyata. Beberapa waktu lalu sempat ada kejadian viral, maaf, perselingkuhan, yang kebetulan terjadi di salah satu tempat usaha kami,” ungkapnya.

Dari sana, ia tidak hanya melihat konflik sebagai drama orang dewasa, melainkan sebagai peristiwa yang meninggalkan jejak panjang pada anak. Di titik ini, “Sing Nyidang Ngomong” mengambil jarak dari lagu-lagu sejenis. Jika selama ini kisah perselingkuhan cenderung berputar pada pelaku, pada rasa bersalah atau pembelaan diri, Mr. Rayen memilih berdiri di sisi yang berbeda. Ia melihat dari posisi seorang ayah.

“Kenapa ada perspektif anak dalam cerita ini, karena saya memandang dari sudut sebagai orang tua, sebagai seorang ayah yang juga merasakan konflik dalam rumah tangga. Entah itu masalah percintaan, faktor ekonomi, atau hal lain yang menimbulkan kegaduhan, sangat berpengaruh pada kesehatan mental anak dan keluarga,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa konflik yang terus-menerus terjadi akan meninggalkan dampak serius.

“Konflik orang tua apa pun itu pasti berdampak negatif terhadap perkembangan mental dan kebahagiaan anak,” tambahnya.

Keterlibatan Omang Verly dalam lagu ini, meski hanya muncul sekilas, menjadi bagian penting dalam narasi yang dibangun.

“Omang Verly terlibat dalam klip ini karena tujuannya untuk memberi pesan moral supaya pendengar bisa terhanyut dalam alur cerita ini,” kata Mr. Rayen.

Ia juga ingin menghadirkan sudut pandang yang jarang disentuh. “Biasanya lagu bertema perselingkuhan hanya dilihat dari sudut pandang pelakunya saja. Di lagu ini saya gali lebih dalam. Tak ada satu pun anak yang ingin menyaksikan orang tuanya berpisah,” ucapnya.

Menariknya, ia melibatkan langsung keluarganya dalam video klip. “Yang membedakan dari lagu ini karena diangkat dari kisah yang sempat viral di media sosial. Lagu ini juga menceritakan luka batin yang mendalam. Dalam video klip, saya melibatkan langsung istri dan anak agar lebih bisa menjiwai dan memvisualkan ceritanya,” jelasnya.

Judul “Sing Nyidang Ngomong” sendiri menyimpan makna yang dalam.

“Sing nyidang ngomong bisa diartikan ungkapan perasaan hancur yang tidak bisa diutarakan lagi, karena tekanan batin dan luka yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Di situlah letak kekuatan lagu ini. Ia tidak berteriak, tetapi justru memilih diam. Dalam diam itu, luka menjadi lebih terasa.

Bagi Mr. Rayen, musik tidak hanya soal hiburan. “Lagu ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi sebuah cerita perjalanan hidup. Banyak makna yang bisa kita jadikan bahan renungan, pengendalian diri, ego, dan sebagai bahan introspeksi,” katanya.

Menariknya, “Sing Nyidang Ngomong” bukan karya yang berdiri sendiri. Lagu ini menjadi awal dari rangkaian cerita yang juga akan memberi ruang lebih besar bagi Omang Verly.

“Lagu ini memang berkonsep bersambung. Bakal ada balasan dari sudut pandang sang anak. Di mana nanti Omang Verly akan bernyanyi penuh,” ungkapnya.

Dengan konsep ini, kolaborasi ayah dan anak itu tidak lagi sekadar duet, tetapi berkembang menjadi dialog emosional dalam bentuk karya musik. Sebuah upaya menghadirkan suara anak yang selama ini kerap tersembunyi di balik konflik orang tua.

Pada akhirnya, “Sing Nyidang Ngomong” bukan hanya tentang perselingkuhan. Ia adalah tentang keluarga, tentang luka yang diwariskan, tentang suara yang hilang, dan tentang anak-anak yang tumbuh dalam sunyi yang tidak mereka pilih. Dan mungkin, setelah mendengarnya, kita akan mulai menyadari, di balik setiap konflik orang tua, selalu ada satu suara yang tak pernah benar-benar didengar. Suara yang “sing nyidang ngomong”. [T]

Tags: lagu bahasa baliLagu Pop Balimusikmusik pop bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

Next Post

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

by Dede Putra Wiguna
September 19, 2026
0
Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

SEBULAN setelah pulang dari Prancis, Morbid Monke belum berniat mengendurkan langkah. Unit art punk asal Denpasar, Bali, itu kembali membawa...

Read moreDetails

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
0
Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

Read moreDetails

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
0
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

Read moreDetails

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

Read moreDetails

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
0
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

Read moreDetails

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
0
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

Read moreDetails

‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
0
‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali

Sube tawang, bajang care adine Mepayas seksi, ngalih bapak medasi Dini ditu setate ngaku perawan Nanging mare cobak, hey… jeg...

Read moreDetails

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

by Dede Putra Wiguna
June 18, 2026
0
Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang...

Read moreDetails

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

by tatkala
May 14, 2026
0
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

Read moreDetails

Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

by Dede Putra Wiguna
May 8, 2026
0
Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

SETELAH mencuri perhatian sebagai unit rock tunanetra asal Bali lewat single “Keidela”, “I’m a Fire”, dan “3”, kini Filla memasuki...

Read moreDetails
Next Post
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño
Esai

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae
Pop

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

SEBULAN setelah pulang dari Prancis, Morbid Monke belum berniat mengendurkan langkah. Unit art punk asal Denpasar, Bali, itu kembali membawa...

by Dede Putra Wiguna
September 19, 2026
Ramai Penulis Menjadi Pelukis
Esai

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

by Angga Wijaya
September 19, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

by Isran Kamal
September 18, 2026
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha
Khas

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co