10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 29, 2026
in Pop
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang sekali ada ruang bagi suara lain yang justru paling sunyi, paling lama menyimpan luka, dan paling sulit mengucapkannya. Suara itu adalah suara anak.

Lewat single terbarunya, “Sing Nyidang Ngomong”, Mr. Rayen membuka ruang yang lama tertutup itu. Ia tidak sekadar bercerita tentang pengkhianatan dalam rumah tangga, tetapi menggali sesuatu yang lebih dalam, tentang bagaimana konflik orang tua diam-diam meretakkan batin anak, bahkan ketika tak satu kata pun terucap.

Mr. Rayen, yang memiliki nama asli I Komang Rayendra Umbara, adalah musisi asal Negara, Kabupaten Jembrana, Bali. Ia telah berkarya sejak pertengahan 2000-an dan dikenal sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu yang konsisten mengangkat tema kehidupan sehari-hari, terutama soal keluarga, relasi, dan realitas sosial masyarakat Bali. Ia sempat tergabung dalam Blueberry Band sebelum kemudian menempuh jalur solo.

Dalam perjalanan kariernya, Mr. Rayen telah merilis sejumlah lagu yang cukup dikenal, seperti “Demi Iluh”, “Liunan Masalah”, “Gara-Gara Hoax”, “Percuma”, hingga “Tresna Butuh Materi” yang sempat viral. Album perdananya bertajuk “Demi Iluh” dirilis pada 2018 bersama Mr. Rayen Band dan berisi sepuluh lagu dengan tema sosial dan relasi rumah tangga.

Yang menarik, dalam beberapa tahun terakhir, Mr. Rayen juga dikenal lewat kolaborasinya bersama anak perempuannya, Omang Verly. Duet keduanya menjadi warna tersendiri dalam karya-karyanya, karena tidak hanya menghadirkan harmoni vokal, tetapi juga menghadirkan hubungan ayah dan anak secara nyata di dalam musik. Salah satu yang mencuri perhatian adalah lagu “Tresna Butuh Materi”, di mana interaksi vokal mereka terasa natural dan emosional, sekaligus memperkuat tema cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kolaborasi ini tidak berhenti sebagai gimmick musikal. Kehadiran Omang Verly justru menjadi bagian dari narasi yang lebih luas dalam karya-karya Mr. Rayen, terutama ketika ia mulai mengangkat tema keluarga dari sudut pandang yang lebih personal. Dalam konteks inilah, “Sing Nyidang Ngomong” terasa seperti kelanjutan yang lebih dalam, sekaligus jembatan menuju proyek berikutnya yang akan memberi ruang lebih besar bagi suara sang anak.

Di balik produksi lagu ini, ada nama-nama yang turut membentuk warna musikal dan visualnya. Aransemen musik digarap oleh Abel Dipayana, sementara penggarapan video klip dipercayakan kepada Andremians sebagai videografer.

Ide lagu ini, menurutnya, bukan sekadar imajinasi. Ia berangkat dari peristiwa nyata yang sempat viral.

“Betul, ide itu muncul dari kisah nyata. Beberapa waktu lalu sempat ada kejadian viral, maaf, perselingkuhan, yang kebetulan terjadi di salah satu tempat usaha kami,” ungkapnya.

Dari sana, ia tidak hanya melihat konflik sebagai drama orang dewasa, melainkan sebagai peristiwa yang meninggalkan jejak panjang pada anak. Di titik ini, “Sing Nyidang Ngomong” mengambil jarak dari lagu-lagu sejenis. Jika selama ini kisah perselingkuhan cenderung berputar pada pelaku, pada rasa bersalah atau pembelaan diri, Mr. Rayen memilih berdiri di sisi yang berbeda. Ia melihat dari posisi seorang ayah.

“Kenapa ada perspektif anak dalam cerita ini, karena saya memandang dari sudut sebagai orang tua, sebagai seorang ayah yang juga merasakan konflik dalam rumah tangga. Entah itu masalah percintaan, faktor ekonomi, atau hal lain yang menimbulkan kegaduhan, sangat berpengaruh pada kesehatan mental anak dan keluarga,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa konflik yang terus-menerus terjadi akan meninggalkan dampak serius.

“Konflik orang tua apa pun itu pasti berdampak negatif terhadap perkembangan mental dan kebahagiaan anak,” tambahnya.

Keterlibatan Omang Verly dalam lagu ini, meski hanya muncul sekilas, menjadi bagian penting dalam narasi yang dibangun.

“Omang Verly terlibat dalam klip ini karena tujuannya untuk memberi pesan moral supaya pendengar bisa terhanyut dalam alur cerita ini,” kata Mr. Rayen.

Ia juga ingin menghadirkan sudut pandang yang jarang disentuh. “Biasanya lagu bertema perselingkuhan hanya dilihat dari sudut pandang pelakunya saja. Di lagu ini saya gali lebih dalam. Tak ada satu pun anak yang ingin menyaksikan orang tuanya berpisah,” ucapnya.

Menariknya, ia melibatkan langsung keluarganya dalam video klip. “Yang membedakan dari lagu ini karena diangkat dari kisah yang sempat viral di media sosial. Lagu ini juga menceritakan luka batin yang mendalam. Dalam video klip, saya melibatkan langsung istri dan anak agar lebih bisa menjiwai dan memvisualkan ceritanya,” jelasnya.

Judul “Sing Nyidang Ngomong” sendiri menyimpan makna yang dalam.

“Sing nyidang ngomong bisa diartikan ungkapan perasaan hancur yang tidak bisa diutarakan lagi, karena tekanan batin dan luka yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Di situlah letak kekuatan lagu ini. Ia tidak berteriak, tetapi justru memilih diam. Dalam diam itu, luka menjadi lebih terasa.

Bagi Mr. Rayen, musik tidak hanya soal hiburan. “Lagu ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi sebuah cerita perjalanan hidup. Banyak makna yang bisa kita jadikan bahan renungan, pengendalian diri, ego, dan sebagai bahan introspeksi,” katanya.

Menariknya, “Sing Nyidang Ngomong” bukan karya yang berdiri sendiri. Lagu ini menjadi awal dari rangkaian cerita yang juga akan memberi ruang lebih besar bagi Omang Verly.

“Lagu ini memang berkonsep bersambung. Bakal ada balasan dari sudut pandang sang anak. Di mana nanti Omang Verly akan bernyanyi penuh,” ungkapnya.

Dengan konsep ini, kolaborasi ayah dan anak itu tidak lagi sekadar duet, tetapi berkembang menjadi dialog emosional dalam bentuk karya musik. Sebuah upaya menghadirkan suara anak yang selama ini kerap tersembunyi di balik konflik orang tua.

Pada akhirnya, “Sing Nyidang Ngomong” bukan hanya tentang perselingkuhan. Ia adalah tentang keluarga, tentang luka yang diwariskan, tentang suara yang hilang, dan tentang anak-anak yang tumbuh dalam sunyi yang tidak mereka pilih. Dan mungkin, setelah mendengarnya, kita akan mulai menyadari, di balik setiap konflik orang tua, selalu ada satu suara yang tak pernah benar-benar didengar. Suara yang “sing nyidang ngomong”. [T]

Tags: lagu bahasa baliLagu Pop Balimusikmusik pop bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

Next Post

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

Read moreDetails

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
0
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

Read moreDetails

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
0
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

Read moreDetails

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

by Dede Putra Wiguna
September 19, 2026
0
Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

SEBULAN setelah pulang dari Prancis, Morbid Monke belum berniat mengendurkan langkah. Unit art punk asal Denpasar, Bali, itu kembali membawa...

Read moreDetails

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
0
Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

Read moreDetails

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
0
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

Read moreDetails

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

Read moreDetails

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
0
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

Read moreDetails

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
0
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

Read moreDetails

‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
0
‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali

Sube tawang, bajang care adine Mepayas seksi, ngalih bapak medasi Dini ditu setate ngaku perawan Nanging mare cobak, hey… jeg...

Read moreDetails
Next Post
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co