3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

Emi Suy by Emi Suy
May 19, 2026
in Esai
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Emi Suy

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Satu foto dianggap cukup untuk membaca isi hati seseorang. Satu gestur dipakai untuk menentukan moralitas. Bahkan satu rangkulan bisa dijadikan ukuran kesetiaan dan cinta. Padahal hidup tidak pernah sesederhana itu.

Kita hidup di zaman ketika potongan gambar lebih dipercaya daripada keseluruhan kenyataan. Kamera hanya menangkap beberapa detik, tetapi manusia menjadikannya pengadilan bagi seluruh hidup seseorang. Yang dilihat hanyalah serpihan, lalu serpihan itu diperlakukan seperti kebenaran mutlak.

Mungkin karena memahami membutuhkan empati, sedangkan menghakimi hanya membutuhkan ego.

Analogi tentang angka enam dan sembilan sebenarnya sederhana, tetapi diam-diam sangat dekat dengan kenyataan hidup manusia. Dari satu sisi terlihat angka enam, dari sisi lain terlihat angka sembilan.

Tidak selalu ada yang sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Yang berbeda sering kali hanyalah posisi berdiri. Namun manusia terlalu mencintai sudut pandangnya sendiri sampai lupa bahwa orang lain juga memiliki mata, pengalaman, dan luka yang berbeda.

Di titik ini, pemikiran Friedrich Nietzsche tentang perspectivism terasa relevan. Nietzsche percaya bahwa manusia tidak pernah benar-benar melihat dunia secara utuh. Cara seseorang memahami kehidupan dibentuk oleh pengalaman, trauma, kehilangan, dan ketakutan yang pernah ia alami. Karena itu, banyak penilaian sebenarnya lebih mencerminkan isi kepala si penilai daripada kenyataan orang yang sedang dinilai.

Sayangnya, media sosial memperburuk keadaan itu. Dunia digital membuat manusia semakin terbiasa melihat hidup sebagai pertunjukan visual. Orang-orang mulai percaya bahwa cinta harus terlihat agar dianggap nyata. Hubungan yang ramai di media sosial dianggap paling harmonis. Foto mesra dianggap bukti kesetiaan. Pelukan di depan kamera dianggap tanda kedekatan. Sementara hubungan yang tenang sering dicurigai sebagai hubungan yang dingin dan tanpa rasa.

Padahal tidak semua cinta bekerja dengan bahasa yang sama. Ada cinta yang mudah diumumkan kepada dunia. Ada cinta yang memilih diam tetapi bertahan paling lama. Ada yang menunjukkan rasa sayang lewat sentuhan, dan ada pula yang mencintai lewat kesabaran serta ketenangan.

Dalam banyak puisi yang kutulis, aku memandang cinta justru hadir sebagai sesuatu yang sunyi. Ada luka yang tidak berisik, ada rindu yang tidak sibuk mencari panggung. Perasaan manusia sering tumbuh dalam diam, jauh dari kebutuhan untuk dipamerkan. Dan mungkin memang begitu hakikat cinta yang paling jujur: tidak selalu terlihat, tetapi tetap tinggal.

Masalahnya, manusia modern terlalu terobsesi pada validasi visual. Hubungan perlahan berubah menjadi panggung. Orang-orang tidak lagi sibuk membangun kebahagiaan, melainkan sibuk terlihat bahagia. Feed media sosial dipenuhi foto mesra dan potongan momen yang tampak sempurna, sementara realitas di baliknya tidak pernah benar-benar terlihat.

Kamera tidak pernah merekam pertengkaran setelah foto diambil. Ia tidak menangkap percakapan panjang yang penuh air mata. Ia tidak menyimpan bagaimana seseorang bertahan ketika pasangannya sedang jatuh. Foto hanyalah serpihan kecil dari hidup, tetapi manusia sering memperlakukannya seperti bukti mutlak untuk memvonis seseorang.

Di sinilah pemikiran Martin Buber menjadi penting. Dalam gagasannya tentang “aku dan engkau”, Buber menjelaskan bahwa manusia seharusnya hadir untuk memahami orang lain sebagai sesama manusia, bukan sekadar menjadikannya objek penilaian sosial. Namun media sosial perlahan mengubah hubungan antarmanusia menjadi hubungan antara penonton dan tontonan. Orang tidak lagi benar-benar ingin memahami, mereka hanya ingin menilai.

Sebagai perempuan, kenyataan itu terasa lebih melelahkan. Perempuan terlalu mudah dijadikan objek penghakiman hanya dari permukaan: cara berpakaian, cara tertawa, cara berbicara, bahkan dari posisi tangan dalam sebuah foto. Ketika perempuan dekat dengan seseorang, ia dianggap tidak menjaga diri. Ketika menjaga jarak, ia dianggap dingin. Ketika menunjukkan cinta, ia dianggap berlebihan. Ketika memilih diam, ia dianggap tidak punya perasaan.

Seolah dunia memiliki standar yang terus berubah hanya untuk memastikan perempuan tetap berada di posisi yang salah.

Padahal perempuan juga manusia. Ia memiliki cara sendiri untuk mencintai, menjaga hubungan, dan menunjukkan rasa sayang. Tidak semua perempuan nyaman mempertontonkan kemesraan di depan banyak mata. Ada yang mencintai dengan tenang, sederhana, dan tidak banyak bicara. Ada yang lebih memilih menjaga hubungan dalam diam daripada sibuk meyakinkan dunia bahwa ia sedang bahagia.

Pemikiran Erich Fromm menegaskan bahwa cinta bukan sekadar perasaan romantis, melainkan tindakan aktif: menjaga, memahami, menghormati, dan bertanggung jawab. Karena itu, cinta tidak pernah bisa diukur dari posisi tangan dalam sebuah foto. Cinta terlihat dari siapa yang tetap tinggal ketika hidup sedang sulit, dari siapa yang tidak pergi ketika keadaan berubah buruk, dan dari siapa yang tetap menjaga bahkan ketika tidak ada kamera yang merekamnya.

Namun manusia modern terlalu sering mengubah hidup menjadi panggung. Orang tidak lagi bertanya “apa yang benar”, tetapi “apa yang terlihat benar”. Di titik ini, manusia bukan lagi sedang hidup, tetapi sedang tampil.

Dan mungkin di situlah luka terbesar zaman ini: manusia semakin pandai menilai, tetapi semakin miskin memahami.

Dunia yang Kehilangan Kedalaman

Mungkin inilah ironi terbesar manusia modern: semakin terhubung, tetapi semakin jauh dari kemampuan memahami satu sama lain. Dunia digital membuat manusia dapat melihat kehidupan orang lain setiap hari, tetapi tidak benar-benar mengenal isi hati mereka. Yang terlihat hanyalah potongan kecil realitas, lalu potongan itu dijadikan keseluruhan cerita.

Padahal manusia tidak pernah sesederhana tampilan luarnya.

Ada luka yang tidak pernah diunggah.

Ada kesetiaan yang tidak pernah dipamerkan.

Ada cinta yang bekerja dalam diam tanpa perlu pengakuan.

Dan ada perjuangan yang tetap berlangsung bahkan ketika dunia mengira semuanya baik-baik saja.

Manusia sering lupa bahwa hidup tidak selalu berjalan dalam jalur hitam dan putih. Tidak semua hal bisa diputuskan hanya dengan label “benar” atau “salah”. Banyak hal lahir dari pengalaman, luka, lingkungan, cara didik, bahkan ketakutan yang berbeda-beda. Dari situlah perspektif terbentuk.

Masalahnya, sebagian orang terlalu mencintai prinsipnya sendiri sampai menganggap sudut pandang lain sebagai ancaman. Ketika hidup orang lain tidak sesuai dengan ukuran mereka, mereka buru-buru menghakimi, seolah moral hanya milik satu versi manusia saja.

Padahal orang yang benar-benar dewasa biasanya lebih banyak memahami daripada menyalahkan. Ia tahu bahwa manusia tidak dibentuk dari satu cerita. Apa yang terlihat buruk di mata seseorang, bisa jadi adalah cara bertahan hidup bagi orang lain.

Manusia yang gemar menyalahkan bukan selalu paling benar kadang hanya paling takut menerima bahwa dunia tidak berputar sesuai kehendaknya. Mereka nyaman hidup dalam kepastian, sehingga perbedaan dianggap kesalahan.

Perspektif bukan berarti semua hal dibenarkan, tetapi memahami perspektif membuat manusia belajar bahwa tidak semua perbedaan harus berubah menjadi permusuhan.

Karena ironisnya, banyak orang ingin dimengerti, tetapi sedikit yang mau belajar mengerti.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling keras menghakimi, melainkan siapa yang masih memiliki ruang di dalam dirinya untuk memahami.

Dan mungkin, di dunia yang terlalu sibuk menilai ini, kemampuan untuk memahami seseorang tanpa menghakimi adalah bentuk kemanusiaan yang paling sunyi dan paling langka. [T]

Jakarta, 19 Mei 2026

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintamanusia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Next Post

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co