20 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

Emi Suy by Emi Suy
May 19, 2026
in Esai
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Emi Suy

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Satu foto dianggap cukup untuk membaca isi hati seseorang. Satu gestur dipakai untuk menentukan moralitas. Bahkan satu rangkulan bisa dijadikan ukuran kesetiaan dan cinta. Padahal hidup tidak pernah sesederhana itu.

Kita hidup di zaman ketika potongan gambar lebih dipercaya daripada keseluruhan kenyataan. Kamera hanya menangkap beberapa detik, tetapi manusia menjadikannya pengadilan bagi seluruh hidup seseorang. Yang dilihat hanyalah serpihan, lalu serpihan itu diperlakukan seperti kebenaran mutlak.

Mungkin karena memahami membutuhkan empati, sedangkan menghakimi hanya membutuhkan ego.

Analogi tentang angka enam dan sembilan sebenarnya sederhana, tetapi diam-diam sangat dekat dengan kenyataan hidup manusia. Dari satu sisi terlihat angka enam, dari sisi lain terlihat angka sembilan.

Tidak selalu ada yang sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Yang berbeda sering kali hanyalah posisi berdiri. Namun manusia terlalu mencintai sudut pandangnya sendiri sampai lupa bahwa orang lain juga memiliki mata, pengalaman, dan luka yang berbeda.

Di titik ini, pemikiran Friedrich Nietzsche tentang perspectivism terasa relevan. Nietzsche percaya bahwa manusia tidak pernah benar-benar melihat dunia secara utuh. Cara seseorang memahami kehidupan dibentuk oleh pengalaman, trauma, kehilangan, dan ketakutan yang pernah ia alami. Karena itu, banyak penilaian sebenarnya lebih mencerminkan isi kepala si penilai daripada kenyataan orang yang sedang dinilai.

Sayangnya, media sosial memperburuk keadaan itu. Dunia digital membuat manusia semakin terbiasa melihat hidup sebagai pertunjukan visual. Orang-orang mulai percaya bahwa cinta harus terlihat agar dianggap nyata. Hubungan yang ramai di media sosial dianggap paling harmonis. Foto mesra dianggap bukti kesetiaan. Pelukan di depan kamera dianggap tanda kedekatan. Sementara hubungan yang tenang sering dicurigai sebagai hubungan yang dingin dan tanpa rasa.

Padahal tidak semua cinta bekerja dengan bahasa yang sama. Ada cinta yang mudah diumumkan kepada dunia. Ada cinta yang memilih diam tetapi bertahan paling lama. Ada yang menunjukkan rasa sayang lewat sentuhan, dan ada pula yang mencintai lewat kesabaran serta ketenangan.

Dalam banyak puisi yang kutulis, aku memandang cinta justru hadir sebagai sesuatu yang sunyi. Ada luka yang tidak berisik, ada rindu yang tidak sibuk mencari panggung. Perasaan manusia sering tumbuh dalam diam, jauh dari kebutuhan untuk dipamerkan. Dan mungkin memang begitu hakikat cinta yang paling jujur: tidak selalu terlihat, tetapi tetap tinggal.

Masalahnya, manusia modern terlalu terobsesi pada validasi visual. Hubungan perlahan berubah menjadi panggung. Orang-orang tidak lagi sibuk membangun kebahagiaan, melainkan sibuk terlihat bahagia. Feed media sosial dipenuhi foto mesra dan potongan momen yang tampak sempurna, sementara realitas di baliknya tidak pernah benar-benar terlihat.

Kamera tidak pernah merekam pertengkaran setelah foto diambil. Ia tidak menangkap percakapan panjang yang penuh air mata. Ia tidak menyimpan bagaimana seseorang bertahan ketika pasangannya sedang jatuh. Foto hanyalah serpihan kecil dari hidup, tetapi manusia sering memperlakukannya seperti bukti mutlak untuk memvonis seseorang.

Di sinilah pemikiran Martin Buber menjadi penting. Dalam gagasannya tentang “aku dan engkau”, Buber menjelaskan bahwa manusia seharusnya hadir untuk memahami orang lain sebagai sesama manusia, bukan sekadar menjadikannya objek penilaian sosial. Namun media sosial perlahan mengubah hubungan antarmanusia menjadi hubungan antara penonton dan tontonan. Orang tidak lagi benar-benar ingin memahami, mereka hanya ingin menilai.

Sebagai perempuan, kenyataan itu terasa lebih melelahkan. Perempuan terlalu mudah dijadikan objek penghakiman hanya dari permukaan: cara berpakaian, cara tertawa, cara berbicara, bahkan dari posisi tangan dalam sebuah foto. Ketika perempuan dekat dengan seseorang, ia dianggap tidak menjaga diri. Ketika menjaga jarak, ia dianggap dingin. Ketika menunjukkan cinta, ia dianggap berlebihan. Ketika memilih diam, ia dianggap tidak punya perasaan.

Seolah dunia memiliki standar yang terus berubah hanya untuk memastikan perempuan tetap berada di posisi yang salah.

Padahal perempuan juga manusia. Ia memiliki cara sendiri untuk mencintai, menjaga hubungan, dan menunjukkan rasa sayang. Tidak semua perempuan nyaman mempertontonkan kemesraan di depan banyak mata. Ada yang mencintai dengan tenang, sederhana, dan tidak banyak bicara. Ada yang lebih memilih menjaga hubungan dalam diam daripada sibuk meyakinkan dunia bahwa ia sedang bahagia.

Pemikiran Erich Fromm menegaskan bahwa cinta bukan sekadar perasaan romantis, melainkan tindakan aktif: menjaga, memahami, menghormati, dan bertanggung jawab. Karena itu, cinta tidak pernah bisa diukur dari posisi tangan dalam sebuah foto. Cinta terlihat dari siapa yang tetap tinggal ketika hidup sedang sulit, dari siapa yang tidak pergi ketika keadaan berubah buruk, dan dari siapa yang tetap menjaga bahkan ketika tidak ada kamera yang merekamnya.

Namun manusia modern terlalu sering mengubah hidup menjadi panggung. Orang tidak lagi bertanya “apa yang benar”, tetapi “apa yang terlihat benar”. Di titik ini, manusia bukan lagi sedang hidup, tetapi sedang tampil.

Dan mungkin di situlah luka terbesar zaman ini: manusia semakin pandai menilai, tetapi semakin miskin memahami.

Dunia yang Kehilangan Kedalaman

Mungkin inilah ironi terbesar manusia modern: semakin terhubung, tetapi semakin jauh dari kemampuan memahami satu sama lain. Dunia digital membuat manusia dapat melihat kehidupan orang lain setiap hari, tetapi tidak benar-benar mengenal isi hati mereka. Yang terlihat hanyalah potongan kecil realitas, lalu potongan itu dijadikan keseluruhan cerita.

Padahal manusia tidak pernah sesederhana tampilan luarnya.

Ada luka yang tidak pernah diunggah.

Ada kesetiaan yang tidak pernah dipamerkan.

Ada cinta yang bekerja dalam diam tanpa perlu pengakuan.

Dan ada perjuangan yang tetap berlangsung bahkan ketika dunia mengira semuanya baik-baik saja.

Manusia sering lupa bahwa hidup tidak selalu berjalan dalam jalur hitam dan putih. Tidak semua hal bisa diputuskan hanya dengan label “benar” atau “salah”. Banyak hal lahir dari pengalaman, luka, lingkungan, cara didik, bahkan ketakutan yang berbeda-beda. Dari situlah perspektif terbentuk.

Masalahnya, sebagian orang terlalu mencintai prinsipnya sendiri sampai menganggap sudut pandang lain sebagai ancaman. Ketika hidup orang lain tidak sesuai dengan ukuran mereka, mereka buru-buru menghakimi, seolah moral hanya milik satu versi manusia saja.

Padahal orang yang benar-benar dewasa biasanya lebih banyak memahami daripada menyalahkan. Ia tahu bahwa manusia tidak dibentuk dari satu cerita. Apa yang terlihat buruk di mata seseorang, bisa jadi adalah cara bertahan hidup bagi orang lain.

Manusia yang gemar menyalahkan bukan selalu paling benar kadang hanya paling takut menerima bahwa dunia tidak berputar sesuai kehendaknya. Mereka nyaman hidup dalam kepastian, sehingga perbedaan dianggap kesalahan.

Perspektif bukan berarti semua hal dibenarkan, tetapi memahami perspektif membuat manusia belajar bahwa tidak semua perbedaan harus berubah menjadi permusuhan.

Karena ironisnya, banyak orang ingin dimengerti, tetapi sedikit yang mau belajar mengerti.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling keras menghakimi, melainkan siapa yang masih memiliki ruang di dalam dirinya untuk memahami.

Dan mungkin, di dunia yang terlalu sibuk menilai ini, kemampuan untuk memahami seseorang tanpa menghakimi adalah bentuk kemanusiaan yang paling sunyi dan paling langka. [T]

Jakarta, 19 Mei 2026

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintamanusia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

by Early NHS
May 19, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

Read moreDetails

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

by Asep Kurnia
May 19, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

Read moreDetails

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

Read moreDetails

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

Read moreDetails

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

by Putu Arya Nugraha
May 19, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx....

Read moreDetails

‘Lock Accounts, Shaken Trust’: Perlunya Transparansi Komunikasi Perbankan

by Fitria Hani Aprina
May 19, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Freeze & Fret! Guys, tiba-tiba rekening kamu ada yang diblokir?? Nah, kebijakan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait...

Read moreDetails

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya
Panggung

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’
Khas

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

by Asep Kurnia
May 19, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx....

by Putu Arya Nugraha
May 19, 2026
Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali
Budaya

Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Ketika geguritan Dwijendra Stawa dan Astapaka Stawa ditembangkan, suasana sore itu berubah menjadi hening. Tanpa tersadari, orang-orang yang duduk sejak...

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026
Panggung

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah...

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

‘Lock Accounts, Shaken Trust’: Perlunya Transparansi Komunikasi Perbankan

Freeze & Fret! Guys, tiba-tiba rekening kamu ada yang diblokir?? Nah, kebijakan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait...

by Fitria Hani Aprina
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co