DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Satu foto dianggap cukup untuk membaca isi hati seseorang. Satu gestur dipakai untuk menentukan moralitas. Bahkan satu rangkulan bisa dijadikan ukuran kesetiaan dan cinta. Padahal hidup tidak pernah sesederhana itu.
Kita hidup di zaman ketika potongan gambar lebih dipercaya daripada keseluruhan kenyataan. Kamera hanya menangkap beberapa detik, tetapi manusia menjadikannya pengadilan bagi seluruh hidup seseorang. Yang dilihat hanyalah serpihan, lalu serpihan itu diperlakukan seperti kebenaran mutlak.
Mungkin karena memahami membutuhkan empati, sedangkan menghakimi hanya membutuhkan ego.
Analogi tentang angka enam dan sembilan sebenarnya sederhana, tetapi diam-diam sangat dekat dengan kenyataan hidup manusia. Dari satu sisi terlihat angka enam, dari sisi lain terlihat angka sembilan.
Tidak selalu ada yang sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Yang berbeda sering kali hanyalah posisi berdiri. Namun manusia terlalu mencintai sudut pandangnya sendiri sampai lupa bahwa orang lain juga memiliki mata, pengalaman, dan luka yang berbeda.
Di titik ini, pemikiran Friedrich Nietzsche tentang perspectivism terasa relevan. Nietzsche percaya bahwa manusia tidak pernah benar-benar melihat dunia secara utuh. Cara seseorang memahami kehidupan dibentuk oleh pengalaman, trauma, kehilangan, dan ketakutan yang pernah ia alami. Karena itu, banyak penilaian sebenarnya lebih mencerminkan isi kepala si penilai daripada kenyataan orang yang sedang dinilai.
Sayangnya, media sosial memperburuk keadaan itu. Dunia digital membuat manusia semakin terbiasa melihat hidup sebagai pertunjukan visual. Orang-orang mulai percaya bahwa cinta harus terlihat agar dianggap nyata. Hubungan yang ramai di media sosial dianggap paling harmonis. Foto mesra dianggap bukti kesetiaan. Pelukan di depan kamera dianggap tanda kedekatan. Sementara hubungan yang tenang sering dicurigai sebagai hubungan yang dingin dan tanpa rasa.
Padahal tidak semua cinta bekerja dengan bahasa yang sama. Ada cinta yang mudah diumumkan kepada dunia. Ada cinta yang memilih diam tetapi bertahan paling lama. Ada yang menunjukkan rasa sayang lewat sentuhan, dan ada pula yang mencintai lewat kesabaran serta ketenangan.
Dalam banyak puisi yang kutulis, aku memandang cinta justru hadir sebagai sesuatu yang sunyi. Ada luka yang tidak berisik, ada rindu yang tidak sibuk mencari panggung. Perasaan manusia sering tumbuh dalam diam, jauh dari kebutuhan untuk dipamerkan. Dan mungkin memang begitu hakikat cinta yang paling jujur: tidak selalu terlihat, tetapi tetap tinggal.
Masalahnya, manusia modern terlalu terobsesi pada validasi visual. Hubungan perlahan berubah menjadi panggung. Orang-orang tidak lagi sibuk membangun kebahagiaan, melainkan sibuk terlihat bahagia. Feed media sosial dipenuhi foto mesra dan potongan momen yang tampak sempurna, sementara realitas di baliknya tidak pernah benar-benar terlihat.
Kamera tidak pernah merekam pertengkaran setelah foto diambil. Ia tidak menangkap percakapan panjang yang penuh air mata. Ia tidak menyimpan bagaimana seseorang bertahan ketika pasangannya sedang jatuh. Foto hanyalah serpihan kecil dari hidup, tetapi manusia sering memperlakukannya seperti bukti mutlak untuk memvonis seseorang.
Di sinilah pemikiran Martin Buber menjadi penting. Dalam gagasannya tentang “aku dan engkau”, Buber menjelaskan bahwa manusia seharusnya hadir untuk memahami orang lain sebagai sesama manusia, bukan sekadar menjadikannya objek penilaian sosial. Namun media sosial perlahan mengubah hubungan antarmanusia menjadi hubungan antara penonton dan tontonan. Orang tidak lagi benar-benar ingin memahami, mereka hanya ingin menilai.
Sebagai perempuan, kenyataan itu terasa lebih melelahkan. Perempuan terlalu mudah dijadikan objek penghakiman hanya dari permukaan: cara berpakaian, cara tertawa, cara berbicara, bahkan dari posisi tangan dalam sebuah foto. Ketika perempuan dekat dengan seseorang, ia dianggap tidak menjaga diri. Ketika menjaga jarak, ia dianggap dingin. Ketika menunjukkan cinta, ia dianggap berlebihan. Ketika memilih diam, ia dianggap tidak punya perasaan.
Seolah dunia memiliki standar yang terus berubah hanya untuk memastikan perempuan tetap berada di posisi yang salah.
Padahal perempuan juga manusia. Ia memiliki cara sendiri untuk mencintai, menjaga hubungan, dan menunjukkan rasa sayang. Tidak semua perempuan nyaman mempertontonkan kemesraan di depan banyak mata. Ada yang mencintai dengan tenang, sederhana, dan tidak banyak bicara. Ada yang lebih memilih menjaga hubungan dalam diam daripada sibuk meyakinkan dunia bahwa ia sedang bahagia.
Pemikiran Erich Fromm menegaskan bahwa cinta bukan sekadar perasaan romantis, melainkan tindakan aktif: menjaga, memahami, menghormati, dan bertanggung jawab. Karena itu, cinta tidak pernah bisa diukur dari posisi tangan dalam sebuah foto. Cinta terlihat dari siapa yang tetap tinggal ketika hidup sedang sulit, dari siapa yang tidak pergi ketika keadaan berubah buruk, dan dari siapa yang tetap menjaga bahkan ketika tidak ada kamera yang merekamnya.
Namun manusia modern terlalu sering mengubah hidup menjadi panggung. Orang tidak lagi bertanya “apa yang benar”, tetapi “apa yang terlihat benar”. Di titik ini, manusia bukan lagi sedang hidup, tetapi sedang tampil.
Dan mungkin di situlah luka terbesar zaman ini: manusia semakin pandai menilai, tetapi semakin miskin memahami.
Dunia yang Kehilangan Kedalaman
Mungkin inilah ironi terbesar manusia modern: semakin terhubung, tetapi semakin jauh dari kemampuan memahami satu sama lain. Dunia digital membuat manusia dapat melihat kehidupan orang lain setiap hari, tetapi tidak benar-benar mengenal isi hati mereka. Yang terlihat hanyalah potongan kecil realitas, lalu potongan itu dijadikan keseluruhan cerita.
Padahal manusia tidak pernah sesederhana tampilan luarnya.
Ada luka yang tidak pernah diunggah.
Ada kesetiaan yang tidak pernah dipamerkan.
Ada cinta yang bekerja dalam diam tanpa perlu pengakuan.
Dan ada perjuangan yang tetap berlangsung bahkan ketika dunia mengira semuanya baik-baik saja.
Manusia sering lupa bahwa hidup tidak selalu berjalan dalam jalur hitam dan putih. Tidak semua hal bisa diputuskan hanya dengan label “benar” atau “salah”. Banyak hal lahir dari pengalaman, luka, lingkungan, cara didik, bahkan ketakutan yang berbeda-beda. Dari situlah perspektif terbentuk.
Masalahnya, sebagian orang terlalu mencintai prinsipnya sendiri sampai menganggap sudut pandang lain sebagai ancaman. Ketika hidup orang lain tidak sesuai dengan ukuran mereka, mereka buru-buru menghakimi, seolah moral hanya milik satu versi manusia saja.
Padahal orang yang benar-benar dewasa biasanya lebih banyak memahami daripada menyalahkan. Ia tahu bahwa manusia tidak dibentuk dari satu cerita. Apa yang terlihat buruk di mata seseorang, bisa jadi adalah cara bertahan hidup bagi orang lain.
Manusia yang gemar menyalahkan bukan selalu paling benar kadang hanya paling takut menerima bahwa dunia tidak berputar sesuai kehendaknya. Mereka nyaman hidup dalam kepastian, sehingga perbedaan dianggap kesalahan.
Perspektif bukan berarti semua hal dibenarkan, tetapi memahami perspektif membuat manusia belajar bahwa tidak semua perbedaan harus berubah menjadi permusuhan.
Karena ironisnya, banyak orang ingin dimengerti, tetapi sedikit yang mau belajar mengerti.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling keras menghakimi, melainkan siapa yang masih memiliki ruang di dalam dirinya untuk memahami.
Dan mungkin, di dunia yang terlalu sibuk menilai ini, kemampuan untuk memahami seseorang tanpa menghakimi adalah bentuk kemanusiaan yang paling sunyi dan paling langka. [T]
Jakarta, 19 Mei 2026
Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole



























