1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
in Esai
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisan kuliner sekaligus penanda kelas sosial yang membumi. Tempe hadir di dapur gubuk bambu di pelosok desa, hingga tertata rapi di atas piring keramik di meja makan apartemen kota.

Tempe adalah protein rakyat yang demokratis, murah, mudah didapat, dan bisa diolah dengan seribu satu cara. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ada kegelisahan yang merayap di pasar-pasar tradisional dan dapur-dapur rumah tangga. Kegelisahan itu terselip dalam bentuk fisik tempe yang kian hari kian menyusut, irisannya kian transparan, seolah sedang melakukan diet paksa di tengah guncangan ekonomi global.

Ketika harga kedelai dunia bergejolak dan nilai tukar rupiah terus tertekan hingga menembus level psikologis baru, meja makan adalah tempat pertama di mana krisis dihitung dan dirasakan. Krisis ini tidak tercatat dalam lembar analisis bursa saham yang teknis, namun terekam jelas dalam cara seorang ibu rumah tangga menimbang kembali uang belanjanya di pasar.

Potret makroekonomi yang paling lugas, ketika rupiah melemah, daya beli rakyat terjepit, dan tempe menjadi indikator yang paling jujur untuk melihat bagaimana badai ekonomi memukul perut rakyat paling bawah. Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena di mana stabilitas moneter negara tidak lagi diuji oleh cadangan devisa semata, melainkan oleh ketebalan irisan kedelai yang diperam dan siap digoreng setiap pagi.

Rupiah yang Terengah di Ujung Desa

Di pelosok desa, narasi tentang pelemahan nilai tukar rupiah tidak dipahami melalui grafik rumit di bursa saham atau debat panas para pengamat di televisi. Bagi warga desa, rupiah adalah takaran berapa banyak karung kedelai yang bisa dibeli oleh pengepul lokal. Ketika kurs rupiah terperosok hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026, dampaknya terasa nyata di pasar-pasar tradisional tempat para perajin tempe mengambil bahan baku.

Para perajin tempe di desa bukanlah pelaku ekonomi skala besar yang memiliki akses lindung nilai (hedging). Mereka adalah wiraswasta kecil yang setiap pagi harus berhadapan dengan kenyataan pahit, harga kedelai impor terus mendaki seiring dengan merosotnya nilai tukar. Setiap kali mereka menginjakkan kaki di toko langganan untuk menebus kedelai, mereka mendapati harga yang lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Bagi rakyat desa, rupiah yang melemah berarti berkurangnya kedaulatan atas dapur mereka sendiri. Mereka dipaksa menjadi hidup di tengah ketidakstabilan moneter yang mereka sendiri tidak pernah tahu dari mana datangnya.

Dilema Irisan Tipis

Di dapur-dapur kecil desa, strategi menipiskan tempe menjadi mekanisme pertahanan terakhir. Inflasi nasional yang tercatat di level 2,42 persen year-on-year pada April 2026 mungkin terlihat moderat di mata statistik pusat, namun di tingkat perajin tempe, inflasi adalah tentang biaya produksi yang tak terbendung.

Data menunjukkan bahwa ketergantungan kita terhadap kedelai impor mencapai lebih dari 80 persen dengan volume impor tahun 2025 yang menembus 2,56 juta ton. Dengan kondisi ini, ketika harga kedelai dunia sempat menyentuh 1.227 USD/bushel pada Maret 2026, dampaknya langsung menghantam harga domestik. Harga kedelai di tingkat perajin yang sempat berada di angka Rp9.800 per kilogram, kini merangkak naik hingga Rp11.500 per kilogram di beberapa daerah.

Mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama mematikan, menaikkan harga jual di pasar desa yang daya belinya sedang rendah, atau mempertahankan harga dengan cara memperkecil ukuran dan menipiskan irisan tempe. Memilih menipiskan tempe adalah siasat untuk menjaga keterjangkauan agar rakyat desa lainnya tetap bisa membeli protein.

Ini bukan sekadar penyesuaian pasar, ini adalah bentuk empati yang dilakukan di tengah himpitan krisis. Namun, sampai kapan strategi ini bisa bertahan? Jika irisan tempe terus menipis hingga hanya tersisa bentuk tanpa nutrisi yang memadai, maka yang sedang kita pertaruhkan adalah kualitas gizi generasi mendatang yang tumbuh di desa-desa kita.

Wacana Kedaulatan Pangan

Krisis tempe ini adalah tamparan bagi kebijakan pangan nasional yang selama ini terlalu bergantung pada impor. Selama kedelai masih menjadi komoditas yang dijajah oleh fluktuasi dolar, selama itu pula meja makan rakyat desa akan terus terancam. Pemerintah sering kali berbangga dengan angka-angka makro, namun mengabaikan realitas bahwa ketahanan pangan sejati harus dimulai dari kemampuan tanah kita sendiri untuk menghasilkan protein.

Sudah saatnya orientasi ekonomi kita bergeser dari sekadar menjaga stabilitas kurs di Jakarta menuju penguatan kapasitas produksi di akar rumput. Insentif bagi petani kedelai lokal, perbaikan distribusi yang selama ini memangkas margin keuntungan perajin, dan dukungan teknologi pascapanen adalah langkah mutlak.

Kita tidak bisa terus-menerus membebankan beban fluktuasi kurs kepada perajin tempe dan konsumen akhir. Jika kita ingin rupiah kembali berwibawa di meja makan, kita harus memastikan bahwa tempe yang disajikan bukan lagi hasil dari pertarungan melawan kurs, melainkan hasil dari bumi kita sendiri.

Irisan tempe adalah wujud indikator ekonomi, cara kita mengakui bahwa martabat bangsa diukur dari seberapa mampu kita memberi makan rakyat dengan kemandirian yang utuh. Pada akhirnya, ekonomi yang kuat tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan PDB atau stabilitas indeks harga saham, tetapi dari seberapa tenang seorang ibu di desa saat memastikan ada protein di atas piring anak-anaknya.

Irisan tempe yang tipis adalah peringatan bahwa kedaulatan pangan kita sedang tidak baik-baik saja. Jika kita tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, tempe akan menjadi barang mewah yang tak lagi terjangkau di meja makan rakyat kecil. Kepedulian kita terhadap irisan tempe hari ini adalah investasi bagi ketahanan kita di masa depan. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomiketahanan panganpangantempe
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

Next Post

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails
Next Post
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu ---Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co