1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
in Esai
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisan kuliner sekaligus penanda kelas sosial yang membumi. Tempe hadir di dapur gubuk bambu di pelosok desa, hingga tertata rapi di atas piring keramik di meja makan apartemen kota.

Tempe adalah protein rakyat yang demokratis, murah, mudah didapat, dan bisa diolah dengan seribu satu cara. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ada kegelisahan yang merayap di pasar-pasar tradisional dan dapur-dapur rumah tangga. Kegelisahan itu terselip dalam bentuk fisik tempe yang kian hari kian menyusut, irisannya kian transparan, seolah sedang melakukan diet paksa di tengah guncangan ekonomi global.

Ketika harga kedelai dunia bergejolak dan nilai tukar rupiah terus tertekan hingga menembus level psikologis baru, meja makan adalah tempat pertama di mana krisis dihitung dan dirasakan. Krisis ini tidak tercatat dalam lembar analisis bursa saham yang teknis, namun terekam jelas dalam cara seorang ibu rumah tangga menimbang kembali uang belanjanya di pasar.

Potret makroekonomi yang paling lugas, ketika rupiah melemah, daya beli rakyat terjepit, dan tempe menjadi indikator yang paling jujur untuk melihat bagaimana badai ekonomi memukul perut rakyat paling bawah. Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena di mana stabilitas moneter negara tidak lagi diuji oleh cadangan devisa semata, melainkan oleh ketebalan irisan kedelai yang diperam dan siap digoreng setiap pagi.

Rupiah yang Terengah di Ujung Desa

Di pelosok desa, narasi tentang pelemahan nilai tukar rupiah tidak dipahami melalui grafik rumit di bursa saham atau debat panas para pengamat di televisi. Bagi warga desa, rupiah adalah takaran berapa banyak karung kedelai yang bisa dibeli oleh pengepul lokal. Ketika kurs rupiah terperosok hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026, dampaknya terasa nyata di pasar-pasar tradisional tempat para perajin tempe mengambil bahan baku.

Para perajin tempe di desa bukanlah pelaku ekonomi skala besar yang memiliki akses lindung nilai (hedging). Mereka adalah wiraswasta kecil yang setiap pagi harus berhadapan dengan kenyataan pahit, harga kedelai impor terus mendaki seiring dengan merosotnya nilai tukar. Setiap kali mereka menginjakkan kaki di toko langganan untuk menebus kedelai, mereka mendapati harga yang lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Bagi rakyat desa, rupiah yang melemah berarti berkurangnya kedaulatan atas dapur mereka sendiri. Mereka dipaksa menjadi hidup di tengah ketidakstabilan moneter yang mereka sendiri tidak pernah tahu dari mana datangnya.

Dilema Irisan Tipis

Di dapur-dapur kecil desa, strategi menipiskan tempe menjadi mekanisme pertahanan terakhir. Inflasi nasional yang tercatat di level 2,42 persen year-on-year pada April 2026 mungkin terlihat moderat di mata statistik pusat, namun di tingkat perajin tempe, inflasi adalah tentang biaya produksi yang tak terbendung.

Data menunjukkan bahwa ketergantungan kita terhadap kedelai impor mencapai lebih dari 80 persen dengan volume impor tahun 2025 yang menembus 2,56 juta ton. Dengan kondisi ini, ketika harga kedelai dunia sempat menyentuh 1.227 USD/bushel pada Maret 2026, dampaknya langsung menghantam harga domestik. Harga kedelai di tingkat perajin yang sempat berada di angka Rp9.800 per kilogram, kini merangkak naik hingga Rp11.500 per kilogram di beberapa daerah.

Mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama mematikan, menaikkan harga jual di pasar desa yang daya belinya sedang rendah, atau mempertahankan harga dengan cara memperkecil ukuran dan menipiskan irisan tempe. Memilih menipiskan tempe adalah siasat untuk menjaga keterjangkauan agar rakyat desa lainnya tetap bisa membeli protein.

Ini bukan sekadar penyesuaian pasar, ini adalah bentuk empati yang dilakukan di tengah himpitan krisis. Namun, sampai kapan strategi ini bisa bertahan? Jika irisan tempe terus menipis hingga hanya tersisa bentuk tanpa nutrisi yang memadai, maka yang sedang kita pertaruhkan adalah kualitas gizi generasi mendatang yang tumbuh di desa-desa kita.

Wacana Kedaulatan Pangan

Krisis tempe ini adalah tamparan bagi kebijakan pangan nasional yang selama ini terlalu bergantung pada impor. Selama kedelai masih menjadi komoditas yang dijajah oleh fluktuasi dolar, selama itu pula meja makan rakyat desa akan terus terancam. Pemerintah sering kali berbangga dengan angka-angka makro, namun mengabaikan realitas bahwa ketahanan pangan sejati harus dimulai dari kemampuan tanah kita sendiri untuk menghasilkan protein.

Sudah saatnya orientasi ekonomi kita bergeser dari sekadar menjaga stabilitas kurs di Jakarta menuju penguatan kapasitas produksi di akar rumput. Insentif bagi petani kedelai lokal, perbaikan distribusi yang selama ini memangkas margin keuntungan perajin, dan dukungan teknologi pascapanen adalah langkah mutlak.

Kita tidak bisa terus-menerus membebankan beban fluktuasi kurs kepada perajin tempe dan konsumen akhir. Jika kita ingin rupiah kembali berwibawa di meja makan, kita harus memastikan bahwa tempe yang disajikan bukan lagi hasil dari pertarungan melawan kurs, melainkan hasil dari bumi kita sendiri.

Irisan tempe adalah wujud indikator ekonomi, cara kita mengakui bahwa martabat bangsa diukur dari seberapa mampu kita memberi makan rakyat dengan kemandirian yang utuh. Pada akhirnya, ekonomi yang kuat tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan PDB atau stabilitas indeks harga saham, tetapi dari seberapa tenang seorang ibu di desa saat memastikan ada protein di atas piring anak-anaknya.

Irisan tempe yang tipis adalah peringatan bahwa kedaulatan pangan kita sedang tidak baik-baik saja. Jika kita tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, tempe akan menjadi barang mewah yang tak lagi terjangkau di meja makan rakyat kecil. Kepedulian kita terhadap irisan tempe hari ini adalah investasi bagi ketahanan kita di masa depan. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomiketahanan panganpangantempe
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

Next Post

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu ---Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co