12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
in Esai
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisan kuliner sekaligus penanda kelas sosial yang membumi. Tempe hadir di dapur gubuk bambu di pelosok desa, hingga tertata rapi di atas piring keramik di meja makan apartemen kota.

Tempe adalah protein rakyat yang demokratis, murah, mudah didapat, dan bisa diolah dengan seribu satu cara. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ada kegelisahan yang merayap di pasar-pasar tradisional dan dapur-dapur rumah tangga. Kegelisahan itu terselip dalam bentuk fisik tempe yang kian hari kian menyusut, irisannya kian transparan, seolah sedang melakukan diet paksa di tengah guncangan ekonomi global.

Ketika harga kedelai dunia bergejolak dan nilai tukar rupiah terus tertekan hingga menembus level psikologis baru, meja makan adalah tempat pertama di mana krisis dihitung dan dirasakan. Krisis ini tidak tercatat dalam lembar analisis bursa saham yang teknis, namun terekam jelas dalam cara seorang ibu rumah tangga menimbang kembali uang belanjanya di pasar.

Potret makroekonomi yang paling lugas, ketika rupiah melemah, daya beli rakyat terjepit, dan tempe menjadi indikator yang paling jujur untuk melihat bagaimana badai ekonomi memukul perut rakyat paling bawah. Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena di mana stabilitas moneter negara tidak lagi diuji oleh cadangan devisa semata, melainkan oleh ketebalan irisan kedelai yang diperam dan siap digoreng setiap pagi.

Rupiah yang Terengah di Ujung Desa

Di pelosok desa, narasi tentang pelemahan nilai tukar rupiah tidak dipahami melalui grafik rumit di bursa saham atau debat panas para pengamat di televisi. Bagi warga desa, rupiah adalah takaran berapa banyak karung kedelai yang bisa dibeli oleh pengepul lokal. Ketika kurs rupiah terperosok hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026, dampaknya terasa nyata di pasar-pasar tradisional tempat para perajin tempe mengambil bahan baku.

Para perajin tempe di desa bukanlah pelaku ekonomi skala besar yang memiliki akses lindung nilai (hedging). Mereka adalah wiraswasta kecil yang setiap pagi harus berhadapan dengan kenyataan pahit, harga kedelai impor terus mendaki seiring dengan merosotnya nilai tukar. Setiap kali mereka menginjakkan kaki di toko langganan untuk menebus kedelai, mereka mendapati harga yang lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Bagi rakyat desa, rupiah yang melemah berarti berkurangnya kedaulatan atas dapur mereka sendiri. Mereka dipaksa menjadi hidup di tengah ketidakstabilan moneter yang mereka sendiri tidak pernah tahu dari mana datangnya.

Dilema Irisan Tipis

Di dapur-dapur kecil desa, strategi menipiskan tempe menjadi mekanisme pertahanan terakhir. Inflasi nasional yang tercatat di level 2,42 persen year-on-year pada April 2026 mungkin terlihat moderat di mata statistik pusat, namun di tingkat perajin tempe, inflasi adalah tentang biaya produksi yang tak terbendung.

Data menunjukkan bahwa ketergantungan kita terhadap kedelai impor mencapai lebih dari 80 persen dengan volume impor tahun 2025 yang menembus 2,56 juta ton. Dengan kondisi ini, ketika harga kedelai dunia sempat menyentuh 1.227 USD/bushel pada Maret 2026, dampaknya langsung menghantam harga domestik. Harga kedelai di tingkat perajin yang sempat berada di angka Rp9.800 per kilogram, kini merangkak naik hingga Rp11.500 per kilogram di beberapa daerah.

Mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama mematikan, menaikkan harga jual di pasar desa yang daya belinya sedang rendah, atau mempertahankan harga dengan cara memperkecil ukuran dan menipiskan irisan tempe. Memilih menipiskan tempe adalah siasat untuk menjaga keterjangkauan agar rakyat desa lainnya tetap bisa membeli protein.

Ini bukan sekadar penyesuaian pasar, ini adalah bentuk empati yang dilakukan di tengah himpitan krisis. Namun, sampai kapan strategi ini bisa bertahan? Jika irisan tempe terus menipis hingga hanya tersisa bentuk tanpa nutrisi yang memadai, maka yang sedang kita pertaruhkan adalah kualitas gizi generasi mendatang yang tumbuh di desa-desa kita.

Wacana Kedaulatan Pangan

Krisis tempe ini adalah tamparan bagi kebijakan pangan nasional yang selama ini terlalu bergantung pada impor. Selama kedelai masih menjadi komoditas yang dijajah oleh fluktuasi dolar, selama itu pula meja makan rakyat desa akan terus terancam. Pemerintah sering kali berbangga dengan angka-angka makro, namun mengabaikan realitas bahwa ketahanan pangan sejati harus dimulai dari kemampuan tanah kita sendiri untuk menghasilkan protein.

Sudah saatnya orientasi ekonomi kita bergeser dari sekadar menjaga stabilitas kurs di Jakarta menuju penguatan kapasitas produksi di akar rumput. Insentif bagi petani kedelai lokal, perbaikan distribusi yang selama ini memangkas margin keuntungan perajin, dan dukungan teknologi pascapanen adalah langkah mutlak.

Kita tidak bisa terus-menerus membebankan beban fluktuasi kurs kepada perajin tempe dan konsumen akhir. Jika kita ingin rupiah kembali berwibawa di meja makan, kita harus memastikan bahwa tempe yang disajikan bukan lagi hasil dari pertarungan melawan kurs, melainkan hasil dari bumi kita sendiri.

Irisan tempe adalah wujud indikator ekonomi, cara kita mengakui bahwa martabat bangsa diukur dari seberapa mampu kita memberi makan rakyat dengan kemandirian yang utuh. Pada akhirnya, ekonomi yang kuat tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan PDB atau stabilitas indeks harga saham, tetapi dari seberapa tenang seorang ibu di desa saat memastikan ada protein di atas piring anak-anaknya.

Irisan tempe yang tipis adalah peringatan bahwa kedaulatan pangan kita sedang tidak baik-baik saja. Jika kita tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, tempe akan menjadi barang mewah yang tak lagi terjangkau di meja makan rakyat kecil. Kepedulian kita terhadap irisan tempe hari ini adalah investasi bagi ketahanan kita di masa depan. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomiketahanan panganpangantempe
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

Next Post

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu ---Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co