22 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
in Esai
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisan kuliner sekaligus penanda kelas sosial yang membumi. Tempe hadir di dapur gubuk bambu di pelosok desa, hingga tertata rapi di atas piring keramik di meja makan apartemen kota.

Tempe adalah protein rakyat yang demokratis, murah, mudah didapat, dan bisa diolah dengan seribu satu cara. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ada kegelisahan yang merayap di pasar-pasar tradisional dan dapur-dapur rumah tangga. Kegelisahan itu terselip dalam bentuk fisik tempe yang kian hari kian menyusut, irisannya kian transparan, seolah sedang melakukan diet paksa di tengah guncangan ekonomi global.

Ketika harga kedelai dunia bergejolak dan nilai tukar rupiah terus tertekan hingga menembus level psikologis baru, meja makan adalah tempat pertama di mana krisis dihitung dan dirasakan. Krisis ini tidak tercatat dalam lembar analisis bursa saham yang teknis, namun terekam jelas dalam cara seorang ibu rumah tangga menimbang kembali uang belanjanya di pasar.

Potret makroekonomi yang paling lugas, ketika rupiah melemah, daya beli rakyat terjepit, dan tempe menjadi indikator yang paling jujur untuk melihat bagaimana badai ekonomi memukul perut rakyat paling bawah. Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena di mana stabilitas moneter negara tidak lagi diuji oleh cadangan devisa semata, melainkan oleh ketebalan irisan kedelai yang diperam dan siap digoreng setiap pagi.

Rupiah yang Terengah di Ujung Desa

Di pelosok desa, narasi tentang pelemahan nilai tukar rupiah tidak dipahami melalui grafik rumit di bursa saham atau debat panas para pengamat di televisi. Bagi warga desa, rupiah adalah takaran berapa banyak karung kedelai yang bisa dibeli oleh pengepul lokal. Ketika kurs rupiah terperosok hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026, dampaknya terasa nyata di pasar-pasar tradisional tempat para perajin tempe mengambil bahan baku.

Para perajin tempe di desa bukanlah pelaku ekonomi skala besar yang memiliki akses lindung nilai (hedging). Mereka adalah wiraswasta kecil yang setiap pagi harus berhadapan dengan kenyataan pahit, harga kedelai impor terus mendaki seiring dengan merosotnya nilai tukar. Setiap kali mereka menginjakkan kaki di toko langganan untuk menebus kedelai, mereka mendapati harga yang lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Bagi rakyat desa, rupiah yang melemah berarti berkurangnya kedaulatan atas dapur mereka sendiri. Mereka dipaksa menjadi hidup di tengah ketidakstabilan moneter yang mereka sendiri tidak pernah tahu dari mana datangnya.

Dilema Irisan Tipis

Di dapur-dapur kecil desa, strategi menipiskan tempe menjadi mekanisme pertahanan terakhir. Inflasi nasional yang tercatat di level 2,42 persen year-on-year pada April 2026 mungkin terlihat moderat di mata statistik pusat, namun di tingkat perajin tempe, inflasi adalah tentang biaya produksi yang tak terbendung.

Data menunjukkan bahwa ketergantungan kita terhadap kedelai impor mencapai lebih dari 80 persen dengan volume impor tahun 2025 yang menembus 2,56 juta ton. Dengan kondisi ini, ketika harga kedelai dunia sempat menyentuh 1.227 USD/bushel pada Maret 2026, dampaknya langsung menghantam harga domestik. Harga kedelai di tingkat perajin yang sempat berada di angka Rp9.800 per kilogram, kini merangkak naik hingga Rp11.500 per kilogram di beberapa daerah.

Mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama mematikan, menaikkan harga jual di pasar desa yang daya belinya sedang rendah, atau mempertahankan harga dengan cara memperkecil ukuran dan menipiskan irisan tempe. Memilih menipiskan tempe adalah siasat untuk menjaga keterjangkauan agar rakyat desa lainnya tetap bisa membeli protein.

Ini bukan sekadar penyesuaian pasar, ini adalah bentuk empati yang dilakukan di tengah himpitan krisis. Namun, sampai kapan strategi ini bisa bertahan? Jika irisan tempe terus menipis hingga hanya tersisa bentuk tanpa nutrisi yang memadai, maka yang sedang kita pertaruhkan adalah kualitas gizi generasi mendatang yang tumbuh di desa-desa kita.

Wacana Kedaulatan Pangan

Krisis tempe ini adalah tamparan bagi kebijakan pangan nasional yang selama ini terlalu bergantung pada impor. Selama kedelai masih menjadi komoditas yang dijajah oleh fluktuasi dolar, selama itu pula meja makan rakyat desa akan terus terancam. Pemerintah sering kali berbangga dengan angka-angka makro, namun mengabaikan realitas bahwa ketahanan pangan sejati harus dimulai dari kemampuan tanah kita sendiri untuk menghasilkan protein.

Sudah saatnya orientasi ekonomi kita bergeser dari sekadar menjaga stabilitas kurs di Jakarta menuju penguatan kapasitas produksi di akar rumput. Insentif bagi petani kedelai lokal, perbaikan distribusi yang selama ini memangkas margin keuntungan perajin, dan dukungan teknologi pascapanen adalah langkah mutlak.

Kita tidak bisa terus-menerus membebankan beban fluktuasi kurs kepada perajin tempe dan konsumen akhir. Jika kita ingin rupiah kembali berwibawa di meja makan, kita harus memastikan bahwa tempe yang disajikan bukan lagi hasil dari pertarungan melawan kurs, melainkan hasil dari bumi kita sendiri.

Irisan tempe adalah wujud indikator ekonomi, cara kita mengakui bahwa martabat bangsa diukur dari seberapa mampu kita memberi makan rakyat dengan kemandirian yang utuh. Pada akhirnya, ekonomi yang kuat tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan PDB atau stabilitas indeks harga saham, tetapi dari seberapa tenang seorang ibu di desa saat memastikan ada protein di atas piring anak-anaknya.

Irisan tempe yang tipis adalah peringatan bahwa kedaulatan pangan kita sedang tidak baik-baik saja. Jika kita tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, tempe akan menjadi barang mewah yang tak lagi terjangkau di meja makan rakyat kecil. Kepedulian kita terhadap irisan tempe hari ini adalah investasi bagi ketahanan kita di masa depan. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomiketahanan panganpangantempe
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

Next Post

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

Read moreDetails

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
0
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

Read moreDetails

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
0
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

Read moreDetails

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails
Next Post
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu ---Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co