21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
in Esai
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisan kuliner sekaligus penanda kelas sosial yang membumi. Tempe hadir di dapur gubuk bambu di pelosok desa, hingga tertata rapi di atas piring keramik di meja makan apartemen kota.

Tempe adalah protein rakyat yang demokratis, murah, mudah didapat, dan bisa diolah dengan seribu satu cara. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ada kegelisahan yang merayap di pasar-pasar tradisional dan dapur-dapur rumah tangga. Kegelisahan itu terselip dalam bentuk fisik tempe yang kian hari kian menyusut, irisannya kian transparan, seolah sedang melakukan diet paksa di tengah guncangan ekonomi global.

Ketika harga kedelai dunia bergejolak dan nilai tukar rupiah terus tertekan hingga menembus level psikologis baru, meja makan adalah tempat pertama di mana krisis dihitung dan dirasakan. Krisis ini tidak tercatat dalam lembar analisis bursa saham yang teknis, namun terekam jelas dalam cara seorang ibu rumah tangga menimbang kembali uang belanjanya di pasar.

Potret makroekonomi yang paling lugas, ketika rupiah melemah, daya beli rakyat terjepit, dan tempe menjadi indikator yang paling jujur untuk melihat bagaimana badai ekonomi memukul perut rakyat paling bawah. Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena di mana stabilitas moneter negara tidak lagi diuji oleh cadangan devisa semata, melainkan oleh ketebalan irisan kedelai yang diperam dan siap digoreng setiap pagi.

Rupiah yang Terengah di Ujung Desa

Di pelosok desa, narasi tentang pelemahan nilai tukar rupiah tidak dipahami melalui grafik rumit di bursa saham atau debat panas para pengamat di televisi. Bagi warga desa, rupiah adalah takaran berapa banyak karung kedelai yang bisa dibeli oleh pengepul lokal. Ketika kurs rupiah terperosok hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026, dampaknya terasa nyata di pasar-pasar tradisional tempat para perajin tempe mengambil bahan baku.

Para perajin tempe di desa bukanlah pelaku ekonomi skala besar yang memiliki akses lindung nilai (hedging). Mereka adalah wiraswasta kecil yang setiap pagi harus berhadapan dengan kenyataan pahit, harga kedelai impor terus mendaki seiring dengan merosotnya nilai tukar. Setiap kali mereka menginjakkan kaki di toko langganan untuk menebus kedelai, mereka mendapati harga yang lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Bagi rakyat desa, rupiah yang melemah berarti berkurangnya kedaulatan atas dapur mereka sendiri. Mereka dipaksa menjadi hidup di tengah ketidakstabilan moneter yang mereka sendiri tidak pernah tahu dari mana datangnya.

Dilema Irisan Tipis

Di dapur-dapur kecil desa, strategi menipiskan tempe menjadi mekanisme pertahanan terakhir. Inflasi nasional yang tercatat di level 2,42 persen year-on-year pada April 2026 mungkin terlihat moderat di mata statistik pusat, namun di tingkat perajin tempe, inflasi adalah tentang biaya produksi yang tak terbendung.

Data menunjukkan bahwa ketergantungan kita terhadap kedelai impor mencapai lebih dari 80 persen dengan volume impor tahun 2025 yang menembus 2,56 juta ton. Dengan kondisi ini, ketika harga kedelai dunia sempat menyentuh 1.227 USD/bushel pada Maret 2026, dampaknya langsung menghantam harga domestik. Harga kedelai di tingkat perajin yang sempat berada di angka Rp9.800 per kilogram, kini merangkak naik hingga Rp11.500 per kilogram di beberapa daerah.

Mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama mematikan, menaikkan harga jual di pasar desa yang daya belinya sedang rendah, atau mempertahankan harga dengan cara memperkecil ukuran dan menipiskan irisan tempe. Memilih menipiskan tempe adalah siasat untuk menjaga keterjangkauan agar rakyat desa lainnya tetap bisa membeli protein.

Ini bukan sekadar penyesuaian pasar, ini adalah bentuk empati yang dilakukan di tengah himpitan krisis. Namun, sampai kapan strategi ini bisa bertahan? Jika irisan tempe terus menipis hingga hanya tersisa bentuk tanpa nutrisi yang memadai, maka yang sedang kita pertaruhkan adalah kualitas gizi generasi mendatang yang tumbuh di desa-desa kita.

Wacana Kedaulatan Pangan

Krisis tempe ini adalah tamparan bagi kebijakan pangan nasional yang selama ini terlalu bergantung pada impor. Selama kedelai masih menjadi komoditas yang dijajah oleh fluktuasi dolar, selama itu pula meja makan rakyat desa akan terus terancam. Pemerintah sering kali berbangga dengan angka-angka makro, namun mengabaikan realitas bahwa ketahanan pangan sejati harus dimulai dari kemampuan tanah kita sendiri untuk menghasilkan protein.

Sudah saatnya orientasi ekonomi kita bergeser dari sekadar menjaga stabilitas kurs di Jakarta menuju penguatan kapasitas produksi di akar rumput. Insentif bagi petani kedelai lokal, perbaikan distribusi yang selama ini memangkas margin keuntungan perajin, dan dukungan teknologi pascapanen adalah langkah mutlak.

Kita tidak bisa terus-menerus membebankan beban fluktuasi kurs kepada perajin tempe dan konsumen akhir. Jika kita ingin rupiah kembali berwibawa di meja makan, kita harus memastikan bahwa tempe yang disajikan bukan lagi hasil dari pertarungan melawan kurs, melainkan hasil dari bumi kita sendiri.

Irisan tempe adalah wujud indikator ekonomi, cara kita mengakui bahwa martabat bangsa diukur dari seberapa mampu kita memberi makan rakyat dengan kemandirian yang utuh. Pada akhirnya, ekonomi yang kuat tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan PDB atau stabilitas indeks harga saham, tetapi dari seberapa tenang seorang ibu di desa saat memastikan ada protein di atas piring anak-anaknya.

Irisan tempe yang tipis adalah peringatan bahwa kedaulatan pangan kita sedang tidak baik-baik saja. Jika kita tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, tempe akan menjadi barang mewah yang tak lagi terjangkau di meja makan rakyat kecil. Kepedulian kita terhadap irisan tempe hari ini adalah investasi bagi ketahanan kita di masa depan. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomiketahanan panganpangantempe
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

Next Post

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu ---Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co