1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

Chusmeru by Chusmeru
June 11, 2026
in Fiksi

Cerita misteri Chusmeru

BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali ketimbang Indonesia. Tak heran bila Bali banyak dikunjungi wisatawan asing maupun domestik.

Semester ini SMA tempat Rika Kristiana mengajar berencana untuk melakukan study tour. Banyak pilihan tujuan piknik yang ditawarkan pihak sekolah kepada para siswa. Ada Jakarta, Bandung, Yogya, dan Malang. Rika Kristiana sebenarnya lebih tertarik piknik ke Bali. Banyak objek wisata yang dapat dikunjungi di sana.

Melalui musyawarah antara pihak sekolah dan siswa akhirnya diputuskan untuk melakukan wisata ke Bali. Semua siswa menyambut gembira. Masing-masing sudah penya rencana tentang apa yang akan mereka lalukan di Bali. Beberapa siswa juga sudah berencana untuk membeli cinderamata khas Bali.

Pihak sekolah menugaskan Rika Kristiana menjadi koordinator rombongan siswa dan guru yang ikut ke Bali. Tugas yang berat tentunya, karena ia harus mengkoordinasikan rombongan yang berada dalam lima bus pariwisata. Meskipun ia sudah pernah ke Bali. Tapi itu dulu. Saat ia masih kuliah. Sebelum ia menjadi guru SMA di kotanya. Kini Bali banyak berubah. Macet di jalanan dan padat wisatawan.

Rika Kristiana segera menghubungi biro perjalanan wisata yang selama ini menjadi langganan sekolahnya. Beberapa paket wisata ditawarkan biro perjalanan. Disepakati untuk piknik dengan paket tiga hari dua malam. Objek wisata yang dituju pun sudah disepakati, termasuk hotel tempat para siswa menginap.

Tiga hari menjelang keberangkatan, Rika Kristiana mengumpulkan para siswa peserta piknik untuk diberi pengarahan. Para siswa diminta untuk memperhatikan kesopanan, keamanan, kenyamanan, dan keselamatan diri selama berada di Bali. Jangan sampai siswa melanggar adat dan tradisi yang dipercaya masyarakat. Rika Kristiana menjelaskan bahwa meskipun Bali merupakan destinasi wisata, namun dianggap sakral.

Para siswa menyimak dan mengangguk tanda mengerti apa yang disampaikan Rika Kristiana. Namun apakah mereka benar-benar akan mengikuti arahan gurunya atau tidak, sulit diterka. Mengingat mereka adalah generasi Z yang kadang meluapkan kegembiraan tanpa memperhatikan etika.

                                                                                                ***

Hari pertama piknik berjalan lancar. Para siswa mengunjungi Pantai Pandawa. Mereka sangat antusias bermain di pantai, karena di kota asal mereka hanya melihat gunung setiap harinya. Pantai bagi para siswa seperti ruang baru yang tak pernah mereka temui di kotanya. Dari Pantai Pandawa para siswa menuju Pura Uluwatu. Keseruan dirasakan para siswa.

Selepas makan malam di sekitar Jimbaran, mereka menuju hotel tempat menginap. Rasa lelah dalam perjalanan tak membuat mereka kehilangan keceriaan. Mereka berhamburan keluar dari bus sambil tertawa riang. Tanpa sengaja, Soni Antara, siswa yang turun terakhir dari bus menginjak canang di pelataran hotel.

Canang atau canang sari di Bali merupakan tempat sesaji yang terbuat dari janur, di atasnya terdapat aneka bunga sebagai persembahan kepada Tuhan. Soni Antara tak sengaja menginjak canang itu dan membuat canang itu tergeser dari tempat asalnya. Sementara dupa di atas canang itu masih mengepulkan asap.

“Aku menginjak sesaji di halaman hotel..,” kata Soni Antara kepada teman-temannya dengan raut muka ketakutan. “Hiii… awas lho, nanti kamu didatangi makhluk gaib,” ujar Fredy bercanda menimpali yang bikin Soni Antara tambah ketakutan.

Sesampai di kamar hotel Soni Antara masih diselimuti rasa takut. Teman sekamarnya, Prasetyo, berusaha menenangkan Soni.

“Tenang saja, Son. Kamu kan nggak sengaja menginjaknya,” kata Prasetyo.

Soni berusaha untuk tenang. Namun tetap saja tak bisa. Ia takut kualat menginjak sesaji. Apalagi ia ingat pesan gurunya, Rika Kristiana, agar menjaga adat isitiadat selama liburan di Bali. Meski Soni tak sengaja menginjaknya, ia tetap merasa bersalah.

Rasa lelah membuat Soni Antara mengantuk. Ia segera berangkat tidur. Belum sampai satu jam tertidur, Soni mimpi buruk. Ia seakan berada di satu tempat di tengah hutan belantara sendirian. Berjalan tak tahu ke mana arah. Mendadak di hadapannya berdiri sesosok makhluk menyeramkan. Sosok tinggi besar, rambut panjang dan kusut, bertaring dan berkuku panjang, serta lidahnya menjulur.

Soni Antara terkejut ketakutan. Ia berusaha berlari menghindari makhluk itu. Namun langkahnya terasa terhenti. Kakinya tak dapat digerakkan. Makhluk gaib itu mendekati Soni. Matanya yang lebar seolah menatap tajam ke arah Soni. Jarak makhluk itu dengan Soni hanya tinggal beberapa sentimeter. Makhluk itu hendak mencekik Soni.

“Jangan…!!! Ampun…!!!” teriak Soni.

Prasetyo yang tidur di sebelah Soni kaget mendengar teriakan Soni. Dilihatnya napas Soni tersengal-sengal. Ia segera membangunkan Soni.

“Kamu mimpi apa?” tanya Prasetyo begitu dilihatnya Soni bangun dari tidurnya.

“Aku dikejar-kejar makhluk menyeramkan..,” jawab Soni dengan napas yang masih ngos-ngosan.

Sejak mimpi buruk semalam, Soni Antara menjadi tidak konsentrasi mengikuti piknik. Ia masih diliputi suasana mencekam. Ketika mengunjungi objek wisata lainnya pun ia sangat berhati-hati. Takut menginjak sesaji lagi.

                                                                                                ***

Rika Kristiana sebagai pimpinan rombongan belum mendengar kabar tentang apa yang dialami siswanya, Soni Antara. Ia melihat semua siswa sangat antusias menikmati objek wisata di Bali. Apalagi setelah mereka mengunjungi Ubud dan Kintamani di hari kedua. Pemandangan yang menyejukkan membuat siswa merasa segar kembali.

Ketika pulang kembali ke hotel, para siswa masih dalam suasana ceria. Meski sudah banyak berfoto di objek wisata, beberapa siswa masih juga berfoto di area hotel. Buat kenang-kenangan menginap di hotel di Bali, kata Laura Widya.

Bersama tiga teman sekelasnya, Laura Widya berswafoto di depan padmasana (pura yang terletak di lingkungan hotel). Ia tertawa terbahak-bahak ketika hasil fotonya buruk, dan harus diulang kembali. Laura Widya tak menghiraukan asap yang mengepul dari dupa di dalam padmasana yang baru saja dinyalakan pegawai hotel. Ia dan teman-temannya terus berfoto di depan padmasana itu sambil tertawa keras.

Hasil fotonya memang bagus. Namun entah mengapa ketika berada di dalam kamar hotel tiba-tiba Laura Widya merasa merinding melihat foto di depan padmasana itu. Ada suasana mencekam di dalam kamar. Padahal Sarah teman sekamarnya tidak merasakan apa pun. Niat Laura Widya untuk mengunggah foto itu di media sosialnya ia batalkan.

Laura Widya tak habis pikir. Mengapa mendadak merasa tegang. Apakah ia salah berfoto di depan padmasana hotel? Ataukah ia dan teman-temannya yang terbahak-bahak itu adalah salah? Laura kembali teringat apa yang disampaikan Rika Kristiana gurunya, sesaat sebelum berangkat ke Bali. Apakah Laura telah melanggar etika, adat ,dan tradisi?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggodanya hingga sampai ke kamar hotel. Menjelang tidur, Laura dikejutkan oleh bayangan sosok tak kasat mata yang ada di hadapannya. Wajahnya sangat menyeramkan. Mata makhluk itu seperti berlubang. Giginya bertaring besar. Kepalanya botak. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuh Laura. Ia menjerit ketakutan.

“Ada apa, Laura..?” tanya Sarah teman kamarnya kaget.

“Ada makhluk menyeramkan..,” jawab Laura sambil menggigil ketakutan.

“Mana..???” tanya Sarah penasaran, karena ia tak melihat apa pun.

Laura Widya hanya menunjuk satu tempat di pojok kamar hotel. Namun Sarah tak melihat siapa pun. Suasana kamar hotel menjadi mencekam. Tiba-tiba terdengar suara gamelan Bali bertalu-talu di kamar hotel. Mereka meremang, merasakan seram. Keringat dingin mengucur di dahi Sarah. Sementara Laura menutupi wajahnya dengan bantal. Ia ketakutan melihat wajah seram makhluk halus di pojok kamar hotel.

Mereka berdua menangis. Laura berteriak minta ampun. Sarah membaca doa pengusir makhluk gaib. Tak berapa lama tercium bau kayu cendana. Wangi menebar ke seluruh ruangan kamar. Berbarengan dengan itu, makhluk menyeramkan hilang dalam pandangan Laura. Mereka sedikit lega, meski hingga larut malam mereka sulit untuk tidur.

                                                                                                ***

Rombongan study tour SMA yang dipimpin Rika Kristiana telah kembali ke kotanya. Tiga hari dua malam mereka berwisata ke Bali. Suasana ceria dirasakan para murid setelah mereka kembali ke sekolah. Semua memamerkan foto-foto selama piknik di Bali.

Tidak demikian dengan Soni Antara dan Laura Widya. Suasana mencekam masih mereka rasakan. Pengalaman misterius dan mengerikan selama di Bali masih mereka rasakan hingga pulang ke rumah masing-masing.

Menjelang senja, Soni Antara merasa ada sesuatu yang tak beres. Badannya terasa meriang. Suhu tubuhnya tinggi. Ia menggigil. Padahal sebenarnya ia merasa sehat. Soni berbaring di tempat tidur kamarnya. Entah dari mana datangnya, terdengar suara gamelan Bali di kamarnya. Soni tambah menggigil dan merinding ketakutan.

Sosok makhluk menyeramkan yang dilihat dalam mimpi sewaktu di kamar hotel di Bali muncul kembali dalam bayangannya. Makhluk itu menari-nari di depan Soni. Ia berteriak ketakutan. Tubuhnya tiba-tiba kaku. Makhluk itu seolah merasuk ke dalam tubuhnya. Soni menggeram keras. Ia kerasukan makhluk gaib.

“Kamu kenapa, Nak?” tanya ibu Soni kaget mendengar suara keras dari kamar anaknya.

Soni Antara tidak menjawab. Matanya kosong menatap ibunya sambil terbaring di tempat tidur. Sementara tangannya bergerak seperti orang sedang menari. Ibu Soni ketakutan. Ia segera menelepon Rika Kristiana, guru yang mendampingi anaknya piknik ke Bali.

Mendengar cerita orang tua muridnya, Rika Kristiana kaget. Ia segera menghubungi Pak Kusmedi, pensiunan dosen yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Pak Kusmedi pernah lama tinggal di Bali. Rika Kristiana menduga Soni Antara diikuti makhluk gaib dari Bali. Ia berharap pak Kusmedi dapat mengatasi masalah yang dihadapi muridnya.

Rika Kristiana dan Pak Kusmedi segera mendatangi rumah Soni Antara. Pak Kusmedi membawa beberapa perlengkapan seperti dupa merah dan segehan manca warna,  yaitu berupa sesaji nasi lima warna: putih, merah, kuning, hitam, dan campuran. Mereka melihat Soni terbaring di tempat tidur sambil matanya melolot, tangannya menari-nari.

“Ampurayang titiang, sira niki sane rauh?” tanya Pak Kusmedi pelan kepada Soni dengan menggunakan bahasa Bali, yang artinya “Maafkan kami, siapa ini yang datang merasuk?”.

Soni Antara komat-kamit mengucapkan kata yang tak jelas bagi orang tuanya dan Rika Kristiana. Pak Kusmedi hanya mengangguk-angguk. Sesekali ia berkata :”Inggih”.

“Ananda Soni kerasukan rangda, makhluk halus yang ada di Bali,” ujar Pak Kusmedi kepada ibu Soni dan Rika Kristiana.

Pak Kusmedi membakar dupa merah aroma cempaka tiga batang. Ia menaruh segehan manca warna di depan pintu masuk  pekarangan rumah Soni. Kemudian ia berbisik di telinga Soni, meminta agar rangda yang telah merasuki Soni kembali ke asalnya, Bali.

Wajah Soni Antara tampak tegang. Tangan dan kakinya menggelinjang. Ia menggeram. Suaranya begitu keras. Tidak begitu lama seperti terdengar suara letusan di pekarangan rumah Soni. Berbarengan dengan itu tubuh Soni menjadi lemas. Makhluk halus yang merasuk ke tubuh Soni telah kembali ke alamnya.

Suasana belum mereda. Rika Kristiana kembali mendapat telepon dari orang tua Laura Widya. Dikabarkan Laura kerasukan makhluk halus. Rika Kristiana tampak panik. Ia segera meminta Pak Kusmedi untuk segera mendatangi rumah Laura.

Sesampai di rumah Laura, mereka mendapati Laura sedang duduk di kursi ruang tamu dengan wajah yang meringis. Matanya melotot memandangi Rika Kristiana dan Pak Kusmedi yang datang. Lidah Laura menjulur ke luar. Suasana sangat mencekam. Rika Kristiana merinding ketakutan. Pak Kusmedi kembali bertanya, siapa yang merasuki Laura. Terdengar suara Laura yang meraung.

“Ananda Laura kerasukan celuluk, makhluk halus yang ada di halaman hotel di Bali,” kata Pak Kusmedi kepada orang tua Laura.

Segera saja Pak Kusmedi membakar tiga dupa merah. Berbeda dengan di rumah Soni Antara, kali ini Pak Kusmedi menyuguhkan segehan barak yang terdiri beras merah, bawang, jahe, dan garam. Segehan barak  dihaturkan kepada bhuta kala  agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Selain itu juga berfungsi untuk menetralkan energi negatif menjadi positif.

Diletakannya dupa dan segehan barak itu di halaman rumah Laura Widya. Beberapa saat Laura tertawa terbahak-bahak dengan raut muka yang menyeramkan. Pak Kusmedi mendekati sambil berkata pelan.

“Ngiring malih budal ke Bali,” kata Pak Kusmedi. Maksudnya, Pak Kusmedi mempersilakan celuluk yang merasuki Laura untuk kembali ke asalnya di Bali.

Laura Widya terdiam menunduk. Wajahnya tidak lagi tegang dan menyeramkan. Aroma bunga cempaka merebak di dalam rumah Laura. Semua merinding. Laura menarik napas panjang. Sesaat kemudian ia terkulai lemas. Semua merasa lega. Makhluk gaib yang mengikuti Laura telah pulang ke asalnya.

Hari berkutnya, Rika Kristiana berada di depan kelas. Ia membahas kejadian yang menimpa Soni Antara dan Laura Widya. Dikatakannya tentang arti penting peribahasa di mana bumi di pijak, di sana langit dijunjung. Setiap orang harus menghormati adat, tradisi, dan budaya suatu masyarakat.

Soni dan Laura yang kebetulan berada dalam kelas yang sama mengangguk, mencoba memahami apa yang dikatakan Rika Kristiana. Mereka mengakui kesalahan, meski sebenarnya mereka tidak sengaja melakukan hal itu. Mereka tetap masih ingin ke Bali, suatu saat. Tentu saja dengan lebih berhati-hati menjaga sikap dan perilaku mereka. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

Next Post

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails
Next Post
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co