BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali ketimbang Indonesia. Tak heran bila Bali banyak dikunjungi wisatawan asing maupun domestik.
Semester ini SMA tempat Rika Kristiana mengajar berencana untuk melakukan study tour. Banyak pilihan tujuan piknik yang ditawarkan pihak sekolah kepada para siswa. Ada Jakarta, Bandung, Yogya, dan Malang. Rika Kristiana sebenarnya lebih tertarik piknik ke Bali. Banyak objek wisata yang dapat dikunjungi di sana.
Melalui musyawarah antara pihak sekolah dan siswa akhirnya diputuskan untuk melakukan wisata ke Bali. Semua siswa menyambut gembira. Masing-masing sudah penya rencana tentang apa yang akan mereka lalukan di Bali. Beberapa siswa juga sudah berencana untuk membeli cinderamata khas Bali.
Pihak sekolah menugaskan Rika Kristiana menjadi koordinator rombongan siswa dan guru yang ikut ke Bali. Tugas yang berat tentunya, karena ia harus mengkoordinasikan rombongan yang berada dalam lima bus pariwisata. Meskipun ia sudah pernah ke Bali. Tapi itu dulu. Saat ia masih kuliah. Sebelum ia menjadi guru SMA di kotanya. Kini Bali banyak berubah. Macet di jalanan dan padat wisatawan.
Rika Kristiana segera menghubungi biro perjalanan wisata yang selama ini menjadi langganan sekolahnya. Beberapa paket wisata ditawarkan biro perjalanan. Disepakati untuk piknik dengan paket tiga hari dua malam. Objek wisata yang dituju pun sudah disepakati, termasuk hotel tempat para siswa menginap.
Tiga hari menjelang keberangkatan, Rika Kristiana mengumpulkan para siswa peserta piknik untuk diberi pengarahan. Para siswa diminta untuk memperhatikan kesopanan, keamanan, kenyamanan, dan keselamatan diri selama berada di Bali. Jangan sampai siswa melanggar adat dan tradisi yang dipercaya masyarakat. Rika Kristiana menjelaskan bahwa meskipun Bali merupakan destinasi wisata, namun dianggap sakral.
Para siswa menyimak dan mengangguk tanda mengerti apa yang disampaikan Rika Kristiana. Namun apakah mereka benar-benar akan mengikuti arahan gurunya atau tidak, sulit diterka. Mengingat mereka adalah generasi Z yang kadang meluapkan kegembiraan tanpa memperhatikan etika.
***
Hari pertama piknik berjalan lancar. Para siswa mengunjungi Pantai Pandawa. Mereka sangat antusias bermain di pantai, karena di kota asal mereka hanya melihat gunung setiap harinya. Pantai bagi para siswa seperti ruang baru yang tak pernah mereka temui di kotanya. Dari Pantai Pandawa para siswa menuju Pura Uluwatu. Keseruan dirasakan para siswa.
Selepas makan malam di sekitar Jimbaran, mereka menuju hotel tempat menginap. Rasa lelah dalam perjalanan tak membuat mereka kehilangan keceriaan. Mereka berhamburan keluar dari bus sambil tertawa riang. Tanpa sengaja, Soni Antara, siswa yang turun terakhir dari bus menginjak canang di pelataran hotel.
Canang atau canang sari di Bali merupakan tempat sesaji yang terbuat dari janur, di atasnya terdapat aneka bunga sebagai persembahan kepada Tuhan. Soni Antara tak sengaja menginjak canang itu dan membuat canang itu tergeser dari tempat asalnya. Sementara dupa di atas canang itu masih mengepulkan asap.
“Aku menginjak sesaji di halaman hotel..,” kata Soni Antara kepada teman-temannya dengan raut muka ketakutan. “Hiii… awas lho, nanti kamu didatangi makhluk gaib,” ujar Fredy bercanda menimpali yang bikin Soni Antara tambah ketakutan.
Sesampai di kamar hotel Soni Antara masih diselimuti rasa takut. Teman sekamarnya, Prasetyo, berusaha menenangkan Soni.
“Tenang saja, Son. Kamu kan nggak sengaja menginjaknya,” kata Prasetyo.
Soni berusaha untuk tenang. Namun tetap saja tak bisa. Ia takut kualat menginjak sesaji. Apalagi ia ingat pesan gurunya, Rika Kristiana, agar menjaga adat isitiadat selama liburan di Bali. Meski Soni tak sengaja menginjaknya, ia tetap merasa bersalah.
Rasa lelah membuat Soni Antara mengantuk. Ia segera berangkat tidur. Belum sampai satu jam tertidur, Soni mimpi buruk. Ia seakan berada di satu tempat di tengah hutan belantara sendirian. Berjalan tak tahu ke mana arah. Mendadak di hadapannya berdiri sesosok makhluk menyeramkan. Sosok tinggi besar, rambut panjang dan kusut, bertaring dan berkuku panjang, serta lidahnya menjulur.
Soni Antara terkejut ketakutan. Ia berusaha berlari menghindari makhluk itu. Namun langkahnya terasa terhenti. Kakinya tak dapat digerakkan. Makhluk gaib itu mendekati Soni. Matanya yang lebar seolah menatap tajam ke arah Soni. Jarak makhluk itu dengan Soni hanya tinggal beberapa sentimeter. Makhluk itu hendak mencekik Soni.
“Jangan…!!! Ampun…!!!” teriak Soni.
Prasetyo yang tidur di sebelah Soni kaget mendengar teriakan Soni. Dilihatnya napas Soni tersengal-sengal. Ia segera membangunkan Soni.
“Kamu mimpi apa?” tanya Prasetyo begitu dilihatnya Soni bangun dari tidurnya.
“Aku dikejar-kejar makhluk menyeramkan..,” jawab Soni dengan napas yang masih ngos-ngosan.
Sejak mimpi buruk semalam, Soni Antara menjadi tidak konsentrasi mengikuti piknik. Ia masih diliputi suasana mencekam. Ketika mengunjungi objek wisata lainnya pun ia sangat berhati-hati. Takut menginjak sesaji lagi.
***
Rika Kristiana sebagai pimpinan rombongan belum mendengar kabar tentang apa yang dialami siswanya, Soni Antara. Ia melihat semua siswa sangat antusias menikmati objek wisata di Bali. Apalagi setelah mereka mengunjungi Ubud dan Kintamani di hari kedua. Pemandangan yang menyejukkan membuat siswa merasa segar kembali.
Ketika pulang kembali ke hotel, para siswa masih dalam suasana ceria. Meski sudah banyak berfoto di objek wisata, beberapa siswa masih juga berfoto di area hotel. Buat kenang-kenangan menginap di hotel di Bali, kata Laura Widya.
Bersama tiga teman sekelasnya, Laura Widya berswafoto di depan padmasana (pura yang terletak di lingkungan hotel). Ia tertawa terbahak-bahak ketika hasil fotonya buruk, dan harus diulang kembali. Laura Widya tak menghiraukan asap yang mengepul dari dupa di dalam padmasana yang baru saja dinyalakan pegawai hotel. Ia dan teman-temannya terus berfoto di depan padmasana itu sambil tertawa keras.
Hasil fotonya memang bagus. Namun entah mengapa ketika berada di dalam kamar hotel tiba-tiba Laura Widya merasa merinding melihat foto di depan padmasana itu. Ada suasana mencekam di dalam kamar. Padahal Sarah teman sekamarnya tidak merasakan apa pun. Niat Laura Widya untuk mengunggah foto itu di media sosialnya ia batalkan.
Laura Widya tak habis pikir. Mengapa mendadak merasa tegang. Apakah ia salah berfoto di depan padmasana hotel? Ataukah ia dan teman-temannya yang terbahak-bahak itu adalah salah? Laura kembali teringat apa yang disampaikan Rika Kristiana gurunya, sesaat sebelum berangkat ke Bali. Apakah Laura telah melanggar etika, adat ,dan tradisi?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggodanya hingga sampai ke kamar hotel. Menjelang tidur, Laura dikejutkan oleh bayangan sosok tak kasat mata yang ada di hadapannya. Wajahnya sangat menyeramkan. Mata makhluk itu seperti berlubang. Giginya bertaring besar. Kepalanya botak. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuh Laura. Ia menjerit ketakutan.
“Ada apa, Laura..?” tanya Sarah teman kamarnya kaget.
“Ada makhluk menyeramkan..,” jawab Laura sambil menggigil ketakutan.
“Mana..???” tanya Sarah penasaran, karena ia tak melihat apa pun.
Laura Widya hanya menunjuk satu tempat di pojok kamar hotel. Namun Sarah tak melihat siapa pun. Suasana kamar hotel menjadi mencekam. Tiba-tiba terdengar suara gamelan Bali bertalu-talu di kamar hotel. Mereka meremang, merasakan seram. Keringat dingin mengucur di dahi Sarah. Sementara Laura menutupi wajahnya dengan bantal. Ia ketakutan melihat wajah seram makhluk halus di pojok kamar hotel.
Mereka berdua menangis. Laura berteriak minta ampun. Sarah membaca doa pengusir makhluk gaib. Tak berapa lama tercium bau kayu cendana. Wangi menebar ke seluruh ruangan kamar. Berbarengan dengan itu, makhluk menyeramkan hilang dalam pandangan Laura. Mereka sedikit lega, meski hingga larut malam mereka sulit untuk tidur.
***
Rombongan study tour SMA yang dipimpin Rika Kristiana telah kembali ke kotanya. Tiga hari dua malam mereka berwisata ke Bali. Suasana ceria dirasakan para murid setelah mereka kembali ke sekolah. Semua memamerkan foto-foto selama piknik di Bali.
Tidak demikian dengan Soni Antara dan Laura Widya. Suasana mencekam masih mereka rasakan. Pengalaman misterius dan mengerikan selama di Bali masih mereka rasakan hingga pulang ke rumah masing-masing.
Menjelang senja, Soni Antara merasa ada sesuatu yang tak beres. Badannya terasa meriang. Suhu tubuhnya tinggi. Ia menggigil. Padahal sebenarnya ia merasa sehat. Soni berbaring di tempat tidur kamarnya. Entah dari mana datangnya, terdengar suara gamelan Bali di kamarnya. Soni tambah menggigil dan merinding ketakutan.
Sosok makhluk menyeramkan yang dilihat dalam mimpi sewaktu di kamar hotel di Bali muncul kembali dalam bayangannya. Makhluk itu menari-nari di depan Soni. Ia berteriak ketakutan. Tubuhnya tiba-tiba kaku. Makhluk itu seolah merasuk ke dalam tubuhnya. Soni menggeram keras. Ia kerasukan makhluk gaib.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya ibu Soni kaget mendengar suara keras dari kamar anaknya.
Soni Antara tidak menjawab. Matanya kosong menatap ibunya sambil terbaring di tempat tidur. Sementara tangannya bergerak seperti orang sedang menari. Ibu Soni ketakutan. Ia segera menelepon Rika Kristiana, guru yang mendampingi anaknya piknik ke Bali.
Mendengar cerita orang tua muridnya, Rika Kristiana kaget. Ia segera menghubungi Pak Kusmedi, pensiunan dosen yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Pak Kusmedi pernah lama tinggal di Bali. Rika Kristiana menduga Soni Antara diikuti makhluk gaib dari Bali. Ia berharap pak Kusmedi dapat mengatasi masalah yang dihadapi muridnya.
Rika Kristiana dan Pak Kusmedi segera mendatangi rumah Soni Antara. Pak Kusmedi membawa beberapa perlengkapan seperti dupa merah dan segehan manca warna, yaitu berupa sesaji nasi lima warna: putih, merah, kuning, hitam, dan campuran. Mereka melihat Soni terbaring di tempat tidur sambil matanya melolot, tangannya menari-nari.
“Ampurayang titiang, sira niki sane rauh?” tanya Pak Kusmedi pelan kepada Soni dengan menggunakan bahasa Bali, yang artinya “Maafkan kami, siapa ini yang datang merasuk?”.
Soni Antara komat-kamit mengucapkan kata yang tak jelas bagi orang tuanya dan Rika Kristiana. Pak Kusmedi hanya mengangguk-angguk. Sesekali ia berkata :”Inggih”.
“Ananda Soni kerasukan rangda, makhluk halus yang ada di Bali,” ujar Pak Kusmedi kepada ibu Soni dan Rika Kristiana.
Pak Kusmedi membakar dupa merah aroma cempaka tiga batang. Ia menaruh segehan manca warna di depan pintu masuk pekarangan rumah Soni. Kemudian ia berbisik di telinga Soni, meminta agar rangda yang telah merasuki Soni kembali ke asalnya, Bali.
Wajah Soni Antara tampak tegang. Tangan dan kakinya menggelinjang. Ia menggeram. Suaranya begitu keras. Tidak begitu lama seperti terdengar suara letusan di pekarangan rumah Soni. Berbarengan dengan itu tubuh Soni menjadi lemas. Makhluk halus yang merasuk ke tubuh Soni telah kembali ke alamnya.
Suasana belum mereda. Rika Kristiana kembali mendapat telepon dari orang tua Laura Widya. Dikabarkan Laura kerasukan makhluk halus. Rika Kristiana tampak panik. Ia segera meminta Pak Kusmedi untuk segera mendatangi rumah Laura.
Sesampai di rumah Laura, mereka mendapati Laura sedang duduk di kursi ruang tamu dengan wajah yang meringis. Matanya melotot memandangi Rika Kristiana dan Pak Kusmedi yang datang. Lidah Laura menjulur ke luar. Suasana sangat mencekam. Rika Kristiana merinding ketakutan. Pak Kusmedi kembali bertanya, siapa yang merasuki Laura. Terdengar suara Laura yang meraung.
“Ananda Laura kerasukan celuluk, makhluk halus yang ada di halaman hotel di Bali,” kata Pak Kusmedi kepada orang tua Laura.
Segera saja Pak Kusmedi membakar tiga dupa merah. Berbeda dengan di rumah Soni Antara, kali ini Pak Kusmedi menyuguhkan segehan barak yang terdiri beras merah, bawang, jahe, dan garam. Segehan barak dihaturkan kepada bhuta kala agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Selain itu juga berfungsi untuk menetralkan energi negatif menjadi positif.
Diletakannya dupa dan segehan barak itu di halaman rumah Laura Widya. Beberapa saat Laura tertawa terbahak-bahak dengan raut muka yang menyeramkan. Pak Kusmedi mendekati sambil berkata pelan.
“Ngiring malih budal ke Bali,” kata Pak Kusmedi. Maksudnya, Pak Kusmedi mempersilakan celuluk yang merasuki Laura untuk kembali ke asalnya di Bali.
Laura Widya terdiam menunduk. Wajahnya tidak lagi tegang dan menyeramkan. Aroma bunga cempaka merebak di dalam rumah Laura. Semua merinding. Laura menarik napas panjang. Sesaat kemudian ia terkulai lemas. Semua merasa lega. Makhluk gaib yang mengikuti Laura telah pulang ke asalnya.
Hari berkutnya, Rika Kristiana berada di depan kelas. Ia membahas kejadian yang menimpa Soni Antara dan Laura Widya. Dikatakannya tentang arti penting peribahasa di mana bumi di pijak, di sana langit dijunjung. Setiap orang harus menghormati adat, tradisi, dan budaya suatu masyarakat.
Soni dan Laura yang kebetulan berada dalam kelas yang sama mengangguk, mencoba memahami apa yang dikatakan Rika Kristiana. Mereka mengakui kesalahan, meski sebenarnya mereka tidak sengaja melakukan hal itu. Mereka tetap masih ingin ke Bali, suatu saat. Tentu saja dengan lebih berhati-hati menjaga sikap dan perilaku mereka. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole































