1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

Chandra Manikan by Chandra Manikan
June 10, 2026
in Esai
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka kesalahpahaman akan selesai. Namun masalahnya tidak sesederhana itu, yang sebenarnya terjadi adalah benturan dua logika yang berbeda secara mendasar: cara pemerintah dan komunitas memahami ruang, kekuasaan, dan partisipasi memang tidak pernah benar-benar berada dalam kerangka yang sama.

Pemerintah bekerja dalam logika administratif. Ruang dipahami sebagai objek yang harus ditata, dikendalikan, dan diatur melalui prosedur formal. Kebijakan diproduksi melalui mekanisme birokratis, dan partisipasi ditempatkan sebagai tahapan yang harus dilalui, lebih sebagai syarat legitimasi daripada arena perundingan. Dalam kerangka ini, partisipasi bersifat terukur, terdokumentasi, dan tetap berada dalam kendali institusi. Ia hadir sebagai konsultasi, bukan sebagai distribusi kekuasaan.

Sebaliknya, komunitas bekerja dalam logika yang lebih eksperimental dan kolektif. Mereka memproduksi ruang melalui praktik: diskusi, pertunjukan, riset alternatif, hingga gerakan sosial. Bagi mereka, ruang bukan sekadar lokasi fisik atau forum resmi, melainkan pengalaman hidup yang terus dinegosiasikan. Perspektif ini tidak selalu kompatibel dengan struktur birokrasi yang menuntut kepastian, stabilitas, dan prosedural.

Di sinilah ketegangan bermula, ketika pemerintah membuka ruang partisipasi, yang sering terjadi adalah partisipasi tanpa kekuasaan. Usulan masyarakat didengar, tetapi tidak menentukan. Aspirasi dikumpulkan, tetapi tidak mengikat. Ketika usulan hanya dijadikan bahan pertimbangan tanpa distribusi kewenangan nyata, partisipasi berubah menjadi simbol legitimasi, bukan transformasi kekuasaan.

Dalam kerangka Sherry Arnstein, kondisi ini berada pada level tokenism, di mana partisipasi hadir secara formal, tetapi tidak disertai distribusi kewenangan yang nyata. Dengan kata lain, masyarakat diundang untuk berbicara, tetapi tidak untuk memutuskan. Masalah ini, sudah dimulai sejak pemerintah membuka ruang partisipasi itu sendiri.

Seperti yang diingatkan John Gaventa, kekuasaan tidak hanya bekerja melalui apa yang terlihat, tetapi juga melalui apa yang tersembunyi dan tidak disadari. Dalam banyak kasus, arah kebijakan telah ditentukan sebelum ruang partisipasi dibuka. Agenda sudah dibentuk, batas diskusi sudah ditetapkan. Partisipasi kemudian menjadi ritual administratif: dilakukan, dicatat, dan digunakan untuk memperkuat legitimasi.

Di sisi lain, komunitas tidak tinggal diam. Mereka menciptakan ruangnya sendiri; ruang alternatif yang otonom, fleksibel, dan seringkali lebih hidup. Namun ruang ini berjalan paralel dengan ruang negara, tanpa pernah benar-benar bertemu dalam satu arena yang setara. Apa yang terjadi kemudian adalah fragmentasi. Negara memiliki ruangnya sendiri. Komunitas memiliki ruang tandingannya. Keduanya berjalan berdampingan, tetapi tidak pernah bernegosiasi dalam distribusi kuasa yang nyata.

Dalam perspektif Henri Lefebvre, ini bisa dibaca sebagai konflik produksi ruang. Negara memproduksi ruang yang terkonsepsi: dirancang, dirasionalisasi, dan diatur. Sementara komunitas memproduksi ruang yang dihidupi: dialami, dirasakan, dan dijalankan dalam praktik sehari-hari. Ketika ruang yang dirancang negara (dalam hal ini dibaca sebagai pemerintah) tidak memberi tempat bagi ruang yang dihidupi masyarakat, yang muncul bukan sekadar perbedaan pandangan, tapi segregasi politik. Dari sini, muncul rasa saling curiga yang tidak terhindarkan.

Pemerintah melihat komunitas sebagai tidak terstruktur dan sporadis. Komunitas melihat pemerintah sebagai kaku, hierarkis, dan hegemonik. Namun ketegangan ini bukan semata kegagalan dialog. Ia adalah hasil dari desain struktur kekuasaan yang tidak memungkinkan redistribusi otoritas. Dengan demikian, problem utama bukan absennya partisipasi, melainkan absennya transformasi kekuasaan.

Dalam konteks ini, gagasan co-production sering ditawarkan sebagai jalan keluar. Ia menjanjikan hubungan yang lebih setara antara negara dan warga, di mana kebijakan tidak hanya dibuat untuk masyarakat, tetapi bersama masyarakat. Secara ideal, co-production dapat menjadi infrastruktur politik baru: memperkuat kapasitas warga, membuka ruang negosiasi, dan menciptakan bentuk kewarganegaraan yang lebih aktif.

Namun pertanyaannya: apakah itu benar-benar terjadi?

Pengalaman di berbagai kota, termasuk di Denpasar, menunjukkan bahwa praktik yang disebut partisipatif seringkali berhenti pada level pelibatan, bukan pembagian kuasa. Inisiatif seperti platform pelaporan publik atau forum warga memang membuka kanal komunikasi, tetapi kontrol atas agenda, prosedur, dan keputusan tetap berada di tangan negara.

Di titik ini, co-production berisiko menjadi perpanjangan dari logika administratif yang sama, hanya dengan wajah yang lebih partisipatif. Kesenjangan ini muncul dari perbedaan rasionalitas. Pemerintah bekerja dalam logika administratif: menjaga stabilitas, mengikuti prosedur, dan menghindari risiko politik. Komunitas bergerak dalam logika sosial: merespons pengalaman langsung, menuntut perubahan konkret, dan memperjuangkan hak.

Selama kedua logika ini tidak dipertemukan dalam satu arena yang setara, maka upaya kolaborasi akan terus menemui batasnya. Bisa jadi, persoalan utamanya bukan bagaimana meningkatkan partisipasi, tetapi bagaimana mendistribusikan kekuasaan.

Karena selama ruang yang dibuka hanya bersifat simbolik, dan selama keputusan tetap terkunci dalam struktur yang sama, maka perbedaan ini akan terus direproduksi. Demokrasi lokal, dalam konteks ini, tampak seperti rumah yang pintunya terbuka, tetapi kuncinya tidak pernah benar-benar berpindah tangan. [T]

Penulis: Chandra Manikan
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunikasikomunitaspemerintahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

Next Post

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

Chandra Manikan

Chandra Manikan

Seorang warga Indonesia yang gemar mengulik wacana, identitas, dan bagaimana kuasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari. IG: @pcmpw

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co