21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

Chandra Manikan by Chandra Manikan
June 10, 2026
in Esai
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka kesalahpahaman akan selesai. Namun masalahnya tidak sesederhana itu, yang sebenarnya terjadi adalah benturan dua logika yang berbeda secara mendasar: cara pemerintah dan komunitas memahami ruang, kekuasaan, dan partisipasi memang tidak pernah benar-benar berada dalam kerangka yang sama.

Pemerintah bekerja dalam logika administratif. Ruang dipahami sebagai objek yang harus ditata, dikendalikan, dan diatur melalui prosedur formal. Kebijakan diproduksi melalui mekanisme birokratis, dan partisipasi ditempatkan sebagai tahapan yang harus dilalui, lebih sebagai syarat legitimasi daripada arena perundingan. Dalam kerangka ini, partisipasi bersifat terukur, terdokumentasi, dan tetap berada dalam kendali institusi. Ia hadir sebagai konsultasi, bukan sebagai distribusi kekuasaan.

Sebaliknya, komunitas bekerja dalam logika yang lebih eksperimental dan kolektif. Mereka memproduksi ruang melalui praktik: diskusi, pertunjukan, riset alternatif, hingga gerakan sosial. Bagi mereka, ruang bukan sekadar lokasi fisik atau forum resmi, melainkan pengalaman hidup yang terus dinegosiasikan. Perspektif ini tidak selalu kompatibel dengan struktur birokrasi yang menuntut kepastian, stabilitas, dan prosedural.

Di sinilah ketegangan bermula, ketika pemerintah membuka ruang partisipasi, yang sering terjadi adalah partisipasi tanpa kekuasaan. Usulan masyarakat didengar, tetapi tidak menentukan. Aspirasi dikumpulkan, tetapi tidak mengikat. Ketika usulan hanya dijadikan bahan pertimbangan tanpa distribusi kewenangan nyata, partisipasi berubah menjadi simbol legitimasi, bukan transformasi kekuasaan.

Dalam kerangka Sherry Arnstein, kondisi ini berada pada level tokenism, di mana partisipasi hadir secara formal, tetapi tidak disertai distribusi kewenangan yang nyata. Dengan kata lain, masyarakat diundang untuk berbicara, tetapi tidak untuk memutuskan. Masalah ini, sudah dimulai sejak pemerintah membuka ruang partisipasi itu sendiri.

Seperti yang diingatkan John Gaventa, kekuasaan tidak hanya bekerja melalui apa yang terlihat, tetapi juga melalui apa yang tersembunyi dan tidak disadari. Dalam banyak kasus, arah kebijakan telah ditentukan sebelum ruang partisipasi dibuka. Agenda sudah dibentuk, batas diskusi sudah ditetapkan. Partisipasi kemudian menjadi ritual administratif: dilakukan, dicatat, dan digunakan untuk memperkuat legitimasi.

Di sisi lain, komunitas tidak tinggal diam. Mereka menciptakan ruangnya sendiri; ruang alternatif yang otonom, fleksibel, dan seringkali lebih hidup. Namun ruang ini berjalan paralel dengan ruang negara, tanpa pernah benar-benar bertemu dalam satu arena yang setara. Apa yang terjadi kemudian adalah fragmentasi. Negara memiliki ruangnya sendiri. Komunitas memiliki ruang tandingannya. Keduanya berjalan berdampingan, tetapi tidak pernah bernegosiasi dalam distribusi kuasa yang nyata.

Dalam perspektif Henri Lefebvre, ini bisa dibaca sebagai konflik produksi ruang. Negara memproduksi ruang yang terkonsepsi: dirancang, dirasionalisasi, dan diatur. Sementara komunitas memproduksi ruang yang dihidupi: dialami, dirasakan, dan dijalankan dalam praktik sehari-hari. Ketika ruang yang dirancang negara (dalam hal ini dibaca sebagai pemerintah) tidak memberi tempat bagi ruang yang dihidupi masyarakat, yang muncul bukan sekadar perbedaan pandangan, tapi segregasi politik. Dari sini, muncul rasa saling curiga yang tidak terhindarkan.

Pemerintah melihat komunitas sebagai tidak terstruktur dan sporadis. Komunitas melihat pemerintah sebagai kaku, hierarkis, dan hegemonik. Namun ketegangan ini bukan semata kegagalan dialog. Ia adalah hasil dari desain struktur kekuasaan yang tidak memungkinkan redistribusi otoritas. Dengan demikian, problem utama bukan absennya partisipasi, melainkan absennya transformasi kekuasaan.

Dalam konteks ini, gagasan co-production sering ditawarkan sebagai jalan keluar. Ia menjanjikan hubungan yang lebih setara antara negara dan warga, di mana kebijakan tidak hanya dibuat untuk masyarakat, tetapi bersama masyarakat. Secara ideal, co-production dapat menjadi infrastruktur politik baru: memperkuat kapasitas warga, membuka ruang negosiasi, dan menciptakan bentuk kewarganegaraan yang lebih aktif.

Namun pertanyaannya: apakah itu benar-benar terjadi?

Pengalaman di berbagai kota, termasuk di Denpasar, menunjukkan bahwa praktik yang disebut partisipatif seringkali berhenti pada level pelibatan, bukan pembagian kuasa. Inisiatif seperti platform pelaporan publik atau forum warga memang membuka kanal komunikasi, tetapi kontrol atas agenda, prosedur, dan keputusan tetap berada di tangan negara.

Di titik ini, co-production berisiko menjadi perpanjangan dari logika administratif yang sama, hanya dengan wajah yang lebih partisipatif. Kesenjangan ini muncul dari perbedaan rasionalitas. Pemerintah bekerja dalam logika administratif: menjaga stabilitas, mengikuti prosedur, dan menghindari risiko politik. Komunitas bergerak dalam logika sosial: merespons pengalaman langsung, menuntut perubahan konkret, dan memperjuangkan hak.

Selama kedua logika ini tidak dipertemukan dalam satu arena yang setara, maka upaya kolaborasi akan terus menemui batasnya. Bisa jadi, persoalan utamanya bukan bagaimana meningkatkan partisipasi, tetapi bagaimana mendistribusikan kekuasaan.

Karena selama ruang yang dibuka hanya bersifat simbolik, dan selama keputusan tetap terkunci dalam struktur yang sama, maka perbedaan ini akan terus direproduksi. Demokrasi lokal, dalam konteks ini, tampak seperti rumah yang pintunya terbuka, tetapi kuncinya tidak pernah benar-benar berpindah tangan. [T]

Penulis: Chandra Manikan
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunikasikomunitaspemerintahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

Next Post

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

Chandra Manikan

Chandra Manikan

Seorang warga Indonesia yang gemar mengulik wacana, identitas, dan bagaimana kuasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari. IG: @pcmpw

Related Posts

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails
Next Post

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co