12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

Chusmeru by Chusmeru
August 12, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga generasi 81 ini turut merayakan. Namun benarkah kaum muda Indonesia sudah merasakan 81 tahun kemerdekaan? Generasi 81 ini merdeka dari apa?

Kakek buyut mereka 81 tahun yang lalu mengangkat bambu runcing dan berteriak “Merdeka !”. Kini, 81 tahun kemudian kaum muda mengangkat ponsel mereka dan mengetik di kolom komentar: “Kerja susah, harga-harga mahal, kapan merdekanya ?”.

Kakek buyut dan generasi setelah 81 merdeka memang berbeda zaman. Tetapi mereka mempunyai pertanyaan yang sama: “Kapan benar-benar merdeka?”. Bagi para pejuang 1945, merdeka artinya hanya satu: usir penjajah. Bendera Belanda diturunkan, bendera Merah Putih dinaikkan. Selesai.

Generasi 81 penjajahnya bukan lagi serdadu Belanda. Penjajahnya tidak datang dari kapal perang maupun pesawat tempur, tetapi dari notifikasi. Penjajah mereka adalah notifikasi tawaran promo barang, pinjaman online, dan kuota habis. Dan itu hampir terjadi setiap hari.

Penjajah Baru Generasi 81

Generasi 81 tahun merdeka bukan hanya dijajah teknologi dan media sosial. Mereka juga berhadapan dengan penjajah baru yang bernama ekonomi. Betapa tidak. Upah minimum kabupaten / kota (UMK) di beberapa daerah berkisar antara 2,5 – 3,5 juta rupiah. Untuk biaya kos 800 ribu, makan sebulan 1,2 juta, sisa sekitar 500 ribu hingga satu juta untuk transpor dan internet. Lantas kapan mau menabung, menikah, dan membeli rumah? Hanya ada dalam mimpi.

Penjajah baru generasi 81 bernama masa depan. Mereka yang baru lulus kuliah harus melamar pekerjaan di puluhan instansi dan perusahaan, dan jika beruntung hanya satu yang memanggilnya. Itu pun dengan catatan: magang dulu 6 bulan tanpa digaji, atau kontrak 3 bulan dan bisa diperpanjang. Masa depan mereka digantung. Mereka tidak dapat merencanakan pernikahan, cicilan rumah, bahkan merencanakan masa depan.

Generasi 81 juga rentan terhadap penjajahan mental. Mereka dituntut untuk produktif. Mereka harus bekerja keras, harus mampu menjadi kreator konten, mesti piawai investasi, harus sehat mental. Tetapi ketika mereka capai dan butuh istirahat, mereka dikatakan sebagai generasi stroberi. Mereka mungkin merdeka, namun merdeka dalam kecemasan.

Sebenarnya generasi 81 tidak terlalu banyak menuntut dari negara yang telah merdeka lebih dari 10 windu ini. Mereka hanya ingin harga pangan dan papan murah, pendidikan dan kesehatan yang terjangkau, sehingga mereka tidak perlu memilih antara makan dan membayar biaya kuliah. Merdeka bagi generasi 81 adalah kemudahan mendapat pekerjaan tanpa harus bersaing dengan nepotisme.

Untuk sebuah negara, 81 tahun merdeka adalah usia yang tua. Namun masih terlalu muda untuk sebuah mimpi bagi generasi milenial, Z, dan Alpha. Mereka tidak ingin melupakan sejarah dan menghormati darah yang tumpah tahun 1945. Namun menghormati sejarah bukan berarti mereka harus mengulang penderitaan.

Identitas yang Tenggelam

Masalah yang dihadapi generasi kekinian setelah 81 tahun merdeka bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga identitas mereka yang tenggelam lantaran lupa pada akar budaya. Anak-anak Gen Alpha lebih hafal “Skibidi Toilet” ketimbang nama-nama punakawan dalam pewayangan. Bahasa daerah sebagai gudang kearifan mulai ditinggalkan.

Chart musik dan film dipenuhi produk dari mancanegara. Film Indonesia kalau pun laku pasti dibumbui unsur horor. Padahal cerita rakyat barangkali mempunyai nilai budaya sendiri yang lebih dalam dibanding negara lain. Tapi begitulah. Identitas generasi 81 tenggelam dalam hiruk-pikuk budaya lain.

Mereka mungkin tidak membenci identitas dan budaya sendiri. Mereka hanya tidak diajari untuk bangga pada budaya sendiri. Sekolah mengajarkan IT dan AI, namun lupa mengajarkan mengapa beragam tari tradisional memiliki nilai dan filosofi yang adiluhung. Alhasil, mereka menjadi generasi “tanpa rumah budaya”; menumpang pada budaya orang lain sambil mencari jati diri sendiri.

Identitas yang tenggelam tentu saja berbahaya. Negara tanpa identitas ibarat perusahaan tanpa brand. Mudah ditiru dan gampang dijual. Generasi 81 menjadi mudah dipecah ketika lupa pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Mereka menjadi generasi yang berisik karena perbedaan pilihan politik, suku, dan agama.

Generasi yang identitasnya tenggelam juga mudah dijajah ulang secara ekonomi maupun teknologi. Begitu banyak aplikasi, musik, film, hingga fesyen merupakan produk impor. Generasi yang telah merdeka 81 tahun menjadi pasar bagi negara lain, bukan sebagai pemain.

Tanpa identitas yang jelas, generasi 81 akan mudah menyerah. Jika mereka tidak bangga menjadi bangsa Indonesia, maka mereka tidak akan mau berjuang untuk apa pun. Bahkan anak muda kini banyak yang lebih memilih bekerja ke luar negeri. Bukan hanya karena identitas yang tenggelam, tetapi tidak ada yang dapat dibanggakan bekerja di negeri sendiri.

Apalagi dalam beberapa kesempatan Presiden Prabowo Subianto kerap berujar mempersilakan masyarakat Indonesia untuk mencari negara lain bila merasa masa depan Indonesia suram. Alih-alih membuat bangga anak muda Indonesia, pernyataan presiden tersebut justru akan semakin menjadikan bangsa ini tenggelam dalam identitasnya.

Bagaimana anak-anak muda akan merasa bangga menjadi bangsa Indonesia jika presiden mereka mengatakan bahwa kecerdasan seseorang bukan dari sekolah. Lantas buat apa didirikan Sekolah Rakyat dan Universitas Republik Indonesia jika kecerdasan tidak dihasilkan di sekolah? Kebanggaan macam apa yang akan diperoleh anak-anak muda yang masih berada di bangku sekolah dan kuliah?

Identitas generasi 81 perlu diselamatkan. Bangku sekolah dan ruang kuliah jangan hanya dijejali hafalan dan teori. Ajak anak muda ke museum, ke desa, ke sanggar-sanggar seni. Dana kebudayaan jangan sampai kalah dengan dana influencer. Anak muda harus dibuat bangga. Beri mereka dana untuk membuat film, musik, atau game yang berlatar budaya Indonesia agar tidak tenggelam identitasnya.

Sudah pasti, generasi 81 tidak lebih buruk dari generasi tahun 1945 maupun generasi gerakan reformasi. Mereka hanya terlahir di era yang berbeda. Merdeka 81 tahun bukan hanya soal upacara dan pengibaran bendera.

Tugas pemerintah saat ini adalah memberi alasan generasi 81 untuk bangga. Beri mereka cerita untuk diwariskan. Dan beri mereka jati diri agar tahu untuk siapa mereka berjuang. Dirgahayu Republik Indonesia.  [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: HUT Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

Next Post

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
0
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

Read moreDetails

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
0
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

Read moreDetails

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

by Angga Wijaya
August 11, 2026
0
Telenovela

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

Read moreDetails

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

Read moreDetails

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails
Next Post
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka
Esai

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

by Agung Sudarsa
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co