24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

Chusmeru by Chusmeru
August 12, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga generasi 81 ini turut merayakan. Namun benarkah kaum muda Indonesia sudah merasakan 81 tahun kemerdekaan? Generasi 81 ini merdeka dari apa?

Kakek buyut mereka 81 tahun yang lalu mengangkat bambu runcing dan berteriak “Merdeka !”. Kini, 81 tahun kemudian kaum muda mengangkat ponsel mereka dan mengetik di kolom komentar: “Kerja susah, harga-harga mahal, kapan merdekanya ?”.

Kakek buyut dan generasi setelah 81 merdeka memang berbeda zaman. Tetapi mereka mempunyai pertanyaan yang sama: “Kapan benar-benar merdeka?”. Bagi para pejuang 1945, merdeka artinya hanya satu: usir penjajah. Bendera Belanda diturunkan, bendera Merah Putih dinaikkan. Selesai.

Generasi 81 penjajahnya bukan lagi serdadu Belanda. Penjajahnya tidak datang dari kapal perang maupun pesawat tempur, tetapi dari notifikasi. Penjajah mereka adalah notifikasi tawaran promo barang, pinjaman online, dan kuota habis. Dan itu hampir terjadi setiap hari.

Penjajah Baru Generasi 81

Generasi 81 tahun merdeka bukan hanya dijajah teknologi dan media sosial. Mereka juga berhadapan dengan penjajah baru yang bernama ekonomi. Betapa tidak. Upah minimum kabupaten / kota (UMK) di beberapa daerah berkisar antara 2,5 – 3,5 juta rupiah. Untuk biaya kos 800 ribu, makan sebulan 1,2 juta, sisa sekitar 500 ribu hingga satu juta untuk transpor dan internet. Lantas kapan mau menabung, menikah, dan membeli rumah? Hanya ada dalam mimpi.

Penjajah baru generasi 81 bernama masa depan. Mereka yang baru lulus kuliah harus melamar pekerjaan di puluhan instansi dan perusahaan, dan jika beruntung hanya satu yang memanggilnya. Itu pun dengan catatan: magang dulu 6 bulan tanpa digaji, atau kontrak 3 bulan dan bisa diperpanjang. Masa depan mereka digantung. Mereka tidak dapat merencanakan pernikahan, cicilan rumah, bahkan merencanakan masa depan.

Generasi 81 juga rentan terhadap penjajahan mental. Mereka dituntut untuk produktif. Mereka harus bekerja keras, harus mampu menjadi kreator konten, mesti piawai investasi, harus sehat mental. Tetapi ketika mereka capai dan butuh istirahat, mereka dikatakan sebagai generasi stroberi. Mereka mungkin merdeka, namun merdeka dalam kecemasan.

Sebenarnya generasi 81 tidak terlalu banyak menuntut dari negara yang telah merdeka lebih dari 10 windu ini. Mereka hanya ingin harga pangan dan papan murah, pendidikan dan kesehatan yang terjangkau, sehingga mereka tidak perlu memilih antara makan dan membayar biaya kuliah. Merdeka bagi generasi 81 adalah kemudahan mendapat pekerjaan tanpa harus bersaing dengan nepotisme.

Untuk sebuah negara, 81 tahun merdeka adalah usia yang tua. Namun masih terlalu muda untuk sebuah mimpi bagi generasi milenial, Z, dan Alpha. Mereka tidak ingin melupakan sejarah dan menghormati darah yang tumpah tahun 1945. Namun menghormati sejarah bukan berarti mereka harus mengulang penderitaan.

Identitas yang Tenggelam

Masalah yang dihadapi generasi kekinian setelah 81 tahun merdeka bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga identitas mereka yang tenggelam lantaran lupa pada akar budaya. Anak-anak Gen Alpha lebih hafal “Skibidi Toilet” ketimbang nama-nama punakawan dalam pewayangan. Bahasa daerah sebagai gudang kearifan mulai ditinggalkan.

Chart musik dan film dipenuhi produk dari mancanegara. Film Indonesia kalau pun laku pasti dibumbui unsur horor. Padahal cerita rakyat barangkali mempunyai nilai budaya sendiri yang lebih dalam dibanding negara lain. Tapi begitulah. Identitas generasi 81 tenggelam dalam hiruk-pikuk budaya lain.

Mereka mungkin tidak membenci identitas dan budaya sendiri. Mereka hanya tidak diajari untuk bangga pada budaya sendiri. Sekolah mengajarkan IT dan AI, namun lupa mengajarkan mengapa beragam tari tradisional memiliki nilai dan filosofi yang adiluhung. Alhasil, mereka menjadi generasi “tanpa rumah budaya”; menumpang pada budaya orang lain sambil mencari jati diri sendiri.

Identitas yang tenggelam tentu saja berbahaya. Negara tanpa identitas ibarat perusahaan tanpa brand. Mudah ditiru dan gampang dijual. Generasi 81 menjadi mudah dipecah ketika lupa pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Mereka menjadi generasi yang berisik karena perbedaan pilihan politik, suku, dan agama.

Generasi yang identitasnya tenggelam juga mudah dijajah ulang secara ekonomi maupun teknologi. Begitu banyak aplikasi, musik, film, hingga fesyen merupakan produk impor. Generasi yang telah merdeka 81 tahun menjadi pasar bagi negara lain, bukan sebagai pemain.

Tanpa identitas yang jelas, generasi 81 akan mudah menyerah. Jika mereka tidak bangga menjadi bangsa Indonesia, maka mereka tidak akan mau berjuang untuk apa pun. Bahkan anak muda kini banyak yang lebih memilih bekerja ke luar negeri. Bukan hanya karena identitas yang tenggelam, tetapi tidak ada yang dapat dibanggakan bekerja di negeri sendiri.

Apalagi dalam beberapa kesempatan Presiden Prabowo Subianto kerap berujar mempersilakan masyarakat Indonesia untuk mencari negara lain bila merasa masa depan Indonesia suram. Alih-alih membuat bangga anak muda Indonesia, pernyataan presiden tersebut justru akan semakin menjadikan bangsa ini tenggelam dalam identitasnya.

Bagaimana anak-anak muda akan merasa bangga menjadi bangsa Indonesia jika presiden mereka mengatakan bahwa kecerdasan seseorang bukan dari sekolah. Lantas buat apa didirikan Sekolah Rakyat dan Universitas Republik Indonesia jika kecerdasan tidak dihasilkan di sekolah? Kebanggaan macam apa yang akan diperoleh anak-anak muda yang masih berada di bangku sekolah dan kuliah?

Identitas generasi 81 perlu diselamatkan. Bangku sekolah dan ruang kuliah jangan hanya dijejali hafalan dan teori. Ajak anak muda ke museum, ke desa, ke sanggar-sanggar seni. Dana kebudayaan jangan sampai kalah dengan dana influencer. Anak muda harus dibuat bangga. Beri mereka dana untuk membuat film, musik, atau game yang berlatar budaya Indonesia agar tidak tenggelam identitasnya.

Sudah pasti, generasi 81 tidak lebih buruk dari generasi tahun 1945 maupun generasi gerakan reformasi. Mereka hanya terlahir di era yang berbeda. Merdeka 81 tahun bukan hanya soal upacara dan pengibaran bendera.

Tugas pemerintah saat ini adalah memberi alasan generasi 81 untuk bangga. Beri mereka cerita untuk diwariskan. Dan beri mereka jati diri agar tahu untuk siapa mereka berjuang. Dirgahayu Republik Indonesia.  [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: HUT Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

Next Post

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co