3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

Chusmeru by Chusmeru
August 12, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga generasi 81 ini turut merayakan. Namun benarkah kaum muda Indonesia sudah merasakan 81 tahun kemerdekaan? Generasi 81 ini merdeka dari apa?

Kakek buyut mereka 81 tahun yang lalu mengangkat bambu runcing dan berteriak “Merdeka !”. Kini, 81 tahun kemudian kaum muda mengangkat ponsel mereka dan mengetik di kolom komentar: “Kerja susah, harga-harga mahal, kapan merdekanya ?”.

Kakek buyut dan generasi setelah 81 merdeka memang berbeda zaman. Tetapi mereka mempunyai pertanyaan yang sama: “Kapan benar-benar merdeka?”. Bagi para pejuang 1945, merdeka artinya hanya satu: usir penjajah. Bendera Belanda diturunkan, bendera Merah Putih dinaikkan. Selesai.

Generasi 81 penjajahnya bukan lagi serdadu Belanda. Penjajahnya tidak datang dari kapal perang maupun pesawat tempur, tetapi dari notifikasi. Penjajah mereka adalah notifikasi tawaran promo barang, pinjaman online, dan kuota habis. Dan itu hampir terjadi setiap hari.

Penjajah Baru Generasi 81

Generasi 81 tahun merdeka bukan hanya dijajah teknologi dan media sosial. Mereka juga berhadapan dengan penjajah baru yang bernama ekonomi. Betapa tidak. Upah minimum kabupaten / kota (UMK) di beberapa daerah berkisar antara 2,5 – 3,5 juta rupiah. Untuk biaya kos 800 ribu, makan sebulan 1,2 juta, sisa sekitar 500 ribu hingga satu juta untuk transpor dan internet. Lantas kapan mau menabung, menikah, dan membeli rumah? Hanya ada dalam mimpi.

Penjajah baru generasi 81 bernama masa depan. Mereka yang baru lulus kuliah harus melamar pekerjaan di puluhan instansi dan perusahaan, dan jika beruntung hanya satu yang memanggilnya. Itu pun dengan catatan: magang dulu 6 bulan tanpa digaji, atau kontrak 3 bulan dan bisa diperpanjang. Masa depan mereka digantung. Mereka tidak dapat merencanakan pernikahan, cicilan rumah, bahkan merencanakan masa depan.

Generasi 81 juga rentan terhadap penjajahan mental. Mereka dituntut untuk produktif. Mereka harus bekerja keras, harus mampu menjadi kreator konten, mesti piawai investasi, harus sehat mental. Tetapi ketika mereka capai dan butuh istirahat, mereka dikatakan sebagai generasi stroberi. Mereka mungkin merdeka, namun merdeka dalam kecemasan.

Sebenarnya generasi 81 tidak terlalu banyak menuntut dari negara yang telah merdeka lebih dari 10 windu ini. Mereka hanya ingin harga pangan dan papan murah, pendidikan dan kesehatan yang terjangkau, sehingga mereka tidak perlu memilih antara makan dan membayar biaya kuliah. Merdeka bagi generasi 81 adalah kemudahan mendapat pekerjaan tanpa harus bersaing dengan nepotisme.

Untuk sebuah negara, 81 tahun merdeka adalah usia yang tua. Namun masih terlalu muda untuk sebuah mimpi bagi generasi milenial, Z, dan Alpha. Mereka tidak ingin melupakan sejarah dan menghormati darah yang tumpah tahun 1945. Namun menghormati sejarah bukan berarti mereka harus mengulang penderitaan.

Identitas yang Tenggelam

Masalah yang dihadapi generasi kekinian setelah 81 tahun merdeka bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga identitas mereka yang tenggelam lantaran lupa pada akar budaya. Anak-anak Gen Alpha lebih hafal “Skibidi Toilet” ketimbang nama-nama punakawan dalam pewayangan. Bahasa daerah sebagai gudang kearifan mulai ditinggalkan.

Chart musik dan film dipenuhi produk dari mancanegara. Film Indonesia kalau pun laku pasti dibumbui unsur horor. Padahal cerita rakyat barangkali mempunyai nilai budaya sendiri yang lebih dalam dibanding negara lain. Tapi begitulah. Identitas generasi 81 tenggelam dalam hiruk-pikuk budaya lain.

Mereka mungkin tidak membenci identitas dan budaya sendiri. Mereka hanya tidak diajari untuk bangga pada budaya sendiri. Sekolah mengajarkan IT dan AI, namun lupa mengajarkan mengapa beragam tari tradisional memiliki nilai dan filosofi yang adiluhung. Alhasil, mereka menjadi generasi “tanpa rumah budaya”; menumpang pada budaya orang lain sambil mencari jati diri sendiri.

Identitas yang tenggelam tentu saja berbahaya. Negara tanpa identitas ibarat perusahaan tanpa brand. Mudah ditiru dan gampang dijual. Generasi 81 menjadi mudah dipecah ketika lupa pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Mereka menjadi generasi yang berisik karena perbedaan pilihan politik, suku, dan agama.

Generasi yang identitasnya tenggelam juga mudah dijajah ulang secara ekonomi maupun teknologi. Begitu banyak aplikasi, musik, film, hingga fesyen merupakan produk impor. Generasi yang telah merdeka 81 tahun menjadi pasar bagi negara lain, bukan sebagai pemain.

Tanpa identitas yang jelas, generasi 81 akan mudah menyerah. Jika mereka tidak bangga menjadi bangsa Indonesia, maka mereka tidak akan mau berjuang untuk apa pun. Bahkan anak muda kini banyak yang lebih memilih bekerja ke luar negeri. Bukan hanya karena identitas yang tenggelam, tetapi tidak ada yang dapat dibanggakan bekerja di negeri sendiri.

Apalagi dalam beberapa kesempatan Presiden Prabowo Subianto kerap berujar mempersilakan masyarakat Indonesia untuk mencari negara lain bila merasa masa depan Indonesia suram. Alih-alih membuat bangga anak muda Indonesia, pernyataan presiden tersebut justru akan semakin menjadikan bangsa ini tenggelam dalam identitasnya.

Bagaimana anak-anak muda akan merasa bangga menjadi bangsa Indonesia jika presiden mereka mengatakan bahwa kecerdasan seseorang bukan dari sekolah. Lantas buat apa didirikan Sekolah Rakyat dan Universitas Republik Indonesia jika kecerdasan tidak dihasilkan di sekolah? Kebanggaan macam apa yang akan diperoleh anak-anak muda yang masih berada di bangku sekolah dan kuliah?

Identitas generasi 81 perlu diselamatkan. Bangku sekolah dan ruang kuliah jangan hanya dijejali hafalan dan teori. Ajak anak muda ke museum, ke desa, ke sanggar-sanggar seni. Dana kebudayaan jangan sampai kalah dengan dana influencer. Anak muda harus dibuat bangga. Beri mereka dana untuk membuat film, musik, atau game yang berlatar budaya Indonesia agar tidak tenggelam identitasnya.

Sudah pasti, generasi 81 tidak lebih buruk dari generasi tahun 1945 maupun generasi gerakan reformasi. Mereka hanya terlahir di era yang berbeda. Merdeka 81 tahun bukan hanya soal upacara dan pengibaran bendera.

Tugas pemerintah saat ini adalah memberi alasan generasi 81 untuk bangga. Beri mereka cerita untuk diwariskan. Dan beri mereka jati diri agar tahu untuk siapa mereka berjuang. Dirgahayu Republik Indonesia.  [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: HUT Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

Next Post

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails
Next Post
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co