3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

Chusmeru by Chusmeru
August 12, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga generasi 81 ini turut merayakan. Namun benarkah kaum muda Indonesia sudah merasakan 81 tahun kemerdekaan? Generasi 81 ini merdeka dari apa?

Kakek buyut mereka 81 tahun yang lalu mengangkat bambu runcing dan berteriak “Merdeka !”. Kini, 81 tahun kemudian kaum muda mengangkat ponsel mereka dan mengetik di kolom komentar: “Kerja susah, harga-harga mahal, kapan merdekanya ?”.

Kakek buyut dan generasi setelah 81 merdeka memang berbeda zaman. Tetapi mereka mempunyai pertanyaan yang sama: “Kapan benar-benar merdeka?”. Bagi para pejuang 1945, merdeka artinya hanya satu: usir penjajah. Bendera Belanda diturunkan, bendera Merah Putih dinaikkan. Selesai.

Generasi 81 penjajahnya bukan lagi serdadu Belanda. Penjajahnya tidak datang dari kapal perang maupun pesawat tempur, tetapi dari notifikasi. Penjajah mereka adalah notifikasi tawaran promo barang, pinjaman online, dan kuota habis. Dan itu hampir terjadi setiap hari.

Penjajah Baru Generasi 81

Generasi 81 tahun merdeka bukan hanya dijajah teknologi dan media sosial. Mereka juga berhadapan dengan penjajah baru yang bernama ekonomi. Betapa tidak. Upah minimum kabupaten / kota (UMK) di beberapa daerah berkisar antara 2,5 – 3,5 juta rupiah. Untuk biaya kos 800 ribu, makan sebulan 1,2 juta, sisa sekitar 500 ribu hingga satu juta untuk transpor dan internet. Lantas kapan mau menabung, menikah, dan membeli rumah? Hanya ada dalam mimpi.

Penjajah baru generasi 81 bernama masa depan. Mereka yang baru lulus kuliah harus melamar pekerjaan di puluhan instansi dan perusahaan, dan jika beruntung hanya satu yang memanggilnya. Itu pun dengan catatan: magang dulu 6 bulan tanpa digaji, atau kontrak 3 bulan dan bisa diperpanjang. Masa depan mereka digantung. Mereka tidak dapat merencanakan pernikahan, cicilan rumah, bahkan merencanakan masa depan.

Generasi 81 juga rentan terhadap penjajahan mental. Mereka dituntut untuk produktif. Mereka harus bekerja keras, harus mampu menjadi kreator konten, mesti piawai investasi, harus sehat mental. Tetapi ketika mereka capai dan butuh istirahat, mereka dikatakan sebagai generasi stroberi. Mereka mungkin merdeka, namun merdeka dalam kecemasan.

Sebenarnya generasi 81 tidak terlalu banyak menuntut dari negara yang telah merdeka lebih dari 10 windu ini. Mereka hanya ingin harga pangan dan papan murah, pendidikan dan kesehatan yang terjangkau, sehingga mereka tidak perlu memilih antara makan dan membayar biaya kuliah. Merdeka bagi generasi 81 adalah kemudahan mendapat pekerjaan tanpa harus bersaing dengan nepotisme.

Untuk sebuah negara, 81 tahun merdeka adalah usia yang tua. Namun masih terlalu muda untuk sebuah mimpi bagi generasi milenial, Z, dan Alpha. Mereka tidak ingin melupakan sejarah dan menghormati darah yang tumpah tahun 1945. Namun menghormati sejarah bukan berarti mereka harus mengulang penderitaan.

Identitas yang Tenggelam

Masalah yang dihadapi generasi kekinian setelah 81 tahun merdeka bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga identitas mereka yang tenggelam lantaran lupa pada akar budaya. Anak-anak Gen Alpha lebih hafal “Skibidi Toilet” ketimbang nama-nama punakawan dalam pewayangan. Bahasa daerah sebagai gudang kearifan mulai ditinggalkan.

Chart musik dan film dipenuhi produk dari mancanegara. Film Indonesia kalau pun laku pasti dibumbui unsur horor. Padahal cerita rakyat barangkali mempunyai nilai budaya sendiri yang lebih dalam dibanding negara lain. Tapi begitulah. Identitas generasi 81 tenggelam dalam hiruk-pikuk budaya lain.

Mereka mungkin tidak membenci identitas dan budaya sendiri. Mereka hanya tidak diajari untuk bangga pada budaya sendiri. Sekolah mengajarkan IT dan AI, namun lupa mengajarkan mengapa beragam tari tradisional memiliki nilai dan filosofi yang adiluhung. Alhasil, mereka menjadi generasi “tanpa rumah budaya”; menumpang pada budaya orang lain sambil mencari jati diri sendiri.

Identitas yang tenggelam tentu saja berbahaya. Negara tanpa identitas ibarat perusahaan tanpa brand. Mudah ditiru dan gampang dijual. Generasi 81 menjadi mudah dipecah ketika lupa pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Mereka menjadi generasi yang berisik karena perbedaan pilihan politik, suku, dan agama.

Generasi yang identitasnya tenggelam juga mudah dijajah ulang secara ekonomi maupun teknologi. Begitu banyak aplikasi, musik, film, hingga fesyen merupakan produk impor. Generasi yang telah merdeka 81 tahun menjadi pasar bagi negara lain, bukan sebagai pemain.

Tanpa identitas yang jelas, generasi 81 akan mudah menyerah. Jika mereka tidak bangga menjadi bangsa Indonesia, maka mereka tidak akan mau berjuang untuk apa pun. Bahkan anak muda kini banyak yang lebih memilih bekerja ke luar negeri. Bukan hanya karena identitas yang tenggelam, tetapi tidak ada yang dapat dibanggakan bekerja di negeri sendiri.

Apalagi dalam beberapa kesempatan Presiden Prabowo Subianto kerap berujar mempersilakan masyarakat Indonesia untuk mencari negara lain bila merasa masa depan Indonesia suram. Alih-alih membuat bangga anak muda Indonesia, pernyataan presiden tersebut justru akan semakin menjadikan bangsa ini tenggelam dalam identitasnya.

Bagaimana anak-anak muda akan merasa bangga menjadi bangsa Indonesia jika presiden mereka mengatakan bahwa kecerdasan seseorang bukan dari sekolah. Lantas buat apa didirikan Sekolah Rakyat dan Universitas Republik Indonesia jika kecerdasan tidak dihasilkan di sekolah? Kebanggaan macam apa yang akan diperoleh anak-anak muda yang masih berada di bangku sekolah dan kuliah?

Identitas generasi 81 perlu diselamatkan. Bangku sekolah dan ruang kuliah jangan hanya dijejali hafalan dan teori. Ajak anak muda ke museum, ke desa, ke sanggar-sanggar seni. Dana kebudayaan jangan sampai kalah dengan dana influencer. Anak muda harus dibuat bangga. Beri mereka dana untuk membuat film, musik, atau game yang berlatar budaya Indonesia agar tidak tenggelam identitasnya.

Sudah pasti, generasi 81 tidak lebih buruk dari generasi tahun 1945 maupun generasi gerakan reformasi. Mereka hanya terlahir di era yang berbeda. Merdeka 81 tahun bukan hanya soal upacara dan pengibaran bendera.

Tugas pemerintah saat ini adalah memberi alasan generasi 81 untuk bangga. Beri mereka cerita untuk diwariskan. Dan beri mereka jati diri agar tahu untuk siapa mereka berjuang. Dirgahayu Republik Indonesia.  [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: HUT Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

Next Post

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co