14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

Chusmeru by Chusmeru
August 12, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga generasi 81 ini turut merayakan. Namun benarkah kaum muda Indonesia sudah merasakan 81 tahun kemerdekaan? Generasi 81 ini merdeka dari apa?

Kakek buyut mereka 81 tahun yang lalu mengangkat bambu runcing dan berteriak “Merdeka !”. Kini, 81 tahun kemudian kaum muda mengangkat ponsel mereka dan mengetik di kolom komentar: “Kerja susah, harga-harga mahal, kapan merdekanya ?”.

Kakek buyut dan generasi setelah 81 merdeka memang berbeda zaman. Tetapi mereka mempunyai pertanyaan yang sama: “Kapan benar-benar merdeka?”. Bagi para pejuang 1945, merdeka artinya hanya satu: usir penjajah. Bendera Belanda diturunkan, bendera Merah Putih dinaikkan. Selesai.

Generasi 81 penjajahnya bukan lagi serdadu Belanda. Penjajahnya tidak datang dari kapal perang maupun pesawat tempur, tetapi dari notifikasi. Penjajah mereka adalah notifikasi tawaran promo barang, pinjaman online, dan kuota habis. Dan itu hampir terjadi setiap hari.

Penjajah Baru Generasi 81

Generasi 81 tahun merdeka bukan hanya dijajah teknologi dan media sosial. Mereka juga berhadapan dengan penjajah baru yang bernama ekonomi. Betapa tidak. Upah minimum kabupaten / kota (UMK) di beberapa daerah berkisar antara 2,5 – 3,5 juta rupiah. Untuk biaya kos 800 ribu, makan sebulan 1,2 juta, sisa sekitar 500 ribu hingga satu juta untuk transpor dan internet. Lantas kapan mau menabung, menikah, dan membeli rumah? Hanya ada dalam mimpi.

Penjajah baru generasi 81 bernama masa depan. Mereka yang baru lulus kuliah harus melamar pekerjaan di puluhan instansi dan perusahaan, dan jika beruntung hanya satu yang memanggilnya. Itu pun dengan catatan: magang dulu 6 bulan tanpa digaji, atau kontrak 3 bulan dan bisa diperpanjang. Masa depan mereka digantung. Mereka tidak dapat merencanakan pernikahan, cicilan rumah, bahkan merencanakan masa depan.

Generasi 81 juga rentan terhadap penjajahan mental. Mereka dituntut untuk produktif. Mereka harus bekerja keras, harus mampu menjadi kreator konten, mesti piawai investasi, harus sehat mental. Tetapi ketika mereka capai dan butuh istirahat, mereka dikatakan sebagai generasi stroberi. Mereka mungkin merdeka, namun merdeka dalam kecemasan.

Sebenarnya generasi 81 tidak terlalu banyak menuntut dari negara yang telah merdeka lebih dari 10 windu ini. Mereka hanya ingin harga pangan dan papan murah, pendidikan dan kesehatan yang terjangkau, sehingga mereka tidak perlu memilih antara makan dan membayar biaya kuliah. Merdeka bagi generasi 81 adalah kemudahan mendapat pekerjaan tanpa harus bersaing dengan nepotisme.

Untuk sebuah negara, 81 tahun merdeka adalah usia yang tua. Namun masih terlalu muda untuk sebuah mimpi bagi generasi milenial, Z, dan Alpha. Mereka tidak ingin melupakan sejarah dan menghormati darah yang tumpah tahun 1945. Namun menghormati sejarah bukan berarti mereka harus mengulang penderitaan.

Identitas yang Tenggelam

Masalah yang dihadapi generasi kekinian setelah 81 tahun merdeka bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga identitas mereka yang tenggelam lantaran lupa pada akar budaya. Anak-anak Gen Alpha lebih hafal “Skibidi Toilet” ketimbang nama-nama punakawan dalam pewayangan. Bahasa daerah sebagai gudang kearifan mulai ditinggalkan.

Chart musik dan film dipenuhi produk dari mancanegara. Film Indonesia kalau pun laku pasti dibumbui unsur horor. Padahal cerita rakyat barangkali mempunyai nilai budaya sendiri yang lebih dalam dibanding negara lain. Tapi begitulah. Identitas generasi 81 tenggelam dalam hiruk-pikuk budaya lain.

Mereka mungkin tidak membenci identitas dan budaya sendiri. Mereka hanya tidak diajari untuk bangga pada budaya sendiri. Sekolah mengajarkan IT dan AI, namun lupa mengajarkan mengapa beragam tari tradisional memiliki nilai dan filosofi yang adiluhung. Alhasil, mereka menjadi generasi “tanpa rumah budaya”; menumpang pada budaya orang lain sambil mencari jati diri sendiri.

Identitas yang tenggelam tentu saja berbahaya. Negara tanpa identitas ibarat perusahaan tanpa brand. Mudah ditiru dan gampang dijual. Generasi 81 menjadi mudah dipecah ketika lupa pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Mereka menjadi generasi yang berisik karena perbedaan pilihan politik, suku, dan agama.

Generasi yang identitasnya tenggelam juga mudah dijajah ulang secara ekonomi maupun teknologi. Begitu banyak aplikasi, musik, film, hingga fesyen merupakan produk impor. Generasi yang telah merdeka 81 tahun menjadi pasar bagi negara lain, bukan sebagai pemain.

Tanpa identitas yang jelas, generasi 81 akan mudah menyerah. Jika mereka tidak bangga menjadi bangsa Indonesia, maka mereka tidak akan mau berjuang untuk apa pun. Bahkan anak muda kini banyak yang lebih memilih bekerja ke luar negeri. Bukan hanya karena identitas yang tenggelam, tetapi tidak ada yang dapat dibanggakan bekerja di negeri sendiri.

Apalagi dalam beberapa kesempatan Presiden Prabowo Subianto kerap berujar mempersilakan masyarakat Indonesia untuk mencari negara lain bila merasa masa depan Indonesia suram. Alih-alih membuat bangga anak muda Indonesia, pernyataan presiden tersebut justru akan semakin menjadikan bangsa ini tenggelam dalam identitasnya.

Bagaimana anak-anak muda akan merasa bangga menjadi bangsa Indonesia jika presiden mereka mengatakan bahwa kecerdasan seseorang bukan dari sekolah. Lantas buat apa didirikan Sekolah Rakyat dan Universitas Republik Indonesia jika kecerdasan tidak dihasilkan di sekolah? Kebanggaan macam apa yang akan diperoleh anak-anak muda yang masih berada di bangku sekolah dan kuliah?

Identitas generasi 81 perlu diselamatkan. Bangku sekolah dan ruang kuliah jangan hanya dijejali hafalan dan teori. Ajak anak muda ke museum, ke desa, ke sanggar-sanggar seni. Dana kebudayaan jangan sampai kalah dengan dana influencer. Anak muda harus dibuat bangga. Beri mereka dana untuk membuat film, musik, atau game yang berlatar budaya Indonesia agar tidak tenggelam identitasnya.

Sudah pasti, generasi 81 tidak lebih buruk dari generasi tahun 1945 maupun generasi gerakan reformasi. Mereka hanya terlahir di era yang berbeda. Merdeka 81 tahun bukan hanya soal upacara dan pengibaran bendera.

Tugas pemerintah saat ini adalah memberi alasan generasi 81 untuk bangga. Beri mereka cerita untuk diwariskan. Dan beri mereka jati diri agar tahu untuk siapa mereka berjuang. Dirgahayu Republik Indonesia.  [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: HUT Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

Next Post

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co