30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
in Esai
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring, dan berbagai bentuk komunikasi berbasis internet telah menciptakan ruang komunikasi baru yang berbeda dari komunikasi konvensional. Interaksi yang sebelumnya berlangsung secara langsung kini dapat dilakukan tanpa kehadiran fisik peserta tutur dalam ruang dan waktu yang sama.

Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan teknologi komunikasi, tetapi juga berimplikasi terhadap penggunaan bahasa. Bahasa mengalami adaptasi sesuai dengan karakteristik medium digital. Pengguna cenderung memanfaatkan bentuk bahasa yang ringkas, fleksibel, informal, kreatif, dan multimodal. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa bahasa selalu bergerak mengikuti kebutuhan komunikatif masyarakat.

Ruang digital juga menghasilkan lingkungan komunikasi yang memiliki karakteristik tersendiri. Interaksi berlangsung dengan tingkat kecepatan yang tinggi, jangkauan komunikasi sangat luas, dan pesan dapat direproduksi serta didistribusikan kembali secara cepat. Kondisi tersebut menjadikan bahasa memiliki kemungkinan dampak sosial yang lebih luas dibandingkan komunikasi dalam ruang privat.

Dalam konteks tersebut, kajian pragmatik memiliki posisi penting. Pragmatik tidak memandang bahasa hanya sebagai struktur formal, tetapi sebagai bentuk tindakan yang digunakan dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Makna sebuah tuturan tidak semata-mata ditentukan oleh unsur kebahasaan, tetapi juga dipengaruhi oleh konteks, hubungan sosial, pengetahuan bersama, maksud penutur, serta kondisi komunikasi.

Komunikasi digital memperlihatkan kompleksitas hubungan antara bahasa dan konteks. Ketiadaan sebagian besar unsur nonverbal, keterpisahan antara penutur dan mitra tutur, serta keterlibatan audiens yang tidak selalu dapat diprediksi menyebabkan proses interpretasi menjadi lebih kompleks. Makna yang dibangun oleh penutur tidak selalu diterima secara identik oleh pembaca atau pendengar.

Selain itu, ruang digital memungkinkan sebuah tuturan keluar dari konteks awalnya. Pesan dapat dikutip, disebarkan, direproduksi, dan ditafsirkan kembali oleh pengguna yang tidak mengetahui situasi komunikasi awal. Perubahan konteks tersebut berpotensi menghasilkan perubahan makna.

Oleh karena itu, penggunaan bahasa di ruang digital perlu dipahami sebagai fenomena pragmatik yang melibatkan hubungan antara bahasa, konteks, maksud, identitas, relasi sosial, dan kekuasaan.

Bahasa Digital sebagai Ruang Praktik Komunikasi

Bahasa digital merupakan bagian dari perkembangan praktik komunikasi masyarakat. Kehadiran teknologi tidak menghilangkan fungsi dasar bahasa sebagai sarana interaksi, tetapi memperluas ruang penggunaannya. Bahasa yang sebelumnya digunakan dalam interaksi interpersonal kini dapat digunakan dalam ruang komunikasi yang bersifat publik, semi-publik, maupun privat.

Perubahan medium menyebabkan perubahan pada pola penggunaan bahasa. Komunikasi digital cenderung mengutamakan efisiensi, kecepatan, dan keterjangkauan. Pengguna dapat menyampaikan pesan dalam bentuk yang lebih singkat karena komunikasi berlangsung dalam lingkungan yang menuntut respons cepat. Kecenderungan tersebut melahirkan kreativitas linguistik. Pengguna memanfaatkan berbagai bentuk singkatan, variasi ejaan, slang, campur kode, bahasa daerah, simbol, emoji, tanda baca, gambar, video, dan berbagai sumber daya semiotik lainnya. Bahasa dalam ruang digital dengan demikian tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai sistem verbal.

Komunikasi digital berkembang menjadi komunikasi multimodal. Unsur verbal berinteraksi dengan unsur visual, grafis, audio, dan simbolik dalam membentuk makna. Dari perspektif pragmatik, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemaknaan tidak hanya bergantung pada bahasa verbal, tetapi juga pada keseluruhan sumber daya yang digunakan dalam proses komunikasi.

Bahasa digital juga memperlihatkan hubungan yang erat antara penggunaan bahasa dan komunitas. Setiap komunitas digital dapat mengembangkan norma komunikasinya sendiri. Bentuk bahasa tertentu dapat diterima dalam satu komunitas, tetapi dianggap tidak sesuai dalam komunitas lain. Dengan demikian, bahasa digital merupakan praktik sosial yang memperlihatkan hubungan antara bahasa, pengguna, teknologi, dan masyarakat.

Konteks sebagai Dasar Pemaknaan Bahasa Digital

Konteks merupakan unsur fundamental dalam kajian pragmatik. Makna bahasa tidak dapat dilepaskan dari situasi ketika bahasa tersebut digunakan. Konteks mencakup berbagai unsur yang berkaitan dengan peserta komunikasi, tempat, waktu, tujuan, hubungan sosial, pengetahuan bersama, serta situasi yang melatarbelakangi komunikasi.

Dalam komunikasi digital, konteks memiliki karakteristik yang lebih kompleks. Penutur dan mitra tutur dapat berada di tempat yang berbeda, memiliki latar belakang berbeda, dan tidak selalu memiliki pengetahuan bersama yang sama. Selain itu, komunikasi digital memungkinkan keterlibatan audiens yang jauh lebih luas daripada peserta komunikasi yang direncanakan.Kondisi tersebut menyebabkan proses interpretasi bahasa menjadi lebih terbuka. Pesan yang diproduksi dalam konteks tertentu dapat dipahami secara berbeda ketika diterima oleh pengguna dengan latar belakang yang berbeda.

Konteks digital juga memiliki sifat dinamis. Sebuah pesan dapat memperoleh konteks baru ketika dibagikan, dikomentari, atau ditempatkan dalam rangkaian informasi yang berbeda. Pergeseran konteks tersebut dapat mengubah cara pengguna memahami maksud dan fungsi suatu tuturan. Dalam perspektif pragmatik, persoalan tersebut menunjukkan bahwa makna tidak bersifat sepenuhnya tetap. Makna dibentuk melalui hubungan antara bentuk linguistik dan konteks penggunaannya. Oleh karena itu, analisis bahasa digital harus memperhatikan konteks produksi, konteks distribusi, dan konteks penerimaan pesan.

Tindak Tutur dalam Ruang Digital

Bahasa dalam ruang digital pada dasarnya merupakan tindakan sosial. Pengguna tidak hanya menggunakan bahasa untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk melakukan berbagai tindakan komunikatif.Tindak tutur dalam ruang digital mencakup berbagai fungsi, seperti menyampaikan informasi, meminta, memerintah, mengajak, menyetujui, menolak, memuji, mengkritik, mengeluh, menyampaikan dukungan, menyatakan sikap, dan membangun hubungan interpersonal.

Karakteristik digital memungkinkan tindak tutur tersebut dilakukan dalam bentuk yang sangat ringkas. Keterbatasan bentuk tidak berarti keterbatasan fungsi. Sebuah tuturan pendek dapat memiliki fungsi komunikatif yang kompleks apabila digunakan dalam konteks tertentu. Perubahan medium juga menyebabkan batas antara beberapa fungsi tindak tutur menjadi semakin fleksibel. Informasi dapat sekaligus mengandung ajakan. Kritik dapat sekaligus berfungsi sebagai evaluasi. Dukungan dapat berfungsi sebagai pembentukan solidaritas. Dengan demikian, tindak tutur digital perlu dianalisis berdasarkan fungsi komunikatif dan konteks penggunaannya, bukan hanya berdasarkan struktur gramatikal. Hal tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi digital merupakan ruang tindakan sosial yang intensif. Setiap pilihan bahasa dapat digunakan untuk memengaruhi sikap, tindakan, atau persepsi pengguna lain.

Implikatur dan Ketidaklangsungan Makna

Komunikasi digital juga memperlihatkan tingginya penggunaan makna tidak langsung. Penutur sering kali tidak menyampaikan maksud secara eksplisit, tetapi membiarkan mitra tutur melakukan proses inferensi.Fenomena tersebut berkaitan dengan implikatur. Makna yang dimaksudkan tidak sepenuhnya terdapat dalam bentuk linguistik, tetapi diperoleh melalui hubungan antara tuturan, konteks, pengetahuan bersama, dan asumsi komunikasi.

Penggunaan implikatur memiliki beberapa fungsi. Pertama, implikatur memungkinkan penutur menyampaikan kritik secara lebih tidak langsung. Kedua, implikatur dapat digunakan untuk menghasilkan humor dan efek retoris. Ketiga, implikatur dapat menjadi strategi untuk menjaga jarak sosial. Keempat, implikatur dapat digunakan untuk membangun solidaritas di antara pengguna yang memiliki pengetahuan bersama.Namun, penggunaan makna tidak langsung juga memiliki risiko. Ketika konteks yang dimiliki penutur tidak sama dengan konteks yang dimiliki penerima, proses inferensi dapat menghasilkan interpretasi berbeda.

Dalam komunikasi digital, persoalan tersebut menjadi lebih kompleks karena pesan dapat dibaca oleh audiens yang tidak menjadi sasaran awal komunikasi. Oleh sebab itu, implikatur dalam ruang digital memiliki sifat yang sekaligus komunikatif dan problematis. Ia memungkinkan kreativitas bahasa, tetapi juga meningkatkan potensi salah tafsir.

Prinsip Kerja Sama dalam Komunikasi Digital

Komunikasi yang efektif membutuhkan tingkat kerja sama tertentu antara peserta tutur. Prinsip kerja sama berkaitan dengan harapan bahwa peserta komunikasi memberikan kontribusi yang relevan dengan tujuan interaksi.Dalam ruang digital, prinsip tersebut mengalami penyesuaian karena komunikasi sering berlangsung dalam bentuk singkat dan tidak selalu linear. Percakapan dapat terputus, respons dapat tertunda, dan pengguna dapat berpindah topik dengan cepat.Selain itu, pengguna juga dapat secara sengaja menyimpang dari ekspektasi komunikasi untuk menghasilkan efek tertentu. Penyimpangan tersebut dapat digunakan untuk humor, ironi, kritik, satire, atau strategi retoris lainnya.

Dengan demikian, ketidaklangsungan atau penyimpangan dalam komunikasi digital tidak selalu menunjukkan kegagalan komunikasi. Dalam kondisi tertentu, penyimpangan justru menjadi strategi untuk menghasilkan makna tambahan. Pemahaman terhadap prinsip kerja sama menjadi penting karena memungkinkan analisis mengenai bagaimana pengguna memahami makna yang tidak dinyatakan secara langsung.

Kesantunan dan ketidaksantunan  Berbahasa di Ruang Digital

Kesantunan dalam perspektif pragmatik tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan kata-kata yang halus atau bentuk bahasa yang dianggap sopan secara normatif. Kesantunan merupakan strategi komunikatif yang digunakan penutur dalam mengelola hubungan interpersonal, mempertimbangkan posisi sosial mitra tutur, serta meminimalkan potensi ancaman terhadap face atau citra sosial peserta komunikasi. Dengan demikian, kesantunan perlu dipahami sebagai fenomena yang bersifat kontekstual dan relasional.

Suatu bentuk bahasa tidak dengan sendirinya dapat dikategorikan santun atau tidak santun tanpa mempertimbangkan siapa yang menggunakannya, kepada siapa tuturan diarahkan, dalam situasi apa komunikasi berlangsung, serta hubungan sosial yang melatarinya. Dalam komunikasi digital, persoalan kesantunan menjadi semakin kompleks karena interaksi berlangsung melalui medium yang memiliki karakteristik berbeda dari komunikasi tatap muka.

Keterbatasan kehadiran fisik memang menyebabkan sebagian isyarat nonverbal tidak tersedia, tetapi komunikasi digital tidak berarti kehilangan seluruh perangkat yang dapat digunakan untuk mengelola makna interpersonal. Pengguna justru memanfaatkan berbagai sumber daya digital, seperti emoji, tanda baca, kapitalisasi, pengulangan grafem, gambar, stiker, fitur balasan, mention, dan unsur multimodal lainnya untuk memberikan penanda terhadap sikap, emosi, penekanan, maupun orientasi interpersonal suatu pesan. Dengan demikian, kesantunan digital tidak dapat dianalisis hanya berdasarkan teks verbal, tetapi perlu mempertimbangkan keseluruhan sumber daya yang digunakan untuk membangun makna.

Selain kesantunan, ruang digital juga memperlihatkan berbagai bentuk ketidaksantunan. Ketidaksantunan dapat muncul melalui penghinaan, pelecehan verbal, serangan terhadap identitas, delegitimasi pendapat, atau penggunaan bahasa yang merendahkan. Fenomena tersebut tidak dapat dilepaskan dari karakteristik ruang digital yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan jarak sosial tertentu. Ketidakhadiran fisik dan rendahnya kontrol sosial secara langsung dapat membuat sebagian pengguna lebih bebas mengekspresikan sikap agresif.

Ketidaksantunan juga dapat berkembang melalui interaksi berantai. Satu tuturan yang dianggap menyerang dapat memunculkan respons serupa. Respons tersebut kemudian menghasilkan konflik yang semakin besar.Dalam konteks ini, bahasa memiliki fungsi bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai instrumen pembentukan dan penguatan konflik sosial.

Unsur Multimodal dalam Pemaknaan Digital

Multimodalitas dalam komunikasi digital tidak semata-mata menunjukkan hadirnya berbagai bentuk media dalam satu pesan, tetapi berkaitan dengan cara berbagai sumber daya semiotik bekerja secara simultan dalam membangun makna. Bahasa verbal, gambar, suara, gerak, tipografi, emoji, tata letak, serta fitur interaktif platform tidak selalu memiliki fungsi yang berdiri sendiri. Unsur-unsur tersebut dapat saling melengkapi, memperkuat, membatasi, bahkan mengubah interpretasi terhadap pesan verbal. Oleh karena itu, multimodalitas dalam komunikasi digital perlu dipahami sebagai persoalan integrasi sumber daya pemaknaan, bukan sekadar penambahan unsur nonverbal ke dalam bahasa.

Dari perspektif pragmatik, persoalan utama multimodalitas terletak pada hubungan antara bentuk yang diproduksi, maksud komunikatif, konteks, dan inferensi penerima. Ketika pengguna memadukan bahasa verbal dengan sumber daya visual atau audio, penerima tidak menafsirkan setiap unsur secara terpisah. Penerima melakukan proses integrasi untuk membangun pemahaman mengenai apa yang sedang dimaksudkan oleh penutur. Dengan demikian, multimodalitas memperluas sumber informasi yang digunakan dalam proses inferensi pragmatik.Hal tersebut menunjukkan bahwa konteks dalam komunikasi digital tidak hanya bersifat linguistik. Konteks juga dibentuk oleh berbagai petunjuk semiotik yang hadir bersama tuturan. Ekspresi visual, pilihan gambar, intonasi dalam video, musik, gerakan, tata letak, serta penggunaan simbol tertentu dapat menjadi bagian dari konteks yang membantu penerima menentukan maksud komunikatif.

Bahasa Digital sebagai Pembentuk Identitas

Identitas yang dibangun melalui bahasa di ruang digital juga bersifat dinamis dan situasional. Pengguna dapat menyesuaikan pilihan bahasa berdasarkan perubahan audiens, topik, tujuan komunikasi, dan situasi interaksi. Pergantian antara bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa asing, maupun ragam informal tidak selalu menunjukkan ketidakkonsistenan berbahasa, tetapi dapat menjadi strategi untuk menyesuaikan diri dengan konteks sosial tertentu. Dalam perspektif pragmatik, perubahan pilihan bahasa tersebut menunjukkan adanya proses negosiasi identitas. Penutur dapat menampilkan identitas yang berbeda dalam situasi komunikasi yang berbeda tanpa harus kehilangan identitas sosial yang melekat pada dirinya.

Identitas digital bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap, melainkan terus dikonstruksi melalui pilihan-pilihan kebahasaan dalam interaksi. Selain membangun identitas penutur, penggunaan bahasa di ruang digital juga berfungsi membentuk hubungan antara penutur dan komunitasnya. Pilihan bahasa tertentu dapat menciptakan rasa memiliki, memperkuat solidaritas, dan menandai batas antara kelompok yang memiliki pengetahuan atau pengalaman sosial yang sama dengan kelompok yang berada di luar komunitas tersebut.

Penggunaan bahasa tertentu dalam ruang digital  dapat menjadi penanda keanggotaan sosial sekaligus strategi untuk menghadirkan identitas budaya dalam ruang digital yang bersifat luas dan heterogen. Ketika bahasa daerah digunakan secara konsisten dalam interaksi digital, bahasa tersebut tidak hanya dipertahankan sebagai sistem linguistik, tetapi juga direproduksi sebagai praktik sosial yang menghubungkan bahasa, identitas, dan komunitas. Dengan demikian, ruang digital dapat menjadi arena tempat identitas lokal dinegosiasikan dengan identitas yang lebih luas, termasuk identitas nasional dan global.

Perubahan Relasi Penutur dan Mitra Tutur

Komunikasi digital juga mengubah konsep penutur dan mitra tutur dalam interaksi. Dalam komunikasi konvensional, peserta komunikasi relatif lebih mudah diidentifikasi karena interaksi biasanya berlangsung dalam ruang dan situasi yang lebih terbatas. Penutur mengetahui kepada siapa pesan disampaikan, sedangkan penerima mengetahui posisi dirinya sebagai mitra tutur. Kondisi tersebut memungkinkan peserta komunikasi menyesuaikan pilihan bahasa berdasarkan hubungan sosial, tujuan komunikasi, serta pengetahuan bersama yang dimiliki. Dalam komunikasi digital, batas antara penutur dan penerima menjadi lebih cair. Sebuah pesan yang diproduksi oleh seorang pengguna dapat diterima oleh banyak orang dengan latar belakang sosial, budaya, usia, pengalaman, dan tingkat pemahaman yang berbeda.

Perubahan tersebut menghasilkan apa yang dapat dipahami sebagai perluasan audiens. Audiens dalam komunikasi digital tidak selalu identik dengan mitra tutur yang dibayangkan oleh penutur pada saat pesan diproduksi. Pesan yang semula diarahkan kepada individu atau kelompok tertentu dapat dibaca, ditonton, dikomentari, atau disebarluaskan oleh pengguna lain yang berada di luar konteks komunikasi awal. Akibatnya, penutur tidak sepenuhnya dapat mengendalikan siapa yang menjadi penerima pesan maupun bagaimana pesan tersebut akan dimaknai. Dalam perspektif pragmatik, kondisi ini penting karena interpretasi suatu tuturan sangat dipengaruhi oleh latar pengetahuan dan konteks yang dimiliki oleh penerimanya.

Perluasan audiens juga menyebabkan konsep mitra tutur dalam komunikasi digital menjadi lebih kompleks. Penerima pesan tidak selalu berperan sebagai peserta komunikasi yang aktif sejak awal. Sebagian pengguna dapat berada dalam posisi sebagai pengamat, pembaca diam, atau audiens yang kemudian masuk ke dalam interaksi melalui komentar dan respons. Kehadiran audiens semacam ini membuat komunikasi digital memiliki lapisan partisipasi yang berbeda.

Pergeseran Konteks dan Reinterpretasi Pesan

Salah satu karakteristik fundamental komunikasi digital adalah kemampuan pesan untuk bergerak melampaui konteks awal ketika pesan tersebut diproduksi. Dalam komunikasi tatap muka, tuturan umumnya terikat pada situasi interaksi yang relatif terbatas. Peserta komunikasi hadir dalam ruang dan waktu yang sama sehingga berbagai unsur konteks dapat diamati dan dipertukarkan secara langsung. Sebaliknya, dalam komunikasi digital, pesan dapat bertahan setelah interaksi selesai dan terus beredar di luar situasi awal. Pesan dapat disalin, dikutip, dibagikan, diunggah kembali, direproduksi, atau ditempatkan dalam rangkaian komunikasi yang berbeda. Pergerakan tersebut menyebabkan hubungan antara pesan dan konteks produksinya menjadi semakin longgar.

Dalam perspektif pragmatik, kondisi tersebut memiliki konsekuensi penting karena makna tidak hanya ditentukan oleh bentuk linguistik, tetapi juga oleh konteks penggunaannya. Ketika sebuah pesan berpindah dari satu konteks ke konteks lainnya, informasi yang pada awalnya membantu penerima memahami maksud penutur dapat mengalami pengurangan, perubahan, atau bahkan hilang sama sekali. Pengetahuan bersama yang sebelumnya dimiliki oleh penutur dan mitra tutur mungkin tidak dimiliki oleh audiens baru. Akibatnya, penerima baru harus membangun interpretasi berdasarkan konteks yang tersedia pada saat pesan tersebut diterimanya, bukan berdasarkan keseluruhan konteks ketika pesan pertama kali diproduksi.

Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa konteks dalam komunikasi digital tidak selalu bersifat tetap. Konteks dapat berubah mengikuti perjalanan sebuah pesan. Ketika pesan memperoleh audiens baru, konteks sosialnya juga dapat berubah. Penutur yang pada awalnya berbicara kepada kelompok tertentu dapat berhadapan dengan audiens yang jauh lebih luas. Perubahan audiens tersebut membawa serta perubahan pengetahuan bersama, norma interaksi, hubungan sosial, dan ekspektasi terhadap pesan. Dengan demikian, satu bentuk bahasa dapat memperoleh interpretasi pragmatik yang berbeda ketika ditempatkan dalam konteks yang berbeda.

Fenomena tersebut berkaitan erat dengan persoalan decontextualization dan recontextualization, yaitu proses ketika suatu pesan dilepaskan dari konteks awal kemudian ditempatkan kembali dalam konteks baru. Dalam proses pelepasan konteks, sebagian informasi yang menyertai pesan dapat tidak ikut berpindah. Sementara itu, ketika pesan ditempatkan dalam konteks baru, informasi baru dapat melekat pada pesan tersebut. Akibatnya, interpretasi terhadap pesan tidak lagi hanya bergantung pada maksud awal penutur, tetapi juga pada konteks baru yang mengelilinginya.

Proses tersebut memperlihatkan bahwa maksud penutur tidak selalu memiliki kendali penuh terhadap interpretasi pesan setelah pesan memasuki ruang publik digital. Pada saat pesan diproduksi, penutur mungkin memiliki tujuan komunikatif tertentu. Namun, setelah pesan beredar, penerima baru melakukan proses inferensi berdasarkan informasi yang mereka miliki. Interpretasi tersebut dapat mendekati maksud awal penutur, tetapi dapat pula menghasilkan pemaknaan yang berbeda karena perbedaan konteks dan pengetahuan bersama. [T]

Penulis: Suar Adnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasabahasa digitaldigital
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

Next Post

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails
Next Post
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026
Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co