DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya.
Selain Ica, ada tiga babi lain yang tinggal di kandang yang sama. Mereka bernama Dewi, Siska, dan Bulan. Entah mengapa Made Subur memberi nama-nama yang begitu indah kepada babi-babi itu. Setiap hari ia datang membawa makanan sambil berteriak memanggil nama mereka satu per satu.
Selain memelihara babi, Made Subur juga memelihara ayam. Salah satunya adalah Jago, seekor ayam jantan yang setiap pagi selalu berkokok dari atas tembok kandang.
“Kokokokookkkkkkk!”
“Bangun, babi-babi malas!” teriaknya.
“Kenapa kau selalu ribut setiap pagi, Jago?” gerutu Ica.
“Iya, mengganggu tidur kami saja,” sahut Siska.
Jago mengembangkan sayapnya. “Agar kalian tidak melewatkan banyak hal di hari ini.”
Hari-hari berlalu. Hingga suatu saat, suasana kandang mulai berubah. Hari Raya Galungan tinggal dua puluh lima hari lagi. Ica lantas teringat satu hal. Dulu, Made Subur pernah memiliki banyak babi. Namun menjelang Galungan, satu per satu babi itu dijual.
“Nah, sekarang babi-babi Made Subur tinggal kita. Apakah kita juga akan dijual?” tanya Dewi, cemas.
“Semoga saja tidak. Aku takut disembelih,” sahut Bulan, pelan.
“Mustahil. Kita pasti dijual. Kalau tidak, dari mana Made Subur mendapat uang?” sela Siska.
Ica hanya menunduk lesu. “Ya, kita berdoa saja semoga selamat,” katanya.
Sejak saat itu, mereka sering murung. Apalagi Jago selalu mengingatkan bahwa Galungan semakin dekat.
Sepuluh hari menjelang Galungan, orang-orang mulai berdatangan ke rumah Made Subur. Mereka melihat-lihat kandang, menawar harga, bahkan menandai babi yang mereka sukai.
Ketakutan para babi semakin besar. Melihat itu, Jago bertekad menolong teman-temannya.
“Aku punya ide! Aku akan memanggil pasukan ayam. Kami akan mematuk pintu kandang sampai terbuka, lalu kalian bisa kabur,” katanya suatu pagi.
“Hah? Kabur?” Ica menggeleng. “Kita berutang budi kepada Made Subur. Gimana kita bisa pergi begitu saja? Ia pasti sedih.”
“Tapi kalau tidak kabur, kalian akan dijual!” sahut Jago.
Dewi tiba-tiba menyela, “Lalu dijadikan lawar, urutan, tum, balung, ah sedapnya…”
Ia malah menelan ludah.
“Hush! Kenapa kau terdengar senang?” tanya Siska.
“Aku cuma penasaran. Setiap kali tetangga memasak daging babi, aromanya harum sekali,” jawab Dewi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama murung, mereka tertawa bersama mendengar ocehan Dewi.
Keesokan harinya, Jago datang bersama pasukan ayam. Mereka mematuk pintu kandang sekuat tenaga.
Tak! Tak! Tak!
Tak! Tak! Tak!
Tak! Tak! Tak!
Setelah sekian lama mematuk, pintu itu tidak rusak sedikit pun. Malah paruh-paruh mereka yang memerah karena kesakitan. Pasukan ayam akhirnya menyerah dan pulang. Jago tertunduk lesu.
“Maaf. Aku gagal menolong kalian.”
Ica tersenyum. “Sudahlah, Jago. Jangan memaksakan diri.”
“Tapi kalian teman-temanku,” kata Jago, matanya berkaca-kaca.
“Kalau memang itu takdir kami, kami akan menerimanya. Barangkali hidup kami memang untuk memberi manfaat. Jangan bersedih.”
Bulan mengangguk. “Besok mungkin hari terakhir kami di sini. Terima kasih sudah menjadi teman yang baik.”
Mata Jago pun basah. Ia memeluk teman-temannya satu per satu, lalu berkokok sekeras-kerasnya meski hari sudah menjelang petang.
Malam itu, tak satu pun babi bisa tidur nyenyak. Ica hanya diam. Siska panas dingin. Dewi mondar-mandir. Bulan berguling-guling gelisah. Mereka menunggu pagi dengan perasaan campur aduk.
Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, para pembeli datang. Satu per satu babi diangkut ke dalam kerangkeng besi dan dibawa pergi dengan mobil bak.
Pagi itu kandang menjadi sunyi. Sekitar pukul tujuh, Made Subur datang membersihkan kandang. Ia menyiram lantai kandang dengan air.
Byur!
Ica terbangun, disemprot air. Ia pun terkejut. Dewi, Siska, dan Bulan sudah tidak ada. Kini tinggal ia sendirian.
“Kenapa aku masih di sini?” pikirnya.
Melihat Ica kebingungan, Made Subur meletakkan selang air dan mendekat.
“Aku sangat menyayangimu, Ica,” katanya sambil mengelus kepala Ica. “Aku tidak akan menjualmu.”
Ica menatapnya lekat-lekat.
“Kamu pembawa rezeki bagiku. Nanti kamu bisa punya anak-anak babi. Aku akan mencarikan pejantan terbaik untukmu.”
Made Subur tersenyum.
“Aku merawatmu sejak kecil. Aku tidak tega menjualmu begitu saja. Jadi tenanglah. Ikhlaskan teman-temanmu.”
Ica terdiam. Perasaannya terasa aneh. Di satu sisi, ia bahagia karena tidak dijual. Namun ia juga sedih karena teman-temannya telah pergi tanpa sempat berpamitan.
Sore harinya, Jago datang ke kandang. Ia berniat mengenang teman-temannya yang telah pergi. Namun begitu melihat Ica, matanya membelalak.
“Ica! Kau masih di sini?”
Ica mengangguk. “Made Subur tidak menjualku.”
“Wah, syukurlah! Berarti aku masih punya teman,” seru Jago.
Meski begitu, keduanya tetap terdiam beberapa saat, mengingat Dewi, Siska, dan Bulan. Akhirnya Jago berkata pelan, “Mari kita ikhlaskan mereka, Ica.”
Ica mengangguk. “Ya. Semoga mereka damai di alam baka dan mendapatkan surga.” [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole






























