7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takut Galungan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
in Dongeng
Takut Galungan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya.

Selain Ica, ada tiga babi lain yang tinggal di kandang yang sama. Mereka bernama Dewi, Siska, dan Bulan. Entah mengapa Made Subur memberi nama-nama yang begitu indah kepada babi-babi itu. Setiap hari ia datang membawa makanan sambil berteriak memanggil nama mereka satu per satu.

Selain memelihara babi, Made Subur juga memelihara ayam. Salah satunya adalah Jago, seekor ayam jantan yang setiap pagi selalu berkokok dari atas tembok kandang.

“Kokokokookkkkkkk!”

“Bangun, babi-babi malas!” teriaknya.

“Kenapa kau selalu ribut setiap pagi, Jago?” gerutu Ica.

“Iya, mengganggu tidur kami saja,” sahut Siska.

Jago mengembangkan sayapnya. “Agar kalian tidak melewatkan banyak hal di hari ini.”

Hari-hari berlalu. Hingga suatu saat, suasana kandang mulai berubah. Hari Raya Galungan tinggal dua puluh lima hari lagi. Ica lantas teringat satu hal. Dulu, Made Subur pernah memiliki banyak babi. Namun menjelang Galungan, satu per satu babi itu dijual.

“Nah, sekarang babi-babi Made Subur tinggal kita. Apakah kita juga akan dijual?” tanya Dewi, cemas.

“Semoga saja tidak. Aku takut disembelih,” sahut Bulan, pelan.

“Mustahil. Kita pasti dijual. Kalau tidak, dari mana Made Subur mendapat uang?” sela Siska.

Ica hanya menunduk lesu. “Ya, kita berdoa saja semoga selamat,” katanya.

Sejak saat itu, mereka sering murung. Apalagi Jago selalu mengingatkan bahwa Galungan semakin dekat.

Sepuluh hari menjelang Galungan, orang-orang mulai berdatangan ke rumah Made Subur. Mereka melihat-lihat kandang, menawar harga, bahkan menandai babi yang mereka sukai.

Ketakutan para babi semakin besar. Melihat itu, Jago bertekad menolong teman-temannya.

“Aku punya ide! Aku akan memanggil pasukan ayam. Kami akan mematuk pintu kandang sampai terbuka, lalu kalian bisa kabur,” katanya suatu pagi.

“Hah? Kabur?” Ica menggeleng. “Kita berutang budi kepada Made Subur. Gimana kita bisa pergi begitu saja? Ia pasti sedih.”

“Tapi kalau tidak kabur, kalian akan dijual!” sahut Jago.

Dewi tiba-tiba menyela, “Lalu dijadikan lawar, urutan, tum, balung, ah sedapnya…”

Ia malah menelan ludah.

“Hush! Kenapa kau terdengar senang?” tanya Siska.

“Aku cuma penasaran. Setiap kali tetangga memasak daging babi, aromanya harum sekali,” jawab Dewi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama murung, mereka tertawa bersama mendengar ocehan Dewi.

Keesokan harinya, Jago datang bersama pasukan ayam. Mereka mematuk pintu kandang sekuat tenaga.

Tak! Tak! Tak!

Tak! Tak! Tak!

Tak! Tak! Tak!

Setelah sekian lama mematuk, pintu itu tidak rusak sedikit pun. Malah paruh-paruh mereka yang memerah karena kesakitan. Pasukan ayam akhirnya menyerah dan pulang. Jago tertunduk lesu.

“Maaf. Aku gagal menolong kalian.”

Ica tersenyum. “Sudahlah, Jago. Jangan memaksakan diri.”

“Tapi kalian teman-temanku,” kata Jago, matanya berkaca-kaca.

“Kalau memang itu takdir kami, kami akan menerimanya. Barangkali hidup kami memang untuk memberi manfaat. Jangan bersedih.”

Bulan mengangguk. “Besok mungkin hari terakhir kami di sini. Terima kasih sudah menjadi teman yang baik.”

Mata Jago pun basah. Ia memeluk teman-temannya satu per satu, lalu berkokok sekeras-kerasnya meski hari sudah menjelang petang.

Malam itu, tak satu pun babi bisa tidur nyenyak. Ica hanya diam. Siska panas dingin. Dewi mondar-mandir. Bulan berguling-guling gelisah. Mereka menunggu pagi dengan perasaan campur aduk.

Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, para pembeli datang. Satu per satu babi diangkut ke dalam kerangkeng besi dan dibawa pergi dengan mobil bak.

Pagi itu kandang menjadi sunyi. Sekitar pukul tujuh, Made Subur datang membersihkan kandang. Ia menyiram lantai kandang dengan air.

Byur!

Ica terbangun, disemprot air. Ia pun terkejut. Dewi, Siska, dan Bulan sudah tidak ada. Kini tinggal ia sendirian.

“Kenapa aku masih di sini?” pikirnya.

Melihat Ica kebingungan, Made Subur meletakkan selang air dan mendekat.

“Aku sangat menyayangimu, Ica,” katanya sambil mengelus kepala Ica. “Aku tidak akan menjualmu.”

Ica menatapnya lekat-lekat.

“Kamu pembawa rezeki bagiku. Nanti kamu bisa punya anak-anak babi. Aku akan mencarikan pejantan terbaik untukmu.”

Made Subur tersenyum.

“Aku merawatmu sejak kecil. Aku tidak tega menjualmu begitu saja. Jadi tenanglah. Ikhlaskan teman-temanmu.”

Ica terdiam. Perasaannya terasa aneh. Di satu sisi, ia bahagia karena tidak dijual. Namun ia juga sedih karena teman-temannya telah pergi tanpa sempat berpamitan.

Sore harinya, Jago datang ke kandang. Ia berniat mengenang teman-temannya yang telah pergi. Namun begitu melihat Ica, matanya membelalak.

“Ica! Kau masih di sini?”

Ica mengangguk. “Made Subur tidak menjualku.”

“Wah, syukurlah! Berarti aku masih punya teman,” seru Jago.

Meski begitu, keduanya tetap terdiam beberapa saat, mengingat Dewi, Siska, dan Bulan. Akhirnya Jago berkata pelan, “Mari kita ikhlaskan mereka, Ica.”

Ica mengangguk. “Ya. Semoga mereka damai di alam baka dan mendapatkan surga.” [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: dongeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Next Post

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails
Next Post
Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co