30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takut Galungan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
in Dongeng
Takut Galungan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya.

Selain Ica, ada tiga babi lain yang tinggal di kandang yang sama. Mereka bernama Dewi, Siska, dan Bulan. Entah mengapa Made Subur memberi nama-nama yang begitu indah kepada babi-babi itu. Setiap hari ia datang membawa makanan sambil berteriak memanggil nama mereka satu per satu.

Selain memelihara babi, Made Subur juga memelihara ayam. Salah satunya adalah Jago, seekor ayam jantan yang setiap pagi selalu berkokok dari atas tembok kandang.

“Kokokokookkkkkkk!”

“Bangun, babi-babi malas!” teriaknya.

“Kenapa kau selalu ribut setiap pagi, Jago?” gerutu Ica.

“Iya, mengganggu tidur kami saja,” sahut Siska.

Jago mengembangkan sayapnya. “Agar kalian tidak melewatkan banyak hal di hari ini.”

Hari-hari berlalu. Hingga suatu saat, suasana kandang mulai berubah. Hari Raya Galungan tinggal dua puluh lima hari lagi. Ica lantas teringat satu hal. Dulu, Made Subur pernah memiliki banyak babi. Namun menjelang Galungan, satu per satu babi itu dijual.

“Nah, sekarang babi-babi Made Subur tinggal kita. Apakah kita juga akan dijual?” tanya Dewi, cemas.

“Semoga saja tidak. Aku takut disembelih,” sahut Bulan, pelan.

“Mustahil. Kita pasti dijual. Kalau tidak, dari mana Made Subur mendapat uang?” sela Siska.

Ica hanya menunduk lesu. “Ya, kita berdoa saja semoga selamat,” katanya.

Sejak saat itu, mereka sering murung. Apalagi Jago selalu mengingatkan bahwa Galungan semakin dekat.

Sepuluh hari menjelang Galungan, orang-orang mulai berdatangan ke rumah Made Subur. Mereka melihat-lihat kandang, menawar harga, bahkan menandai babi yang mereka sukai.

Ketakutan para babi semakin besar. Melihat itu, Jago bertekad menolong teman-temannya.

“Aku punya ide! Aku akan memanggil pasukan ayam. Kami akan mematuk pintu kandang sampai terbuka, lalu kalian bisa kabur,” katanya suatu pagi.

“Hah? Kabur?” Ica menggeleng. “Kita berutang budi kepada Made Subur. Gimana kita bisa pergi begitu saja? Ia pasti sedih.”

“Tapi kalau tidak kabur, kalian akan dijual!” sahut Jago.

Dewi tiba-tiba menyela, “Lalu dijadikan lawar, urutan, tum, balung, ah sedapnya…”

Ia malah menelan ludah.

“Hush! Kenapa kau terdengar senang?” tanya Siska.

“Aku cuma penasaran. Setiap kali tetangga memasak daging babi, aromanya harum sekali,” jawab Dewi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama murung, mereka tertawa bersama mendengar ocehan Dewi.

Keesokan harinya, Jago datang bersama pasukan ayam. Mereka mematuk pintu kandang sekuat tenaga.

Tak! Tak! Tak!

Tak! Tak! Tak!

Tak! Tak! Tak!

Setelah sekian lama mematuk, pintu itu tidak rusak sedikit pun. Malah paruh-paruh mereka yang memerah karena kesakitan. Pasukan ayam akhirnya menyerah dan pulang. Jago tertunduk lesu.

“Maaf. Aku gagal menolong kalian.”

Ica tersenyum. “Sudahlah, Jago. Jangan memaksakan diri.”

“Tapi kalian teman-temanku,” kata Jago, matanya berkaca-kaca.

“Kalau memang itu takdir kami, kami akan menerimanya. Barangkali hidup kami memang untuk memberi manfaat. Jangan bersedih.”

Bulan mengangguk. “Besok mungkin hari terakhir kami di sini. Terima kasih sudah menjadi teman yang baik.”

Mata Jago pun basah. Ia memeluk teman-temannya satu per satu, lalu berkokok sekeras-kerasnya meski hari sudah menjelang petang.

Malam itu, tak satu pun babi bisa tidur nyenyak. Ica hanya diam. Siska panas dingin. Dewi mondar-mandir. Bulan berguling-guling gelisah. Mereka menunggu pagi dengan perasaan campur aduk.

Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, para pembeli datang. Satu per satu babi diangkut ke dalam kerangkeng besi dan dibawa pergi dengan mobil bak.

Pagi itu kandang menjadi sunyi. Sekitar pukul tujuh, Made Subur datang membersihkan kandang. Ia menyiram lantai kandang dengan air.

Byur!

Ica terbangun, disemprot air. Ia pun terkejut. Dewi, Siska, dan Bulan sudah tidak ada. Kini tinggal ia sendirian.

“Kenapa aku masih di sini?” pikirnya.

Melihat Ica kebingungan, Made Subur meletakkan selang air dan mendekat.

“Aku sangat menyayangimu, Ica,” katanya sambil mengelus kepala Ica. “Aku tidak akan menjualmu.”

Ica menatapnya lekat-lekat.

“Kamu pembawa rezeki bagiku. Nanti kamu bisa punya anak-anak babi. Aku akan mencarikan pejantan terbaik untukmu.”

Made Subur tersenyum.

“Aku merawatmu sejak kecil. Aku tidak tega menjualmu begitu saja. Jadi tenanglah. Ikhlaskan teman-temanmu.”

Ica terdiam. Perasaannya terasa aneh. Di satu sisi, ia bahagia karena tidak dijual. Namun ia juga sedih karena teman-temannya telah pergi tanpa sempat berpamitan.

Sore harinya, Jago datang ke kandang. Ia berniat mengenang teman-temannya yang telah pergi. Namun begitu melihat Ica, matanya membelalak.

“Ica! Kau masih di sini?”

Ica mengangguk. “Made Subur tidak menjualku.”

“Wah, syukurlah! Berarti aku masih punya teman,” seru Jago.

Meski begitu, keduanya tetap terdiam beberapa saat, mengingat Dewi, Siska, dan Bulan. Akhirnya Jago berkata pelan, “Mari kita ikhlaskan mereka, Ica.”

Ica mengangguk. “Ya. Semoga mereka damai di alam baka dan mendapatkan surga.” [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: dongeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Next Post

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails
Next Post
Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co