PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota keluarga yang belum juga siap.
Di hari yang seharusnya khusyuk itu, acap kali muncul pemandangan kontras. Orang-orang tergopoh-gopoh dari satu pura ke pura lain. Anak-anak dipanggil agar lekas bersiap. Kendaraan berlalu-lalang lebih cepat. Sesekali terdengar seseorang mengingatkan, “Cepat, nanti keburu lewat jam dua belas!”
Peringatan itu begitu akrab di telinga masyarakat Bali. Konon, jika sembahyang melewati tengah hari, Dewata telah kembali ke kahyangan.
“Makanya jangan kesiangan,” kata Made Arta kepada tetangganya yang baru keluar rumah sembari mengenakan udeng.
“Yang penting sembahyang, De!” sahut Ketut Merta.
Mereka lalu berpisah menuju tempat persembahyangan masing-masing.
Percakapan itu terdengar sederhana. Namun dari sanalah lahir sebuah kebiasaan yang berlangsung turun-temurun. Hari Raya Kuningan identik dengan pertarungan melawan waktu. Banyak orang merasa harus menyelesaikan seluruh rangkaian persembahyangan sebelum jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang.
Akibatnya, suasana yang semestinya dipenuhi kekhidmatan kerap berubah menjadi tergopoh-gopoh. Padahal, bila menengok kembali pada makna Kuningan, hari suci ini justru mengajak umat berhenti sejenak dari kesibukan.
Hari Raya Kuningan dirayakan setiap 210 hari, tepat pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan, sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan. Jika Galungan dimaknai sebagai kemenangan dharma melawan adharma, maka Kuningan menjadi peneguhan kemenangan itu melalui peningkatan kesadaran.
Secara etimologis, kata Kuningan berasal dari kata ‘uning’, yang berarti tahu, mengerti, atau sadar. Kesadaran itulah yang sesungguhnya menjadi inti perayaan. Umat diajak mengenali diri sendiri, membersihkan pikiran, dan memohon keselamatan lahir-batin.
Karena itu pula, persiapan Kuningan dimulai sejak Galungan berakhir. Umat telah memasuki rentang waktu sekitar sepuluh hari untuk menyiapkan berbagai sarana upacara. Bahkan sehari sebelum Kuningan, yang dikenal sebagai Penampahan Kuningan, Lontar Sundarigama tidak memerintahkan penyembelihan atau upacara tertentu. Yang justru ditekankan adalah sebuah nasihat, ‘Sapuhakena malaning jnana’, bermakna ‘Lenyapkanlah pikiran yang buruk’.
Artinya, sebelum mempersembahkan banten, sarana upacara, yang terlebih dahulu dibersihkan adalah isi kepala dan batin.
Esok harinya, memang dianjurkan agar persembahyangan dilakukan pagi hari dan menghindari lewat tengah hari. Alasannya juga jelas. Dalam keyakinan Hindu Bali, Dewata yang turun saat Galungan diyakini kembali ke kahyangan pada Hari Kuningan.
Anjuran itulah yang kemudian berkembang menjadi keyakinan luas bahwa persembahyangan harus selesai sebelum pukul dua belas siang. Padahal, jika ditelusuri, itu adalah anjuran, bukan keharusan yang bersifat mutlak.
Barangkali kita perlu membedakan antara makna dan kebiasaan. Kebiasaan mengajarkan agar sembahyang dilakukan lebih awal. Makna mengajarkan agar sembahyang dilakukan dengan hati bersih.
Keduanya tentu dapat berjalan beriringan. Namun ketika mengejar waktu justru membuat pikiran gelisah, hati tidak tenang, bahkan emosi mudah tersulut, barangkali ada sesuatu yang perlu direnungkan kembali.
Bukankah tujuan persembahyangan mendekatkan diri kepada Tuhan? Bukankah doa memerlukan keheningan, bukannya kepanikan?
Ketut Merta akhirnya bertemu kembali dengan Made Arta seusai sembahyang.
“Masih sempat sebelum jam dua belas, Tut?” tanya Arta.
“Sempat. Tapi tidak fokus sembahyangnya. Sibuk melihat jam, haha,” sahut Merta seraya tergelak.
Barangkali banyak orang mengalami hal serupa. Datang ke pura tepat waktu, tetapi pikiran justru ke mana-mana.
Hari Kuningan sesungguhnya tidak menguji seberapa cepat umat menunaikan ibadah. Tetapi mengingatkan pentingnya kesadaran. Tentang pikiran yang bersih, hati yang tulus, dan rasa syukur yang lahir tanpa tergopoh-gopoh.
Dan, barangkali itulah makna ‘uning’ paling sederhana. Bukan sekadar mengetahui kapan harus sembahyang. Tetapi juga menyadari mengapa kita sembahyang.[T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























