CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam bentuk prosa naratif, atau parwa berjudul Babad Calonarang atau Babad Walunateng Dirah. Cerita ini mengisahkan keberadaan Calonarang atau Walunateng Dirah dan seorang anaknya yang jelita bernama Diah Ratna Mangali. Kemasyhuran kisahnya mengantarkan Calonarang terus hidup, walaupun di dalam kisahnya ia telah mati. Hingga saat ini kisah tersebut telah menjelma menjadi produk kesenian yang beragam, mulai dari sastra hingga pertunjukan.
Mpu Beradah dan Usaha untuk mendapatkan Lipyakara
Mpu Beradah merupakan seorang brahmana yang berasal dari Lemah Tulis atau Gangga Citra. Mpu Beradah bersaudara dengan Mpu Gnijaya, Mpu Sumeru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, atau belakangan kelima bersaudara tersebut dikenal Panca Tirta. Jika terus ditelusuri ia akan melahirkan tokoh-tokoh terkemuka seperti Mpu Bahula, Mpu Tantular, Dang Hyang Sidimantra dan lain sebagainya.
Dalam Segmen cerita Babad Calonarang, Mpu Beradah diminta oleh Maharaja Airlangga dari kerajaan Daha agar berkenan untuk menumpas kejahatan Rangdeng Dirah atau Si Calonarang. Ulahnya sudah melewati batas, membunuh manusia tak berdosa, hingga rumah-rumah dan kuburan hampir tak ada bedanya, semuanya penuh dengan mayat.
Sebagai seorang brahmana, ia berkewajiban untuk memenuhi permintaan umat. Dengan siasat menikahkan putranya Mpu Bahula dengan putri Ni Calonarang yakni Ratnamanggali, ia berusaha mendapatkan rahasia kekuatan Ni Calonarang. Setelah pernikahan, Mpu Bahula selalu bingung dengan kelakuan mertuanya yang gemar pergi ke kuburan setiap tengah malam. Rasa penasarannya terjawab oleh Ratna Mangali, bahwa ibunya adalah pemuja Durga dan memiliki pustaka Lipyakara. Disanalah Ratna Mangali menyerahkan Lipyakara kepada Mpu Bahula (sinungakĕn tang lipiakāra rikeng kāka de sang rātna manghali)
Astacapala: si penunduk Ni Calonarang.
Setelah membaca pustaka Lipyakara, Mpu Bahula bergegas menuju Lemah Tulis, kediaman ayahnya. Pustaka Lipyakara juga dibawa dan turut diserahkan ketika tiba di Lemah Tulis. Setelah mengetahui sumber kekuatan Ni Calonarang, Mpu Beradah pergi menuju Dirah dan menyuruh putranya mengembalikan Pustaka Lipyakara agar disimpan oleh Ratna Mangali. Perjalanan Mpu Beradah dihadang oleh lautan mayat. Karena rasa kasih sayang sang mpu, ia kemudian menghidupkannya dengan memberikan Tirta Amerta.
Perjalanan panjangnya akhirnya terhenti di kediaman Ni Calonarang. Semua percakapan mereka sangat harmonis, layaknya hubungan berbesan. Bahkan ketika Mpu Beradah menyampaikan niat untuk mengubah jalan kejahatan yang selama ini ditempuh oleh Ni Calonarang. Namun semua itu berubah, ketika Mpu Beradah menolak untuk meruwat Ni Calonarang. Alasannya ia tak dapat meruwatnya sebelum Ni Calonarang melalui jalan kematian terlebih dahulu. Hal itu ditafsirkan berbeda oleh Ni Calonarang, ia dikuasai oleh api amarah dan menantang Mpu Beradah.
Melalui kekuatannya yang bersumber dari Pustaka Lipyakara ia membakar satu Pohon Beringin. Pohon beringin itu terbakar dari ujung hingga ke akarnya. Bahkan Ni Calonarang juga menyerang Mpu Beradah dengan kekuatan sihirnya. Tetapi Sedikit pun Mpu Beradah tak bergeming. Dengan kekuatan yang tak tertandingi, Mpu Beradah mengeluarkan Astacapala, dalam hitungan detik Calonarang musnah menjadi abu (ri wus tiniban aṣṭa capala de sang munindra, i ri palatra sang calonarang ri kanang pangadĕgania juga).
Astacapala dan Lipyakara
Kedua kekuatan dari Calonarang dan Mpu Beradah dapat direpresentasikan sebagai pikiran. Astacapala atau capala dalam Kamus Bahasa Jawa Kuno berarti cepat, bergerak dengan cepat, tak terkendalikan. Apa sesuatu hal yang paling cepat dan tak terkendalikan yang dimiliki manusia? tiada lain adalah pikiran. Lipyakara atau lipya berarti lupa atau lalai, apa yang sering mengalami lupa pada manusia? tentu tiada lain adalah pikiran. Pikiran menjadi senjata utama bagi setiap orang. Pikiran sulit dikendalikan, namun ketika ia dapat dikendalikan, keselamatan selalu bersama manusia. Pikiran layaknya api, dapat menjadi teman ataupun ancaman. Hanya api yang dapat menjadikan sesuatu yang utuh menjadi arang.
Kisah ini mengajarkan kita, Calonarang menjadi arang atau abukarena pikirannya sendiri, lalai dalam mengendalikan pikiran. Sehingga Mpu Beradah yang menjaga ketenangan pikiran mendapatkan posisi kemenangan. Pikiran yang dijaga dengan penuh kesadaran membawa manusia pada keutamaan. Pikiran adalah sumber pertama bagaimana kita berkata dan bertata.[T]
Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole































