22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

“Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?”

Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi tak sanggup menyusun satu kalimat kepada orang yang paling dicintainya. Lalu ia mengambil gitar. Atau duduk di depan piano. Atau hanya membuka aplikasi pencatat di telepon genggam. Dari sana lahirlah sebuah lagu.

Bahasa Memiliki Batas

Wittgenstein pernah mengingatkan bahwa batas bahasa adalah batas dunia. Tetapi mungkin seni lahir justru karena manusia tidak pernah benar-benar puas hidup di dalam batas itu. Ketika kata-kata berhenti, musik mengambil alih pekerjaan bahasa.

Musik muncul ketika bahasa sehari-hari tidak lagi mampu memikul pengalaman. Ada pengalaman yang terlalu penuh untuk menjadi kalimat. Kata-kata bekerja dengan makna yang disepakati bersama, sedangkan perasaan sering kali lahir dari wilayah yang belum memiliki nama. Kita mengenal gugup, rindu, syukur, kehilangan, tetapi setiap orang sesungguhnya mengalami kata-kata itu dengan warna yang berbeda. Di sanalah bahasa mulai retak. Dan ketika retakan itu semakin lebar, manusia tidak selalu memilih diam. Ia memilih bernyanyi.

Saya jadi ingat pernyataan Paul Ricoeur mengenai narative identity. Manusia sesungguhnya mengenali dirinya melalui cerita yang ia bangun. Lagu adalah salah satu bentuk narasi. Ketika seseorang menulis lagu untuk kekasihnya, ia tidak hanya sedang menceritakan cintanya. Ia sedang membangun identitas dirinya sebagai seseorang yang pernah mencintai.

Menurut  Husserl kesadaran selalu menuju sesuatu. Ketika seseorang menciptakan lagu untuk kekasihnya, yang hadir bukan lagi sekadar orang yang dicintai. Yang hadir adalah pengalaman mencintai itu sendiri.

Merleau-Ponty juga pernah berujar : Musik bukan objek. Musik adalah pengalaman tubuh. Nada tidak dipahami. Nada dialami.

Tak ketinggalan  Heidegger berucap,  karya seni bukan representasi. Ia membuka dunia. Lagu cinta tidak menceritakan cinta. Ia membuat cinta hadir.

Musik Sering Kali Lebih Jujur daripada Bahasa

Susanne Langer pernah mengatakan  bahwa musik adalah simbol bentuk-bentuk perasaan (forms of feeling). Karena itu dua orang dapat menangis pada lagu yang sama, meskipun mengalami kisah hidup yang berbeda.

Tafsir fenomenologis mengenai pencipataan lagu romantik akan lebih lengkap kalau kita menengok pemikiran Roland Barthes. Menurut Barthes ada lapisan semiotik berupa makna Denotasi, Konotasi dan Mitos. Denotasi adalah makna asli atau makna sebenarnya yang apa adanya. Konotasi adalah makna tambahan atau makna kiasan yang punya nilai rasa.. Mitos adalah cara pandang atau kebiasaan di dalam suatu budaya yang dianggap benar oleh umum.

Dan perlu kita tambahkan  terkait makna lagu adalah satu lapisan reflektif yaitu Resonansi. Lagu tidak berhenti menjadi tanda, ia menjadi pengalaman. Bahkan sebuah lagu yang semula berawal sebagai guratan pengalaman personal bisa bergeser menjadi pengalaman universal pendengarnya.

Sekedar ilustasi saya akan menampilkan secuil lirik lagu berikut :

Elegi Abadi

Dari relung hati yang pernah teduh,

Kutitipkan seluruh doa dan utuh.
Segala tawa, segala asa,
Kuserahkan hanya untukmu semata.

Namun takdir menulis kisah berbeda,
Memisahkan langkah yang saling menjaga.
Namamu tinggal menjadi cahaya,
Yang tak mampu kupeluk selamanya.

Kucoba menenggelamkan kenangan,
Di laut sunyi tanpa tepian.
Namun semakin jauh ingin kulepas,
Semakin dekat kau menetap.

Cinta ini enggan berpamitan,
Tetap bernapas dalam keheningan.
Mengalir pelan di setiap nadi.

Cinta ini tak pernah berakhir,
Ia hanya berganti menjadi takdir.
Mengalir lembut di setiap nadi,
Hingga fajar menjemput mimpi.

Bila seseorang menangis mendengarnya,
Mungkin ia sedang memeluk kisahnya.
Karena cinta dan kehilangan akhirnya berpadu,
Menjadi bahasa yang dimengerti seluruh waktu.

Biarlah elegi ini terus bernyanyi,
Bukan untuk memanggilmu kembali.
Melainkan menjadi rumah bagi mereka,
Yang pernah mencinta…
Namun harus belajar hidup tanpanya.

Menariknya, pada bagian akhir lagu itu, “engkau” perlahan menghilang. Yang muncul justru “mereka”. Luka pribadi berhenti menjadi milik seorang pencipta, lalu berubah menjadi tempat berteduh bagi siapa pun yang pernah kehilangan. Pada saat itulah lagu berhenti menjadi surat cinta dan menjelma pengalaman bersama.

Mengapa Sejarah Musik Dipenuhi Lagu Romantik?

Sejak Sappho menulis puisi-puisi cintanya di Pulau Lesbos lebih dari dua milenium silam, manusia tampaknya tidak pernah berhenti menyanyikan kerinduan. Para troubadour pada Abad Pertengahan mengembara dari satu istana ke istana lain membawa balada tentang kasih yang mustahil.

Schubert mengubah puisi menjadi Lieder, Puccini membuat cinta bernyanyi di panggung opera, sementara Beatles, Whitney Houston, Coldplay, hingga Ed Sheeran menerjemahkan kerinduan ke dalam bahasa zaman mereka. Genre boleh berubah, instrumen boleh berganti, tetapi pertanyaan yang dibawa setiap lagu tetap sama: bagaimana mengatakan sesuatu yang tidak selesai oleh kata-kata?

Karya- karya tersebut bisa bertahan selama ribuan tahun bukan sekadar genre romantik. Yang bertahan adalah kebutuhan manusia untuk mengatakan sesuatu yang tidak mampu disampaikan oleh kalimat biasa.

Barangkali itulah sebabnya manusia tidak pernah berhenti menulis lagu cinta. Bukan karena cinta selalu menemukan rumahnya, melainkan karena ia selalu mencari bahasa yang sanggup menampungnya.

Kita mungkin lupa kepada siapa lagu itu mula-mula ditujukan. Kita bahkan mungkin tidak pernah mengenal siapa yang menulisnya. Namun ketika suatu malam lagu itu terdengar dan tanpa alasan yang jelas mata kita basah, di situlah kita mengerti bahwa musik telah melakukan sesuatu yang gagal dilakukan oleh bahasa: ia tidak menjelaskan pengalaman, melainkan menghadirkannya.

Dan mungkin, sejak awal peradaban, itulah pekerjaan paling sunyi dari setiap lagu. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasacintamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

Next Post

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co