23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

“Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?”

Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi tak sanggup menyusun satu kalimat kepada orang yang paling dicintainya. Lalu ia mengambil gitar. Atau duduk di depan piano. Atau hanya membuka aplikasi pencatat di telepon genggam. Dari sana lahirlah sebuah lagu.

Bahasa Memiliki Batas

Wittgenstein pernah mengingatkan bahwa batas bahasa adalah batas dunia. Tetapi mungkin seni lahir justru karena manusia tidak pernah benar-benar puas hidup di dalam batas itu. Ketika kata-kata berhenti, musik mengambil alih pekerjaan bahasa.

Musik muncul ketika bahasa sehari-hari tidak lagi mampu memikul pengalaman. Ada pengalaman yang terlalu penuh untuk menjadi kalimat. Kata-kata bekerja dengan makna yang disepakati bersama, sedangkan perasaan sering kali lahir dari wilayah yang belum memiliki nama. Kita mengenal gugup, rindu, syukur, kehilangan, tetapi setiap orang sesungguhnya mengalami kata-kata itu dengan warna yang berbeda. Di sanalah bahasa mulai retak. Dan ketika retakan itu semakin lebar, manusia tidak selalu memilih diam. Ia memilih bernyanyi.

Saya jadi ingat pernyataan Paul Ricoeur mengenai narative identity. Manusia sesungguhnya mengenali dirinya melalui cerita yang ia bangun. Lagu adalah salah satu bentuk narasi. Ketika seseorang menulis lagu untuk kekasihnya, ia tidak hanya sedang menceritakan cintanya. Ia sedang membangun identitas dirinya sebagai seseorang yang pernah mencintai.

Menurut  Husserl kesadaran selalu menuju sesuatu. Ketika seseorang menciptakan lagu untuk kekasihnya, yang hadir bukan lagi sekadar orang yang dicintai. Yang hadir adalah pengalaman mencintai itu sendiri.

Merleau-Ponty juga pernah berujar : Musik bukan objek. Musik adalah pengalaman tubuh. Nada tidak dipahami. Nada dialami.

Tak ketinggalan  Heidegger berucap,  karya seni bukan representasi. Ia membuka dunia. Lagu cinta tidak menceritakan cinta. Ia membuat cinta hadir.

Musik Sering Kali Lebih Jujur daripada Bahasa

Susanne Langer pernah mengatakan  bahwa musik adalah simbol bentuk-bentuk perasaan (forms of feeling). Karena itu dua orang dapat menangis pada lagu yang sama, meskipun mengalami kisah hidup yang berbeda.

Tafsir fenomenologis mengenai pencipataan lagu romantik akan lebih lengkap kalau kita menengok pemikiran Roland Barthes. Menurut Barthes ada lapisan semiotik berupa makna Denotasi, Konotasi dan Mitos. Denotasi adalah makna asli atau makna sebenarnya yang apa adanya. Konotasi adalah makna tambahan atau makna kiasan yang punya nilai rasa.. Mitos adalah cara pandang atau kebiasaan di dalam suatu budaya yang dianggap benar oleh umum.

Dan perlu kita tambahkan  terkait makna lagu adalah satu lapisan reflektif yaitu Resonansi. Lagu tidak berhenti menjadi tanda, ia menjadi pengalaman. Bahkan sebuah lagu yang semula berawal sebagai guratan pengalaman personal bisa bergeser menjadi pengalaman universal pendengarnya.

Sekedar ilustasi saya akan menampilkan secuil lirik lagu berikut :

Elegi Abadi

Dari relung hati yang pernah teduh,

Kutitipkan seluruh doa dan utuh.
Segala tawa, segala asa,
Kuserahkan hanya untukmu semata.

Namun takdir menulis kisah berbeda,
Memisahkan langkah yang saling menjaga.
Namamu tinggal menjadi cahaya,
Yang tak mampu kupeluk selamanya.

Kucoba menenggelamkan kenangan,
Di laut sunyi tanpa tepian.
Namun semakin jauh ingin kulepas,
Semakin dekat kau menetap.

Cinta ini enggan berpamitan,
Tetap bernapas dalam keheningan.
Mengalir pelan di setiap nadi.

Cinta ini tak pernah berakhir,
Ia hanya berganti menjadi takdir.
Mengalir lembut di setiap nadi,
Hingga fajar menjemput mimpi.

Bila seseorang menangis mendengarnya,
Mungkin ia sedang memeluk kisahnya.
Karena cinta dan kehilangan akhirnya berpadu,
Menjadi bahasa yang dimengerti seluruh waktu.

Biarlah elegi ini terus bernyanyi,
Bukan untuk memanggilmu kembali.
Melainkan menjadi rumah bagi mereka,
Yang pernah mencinta…
Namun harus belajar hidup tanpanya.

Menariknya, pada bagian akhir lagu itu, “engkau” perlahan menghilang. Yang muncul justru “mereka”. Luka pribadi berhenti menjadi milik seorang pencipta, lalu berubah menjadi tempat berteduh bagi siapa pun yang pernah kehilangan. Pada saat itulah lagu berhenti menjadi surat cinta dan menjelma pengalaman bersama.

Mengapa Sejarah Musik Dipenuhi Lagu Romantik?

Sejak Sappho menulis puisi-puisi cintanya di Pulau Lesbos lebih dari dua milenium silam, manusia tampaknya tidak pernah berhenti menyanyikan kerinduan. Para troubadour pada Abad Pertengahan mengembara dari satu istana ke istana lain membawa balada tentang kasih yang mustahil.

Schubert mengubah puisi menjadi Lieder, Puccini membuat cinta bernyanyi di panggung opera, sementara Beatles, Whitney Houston, Coldplay, hingga Ed Sheeran menerjemahkan kerinduan ke dalam bahasa zaman mereka. Genre boleh berubah, instrumen boleh berganti, tetapi pertanyaan yang dibawa setiap lagu tetap sama: bagaimana mengatakan sesuatu yang tidak selesai oleh kata-kata?

Karya- karya tersebut bisa bertahan selama ribuan tahun bukan sekadar genre romantik. Yang bertahan adalah kebutuhan manusia untuk mengatakan sesuatu yang tidak mampu disampaikan oleh kalimat biasa.

Barangkali itulah sebabnya manusia tidak pernah berhenti menulis lagu cinta. Bukan karena cinta selalu menemukan rumahnya, melainkan karena ia selalu mencari bahasa yang sanggup menampungnya.

Kita mungkin lupa kepada siapa lagu itu mula-mula ditujukan. Kita bahkan mungkin tidak pernah mengenal siapa yang menulisnya. Namun ketika suatu malam lagu itu terdengar dan tanpa alasan yang jelas mata kita basah, di situlah kita mengerti bahwa musik telah melakukan sesuatu yang gagal dilakukan oleh bahasa: ia tidak menjelaskan pengalaman, melainkan menghadirkannya.

Dan mungkin, sejak awal peradaban, itulah pekerjaan paling sunyi dari setiap lagu. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasacintamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

Next Post

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co