2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

“Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?”

Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi tak sanggup menyusun satu kalimat kepada orang yang paling dicintainya. Lalu ia mengambil gitar. Atau duduk di depan piano. Atau hanya membuka aplikasi pencatat di telepon genggam. Dari sana lahirlah sebuah lagu.

Bahasa Memiliki Batas

Wittgenstein pernah mengingatkan bahwa batas bahasa adalah batas dunia. Tetapi mungkin seni lahir justru karena manusia tidak pernah benar-benar puas hidup di dalam batas itu. Ketika kata-kata berhenti, musik mengambil alih pekerjaan bahasa.

Musik muncul ketika bahasa sehari-hari tidak lagi mampu memikul pengalaman. Ada pengalaman yang terlalu penuh untuk menjadi kalimat. Kata-kata bekerja dengan makna yang disepakati bersama, sedangkan perasaan sering kali lahir dari wilayah yang belum memiliki nama. Kita mengenal gugup, rindu, syukur, kehilangan, tetapi setiap orang sesungguhnya mengalami kata-kata itu dengan warna yang berbeda. Di sanalah bahasa mulai retak. Dan ketika retakan itu semakin lebar, manusia tidak selalu memilih diam. Ia memilih bernyanyi.

Saya jadi ingat pernyataan Paul Ricoeur mengenai narative identity. Manusia sesungguhnya mengenali dirinya melalui cerita yang ia bangun. Lagu adalah salah satu bentuk narasi. Ketika seseorang menulis lagu untuk kekasihnya, ia tidak hanya sedang menceritakan cintanya. Ia sedang membangun identitas dirinya sebagai seseorang yang pernah mencintai.

Menurut  Husserl kesadaran selalu menuju sesuatu. Ketika seseorang menciptakan lagu untuk kekasihnya, yang hadir bukan lagi sekadar orang yang dicintai. Yang hadir adalah pengalaman mencintai itu sendiri.

Merleau-Ponty juga pernah berujar : Musik bukan objek. Musik adalah pengalaman tubuh. Nada tidak dipahami. Nada dialami.

Tak ketinggalan  Heidegger berucap,  karya seni bukan representasi. Ia membuka dunia. Lagu cinta tidak menceritakan cinta. Ia membuat cinta hadir.

Musik Sering Kali Lebih Jujur daripada Bahasa

Susanne Langer pernah mengatakan  bahwa musik adalah simbol bentuk-bentuk perasaan (forms of feeling). Karena itu dua orang dapat menangis pada lagu yang sama, meskipun mengalami kisah hidup yang berbeda.

Tafsir fenomenologis mengenai pencipataan lagu romantik akan lebih lengkap kalau kita menengok pemikiran Roland Barthes. Menurut Barthes ada lapisan semiotik berupa makna Denotasi, Konotasi dan Mitos. Denotasi adalah makna asli atau makna sebenarnya yang apa adanya. Konotasi adalah makna tambahan atau makna kiasan yang punya nilai rasa.. Mitos adalah cara pandang atau kebiasaan di dalam suatu budaya yang dianggap benar oleh umum.

Dan perlu kita tambahkan  terkait makna lagu adalah satu lapisan reflektif yaitu Resonansi. Lagu tidak berhenti menjadi tanda, ia menjadi pengalaman. Bahkan sebuah lagu yang semula berawal sebagai guratan pengalaman personal bisa bergeser menjadi pengalaman universal pendengarnya.

Sekedar ilustasi saya akan menampilkan secuil lirik lagu berikut :

Elegi Abadi

Dari relung hati yang pernah teduh,

Kutitipkan seluruh doa dan utuh.
Segala tawa, segala asa,
Kuserahkan hanya untukmu semata.

Namun takdir menulis kisah berbeda,
Memisahkan langkah yang saling menjaga.
Namamu tinggal menjadi cahaya,
Yang tak mampu kupeluk selamanya.

Kucoba menenggelamkan kenangan,
Di laut sunyi tanpa tepian.
Namun semakin jauh ingin kulepas,
Semakin dekat kau menetap.

Cinta ini enggan berpamitan,
Tetap bernapas dalam keheningan.
Mengalir pelan di setiap nadi.

Cinta ini tak pernah berakhir,
Ia hanya berganti menjadi takdir.
Mengalir lembut di setiap nadi,
Hingga fajar menjemput mimpi.

Bila seseorang menangis mendengarnya,
Mungkin ia sedang memeluk kisahnya.
Karena cinta dan kehilangan akhirnya berpadu,
Menjadi bahasa yang dimengerti seluruh waktu.

Biarlah elegi ini terus bernyanyi,
Bukan untuk memanggilmu kembali.
Melainkan menjadi rumah bagi mereka,
Yang pernah mencinta…
Namun harus belajar hidup tanpanya.

Menariknya, pada bagian akhir lagu itu, “engkau” perlahan menghilang. Yang muncul justru “mereka”. Luka pribadi berhenti menjadi milik seorang pencipta, lalu berubah menjadi tempat berteduh bagi siapa pun yang pernah kehilangan. Pada saat itulah lagu berhenti menjadi surat cinta dan menjelma pengalaman bersama.

Mengapa Sejarah Musik Dipenuhi Lagu Romantik?

Sejak Sappho menulis puisi-puisi cintanya di Pulau Lesbos lebih dari dua milenium silam, manusia tampaknya tidak pernah berhenti menyanyikan kerinduan. Para troubadour pada Abad Pertengahan mengembara dari satu istana ke istana lain membawa balada tentang kasih yang mustahil.

Schubert mengubah puisi menjadi Lieder, Puccini membuat cinta bernyanyi di panggung opera, sementara Beatles, Whitney Houston, Coldplay, hingga Ed Sheeran menerjemahkan kerinduan ke dalam bahasa zaman mereka. Genre boleh berubah, instrumen boleh berganti, tetapi pertanyaan yang dibawa setiap lagu tetap sama: bagaimana mengatakan sesuatu yang tidak selesai oleh kata-kata?

Karya- karya tersebut bisa bertahan selama ribuan tahun bukan sekadar genre romantik. Yang bertahan adalah kebutuhan manusia untuk mengatakan sesuatu yang tidak mampu disampaikan oleh kalimat biasa.

Barangkali itulah sebabnya manusia tidak pernah berhenti menulis lagu cinta. Bukan karena cinta selalu menemukan rumahnya, melainkan karena ia selalu mencari bahasa yang sanggup menampungnya.

Kita mungkin lupa kepada siapa lagu itu mula-mula ditujukan. Kita bahkan mungkin tidak pernah mengenal siapa yang menulisnya. Namun ketika suatu malam lagu itu terdengar dan tanpa alasan yang jelas mata kita basah, di situlah kita mengerti bahwa musik telah melakukan sesuatu yang gagal dilakukan oleh bahasa: ia tidak menjelaskan pengalaman, melainkan menghadirkannya.

Dan mungkin, sejak awal peradaban, itulah pekerjaan paling sunyi dari setiap lagu. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasacintamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

Next Post

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co