2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

“Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?”

Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi tak sanggup menyusun satu kalimat kepada orang yang paling dicintainya. Lalu ia mengambil gitar. Atau duduk di depan piano. Atau hanya membuka aplikasi pencatat di telepon genggam. Dari sana lahirlah sebuah lagu.

Bahasa Memiliki Batas

Wittgenstein pernah mengingatkan bahwa batas bahasa adalah batas dunia. Tetapi mungkin seni lahir justru karena manusia tidak pernah benar-benar puas hidup di dalam batas itu. Ketika kata-kata berhenti, musik mengambil alih pekerjaan bahasa.

Musik muncul ketika bahasa sehari-hari tidak lagi mampu memikul pengalaman. Ada pengalaman yang terlalu penuh untuk menjadi kalimat. Kata-kata bekerja dengan makna yang disepakati bersama, sedangkan perasaan sering kali lahir dari wilayah yang belum memiliki nama. Kita mengenal gugup, rindu, syukur, kehilangan, tetapi setiap orang sesungguhnya mengalami kata-kata itu dengan warna yang berbeda. Di sanalah bahasa mulai retak. Dan ketika retakan itu semakin lebar, manusia tidak selalu memilih diam. Ia memilih bernyanyi.

Saya jadi ingat pernyataan Paul Ricoeur mengenai narative identity. Manusia sesungguhnya mengenali dirinya melalui cerita yang ia bangun. Lagu adalah salah satu bentuk narasi. Ketika seseorang menulis lagu untuk kekasihnya, ia tidak hanya sedang menceritakan cintanya. Ia sedang membangun identitas dirinya sebagai seseorang yang pernah mencintai.

Menurut  Husserl kesadaran selalu menuju sesuatu. Ketika seseorang menciptakan lagu untuk kekasihnya, yang hadir bukan lagi sekadar orang yang dicintai. Yang hadir adalah pengalaman mencintai itu sendiri.

Merleau-Ponty juga pernah berujar : Musik bukan objek. Musik adalah pengalaman tubuh. Nada tidak dipahami. Nada dialami.

Tak ketinggalan  Heidegger berucap,  karya seni bukan representasi. Ia membuka dunia. Lagu cinta tidak menceritakan cinta. Ia membuat cinta hadir.

Musik Sering Kali Lebih Jujur daripada Bahasa

Susanne Langer pernah mengatakan  bahwa musik adalah simbol bentuk-bentuk perasaan (forms of feeling). Karena itu dua orang dapat menangis pada lagu yang sama, meskipun mengalami kisah hidup yang berbeda.

Tafsir fenomenologis mengenai pencipataan lagu romantik akan lebih lengkap kalau kita menengok pemikiran Roland Barthes. Menurut Barthes ada lapisan semiotik berupa makna Denotasi, Konotasi dan Mitos. Denotasi adalah makna asli atau makna sebenarnya yang apa adanya. Konotasi adalah makna tambahan atau makna kiasan yang punya nilai rasa.. Mitos adalah cara pandang atau kebiasaan di dalam suatu budaya yang dianggap benar oleh umum.

Dan perlu kita tambahkan  terkait makna lagu adalah satu lapisan reflektif yaitu Resonansi. Lagu tidak berhenti menjadi tanda, ia menjadi pengalaman. Bahkan sebuah lagu yang semula berawal sebagai guratan pengalaman personal bisa bergeser menjadi pengalaman universal pendengarnya.

Sekedar ilustasi saya akan menampilkan secuil lirik lagu berikut :

Elegi Abadi

Dari relung hati yang pernah teduh,

Kutitipkan seluruh doa dan utuh.
Segala tawa, segala asa,
Kuserahkan hanya untukmu semata.

Namun takdir menulis kisah berbeda,
Memisahkan langkah yang saling menjaga.
Namamu tinggal menjadi cahaya,
Yang tak mampu kupeluk selamanya.

Kucoba menenggelamkan kenangan,
Di laut sunyi tanpa tepian.
Namun semakin jauh ingin kulepas,
Semakin dekat kau menetap.

Cinta ini enggan berpamitan,
Tetap bernapas dalam keheningan.
Mengalir pelan di setiap nadi.

Cinta ini tak pernah berakhir,
Ia hanya berganti menjadi takdir.
Mengalir lembut di setiap nadi,
Hingga fajar menjemput mimpi.

Bila seseorang menangis mendengarnya,
Mungkin ia sedang memeluk kisahnya.
Karena cinta dan kehilangan akhirnya berpadu,
Menjadi bahasa yang dimengerti seluruh waktu.

Biarlah elegi ini terus bernyanyi,
Bukan untuk memanggilmu kembali.
Melainkan menjadi rumah bagi mereka,
Yang pernah mencinta…
Namun harus belajar hidup tanpanya.

Menariknya, pada bagian akhir lagu itu, “engkau” perlahan menghilang. Yang muncul justru “mereka”. Luka pribadi berhenti menjadi milik seorang pencipta, lalu berubah menjadi tempat berteduh bagi siapa pun yang pernah kehilangan. Pada saat itulah lagu berhenti menjadi surat cinta dan menjelma pengalaman bersama.

Mengapa Sejarah Musik Dipenuhi Lagu Romantik?

Sejak Sappho menulis puisi-puisi cintanya di Pulau Lesbos lebih dari dua milenium silam, manusia tampaknya tidak pernah berhenti menyanyikan kerinduan. Para troubadour pada Abad Pertengahan mengembara dari satu istana ke istana lain membawa balada tentang kasih yang mustahil.

Schubert mengubah puisi menjadi Lieder, Puccini membuat cinta bernyanyi di panggung opera, sementara Beatles, Whitney Houston, Coldplay, hingga Ed Sheeran menerjemahkan kerinduan ke dalam bahasa zaman mereka. Genre boleh berubah, instrumen boleh berganti, tetapi pertanyaan yang dibawa setiap lagu tetap sama: bagaimana mengatakan sesuatu yang tidak selesai oleh kata-kata?

Karya- karya tersebut bisa bertahan selama ribuan tahun bukan sekadar genre romantik. Yang bertahan adalah kebutuhan manusia untuk mengatakan sesuatu yang tidak mampu disampaikan oleh kalimat biasa.

Barangkali itulah sebabnya manusia tidak pernah berhenti menulis lagu cinta. Bukan karena cinta selalu menemukan rumahnya, melainkan karena ia selalu mencari bahasa yang sanggup menampungnya.

Kita mungkin lupa kepada siapa lagu itu mula-mula ditujukan. Kita bahkan mungkin tidak pernah mengenal siapa yang menulisnya. Namun ketika suatu malam lagu itu terdengar dan tanpa alasan yang jelas mata kita basah, di situlah kita mengerti bahwa musik telah melakukan sesuatu yang gagal dilakukan oleh bahasa: ia tidak menjelaskan pengalaman, melainkan menghadirkannya.

Dan mungkin, sejak awal peradaban, itulah pekerjaan paling sunyi dari setiap lagu. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasacintamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

Next Post

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails
Next Post
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co