12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

“Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?”

Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi tak sanggup menyusun satu kalimat kepada orang yang paling dicintainya. Lalu ia mengambil gitar. Atau duduk di depan piano. Atau hanya membuka aplikasi pencatat di telepon genggam. Dari sana lahirlah sebuah lagu.

Bahasa Memiliki Batas

Wittgenstein pernah mengingatkan bahwa batas bahasa adalah batas dunia. Tetapi mungkin seni lahir justru karena manusia tidak pernah benar-benar puas hidup di dalam batas itu. Ketika kata-kata berhenti, musik mengambil alih pekerjaan bahasa.

Musik muncul ketika bahasa sehari-hari tidak lagi mampu memikul pengalaman. Ada pengalaman yang terlalu penuh untuk menjadi kalimat. Kata-kata bekerja dengan makna yang disepakati bersama, sedangkan perasaan sering kali lahir dari wilayah yang belum memiliki nama. Kita mengenal gugup, rindu, syukur, kehilangan, tetapi setiap orang sesungguhnya mengalami kata-kata itu dengan warna yang berbeda. Di sanalah bahasa mulai retak. Dan ketika retakan itu semakin lebar, manusia tidak selalu memilih diam. Ia memilih bernyanyi.

Saya jadi ingat pernyataan Paul Ricoeur mengenai narative identity. Manusia sesungguhnya mengenali dirinya melalui cerita yang ia bangun. Lagu adalah salah satu bentuk narasi. Ketika seseorang menulis lagu untuk kekasihnya, ia tidak hanya sedang menceritakan cintanya. Ia sedang membangun identitas dirinya sebagai seseorang yang pernah mencintai.

Menurut  Husserl kesadaran selalu menuju sesuatu. Ketika seseorang menciptakan lagu untuk kekasihnya, yang hadir bukan lagi sekadar orang yang dicintai. Yang hadir adalah pengalaman mencintai itu sendiri.

Merleau-Ponty juga pernah berujar : Musik bukan objek. Musik adalah pengalaman tubuh. Nada tidak dipahami. Nada dialami.

Tak ketinggalan  Heidegger berucap,  karya seni bukan representasi. Ia membuka dunia. Lagu cinta tidak menceritakan cinta. Ia membuat cinta hadir.

Musik Sering Kali Lebih Jujur daripada Bahasa

Susanne Langer pernah mengatakan  bahwa musik adalah simbol bentuk-bentuk perasaan (forms of feeling). Karena itu dua orang dapat menangis pada lagu yang sama, meskipun mengalami kisah hidup yang berbeda.

Tafsir fenomenologis mengenai pencipataan lagu romantik akan lebih lengkap kalau kita menengok pemikiran Roland Barthes. Menurut Barthes ada lapisan semiotik berupa makna Denotasi, Konotasi dan Mitos. Denotasi adalah makna asli atau makna sebenarnya yang apa adanya. Konotasi adalah makna tambahan atau makna kiasan yang punya nilai rasa.. Mitos adalah cara pandang atau kebiasaan di dalam suatu budaya yang dianggap benar oleh umum.

Dan perlu kita tambahkan  terkait makna lagu adalah satu lapisan reflektif yaitu Resonansi. Lagu tidak berhenti menjadi tanda, ia menjadi pengalaman. Bahkan sebuah lagu yang semula berawal sebagai guratan pengalaman personal bisa bergeser menjadi pengalaman universal pendengarnya.

Sekedar ilustasi saya akan menampilkan secuil lirik lagu berikut :

Elegi Abadi

Dari relung hati yang pernah teduh,

Kutitipkan seluruh doa dan utuh.
Segala tawa, segala asa,
Kuserahkan hanya untukmu semata.

Namun takdir menulis kisah berbeda,
Memisahkan langkah yang saling menjaga.
Namamu tinggal menjadi cahaya,
Yang tak mampu kupeluk selamanya.

Kucoba menenggelamkan kenangan,
Di laut sunyi tanpa tepian.
Namun semakin jauh ingin kulepas,
Semakin dekat kau menetap.

Cinta ini enggan berpamitan,
Tetap bernapas dalam keheningan.
Mengalir pelan di setiap nadi.

Cinta ini tak pernah berakhir,
Ia hanya berganti menjadi takdir.
Mengalir lembut di setiap nadi,
Hingga fajar menjemput mimpi.

Bila seseorang menangis mendengarnya,
Mungkin ia sedang memeluk kisahnya.
Karena cinta dan kehilangan akhirnya berpadu,
Menjadi bahasa yang dimengerti seluruh waktu.

Biarlah elegi ini terus bernyanyi,
Bukan untuk memanggilmu kembali.
Melainkan menjadi rumah bagi mereka,
Yang pernah mencinta…
Namun harus belajar hidup tanpanya.

Menariknya, pada bagian akhir lagu itu, “engkau” perlahan menghilang. Yang muncul justru “mereka”. Luka pribadi berhenti menjadi milik seorang pencipta, lalu berubah menjadi tempat berteduh bagi siapa pun yang pernah kehilangan. Pada saat itulah lagu berhenti menjadi surat cinta dan menjelma pengalaman bersama.

Mengapa Sejarah Musik Dipenuhi Lagu Romantik?

Sejak Sappho menulis puisi-puisi cintanya di Pulau Lesbos lebih dari dua milenium silam, manusia tampaknya tidak pernah berhenti menyanyikan kerinduan. Para troubadour pada Abad Pertengahan mengembara dari satu istana ke istana lain membawa balada tentang kasih yang mustahil.

Schubert mengubah puisi menjadi Lieder, Puccini membuat cinta bernyanyi di panggung opera, sementara Beatles, Whitney Houston, Coldplay, hingga Ed Sheeran menerjemahkan kerinduan ke dalam bahasa zaman mereka. Genre boleh berubah, instrumen boleh berganti, tetapi pertanyaan yang dibawa setiap lagu tetap sama: bagaimana mengatakan sesuatu yang tidak selesai oleh kata-kata?

Karya- karya tersebut bisa bertahan selama ribuan tahun bukan sekadar genre romantik. Yang bertahan adalah kebutuhan manusia untuk mengatakan sesuatu yang tidak mampu disampaikan oleh kalimat biasa.

Barangkali itulah sebabnya manusia tidak pernah berhenti menulis lagu cinta. Bukan karena cinta selalu menemukan rumahnya, melainkan karena ia selalu mencari bahasa yang sanggup menampungnya.

Kita mungkin lupa kepada siapa lagu itu mula-mula ditujukan. Kita bahkan mungkin tidak pernah mengenal siapa yang menulisnya. Namun ketika suatu malam lagu itu terdengar dan tanpa alasan yang jelas mata kita basah, di situlah kita mengerti bahwa musik telah melakukan sesuatu yang gagal dilakukan oleh bahasa: ia tidak menjelaskan pengalaman, melainkan menghadirkannya.

Dan mungkin, sejak awal peradaban, itulah pekerjaan paling sunyi dari setiap lagu. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasacintamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

Next Post

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co