2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Mahesa Putra by Mahesa Putra
August 2, 2026
in Ulas Musik
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Leo Kristi

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.”

JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di sana. Berusahalah pembaca mengorek-orek arsip, baik digital maupun cetak, baik nasional maupun internasional. Puncaknya folk ada di tahun 70-an; selebihnya hanya percikan api yang tercecer. Kita temui setelah era 80-an: Iwan Fals, Leo Kristi, dan Kantata Takwa.

Tetapi, folk adalah jalan berlubang yang dalam dan curam. Iwan Fals dan Kantata Takwa setelah Reformasi 1998 seperti terkubur dalam lubang yang mereka gali sendiri. Folk masa itu menjadi nyanyian kritis yang mengganggu kursi nyaman penguasa. Konsernya nyaris berhimpit demi menyuarakan sesak di dada masyarakat pada keadaan saat itu.

Namun, setelah Reformasi selesai, folk berganti rupa. Syair-syair magis seperti W.S. Rendra ketika membersamai Kantata Takwa hampir tak terdengar lagi. Musik folk menjadi lebih beragam memasuki era digital seperti sekarang. Hal itu tak juga membuat musik folk mendaki puncak di tangga musik tanah air, meski telah berganti rupa ke ranah yang lebih eksploratif. Seperti yang telah dilakukan oleh Silampukau yang berganti menjadi orkes dengan lirik Melayu. Sesuatu yang menawan, tetapi tangga musik di platform musik digital juga tidak menempatkan Silampukau di sana. Platform musik digital yang kita temui sehari-hari adalah rangkuman dari beragamnya pendengar dari berbagai kalangan.

Musisinya nyaris misterius, menulis lirik dan melantunkannya ke tempat-tempat di sepanjang pesisir—seperti Leo Kristi yang tak banyak dibicarakan. Tetapi, itu bukan menjadi alasan musik itu bagus atau tidak bagus. Standar musik tidak berhenti di sana; ia berkembang mengikuti kebiasaan dan tren.

Hari ini, ada sesuatu yang dapat mengubah arah musik dengan sekali jentikan tangan. Mengubah arah musik dengan cepat, bukan dengan berlomba menciptakan musikalitas yang tinggi, melainkan ada algoritma yang berperan mengatur berdasarkan jumlah like dan aktivitas saling-suka-menyukai. Algoritma ini menempatkan orang-orang yang menyukai satu hal dengan lainnya seperti sebuah gelembung. Bisa kita katakan bahwa lagu yang populer di puncak tangga lagu pada platform musik digital adalah sebuah gelembung raksasa, sementara musik folk sebagai gelembung yang kecil dan kendur. Sehingga melalui aktivitas scroll, lagu-lagu yang baru saja beranjak dari tombol like dan banyak di-share akan merangkak naik. Gelembung kecil dan kendur ini berusaha membaur dan mengembang agar menjadi gelembung yang lebih besar.

Ke-fomo-an ini menjadi jalan tol bagi para musisi. PR hari ini tidak lagi membuat musik dengan standar tinggi, melainkan bagaimana mengejar aktivitas FOMO dari masyarakat media sosial hari ini. Ini digunakan Jab Bady; ia melihat celah yang dapat diisi oleh musisi folk. Ia memanfaatkan fenomena yang bisa jadi dianggap jalan haram oleh musisi folk misterius seperti Leo Kristi. Tetapi, zaman perlahan menggeser makna itu. Jab Bady menjadi representasi baru bahwa musik bisa begitu dekat dengan pendengar, tanpa perlu bersusah payah mengobrak-abrik platform digital untuk mendengarkannya. Naas pula jika ditemui musik-musik folk yang terlalu misterius ini.

Kita tidak sedang membicarakan cara instan itu dan menawarkannya kepada musisi folk, tetapi itulah sebagian fakta yang tak dapat dihindari pada dunia permusikan tanah air: jalan berlubang yang mesti ditambal.

Beberapa bulan yang lalu, saya mendapati sebuah musik dari aktivasi serupa Jab Bady yang kita bahas di atas. Scrolling reels Instagram, lalu berjumpa dengan salah satu musisi folk yang sedang menyanyikan lagunya. Tidak menggunakan rekaman proper di studio, ia menyanyikan lagunya menggunakan gitar kopong di bawah pohon. Lagunya begitu sederhana, hampir tidak ada upaya untuk memberat-beratkan suara agar musiknya enak didengar. Ia bernyanyi seperti sedang nongkrong, dan kadang beberapa nada terdengar mengganggu.

Menariknya, ia tidak membuat video baru, menyorot dengan sempurna, atau bahkan menggunakan rekaman yang proper seperti di studio. Tidak, ia menyanyikan lagu “Margonda”—lagu yang diciptakannya sendiri. Musisi folk ini suaranya mengingatkan pada Bob Dylan. Ia juga memainkan harmonika, tetapi tidak mengganggu seperti Dylan yang memainkannya. Harmonika Jab Bady terdengar sangat nyaman di telinga, seperti Iwan Fals yang memainkan lagu-lagu cintanya.

Berbeda dengan Iwan Fals di awal kariernya yang lantang, atau Bob Dylan yang memainkan nada-nada kritisnya, Jab Bady mengemasnya begitu rapi. Ia mereplika Margonda menjadi sebuah lagu. Margonda sendiri adalah nama sebuah jalan raya di Depok yang menghubungkan Jakarta dan Kabupaten Bogor. Beberapa orang berkomentar di postingannya tentang lagu itu dengan beragam tanggapan. Di antara komentar itu, menariknya beberapa warga Depok menyebut lagu itu sebagai anthem baru dan lagu untuk menemani pergi kerja di kota yang padat.

Dengan pengemasan sederhana Jab Bady di laman media sosialnya, ia menyanyikan lagu-lagu yang dibuatnya begitu natural. Di hadapan masyarakat media sosialnya, ia berbagi chord dan lirik secara cuma-cuma. Lagu-lagunya dinyanyikan kembali dalam bentuk yang lebih sederhana; di hadapan kamera, ia melepas lagu-lagunya.

Jab Bady menjelma sosok musisi yang membaur di laman media sosial. Kesan musisi folk yang misterius seperti Leo Kristi lebur ketika ia mulai memainkan lagu-lagu seperti “Jangan Konci Stang”, “Yudi Doain”, dan “Margonda”. Ketika Leo Kristi menggunakan liriknya untuk menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir, Jab Bady menggunakan liriknya untuk menggambarkan fenomena urban, terutama di sekeliling kehidupannya sehari-hari. Apakah ia akan mampu bersanding dengan nama-nama besar musisi folk nasional sebelum dia?

Sebagai penulis dan penikmat musik folk, saya akan mencoba untuk membeberkan Jab Bady dalam pengalaman saya mendengar musik. Jab Bady tumbuh dengan beberapa pengaruh. Yang menonjol dari cara ia bernyanyi adalah ia menggunakan napas Bob Dylan, seperti yang kita dengar pada lagu “Margonda”. Tetapi ketika masuk pada reff lagu ini:

Di lorong gelap memoriku ini
Semuanya terlukis di dinding hati
Cinta luka senyum air mata
Menghangatkan juga mencabik

…kita akan menemukan Iwan Fals muda yang sedang menyanyikan lagu “Rindu Tebal”. Menariknya, Jab Bady memasukkan harmonika yang tidak mengganggu telinga seperti Bob Dylan ketika memainkannya pada lagu seperti “I Don’t Believe You”.

Kehadiran Jab Bady setidaknya mengobati kerinduan akan kemunculan musik-musik folk dengan lirik hari ini, namun tetap mempertahankan gaya musik folk khas musisi di Greenwich Village—sebuah kiblat musik folk di mana kelahiran musisinya dimulai melalui kafe-kafe dan pinggiran jalannya. Greenwich Village masuk dalam wilayah Manhattan yang merupakan bagian dari New York City. Mengorek kembali kehadiran Jab Bady, kita menemukan nasib yang sama seperti musisi folk pada awal kemunculannya di Greenwich Village.

Jab Bady bernyanyi memungut lirik-lirik yang bertebaran di trotoar jalan: kisah tukang parkir, seorang kawan, jalan berlubang, dan ia juga terkadang muncul sebagai sosok yang romantis. Tetapi ia tidak mengangkat kisah asmara seperti pada puncak tangga lagu di platform musik digital. Jab Bady secara jujur menggambarkan kisah sejoli yang sangat sederhana pada lagu “Wara-Wiri Berdua”—salah satu lagu yang tentu sangat relate dengan banyak sejoli di pinggiran kota besar, kisah dua sejoli yang dihimpit gedung-gedung tinggi:

Kita berjalan di awan sambil tertawa
Jejak indah terpahat di dalam jiwa
Saat bersama dengan orang yang tepat
Mengapa jam berlalu begitu cepat

Jab Bady mampu mengemas kepadatan kota, hiruk-pikuk rutinitas, dan jadwal kerja yang memburu. Pada bagian lirik “Saat bersama dengan orang yang tepat, mengapa jam berlalu begitu cepat”, bagian ini menunjukkan dua sejoli yang sama-sama diburu waktu, memanfaatkan waktu luang di kota besar yang sedikit sekali hari libur sehingga waktu cepat terbakar. Jab Bady begitu sederhana menggambarkannya pada bagian itu.

Juga, ada bagian yang menurutku sebagai pendengar begitu relate:

Spion kiriku dihiasi wajahmu
Pas kau melirik langsung senyum tersipu
Ku menyalip mobil yang melambat melaju
Kau mencubitku terasa semakin syahdu
Sesampainya di rumahmu matanya bicara
Masih rindu jangan kau tinggalkan aku
Melepas temu rindu ini semakin parah
Kucoba melawan namun bayangmu tak luruh

Kebahagiaan sederhana seperti ini jarang disorot pada lagu-lagu pop di puncak tangga lagu platform musik digital. Ketika lagu populer memainkan lirik-lirik di luar kehidupan masyarakat urban, Jab Bady berani tampil apa adanya. Liriknya mewakili peristiwa, mewakili keadaan, juga mengajak pendengar untuk tidak memaksakan hal-hal di luar jangkauan kita. Ia tidak berbicara tentang bulan, senja, atau hal-hal yang hampir sulit ditemukan di kota padat. Ia berbicara keindahan lewat momen sederhana; bahkan itu adalah peristiwa yang dirasakan sehari-hari.

Hal ini menjadikan napas musik folk begitu akrab, seperti yang bisa kita dengar pada lagu-lagu Bob Dylan. Seperti “Mr. Tambourine Man” untuk pengantar surat, Jab Bady juga menggambarkan fenomena tukang parkir dengan membuat lagu “Jangan Konci Stang”.

Sebuah keberanian Jab Bady memilih memainkan musik folk di Indonesia. Di antara banyak pilihan jenis genre, folk adalah jalan berlubang: bersiap untuk terasing di tangga lagu, atau bersiap untuk tidak mendapat pendengar sama sekali. Namun, melihat lagu-lagu yang dibawa Jab Bady, bukan tak mungkin ia akan mendapat banyak pendengar. Lagu yang mewakili masyarakat urban, bahkan lagu-lagu dengan peristiwa sehari-hari, kawin-mengawin dengan suara, lirik, dan nada.

Margonda menjangkau Greenwich Village—bukan hal yang mustahil. Keduanya memiliki musisi folk yang merekam realitas jalanan lewat musik-musiknya. [T]

Penulis: Mahesa Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bob Dylanfolk songIwan FalsLeo Kristimusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

Next Post

Mantra Visual Made Wiradana

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails
Next Post
Mantra Visual Made Wiradana

Mantra Visual Made Wiradana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co