“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.”
JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di sana. Berusahalah pembaca mengorek-orek arsip, baik digital maupun cetak, baik nasional maupun internasional. Puncaknya folk ada di tahun 70-an; selebihnya hanya percikan api yang tercecer. Kita temui setelah era 80-an: Iwan Fals, Leo Kristi, dan Kantata Takwa.
Tetapi, folk adalah jalan berlubang yang dalam dan curam. Iwan Fals dan Kantata Takwa setelah Reformasi 1998 seperti terkubur dalam lubang yang mereka gali sendiri. Folk masa itu menjadi nyanyian kritis yang mengganggu kursi nyaman penguasa. Konsernya nyaris berhimpit demi menyuarakan sesak di dada masyarakat pada keadaan saat itu.
Namun, setelah Reformasi selesai, folk berganti rupa. Syair-syair magis seperti W.S. Rendra ketika membersamai Kantata Takwa hampir tak terdengar lagi. Musik folk menjadi lebih beragam memasuki era digital seperti sekarang. Hal itu tak juga membuat musik folk mendaki puncak di tangga musik tanah air, meski telah berganti rupa ke ranah yang lebih eksploratif. Seperti yang telah dilakukan oleh Silampukau yang berganti menjadi orkes dengan lirik Melayu. Sesuatu yang menawan, tetapi tangga musik di platform musik digital juga tidak menempatkan Silampukau di sana. Platform musik digital yang kita temui sehari-hari adalah rangkuman dari beragamnya pendengar dari berbagai kalangan.
Musisinya nyaris misterius, menulis lirik dan melantunkannya ke tempat-tempat di sepanjang pesisir—seperti Leo Kristi yang tak banyak dibicarakan. Tetapi, itu bukan menjadi alasan musik itu bagus atau tidak bagus. Standar musik tidak berhenti di sana; ia berkembang mengikuti kebiasaan dan tren.
Hari ini, ada sesuatu yang dapat mengubah arah musik dengan sekali jentikan tangan. Mengubah arah musik dengan cepat, bukan dengan berlomba menciptakan musikalitas yang tinggi, melainkan ada algoritma yang berperan mengatur berdasarkan jumlah like dan aktivitas saling-suka-menyukai. Algoritma ini menempatkan orang-orang yang menyukai satu hal dengan lainnya seperti sebuah gelembung. Bisa kita katakan bahwa lagu yang populer di puncak tangga lagu pada platform musik digital adalah sebuah gelembung raksasa, sementara musik folk sebagai gelembung yang kecil dan kendur. Sehingga melalui aktivitas scroll, lagu-lagu yang baru saja beranjak dari tombol like dan banyak di-share akan merangkak naik. Gelembung kecil dan kendur ini berusaha membaur dan mengembang agar menjadi gelembung yang lebih besar.
Ke-fomo-an ini menjadi jalan tol bagi para musisi. PR hari ini tidak lagi membuat musik dengan standar tinggi, melainkan bagaimana mengejar aktivitas FOMO dari masyarakat media sosial hari ini. Ini digunakan Jab Bady; ia melihat celah yang dapat diisi oleh musisi folk. Ia memanfaatkan fenomena yang bisa jadi dianggap jalan haram oleh musisi folk misterius seperti Leo Kristi. Tetapi, zaman perlahan menggeser makna itu. Jab Bady menjadi representasi baru bahwa musik bisa begitu dekat dengan pendengar, tanpa perlu bersusah payah mengobrak-abrik platform digital untuk mendengarkannya. Naas pula jika ditemui musik-musik folk yang terlalu misterius ini.
Kita tidak sedang membicarakan cara instan itu dan menawarkannya kepada musisi folk, tetapi itulah sebagian fakta yang tak dapat dihindari pada dunia permusikan tanah air: jalan berlubang yang mesti ditambal.
Beberapa bulan yang lalu, saya mendapati sebuah musik dari aktivasi serupa Jab Bady yang kita bahas di atas. Scrolling reels Instagram, lalu berjumpa dengan salah satu musisi folk yang sedang menyanyikan lagunya. Tidak menggunakan rekaman proper di studio, ia menyanyikan lagunya menggunakan gitar kopong di bawah pohon. Lagunya begitu sederhana, hampir tidak ada upaya untuk memberat-beratkan suara agar musiknya enak didengar. Ia bernyanyi seperti sedang nongkrong, dan kadang beberapa nada terdengar mengganggu.
Menariknya, ia tidak membuat video baru, menyorot dengan sempurna, atau bahkan menggunakan rekaman yang proper seperti di studio. Tidak, ia menyanyikan lagu “Margonda”—lagu yang diciptakannya sendiri. Musisi folk ini suaranya mengingatkan pada Bob Dylan. Ia juga memainkan harmonika, tetapi tidak mengganggu seperti Dylan yang memainkannya. Harmonika Jab Bady terdengar sangat nyaman di telinga, seperti Iwan Fals yang memainkan lagu-lagu cintanya.
Berbeda dengan Iwan Fals di awal kariernya yang lantang, atau Bob Dylan yang memainkan nada-nada kritisnya, Jab Bady mengemasnya begitu rapi. Ia mereplika Margonda menjadi sebuah lagu. Margonda sendiri adalah nama sebuah jalan raya di Depok yang menghubungkan Jakarta dan Kabupaten Bogor. Beberapa orang berkomentar di postingannya tentang lagu itu dengan beragam tanggapan. Di antara komentar itu, menariknya beberapa warga Depok menyebut lagu itu sebagai anthem baru dan lagu untuk menemani pergi kerja di kota yang padat.
Dengan pengemasan sederhana Jab Bady di laman media sosialnya, ia menyanyikan lagu-lagu yang dibuatnya begitu natural. Di hadapan masyarakat media sosialnya, ia berbagi chord dan lirik secara cuma-cuma. Lagu-lagunya dinyanyikan kembali dalam bentuk yang lebih sederhana; di hadapan kamera, ia melepas lagu-lagunya.
Jab Bady menjelma sosok musisi yang membaur di laman media sosial. Kesan musisi folk yang misterius seperti Leo Kristi lebur ketika ia mulai memainkan lagu-lagu seperti “Jangan Konci Stang”, “Yudi Doain”, dan “Margonda”. Ketika Leo Kristi menggunakan liriknya untuk menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir, Jab Bady menggunakan liriknya untuk menggambarkan fenomena urban, terutama di sekeliling kehidupannya sehari-hari. Apakah ia akan mampu bersanding dengan nama-nama besar musisi folk nasional sebelum dia?
Sebagai penulis dan penikmat musik folk, saya akan mencoba untuk membeberkan Jab Bady dalam pengalaman saya mendengar musik. Jab Bady tumbuh dengan beberapa pengaruh. Yang menonjol dari cara ia bernyanyi adalah ia menggunakan napas Bob Dylan, seperti yang kita dengar pada lagu “Margonda”. Tetapi ketika masuk pada reff lagu ini:
Di lorong gelap memoriku ini
Semuanya terlukis di dinding hati
Cinta luka senyum air mata
Menghangatkan juga mencabik
…kita akan menemukan Iwan Fals muda yang sedang menyanyikan lagu “Rindu Tebal”. Menariknya, Jab Bady memasukkan harmonika yang tidak mengganggu telinga seperti Bob Dylan ketika memainkannya pada lagu seperti “I Don’t Believe You”.
Kehadiran Jab Bady setidaknya mengobati kerinduan akan kemunculan musik-musik folk dengan lirik hari ini, namun tetap mempertahankan gaya musik folk khas musisi di Greenwich Village—sebuah kiblat musik folk di mana kelahiran musisinya dimulai melalui kafe-kafe dan pinggiran jalannya. Greenwich Village masuk dalam wilayah Manhattan yang merupakan bagian dari New York City. Mengorek kembali kehadiran Jab Bady, kita menemukan nasib yang sama seperti musisi folk pada awal kemunculannya di Greenwich Village.
Jab Bady bernyanyi memungut lirik-lirik yang bertebaran di trotoar jalan: kisah tukang parkir, seorang kawan, jalan berlubang, dan ia juga terkadang muncul sebagai sosok yang romantis. Tetapi ia tidak mengangkat kisah asmara seperti pada puncak tangga lagu di platform musik digital. Jab Bady secara jujur menggambarkan kisah sejoli yang sangat sederhana pada lagu “Wara-Wiri Berdua”—salah satu lagu yang tentu sangat relate dengan banyak sejoli di pinggiran kota besar, kisah dua sejoli yang dihimpit gedung-gedung tinggi:
Kita berjalan di awan sambil tertawa
Jejak indah terpahat di dalam jiwa
Saat bersama dengan orang yang tepat
Mengapa jam berlalu begitu cepat
Jab Bady mampu mengemas kepadatan kota, hiruk-pikuk rutinitas, dan jadwal kerja yang memburu. Pada bagian lirik “Saat bersama dengan orang yang tepat, mengapa jam berlalu begitu cepat”, bagian ini menunjukkan dua sejoli yang sama-sama diburu waktu, memanfaatkan waktu luang di kota besar yang sedikit sekali hari libur sehingga waktu cepat terbakar. Jab Bady begitu sederhana menggambarkannya pada bagian itu.
Juga, ada bagian yang menurutku sebagai pendengar begitu relate:
Spion kiriku dihiasi wajahmu
Pas kau melirik langsung senyum tersipu
Ku menyalip mobil yang melambat melaju
Kau mencubitku terasa semakin syahdu
Sesampainya di rumahmu matanya bicara
Masih rindu jangan kau tinggalkan aku
Melepas temu rindu ini semakin parah
Kucoba melawan namun bayangmu tak luruh
Kebahagiaan sederhana seperti ini jarang disorot pada lagu-lagu pop di puncak tangga lagu platform musik digital. Ketika lagu populer memainkan lirik-lirik di luar kehidupan masyarakat urban, Jab Bady berani tampil apa adanya. Liriknya mewakili peristiwa, mewakili keadaan, juga mengajak pendengar untuk tidak memaksakan hal-hal di luar jangkauan kita. Ia tidak berbicara tentang bulan, senja, atau hal-hal yang hampir sulit ditemukan di kota padat. Ia berbicara keindahan lewat momen sederhana; bahkan itu adalah peristiwa yang dirasakan sehari-hari.
Hal ini menjadikan napas musik folk begitu akrab, seperti yang bisa kita dengar pada lagu-lagu Bob Dylan. Seperti “Mr. Tambourine Man” untuk pengantar surat, Jab Bady juga menggambarkan fenomena tukang parkir dengan membuat lagu “Jangan Konci Stang”.
Sebuah keberanian Jab Bady memilih memainkan musik folk di Indonesia. Di antara banyak pilihan jenis genre, folk adalah jalan berlubang: bersiap untuk terasing di tangga lagu, atau bersiap untuk tidak mendapat pendengar sama sekali. Namun, melihat lagu-lagu yang dibawa Jab Bady, bukan tak mungkin ia akan mendapat banyak pendengar. Lagu yang mewakili masyarakat urban, bahkan lagu-lagu dengan peristiwa sehari-hari, kawin-mengawin dengan suara, lirik, dan nada.
Margonda menjangkau Greenwich Village—bukan hal yang mustahil. Keduanya memiliki musisi folk yang merekam realitas jalanan lewat musik-musiknya. [T]
Penulis: Mahesa Putra
Editor: Adnyana Ole

![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-360x180.png)




























