2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mantra Visual Made Wiradana

Hartanto by Hartanto
August 2, 2026
in Ulas Rupa
Mantra Visual Made Wiradana

Karya Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin “menekuni” karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu lalu.

Pameran yang dikuratori I Made Susanta Dwitanaya ini mengambil tema “Kacatri”. Menurut Dwitanaya, tema tersebut berkait dengan perubahan kehidupan Made Wiradana.

Ada perubahan besar dalam kehidupan Wiradana. Tepatnya, tahun 2024 menjadi momen penting dalam perjalanan hidup Made Wiradana. Dikenal sebagai pelukis dengan bahasa visual yang khas, ia menerima panggilan untuk melanjutkan pengabdian leluhurnya sebagai seorang “pemangku” pada sebuah pura di lingkungan desanya.

Masih menurut Dwitanaya, peristiwa ini bukan semata perubahan “status sosial”, melainkan sebuah “transformasi eksistensial” yang mengubah “ritme hidup”, pengalaman tubuh, serta caranya memandang dunia keseniannya.

Dalam bahasa Bali, pengalaman semacam ini disebut kacatri atau yang ditakdirkan. Menjadi pemangku merupakan salah satu bentuk panggilan. Ia bukan semata profesi yang direncanakan ataupun diraih sebagai sebuah cita-cita. Kerap kali, justru mereka yang tak pernah membayangkan dirinya akan menjalankan profesi itu yang akhirnya menerima panggilan tersebut.

Oleh karena itu, tambah Dwitanaya, pameran Kacatri tidak hanya menandai babak baru dalam perjalanan hidup Made Wiradana, tetapi juga memperlihatkan “transformasi” kesadaran “artistik”-nya.

Selanjutnya, studio dan pura tidak lagi berdiri sebagai dua ruang yang terpisah, melainkan menjadi dua wajah dari “pengabdian” yang sama.

Dwitanaya menganalisis, Wiradana dan karya-karyanya yang hadir dalam pameran tersebut bukan “representasi spiritualitas” Bali, bukan pula “apropriasi ikonografi” ritual demi kepentingan “estetik kontemporer”. Yang disaksikan adalah bagaimana pengalaman hidup sebagai manusia Bali, yang bergerak di antara “sekala” dan “niskala”, di antara “seni” dan swadharma sebagai “pemangku”, perlahan membentuk ulang “bahasa visual” seorang Wiradana.

Praktik mistis kepemangkuan—yakni peran “pemangku” sebagai penjaga pura, “mediator” antara manusia dan kekuatan “niskala”—terpantul dalam “intensitas” karya Wiradana.

Sebagai pemangku, tentu Wiradana acap berkaitan dengan “rerajahan” dan simbol-simbol “spiritual” Hindu lainnya.

“Rajah” dalam tradisi Bali adalah “diagram sakral”, sering berupa garis-garis “geometris”, “simbol binatang”, atau “figur manusia” yang berfungsi sebagai “pelindung”, “pengikat energi”, dan “medium komunikasi” dengan “kekuatan gaib”.

Dalam karya seperti Tapak Dara, Mada (Mabuk), Meditation, Kekuatan Massa, Padma Mudra, Imajinasi Rajah, Imajinasi Rajah #1, dan Imajinasi Rajah #2, Wiradana menghidupkan kembali tradisi ini, tetapi bukan dalam bentuk “ritual tertutup”, melainkan sebagai bahasa “visual” yang terbuka bagi “publik seni”.

Garis putih yang membentuk jaringan padat, “mandala”, atau simbol-simbol “mistis” menjadi “rajah kontemporer”—bukan sekadar pelindung, melainkan “peta kosmos” yang menghubungkan manusia, hewan, dan energi alam.

Dengan demikian, ia menggeser “rajah” dari ruang privat kepemangkuan ke “ruang publik seni rupa”.

Dalam konteks seni “kontemporer global”, karya-karya ini “beresonansi” dengan praktik seniman yang menggabungkan “tradisi lokal” dengan “bahasa visual” modern.

Wiradana tidak tergelincir pada “folklorisme” atau sekadar “dekorasi tradisi”, melainkan mengolah “simbol rajah” dan “energi ritual” menjadi “komposisi kompleks” yang dapat dibaca sejajar dengan “abstraksi global”.

Yang paling kuat dari karya Wiradana adalah kemampuannya menjembatani “tiga dunia” sekaligus—dunia “mistis Bali” dengan rajah dan kepemangkuan, “dunia sosial” dengan “kerumunan” dan “mabuk kolektif”, serta dunia seni “kontemporer global” dengan “abstraksi” dan “simbolisme”.

Ia menghadirkan kanvas sebagai “medan energi”, di mana “garis” bukan sekadar “bentuk”, melainkan “mantra”; “figur” bukan sekadar “representasi”, melainkan “tubuh dalam trance”; dan “komposisi” bukan sekadar “estetika”, melainkan “kosmologi” yang terbuka bagi pembacaan “lintas budaya”.

Seorang analis seni rupa menandaskan, karya-karya Made Wiradana dapat dibaca sebagai “rajah kontemporer”. Bukan lagi hanya “pelindung mistis”, melainkan “teks visual” yang mengundang “pembaca global” untuk masuk ke dalam “kosmos Bali”, merasakan “energi ritual”, dan sekaligus mengaitkannya dengan “wacana seni dunia”.

Karya-karya Made Wiradana dari periode 2025–2026 memperlihatkan sebuah konsistensi yang menggetarkan: kanvas-kanvasnya bukan sekadar ruang visual, melainkan medan energi tempat “garis”, “simbol”, dan “figur” berfungsi sebagai “mantra”.

Menurut saya, dalam Mada (Mabuk), tubuh-tubuh manusia dan hewan fantastik berbaur dalam suasana “surreal” yang menyinggung “ekstase”, keterlepasan kendali, dan kondisi “liminal” antara sadar dan gaib.

Pada karya Meditation, Wiradana menghadirkan “paradoks” keramaian yang justru menjadi ruang “kontemplasi kolektif”, mirip dengan suasana upacara di pura, ketika ribuan orang hadir namun tetap berada dalam “kesadaran spiritual”.

Selanjutnya, melalui karya Kekuatan Massa, Wiradana menyoroti “dinamika sosial”: kerumunan figur kecil yang berdesakan, berbaris, dan berkumpul, seolah “merepresentasikan” energi rakyat, keramaian, atau bahkan kerusuhan.

Sementara itu, pada Tapak Dara, Padma Mudra, dan Imajinasi Rajah—menurut interpretasi saya, yang sejalan dengan pendapat analis di atas—Wiradana memang sedang menghadirkan “rajah kontemporer”.

Jaringan “garis putih” yang membentuk “mandala”, “simbol mistis”, dan “kosmologi visual” yang menghubungkan manusia, hewan, serta energi alam menjadi kekuatan utama karya-karya tersebut.

Tafsir saya, jika karya-karya Made Wiradana dibaca dengan kacamata C. Hooykaas dalam Drawings of Balinese Sorcery (1980), tampak jelas bagaimana Wiradana menghidupkan kembali “tradisi rajah” dan “ikonografi magis” Bali, tetapi dalam bentuk yang telah digeser ke ranah “seni kontemporer”.

Hooykaas menekankan bahwa “aspek magis” dalam agama Bali bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari praktik sehari-hari. “Mantra”, “mudra”, “rajah”, dan “yadnya” merupakan cara untuk mengikat, menundukkan, atau menyeimbangkan kekuatan “sekala” dan “niskala”.

Ia menulis bahwa “the whole Padanda ritual is a concatenation of magical proceedings” (Keseluruhan ritual Padanda merupakan rangkaian prosesi magis), dan di sinilah karya Wiradana menemukan “denyar akbarnya”.

Hooykaas menunjukkan bahwa rajah tradisional berfungsi sebagai “diagram pelindung”, “pengikat energi”, dan “medium komunikasi” dengan “kekuatan gaib”. Wiradana mengolah fungsi itu menjadi bahasa “visual modern”.

Dengan demikian, ia memperluas medan rajah dari ruang “kepemangkuan” ke ruang galeri, menjadikan kanvas sebagai altar baru tempat energi mistis dipanggil dan ditata ulang.

Pada halaman lain, Hooykaas menekankan pentingnya holy waters dalam “Agama Tirtha”, yakni air suci sebagai medium “transformasi jiwa”.

Berkait dengan pemikiran Hooykaas tersebut, Wiradana tidak menggunakan sarana air, melainkan garis dan simbol sebagai “medium transformasi visual”, menjadikan kanvasnya semacam “toya pangentas” bagi “energi kolektif”.

Selanjutnya, jika karya Made Wiradana dibandingkan dengan Made Wianta, khususnya periode Karangasem, akan terlihat dua orientasi yang sama-sama berakar pada “spiritualitas” Bali, tetapi dengan “strategi visual” yang berbeda.

Wianta pada periode Karangasem (1980-an) banyak menekankan garis, rajah, dan simbol-simbol tradisi Bali yang diolah dalam abstraksi modern.

Ia acap menggunakan teknik penciptaan figur, garis berulang—setipis garis Lempad—dan struktur visual yang menyerupai rajah atau mandala, tetapi dengan nuansa “minimalis” dan “eksperimental”.

Karya-karya itu sering dibaca sebagai “pencarian spiritual”, sebuah usaha menjembatani “tradisi Bali” dengan “bahasa seni internasional”.

Wiradana, di sisi lain, menghadirkan rajah dengan “kepadatan figuratif” dan “energi sosial”. Jika Wianta cenderung menekankan “struktur” dan “keteraturan”—”garis” sebagai “meditasi”, “pola” sebagai “mantra”—Wiradana menekankan “keramaian”, “trance”, dan “energi massa”.

Sementara itu, Wianta lebih dekat dengan “abstraksi modernis”, sedangkan Wiradana lebih dekat dengan “kosmologi naratif”, di mana “rajah” bukan hanya “pola”, tetapi juga “cerita”; bukan hanya “struktur”, tetapi juga “energi”.

Menurut saya, keduanya sama-sama berangkat dari akar yang sama, yakni “tradisi rajah Bali” sebagai “medium spiritual”. Wianta menjadikan rajah sebagai bahasa formal untuk berdialog dengan seni global.

Sebaliknya, Wiradana menjadikan rajah sebagai “kosmologi sosial” dan “mistis”, lebih dekat dengan tradisi “kepemangkuan” serta “energi ritual”.

Perbandingan antara karya hitam-putih Made Wianta periode Karangasem dan karya Made Wiradana seperti Meditation maupun Imajinasi Rajah #1 membuka sebuah garis keturunan visual yang sama-sama berakar pada tradisi Bali, tetapi dengan strategi yang berbeda dalam mengartikulasikan “spiritualitas”.

Wianta, pada periode Karangasem (1980-an), menekankan “abstraksi figur” dan “repetisi garis”. Hitam-putih di tangannya menjadi bahasa “meditasi formal”: garis-garis berulang menyerupai “rajah” atau “mandala”, ruang kosong menjadi “keheningan”, dan “struktur visual” menjadi “mantra kosmologis”.

Sementara itu, Wiradana, dalam Meditation dan Imajinasi Rajah #1, menghadirkan kerumunan figur manusia, hewan, dan simbol rajah yang lebih “eksplisit”.

Ia tidak sekadar menyalin, tetapi menghidupkan kembali rajah sebagai “ritual visual”. Pendekatan ini “beresonansi” dengan catatan Hooykaas bahwa rajah adalah concatenation of magical proceedings—rangkaian tindakan magis yang tidak berhenti pada teks, tetapi berfungsi dalam “praktik spiritual”.

Masih menurut saya, hitam-putih di sini bukan sekadar “estetika”, melainkan “bahasa sakral” yang mengingatkan pada rajah tradisional Bali yang digambar dengan tinta sederhana.

Kanvas Wiradana menjadi semacam “altar kontemporer”, tempat “figur trance”, “pola ritual”, dan “simbol magis” berfungsi pula sebagai “mantra visual”.

Jika Wianta mengabstraksikan rajah menjadi garis-garis tipis yang bersifat “meditatif” dan “spiritual”, Wiradana justru menegaskan rajah sebagai “ikonografi magis” yang hidup, penuh “energi” dan keramaian “spiritual”.

Keduanya sama-sama memilih hitam-putih sebagai “strategi spiritual”, menolak “pesona warna” demi menyingkap “kedalaman batin”.

Wianta menempatkan rajah dalam “abstraksi kosmologis”, sedangkan Wiradana menempatkannya dalam “ikonografi ritual”. Keduanya, melalui karya hitam-putih, menggemakan “tradisi lontar” yang ditulis dengan torehan sederhana, tetapi menyimpan “kekuatan mistis” yang luar biasa.

Dengan demikian, analisis sederhana ini dapat menegaskan bahwa dokumentasi Hooykaas atas rajah Bali dapat menjadi “fondasi epistemologis” bagi pembacaan karya-karya seni kontemporer.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Made WiradanaSeniseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

Next Post

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co