3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
in Ulas Musik
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Ilustrasi dibuat dengan AI

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album konseptual The Wall. Lagu yang ditulis oleh Roger Waters ini segera menjadi simbol perlawanan terhadap sistem pendidikan yang represif.

Dengan paduan suara anak-anak yang menyanyikan kalimat terkenal “We don’t need no education”, lagu ini menggemakan kritik tajam terhadap sekolah yang mematikan imajinasi, menindas individualitas, dan membentuk manusia menjadi sekadar “batu bata” dalam tembok konformitas.

Namun, setelah lebih dari empat dekade berlalu, dunia pendidikan menghadapi paradoks baru. Jika dahulu kritik diarahkan pada otoritarianisme guru dan sistem pendidikan yang menindas murid, kini dalam banyak konteks, termasuk di Indonesia muncul anomali lain: memudarnya rasa hormat dan respek terhadap guru.

Beberapa kasus bahkan memperlihatkan murid melaporkan guru ke penegak hukum atas konflik yang dahulu mungkin diselesaikan dalam ruang pedagogis. Fenomena ini bukan sekadar persoalan hukum, melainkan tanda perubahan mendalam dalam relasi moral antara guru, murid, dan masyarakat.

Esai ini mencoba membaca ulang semangat kritik dalam Another Brick in the Wall secara kontemplatif, dalam terang realitas pendidikan kontemporer.

Tembok yang Dibangun oleh Otoritarianisme

Lagu Another Brick in the Wall lahir dari pengalaman masa kecil Roger Waters di sekolah Inggris pada 1950-an. Dalam sistem pendidikan yang sangat disipliner, guru sering dipandang sebagai figur otoritas absolut. Dalam liriknya muncul kritik terhadap “dark sarcasm in the classroom”, sebuah metafora untuk metode pengajaran yang merendahkan dan menekan murid.

Dalam konteks ini, tembok (the wall) menjadi simbol psikologis. Setiap pengalaman traumatis, termasuk pengalaman pendidikan yang represif,

menjadi “batu bata” yang membangun tembok isolasi dalam diri manusia. Murid yang diperlakukan sebagai objek akhirnya kehilangan suara, kreativitas, bahkan kemanusiaannya.

Pesan ini jelas: pendidikan yang otoriter melahirkan manusia yang terasing dari dirinya sendiri.

Karena itu, kritik lagu ini bukanlah penolakan terhadap pendidikan, melainkan seruan agar pendidikan membebaskan manusia, bukan menundukkannya.

Retaknya Tembok dari Arah Berlawanan

Namun realitas pendidikan kontemporer memperlihatkan perubahan dramatis. Jika dahulu guru terlalu dominan, kini dalam beberapa situasi otoritas moral guru justru melemah. Dalam berbagai kasus di Indonesia, termasuk di wilayah seperti di Lebak Banten atau beberapa daerah di Sulawesi beberapa waktu lalu, muncul peristiwa murid atau orang tua melaporkan guru kepada aparat hukum karena tindakan disiplin di kelas.

Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam struktur relasi sosial pendidikan.

Di satu sisi, kesadaran terhadap hak-hak anak meningkat, sebuah perkembangan yang positif. Kekerasan fisik dan penghinaan terhadap murid memang tidak dapat dibenarkan. Namun di sisi lain, relasi pendidikan menjadi rapuh ketika otoritas moral guru sepenuhnya digantikan oleh mekanisme hukum formal.

Hubungan pedagogis yang semula bersifat etis dan dialogis berubah menjadi relasi yang penuh kecurigaan. Dalam situasi seperti ini, guru tidak lagi dipandang sebagai figur pembimbing, melainkan sebagai pihak yang selalu berpotensi melakukan pelanggaran.

Pendidikan Tanpa Wibawa Moral

Dalam tradisi budaya Nusantara, guru selalu menempati posisi yang sangat terhormat. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan “digugu lan ditiru”, guru dipercaya dan diteladani. Dalam budaya Sunda pun dikenal nilai hormat kepada guru sebagai bagian dari tata krama sosial.

Guru bukan hanya pengajar pengetahuan, tetapi pembentuk karakter. Namun modernitas membawa perubahan besar dalam struktur otoritas sosial. Globalisasi informasi, media sosial, serta pergeseran nilai keluarga membuat relasi antara murid dan guru semakin horizontal.

Dalam beberapa kasus, kritik terhadap guru bahkan muncul dalam bentuk yang agresif atau tidak proporsional. Murid atau orang tua menggunakan jalur hukum tanpa terlebih dahulu mencari ruang dialog.

Ketika hal ini terjadi, pendidikan kehilangan sesuatu yang sangat penting: wibawa moral. Padahal pendidikan tidak mungkin berjalan hanya dengan aturan formal. Ia membutuhkan kepercayaan, penghormatan, dan rasa tanggung jawab bersama.

Antara Kebebasan dan Tanggung Jawab

Ironisnya, jika kita membaca kembali pesan dalam Another Brick in the Wall, kritik terhadap otoritarianisme sebenarnya bertujuan membebaskan manusia agar mampu berpikir secara mandiri.

Namun kebebasan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kekacauan moral.

Dalam dunia pendidikan, kebebasan murid seharusnya berjalan bersama dengan penghormatan kepada guru. Sebaliknya, otoritas guru juga harus disertai kebijaksanaan dan empati.

Jika salah satu hilang, keseimbangan pedagogis akan runtuh. Pendidikan yang baik tidak membangun tembok antara guru dan murid. Ia membangun jembatan.

Dari Tembok Menuju Ruang Pertemuan

Ketika lagu Pink Floyd menggambarkan murid sebagai “batu bata” dalam tembok konformitas, ia mengingatkan kita bahwa pendidikan yang menindas akan memisahkan manusia dari dirinya sendiri.

Namun pendidikan yang kehilangan wibawa juga dapat membangun tembok lain—tembok ketidakpercayaan antara generasi. Guru menjadi takut mendisiplinkan murid. Murid kehilangan figur teladan. Sekolah berubah menjadi ruang administratif yang dingin.

Padahal pendidikan sejatinya adalah ruang pertemuan manusia. Ruang di mana pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Renungan

Dalam keheningan lagu Another Brick in the Wall, kita mendengar suara anak-anak yang menolak pendidikan yang menindas. Suara itu penting, karena sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa kritik selalu berbahaya.

Namun dunia pendidikan hari ini mengajarkan pelajaran lain: kebebasan tanpa penghormatan juga dapat merusak fondasi pendidikan. Maka tantangan pendidikan kontemporer bukan sekadar meruntuhkan tembok lama, tetapi juga memastikan bahwa ruang baru yang kita bangun tetap dipenuhi etika, hormat, dan kebijaksanaan.

Karena pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan. Ia adalah perjumpaan manusia dengan manusia. Dan dalam perjumpaan itu, guru dan murid tidak seharusnya menjadi batu bata dalam tembok yang saling memisahkan, melainkan cahaya kecil yang saling menerangi perjalanan hidup. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikPendidikanpink ploydulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

Next Post

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails
Next Post
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co