25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
in Ulas Musik
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Ilustrasi dibuat dengan AI

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album konseptual The Wall. Lagu yang ditulis oleh Roger Waters ini segera menjadi simbol perlawanan terhadap sistem pendidikan yang represif.

Dengan paduan suara anak-anak yang menyanyikan kalimat terkenal “We don’t need no education”, lagu ini menggemakan kritik tajam terhadap sekolah yang mematikan imajinasi, menindas individualitas, dan membentuk manusia menjadi sekadar “batu bata” dalam tembok konformitas.

Namun, setelah lebih dari empat dekade berlalu, dunia pendidikan menghadapi paradoks baru. Jika dahulu kritik diarahkan pada otoritarianisme guru dan sistem pendidikan yang menindas murid, kini dalam banyak konteks, termasuk di Indonesia muncul anomali lain: memudarnya rasa hormat dan respek terhadap guru.

Beberapa kasus bahkan memperlihatkan murid melaporkan guru ke penegak hukum atas konflik yang dahulu mungkin diselesaikan dalam ruang pedagogis. Fenomena ini bukan sekadar persoalan hukum, melainkan tanda perubahan mendalam dalam relasi moral antara guru, murid, dan masyarakat.

Esai ini mencoba membaca ulang semangat kritik dalam Another Brick in the Wall secara kontemplatif, dalam terang realitas pendidikan kontemporer.

Tembok yang Dibangun oleh Otoritarianisme

Lagu Another Brick in the Wall lahir dari pengalaman masa kecil Roger Waters di sekolah Inggris pada 1950-an. Dalam sistem pendidikan yang sangat disipliner, guru sering dipandang sebagai figur otoritas absolut. Dalam liriknya muncul kritik terhadap “dark sarcasm in the classroom”, sebuah metafora untuk metode pengajaran yang merendahkan dan menekan murid.

Dalam konteks ini, tembok (the wall) menjadi simbol psikologis. Setiap pengalaman traumatis, termasuk pengalaman pendidikan yang represif,

menjadi “batu bata” yang membangun tembok isolasi dalam diri manusia. Murid yang diperlakukan sebagai objek akhirnya kehilangan suara, kreativitas, bahkan kemanusiaannya.

Pesan ini jelas: pendidikan yang otoriter melahirkan manusia yang terasing dari dirinya sendiri.

Karena itu, kritik lagu ini bukanlah penolakan terhadap pendidikan, melainkan seruan agar pendidikan membebaskan manusia, bukan menundukkannya.

Retaknya Tembok dari Arah Berlawanan

Namun realitas pendidikan kontemporer memperlihatkan perubahan dramatis. Jika dahulu guru terlalu dominan, kini dalam beberapa situasi otoritas moral guru justru melemah. Dalam berbagai kasus di Indonesia, termasuk di wilayah seperti di Lebak Banten atau beberapa daerah di Sulawesi beberapa waktu lalu, muncul peristiwa murid atau orang tua melaporkan guru kepada aparat hukum karena tindakan disiplin di kelas.

Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam struktur relasi sosial pendidikan.

Di satu sisi, kesadaran terhadap hak-hak anak meningkat, sebuah perkembangan yang positif. Kekerasan fisik dan penghinaan terhadap murid memang tidak dapat dibenarkan. Namun di sisi lain, relasi pendidikan menjadi rapuh ketika otoritas moral guru sepenuhnya digantikan oleh mekanisme hukum formal.

Hubungan pedagogis yang semula bersifat etis dan dialogis berubah menjadi relasi yang penuh kecurigaan. Dalam situasi seperti ini, guru tidak lagi dipandang sebagai figur pembimbing, melainkan sebagai pihak yang selalu berpotensi melakukan pelanggaran.

Pendidikan Tanpa Wibawa Moral

Dalam tradisi budaya Nusantara, guru selalu menempati posisi yang sangat terhormat. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan “digugu lan ditiru”, guru dipercaya dan diteladani. Dalam budaya Sunda pun dikenal nilai hormat kepada guru sebagai bagian dari tata krama sosial.

Guru bukan hanya pengajar pengetahuan, tetapi pembentuk karakter. Namun modernitas membawa perubahan besar dalam struktur otoritas sosial. Globalisasi informasi, media sosial, serta pergeseran nilai keluarga membuat relasi antara murid dan guru semakin horizontal.

Dalam beberapa kasus, kritik terhadap guru bahkan muncul dalam bentuk yang agresif atau tidak proporsional. Murid atau orang tua menggunakan jalur hukum tanpa terlebih dahulu mencari ruang dialog.

Ketika hal ini terjadi, pendidikan kehilangan sesuatu yang sangat penting: wibawa moral. Padahal pendidikan tidak mungkin berjalan hanya dengan aturan formal. Ia membutuhkan kepercayaan, penghormatan, dan rasa tanggung jawab bersama.

Antara Kebebasan dan Tanggung Jawab

Ironisnya, jika kita membaca kembali pesan dalam Another Brick in the Wall, kritik terhadap otoritarianisme sebenarnya bertujuan membebaskan manusia agar mampu berpikir secara mandiri.

Namun kebebasan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kekacauan moral.

Dalam dunia pendidikan, kebebasan murid seharusnya berjalan bersama dengan penghormatan kepada guru. Sebaliknya, otoritas guru juga harus disertai kebijaksanaan dan empati.

Jika salah satu hilang, keseimbangan pedagogis akan runtuh. Pendidikan yang baik tidak membangun tembok antara guru dan murid. Ia membangun jembatan.

Dari Tembok Menuju Ruang Pertemuan

Ketika lagu Pink Floyd menggambarkan murid sebagai “batu bata” dalam tembok konformitas, ia mengingatkan kita bahwa pendidikan yang menindas akan memisahkan manusia dari dirinya sendiri.

Namun pendidikan yang kehilangan wibawa juga dapat membangun tembok lain—tembok ketidakpercayaan antara generasi. Guru menjadi takut mendisiplinkan murid. Murid kehilangan figur teladan. Sekolah berubah menjadi ruang administratif yang dingin.

Padahal pendidikan sejatinya adalah ruang pertemuan manusia. Ruang di mana pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Renungan

Dalam keheningan lagu Another Brick in the Wall, kita mendengar suara anak-anak yang menolak pendidikan yang menindas. Suara itu penting, karena sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa kritik selalu berbahaya.

Namun dunia pendidikan hari ini mengajarkan pelajaran lain: kebebasan tanpa penghormatan juga dapat merusak fondasi pendidikan. Maka tantangan pendidikan kontemporer bukan sekadar meruntuhkan tembok lama, tetapi juga memastikan bahwa ruang baru yang kita bangun tetap dipenuhi etika, hormat, dan kebijaksanaan.

Karena pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan. Ia adalah perjumpaan manusia dengan manusia. Dan dalam perjumpaan itu, guru dan murid tidak seharusnya menjadi batu bata dalam tembok yang saling memisahkan, melainkan cahaya kecil yang saling menerangi perjalanan hidup. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikPendidikanpink ploydulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

Next Post

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails
Next Post
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co