3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
in Ulas Musik
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Ilustrasi dibuat dengan AI

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album konseptual The Wall. Lagu yang ditulis oleh Roger Waters ini segera menjadi simbol perlawanan terhadap sistem pendidikan yang represif.

Dengan paduan suara anak-anak yang menyanyikan kalimat terkenal “We don’t need no education”, lagu ini menggemakan kritik tajam terhadap sekolah yang mematikan imajinasi, menindas individualitas, dan membentuk manusia menjadi sekadar “batu bata” dalam tembok konformitas.

Namun, setelah lebih dari empat dekade berlalu, dunia pendidikan menghadapi paradoks baru. Jika dahulu kritik diarahkan pada otoritarianisme guru dan sistem pendidikan yang menindas murid, kini dalam banyak konteks, termasuk di Indonesia muncul anomali lain: memudarnya rasa hormat dan respek terhadap guru.

Beberapa kasus bahkan memperlihatkan murid melaporkan guru ke penegak hukum atas konflik yang dahulu mungkin diselesaikan dalam ruang pedagogis. Fenomena ini bukan sekadar persoalan hukum, melainkan tanda perubahan mendalam dalam relasi moral antara guru, murid, dan masyarakat.

Esai ini mencoba membaca ulang semangat kritik dalam Another Brick in the Wall secara kontemplatif, dalam terang realitas pendidikan kontemporer.

Tembok yang Dibangun oleh Otoritarianisme

Lagu Another Brick in the Wall lahir dari pengalaman masa kecil Roger Waters di sekolah Inggris pada 1950-an. Dalam sistem pendidikan yang sangat disipliner, guru sering dipandang sebagai figur otoritas absolut. Dalam liriknya muncul kritik terhadap “dark sarcasm in the classroom”, sebuah metafora untuk metode pengajaran yang merendahkan dan menekan murid.

Dalam konteks ini, tembok (the wall) menjadi simbol psikologis. Setiap pengalaman traumatis, termasuk pengalaman pendidikan yang represif,

menjadi “batu bata” yang membangun tembok isolasi dalam diri manusia. Murid yang diperlakukan sebagai objek akhirnya kehilangan suara, kreativitas, bahkan kemanusiaannya.

Pesan ini jelas: pendidikan yang otoriter melahirkan manusia yang terasing dari dirinya sendiri.

Karena itu, kritik lagu ini bukanlah penolakan terhadap pendidikan, melainkan seruan agar pendidikan membebaskan manusia, bukan menundukkannya.

Retaknya Tembok dari Arah Berlawanan

Namun realitas pendidikan kontemporer memperlihatkan perubahan dramatis. Jika dahulu guru terlalu dominan, kini dalam beberapa situasi otoritas moral guru justru melemah. Dalam berbagai kasus di Indonesia, termasuk di wilayah seperti di Lebak Banten atau beberapa daerah di Sulawesi beberapa waktu lalu, muncul peristiwa murid atau orang tua melaporkan guru kepada aparat hukum karena tindakan disiplin di kelas.

Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam struktur relasi sosial pendidikan.

Di satu sisi, kesadaran terhadap hak-hak anak meningkat, sebuah perkembangan yang positif. Kekerasan fisik dan penghinaan terhadap murid memang tidak dapat dibenarkan. Namun di sisi lain, relasi pendidikan menjadi rapuh ketika otoritas moral guru sepenuhnya digantikan oleh mekanisme hukum formal.

Hubungan pedagogis yang semula bersifat etis dan dialogis berubah menjadi relasi yang penuh kecurigaan. Dalam situasi seperti ini, guru tidak lagi dipandang sebagai figur pembimbing, melainkan sebagai pihak yang selalu berpotensi melakukan pelanggaran.

Pendidikan Tanpa Wibawa Moral

Dalam tradisi budaya Nusantara, guru selalu menempati posisi yang sangat terhormat. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan “digugu lan ditiru”, guru dipercaya dan diteladani. Dalam budaya Sunda pun dikenal nilai hormat kepada guru sebagai bagian dari tata krama sosial.

Guru bukan hanya pengajar pengetahuan, tetapi pembentuk karakter. Namun modernitas membawa perubahan besar dalam struktur otoritas sosial. Globalisasi informasi, media sosial, serta pergeseran nilai keluarga membuat relasi antara murid dan guru semakin horizontal.

Dalam beberapa kasus, kritik terhadap guru bahkan muncul dalam bentuk yang agresif atau tidak proporsional. Murid atau orang tua menggunakan jalur hukum tanpa terlebih dahulu mencari ruang dialog.

Ketika hal ini terjadi, pendidikan kehilangan sesuatu yang sangat penting: wibawa moral. Padahal pendidikan tidak mungkin berjalan hanya dengan aturan formal. Ia membutuhkan kepercayaan, penghormatan, dan rasa tanggung jawab bersama.

Antara Kebebasan dan Tanggung Jawab

Ironisnya, jika kita membaca kembali pesan dalam Another Brick in the Wall, kritik terhadap otoritarianisme sebenarnya bertujuan membebaskan manusia agar mampu berpikir secara mandiri.

Namun kebebasan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kekacauan moral.

Dalam dunia pendidikan, kebebasan murid seharusnya berjalan bersama dengan penghormatan kepada guru. Sebaliknya, otoritas guru juga harus disertai kebijaksanaan dan empati.

Jika salah satu hilang, keseimbangan pedagogis akan runtuh. Pendidikan yang baik tidak membangun tembok antara guru dan murid. Ia membangun jembatan.

Dari Tembok Menuju Ruang Pertemuan

Ketika lagu Pink Floyd menggambarkan murid sebagai “batu bata” dalam tembok konformitas, ia mengingatkan kita bahwa pendidikan yang menindas akan memisahkan manusia dari dirinya sendiri.

Namun pendidikan yang kehilangan wibawa juga dapat membangun tembok lain—tembok ketidakpercayaan antara generasi. Guru menjadi takut mendisiplinkan murid. Murid kehilangan figur teladan. Sekolah berubah menjadi ruang administratif yang dingin.

Padahal pendidikan sejatinya adalah ruang pertemuan manusia. Ruang di mana pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Renungan

Dalam keheningan lagu Another Brick in the Wall, kita mendengar suara anak-anak yang menolak pendidikan yang menindas. Suara itu penting, karena sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa kritik selalu berbahaya.

Namun dunia pendidikan hari ini mengajarkan pelajaran lain: kebebasan tanpa penghormatan juga dapat merusak fondasi pendidikan. Maka tantangan pendidikan kontemporer bukan sekadar meruntuhkan tembok lama, tetapi juga memastikan bahwa ruang baru yang kita bangun tetap dipenuhi etika, hormat, dan kebijaksanaan.

Karena pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan. Ia adalah perjumpaan manusia dengan manusia. Dan dalam perjumpaan itu, guru dan murid tidak seharusnya menjadi batu bata dalam tembok yang saling memisahkan, melainkan cahaya kecil yang saling menerangi perjalanan hidup. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikPendidikanpink ploydulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

Next Post

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails
Next Post
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co