3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
in Kritik Seni
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Samuel Beckett. Waiting for Godot (1953)

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan gerak yang terus-menerus, musik yang tak pernah berhenti, dan emosi yang selalu dinaikkan ke titik paling keras. Seolah-olah sebuah adegan baru dianggap hidup ketika tubuh terus bergerak, suara terus meninggi, dan ruang tidak pernah dibiarkan bernapas.

Di balik kecenderungan itu tersembunyi sebuah kegelisahan yang lebih mendasar: ketakutan terhadap ruang kosong. Dalam psikologi seni, kecenderungan semacam ini dikenal sebagai horror vacui—dorongan untuk memenuhi setiap kekosongan karena kekosongan dianggap sebagai ancaman. Akibatnya, keheningan tidak lagi dipahami sebagai bagian dari bahasa artistik, melainkan sebagai sesuatu yang harus segera ditutupi. Panggung akhirnya berubah menjadi ruang yang terus berbicara karena ia kehilangan keberanian untuk mendengarkan dirinya sendiri.

Ironinya, Bali justru pernah menjadi salah satu sumber inspirasi terpenting bagi pembaruan teater modern dunia. Ketika Antonin Artaud menyaksikan tari Bali di Paris pada 1931, yang memukaunya bukanlah ledakan ekspresi, melainkan disiplin tubuh, ketepatan ritme, dan daya spiritual yang lahir dari pengendalian. Dari pengalaman itulah ia mengembangkan gagasan Theatre of Cruelty: sebuah teater yang mengguncang batin penonton bukan melalui kebisingan, melainkan melalui intensitas yang sepenuhnya terukur.

Di sinilah ironi itu muncul. Apa yang dahulu mengilhami dunia kini kerap dipahami hanya sebagai bentuk luarnya. Energi dipertahankan, tetapi disiplin batinnya memudar. Intensitas berubah menjadi ekses; ekspresi berubah menjadi ledakan. Ketika pengendalian hilang, tubuh tidak lagi menjadi bahasa, melainkan sekadar aktivitas. Dan ketika segala sesuatu terus bergerak, tidak ada lagi gerak yang benar-benar memiliki makna.

Barangkali karena itulah pemikiran Peter Brook tetap terasa relevan hingga hari ini. Dalam The Empty Space, Brook mengingatkan bahwa teater tidak membutuhkan kemegahan untuk menjadi hidup. Sebuah ruang kosong, seorang aktor, dan seorang penonton sudah cukup untuk melahirkan peristiwa teater. Yang menentukan bukan banyaknya elemen di atas panggung, melainkan kualitas kehadiran yang mampu diciptakan di dalamnya.

Samuel Beckett memperlihatkan kemungkinan yang lain lagi. Dalam karya-karyanya, keheningan bukanlah jeda di antara dialog, melainkan bagian dari dialog itu sendiri. Diam memiliki bobot dramatiknya sendiri. Tubuh yang nyaris tak bergerak justru dapat menghadirkan ketegangan yang jauh lebih besar daripada ledakan emosi yang terus-menerus. Dalam keheningan, penonton tidak dipaksa merasakan sesuatu; mereka diberi ruang untuk menemukan perasaan mereka sendiri.

Mungkin inilah tantangan terbesar teater modern Bali: belajar mempercayai keheningan. Bukan karena diam lebih indah daripada suara, tetapi karena suara hanya memperoleh maknanya ketika lahir dari keheningan. Musik hanya berarti karena ada jeda. Gerak hanya terasa karena ada tubuh yang mampu berhenti. Cahaya hanya tampak karena kita mengenal gelap.

Selama ini, penonton sering dianggap belum siap menerima pertunjukan yang lebih sunyi atau lebih kontemplatif. Anggapan tersebut layak dipertanyakan kembali. Penonton hari ini hidup di tengah banjir informasi, kebisingan media sosial, dan ritme kehidupan yang semakin cepat. Justru karena itulah banyak orang datang ke teater untuk mengalami sesuatu yang tidak mereka temukan di luar gedung pertunjukan: ruang untuk berhenti, memperhatikan, dan merenung.

Persoalan teater modern Bali, dengan demikian, mungkin bukan terutama persoalan estetika, melainkan persoalan kepercayaan. Kita tampaknya belum sepenuhnya percaya bahwa satu tatapan dapat lebih kuat daripada sepuluh teriakan; bahwa satu langkah yang ditahan dapat lebih mengguncang daripada seratus gerakan; dan bahwa keheningan, apabila benar-benar dihidupi, mampu berbicara lebih jauh daripada kata-kata.

Perubahan semacam ini hampir pasti tidak akan lahir dari kebiasaan yang terus diulang ataupun dari institusi yang terlalu nyaman dengan formula yang telah mapan. Ia biasanya muncul dari segelintir seniman yang bersedia mempertaruhkan kenyamanan estetikanya demi menemukan bahasa baru. Mereka memahami bahwa pembaruan bukanlah menambah lebih banyak unsur ke atas panggung, melainkan berani menyingkirkan yang tidak lagi diperlukan.

Pada akhirnya, teater tidak diukur dari seberapa keras ia berbicara, melainkan dari seberapa dalam ia mampu menggema setelah pertunjukan berakhir. Jika penonton masih membawa keheningan itu pulang, jika pertanyaan-pertanyaannya terus hidup bahkan ketika lampu panggung telah padam, di sanalah teater benar-benar bekerja.

Mungkin sudah saatnya teater modern Bali berhenti takut pada diam. Sebab bisa jadi, di dalam keheningan itulah masa depannya sedang menunggu. [T]

Kubu Art Space.

Tags: baliTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
0
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

Read moreDetails

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

by Made Chandra
July 19, 2026
0
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

Read moreDetails

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

by Arief Rahzen
July 6, 2026
0
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

Read moreDetails

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

by Made Chandra
July 5, 2026
0
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

Read moreDetails

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
0
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

Read moreDetails

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
0
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

Read moreDetails

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
0
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

Read moreDetails

Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

by Agus Arta Wiguna
July 19, 2025
0
Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

MALAM itu, Jumat, 18 Juli 2025, saya menyaksikan utsawa (parade) wayang kulit yang menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB)...

Read moreDetails

Jangan Sampai Kompetisi Seni Menjadi Komplotisi Seni

by I Gusti Made Darma Putra
July 19, 2025
0
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

DALAM dunia seni, sebuah kompetisi sejatinya lebih dari sekadar ajang unjuk bakat. Ia adalah wadah pengembangan, ruang pembinaan, dan panggung...

Read moreDetails

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi

by Made Chandra
April 26, 2025
0
Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi

KETIKA menyoal seni tradisi, tentu kita akan berkelindan dengan istilah ”pakem”. Sebuah istilah yang sering kali mengalami miskonsepsi oleh masyarakat...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co