3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

Wayan Sudirana, PhD by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
in Kritik Seni
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

Penampilan salah satu sekaa dalam Lomba Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali 2026 | Foto: dok PKB 2026

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan seni karawitan Bali. Ajang ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana kompetisi, tetapi juga sebagai laboratorium kreativitas yang melahirkan berbagai gagasan musikal baru, mempertemukan generasi muda dengan tradisi, serta memperkaya khazanah estetika baleganjur sebagai salah satu identitas budaya Bali. Perkembangan baleganjur dari fungsi ritual menuju seni pertunjukan dan arena kreativitas telah membuka peluang yang luas bagi para komposer untuk melakukan eksplorasi musikal, teknik permainan, koreografi, dan konsep artistik yang inovatif.

Namun, di tengah semangat inovasi yang semakin kompetitif, muncul gejala yang patut dicermati secara kritis. Banyak karya baleganjur kreasi saat ini tampak lebih berorientasi pada pencarian sensasi visual dan demonstrasi teknik yang berlebihan dibandingkan upaya membangun pengalaman estetik yang utuh. Kompleksitas ritme, ledakan dinamika, atraksi teatrikal, penggunaan kostum/makeup, hingga koreografi yang semakin dominan sering kali justru mengaburkan identitas musikal baleganjur itu sendiri. Kreativitas yang seharusnya menjadi sarana pengembangan nilai artistik perlahan bergeser menjadi perlombaan efek kejut yang mengejar kekaguman sesaat dari penonton dan dewan juri.

Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai arah perkembangan estetika baleganjur kreasi dewasa ini. Apakah inovasi yang dilakukan masih berangkat dari pemahaman terhadap esensi musikal baleganjur, atau justru telah menjauh dari akar estetiknya? Ketika unsur visual dan dramaturgi lebih menonjol daripada kualitas musikal, ketika kepadatan garapan dianggap lebih bernilai daripada kejelasan ide artistik, dan ketika ukuran keberhasilan karya ditentukan oleh kemegahan pertunjukan semata, maka terdapat indikasi bahwa baleganjur kreasi sedang mengalami krisis orientasi estetik.

Penampilan salah satu sekaa dalam Lomba Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali 2026 | Foto: dok PKB 2026

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan terhadap kecenderungan tersebut. Kritik bukan dimaksudkan untuk menolak perubahan atau membatasi kreativitas, melainkan sebagai upaya reflektif untuk meninjau kembali hubungan antara inovasi, tradisi, dan nilai estetika dalam baleganjur kreasi. Tulisan ini berusaha mengkaji bagaimana berbagai karya dalam Lomba Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali menunjukkan gejala kehilangan arah estetik, yaitu ketika kebaruan tidak lagi didasarkan pada kedalaman gagasan artistik, melainkan pada akumulasi efek pertunjukan yang semakin menjauh dari substansi musikal baleganjur.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak seluruh pelaku seni—komposer, penabuh, koreografer, juri, dan penyelenggara—untuk kembali menempatkan estetika sebagai landasan utama penciptaan. Sebab, keberhasilan sebuah karya baleganjur kreasi tidak hanya diukur dari kemampuannya menghadirkan sebuah sensasi efek kejut, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan kebaruan musikal, makna, keutuhan bentuk, keseimbangan artistik, dan pengalaman estetik yang mendalam bagi masyarakat pendukungnya.

Akrobatika Estetik dan Identitas Baleganjur

Dalam perkembangan Baleganjur Kreasi dewasa ini, muncul kecenderungan yang dapat disebut sebagai akrobatika estetik, yaitu praktik penciptaan karya yang menempatkan kompleksitas, kecepatan, atraksi visual, dan demonstrasi keterampilan teknis sebagai pusat perhatian utama pertunjukan. Istilah ini tidak merujuk pada akrobatik secara harfiah, melainkan pada kecenderungan artistik yang berusaha terus-menerus menghadirkan kejutan, sensasi, dan efek spektakuler demi memperoleh apresiasi instan dari penonton maupun penilaian kompetitif dari juri.

Fenomena akrobatika estetik terlihat dalam berbagai bentuk. Misalnya, penggunaan pola ritmis yang sangat padat dan rumit tanpa memberikan ruang bagi pengembangan tema musikal; perubahan tempo yang ekstrem; eksploitasi dinamika secara berlebihan; koreografi yang semakin dominan; hingga penggunaan properti dan efek dramatik yang terkadang lebih menonjol daripada substansi musikal karya itu sendiri. Dalam situasi seperti ini, perhatian penonton sering diarahkan pada pertanyaan “seberapa sulit” atau “seberapa spektakuler” sebuah pertunjukan, bukan pada pengembangan ide musikal dan “apa yang ingin diungkapkan” oleh karya tersebut.

Secara artistik, kecenderungan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan identitas. Baleganjur pada dasarnya memiliki karakter musikal yang khas: kekuatan ritmis yang kolektif yang didasari oleh pola gongan batel, gilak, peponggangan, dan bebonangan; energi yang bergerak progresif; dialog antar instrument; fungsi pengiring pergerakan; serta semangat kebersamaan yang tercermin dalam permainan ansambel. Identitas Baleganjur tidak hanya terletak pada perangkat instrumennya, tetapi juga pada cara musikalitas itu dibangun melalui keseimbangan antara ritme, struktur, dinamika, dan fungsi sosial-budayanya.

Penampilan salah satu sekaa dalam Lomba Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali 2026 | Foto: dok PKB 2026

Ketika akrobatika estetik menjadi tujuan utama, identitas tersebut dapat mengalami pergeseran. Baleganjur tidak lagi tampil sebagai sebuah sistem musikal yang memiliki logika estetik tersendiri, melainkan berubah menjadi wadah berbagai efek artistik yang terkadang berasal dari paradigma pertunjukan lain. Akibatnya, batas antara Baleganjur Kreasi dan bentuk pertunjukan spektakuler lainnya menjadi semakin kabur. Karya Baleganjur PKB saat ini mungkin terdengar lebih rumit dan terlihat lebih megah, tetapi belum tentu memperkuat karakter Baleganjur sebagai gaya musik yang memiliki sejarah, filosofi, dan bahasa musikal yang khas.

Persoalan ini bukan berarti bahwa Baleganjur harus tetap statis atau menolak inovasi. Sebaliknya, kreativitas merupakan bagian penting dari kehidupan seni Bali. Namun, inovasi yang sehat seharusnya lahir dari dialog dengan identitas dasar Baleganjur, bukan dari upaya meninggalkannya. Kreativitas yang berakar pada pemahaman mendalam terhadap tradisi akan menghasilkan pembaruan yang memperkaya, sedangkan kreativitas yang hanya mengejar sensasi berisiko menghasilkan karya yang kehilangan orientasi estetik.

Dalam perspektif kritik seni, akrobatika estetik menjadi masalah ketika virtuositas teknis menggantikan kedalaman artistik. Sebuah karya yang baik bukan hanya karya yang mampu membuat penonton kagum terhadap kemampuan para pemainnya, tetapi juga karya yang mampu membangun pengalaman estetik yang utuh melalui kejelasan konsep, koherensi bentuk, keseimbangan unsur-unsur pertunjukan, dan kekuatan ekspresi musikalnya.

Oleh karena itu, tantangan terbesar Baleganjur Kreasi saat ini bukanlah bagaimana menjadi semakin spektakuler, melainkan bagaimana tetap menjaga identitas musikal Baleganjur di tengah tuntutan inovasi yang terus berkembang. Di sinilah pentingnya refleksi kritis terhadap arah perkembangan estetika Baleganjur, agar kreativitas tidak berubah menjadi sekadar akrobatika artistik, tetapi tetap menjadi sarana untuk memperdalam inovasi pada aspek gramatikal musik dan pendalaman makna dalam upaya memperkaya warisan budaya Bali.

Circus Gamelan dan Estetika Maksimalis

Saya menerima komentar “lucu” dari salah satu teman saya (orang Bali tapi besar di Amerika) lewat akun Instagram yang mengatakan bahwa fenomena Baleganjur PKB dia sebut sebagai Circus Gamelan. Serupa dengan pernyataan saya sebelumnya, apa yang teman saya maksud sebagai circus gamelan mengarah pada kecenderungan pertunjukan yang lebih mengutamakan efek kejut, atraksi panggung, formasi berlebihan, gerakan teatrikal, permainan properti, dan eksplorasi visual yang spektakuler. Dalam situasi ini, perhatian penonton sering bergeser dari kualitas musikal—seperti pengolahan ritme, dinamika, struktur komposisi, keseimbangan instrumen, dan kedalaman ekspresi—ke arah hiburan visual semata. Padahal secara historis, Baleganjur memiliki kekuatan utama pada dasar pola gongannya, energi ritmis, karakter komunal, fungsi ritual, serta dialog musikal antar-instrumen. Ketika unsur tontonan terlalu dominan, terdapat risiko bahwa Baleganjur kehilangan identitas estetiknya dan berubah menjadi pertunjukan sensasional yang mengejar tepuk tangan sesaat.

Oscar Smith, seorang kolega yang sedang menyelesaikan Pendidikan Doktor di University of British Columbia, Canada memberikan pendapatnya ketika saya menanyakan terkait hal ini. Oscar mengatakan:

 “To me it’s too extravagant, to the point where it makes me laugh. It seemed like the choreographer wanted to have someone lifted up every minute. I’ve seen other arrangements like that at PKB. It’s a “maximalist” aesthetic, you have to have something crazy going on at every moment, and now it’s so hard to impress audiences, because almost every performance is like that (if the kabupaten can pay enough), but you can’t make it more impressive.”

(Menurut saya itu terlalu berlebihan, sampai-sampai membuat saya tertawa. Sepertinya koreografer ingin ada seseorang yang diangkat setiap menit. Saya pernah melihat langsung karya serupa di PKB. Ini estetika “maksimalis”, harus ada sesuatu yang gila terjadi setiap saat, dan sekarang sangat sulit untuk membuat penonton terkesan, karena hampir setiap pertunjukan seperti itu (jika kabupaten mampu membayar cukup), tetapi tidak ada yang bisa membuatnya lebih mengesankan).

Dari pernyataan tersebut, terlihat bahwa memang kecenderungan penciptaan karya Baleganjur sekarang ini adalah untuk mendapatkan tepuk tangan instan dari penonton dan bisa mengesankan pandangan juri. Jadi sepertinya prisipal utama dari koreografi baleganjur saat ini adalah harus selalu ada orang yang diangkat dan kalau bisa, harus bisa melakukan atraksi seperti layaknya dilakukan di adegan sirkus.

Penampilan salah satu sekaa dalam Lomba Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali 2026 | Foto: dok PKB 2026

Estetika “maksimalis” yang dimaksud oleh Oscar, menurut saya merujuk pada salah satu cara untuk memahami perkembangan Baleganjur Kreasi dalam ajang PKB. Dalam seni, maksimalisme merupakan kecenderungan yang mengedepankan prinsip more is more—semakin banyak unsur, semakin padat tekstur, semakin kompleks struktur, semakin besar efek visual dan emosional yang dihasilkan. Berbeda dengan estetika minimalis yang menekankan kesederhanaan dan esensi, estetika maksimalis justru merayakan kepadatan, kemegahan, keramaian, dan akumulasi berbagai elemen artistik.

Dalam konteks Baleganjur PKB, estetika maksimalis tampak melalui kecenderungan menghadirkan karya dengan koreografi yang semakin kompleks dari tahun ke tahun. Komposer tidak hanya dituntut menciptakan komposisi musik yang menarik, tetapi juga harus menghadirkan koreografi, dramatika panggung, narasi tematik, kostum yang megah, tata artistik, permainan properti, perubahan formasi yang cepat, hingga berbagai efek teatrikal yang mampu memukau penonton dan juri.

Akibatnya, Baleganjur tidak lagi hanya menjadi pengalaman audial, tetapi berkembang menjadi sebuah spektakel multidimensional. Bunyi, gerak, visual, drama, dan simbol hadir secara bersamaan dalam satu ruang pertunjukan. Dalam batas tertentu, hal ini bisa saja menunjukkan sebuah keberhasilan kreativitas seniman Bali dalam memperluas kemungkinan artistik Baleganjur. Namun pada saat yang sama, muncul pertanyaan kritis mengenai posisi musik dalam keseluruhan pertunjukan tersebut.

Di sinilah fenomena circus gamelan dapat dipahami sebagai manifestasi dari estetika maksimalis yang mencapai titik ekstrem. Istilah circus gamelan merujuk pada situasi ketika pertunjukan lebih mengutamakan efek spektakuler daripada kedalaman artistik. Karya menjadi ajang demonstrasi kemampuan teknis, kemegahan visual, dan akumulasi kejutan-kejutan panggung. Semakin rumit gerakan, semakin cepat tempo, semakin banyak pergantian suasana, semakin besar properti yang digunakan, maka karya dianggap semakin menarik.

Dalam perspektif kritik seni, fenomena tersebut dapat disebut sebagai over-aestheticization, yaitu keadaan ketika sebuah karya terlalu dipenuhi unsur artistik hingga kehilangan fokus estetiknya. Semua elemen ingin tampil dominan secara bersamaan. Tidak ada ruang untuk kesederhanaan, keheningan, atau pengembangan ide secara mendalam karena perhatian terus diarahkan pada penciptaan efek yang lebih besar daripada sebelumnya. Secara musikal, gejala ini terlihat dalam penggunaan ritme yang sangat padat, perubahan dinamika yang ekstrem, aksentuasi yang berlebihan, dan struktur komposisi yang dipenuhi klimaks demi klimaks. Akibatnya, karya sering kehilangan pusat gravitasinya. Penonton memang terhibur dan terkesan, tetapi sulit menangkap identitas musikal yang menjadi dasar penciptaan karya tersebut.

Dari sudut pandang teori estetika, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep “society of spectacle” yang dikemukakan oleh Guy Debord. Debord menjelaskan bahwa dalam budaya tontonan modern, nilai suatu karya sering diukur berdasarkan kemampuannya menghasilkan perhatian dan sensasi visual. Dalam situasi demikian, representasi menjadi lebih penting daripada substansi. Jika konsep ini diterapkan pada Baleganjur PKB, maka pertunjukan berpotensi bergeser dari pengalaman musikal menuju konsumsi spektakel.

Dengan demikian, circus gamelan dapat dipahami sebagai bentuk ekstrem dari estetika maksimalis dalam Baleganjur PKB. Persoalannya bukan terletak pada banyaknya unsur artistik yang digunakan, melainkan pada hilangnya keseimbangan antar unsur tersebut. Ketika visual mengalahkan bunyi, ketika atraksi mengalahkan komposisi, dan ketika sensasi mengalahkan refleksi artistik, Baleganjur mulai kehilangan orientasi estetiknya. Pertanyaannya adalah sejak kapan fenomena circus gamelan ini dimulai? Apa landasan utama dari orientasi estetika maksimalis ini Ketika dihadapkan dengan penciptaan karya Baleganjur kreasi?

Tantangan bagi Baleganjur Kreasi masa kini bukanlah mengurangi kreativitas, melainkan menemukan kembali keseimbangan antara inovasi dan identitas. Estetika maksimalis dapat menjadi kekuatan apabila digunakan untuk memperkuat gagasan musikal. Namun ketika maksimalisme berubah menjadi perlombaan spektakel, Baleganjur berisiko berubah dari seni musikal menjadi sekadar “circus gamelan”—sebuah tontonan yang mengagumkan, tetapi semakin jauh dari roh estetik yang membentuknya. Padahal tema PKB tahun ini (Atma Kertih) mengajarkan kita untuk melakukan refleksi diri.

Dalam konteks tema ini, refleksi diri dimaknai sebagai proses menengok ke dalam batin untuk memahami, menyucikan, dan menyeimbangkan pikiran, perasaan, serta perilaku agar selaras dengan nilai-nilai dharma. Melalui refleksi diri, manusia diajak membangun kesadaran spiritual yang lebih mendalam sehingga mampu menciptakan harmoni antara diri pribadi, sesama, alam, dan Tuhan. Hubungan harmonis antara inovasi dan identitas Baleganjur patutlah dijaga. Apakah akan ada proses refleksi dari fenomena “circus gamelan” dan estetika maksimalis yang berkembang dalam karya Baleganjur PKB? [T]

Tags: lomba baleganjurmusikPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026seni karawitan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

Next Post

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

Wayan Sudirana, PhD

Wayan Sudirana, PhD

Komposer, Enomusikolog, Director Gamelan Yuganada

Related Posts

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

by Made Chandra
September 6, 2026
0
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

Read moreDetails

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

by Made Chandra
August 25, 2026
0
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

Read moreDetails

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

by Made Chandra
August 7, 2026
0
Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

Read moreDetails

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
0
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

Read moreDetails

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
0
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

Read moreDetails

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

by Made Chandra
July 19, 2026
0
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

Read moreDetails

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

by Arief Rahzen
July 6, 2026
0
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

Read moreDetails

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

by Made Chandra
July 5, 2026
0
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

Read moreDetails

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
0
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

Read moreDetails

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
0
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

Read moreDetails
Next Post
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co