2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Sampai Kompetisi Seni Menjadi Komplotisi Seni

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
July 19, 2025
in Kritik Seni
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

I Gusti Made Darma Putra

DALAM dunia seni, sebuah kompetisi sejatinya lebih dari sekadar ajang unjuk bakat. Ia adalah wadah pengembangan, ruang pembinaan, dan panggung pertemuan antara potensi dan peluang. Sayangnya, prinsip ini kerap luput dipahami secara mendalam oleh penyelenggara acara, juri, dan kadang oleh para pelaku seni itu sendiri. Alih-alih menjadi medan yang memberi ruang bagi tumbuhnya generasi baru, banyak kompetisi justru terjebak dalam pola yang stagnan, hanya itu-itu saja yang mewakili, dan hanya itu-itu juga yang menang.

Fenomena “itu-itu saja” bukan sekadar kekhilafan, melainkan cerminan dari sistem yang tidak sehat. Ketika seseorang atau sekelompok orang terus-menerus muncul dalam berbagai kompetisi dengan hasil yang selalu memihak pada mereka, maka yang dipertaruhkan bukan hanya semangat berkompetisi, tetapi juga integritas dan tujuan utama dari kompetisi itu sendiri. Bagaimana mungkin kompetisi mampu melahirkan seniman baru, jika yang diberi ruang hanyalah mereka yang telah mapan dan ‘dikenal’?

Padahal, tujuan utama dari setiap kompetisi dalam bidang seni dan budaya seharusnya adalah pembinaan. Pembinaan berarti memberi kesempatan, mengasah kemampuan, dan mendampingi proses tumbuh. Ia menuntut keberanian untuk menjangkau nama-nama baru, menyoroti potensi tersembunyi, dan memperluas spektrum representasi. Jika orientasi penyelenggaraan hanya berpaku pada nama yang sudah ada, maka artinya kita sedang menyuburkan eksklusivitas, bukan inklusivitas.

Kompetisi Bukan Arena Elitis

Ada satu pertanyaan reflektif yang patut diajukan: Untuk siapa sebenarnya sebuah kompetisi itu diadakan? Apakah untuk mempertegas keunggulan mereka yang sudah dianggap unggul? Atau untuk menantang dan memunculkan potensi dari mereka yang belum memiliki panggung?

Saat kompetisi hanya menghadirkan pemenang yang sama, maka publik pun akan kehilangan kepercayaan. Aura seleksi menjadi semu, dan para peserta lain yang datang dengan semangat belajar dan tumbuh akan merasa bahwa kehadiran mereka hanya formalitas. Lebih menyakitkan lagi, ada yang mungkin berpikir “Sudah pasti yang itu yang menang,” bahkan sebelum juri angkat suara. Ini adalah bentuk kegagalan paling mendasar dalam merancang ruang apresiasi.

Kritik ini bukan ditujukan untuk menjatuhkan individu tertentu. Sebab tidak ada yang salah dari seseorang yang terus berkarya dan ikut serta. Yang patut dipertanyakan adalah keberpihakan sistem yang tak memberi ruang seimbang bagi yang lain. Seni bukan hanya milik mereka yang sudah dikenal, melainkan milik semua jiwa yang ingin tumbuh.

Dampak Sistemik: Dari Apatisme ke Kehilangan Regenerasi

Jika pola ini terus dibiarkan, maka lambat laun dunia seni akan menghadapi kemandekan regenerasi. Seniman-seniman muda yang baru mulai tertarik mengeksplorasi diri bisa jadi akan kehilangan semangat ketika merasa panggung itu terlalu sempit untuk dimasuki. Ketika peluang tidak dirasakan adil, maka semangat belajar pun akan luntur. Dunia seni yang seharusnya menjadi taman pertumbuhan akan berubah menjadi hutan rimba yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang sudah ‘punya nama’.

Apatisme bisa tumbuh perlahan dari rasa tidak didengar. Mereka yang sebenarnya memiliki potensi luar biasa bisa jadi memilih diam dan mundur karena merasa tak ada tempat. Padahal, keberagaman dalam seni adalah nadi dari kelangsungan kebudayaan itu sendiri. Kita tidak bisa berharap munculnya seniman-seniman hebat jika tidak ada panggung pembinaan yang adil, terbuka, dan inklusif.

Perlu kita sadari bahwa seni bukan semata hasil, tapi proses. Mereka yang sedang dalam proses tumbuh juga layak mendapat ruang. Bukan untuk diloloskan semata-mata karena belas kasihan, tetapi karena dalam proses tampil dan berpartisipasi, pembinaan akan hidup. Semangat itu yang seharusnya menjadi ruh dari sebuah kompetisi mendidik, bukan sekadar menilai.

Sudah saatnya kita menata ulang orientasi kompetisi seni. Penyelenggara harus membuka mata terhadap pentingnya menciptakan ekosistem yang berpihak pada pembinaan, bukan sekadar menonjolkan prestise atau kemeriahan seremonial. Kompetisi bukan akhir, tapi justru awal dari proses pembelajaran dan pengasahan jati diri seniman.

Salah satu pilar utama yang harus dibenahi adalah sistem penjurian. Kredibilitas juri menjadi kunci mutlak. Jangan sampai penilaian dilakukan oleh mereka yang tidak memahami medan kompetisi secara mendalam, atau yang membawa kepentingan dan preferensi sempit. Juri yang ideal adalah mereka yang memiliki integritas, rekam jejak di bidang seni yang relevan, serta memahami peran mereka bukan hanya sebagai penilai, tetapi juga sebagai pembimbing dan pengarah.

Lebih lanjut, sistem penjurian harus transparan dan edukatif. Juri tidak cukup hanya memberi nilai atau komentar sepintas. Sebisa mungkin, perlu ada sesi evaluasi langsung berupa praktik atau demonstrasi dari juri, di mana peserta bisa melihat dan memahami apa yang dimaksud sebagai “baik” menurut standar penjurian. Ini akan membantu peserta mengevaluasi diri secara konkret dan tidak terjebak dalam tafsir yang kabur. Di sinilah kompetisi bisa benar-benar menjadi sarana belajar, bukan hanya ajang kompetisi kosong.

 Tak kalah penting, penyelenggara juga harus menginformasikan sejak awal latar belakang juri, termasuk gaya artistik, preferensi teknik, bahkan kecenderungan estetikanya (fashion juri). Mengapa ini penting? Karena seni bukan ilmu pasti, setiap juri bisa memiliki selera dan pendekatan yang berbeda. Dengan memahami lebih dulu siapa yang akan menilai mereka, para peserta bisa lebih siap, lebih strategis, dan tidak merasa “salah sambung” hanya karena gaya mereka tidak nyambung dengan selera juri. Ini adalah bentuk keadilan komunikatif yang penting dalam menjaga semangat peserta.

Juri yang memahami bahwa kompetisi adalah bagian dari proses edukatif akan mampu melihat keunggulan bukan hanya dari aspek teknis, tetapi juga dari semangat, karakter, dan potensi tumbuh seorang seniman. Kemenangan bukan hanya soal siapa yang tampil sempurna, tetapi siapa yang memiliki api kreatif untuk terus menyala dan berkembang.

Dengan sistem penjurian yang kredibel, terbuka, dan membina, maka kompetisi seni tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga menciptakan komunitas seniman yang terus belajar, berkembang, dan saling menginspirasi.

Kompetisi seni, dalam bentuk apa pun, adalah wajah dari arah kebudayaan kita. Jika ia dirancang secara sempit dan tertutup, maka seni akan menjelma jadi monumen mati, indah namun tak bernyawa. Sebaliknya, jika kompetisi dikelola dengan hati, keberanian, dan niat tulus untuk membina, maka ia akan menjadi mata air yang tak pernah kering bagi lahirnya seniman-seniman masa depan.

Kritik ini adalah bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengingatkan. Bahwa dalam setiap ruang kompetisi, selalu ada harapan yang menunggu untuk dipupuk. Jangan biarkan harapan itu mati hanya karena panggung terlalu sempit untuk melihat lebih jauh dari yang sudah-sudah.

 Mari kita ciptakan kompetisi yang adil, lebih inklusif, dan lebih berpihak pada pembinaan. Karena dari sanalah masa depan seni kita akan lahir, bukan dari pengulangan, tapi dari keberanian memberi ruang bagi yang belum tampak.

Kompetisi Seni Menjadi Komplotisi Seni, Jangan Sampai Ya…

Kompetisi seni seharusnya menjadi ruang yang adil dan inspiratif untuk menggali potensi, mempertemukan ide-ide segar, serta menumbuhkan regenerasi yang berkualitas. Seni yang seharusnya bebas dan jujur justru dibelenggu oleh ketakutan tak menang. Lebih jauh, kompetisi menjadi berbahaya jika penilaian hanya berpijak pada selera subjektif juri tanpa standar yang jelas dan terbuka. Hal ini bukan hanya menimbulkan kecurigaan, tetapi juga membuka ruang praktik tidak sehat seperti kolusi dan keberpihakan.

Maka, penting untuk memastikan bahwa juri yang ditunjuk adalah sosok yang kredibel, terbuka memberi evaluasi, dan komunikatif dalam menyampaikan tolok ukur penilaian. Jangan sampai kompetisi seni yang seharusnya menjunjung integritas dan pembinaan malah berubah menjadi komplotisi seni,  ruang sempit penuh intrik yang menjatuhkan semangat berkesenian.

Catatan Penutup:

Tulisan ini ditujukan sebagai bahan refleksi dan pemantik dialog bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia seni, penyelenggara, peserta, juri, dan masyarakat. Semoga dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas untuk perbaikan bersama. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I GUSTI MADE DARMA PUTRA

  • BACA JUGA:
Baleganjur Kehilangan Hak Audialnya — Catatan Wimbakara Baleganjur Pesta Kesenian Bali 2025
Legitimasi Seniman dalam Medan Seni
Dalam Kesenian, Sastra, dan Kebudayaan, Polemik Itu Perlu
Tags: kesenian baliLombaSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ladang Singkong di Lereng Semeru | Cerpen Khairul A. El Maliky

Next Post

Pesta Kesenian Bali 2025 Didominasi Seniman-seniman Muda, dan Itu Membuat Kita Bangga

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

by Agus Arta Wiguna
July 19, 2025
0
Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

MALAM itu, Jumat, 18 Juli 2025, saya menyaksikan utsawa (parade) wayang kulit yang menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB)...

Read moreDetails

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi

by Made Chandra
April 26, 2025
0
Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi

KETIKA menyoal seni tradisi, tentu kita akan berkelindan dengan istilah ”pakem”. Sebuah istilah yang sering kali mengalami miskonsepsi oleh masyarakat...

Read moreDetails

Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

by I Gusti Made Darma Putra
April 24, 2025
0
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

PESTA Kesenian Bali (PKB) adalah sebuah ajang penting yang menjadi representasi kebudayaan Bali, di mana setiap elemen seni disajikan dalam...

Read moreDetails

“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB

by I Ketut Pany Ryandhi
June 25, 2024
0
“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB

BEBERAPA hari ini, perbincangan antar seniman di Buleleng diramaikan dengan penampilan tari Wiranjaya yang dibawakan oleh Sekaa Gong Darma Pradangga,...

Read moreDetails

Memeriksa Kembali Geliat Kreatif Seniman Muda Bali Utara

by I Ketut Pany Ryandhi
July 9, 2023
0
Memeriksa Kembali Geliat Kreatif Seniman Muda Bali Utara

DI KALANGAN musisi Bali, Buleleng memang terkenal akan musik kebyarnya atau lebih jamak disebut gong kebyar. Pendapat semacam ini tentu...

Read moreDetails

“Girang Kaajakin”: Paradoks Identitas Diri, Kelatahan, dan Masyarakat (Seni) Bali dalam Gejala Post-tradisi

by Dewa Purwita Sukahet
February 18, 2023
0
“Girang Kaajakin”: Paradoks Identitas Diri, Kelatahan, dan Masyarakat (Seni) Bali dalam Gejala Post-tradisi

MENGHUBUNGKAN TUMPEK KRUWLUT dengan kata ‘lulut’ yang dalam Jawa Kuna berarti kasih sayang, cinta, asmara, rindu, hasrat cinta kasih, mabuk...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Kesenian Bali 2025 Didominasi Seniman-seniman Muda, dan Itu Membuat Kita Bangga

Pesta Kesenian Bali 2025 Didominasi Seniman-seniman Muda, dan Itu Membuat Kita Bangga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co