MALAM, 26 dan 27 Juni 2025, para penggemar gamelan Bali khususnya fans baleganjur bergeliat. Bergeliat mendengar, menonton, berkomentar bahkan lebih jauh memprediksi nominasi selayaknya juri atas pelaksanaan Wimbakara Baleganjur Pesta Kesenian Bali (PKB) Tahun 2025. Hingar bingar suara barungan baleganjur ditimpali riuh “opini” masyarakat umum bahkan sangat kencang pada segmen masyarakat virtual yang disebut netizen. Komentar-komentar para netizen telah terunggah khususnya melalui laman media sosialnya masing-masing.
Hal yang memantik pikiran saya adalah mengenai obyek atau topik komentar dari para netizen tersebut. Obyek atau topik komentar dari para netizen yang diunggah setelah saya amati dari beberapa postingan di instagram cenderung lebih mengarah pada tema dramatik cerita yang menjadi ide penggarapan, koreografi dan kostum. Jika tema dramatik yang berbasis cerita daerah, legenda ataupun mitologi seharusnya menjadi pemantik isian kompositoris bukan ngendingin alur ceritanya. Padahal kalau tidak salah barungan baleganjur yang digunakan sebagai subyek perlombaan adalah media bunyi.
Mengapa kemudian para netizen sangat jarang bahkan mungkin tidak ada yang mempersoalkan mengenai laras gamelan, kebaruan pencarian warna suara, teknik gegebug bahkan yang lebih substansial adalah formulasi kompositorisnya? Pertanyaan saya ini muncul berdasarkan atas beberapa penjelajahan secara langsung maupun tidak langsung khususnya pada laman pencarian akun media sosial instagram.
Melalui tulisan ini saya akan menganalisis contoh-contoh komentar para netizen pada laman instagram.
Contoh 1:

Melalui tangkapan layar pada postingan pemilik akun @komangagusdarma diposting gambar penampilan Sekaa Baleganjur Duta Kabupaten Buleleng dengan caption “Bleganjur buleleng top Sampai Kerauhan misi onying gek, ne”.
Berdasarkan dari caption tersebut bahwa tim Sekaa Baleganjur Duta Kabupaten Buleleng mendapat apresiasi baik karena terdapat koreografi serta dramatikal onying (menghujam keris ke dada). Berarti kalau tidak menggunakan koreografi serta dramatikal onying apakah penampilan Sekaa Baleganjur Duta Kabupaten Buleleng tidak dapat dikatakan top? Padahal garapan baleganjur duta Buleleng ini, dari segi teknik dan komposisi musikalnya tersaji dengan rapi. Teknik penabuh dalam memainkan komposisi baleganjurnya juga dapat dikatakan baik.
Contoh 2:

Selanjutnya pada gambar contoh 2 adalah tangkapan layar penampilan Sekaa Baleganjur Duta Kota Denpasar dengan komentar yang menjurus pada teknik koreografi penari pembawa cane (semacam vas bunga). Pada kolom komentar postingan tersebut diperdebatkan apakah gerakan penari cane tersebut memang dalam penataan atau karena insiden jatuh?
Insiden jatuh dalam sebuah perlombaan khususnya lomba baleganjur ternyata menjadi salah satu indikator. Indikator untuk menyatakan penampilan tidak bersih dan layak diberikan pengurangan nilai. Terlebih hal itu dikarenakan oleh penari, padahal yang dilombakan adalah komposisi baleganjur. Pada praktik penilaiannya biasanya juri akan mempertimbangkan berbagai insiden yang terjadi untuk dikurangi pada aspek keutuhan penampilan. Walaupun demikian fokus penilaian harus tetap pada komposisi musikalnya, jika komposisi musikalnya disajikan dengan baik maka tetap saja harus diberikan prioritas utama.
Contoh 3:


Kedua tangkapan layar di atas mempersoalkan masalah kostum. Gambar pertama mempersoalkan mengenai kesamaan kostum antara Sekaa Baleganjur Duta Kota Denpasar dengan Sekaa Baleganjur Duta Kabupaten Buleleng dengan caption “Warna Baju Boleh Sama Tapi…?”. Kata “tapi” pada akhir caption semoga merujuk pada perbedaan sajian musikalnya namun tidak dijelaskan secara spesifik makna dari kata “tapi”. Ambigunya makna kata “tapi” menyebabkan terpenggalnya makna yang ingin disampaikan.
Lalu pada gambar kedua oleh postingan akun @restupinatih menyajikan postingan dengan caption “Transisi Kostum Baleganjur Remaja Duta Kabupaten Tabanan”. Perlu diketahui tim penata dari Sekaa Baleganjur Duta Kabupaten Tabanan tahun ini menampilkan sajian kostum dengan efek perubahan visual oleh elemen fosfor yang dapat mengubah pancaran cahaya yang terlihat dalam kegelapan atau pada intensitas saturasi warna cahaya tertentu.
Pertanyaan saya, apakah transisi musikal dari Sekaa Baleganjur Duta Kabupaten Tabanan tidak menarik? Sudahkah mendengar komposisi musikal baleganjurnya?
Contoh 4

Pada tangkapan layar di atas lebih gamblang lagi para netizen mengunggah komentarnya mengenai penampilan visual. Akun @wiadny4na menuliskan “Badung, warna busana matching sama warna lampu”. Kemudian akun @rrestuymp menulis apresiasi visualnya dengan menulis “glow in the dark”.
Jika dicermati dari komentar kedua akun tersebut maka audial baleganjur seolah dikesampingkan dan hanya merujuk pada aspek visual. Terlebih komentar dari akun @gusnovaprtma_ secara tegas memprediksi bahwa tim Baleganjur Tabanan meraih “jayanti” yang berarti kemenangan karena penampilan. Penampilan apanya? Penampilan visual? Atau musikalnya? Jika diprediksi akan meraih jayanti karena penampilan visual maka perlu diingat bukankah Wimbakara Baleganjur adalah kontestasi bunyi? Bukan fashion, art light atau instalasi.
Kembalikan Hak Audial Baleganjur
Artikel ini tentu saja bukan bermaksud mengkritik atau menyalahkan komentar netizen di media sosial. Sebagai penonton dan penikmat baleganjur, netizen punya hak yang sah untuk memperhatikan hal-hal yang diinginkan. Namun, dari contoh-contoh tangkapan layar media sosial itu, saya sepertinya mendapat kesan, bahkan semacam kesimpulan bahwa baleganjur di PKB itu sudah kehilangan hak audialnya. Baleganjur lebih banyak diperhatikan, atau “dinilai” dari segi penampilan, sementara segi bunyi yang diperdengarkan kurang mendapat perhatian.
Berbicara mengenai hak audial baleganjur tidak saja berbicara ranah akademis, ini adalah hal dasar. Baleganjur adalah karya seni suara (audial), disajikan dengan tambahan artistik visual sangat sah dan bahkan membantu. Sah dan membantu bukan berarti harus menghilangkan hak dasar audial.
Berbicara audial baleganjur seharusnya tidak berkelit bahwa itu urusan akademis. Semua lapisan harus paham baleganjur yang terpenting adalah hasil audialnya. Mengapa? Selain faktor karya oleh komposernya juga perlu diketahui terdapat andil organologis oleh pengerajin gamelan. Sangat tidak fair bunyi yang dihasilkan oleh pengerajin gamelan dikesampingkan oleh persoalan kostum apalagi properti. Bunyi gamelan akan memantik lahirnya formulasi garap baleganjur baru.
Penonton yang hadir di Ardha Candra, atau dimanapun berada pada lomba baleganjur, sepertinya lebih banyak hanya menjadi penonton, bukan menjadi pendengar.
Menjadi pendengar terkadang memang lebih sulit ketimbang menjadi penonton. Mendengar perlu keseksamaan bahkan konsentrasi agar dapat menangkap detail peristiwa bunyi. Kemudian menonton menggunakan indera mata relatif lebih gampang karena dapat tersaji begitu saja walaupun tidak dalam berkonsentrasi. Namun jika berpikir lebih dalam serta jernih, baleganjur yang digunakan sebagai subyek perlombaan adalah berasal dari bunyi. Bunyi sesuai fitrahnya ditangkap dengan telinga. Bunyi atau audio memang sepatutnya diapresiasi oleh pendengaran yang tajam, presisi dan penuh konsentrasi.
Boleh saja mengemukakan pendapat jika baleganjur ketika dipentaskan dalam konteks seni pertunjukan terdapat konsep audio-visual. Konsep audio-visual juga menempatkan audio sebagai subyek sehingga visual menjadi elemen sekunder yang sifatnya membantu pertunjukan audialnya. Sifatnya yang membantu jangan sampai melewati peranan subyek sebagai elemen primernya. Komentar dan opini netizen yang tercermin pada beberapa contoh tangkapan layar di atas adalah contoh elemen visual melewati peranan audial.

Penampilan baleganjur pada Pesta Kesenian Bali 2025
Peranan audial pada lomba baleganjur sejatinya menjadi fokus utama oleh seluruh pencinta karawitan dan masyarakat seni pertunjukan Bali. Ada dua hal yang seharusnya menjadi perhatian secara audial yaitu laras gamelan Baleganjur yang digunakan lomba dan pencapaian komposisinya. Dua hal audial tersebut tidak hanya bertendensi pertunjukan bahkan lebih jauh sebagai kekayaan intelektual seniman karawitan Bali.
Sejauh ini yang saya amati dari komentar dan opini netizen pada postingan media sosial khususnya pada platform instagram sangat minim mengemukan mengenai laras gamelan, teknik permainan dan bobot komposisinya. Bahkan hampir tidak ada yang membahas mengenai perbandingan capaian komposisi yang ditampilkan oleh seluruh kontestan yang berlaga pada Wimbakara Baleganjur PKB 2025.
Sebagai contoh, adakah netizen khususnya jika mereka memiliki latar belakang sebagai seniman karawitan bahkan pemerhati karawitan menemukan cara pandang baru komposisi Baleganjur Duta Kota Denpasar?
Padahal tahun ini komposisi Baleganjur Duta Kota Denpasar yang ditata oleh seniman muda Nyoman Adi Swarna menyajikan cara komposisi baru jika merujuk pola komposisi baleganjur Denpasar tiga tahun belakangan. Kebaruannya terletak pada formulasi komposisi yang memberikan masing-masing instrumen menjalin dengan pola-pola mandirial. Kemudian berupaya melepas kebiasaan memainkan pola rampak pada tempo yang cepat serta format quotasi panjang dengan menautkan penguasan teknis gegebug dari instrumen kendang, ceng-ceng dan reyong selayaknya ciri khas pola garap Denpasar sebelumnya. Setiap bagian gending selalu menghadirkan benturan antar pola lajur yang sejatinya saya menangkap ide Adi Swarna mengenai bunyi yang tidak gampang untuk dilafalkan. Apakah hal seperti ini tertangkap oleh mata-visual?

Penampilan baleganjur pada Pesta Kesenian Bali 2025
Selanjutnya yang menarik adalah saya mendengar secara audial bahwa I Wayan Situbanda tahun ini seperti bertarung dengan dirinya sendiri. Bertarung dengan dirinya? Iya! Karya Paksa Ningkang secara komposisi baleganjurnya sejatinya menghadapi lawan berat yaitu karya Pacek Poleng karya Situbanda sendiri pula. Pencarian warna suara, progresi melodi rereyongan dan olah vokalnya pada karya Paksa Ningkang dalam analisis saya terdengar kesulitan melampaui pencapaian bobot kompositoris khususnya olah vokal pada karya Pacek Poleng. Hal ini dapat menjadi pertimbangan jika Situbanda sadar, maka menyongsong tahun depan kalau ingin berkarya kembali pada ranah baleganjur lagi diperlukan riset, eksplorasi dan perenungan yang panjang agar dapat menghadirkan bentuk audial komposisi baleganjur yang segar bahkan baru.
Kemudian karya Komang Winantara di Karangasem seperti mentransformasi habituasi audialnya pada ruang teknis penabuh Karangasem. Progresi melodinya sangat khas dipadupadankan dengan lajur melodi vokalnya. Buleleng dan Bangli hadir dengan audial rampak dalam tempo yang cepat serta masih memberikan pola simultan beurutuan ceng-ceng maupun reyong. Badung dan Tabanan kemudian menawarkan kompilasi bobot komposisi dari baleganjur ternominasi sebelumnya. Konsistensi olah musikal konvensional kreasi baleganjur dihadirkan oleh tim dari Klungkung.
Sangat banyak ruang opini dan komentar yang harus dilontarkan berbasis pada urusan audial mencermati pelaksanaan Wimbakara Baleganjur PKB 2025. Belum lagi jika berbicara mengenai tata cara penyusunan laras serta bunyi dari masing-masing instrumen. Laras apa yang cocok sesuai komposisi, kendang dengan bunyi seperti apa, ceng-ceng dengan volume bunyi serta ukuran berapa ideal digunakan? Bahkan gong yang bagaimana pantas untuk menyajikan komposisinya?

Penampilan baleganjur pada Pesta Kesenian Bali 2025
Persoalan audial memang sepatutnya dikedepankan sebagai topik opini dan komentar pada konteks Wimbakara Baleganjur PKB 2025 dan lomba baleganjur lainnya. Elemen audial pula yang secara mendasar juga harus digunakan dalam menyusun kriteria yang kemudian menjadi dasar penilaian. Koreografi, kostum dan properti adalah elemen pembantu jika dalam ranah pertunjukan audio-visual namun ketika dipentaskan pada format konser instrumental maka elemen pembantu tersebut tidak dapat membantu.
Kembalikan hak audial pada gelaran Wimbakara Baleganjur PKB 2025. Hal ini tidak hanya urusan akademis semata namun juga harus dipahami oleh seluruh masyarakat. Coba direnungkan jika masing-masing kontestan baleganjur memulai prosesnya selama enam bulan sebelum tampil, maka dapat dipastikan selama lima bulan berkutat dengan urusan audial seperti pemilihan instrumen, eksplorasi teknik serta warna suara, penuangan gending dan menghaluskan gending. Berpijak pada proses penciptaannya maka sangat disayangkan yang dibahas malah aspek kostum, koreografi dan properti terlebih jika digunakan sebagai salah satu aspek penilaian. Baleganjur sebagai ungkapan ekspresi bermedia bunyi sesuai fitrahnya harus pertama kali diapresiasi adalah persoalan tata bunyinya. Perangkat untuk mengapresiasi tata olah bunyi adalah telinga.

Penampilan baleganjur pada Pesta Kesenian Bali 2025
Jika sulit memahami pengembalian hak audial baleganjur, izinkan saya memberikan analogi seperti berikut. Bagi penikmat sajian “lawar plek” yang dirasakan kemudian menjadi testimoni adalah rasa bumbu dan komposisi dagingnya. Jika bumbunya hambar kurang garam atau kurang pedas maka dipastikan lawar plek tersebut akan mendapat testimoni negatif. Testimoni positif atau negatif muncul setelah dirasakan oleh lidah. Sensasi lidah tidak akan terpengaruh oleh wadah apa yang digunakan untuk menyajikan lawar plek tersebut.
Jika rasanya sudah hambar walaupun lawar plek disajikan pada piring berlukis hiasan detail, penuh warna, bergarnis cantiknya tomat dan ukiran mentimun maka tetap tidak dapat menolong rasa lawar yang hambar.
Begitu pula jika penyajian baleganjur dengan gemerlap kostum, lighting, koreografi atraktif bahkan akrobatik, serta narasi puitis jika komposisi musikalnya tidak terarah dan berkualitas? Tetap saja tidak dapat menolong nilai kualitas dari baleganjur itu sendiri. [T]
Penulis : Wayan Diana Putra
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:





























