2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
in Ulas Musik
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

Tangkapan layar dari video klip “Kartini” di kanal YouTube @Navicula Music

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ditampilkan justru wajah-wajah nyata, suara bergetar, dan tubuh-tubuh terpasung tapi penuh perlawanan. Di tengah peringatan Hari Kartini yang acap terasa seremonial, lagu ini datang seperti pengingat bahwa semangat Raden Ajeng Kartini tidak pernah benar-benar selesai, ia hanya berpindah bentuk.

Lagu “Kartini” dari Navicula bukan sekadar penghormatan pada sosok historis, melainkan jembatan yang menghubungkan semangat emansipasi masa lalu dengan perjuangan konkret perempuan masa kini, khususnya pada peristiwa ‘Kartini Kendeng’ pada 2016 silam.

Lagu ini dibuka dengan lirik yang langsung menancap: “Panggil namaku Kartini saja”. Kalimat ini sederhana, tapi implikasinya luas. Ia seperti mencabut Kartini dari buku sejarah dan menanamkannya kembali di tanah yang sedang diperebutkan di Kendeng.

Tangkapan layar dari video klip “Kartini” di kanal YouTube @Navicula Music

Dalam klipnya, saya menyaksikan perempuan-perempuan berdiri membawa poster, berbicara lewat pengeras suara, dan menatap lurus ke depan. Mereka bukan figur simbolik yang dikonstruksi, melainkan representasi dari perjuangan nyata para petani perempuan Kendeng yang menolak pembangunan pabrik semen di wilayah mereka. Saya teringat dokumentasi aksi memasung kaki di depan Istana Negara ─ sebuah bentuk protes yang ekstrem, tapi justru karena itu sulit diabaikan.

Sebagai pendengar Navicula, saya tidak menemukan kompleksitas musikal yang rumit di lagu ini. Aransemen “Kartini” cenderung minimalis, bahkan repetitif. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia memberi ruang bagi lirik untuk bernapas. Setiap bait terasa seperti potongan kesaksian. Tidak ada metafora berlapis-lapis, semuanya disampaikan dengan lugas, hampir seperti laporan lapangan yang dipadatkan menjadi puisi yang tajam.

Saya mencoba menempatkan lagu ini dalam konteks diskografi Navicula. Sejak berdiri pada 1996 di Bali, band ini memang konsisten mengangkat isu lingkungan dan sosial. Di tengah industri yang acap kali menuntut kompromi, mereka tetap berada di jalur independen, baik secara musikal maupun ideologis. Eksplorasi musik Navicula memadukan rock dengan elemen grunge, folk, etnik, hingga psychedelic memberikan warna khas, namun tidak mengaburkan pesan keberpihakan pada isu-isu kemanusiaan dan lingkungan.

Menariknya, lagu ini lahir dari respons personal Gede Robi (sang vokalis) setelah menyaksikan dokumenter tentang konflik Kendeng. Dari sana, proses kreatif berkembang menjadi bentuk solidaritas. Ini menunjukkan bagaimana musik tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga medium advokasi. Navicula tidak berdiri di luar isu. Mereka masuk, terlibat, dan mengambil posisi.

Tangkapan layar dari video klip “Kartini” di kanal YouTube @Navicula Music

 

Lagu “Kartini” berhasil menjalankan fungsinya sebagai karya yang kontekstual. Ia tidak berdiri di ruang hampa, melainkan berakar pada peristiwa nyata. Liriknya lugas, bahkan cenderung dokumentatif, namun tetap memiliki daya puitik. Penggunaan diksi seperti “duta aksara” dan “lentera” memberikan nuansa simbolik tanpa kehilangan relevansi.

Ketika saya mendalami lebih jauh tentang Kartini Kendeng, saya menyadari bahwa lagu ini hanya membuka pintu kecil dari cerita yang jauh lebih besar. Sejak 2005, warga di kawasan karst Pegunungan Kendeng telah menolak kehadiran industri semen. Bagi mereka, tanah bukan sekadar ruang produksi, melainkan sumber kehidupan. Mata air, sawah, hingga identitas budaya semuanya terikat di sana.

Aksi menyemen kaki menjadi simbol ekstrem dari perlawanan tersebut. Tubuh mereka dikorbankan untuk menyampaikan pesan: bahwa tanah yang mereka pijak tidak bisa digantikan. Dalam salah satu kutipan yang terdokumentasi, seorang perempuan berkata, “Kami hanya mampu memperjuangkan, kami punya hak hidup.” Kalimat ini menggema dalam video klip lagu “Kartini”, menjadi semacam chorus tak tertulis yang memperkuat pesan utama.

 Tangkapan layar dari video klip “Kartini” di kanal YouTube @Navicula Music

Namun demikian, ada ironi yang tak bisa diabaikan. Lagu ini dirilis pada 21 April 2016, tetapi tidak mencapai popularitas masif. Dalam kurun hampir satu dekade, jumlah penontonnya masih di angka 263 ribu di kanal YouTube @Navicula Music. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah isu yang diangkat terlalu ‘berat’ bagi konsumsi publik? Atau justru menunjukkan bagaimana narasi perjuangan perempuan di luar arus utama masih kurang mendapat ruang dan perhatian?

Kendati demikian, justru keterbatasan itu membuat lagu ini terasa lebih intim dan otentik. Ia tidak dibentuk untuk pasar, melainkan untuk perlawanan. Melalui lagu ini, Navicula menawarkan perspektif lain bahwa menjadi Kartini hari ini bisa berarti berdiri di garis depan, menjaga tanah, dan bersuara meski raga terpasung. Menjadi pengingat bahwa terang yang dijanjikan tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan.

Pada akhirnya, lagu ini mengajak kita untuk mendefinisikan ulang makna Kartini. Bukan hanya sebagai figur sejarah yang diperingati setiap tahun, tetapi sebagai semangat yang hidup dalam berbagai bentuk perjuangan. Navicula mengingatkan bahwa emansipasi belum selesai. Dan mungkin, memang tidak pernah selesai. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: KartinimusikNaviculaPerempuanulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

Next Post

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co