12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
in Ulas Musik
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

Tangkapan layar dari video klip “Kartini” di kanal YouTube @Navicula Music

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ditampilkan justru wajah-wajah nyata, suara bergetar, dan tubuh-tubuh terpasung tapi penuh perlawanan. Di tengah peringatan Hari Kartini yang acap terasa seremonial, lagu ini datang seperti pengingat bahwa semangat Raden Ajeng Kartini tidak pernah benar-benar selesai, ia hanya berpindah bentuk.

Lagu “Kartini” dari Navicula bukan sekadar penghormatan pada sosok historis, melainkan jembatan yang menghubungkan semangat emansipasi masa lalu dengan perjuangan konkret perempuan masa kini, khususnya pada peristiwa ‘Kartini Kendeng’ pada 2016 silam.

Lagu ini dibuka dengan lirik yang langsung menancap: “Panggil namaku Kartini saja”. Kalimat ini sederhana, tapi implikasinya luas. Ia seperti mencabut Kartini dari buku sejarah dan menanamkannya kembali di tanah yang sedang diperebutkan di Kendeng.

Tangkapan layar dari video klip “Kartini” di kanal YouTube @Navicula Music

Dalam klipnya, saya menyaksikan perempuan-perempuan berdiri membawa poster, berbicara lewat pengeras suara, dan menatap lurus ke depan. Mereka bukan figur simbolik yang dikonstruksi, melainkan representasi dari perjuangan nyata para petani perempuan Kendeng yang menolak pembangunan pabrik semen di wilayah mereka. Saya teringat dokumentasi aksi memasung kaki di depan Istana Negara ─ sebuah bentuk protes yang ekstrem, tapi justru karena itu sulit diabaikan.

Sebagai pendengar Navicula, saya tidak menemukan kompleksitas musikal yang rumit di lagu ini. Aransemen “Kartini” cenderung minimalis, bahkan repetitif. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia memberi ruang bagi lirik untuk bernapas. Setiap bait terasa seperti potongan kesaksian. Tidak ada metafora berlapis-lapis, semuanya disampaikan dengan lugas, hampir seperti laporan lapangan yang dipadatkan menjadi puisi yang tajam.

Saya mencoba menempatkan lagu ini dalam konteks diskografi Navicula. Sejak berdiri pada 1996 di Bali, band ini memang konsisten mengangkat isu lingkungan dan sosial. Di tengah industri yang acap kali menuntut kompromi, mereka tetap berada di jalur independen, baik secara musikal maupun ideologis. Eksplorasi musik Navicula memadukan rock dengan elemen grunge, folk, etnik, hingga psychedelic memberikan warna khas, namun tidak mengaburkan pesan keberpihakan pada isu-isu kemanusiaan dan lingkungan.

Menariknya, lagu ini lahir dari respons personal Gede Robi (sang vokalis) setelah menyaksikan dokumenter tentang konflik Kendeng. Dari sana, proses kreatif berkembang menjadi bentuk solidaritas. Ini menunjukkan bagaimana musik tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga medium advokasi. Navicula tidak berdiri di luar isu. Mereka masuk, terlibat, dan mengambil posisi.

Tangkapan layar dari video klip “Kartini” di kanal YouTube @Navicula Music

 

Lagu “Kartini” berhasil menjalankan fungsinya sebagai karya yang kontekstual. Ia tidak berdiri di ruang hampa, melainkan berakar pada peristiwa nyata. Liriknya lugas, bahkan cenderung dokumentatif, namun tetap memiliki daya puitik. Penggunaan diksi seperti “duta aksara” dan “lentera” memberikan nuansa simbolik tanpa kehilangan relevansi.

Ketika saya mendalami lebih jauh tentang Kartini Kendeng, saya menyadari bahwa lagu ini hanya membuka pintu kecil dari cerita yang jauh lebih besar. Sejak 2005, warga di kawasan karst Pegunungan Kendeng telah menolak kehadiran industri semen. Bagi mereka, tanah bukan sekadar ruang produksi, melainkan sumber kehidupan. Mata air, sawah, hingga identitas budaya semuanya terikat di sana.

Aksi menyemen kaki menjadi simbol ekstrem dari perlawanan tersebut. Tubuh mereka dikorbankan untuk menyampaikan pesan: bahwa tanah yang mereka pijak tidak bisa digantikan. Dalam salah satu kutipan yang terdokumentasi, seorang perempuan berkata, “Kami hanya mampu memperjuangkan, kami punya hak hidup.” Kalimat ini menggema dalam video klip lagu “Kartini”, menjadi semacam chorus tak tertulis yang memperkuat pesan utama.

 Tangkapan layar dari video klip “Kartini” di kanal YouTube @Navicula Music

Namun demikian, ada ironi yang tak bisa diabaikan. Lagu ini dirilis pada 21 April 2016, tetapi tidak mencapai popularitas masif. Dalam kurun hampir satu dekade, jumlah penontonnya masih di angka 263 ribu di kanal YouTube @Navicula Music. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah isu yang diangkat terlalu ‘berat’ bagi konsumsi publik? Atau justru menunjukkan bagaimana narasi perjuangan perempuan di luar arus utama masih kurang mendapat ruang dan perhatian?

Kendati demikian, justru keterbatasan itu membuat lagu ini terasa lebih intim dan otentik. Ia tidak dibentuk untuk pasar, melainkan untuk perlawanan. Melalui lagu ini, Navicula menawarkan perspektif lain bahwa menjadi Kartini hari ini bisa berarti berdiri di garis depan, menjaga tanah, dan bersuara meski raga terpasung. Menjadi pengingat bahwa terang yang dijanjikan tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan.

Pada akhirnya, lagu ini mengajak kita untuk mendefinisikan ulang makna Kartini. Bukan hanya sebagai figur sejarah yang diperingati setiap tahun, tetapi sebagai semangat yang hidup dalam berbagai bentuk perjuangan. Navicula mengingatkan bahwa emansipasi belum selesai. Dan mungkin, memang tidak pernah selesai. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: KartinimusikNaviculaPerempuanulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

Next Post

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co