3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
in Khas
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

Performans di Bukit Arkana Sawe Negara. (Doc. Asok, 2026)

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens), menempatkan tindakan ekologis ‘menanam pohon’ sebagai medium utama artikulasi artistik sekaligus refleksi kosmologis. Berlangsung di dua lanskap yang kontras, yakni Bukit Arkana Sawe (representasi ruang tinggi, kering, dan keras) serta Segara Ambengan di Negara, Bali (representasi ruang rendah, cair, dan dinamis), proyek ini secara sadar mengonstruksi dialektika spasial sebagai bagian dari metodologi artistik.

Pemilihan dua situs ini bukan sekadar pertimbangan geografis, melainkan strategi konseptual untuk mengaktivasi kesadaran akan prinsip dualitas komplementer, yang dalam kosmologi Bali dikenal sebagai Rwa Bhineda, sebuah pemahaman bahwa realitas terbentuk melalui pertemuan dua entitas yang berbeda namun saling melengkapi.

Pergeseran signifikan dari orientasi objek menuju orientasi proses, dari representasi menuju relasi, serta dari produksi visual menuju pengalaman embodied yang melibatkan tubuh, ruang, dan waktu secara simultan, merupakan dasar konsep IAP (Intermingle Art Project). Kami berempat;  Wayan Sujana Suklu, Tjok Ratna Cora Sudarsana, Gusti Ngurah Sudibya, dan Ketut Sumerjana bersepakat menjalankan praktik Intermingle Art Practice, sejak project seni rupa pertunjukan “Gerhana Bulan Merah” 2015.

Praktik performance art tanpa audiens berangkat dari asumsi bahwa krisis ekologis global, yang ditandai oleh degradasi lingkungan, perubahan iklim, dan disrupsi hubungan manusia dengan alam. Pendekatan teknokratis atau kebijakan formal masih jauh dari harapan, memerlukan intervensi kultural dan simbolik. Maka kami meyakini, praktik seni memiliki potensi sebagai ruang produksi pengetahuan alternatif, yang mampu menjembatani antara rasionalitas ilmiah, pengalaman inderawi, dan dimensi spiritual. Pemikiran Bruno Latour tentang actor-network theory menjadi relevan untuk membaca proyek ini, di mana manusia tidak lagi diposisikan sebagai aktor tunggal, melainkan sebagai bagian dari jaringan yang melibatkan entitas non-manusia seperti tanah, air, tumbuhan, dan energi lingkungan.

Konsep “menanam waktu” dalam proyek ini mengacu pada pemahaman bahwa setiap tindakan ekologis tidak hanya berdampak pada ruang, tetapi juga pada temporalitas. Menanam pohon bukan sekadar aktivitas agrikultural, melainkan tindakan intergenerasional yang melampaui kepentingan presentistik. Waktu, sebagai entitas yang dapat “dititipkan” pada tanah melalui benih, dirawat melalui perawatan, dan diwujudkan kembali dalam bentuk pertumbuhan. Perspektif ini memiliki relevan dengan pemikiran Timothy Morton mengenai ecological awareness, yang menekankan pentingnya memahami keberadaan manusia dalam jaringan waktu dan ruang yang melampaui skala individual.

Karakter no-audiens dalam proyek ini juga merupakan posisi kritis terhadap kecenderungan spektakularisasi dalam seni kontemporer. Dengan meniadakan audiens manusia sebagai pusat penerimaan makna, representasi menuju intensitas pengalaman. Dokumentasi, jika ada, tidak berfungsi sebagai tujuan utama, melainkan sebagai endapan dari proses. Dalam kerangka ini, “audiens” diperluas menjadi entitas ekologis itu sendiri, tanah yang menerima benih, air yang mengalirkan kehidupan, serta waktu yang mengendapkan perubahan.

Secara metodologis, proyek ini menggabungkan pendekatan praktik berbasis lokasi (site-specific art), performativitas tubuh, serta referensi kosmologi lokal Bali yang menempatkan alam sebagai ruang sakral. Interaksi antara tubuh, tanah, dan air dipahami sebagai bentuk pengetahuan tak-terucapkan (tacit knowledge) yang hanya dapat diakses melalui pengalaman langsung. Proyek sebagai metode penelitian berbasis praktik (practice-based research) yang mengintegrasikan dimensi estetika, ekologis, dan spiritual.

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” berupaya merumuskan kembali posisi seni dalam menghadapi krisis ekologis kontemporer: sebagai tindakan yang secara langsung terlibat dalam transformasi relasi antara manusia dan bumi.

Tinggi–Rendah, Keras–Cair Dewa-ye Kala-ye: Paradoks Kesatuan

Lanskap bukan sekadar latar geografis, melainkan struktur epistemik yang membentuk cara tubuh memahami dunia. Dalam proyek “Menanam Waktu di Tubuh Bumi”, pemilihan dua situs Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, dikonseptualisasikan sebagai medan dialektika yang mempertemukan dua kondisi ekstrem: tinggi–rendah dan keras–cair. Kedua kategori ini tidak diposisikan sebagai oposisi biner yang saling meniadakan, melainkan sebagai pasangan relasional yang membentuk satu kesatuan dinamis.

Prinsip ini relevan dengan konsep Rwa Bhineda dalam kosmologi Bali, yakni keberadaan dua entitas berbeda yang saling melengkapi dalam struktur realitas. Namun, lebih spesifik, praktik ini dioperasikan melalui prinsip Dewa-ye Kala-ye, yang mengacu pada kesadaran kontekstual, setiap individu adalah medan kemungkinan. Dan di setiap detik yang terus bergerak, kita sedang memilih menjadi terang yang merawat, atau bayangan yang melahap. Dengan demikian, tindakan menanam di bukit dan di pesisir harus diselaraskan dengan karakteristik energetik masing-masing ruang.

Bukit Arkana Sawe, sebagai ruang tinggi, menghadirkan kondisi material yang keras, kering, dan resisten. Tanahnya menuntut penetrasi, membutuhkan tenaga, serta menghadirkan resistensi terhadap intervensi manusia. Dalam konteks ini, tubuh tidak beroperasi sebagai subjek dominan, melainkan sebagai entitas yang harus berpraktik dengan materialitas alam. Kekerasan tanah menjadi agen yang “mengoreksi” intensi manusia, memaksa tubuh untuk melambat, menyesuaikan ritme, dan mengembangkan sensitivitas terhadap kondisi mikro-ekologis. Sebaliknya, Segara Ambengan sebagai ruang rendah menghadirkan kualitas cair, dinamis, dan tak stabil. Air laut tidak dapat dipijak secara permanen, tidak dapat dibentuk secara tetap, dan selalu berada dalam kondisi perubahan. Jika tanah bukit menuntut penetrasi, maka laut menuntut pelepasan. Tubuh dihadapkan pada ketidakmungkinan untuk menguasai; ia hanya dapat mengikuti arus, merespons gelombang, dan beradaptasi dengan ritme yang lebih besar dari dirinya.

Paradoks ini memperlihatkan bahwa pengalaman ruang tidak bersifat netral, melainkan performatif. Tubuh membentuk ruang, tetapi pada saat yang sama dibentuk oleh ruang. Pemahaman ini sejalan dengan pemikiran Maurice Merleau-Ponty tentang fenomenologi tubuh, di mana persepsi melalui keterlibatan langsung tubuh dengan dunia material. Dalam konteks ini, tinggi dan rendah bukan sekadar kategori topografis, melainkan pengalaman embodied yang memproduksi makna.

Relasi keras–cair dapat dibaca melalui pendekatan filosofis Gilles Deleuze mengenai konsep becoming, realitas selalu berada dalam proses transformasi antara bentuk-bentuk yang berbeda. Tanah yang keras tidak sepenuhnya statis, ia retak, menyerap, dan pada akhirnya melunak oleh air. Sebaliknya, air yang cair tidak sepenuhnya bebas, ia dibentuk oleh gravitasi, kontur tanah, dan tekanan atmosfer. Maka, keras dan cair bukan kategori tetap, melainkan kondisi yang saling mengintervensi dalam proses menjadi (becoming).

Performans di Bukit Arkana Sawe Negara | Doc. Asok, 2026

Kostum performans paradoks kesatuan, menggunakan topeng satu mata oleh Gusti Ngurah Sudibya adalah simbol dari dua hal yang dilebur: terang dan gelap, sadar dan bawah sadar, manusia dan alam. Kita terbiasa memahami dunia melalui oposisi kanan dan kiri, baik dan buruk, atas dan bawah. Namun topeng ini mengusulkan hal lain: bahwa kesatuan tidak lahir dari penghapusan perbedaan, tetapi dari keberanian menampungnya dalam satu titik kesadaran. Menjadi relevan dengan gagasan menanam pikiran di tanah bumi. “Tanah” sebagai sebagai batas antara yang terlihat dan yang tersembunyi, adalah ruang liminal, tempat transformasi berlangsung. Menanam pikiran di sana berarti tidak sekadar berpikir, tetapi mengakar; membiarkan gagasan menjadi bagian dari siklus alam, seperti benih yang tidak langsung tumbuh, tetapi berproses dalam gelap.

Topeng bermata satu, dalam ritual visual ini, berfungsi sebagai mediator: ia adalah “mata bumi” sekaligus “mata manusia.” Ia melihat ke dalam, sekaligus memantulkan ke luar. Paradoksnya menjadi semakin terasa: dengan satu mata ia menyatukan banyak perspektif, dengan bentuk yang statis ia menghidupkan proses yang dinamis, dengan wajah yang beku ia justru membuka dialog yang cair.

Akhirnya, topeng bermata satu bukan hanya objek visual, tetapi sebuah pernyataan filosofis:
bahwa untuk menyatu dengan bumi, manusia perlu belajar melihat dengan “satu mata”, mata yang tidak terpecah oleh ego, tidak terbelah oleh dikotomi, tetapi utuh dalam menerima kompleksitas.

Air Menjadi Tirta: Frekuensi 432 Hz

Air dalam proyek “Menanam Waktu di Tubuh Bumi” diposisikan sebagai medium transformasional yang bergerak dari status profan menuju sakral, dari air sebagai substansi ekologis menjadi tirta sebagai entitas kosmologis. Transformasi ini tidak terjadi melalui ritual formal semata, tetapi melalui serangkaian laku performatif yang mengaktifkan relasi antara tubuh, bunyi, niat, dan ruang. Air “diundang” untuk berpartisipasi dalam jaringan makna yang lebih luas.

Tirta merupakan medium penyucian yang menghubungkan dimensi sekala (yang terlihat) dan niskala (yang tak terlihat). Ia tidak sekadar cairan, tetapi pembawa vibrasi, memori, dan intensi. Penggunaan frekuensi 432 Hz, Ketut Sumerjana menggunakan alat music hanpan dipahami sebagai pendekatan estetiko-intuitif, bukan klaim ilmiah normatif. Secara historis, 432 Hz sering diasosiasikan dengan gagasan harmoni alam dalam wacana musik alternatif global, meskipun standar internasional modern menetapkan 440 Hz sebagai referensi nada A. Dalam praktik artistik dan spiritual, 432 Hz diperlakukan sebagai spektrum resonansi yang diasumsikan lebih “organik” atau selaras dengan ritme alami. Pendekatan ini lebih dekat pada wilayah pengalaman fenomenologis daripada verifikasi empiris.

Performans di Segara Pengambengan Negara | Doc. Asok, 2026

Pendekatan terhadap air sebagai entitas vibrasional memiliki relevansi dengan pemikiran Fritjof Capra, yang menekankan bahwa realitas biologis dan ekologis tersusun dalam pola jaringan dan ritme, bukan sekadar objek material yang terisolasi. Air, dalam hal ini, adalah bagian dari sistem dinamis yang terus bergerak melalui siklus hidrologi, menghubungkan laut, awan, hujan, tanah, dan organisme hidup. Transformasi air menjadi tirta juga dapat dibaca melalui pendekatan fenomenologi tubuh, sebagaimana dikemukakan oleh Maurice Merleau-Ponty. Air tidak dipahami sebagai objek eksternal yang diamati, tetapi sebagai sesuatu yang dialami melalui sentuhan, suhu, berat, dan suara. Ketika tubuh berinteraksi dengan air, mengambil, membawa, dan menuang terjadi pertukaran sensori yang membentuk makna. Dalam pengalaman ini, batas antara subjek dan objek menjadi cair; tubuh dan air saling memengaruhi dalam satu kesatuan pengalaman.

Perfoermans di Segara Pengambengan Negara | Doc. Asok, 2026

Relasi antara bunyi, getaran, dan realitas kosmik juga ditemukan dalam praktik mantra dalam Hinduisme dan Buddhisme, di mana suara dipahami sebagai manifestasi energi yang mampu memengaruhi kondisi mental dan lingkungan. Dengan demikian, pendekatan frekuensi dalam proyek ini tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam spektrum panjang praktik vibrasional lintas budaya. Air berenergi 432 Hz kami yakini sebagai amerta, dituangkan melalui tahapan udara,pohon, dan tanah dalam performans “Menanam Pikiran di Tanah Bumi.”

Ketika air yang telah melalui proses praktik, digunakan untuk menyiram bibit pohon, terjadi pertemuan antara dimensi simbolik dan ekologis. Air sebagai tirta amerta tidak hanya menyuburkan secara biologis, tetapi juga memuat intensi performatif yang ditanamkan selama proses. Tindakan menyiram selain fungsi utilitarian, merupakan bagian dari ritus kecil yang menghubungkan tubuh, bunyi, air, dan tanah dalam satu siklus yang berkelanjutan.

“Air Menjadi Tirta Amerta: Frekuensi 432 Hz” sebagai formulasi saintifik, sekaligus sebagai metode artistik untuk mengaktifkan kembali sensitivitas terhadap elemen dasar kehidupan. Ia mengajak tubuh untuk tidak hanya menggunakan air, tetapi mendengarkannya, sebagai medium yang menyimpan, merespons, dan mentransmisikan relasi antara manusia dan bumi.

Proses Lungsi–Pakan: Menyelaraskan Energi Kecerdasan Semesta

Konsep Lungsi-Pakan dalam proyek “Menanam Waktu di Tubuh Bumi”, merupakan metafora tekstil, sebagai kerangka operasional yang mengatur relasi antara tubuh, ruang, waktu, dan energi. Berasal dari praktik tenun tradisional Bali, lungsi (benang vertikal) dan pakan (benang horizontal) adalah dua struktur dasar, melalui persilangan berulang, membentuk kain sebagai entitas utuh. Keduanya dipahami sebagai prinsip kosmologis: lungsi merepresentasikan sumbu vertikal yang menghubungkan atas-bawah (langit-bumi), sementara pakan merepresentasikan sumbu horizontal yang menghubungkan kiri-kanan (antar-ruang, antar-makhluk). Sambil menyulam benang-benang diantara pohon, Tjok Ratna Cora Sudarsana memaparkan falsafah Lungsi-Pakan.

Performans di Bukit Arkana Sawe Negara | Doc. Asok, 2026

Ketika kerangka ini diterapkan dalam praktik performatif, tubuh seniman berfungsi sebagai titik simpul tempat kedua sumbu tersebut berpotongan. Gerak tubuh, berjalan dari Bukit Arkana Sawe menuju Segara Ambengan, mengambil air, kembali ke bukit, menanam, menyiram, merupakan manifestasi dari pakan: lintasan horizontal yang menghubungkan dua lanskap berbeda. Sementara itu, tindakan menanam, menggali tanah, dan menuangkan air ke dalam bumi merupakan gestur lungsi: gerak vertikal yang menghubungkan permukaan dengan kedalaman, serta tubuh dengan struktur kosmik yang lebih luas.

Persilangan antara Lungsi dan Pakan ini tidak bersifat statis, melainkan berlangsung sebagai proses berulang yang membentuk “kain pengalaman” yang tidak kasat mata. Setiap langkah, setiap tarikan napas, setiap sentuhan tanah menjadi titik pertemuan antara dua arah energi. Konsep ini memiliki resonansi kuat dengan pemikiran jaringan dalam Indra’s Net dalam Buddhisme, yang menggambarkan semesta sebagai jejaring tak berhingga di mana setiap titik saling terhubung dan saling mencerminkan. Pendekatan ini dapat dibaca melalui teori sistem yang dikembangkan oleh Fritjof Capra, yang menekankan bahwa kehidupan adalah jaringan relasi yang dinamis, bukan kumpulan objek terpisah. Dalam sistem hidup, pola lebih penting daripada komponen, dan relasi lebih fundamental daripada entitas. Lungsi-Pakan dalam berfungsi sebagai pola dasar yang memungkinkan relasi tersebut terwujud secara konkret melalui tubuh.

Lungsi-Pakan dalam praktik ini berfungsi sebagai metodologi sekaligus epistemologi. Ia tidak hanya mengatur bagaimana tindakan dilakukan, tetapi juga bagaimana pengetahuan dihasilkan, melalui persilangan antara pengalaman inderawi, struktur kosmologis, dan kesadaran reflektif. Hasil akhirnya bukan sekadar pohon yang ditanam, tetapi jaringan relasi yang diperbarui: antara manusia dan tanah, antara air dan waktu, serta antara individu dan kecerdasan semesta yang melampaui dirinya.

Menyapu, Menemukan, dan Memasukkan ke dalam Kendi Bumi

Tahap “menyapu”, tindakan pembersihan dalam pengertian utilitarian, juga sebuah metode praksis yang mengaktifkan kesadaran terhadap sesuatu yang tersisa, apa yang tertinggal, terlupakan, dan terabaikan dalam relasi manusia dengan lingkungan. Menyapu, dalam konteks ini, menjadi gestur epistemologis: cara mengetahui dunia melalui pengumpulan kisah-kisah kecil yang sering luput dari perhatian.

Performans di Bukit Arkana Sawe Negara | Doc. Asok, 2026

Di Bukit Arkana Sawe maupun di Segara Ambengan, aktivitas menyapu membuka lapisan realitas yang berbeda dari tindakan menanam. Jika menanam berorientasi pada masa depan, pada pertumbuhan dan kemungkinan, maka menyapu berorientasi pada masa lalu dan kini, pada jejak, sisa, dan konsekuensi. Daun kering, ranting patah, serpihan plastik, butiran pasir, bahkan benda-benda tak teridentifikasi menjadi “teks” yang dapat dibaca sebagai arsip ekologis. Setiap kisah mengandung narasi: tentang siklus alam, tentang intervensi manusia, tentang proses pelapukan dan keberlanjutan. Tindakan “menemukan” tidak bersifat pasif, melainkan hasil dari perhatian yang terlatih. Menemukan berarti mengakui keberadaan sesuatu yang sebelumnya tidak diakui sebagai signifikan. Perspektif ini relevan dengan pendekatan fenomenologi Martin Heidegger, khususnya konsep unconcealment (aletheia), di mana kebenaran tidak diproduksi, tetapi disingkap melalui keterbukaan terhadap apa yang hadir. Menyapu, dengan demikian, menjadi cara membuka, membiarkan dunia menampakkan dirinya melalui detail-detail kecil yang biasanya terlewatkan.

Kisah-kisah yang terkumpul kemudian dimasukkan ke dalam “kendi bumi”, sebuah wadah yang berfungsi sebagai ruang penampungan sekaligus transformasi. Kendi, dalam banyak tradisi merupakan simbol kosmologis yang berkaitan dengan rahim, penyimpanan, dan potensi kelahiran kembali. Tindakan memasukkan temuan ke dalam kendi oleh I Wayan Sujana Suklu (penulis) merupakan proses alkimia simbolik. Kisah yang sebelumnya tersebar dan terpisah ditempatkan dalam satu ruang tertutup, memungkinkan terjadinya interaksi baru baik secara material (pelapukan, perubahan tekstur, pencampuran unsur) maupun secara konseptual (pembentukan makna baru melalui kedekatan). Pendekatan ini memiliki kedekatan dengan praktik social sculpture yang dikembangkan oleh Joseph Beuys, di mana seni dipahami sebagai proses transformasi sosial dan ekologis yang melibatkan material sehari-hari.

Akhirnya, “kendi bumi” dapat dipahami sebagai arsip hidup. Ia tidak membekukan waktu, tetapi justru menyimpannya dalam bentuk yang terus berubah. Apa yang dimasukkan hari ini akan mengalami transformasi esok hari. Dengan demikian, kendi bukan hanya wadah, tetapi proses—sebuah ekosistem kecil yang mencerminkan dinamika bumi secara keseluruhan.

Menanam yang Tak Terlihat

Pada akhirnya, “Menanam Waktu di Tubuh Bumi” tindakan menanam pohon sebagai gestur ekologis yang kasat mata, sekaligus bergerak ke wilayah yang lebih subtil: menanam yang tak terlihat, kesadaran, ingatan, dan tanggung jawab.

Penumpukan limbah plastik, banjir yang berulang, serta polusi udara dan air, ia merupakan manifestasi dari kegagalan relasional: putusnya hubungan timbal balik antara manusia dan bumi. Plastik, sebagai material yang nyaris tidak terurai, adalah simbol paling konkret dari logika ekstraktif, mengambil tanpa mengembalikan. Ia hadir sebagai “waktu yang beku”, sisa-sisa dari keputusan-keputusan yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan. Dalam lanskap Bali maupun global, akumulasi plastik di sungai dan laut telah mengubah ekosistem, memicu penyumbatan aliran air, dan berkontribusi pada banjir yang semakin intens.

Banjir, dalam pengertian ini, bukan sekadar bencana alam, melainkan peristiwa ekologis yang sarat makna. Ia adalah respons sistemik terhadap ketidakseimbangan: tanah yang kehilangan daya serap karena betonisasi, hutan yang ditebang tanpa reboisasi, serta saluran air yang tersumbat oleh limbah. Air yang seharusnya mengalir menjadi tertahan, meluap, dan pada akhirnya menghancurkan. Polusi udara dan air memperparah kondisi ini, menggerus kualitas hidup sekaligus mengaburkan batas antara ruang hidup dan ruang limbah.

Dalam situasi ini, “lupa menanam kembali” adalah gejala dari krisis kesadaran. Menanam pohon merupakan tindakan etis yang mengakui bahwa setiap pengambilan harus diimbangi dengan pengembalian. Ketika praktik menanam ditinggalkan, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga ritme regeneratif yang menjaga keseimbangan ekosistem.

Performans no-audiens, invisible audiens, atau pertunjukan untuk semesta “menanam pikiran di tubuh bumi” mengusulkan bahwa sebelum menanam di tanah, manusia perlu menanam dalam dirinya sendiri: menanam kesadaran ekologis yang tidak reaktif, tetapi reflektif; menanam kepekaan terhadap siklus alam; serta menanam komitmen jangka panjang yang melampaui kepentingan sesaat. Tanpa dimensi ini, penanaman fisik berisiko menjadi sekadar symbol, ritual kosong yang tidak mengubah struktur perilaku.

Pada akhirnya, pohon yang ditanam di Bukit Arkana Sawe mungkin akan tumbuh, atau mungkin tidak. Namun yang lebih penting adalah apakah kesadaran yang ditanam bersama pohon tersebut juga tumbuh. Apakah ia mampu menembus lapisan-lapisan kebiasaan lama, mengakar dalam cara hidup sehari-hari, dan pada akhirnya menghasilkan perubahan yang lebih luas. Bumi tidak hanya membutuhkan lebih banyak pohon. Ia membutuhkan lebih banyak manusia yang ingat bagaimana menanam, tidak hanya di tanah, tetapi juga dalam cara berpikir dan cara hidup. [T]

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Bumijembranalingkunganperformance art
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

Next Post

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co