BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung menggunakan laptop, ada pula yang antusias memasukkan gambar dan tulisan ke dalam desain digital. Dari ruang kelas itu, mahasiswa S2 Pascasarjana Pendidikan Bahasa Undiksha mencoba mengenalkan satu hal penting: literasi kini tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berkreasi di era digital.
Hari itu, Selasa pagi, 26 Mei 2026. Sekelompok mahasiswa S2 Pascasarjana Pendidikan Bahasa, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja angkatan 2025 hadir membawa pendampingan literasi kreatif berbasis digital di SD Negeri 7 Kampung Baru.
Sebanyak 14 siswa kelas VI mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat dan kepekaan sosial yang mengusung pendampingan literasi tersebut. Kegiatan itu bukan sekadar kunjungan formal mahasiswa ke sekolah. Lebih dari itu, ada upaya memperkenalkan cara baru memahami literasi kepada anak-anak sejak dini.

Kegiatan dibuka secara formal dan khidmat. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan bersama, dilanjutkan doa, sambutan Kepala SD Negeri 7 Kampung Baru, sambutan Kaprodi S2 Pascasarjana Undiksha, hingga penyerahan kenang-kenangan kepada pihak sekolah dan seluruh siswa yang terlibat.
Namun, inti kegiatan dimulai setelah seremoni usai. Para siswa diajak mengikuti pendampingan literasi kreatif yang dikemas melalui pembuatan cerita berseri dan pelatihan penggunaan Canva.

Di awal kegiatan, siswa terlebih dahulu diberikan apersepsi. Mereka diminta membaca buku cerita yang telah dibagikan satu per satu. Setelah itu, anak-anak diarahkan menggambar hewan atau binatang yang muncul dalam imajinasi mereka. Dari aktivitas sederhana itu, suasana kelas perlahan berubah menjadi lebih hidup. Anak-anak mulai aktif berdiskusi, menunjuk gambar, hingga saling memperlihatkan hasil coretan mereka.
Setelah sesi pengantar selesai, para siswa dibagi menjadi enam kelompok yang masing-masing berisi dua orang. Setiap kelompok menerima panel gambar berseri yang nantinya harus dikembangkan menjadi sebuah cerita versi mereka sendiri.
Di sinilah proses kreatif itu dimulai.
Dengan antusias, para siswa mencoba menyusun alur cerita berdasarkan gambar yang mereka dapatkan. Ada yang masih malu-malu menuangkan ide, ada pula yang langsung aktif berdiskusi dengan temannya. Seluruh mahasiswa terlibat mendampingi dan membantu siswa selama proses berlangsung.

Bagi sebagian besar siswa, pengalaman itu merupakan hal baru. Banyak di antara mereka yang belum mengenal apa itu fabel, termasuk belum pernah menggunakan Canva sebagai media pembelajaran digital.
Meski demikian, keterbatasan itu justru menjadi ruang belajar yang menarik. Mahasiswa tidak hanya mengajarkan cara menulis cerita, tetapi juga membantu siswa memahami bagaimana sebuah ide dapat diubah menjadi karya visual yang menarik.
Setelah cerita selesai ditulis, kegiatan dilanjutkan dengan pengaplikasian cerita ke dalam media Canva. Cerita yang sebelumnya masih berbentuk tulisan tangan kemudian ditransformasikan menjadi desain animasi sederhana dan cerita berseri digital.
Di beberapa sudut kelas, terlihat siswa mulai serius memperhatikan layar laptop. Mereka belajar memilih template, memasukkan teks, hingga menyusun gambar agar cerita tampil lebih menarik. Pendampingan dilakukan secara langsung oleh mahasiswa sehingga siswa bisa mengikuti prosesnya tahap demi tahap.

I Gusti Ayu Made Sri Wirasani selaku Kepala SD Negeri 7 Kampung Baru, mengungkapkan bahwa sekolah sebenarnya telah memiliki berbagai program literasi. Beberapa di antaranya adalah Pojok Baca dan Liang Giri (Literasi Riang Pagi Hari).
Namun, menurutnya, kegiatan literasi di sekolah selama ini masih bersifat kontekstual dan belum menyentuh ranah digital.
“Di sekolah kami sudah ada kegiatan literasi yang dilaksanakan, seperti Pojok Baca dan Liang Giri (Literasi Riang Pagi Hari). Semua kegiatan itu kontekstual, belum menyentuh ranah digital. Jadi, kami harap, dengan kehadiran mahasiswa, bisa memberikan pembaharuan digitalisasi kepada para siswa serta para guru,” ungkap Sri Wirasani.
Kaprodi S2 Pascasarjana Undiksha, Prof. Dr. Ida Bagus Putrayasa, M.Pd., juga menyampaikan apresiasi kepada pihak SD Negeri 7 Kampung Baru yang telah menerima mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan kepekaan sosial tersebut.
“Literasi tentu bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi memaksimalkan pengetahuan lainnya, termasuk digital. Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi sekolah, khususnya bagi para siswa yang terlibat hari ini,” ujar Prof. Putrayasa dalam sambutannya.


Di SD Negeri 7 Kampung Baru, proses itu tampak dimulai dari hal sederhana: membaca cerita, menyusun alur gambar, lalu mengubahnya menjadi karya digital.
Kegiatan kemudian ditutup setelah seluruh kelompok menyelesaikan hasil cerita mereka. Meski berlangsung dalam waktu singkat, pengalaman tersebut meninggalkan kesan tersendiri, baik bagi siswa maupun mahasiswa yang terlibat.
Bagi para siswa, itu mungkin menjadi pengalaman pertama membuat cerita digital mereka sendiri. Sementara bagi mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata bahwa ilmu yang dipelajari di bangku perkuliahan dapat langsung diterapkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
SD Negeri 7 Kampung Baru sendiri merupakan sekolah dasar negeri yang berada di wilayah kota Singaraja, di Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Sekolah yang berdiri sejak 1 Januari 1984 itu kini telah terakreditasi A. Dan, di sekolah itulah, benih-benih literasi digital mulai ditanamkan. Bukan dengan cara yang rumit, melainkan melalui cerita, gambar, dan pendampingan yang dekat dengan dunia anak-anak. [T]
Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole




























