26 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 26, 2026
in Esai
Orang Bali Tetaplah Orang Bali

Menot Sukadana dan penulis

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar sepi. Motor hilir mudik seperti arus kecil yang tak habis-habis. Di sudut warung, aroma kopi bercampur suara obrolan pengunjung dan denting sendok mengenai gelas.

Pertemuan saya dengan Menot Sukadana adalah kesekian kalinya dalam setahun terakhir. Rasanya selalu ada cerita baru setiap kali bertemu. Ia datang dengan penampilan khasnya. Topi capio yang seperti tak pernah absen dari kepalanya, kacamata, juga gaya duduk santai yang membuat suasana cepat cair. Orang yang baru mengenalnya mungkin akan mengira ia sekadar penikmat kopi yang suka mengobrol. Padahal di balik kesederhanaannya, ada pengalaman panjang hampir dua dekade di dunia jurnalistik.

Waktu dua sampai tiga jam berlalu begitu saja setiap kami bertemu. Kadang kami berbicara tentang media, tulisan, atau tentang wartawan muda yang sekarang hidup di tengah derasnya media sosial, kadang juga tentang hal-hal sederhana yang justru terasa penting ketika dibicarakan sambil minum kopi.

Bli Menot adalah tipe orang yang tampak menikmati percakapan. Ia tidak bicara tergesa-gesa. Tidak pula berusaha terlihat paling tahu. Namun dari cara ia menjelaskan sesuatu, terlihat bahwa ia menyimpan pengalaman panjang yang ditempa oleh ruang redaksi, tenggat berita, konflik lapangan, hingga dinamika membangun media sendiri.

Di tengah obrolan sore itu, saya sempat berkelakar kepadanya. “Kalau di Jakarta, mentor seperti Bli mungkin sudah dibayar mahal setiap pertemuan.” Ia tertawa kecil mendengarnya. Tawanya pendek, ringan, tanpa kesan sedang dipuji.

Namun justru di situ saya merasa menemukan sesuatu yang menarik. Bli Menot yang orang Bali tetaplah orang Bali. Polos, apa adanya, dan tidak pelit berbagi pengalaman. Ia seperti mewakili satu watak yang diam-diam masih kuat hidup di Bali, meski zaman berubah cepat dan kehidupan semakin kompetitif.

Ada banyak orang yang setelah memiliki pengalaman panjang justru menjadi sulit dijangkau. Ilmu seperti dipagari. Pengalaman terasa mahal. Bahkan sekadar berbincang pun kadang dibuat berjarak. Namun pada diri Bli Menot, saya melihat hal berbeda. Ia tetap menikmati duduk bersama teman-teman yang lebih muda. Tetap antusias berbagi cerita tentang jurnalistik, media, dan menulis.

Padahal perjalanan hidupnya di dunia media tidak pendek. Ia telah hampir dua puluh tahun bekerja sebagai pekerja media. Dari reporter, redaktur, hingga akhirnya sekitar delapan tahun lalu mendirikan media online sendiri, podiumnews.com. Membangun media dari nol bukan pekerjaan sederhana. Apalagi di tengah perubahan besar dunia jurnalistik digital yang bergerak cepat dan sering kali tidak pasti.

Banyak media tumbang sebelum berkembang. Banyak pula wartawan yang akhirnya menyerah karena dunia media tidak selalu menjanjikan kehidupan mapan. Namun Bli Menot tetap bertahan. Perlahan membangun medianya, membesarkan jejaring, menjaga ritme kerja, hingga Podiumnews kini dikenal luas di Bali.

Yang menarik, meski telah berada pada posisi pemilik media, cara berbicaranya tetap seperti wartawan lapangan yang senang belajar dari banyak orang. Ia masih bersemangat membicarakan tulisan. Masih antusias mendengar cerita orang lain. Bahkan sesekali matanya tampak berbinar ketika membahas ide sederhana tentang bagaimana sebuah berita seharusnya ditulis dengan lebih manusiawi.

Ia juga bercerita tentang rencananya membangun warung kopi bernuansa jurnalistik di Mengwi, kampung halamannya di Badung. Bukan sekadar tempat minum kopi, tetapi ruang bertemu, berbincang, dan bertukar pikiran. Ketika mendengar itu, saya merasa gagasan tersebut sangat “Bali”. Ada semangat kebersamaan di dalamnya, ada keinginan menghadirkan ruang perjumpaan, bukan sekadar ruang bisnis.

Di banyak kota besar, warung kopi sering berubah menjadi simbol gaya hidup. Tempat orang sibuk bekerja dengan laptop, sibuk membuat konten, sibuk terlihat produktif. Namun di Bali, terutama dalam banyak warung kopi sederhana, saya masih menemukan suasana berbeda. Orang datang bukan hanya untuk kopi, tetapi juga untuk berbincang.

Mungkin karena itulah orang Bali punya hubungan yang khas dengan ruang pertemuan. Dari banjar, bale banjar, warung kopi, hingga pos ronda kecil di pinggir jalan, semuanya menyimpan tradisi percakapan yang panjang.

Beberapa waktu terakhir saya juga mengamati orang-orang Bali yang bekerja di luar negeri. Banyak di antara mereka aktif membuat konten media sosial. Ada yang bekerja di kapal pesiar, hotel, restoran, hingga sektor kreatif di berbagai negara. Namun yang menarik perhatian saya bukan sekadar pekerjaan mereka, melainkan cara mereka tetap membawa “kebalian” ke mana pun pergi.

Dari cara berbicara, bersikap, hingga cara mereka menyapa orang lain, saya merasa ada sesuatu yang tetap tinggal dalam diri mereka. Sesuatu yang tidak hilang meski jarak geografis berubah jauh.

Saya menyebutnya sebagai kebalian. Kebalian bukan semata soal pakaian adat, upacara, atau kemampuan berbahasa Bali. Kebalian adalah nilai hidup yang melekat diam-diam dalam cara seseorang memandang dunia. Ia tampak dalam keramahan kecil, dalam senyum yang tidak dibuat-buat, dalam kebiasaan menyapa lebih dulu, juga dalam kecenderungan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Orang Bali mungkin bisa tinggal bertahun-tahun di luar negeri. Bisa bekerja di kapal pesiar yang mengelilingi dunia. Bisa pula menjadi profesional di kota besar dengan ritme hidup modern. Namun sering kali mereka tetap membawa semacam kehangatan khas Bali.

Saya beberapa kali melihat video orang Bali di luar negeri yang tetap berbicara dengan logat hangatnya. Tetap tertawa dengan gaya sederhana, dan menunjukkan kerendahan hati meski telah hidup jauh dari kampung halaman. Bahkan ketika mereka sukses sekalipun, sering kali masih ada kesan tidak ingin terlalu meninggi. Tentu tidak semua orang Bali sama. Generalisasi selalu punya risiko. Namun setidaknya, dari pengamatan saya, ada watak sosial tertentu yang masih kuat bertahan.

Mungkin itu pula yang saya lihat pada diri Bli Menot. Ia sudah lama berkecimpung di dunia media. Sudah bertemu banyak orang penting. Sudah mengalami berbagai dinamika pekerjaan jurnalistik. Namun ia tetap tampak sederhana. Bahkan ketika bercerita tentang capaian medianya, nada bicaranya lebih terdengar seperti orang yang masih belajar daripada orang yang sedang memamerkan keberhasilan.

Ia mengaku masih terus belajar, terutama soal kegemarannya menulis esai. Pengakuan itu terasa menarik bagi saya. Sebab tidak semua orang yang sudah berpengalaman panjang masih memiliki kerendahan hati untuk mengatakan bahwa dirinya masih belajar.

Barangkali justru di situ letak pentingnya. Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba terlihat paling tahu. Media sosial membuat semua orang mudah menjadi pengamat, komentator, bahkan “ahli” dalam banyak hal. Orang cepat sekali memberi pendapat, tetapi sering lupa mendengar. Cepat merasa paling benar, tetapi lambat belajar.

Di tengah situasi seperti itu, sikap rendah hati menjadi terasa mahal. Dan mungkin karena itulah saya merasa pertemuan-pertemuan kecil di warung kopi bersama Bli Menot bukan sekadar obrolan biasa. Ada nilai yang pelan-pelan saya pelajari di sana. Tentang bagaimana pengalaman panjang tidak selalu harus membuat seseorang menjadi berjarak, bagaimana pengetahuan bisa dibagikan tanpa perlu merasa lebih tinggi dari orang lain.

Saya jadi teringat pada banyak orang tua di Bali yang dulu saya kenal semasa kecil. Mereka mungkin tidak sekolah tinggi. Tidak pula terkenal. Namun mereka senang berbagi cerita dan pengalaman hidup kepada anak-anak muda di sekitarnya. Ada semacam tradisi berbagi pengetahuan secara informal yang tumbuh dalam kehidupan sosial masyarakat Bali.

Pengetahuan tidak selalu hadir di ruang kelas. Kadang ia muncul di bale banjar, di sawah, di warung kopi, atau di percakapan panjang menjelang malam. Mungkin itu sebabnya obrolan sederhana sering terasa penting di Bali.

Kita bisa berbicara berjam-jam tanpa merasa sedang digurui. Bisa tertawa sambil membahas hal-hal serius. Atau, berbeda pandangan tanpa harus bermusuhan. Dalam banyak situasi, hubungan sosial terasa lebih penting daripada keinginan memenangkan perdebatan.

Tentu Bali hari ini juga berubah. Pariwisata, media sosial, arus investasi, dan budaya global perlahan mengubah cara hidup masyarakatnya. Anak-anak muda Bali kini tumbuh di tengah dunia digital yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Banyak pula yang mulai meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di kota besar atau luar negeri.

Namun di tengah semua perubahan itu, saya merasa ada sesuatu yang masih bertahan. Kebalian itu sendiri. Ia mungkin tidak selalu tampak besar. Kadang justru hadir dalam hal-hal kecil. Dalam cara seseorang tersenyum. Dalam kebiasaan menawarkan kopi. Dalam kesediaan mendengarkan cerita orang lain. Dalam kerendahan hati untuk tetap belajar.

Karena itulah saya percaya, orang Bali tetaplah orang Bali. Mereka bisa pergi jauh, tetapi tetap membawa pulang nilai-nilai tertentu dalam dirinya. Mereka bisa hidup modern, tetapi masih menyimpan cara pandang yang hangat terhadap sesama. Mereka bisa sukses di banyak tempat, tetapi tetap menikmati obrolan panjang sederhana di warung kopi.

Siang di Dalung mulai berubah sore ketika obrolan kami hampir selesai. Gelas kopi sudah lama kosong. Orang-orang di warung datang dan pergi silih berganti. Jalanan di luar semakin ramai oleh deru kendaraan. Namun Bli Menot masih tampak bersemangat membicarakan tulisan, media, dan rencana-rencana kecil yang ingin ia bangun ke depan. Saya mendengarkannya sambil berpikir bahwa mungkin memang begitulah orang Bali menjaga dirinya. Tidak selalu lewat pidato besar tentang budaya. Tidak pula lewat slogan-slogan identitas yang ramai diteriakkan. Kadang cukup lewat cara hidup sehari-hari, kesederhanaan, keramahan, kesediaan berbagi, dan lewat keyakinan bahwa belajar tidak pernah selesai.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balimedia massamedia onlineorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

Read moreDetails

Buzzer Rakyat

by Hartanto
May 25, 2026
0
Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

Read moreDetails

Perokok Bertanggung Jawab

by Angga Wijaya
May 25, 2026
0
Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

Read moreDetails

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

Read moreDetails

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
0
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

Read moreDetails

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
0
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

Read moreDetails

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

by Hartanto
May 22, 2026
0
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

Read moreDetails

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

Read moreDetails

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails

Hati-Hati Ada Proyek!

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
0
Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Orang Bali Tetaplah Orang Bali
Esai

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

by Angga Wijaya
May 26, 2026
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur
Bahasa

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

by I Made Sudiana
May 26, 2026
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
Buzzer Rakyat
Esai

Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

by Hartanto
May 25, 2026
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah
Tualang

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

by Chusmeru
May 25, 2026
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh
Panggung

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

by Made Chandra
May 25, 2026
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
Perokok Bertanggung Jawab
Esai

Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

by Angga Wijaya
May 25, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen
Khas

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111
Ulas Musik

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co