16 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 26, 2026
in Esai
Orang Bali Tetaplah Orang Bali

Menot Sukadana dan penulis

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar sepi. Motor hilir mudik seperti arus kecil yang tak habis-habis. Di sudut warung, aroma kopi bercampur suara obrolan pengunjung dan denting sendok mengenai gelas.

Pertemuan saya dengan Menot Sukadana adalah kesekian kalinya dalam setahun terakhir. Rasanya selalu ada cerita baru setiap kali bertemu. Ia datang dengan penampilan khasnya. Topi capio yang seperti tak pernah absen dari kepalanya, kacamata, juga gaya duduk santai yang membuat suasana cepat cair. Orang yang baru mengenalnya mungkin akan mengira ia sekadar penikmat kopi yang suka mengobrol. Padahal di balik kesederhanaannya, ada pengalaman panjang hampir dua dekade di dunia jurnalistik.

Waktu dua sampai tiga jam berlalu begitu saja setiap kami bertemu. Kadang kami berbicara tentang media, tulisan, atau tentang wartawan muda yang sekarang hidup di tengah derasnya media sosial, kadang juga tentang hal-hal sederhana yang justru terasa penting ketika dibicarakan sambil minum kopi.

Bli Menot adalah tipe orang yang tampak menikmati percakapan. Ia tidak bicara tergesa-gesa. Tidak pula berusaha terlihat paling tahu. Namun dari cara ia menjelaskan sesuatu, terlihat bahwa ia menyimpan pengalaman panjang yang ditempa oleh ruang redaksi, tenggat berita, konflik lapangan, hingga dinamika membangun media sendiri.

Di tengah obrolan sore itu, saya sempat berkelakar kepadanya. “Kalau di Jakarta, mentor seperti Bli mungkin sudah dibayar mahal setiap pertemuan.” Ia tertawa kecil mendengarnya. Tawanya pendek, ringan, tanpa kesan sedang dipuji.

Namun justru di situ saya merasa menemukan sesuatu yang menarik. Bli Menot yang orang Bali tetaplah orang Bali. Polos, apa adanya, dan tidak pelit berbagi pengalaman. Ia seperti mewakili satu watak yang diam-diam masih kuat hidup di Bali, meski zaman berubah cepat dan kehidupan semakin kompetitif.

Ada banyak orang yang setelah memiliki pengalaman panjang justru menjadi sulit dijangkau. Ilmu seperti dipagari. Pengalaman terasa mahal. Bahkan sekadar berbincang pun kadang dibuat berjarak. Namun pada diri Bli Menot, saya melihat hal berbeda. Ia tetap menikmati duduk bersama teman-teman yang lebih muda. Tetap antusias berbagi cerita tentang jurnalistik, media, dan menulis.

Padahal perjalanan hidupnya di dunia media tidak pendek. Ia telah hampir dua puluh tahun bekerja sebagai pekerja media. Dari reporter, redaktur, hingga akhirnya sekitar delapan tahun lalu mendirikan media online sendiri, podiumnews.com. Membangun media dari nol bukan pekerjaan sederhana. Apalagi di tengah perubahan besar dunia jurnalistik digital yang bergerak cepat dan sering kali tidak pasti.

Banyak media tumbang sebelum berkembang. Banyak pula wartawan yang akhirnya menyerah karena dunia media tidak selalu menjanjikan kehidupan mapan. Namun Bli Menot tetap bertahan. Perlahan membangun medianya, membesarkan jejaring, menjaga ritme kerja, hingga Podiumnews kini dikenal luas di Bali.

Yang menarik, meski telah berada pada posisi pemilik media, cara berbicaranya tetap seperti wartawan lapangan yang senang belajar dari banyak orang. Ia masih bersemangat membicarakan tulisan. Masih antusias mendengar cerita orang lain. Bahkan sesekali matanya tampak berbinar ketika membahas ide sederhana tentang bagaimana sebuah berita seharusnya ditulis dengan lebih manusiawi.

Ia juga bercerita tentang rencananya membangun warung kopi bernuansa jurnalistik di Mengwi, kampung halamannya di Badung. Bukan sekadar tempat minum kopi, tetapi ruang bertemu, berbincang, dan bertukar pikiran. Ketika mendengar itu, saya merasa gagasan tersebut sangat “Bali”. Ada semangat kebersamaan di dalamnya, ada keinginan menghadirkan ruang perjumpaan, bukan sekadar ruang bisnis.

Di banyak kota besar, warung kopi sering berubah menjadi simbol gaya hidup. Tempat orang sibuk bekerja dengan laptop, sibuk membuat konten, sibuk terlihat produktif. Namun di Bali, terutama dalam banyak warung kopi sederhana, saya masih menemukan suasana berbeda. Orang datang bukan hanya untuk kopi, tetapi juga untuk berbincang.

Mungkin karena itulah orang Bali punya hubungan yang khas dengan ruang pertemuan. Dari banjar, bale banjar, warung kopi, hingga pos ronda kecil di pinggir jalan, semuanya menyimpan tradisi percakapan yang panjang.

Beberapa waktu terakhir saya juga mengamati orang-orang Bali yang bekerja di luar negeri. Banyak di antara mereka aktif membuat konten media sosial. Ada yang bekerja di kapal pesiar, hotel, restoran, hingga sektor kreatif di berbagai negara. Namun yang menarik perhatian saya bukan sekadar pekerjaan mereka, melainkan cara mereka tetap membawa “kebalian” ke mana pun pergi.

Dari cara berbicara, bersikap, hingga cara mereka menyapa orang lain, saya merasa ada sesuatu yang tetap tinggal dalam diri mereka. Sesuatu yang tidak hilang meski jarak geografis berubah jauh.

Saya menyebutnya sebagai kebalian. Kebalian bukan semata soal pakaian adat, upacara, atau kemampuan berbahasa Bali. Kebalian adalah nilai hidup yang melekat diam-diam dalam cara seseorang memandang dunia. Ia tampak dalam keramahan kecil, dalam senyum yang tidak dibuat-buat, dalam kebiasaan menyapa lebih dulu, juga dalam kecenderungan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Orang Bali mungkin bisa tinggal bertahun-tahun di luar negeri. Bisa bekerja di kapal pesiar yang mengelilingi dunia. Bisa pula menjadi profesional di kota besar dengan ritme hidup modern. Namun sering kali mereka tetap membawa semacam kehangatan khas Bali.

Saya beberapa kali melihat video orang Bali di luar negeri yang tetap berbicara dengan logat hangatnya. Tetap tertawa dengan gaya sederhana, dan menunjukkan kerendahan hati meski telah hidup jauh dari kampung halaman. Bahkan ketika mereka sukses sekalipun, sering kali masih ada kesan tidak ingin terlalu meninggi. Tentu tidak semua orang Bali sama. Generalisasi selalu punya risiko. Namun setidaknya, dari pengamatan saya, ada watak sosial tertentu yang masih kuat bertahan.

Mungkin itu pula yang saya lihat pada diri Bli Menot. Ia sudah lama berkecimpung di dunia media. Sudah bertemu banyak orang penting. Sudah mengalami berbagai dinamika pekerjaan jurnalistik. Namun ia tetap tampak sederhana. Bahkan ketika bercerita tentang capaian medianya, nada bicaranya lebih terdengar seperti orang yang masih belajar daripada orang yang sedang memamerkan keberhasilan.

Ia mengaku masih terus belajar, terutama soal kegemarannya menulis esai. Pengakuan itu terasa menarik bagi saya. Sebab tidak semua orang yang sudah berpengalaman panjang masih memiliki kerendahan hati untuk mengatakan bahwa dirinya masih belajar.

Barangkali justru di situ letak pentingnya. Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba terlihat paling tahu. Media sosial membuat semua orang mudah menjadi pengamat, komentator, bahkan “ahli” dalam banyak hal. Orang cepat sekali memberi pendapat, tetapi sering lupa mendengar. Cepat merasa paling benar, tetapi lambat belajar.

Di tengah situasi seperti itu, sikap rendah hati menjadi terasa mahal. Dan mungkin karena itulah saya merasa pertemuan-pertemuan kecil di warung kopi bersama Bli Menot bukan sekadar obrolan biasa. Ada nilai yang pelan-pelan saya pelajari di sana. Tentang bagaimana pengalaman panjang tidak selalu harus membuat seseorang menjadi berjarak, bagaimana pengetahuan bisa dibagikan tanpa perlu merasa lebih tinggi dari orang lain.

Saya jadi teringat pada banyak orang tua di Bali yang dulu saya kenal semasa kecil. Mereka mungkin tidak sekolah tinggi. Tidak pula terkenal. Namun mereka senang berbagi cerita dan pengalaman hidup kepada anak-anak muda di sekitarnya. Ada semacam tradisi berbagi pengetahuan secara informal yang tumbuh dalam kehidupan sosial masyarakat Bali.

Pengetahuan tidak selalu hadir di ruang kelas. Kadang ia muncul di bale banjar, di sawah, di warung kopi, atau di percakapan panjang menjelang malam. Mungkin itu sebabnya obrolan sederhana sering terasa penting di Bali.

Kita bisa berbicara berjam-jam tanpa merasa sedang digurui. Bisa tertawa sambil membahas hal-hal serius. Atau, berbeda pandangan tanpa harus bermusuhan. Dalam banyak situasi, hubungan sosial terasa lebih penting daripada keinginan memenangkan perdebatan.

Tentu Bali hari ini juga berubah. Pariwisata, media sosial, arus investasi, dan budaya global perlahan mengubah cara hidup masyarakatnya. Anak-anak muda Bali kini tumbuh di tengah dunia digital yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Banyak pula yang mulai meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di kota besar atau luar negeri.

Namun di tengah semua perubahan itu, saya merasa ada sesuatu yang masih bertahan. Kebalian itu sendiri. Ia mungkin tidak selalu tampak besar. Kadang justru hadir dalam hal-hal kecil. Dalam cara seseorang tersenyum. Dalam kebiasaan menawarkan kopi. Dalam kesediaan mendengarkan cerita orang lain. Dalam kerendahan hati untuk tetap belajar.

Karena itulah saya percaya, orang Bali tetaplah orang Bali. Mereka bisa pergi jauh, tetapi tetap membawa pulang nilai-nilai tertentu dalam dirinya. Mereka bisa hidup modern, tetapi masih menyimpan cara pandang yang hangat terhadap sesama. Mereka bisa sukses di banyak tempat, tetapi tetap menikmati obrolan panjang sederhana di warung kopi.

Siang di Dalung mulai berubah sore ketika obrolan kami hampir selesai. Gelas kopi sudah lama kosong. Orang-orang di warung datang dan pergi silih berganti. Jalanan di luar semakin ramai oleh deru kendaraan. Namun Bli Menot masih tampak bersemangat membicarakan tulisan, media, dan rencana-rencana kecil yang ingin ia bangun ke depan. Saya mendengarkannya sambil berpikir bahwa mungkin memang begitulah orang Bali menjaga dirinya. Tidak selalu lewat pidato besar tentang budaya. Tidak pula lewat slogan-slogan identitas yang ramai diteriakkan. Kadang cukup lewat cara hidup sehari-hari, kesederhanaan, keramahan, kesediaan berbagi, dan lewat keyakinan bahwa belajar tidak pernah selesai.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balimedia massamedia onlineorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

Next Post

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails
Next Post
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co