6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 26, 2026
in Esai
Orang Bali Tetaplah Orang Bali

Menot Sukadana dan penulis

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar sepi. Motor hilir mudik seperti arus kecil yang tak habis-habis. Di sudut warung, aroma kopi bercampur suara obrolan pengunjung dan denting sendok mengenai gelas.

Pertemuan saya dengan Menot Sukadana adalah kesekian kalinya dalam setahun terakhir. Rasanya selalu ada cerita baru setiap kali bertemu. Ia datang dengan penampilan khasnya. Topi capio yang seperti tak pernah absen dari kepalanya, kacamata, juga gaya duduk santai yang membuat suasana cepat cair. Orang yang baru mengenalnya mungkin akan mengira ia sekadar penikmat kopi yang suka mengobrol. Padahal di balik kesederhanaannya, ada pengalaman panjang hampir dua dekade di dunia jurnalistik.

Waktu dua sampai tiga jam berlalu begitu saja setiap kami bertemu. Kadang kami berbicara tentang media, tulisan, atau tentang wartawan muda yang sekarang hidup di tengah derasnya media sosial, kadang juga tentang hal-hal sederhana yang justru terasa penting ketika dibicarakan sambil minum kopi.

Bli Menot adalah tipe orang yang tampak menikmati percakapan. Ia tidak bicara tergesa-gesa. Tidak pula berusaha terlihat paling tahu. Namun dari cara ia menjelaskan sesuatu, terlihat bahwa ia menyimpan pengalaman panjang yang ditempa oleh ruang redaksi, tenggat berita, konflik lapangan, hingga dinamika membangun media sendiri.

Di tengah obrolan sore itu, saya sempat berkelakar kepadanya. “Kalau di Jakarta, mentor seperti Bli mungkin sudah dibayar mahal setiap pertemuan.” Ia tertawa kecil mendengarnya. Tawanya pendek, ringan, tanpa kesan sedang dipuji.

Namun justru di situ saya merasa menemukan sesuatu yang menarik. Bli Menot yang orang Bali tetaplah orang Bali. Polos, apa adanya, dan tidak pelit berbagi pengalaman. Ia seperti mewakili satu watak yang diam-diam masih kuat hidup di Bali, meski zaman berubah cepat dan kehidupan semakin kompetitif.

Ada banyak orang yang setelah memiliki pengalaman panjang justru menjadi sulit dijangkau. Ilmu seperti dipagari. Pengalaman terasa mahal. Bahkan sekadar berbincang pun kadang dibuat berjarak. Namun pada diri Bli Menot, saya melihat hal berbeda. Ia tetap menikmati duduk bersama teman-teman yang lebih muda. Tetap antusias berbagi cerita tentang jurnalistik, media, dan menulis.

Padahal perjalanan hidupnya di dunia media tidak pendek. Ia telah hampir dua puluh tahun bekerja sebagai pekerja media. Dari reporter, redaktur, hingga akhirnya sekitar delapan tahun lalu mendirikan media online sendiri, podiumnews.com. Membangun media dari nol bukan pekerjaan sederhana. Apalagi di tengah perubahan besar dunia jurnalistik digital yang bergerak cepat dan sering kali tidak pasti.

Banyak media tumbang sebelum berkembang. Banyak pula wartawan yang akhirnya menyerah karena dunia media tidak selalu menjanjikan kehidupan mapan. Namun Bli Menot tetap bertahan. Perlahan membangun medianya, membesarkan jejaring, menjaga ritme kerja, hingga Podiumnews kini dikenal luas di Bali.

Yang menarik, meski telah berada pada posisi pemilik media, cara berbicaranya tetap seperti wartawan lapangan yang senang belajar dari banyak orang. Ia masih bersemangat membicarakan tulisan. Masih antusias mendengar cerita orang lain. Bahkan sesekali matanya tampak berbinar ketika membahas ide sederhana tentang bagaimana sebuah berita seharusnya ditulis dengan lebih manusiawi.

Ia juga bercerita tentang rencananya membangun warung kopi bernuansa jurnalistik di Mengwi, kampung halamannya di Badung. Bukan sekadar tempat minum kopi, tetapi ruang bertemu, berbincang, dan bertukar pikiran. Ketika mendengar itu, saya merasa gagasan tersebut sangat “Bali”. Ada semangat kebersamaan di dalamnya, ada keinginan menghadirkan ruang perjumpaan, bukan sekadar ruang bisnis.

Di banyak kota besar, warung kopi sering berubah menjadi simbol gaya hidup. Tempat orang sibuk bekerja dengan laptop, sibuk membuat konten, sibuk terlihat produktif. Namun di Bali, terutama dalam banyak warung kopi sederhana, saya masih menemukan suasana berbeda. Orang datang bukan hanya untuk kopi, tetapi juga untuk berbincang.

Mungkin karena itulah orang Bali punya hubungan yang khas dengan ruang pertemuan. Dari banjar, bale banjar, warung kopi, hingga pos ronda kecil di pinggir jalan, semuanya menyimpan tradisi percakapan yang panjang.

Beberapa waktu terakhir saya juga mengamati orang-orang Bali yang bekerja di luar negeri. Banyak di antara mereka aktif membuat konten media sosial. Ada yang bekerja di kapal pesiar, hotel, restoran, hingga sektor kreatif di berbagai negara. Namun yang menarik perhatian saya bukan sekadar pekerjaan mereka, melainkan cara mereka tetap membawa “kebalian” ke mana pun pergi.

Dari cara berbicara, bersikap, hingga cara mereka menyapa orang lain, saya merasa ada sesuatu yang tetap tinggal dalam diri mereka. Sesuatu yang tidak hilang meski jarak geografis berubah jauh.

Saya menyebutnya sebagai kebalian. Kebalian bukan semata soal pakaian adat, upacara, atau kemampuan berbahasa Bali. Kebalian adalah nilai hidup yang melekat diam-diam dalam cara seseorang memandang dunia. Ia tampak dalam keramahan kecil, dalam senyum yang tidak dibuat-buat, dalam kebiasaan menyapa lebih dulu, juga dalam kecenderungan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Orang Bali mungkin bisa tinggal bertahun-tahun di luar negeri. Bisa bekerja di kapal pesiar yang mengelilingi dunia. Bisa pula menjadi profesional di kota besar dengan ritme hidup modern. Namun sering kali mereka tetap membawa semacam kehangatan khas Bali.

Saya beberapa kali melihat video orang Bali di luar negeri yang tetap berbicara dengan logat hangatnya. Tetap tertawa dengan gaya sederhana, dan menunjukkan kerendahan hati meski telah hidup jauh dari kampung halaman. Bahkan ketika mereka sukses sekalipun, sering kali masih ada kesan tidak ingin terlalu meninggi. Tentu tidak semua orang Bali sama. Generalisasi selalu punya risiko. Namun setidaknya, dari pengamatan saya, ada watak sosial tertentu yang masih kuat bertahan.

Mungkin itu pula yang saya lihat pada diri Bli Menot. Ia sudah lama berkecimpung di dunia media. Sudah bertemu banyak orang penting. Sudah mengalami berbagai dinamika pekerjaan jurnalistik. Namun ia tetap tampak sederhana. Bahkan ketika bercerita tentang capaian medianya, nada bicaranya lebih terdengar seperti orang yang masih belajar daripada orang yang sedang memamerkan keberhasilan.

Ia mengaku masih terus belajar, terutama soal kegemarannya menulis esai. Pengakuan itu terasa menarik bagi saya. Sebab tidak semua orang yang sudah berpengalaman panjang masih memiliki kerendahan hati untuk mengatakan bahwa dirinya masih belajar.

Barangkali justru di situ letak pentingnya. Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba terlihat paling tahu. Media sosial membuat semua orang mudah menjadi pengamat, komentator, bahkan “ahli” dalam banyak hal. Orang cepat sekali memberi pendapat, tetapi sering lupa mendengar. Cepat merasa paling benar, tetapi lambat belajar.

Di tengah situasi seperti itu, sikap rendah hati menjadi terasa mahal. Dan mungkin karena itulah saya merasa pertemuan-pertemuan kecil di warung kopi bersama Bli Menot bukan sekadar obrolan biasa. Ada nilai yang pelan-pelan saya pelajari di sana. Tentang bagaimana pengalaman panjang tidak selalu harus membuat seseorang menjadi berjarak, bagaimana pengetahuan bisa dibagikan tanpa perlu merasa lebih tinggi dari orang lain.

Saya jadi teringat pada banyak orang tua di Bali yang dulu saya kenal semasa kecil. Mereka mungkin tidak sekolah tinggi. Tidak pula terkenal. Namun mereka senang berbagi cerita dan pengalaman hidup kepada anak-anak muda di sekitarnya. Ada semacam tradisi berbagi pengetahuan secara informal yang tumbuh dalam kehidupan sosial masyarakat Bali.

Pengetahuan tidak selalu hadir di ruang kelas. Kadang ia muncul di bale banjar, di sawah, di warung kopi, atau di percakapan panjang menjelang malam. Mungkin itu sebabnya obrolan sederhana sering terasa penting di Bali.

Kita bisa berbicara berjam-jam tanpa merasa sedang digurui. Bisa tertawa sambil membahas hal-hal serius. Atau, berbeda pandangan tanpa harus bermusuhan. Dalam banyak situasi, hubungan sosial terasa lebih penting daripada keinginan memenangkan perdebatan.

Tentu Bali hari ini juga berubah. Pariwisata, media sosial, arus investasi, dan budaya global perlahan mengubah cara hidup masyarakatnya. Anak-anak muda Bali kini tumbuh di tengah dunia digital yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Banyak pula yang mulai meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di kota besar atau luar negeri.

Namun di tengah semua perubahan itu, saya merasa ada sesuatu yang masih bertahan. Kebalian itu sendiri. Ia mungkin tidak selalu tampak besar. Kadang justru hadir dalam hal-hal kecil. Dalam cara seseorang tersenyum. Dalam kebiasaan menawarkan kopi. Dalam kesediaan mendengarkan cerita orang lain. Dalam kerendahan hati untuk tetap belajar.

Karena itulah saya percaya, orang Bali tetaplah orang Bali. Mereka bisa pergi jauh, tetapi tetap membawa pulang nilai-nilai tertentu dalam dirinya. Mereka bisa hidup modern, tetapi masih menyimpan cara pandang yang hangat terhadap sesama. Mereka bisa sukses di banyak tempat, tetapi tetap menikmati obrolan panjang sederhana di warung kopi.

Siang di Dalung mulai berubah sore ketika obrolan kami hampir selesai. Gelas kopi sudah lama kosong. Orang-orang di warung datang dan pergi silih berganti. Jalanan di luar semakin ramai oleh deru kendaraan. Namun Bli Menot masih tampak bersemangat membicarakan tulisan, media, dan rencana-rencana kecil yang ingin ia bangun ke depan. Saya mendengarkannya sambil berpikir bahwa mungkin memang begitulah orang Bali menjaga dirinya. Tidak selalu lewat pidato besar tentang budaya. Tidak pula lewat slogan-slogan identitas yang ramai diteriakkan. Kadang cukup lewat cara hidup sehari-hari, kesederhanaan, keramahan, kesediaan berbagi, dan lewat keyakinan bahwa belajar tidak pernah selesai.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balimedia massamedia onlineorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

Next Post

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co