DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa saja yang diberi label adiluhung langsung terkesan mahal, hebat, dan berkelas. Saking seringnya dipakai, penggunaannya jadi serampangan. Kita seolah sedang mengalami inflasi bahasa, kata-kata hebat diobral tanpa beban. Teman saya bahkan sempat berseloroh menyentil fenomena ini, “Sedikit-sedikit adiluhung, adiluhung kok sedikit-sedikit.”
Kalau dibongkar secara bahasa, adiluhung itu berasal dari bahasa Jawa Kuno. Yang sekarang juga terwaris dalam bahasa Jawa dan bahasa Bali. Dalam bahasa Jawa dan bahasa Bali adi artinya indah, utama, atau unggul, sedangkan luhung (bahasa Bali: luung) artinya luhur, tinggi, atau mulia. Jadi, adiluhung itu bukan cuma soal benda yang kelihatan ‘bagus’, ‘wah’, atau ‘estetik’. Maknanya jauh lebih dalam: sebuah perpaduan antara keindahan fisik yang memanjakan mata dan keluhuran batin yang menyentuh jiwa. Sesuatu layak disebut adiluhung kalau punya nilai moral, edukatif, dan spiritual yang bisa mendidik serta mengangkat derajat manusia.
Sayangnya, makna luhur itu sekarang makin kabur di realitas sehari-hari. Ada pementasan seni modern yang cuma jualan kemeriahan visual tanpa isi, langsung dicap “budaya adiluhung”. Ada barang mewah buatan pabrik yang cuma pamer gengsi ekonomi dan status sosial, disebut juga “karya adiluhung”. Istilah ini diobral murah di panggung-panggung festival hingga teks promosi properti sampai kehilangan taringnya. Dia berubah menjadi slogan hambar yang kehilangan daya magisnya.
Lantas, mengapa kita tidak boleh serampangan menggunakan dan harus cerewet soal istilah adiluhung ini?
Pertama, kata adiluhung itu memikul tanggung jawab moral yang besar. Saat kita menyebut sebuah tradisi atau warisan leluhur itu adiluhung, artinya kita mengakui ada kristalisasi kearifan lokal yang telah diuji oleh waktu di dalamnya. Kalau label sakral ini gampang ditempelkan pada hal-hal yang dangkal, instan, dan sekadar viral, kita sama saja sedang menurunkan standar intelektual serta merendahkan mutu budaya kita sendiri.
Kedua, fenomena ini mencerminkan kemalasan berpikir kita dalam berbahasa. Kita sering kali malas mencari kosakata atau diksi yang tepat untuk memuji sesuatu yang indah tapi sederhana. Alhasil, kita mengambil jalan pintas dengan memilih kata adiluhung biar tulisan atau ucapan kita terkesan keren dan berwawasan luas. Padahal, tidak semua yang indah itu adiluhung. Sebuah lukisan pemandangan bisa saja sangat cantik secara visual, tapi dia baru naik kelas jadi adiluhung kalau goresan kuasnya bisa membuat penikmatnya merenungkan hakikat hidup atau mengingat sang pencipta.
Ketiga, istilah ini bicara erat tentang karakter manusia. Dalam kebudayaan tradisional, melahirkan sesuatu yang adiluhung itu menuntut adanya prinsip ngelmu dan laku—artinya butuh pemahaman batin yang mendalam sekaligus tindakan nyata yang konsisten. Menghargai nilai adiluhung berarti kita diajak menghargai proses panjang yang melelahkan, ketekunan, serta ketulusan dalam berkarya. Di zaman serba cepat dan instan seperti sekarang, kita justru harus mengembalikan kehormatan kata tersebut. Tujuannya untuk mengingatkan kita semua bahwa kualitas sejati tidak bisa diciptakan secara tergesa-gesa atau diproduksi massal.
Kini sudah saatnya kita bersikap lebih selektif dan kritis. Mari berhenti memakai kata adiluhung cuma sebagai pemanis kalimat, pelengkap pidato, atau alat jualan brosur rumah. Mari tempatkan lagi kata ini di posisi yang mulia dan terhormat. Adiluhung adalah puncak karya manusia yang menyatukan harmoni antara cipta, rasa, dan karsa. Jangan sampai kata yang seharusnya sakral dan penuh wibawa ini berakhir menjadi sampah bahasa di masa depan, hanya karena kita malas memahami esensi artinya hari ini. [T]
Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole




























