PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita?
Sungguh menarik mengamati bagaimana permainan yang digilai miliaran manusia ini harus memikul beban nama yang berbeda-beda di berbagai belahan bumi. Kita kerap hanyut bergembira merayakan pesta olahraga yang sedang berlangsung ini, tetapi sering kali abai pada presisi bahasa yang kita ucapkan sehari-hari di warung kopi saat membicarakan pemain dan taktik lapangan hijau.
Di Indonesia, kita sering terjebak kenyamanan berbahasa tanpa menyadari batas tipis yang memisahkan aktivitas permainan dengan wujud bendanya. Mari uji ingatan kita pada pelajaran tata bahasa sekolah dasar tentang hukum Diterangkan-Menerangkan (D-M). Ketika menyebut “sepak bola”, kita membicarakan cabang olahraganya, sebuah aktivitas dinamis dengan tindakan menyepak sebagai intinya. Namun, jika kata itu dibalik menjadi “bola sepak”, maknanya langsung menyusut pada wujud fisik benda bulat berbahan kulit yang ditendang pemain. Uniknya, saudara serumpun kita di Malaysia justru menggunakan istilah “bola sepak” untuk merangkum keduanya—baik permainan maupun bendanya. Sebuah kelenturan bahasa yang kerap membuat kita mengernyitkan dahi, seolah-olah kita adalah pihak yang paling patuh pada pakem Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Akan tetapi, apakah kegaduhan linguistik ini hanya milik kita yang berbahasa Melayu? Tentu tidak. Pergilah ke Amerika Serikat, salah satu tuan rumah Piala Dunia tahun ini, dan cobalah meneriakkan kata football di tengah stadion yang sedang bergemuruh. Anda hampir pasti akan disodori sebuah bola lonjong dan olahraga benturan fisik yang sama sekali berbeda. Bagi publik Paman Sam, olahraga yang dimainkan oleh Lionel Messi atau Kylian Mbappé adalah soccer. Menariknya, banyak pencinta sepak bola garis keras mencibir istilah ini sebagai bentuk keangkuhan Amerika yang enggan tunduk pada kultur global. Mereka lupa, atau mungkin tidak tahu, bahwa istilah soccer justru lahir di tanah Inggris pada akhir abad ke-19.
Catatan Oxford English Dictionary menunjukkan bahwa kata soccer sebenarnya adalah serapan manja dari istilah Association Football. Kala itu, para mahasiswa Oxford sedang menggandrungi bahasa gaul dengan menyingkat kata menjadi assoc lalu menempelinya dengan akhiran -er. Dari sanalah istilah itu lahir, jauh sebelum diadopsi publik Amerika. Ketika Inggris kembali ke istilah football, Amerika Serikat telanjur merawat kata soccer karena mereka sudah memiliki olahraga sendiri bernama American football. Lidah kita ternyata diam-diam ikut merestui kekeliruan sejarah ini. KBBI kini resmi mencatat kata “soker” sebagai nomina untuk sepak bola khas Amerika. Namun, di sisi lain, muncul gugatan menggelitik: mengapa KBBI kita sudi memungut soccer menjadi soker, tetapi enggan menyerap football menjadi futbal? Alasan terkuatnya tentu karena kita sudah telanjur mencintai istilah “sepak bola” sebagai padanan total yang terpatri kuat di dasar ingatan komunal kita.
Lalu, bayangkan jika suatu hari nanti Indonesia dan Malaysia sama-sama lolos ke putaran final Piala Dunia dan ditakdirkan bersua di lapangan hijau. Riuh rendah perseteruan serumpun pasti akan membahana, tidak hanya lewat adu taktik di rumput stadion, tetapi juga lewat perang istilah di linimasa media sosial. Kita akan riuh meneriakkan “sepak bola”, sementara mereka dengan teguh meneriakkan “bola sepak”. Namun, di balik fanatisme buta dan perdebatan lidah tersebut, esensinya dari olahraga ini tidak akan pernah bergeser seujung kuku pun. Bukankah keindahan terbesar dari permainan kulit bundar ini adalah kemampuannya merajut harmoni dan menyatukan manusia, bahkan ketika kita masih sibuk meributkan namanya? [T]
Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole






























