2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 23, 2026
in Esai
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

Umbu Landu Paranggi bersama Oka Rusmini suatu hari | Foto: Dok tatkala.co

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penulis bertumbuh dan bagaimana sebuah ekosistem sastra membentuk generasi baru.

Tan Lioe Ie mengingatkan bahwa sastra bukan sekadar soal isi. Sastra bukan hanya tempat menyampaikan gagasan, keresahan sosial, atau pengalaman hidup. Sastra tetap menuntut sesuatu yang lebih sulit, pencarian bentuk, kebaruan, keberanian keluar dari kebiasaan, dan kemampuan seorang penulis untuk melawan dirinya sendiri.

Saya sepakat. Namun, membaca percakapan tentang penghargaan sastra hari ini, saya teringat pada satu hal yang pernah dimiliki Bali. Sesuatu yang mungkin perlahan hilang, yaitu tradisi membentuk penyair, bukan sekadar mencari pemenang.

Sebab penyair Bali tidak lahir dari piala. Penyair Bali lahir dari proses panjang, dari kegelisahan, pergaulan, pertemuan dengan bacaan, diskusi, kritik, dan kadang dari teguran seorang guru yang tidak banyak bicara.

Bali pernah memiliki figur seperti Umbu Landu Paranggi. Ketika Umbu menjadi redaktur sastra Bali Post, ia tidak hanya bekerja sebagai penjaga halaman kebudayaan. Ia membangun sebuah ekosistem. Ia menemukan anak-anak muda yang memiliki kecenderungan pada puisi, lalu mendorong mereka tumbuh. Ia bukan sekadar menilai puisi bagus atau buruk. Ia mendidik manusia di balik puisi itu.

Dalam tulisan I Nyoman Darma Putra berjudul “Sastra Indonesia di Bali Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi” di Tatkala.co, 9 Februari 2021, dijelaskan bahwa peran Umbu sejak menjadi redaktur sastra Bali Post sangat besar dalam melahirkan generasi penyair Bali. Melalui rubrik “kontak”, Umbu aktif menyapa para penulis muda dan mendorong mereka untuk terus berkarya. Ia juga membangun sistem berjenjang melalui rubrik seperti Pos Remaja menuju Pos Budaya.

Inilah yang menurut saya menarik. Pada masa itu, seorang remaja yang baru jatuh cinta pada puisi tidak pertama-tama berpikir tentang menang lomba. Mereka berpikir bagaimana puisinya bisa dimuat. Dan dimuatnya sebuah puisi oleh Umbu di Bali Post, terutama di Pos Budaya, memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar publikasi.

Ada semacam pembaptisan. Jika puisi seseorang lolos ke Pos Budaya, ia seperti mendapatkan pengakuan bahwa dirinya sudah memasuki dunia sastra. Bukan karena sertifikat, bukan karena piala. Tetapi karena melewati proses panjang, karena dibaca, dipertimbangkan, dan diuji.

Sebuah nama yang muncul di halaman sastra Bali Post saat itu memiliki kebanggaan tersendiri. Barangkali karena Umbu tidak sedang mencari pemenang. Ia sedang mencari penyair. Ini berbeda dengan sebagian kultur sastra hari ini yang kadang terlalu cepat mengarahkan anak muda pada kompetisi. Baru menulis beberapa puisi, sudah didorong mengikuti festival. Baru belajar satu dua teknik, sudah diarahkan mengejar penghargaan.

Padahal menjadi penyair bukan seperti menjadi juara lomba. Lomba punya batas waktu, sastra tidak. Lomba punya dewan juri, sastra punya perjalanan. Lomba menentukan siapa yang menang, sastra menentukan siapa yang bertahan. Umbu memahami itu. Cara Umbu mendidik bahkan tidak selalu seperti guru di ruang kelas.

Para penyair yang pernah dekat dengannya sering menceritakan bahwa Umbu memiliki cara unik mendekati calon penyair. Ia tidak hanya mengajarkan teori puisi, tetapi membangun pergaulan. Ia membaca, berdiskusi, mendorong, dan membiarkan seseorang menemukan jalannya sendiri.

Bagi Umbu, membentuk penyair berarti membentuk kepekaan terhadap hidup. Penyair tidak cukup hanya mengenal metafora. Ia harus mengenal kesunyian. Ia harus mengenal kehilangan. Ia harus mengenal manusia.

Mungkin karena itu generasi yang tumbuh dari lingkungan Umbu kemudian menghasilkan banyak nama penting dalam sastra Indonesia. Mereka tidak hanya menulis puisi, tetapi berkembang menjadi cerpenis, esais, kritikus, dan pekerja kebudayaan.

Sastra Bali kemudian dikenal bukan karena satu dua penghargaan, melainkan karena ekosistemnya. Bali menjadi salah satu pusat sastra Indonesia. Saya memang tidak mengalami masa awal ketika Umbu Landu Paranggi membangun ekosistem sastra di Bali. Namun saya sempat merasakan jejak dari tradisi itu.

Pada 2015, ketika usia Umbu sudah tidak lagi muda, ketika banyak orang mungkin sudah memilih beristirahat dari hiruk-pikuk dunia sastra, beliau masih setia menjaga pintu sastra di Bali Post. Saat itu beberapa puisi saya dimuat di Bali Post.

Perasaan ketika melihat puisi sendiri hadir di halaman sastra koran itu sulit dijelaskan. Ada kebahagiaan yang berbeda. Bukan semata karena nama kita tercetak di media. Bukan pula karena merasa sudah menjadi penyair. Tetapi karena ada perasaan bahwa sebuah karya kecil yang lahir dari kamar, dari kesunyian, dari pergulatan pribadi, akhirnya sampai kepada pembaca yang tidak kita kenal.

Apalagi ketika yang menjadi penjaga pintu itu adalah Umbu Landu Paranggi. Ada semacam penghormatan kepada proses. Saya membayangkan bagaimana perasaan para penyair muda beberapa dekade sebelumnya ketika puisi mereka melewati seleksi Umbu. Tentu bukan hanya rasa senang karena dimuat, tetapi juga rasa mendapat pengakuan bahwa mereka sedang berjalan di sebuah jalan bernama sastra.

Bagi saya, pengalaman 2015 itu seperti menerima gema dari tradisi yang telah dibangun Umbu sejak lama. Sebuah tradisi yang mengatakan bahwa penyair tidak lahir karena lomba. Penyair lahir karena terus menulis, terus membaca, terus menerima kritik, dan terus mencari suaranya sendiri.

Tentu saja penghargaan seperti Kusala, Khatulistiwa Literary Award, atau penghargaan lain tetap penting. Penghargaan memberi perhatian. Penghargaan membuat buku dibicarakan. Penghargaan membantu karya menjangkau pembaca lebih luas.

Tan Lioe Ie benar ketika mengatakan juri juga memiliki tanggung jawab karena mereka ikut menentukan arah perkembangan sastra. Pilihan mereka menjadi semacam tanda tentang karya seperti apa yang dianggap penting. Tetapi penghargaan tidak boleh menjadi satu satunya ukuran.

Sebab jika sastra terlalu diarahkan pada kompetisi, kita bisa melahirkan generasi yang pandai membuat karya yang disukai juri, tetapi belum tentu menemukan dirinya sendiri. Sastra bukan dunia mode. Sastra bukan tren. Dan penyair bukan produk lomba. Saya teringat tradisi Umbu. Ada jenjang, ada proses, ada penggodokan. Dari Pos Remaja menuju Pos Budaya. Dari pemula menuju penyair. Bukan jalan pintas.

Sebab menjadi penyair membutuhkan waktu. Seorang penyair muda Bali hari ini tidak harus menjadi bayang-bayang generasi sebelumnya. Ia tidak harus meniru Umbu, ia tidak harus meniru penyair senior. Tantangannya justru seperti yang dikatakan Tan Lioe Ie, berani melawan dirinya sendiri agar tidak terjebak dalam gaya yang berulang.

Tetapi sebelum meminta penyair muda menghasilkan kebaruan, kita perlu bertanya; apakah kita masih menyediakan ruang bagi mereka untuk bertumbuh? Apakah kita masih punya ruang seperti Pos Remaja dan Pos Budaya? Apakah masih ada figur yang membaca puisi anak muda bukan untuk mencari juara, tetapi mencari bibit? Mungkin inilah pelajaran terbesar dari Umbu.

Ia tidak meninggalkan banyak teori, ia meninggalkan manusia dan juga generasi. Dan dari generasi itulah lahir keyakinan bahwa Bali bukan hanya tempat orang menulis puisi. Bali adalah tempat penyair ditempa. Karena pada akhirnya, penyair Bali bukan penyair lomba. Penyair Bali adalah penyair yang lahir dari perjalanan panjang mencari suara sendiri. [T]

Denpasar, 21 Juni 2026, 23:35 WITA

Tags: penyair balisastraUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

Next Post

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co