12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 23, 2026
in Esai
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

Umbu Landu Paranggi bersama Oka Rusmini suatu hari | Foto: Dok tatkala.co

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penulis bertumbuh dan bagaimana sebuah ekosistem sastra membentuk generasi baru.

Tan Lioe Ie mengingatkan bahwa sastra bukan sekadar soal isi. Sastra bukan hanya tempat menyampaikan gagasan, keresahan sosial, atau pengalaman hidup. Sastra tetap menuntut sesuatu yang lebih sulit, pencarian bentuk, kebaruan, keberanian keluar dari kebiasaan, dan kemampuan seorang penulis untuk melawan dirinya sendiri.

Saya sepakat. Namun, membaca percakapan tentang penghargaan sastra hari ini, saya teringat pada satu hal yang pernah dimiliki Bali. Sesuatu yang mungkin perlahan hilang, yaitu tradisi membentuk penyair, bukan sekadar mencari pemenang.

Sebab penyair Bali tidak lahir dari piala. Penyair Bali lahir dari proses panjang, dari kegelisahan, pergaulan, pertemuan dengan bacaan, diskusi, kritik, dan kadang dari teguran seorang guru yang tidak banyak bicara.

Bali pernah memiliki figur seperti Umbu Landu Paranggi. Ketika Umbu menjadi redaktur sastra Bali Post, ia tidak hanya bekerja sebagai penjaga halaman kebudayaan. Ia membangun sebuah ekosistem. Ia menemukan anak-anak muda yang memiliki kecenderungan pada puisi, lalu mendorong mereka tumbuh. Ia bukan sekadar menilai puisi bagus atau buruk. Ia mendidik manusia di balik puisi itu.

Dalam tulisan I Nyoman Darma Putra berjudul “Sastra Indonesia di Bali Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi” di Tatkala.co, 9 Februari 2021, dijelaskan bahwa peran Umbu sejak menjadi redaktur sastra Bali Post sangat besar dalam melahirkan generasi penyair Bali. Melalui rubrik “kontak”, Umbu aktif menyapa para penulis muda dan mendorong mereka untuk terus berkarya. Ia juga membangun sistem berjenjang melalui rubrik seperti Pos Remaja menuju Pos Budaya.

Inilah yang menurut saya menarik. Pada masa itu, seorang remaja yang baru jatuh cinta pada puisi tidak pertama-tama berpikir tentang menang lomba. Mereka berpikir bagaimana puisinya bisa dimuat. Dan dimuatnya sebuah puisi oleh Umbu di Bali Post, terutama di Pos Budaya, memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar publikasi.

Ada semacam pembaptisan. Jika puisi seseorang lolos ke Pos Budaya, ia seperti mendapatkan pengakuan bahwa dirinya sudah memasuki dunia sastra. Bukan karena sertifikat, bukan karena piala. Tetapi karena melewati proses panjang, karena dibaca, dipertimbangkan, dan diuji.

Sebuah nama yang muncul di halaman sastra Bali Post saat itu memiliki kebanggaan tersendiri. Barangkali karena Umbu tidak sedang mencari pemenang. Ia sedang mencari penyair. Ini berbeda dengan sebagian kultur sastra hari ini yang kadang terlalu cepat mengarahkan anak muda pada kompetisi. Baru menulis beberapa puisi, sudah didorong mengikuti festival. Baru belajar satu dua teknik, sudah diarahkan mengejar penghargaan.

Padahal menjadi penyair bukan seperti menjadi juara lomba. Lomba punya batas waktu, sastra tidak. Lomba punya dewan juri, sastra punya perjalanan. Lomba menentukan siapa yang menang, sastra menentukan siapa yang bertahan. Umbu memahami itu. Cara Umbu mendidik bahkan tidak selalu seperti guru di ruang kelas.

Para penyair yang pernah dekat dengannya sering menceritakan bahwa Umbu memiliki cara unik mendekati calon penyair. Ia tidak hanya mengajarkan teori puisi, tetapi membangun pergaulan. Ia membaca, berdiskusi, mendorong, dan membiarkan seseorang menemukan jalannya sendiri.

Bagi Umbu, membentuk penyair berarti membentuk kepekaan terhadap hidup. Penyair tidak cukup hanya mengenal metafora. Ia harus mengenal kesunyian. Ia harus mengenal kehilangan. Ia harus mengenal manusia.

Mungkin karena itu generasi yang tumbuh dari lingkungan Umbu kemudian menghasilkan banyak nama penting dalam sastra Indonesia. Mereka tidak hanya menulis puisi, tetapi berkembang menjadi cerpenis, esais, kritikus, dan pekerja kebudayaan.

Sastra Bali kemudian dikenal bukan karena satu dua penghargaan, melainkan karena ekosistemnya. Bali menjadi salah satu pusat sastra Indonesia. Saya memang tidak mengalami masa awal ketika Umbu Landu Paranggi membangun ekosistem sastra di Bali. Namun saya sempat merasakan jejak dari tradisi itu.

Pada 2015, ketika usia Umbu sudah tidak lagi muda, ketika banyak orang mungkin sudah memilih beristirahat dari hiruk-pikuk dunia sastra, beliau masih setia menjaga pintu sastra di Bali Post. Saat itu beberapa puisi saya dimuat di Bali Post.

Perasaan ketika melihat puisi sendiri hadir di halaman sastra koran itu sulit dijelaskan. Ada kebahagiaan yang berbeda. Bukan semata karena nama kita tercetak di media. Bukan pula karena merasa sudah menjadi penyair. Tetapi karena ada perasaan bahwa sebuah karya kecil yang lahir dari kamar, dari kesunyian, dari pergulatan pribadi, akhirnya sampai kepada pembaca yang tidak kita kenal.

Apalagi ketika yang menjadi penjaga pintu itu adalah Umbu Landu Paranggi. Ada semacam penghormatan kepada proses. Saya membayangkan bagaimana perasaan para penyair muda beberapa dekade sebelumnya ketika puisi mereka melewati seleksi Umbu. Tentu bukan hanya rasa senang karena dimuat, tetapi juga rasa mendapat pengakuan bahwa mereka sedang berjalan di sebuah jalan bernama sastra.

Bagi saya, pengalaman 2015 itu seperti menerima gema dari tradisi yang telah dibangun Umbu sejak lama. Sebuah tradisi yang mengatakan bahwa penyair tidak lahir karena lomba. Penyair lahir karena terus menulis, terus membaca, terus menerima kritik, dan terus mencari suaranya sendiri.

Tentu saja penghargaan seperti Kusala, Khatulistiwa Literary Award, atau penghargaan lain tetap penting. Penghargaan memberi perhatian. Penghargaan membuat buku dibicarakan. Penghargaan membantu karya menjangkau pembaca lebih luas.

Tan Lioe Ie benar ketika mengatakan juri juga memiliki tanggung jawab karena mereka ikut menentukan arah perkembangan sastra. Pilihan mereka menjadi semacam tanda tentang karya seperti apa yang dianggap penting. Tetapi penghargaan tidak boleh menjadi satu satunya ukuran.

Sebab jika sastra terlalu diarahkan pada kompetisi, kita bisa melahirkan generasi yang pandai membuat karya yang disukai juri, tetapi belum tentu menemukan dirinya sendiri. Sastra bukan dunia mode. Sastra bukan tren. Dan penyair bukan produk lomba. Saya teringat tradisi Umbu. Ada jenjang, ada proses, ada penggodokan. Dari Pos Remaja menuju Pos Budaya. Dari pemula menuju penyair. Bukan jalan pintas.

Sebab menjadi penyair membutuhkan waktu. Seorang penyair muda Bali hari ini tidak harus menjadi bayang-bayang generasi sebelumnya. Ia tidak harus meniru Umbu, ia tidak harus meniru penyair senior. Tantangannya justru seperti yang dikatakan Tan Lioe Ie, berani melawan dirinya sendiri agar tidak terjebak dalam gaya yang berulang.

Tetapi sebelum meminta penyair muda menghasilkan kebaruan, kita perlu bertanya; apakah kita masih menyediakan ruang bagi mereka untuk bertumbuh? Apakah kita masih punya ruang seperti Pos Remaja dan Pos Budaya? Apakah masih ada figur yang membaca puisi anak muda bukan untuk mencari juara, tetapi mencari bibit? Mungkin inilah pelajaran terbesar dari Umbu.

Ia tidak meninggalkan banyak teori, ia meninggalkan manusia dan juga generasi. Dan dari generasi itulah lahir keyakinan bahwa Bali bukan hanya tempat orang menulis puisi. Bali adalah tempat penyair ditempa. Karena pada akhirnya, penyair Bali bukan penyair lomba. Penyair Bali adalah penyair yang lahir dari perjalanan panjang mencari suara sendiri. [T]

Denpasar, 21 Juni 2026, 23:35 WITA

Tags: penyair balisastraUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

Next Post

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co