2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 23, 2026
in Esai
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

Umbu Landu Paranggi bersama Oka Rusmini suatu hari | Foto: Dok tatkala.co

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penulis bertumbuh dan bagaimana sebuah ekosistem sastra membentuk generasi baru.

Tan Lioe Ie mengingatkan bahwa sastra bukan sekadar soal isi. Sastra bukan hanya tempat menyampaikan gagasan, keresahan sosial, atau pengalaman hidup. Sastra tetap menuntut sesuatu yang lebih sulit, pencarian bentuk, kebaruan, keberanian keluar dari kebiasaan, dan kemampuan seorang penulis untuk melawan dirinya sendiri.

Saya sepakat. Namun, membaca percakapan tentang penghargaan sastra hari ini, saya teringat pada satu hal yang pernah dimiliki Bali. Sesuatu yang mungkin perlahan hilang, yaitu tradisi membentuk penyair, bukan sekadar mencari pemenang.

Sebab penyair Bali tidak lahir dari piala. Penyair Bali lahir dari proses panjang, dari kegelisahan, pergaulan, pertemuan dengan bacaan, diskusi, kritik, dan kadang dari teguran seorang guru yang tidak banyak bicara.

Bali pernah memiliki figur seperti Umbu Landu Paranggi. Ketika Umbu menjadi redaktur sastra Bali Post, ia tidak hanya bekerja sebagai penjaga halaman kebudayaan. Ia membangun sebuah ekosistem. Ia menemukan anak-anak muda yang memiliki kecenderungan pada puisi, lalu mendorong mereka tumbuh. Ia bukan sekadar menilai puisi bagus atau buruk. Ia mendidik manusia di balik puisi itu.

Dalam tulisan I Nyoman Darma Putra berjudul “Sastra Indonesia di Bali Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi” di Tatkala.co, 9 Februari 2021, dijelaskan bahwa peran Umbu sejak menjadi redaktur sastra Bali Post sangat besar dalam melahirkan generasi penyair Bali. Melalui rubrik “kontak”, Umbu aktif menyapa para penulis muda dan mendorong mereka untuk terus berkarya. Ia juga membangun sistem berjenjang melalui rubrik seperti Pos Remaja menuju Pos Budaya.

Inilah yang menurut saya menarik. Pada masa itu, seorang remaja yang baru jatuh cinta pada puisi tidak pertama-tama berpikir tentang menang lomba. Mereka berpikir bagaimana puisinya bisa dimuat. Dan dimuatnya sebuah puisi oleh Umbu di Bali Post, terutama di Pos Budaya, memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar publikasi.

Ada semacam pembaptisan. Jika puisi seseorang lolos ke Pos Budaya, ia seperti mendapatkan pengakuan bahwa dirinya sudah memasuki dunia sastra. Bukan karena sertifikat, bukan karena piala. Tetapi karena melewati proses panjang, karena dibaca, dipertimbangkan, dan diuji.

Sebuah nama yang muncul di halaman sastra Bali Post saat itu memiliki kebanggaan tersendiri. Barangkali karena Umbu tidak sedang mencari pemenang. Ia sedang mencari penyair. Ini berbeda dengan sebagian kultur sastra hari ini yang kadang terlalu cepat mengarahkan anak muda pada kompetisi. Baru menulis beberapa puisi, sudah didorong mengikuti festival. Baru belajar satu dua teknik, sudah diarahkan mengejar penghargaan.

Padahal menjadi penyair bukan seperti menjadi juara lomba. Lomba punya batas waktu, sastra tidak. Lomba punya dewan juri, sastra punya perjalanan. Lomba menentukan siapa yang menang, sastra menentukan siapa yang bertahan. Umbu memahami itu. Cara Umbu mendidik bahkan tidak selalu seperti guru di ruang kelas.

Para penyair yang pernah dekat dengannya sering menceritakan bahwa Umbu memiliki cara unik mendekati calon penyair. Ia tidak hanya mengajarkan teori puisi, tetapi membangun pergaulan. Ia membaca, berdiskusi, mendorong, dan membiarkan seseorang menemukan jalannya sendiri.

Bagi Umbu, membentuk penyair berarti membentuk kepekaan terhadap hidup. Penyair tidak cukup hanya mengenal metafora. Ia harus mengenal kesunyian. Ia harus mengenal kehilangan. Ia harus mengenal manusia.

Mungkin karena itu generasi yang tumbuh dari lingkungan Umbu kemudian menghasilkan banyak nama penting dalam sastra Indonesia. Mereka tidak hanya menulis puisi, tetapi berkembang menjadi cerpenis, esais, kritikus, dan pekerja kebudayaan.

Sastra Bali kemudian dikenal bukan karena satu dua penghargaan, melainkan karena ekosistemnya. Bali menjadi salah satu pusat sastra Indonesia. Saya memang tidak mengalami masa awal ketika Umbu Landu Paranggi membangun ekosistem sastra di Bali. Namun saya sempat merasakan jejak dari tradisi itu.

Pada 2015, ketika usia Umbu sudah tidak lagi muda, ketika banyak orang mungkin sudah memilih beristirahat dari hiruk-pikuk dunia sastra, beliau masih setia menjaga pintu sastra di Bali Post. Saat itu beberapa puisi saya dimuat di Bali Post.

Perasaan ketika melihat puisi sendiri hadir di halaman sastra koran itu sulit dijelaskan. Ada kebahagiaan yang berbeda. Bukan semata karena nama kita tercetak di media. Bukan pula karena merasa sudah menjadi penyair. Tetapi karena ada perasaan bahwa sebuah karya kecil yang lahir dari kamar, dari kesunyian, dari pergulatan pribadi, akhirnya sampai kepada pembaca yang tidak kita kenal.

Apalagi ketika yang menjadi penjaga pintu itu adalah Umbu Landu Paranggi. Ada semacam penghormatan kepada proses. Saya membayangkan bagaimana perasaan para penyair muda beberapa dekade sebelumnya ketika puisi mereka melewati seleksi Umbu. Tentu bukan hanya rasa senang karena dimuat, tetapi juga rasa mendapat pengakuan bahwa mereka sedang berjalan di sebuah jalan bernama sastra.

Bagi saya, pengalaman 2015 itu seperti menerima gema dari tradisi yang telah dibangun Umbu sejak lama. Sebuah tradisi yang mengatakan bahwa penyair tidak lahir karena lomba. Penyair lahir karena terus menulis, terus membaca, terus menerima kritik, dan terus mencari suaranya sendiri.

Tentu saja penghargaan seperti Kusala, Khatulistiwa Literary Award, atau penghargaan lain tetap penting. Penghargaan memberi perhatian. Penghargaan membuat buku dibicarakan. Penghargaan membantu karya menjangkau pembaca lebih luas.

Tan Lioe Ie benar ketika mengatakan juri juga memiliki tanggung jawab karena mereka ikut menentukan arah perkembangan sastra. Pilihan mereka menjadi semacam tanda tentang karya seperti apa yang dianggap penting. Tetapi penghargaan tidak boleh menjadi satu satunya ukuran.

Sebab jika sastra terlalu diarahkan pada kompetisi, kita bisa melahirkan generasi yang pandai membuat karya yang disukai juri, tetapi belum tentu menemukan dirinya sendiri. Sastra bukan dunia mode. Sastra bukan tren. Dan penyair bukan produk lomba. Saya teringat tradisi Umbu. Ada jenjang, ada proses, ada penggodokan. Dari Pos Remaja menuju Pos Budaya. Dari pemula menuju penyair. Bukan jalan pintas.

Sebab menjadi penyair membutuhkan waktu. Seorang penyair muda Bali hari ini tidak harus menjadi bayang-bayang generasi sebelumnya. Ia tidak harus meniru Umbu, ia tidak harus meniru penyair senior. Tantangannya justru seperti yang dikatakan Tan Lioe Ie, berani melawan dirinya sendiri agar tidak terjebak dalam gaya yang berulang.

Tetapi sebelum meminta penyair muda menghasilkan kebaruan, kita perlu bertanya; apakah kita masih menyediakan ruang bagi mereka untuk bertumbuh? Apakah kita masih punya ruang seperti Pos Remaja dan Pos Budaya? Apakah masih ada figur yang membaca puisi anak muda bukan untuk mencari juara, tetapi mencari bibit? Mungkin inilah pelajaran terbesar dari Umbu.

Ia tidak meninggalkan banyak teori, ia meninggalkan manusia dan juga generasi. Dan dari generasi itulah lahir keyakinan bahwa Bali bukan hanya tempat orang menulis puisi. Bali adalah tempat penyair ditempa. Karena pada akhirnya, penyair Bali bukan penyair lomba. Penyair Bali adalah penyair yang lahir dari perjalanan panjang mencari suara sendiri. [T]

Denpasar, 21 Juni 2026, 23:35 WITA

Tags: penyair balisastraUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

Next Post

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co