23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 23, 2026
in Esai
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

Umbu Landu Paranggi bersama Oka Rusmini suatu hari | Foto: Dok tatkala.co

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penulis bertumbuh dan bagaimana sebuah ekosistem sastra membentuk generasi baru.

Tan Lioe Ie mengingatkan bahwa sastra bukan sekadar soal isi. Sastra bukan hanya tempat menyampaikan gagasan, keresahan sosial, atau pengalaman hidup. Sastra tetap menuntut sesuatu yang lebih sulit, pencarian bentuk, kebaruan, keberanian keluar dari kebiasaan, dan kemampuan seorang penulis untuk melawan dirinya sendiri.

Saya sepakat. Namun, membaca percakapan tentang penghargaan sastra hari ini, saya teringat pada satu hal yang pernah dimiliki Bali. Sesuatu yang mungkin perlahan hilang, yaitu tradisi membentuk penyair, bukan sekadar mencari pemenang.

Sebab penyair Bali tidak lahir dari piala. Penyair Bali lahir dari proses panjang, dari kegelisahan, pergaulan, pertemuan dengan bacaan, diskusi, kritik, dan kadang dari teguran seorang guru yang tidak banyak bicara.

Bali pernah memiliki figur seperti Umbu Landu Paranggi. Ketika Umbu menjadi redaktur sastra Bali Post, ia tidak hanya bekerja sebagai penjaga halaman kebudayaan. Ia membangun sebuah ekosistem. Ia menemukan anak-anak muda yang memiliki kecenderungan pada puisi, lalu mendorong mereka tumbuh. Ia bukan sekadar menilai puisi bagus atau buruk. Ia mendidik manusia di balik puisi itu.

Dalam tulisan I Nyoman Darma Putra berjudul “Sastra Indonesia di Bali Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi” di Tatkala.co, 9 Februari 2021, dijelaskan bahwa peran Umbu sejak menjadi redaktur sastra Bali Post sangat besar dalam melahirkan generasi penyair Bali. Melalui rubrik “kontak”, Umbu aktif menyapa para penulis muda dan mendorong mereka untuk terus berkarya. Ia juga membangun sistem berjenjang melalui rubrik seperti Pos Remaja menuju Pos Budaya.

Inilah yang menurut saya menarik. Pada masa itu, seorang remaja yang baru jatuh cinta pada puisi tidak pertama-tama berpikir tentang menang lomba. Mereka berpikir bagaimana puisinya bisa dimuat. Dan dimuatnya sebuah puisi oleh Umbu di Bali Post, terutama di Pos Budaya, memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar publikasi.

Ada semacam pembaptisan. Jika puisi seseorang lolos ke Pos Budaya, ia seperti mendapatkan pengakuan bahwa dirinya sudah memasuki dunia sastra. Bukan karena sertifikat, bukan karena piala. Tetapi karena melewati proses panjang, karena dibaca, dipertimbangkan, dan diuji.

Sebuah nama yang muncul di halaman sastra Bali Post saat itu memiliki kebanggaan tersendiri. Barangkali karena Umbu tidak sedang mencari pemenang. Ia sedang mencari penyair. Ini berbeda dengan sebagian kultur sastra hari ini yang kadang terlalu cepat mengarahkan anak muda pada kompetisi. Baru menulis beberapa puisi, sudah didorong mengikuti festival. Baru belajar satu dua teknik, sudah diarahkan mengejar penghargaan.

Padahal menjadi penyair bukan seperti menjadi juara lomba. Lomba punya batas waktu, sastra tidak. Lomba punya dewan juri, sastra punya perjalanan. Lomba menentukan siapa yang menang, sastra menentukan siapa yang bertahan. Umbu memahami itu. Cara Umbu mendidik bahkan tidak selalu seperti guru di ruang kelas.

Para penyair yang pernah dekat dengannya sering menceritakan bahwa Umbu memiliki cara unik mendekati calon penyair. Ia tidak hanya mengajarkan teori puisi, tetapi membangun pergaulan. Ia membaca, berdiskusi, mendorong, dan membiarkan seseorang menemukan jalannya sendiri.

Bagi Umbu, membentuk penyair berarti membentuk kepekaan terhadap hidup. Penyair tidak cukup hanya mengenal metafora. Ia harus mengenal kesunyian. Ia harus mengenal kehilangan. Ia harus mengenal manusia.

Mungkin karena itu generasi yang tumbuh dari lingkungan Umbu kemudian menghasilkan banyak nama penting dalam sastra Indonesia. Mereka tidak hanya menulis puisi, tetapi berkembang menjadi cerpenis, esais, kritikus, dan pekerja kebudayaan.

Sastra Bali kemudian dikenal bukan karena satu dua penghargaan, melainkan karena ekosistemnya. Bali menjadi salah satu pusat sastra Indonesia. Saya memang tidak mengalami masa awal ketika Umbu Landu Paranggi membangun ekosistem sastra di Bali. Namun saya sempat merasakan jejak dari tradisi itu.

Pada 2015, ketika usia Umbu sudah tidak lagi muda, ketika banyak orang mungkin sudah memilih beristirahat dari hiruk-pikuk dunia sastra, beliau masih setia menjaga pintu sastra di Bali Post. Saat itu beberapa puisi saya dimuat di Bali Post.

Perasaan ketika melihat puisi sendiri hadir di halaman sastra koran itu sulit dijelaskan. Ada kebahagiaan yang berbeda. Bukan semata karena nama kita tercetak di media. Bukan pula karena merasa sudah menjadi penyair. Tetapi karena ada perasaan bahwa sebuah karya kecil yang lahir dari kamar, dari kesunyian, dari pergulatan pribadi, akhirnya sampai kepada pembaca yang tidak kita kenal.

Apalagi ketika yang menjadi penjaga pintu itu adalah Umbu Landu Paranggi. Ada semacam penghormatan kepada proses. Saya membayangkan bagaimana perasaan para penyair muda beberapa dekade sebelumnya ketika puisi mereka melewati seleksi Umbu. Tentu bukan hanya rasa senang karena dimuat, tetapi juga rasa mendapat pengakuan bahwa mereka sedang berjalan di sebuah jalan bernama sastra.

Bagi saya, pengalaman 2015 itu seperti menerima gema dari tradisi yang telah dibangun Umbu sejak lama. Sebuah tradisi yang mengatakan bahwa penyair tidak lahir karena lomba. Penyair lahir karena terus menulis, terus membaca, terus menerima kritik, dan terus mencari suaranya sendiri.

Tentu saja penghargaan seperti Kusala, Khatulistiwa Literary Award, atau penghargaan lain tetap penting. Penghargaan memberi perhatian. Penghargaan membuat buku dibicarakan. Penghargaan membantu karya menjangkau pembaca lebih luas.

Tan Lioe Ie benar ketika mengatakan juri juga memiliki tanggung jawab karena mereka ikut menentukan arah perkembangan sastra. Pilihan mereka menjadi semacam tanda tentang karya seperti apa yang dianggap penting. Tetapi penghargaan tidak boleh menjadi satu satunya ukuran.

Sebab jika sastra terlalu diarahkan pada kompetisi, kita bisa melahirkan generasi yang pandai membuat karya yang disukai juri, tetapi belum tentu menemukan dirinya sendiri. Sastra bukan dunia mode. Sastra bukan tren. Dan penyair bukan produk lomba. Saya teringat tradisi Umbu. Ada jenjang, ada proses, ada penggodokan. Dari Pos Remaja menuju Pos Budaya. Dari pemula menuju penyair. Bukan jalan pintas.

Sebab menjadi penyair membutuhkan waktu. Seorang penyair muda Bali hari ini tidak harus menjadi bayang-bayang generasi sebelumnya. Ia tidak harus meniru Umbu, ia tidak harus meniru penyair senior. Tantangannya justru seperti yang dikatakan Tan Lioe Ie, berani melawan dirinya sendiri agar tidak terjebak dalam gaya yang berulang.

Tetapi sebelum meminta penyair muda menghasilkan kebaruan, kita perlu bertanya; apakah kita masih menyediakan ruang bagi mereka untuk bertumbuh? Apakah kita masih punya ruang seperti Pos Remaja dan Pos Budaya? Apakah masih ada figur yang membaca puisi anak muda bukan untuk mencari juara, tetapi mencari bibit? Mungkin inilah pelajaran terbesar dari Umbu.

Ia tidak meninggalkan banyak teori, ia meninggalkan manusia dan juga generasi. Dan dari generasi itulah lahir keyakinan bahwa Bali bukan hanya tempat orang menulis puisi. Bali adalah tempat penyair ditempa. Karena pada akhirnya, penyair Bali bukan penyair lomba. Penyair Bali adalah penyair yang lahir dari perjalanan panjang mencari suara sendiri. [T]

Denpasar, 21 Juni 2026, 23:35 WITA

Tags: penyair balisastraUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

Next Post

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co