TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penulis bertumbuh dan bagaimana sebuah ekosistem sastra membentuk generasi baru.
Tan Lioe Ie mengingatkan bahwa sastra bukan sekadar soal isi. Sastra bukan hanya tempat menyampaikan gagasan, keresahan sosial, atau pengalaman hidup. Sastra tetap menuntut sesuatu yang lebih sulit, pencarian bentuk, kebaruan, keberanian keluar dari kebiasaan, dan kemampuan seorang penulis untuk melawan dirinya sendiri.
Saya sepakat. Namun, membaca percakapan tentang penghargaan sastra hari ini, saya teringat pada satu hal yang pernah dimiliki Bali. Sesuatu yang mungkin perlahan hilang, yaitu tradisi membentuk penyair, bukan sekadar mencari pemenang.
Sebab penyair Bali tidak lahir dari piala. Penyair Bali lahir dari proses panjang, dari kegelisahan, pergaulan, pertemuan dengan bacaan, diskusi, kritik, dan kadang dari teguran seorang guru yang tidak banyak bicara.
Bali pernah memiliki figur seperti Umbu Landu Paranggi. Ketika Umbu menjadi redaktur sastra Bali Post, ia tidak hanya bekerja sebagai penjaga halaman kebudayaan. Ia membangun sebuah ekosistem. Ia menemukan anak-anak muda yang memiliki kecenderungan pada puisi, lalu mendorong mereka tumbuh. Ia bukan sekadar menilai puisi bagus atau buruk. Ia mendidik manusia di balik puisi itu.
Dalam tulisan I Nyoman Darma Putra berjudul “Sastra Indonesia di Bali Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi” di Tatkala.co, 9 Februari 2021, dijelaskan bahwa peran Umbu sejak menjadi redaktur sastra Bali Post sangat besar dalam melahirkan generasi penyair Bali. Melalui rubrik “kontak”, Umbu aktif menyapa para penulis muda dan mendorong mereka untuk terus berkarya. Ia juga membangun sistem berjenjang melalui rubrik seperti Pos Remaja menuju Pos Budaya.
Inilah yang menurut saya menarik. Pada masa itu, seorang remaja yang baru jatuh cinta pada puisi tidak pertama-tama berpikir tentang menang lomba. Mereka berpikir bagaimana puisinya bisa dimuat. Dan dimuatnya sebuah puisi oleh Umbu di Bali Post, terutama di Pos Budaya, memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar publikasi.
Ada semacam pembaptisan. Jika puisi seseorang lolos ke Pos Budaya, ia seperti mendapatkan pengakuan bahwa dirinya sudah memasuki dunia sastra. Bukan karena sertifikat, bukan karena piala. Tetapi karena melewati proses panjang, karena dibaca, dipertimbangkan, dan diuji.
Sebuah nama yang muncul di halaman sastra Bali Post saat itu memiliki kebanggaan tersendiri. Barangkali karena Umbu tidak sedang mencari pemenang. Ia sedang mencari penyair. Ini berbeda dengan sebagian kultur sastra hari ini yang kadang terlalu cepat mengarahkan anak muda pada kompetisi. Baru menulis beberapa puisi, sudah didorong mengikuti festival. Baru belajar satu dua teknik, sudah diarahkan mengejar penghargaan.
Padahal menjadi penyair bukan seperti menjadi juara lomba. Lomba punya batas waktu, sastra tidak. Lomba punya dewan juri, sastra punya perjalanan. Lomba menentukan siapa yang menang, sastra menentukan siapa yang bertahan. Umbu memahami itu. Cara Umbu mendidik bahkan tidak selalu seperti guru di ruang kelas.
Para penyair yang pernah dekat dengannya sering menceritakan bahwa Umbu memiliki cara unik mendekati calon penyair. Ia tidak hanya mengajarkan teori puisi, tetapi membangun pergaulan. Ia membaca, berdiskusi, mendorong, dan membiarkan seseorang menemukan jalannya sendiri.
Bagi Umbu, membentuk penyair berarti membentuk kepekaan terhadap hidup. Penyair tidak cukup hanya mengenal metafora. Ia harus mengenal kesunyian. Ia harus mengenal kehilangan. Ia harus mengenal manusia.
Mungkin karena itu generasi yang tumbuh dari lingkungan Umbu kemudian menghasilkan banyak nama penting dalam sastra Indonesia. Mereka tidak hanya menulis puisi, tetapi berkembang menjadi cerpenis, esais, kritikus, dan pekerja kebudayaan.
Sastra Bali kemudian dikenal bukan karena satu dua penghargaan, melainkan karena ekosistemnya. Bali menjadi salah satu pusat sastra Indonesia. Saya memang tidak mengalami masa awal ketika Umbu Landu Paranggi membangun ekosistem sastra di Bali. Namun saya sempat merasakan jejak dari tradisi itu.
Pada 2015, ketika usia Umbu sudah tidak lagi muda, ketika banyak orang mungkin sudah memilih beristirahat dari hiruk-pikuk dunia sastra, beliau masih setia menjaga pintu sastra di Bali Post. Saat itu beberapa puisi saya dimuat di Bali Post.
Perasaan ketika melihat puisi sendiri hadir di halaman sastra koran itu sulit dijelaskan. Ada kebahagiaan yang berbeda. Bukan semata karena nama kita tercetak di media. Bukan pula karena merasa sudah menjadi penyair. Tetapi karena ada perasaan bahwa sebuah karya kecil yang lahir dari kamar, dari kesunyian, dari pergulatan pribadi, akhirnya sampai kepada pembaca yang tidak kita kenal.
Apalagi ketika yang menjadi penjaga pintu itu adalah Umbu Landu Paranggi. Ada semacam penghormatan kepada proses. Saya membayangkan bagaimana perasaan para penyair muda beberapa dekade sebelumnya ketika puisi mereka melewati seleksi Umbu. Tentu bukan hanya rasa senang karena dimuat, tetapi juga rasa mendapat pengakuan bahwa mereka sedang berjalan di sebuah jalan bernama sastra.
Bagi saya, pengalaman 2015 itu seperti menerima gema dari tradisi yang telah dibangun Umbu sejak lama. Sebuah tradisi yang mengatakan bahwa penyair tidak lahir karena lomba. Penyair lahir karena terus menulis, terus membaca, terus menerima kritik, dan terus mencari suaranya sendiri.
Tentu saja penghargaan seperti Kusala, Khatulistiwa Literary Award, atau penghargaan lain tetap penting. Penghargaan memberi perhatian. Penghargaan membuat buku dibicarakan. Penghargaan membantu karya menjangkau pembaca lebih luas.
Tan Lioe Ie benar ketika mengatakan juri juga memiliki tanggung jawab karena mereka ikut menentukan arah perkembangan sastra. Pilihan mereka menjadi semacam tanda tentang karya seperti apa yang dianggap penting. Tetapi penghargaan tidak boleh menjadi satu satunya ukuran.
Sebab jika sastra terlalu diarahkan pada kompetisi, kita bisa melahirkan generasi yang pandai membuat karya yang disukai juri, tetapi belum tentu menemukan dirinya sendiri. Sastra bukan dunia mode. Sastra bukan tren. Dan penyair bukan produk lomba. Saya teringat tradisi Umbu. Ada jenjang, ada proses, ada penggodokan. Dari Pos Remaja menuju Pos Budaya. Dari pemula menuju penyair. Bukan jalan pintas.
Sebab menjadi penyair membutuhkan waktu. Seorang penyair muda Bali hari ini tidak harus menjadi bayang-bayang generasi sebelumnya. Ia tidak harus meniru Umbu, ia tidak harus meniru penyair senior. Tantangannya justru seperti yang dikatakan Tan Lioe Ie, berani melawan dirinya sendiri agar tidak terjebak dalam gaya yang berulang.
Tetapi sebelum meminta penyair muda menghasilkan kebaruan, kita perlu bertanya; apakah kita masih menyediakan ruang bagi mereka untuk bertumbuh? Apakah kita masih punya ruang seperti Pos Remaja dan Pos Budaya? Apakah masih ada figur yang membaca puisi anak muda bukan untuk mencari juara, tetapi mencari bibit? Mungkin inilah pelajaran terbesar dari Umbu.
Ia tidak meninggalkan banyak teori, ia meninggalkan manusia dan juga generasi. Dan dari generasi itulah lahir keyakinan bahwa Bali bukan hanya tempat orang menulis puisi. Bali adalah tempat penyair ditempa. Karena pada akhirnya, penyair Bali bukan penyair lomba. Penyair Bali adalah penyair yang lahir dari perjalanan panjang mencari suara sendiri. [T]
Denpasar, 21 Juni 2026, 23:35 WITA






























