11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
August 1, 2026
in Esai
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

Prosesi persembahyangan Tumpek Krulut di satuan pendidikan

“Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan hati.”

Kalimat itu mungkin terdengar sedikit berlebihan. Namun, jika direnungkan lebih dalam, justru di situlah letak keistimewaan Bali. Jauh sebelum berbagai perayaan kasih sayang modern dikenal luas, leluhur Bali telah mewariskan sebuah tradisi yang mengajarkan cinta kasih sebagai jalan hidup, bukan sekadar perayaan sesaat. Tradisi itu bernama Tumpek Krulut.

Hari ini, dunia memang semakin terhubung oleh teknologi. Jarak antarbenua dapat ditempuh dalam hitungan jam, sementara pesan dapat dikirim dalam hitungan detik. Ironisnya, kedekatan secara digital tidak selalu diikuti oleh kedekatan secara emosional. Ujaran kebencian lebih cepat menyebar daripada kabar baik. Empati sering kalah cepat dibandingkan prasangka. Kita hidup di zaman ketika jempol lebih sering bekerja daripada hati.

Dalam konteks seperti itulah Tumpek Krulut menjadi semakin relevan. Ia hadir bukan sekadar sebagai bagian dari kalender pawukon Bali, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia tidak cukup hanya hidup berdampingan. Manusia juga harus belajar saling mengasihi, saling menghormati, saling menguatkan, dan saling memuliakan. Nilai-nilai itulah yang menjadikan Tumpek Krulut layak disebut sebagai Hari Kasih Sayang Dresta Bali—sebuah warisan budaya yang lahir dari kebijaksanaan lokal, tetapi mengandung pesan yang bersifat universal.

Bagi masyarakat Bali, Tumpek Krulut bukan sekadar ritual keagamaan yang dirayakan setiap Saniscara Kliwon Wuku Krulut. Ia merupakan ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah rasa kasih, kelembutan hati, keharmonisan, dan keindahan yang menyatukan manusia dengan sesamanya. Dalam denyut gamelan yang ditabuh, dalam doa yang dipanjatkan, dan dalam kebersamaan yang dirajut, sesungguhnya tersimpan pesan bahwa kasih sayang adalah fondasi utama kehidupan.

Nilai-nilai luhur inilah yang patut terus dirawat, disosialisasikan, dan diaktualisasikan. Terlebih, Pemerintah Provinsi Bali melalui program Jana Kerti telah menempatkan pembangunan manusia sebagai salah satu prioritas utama. Dengan demikian, Tumpek Krulut bukan hanya menjadi warisan budaya yang patut dibanggakan, tetapi juga menjadi inspirasi nyata dalam membangun masyarakat Bali yang berkarakter, harmonis, dan berkeadaban.

Nilai Universal

Setiap kali berbicara tentang hari kasih sayang, sebagian besar orang akan langsung mengingat berbagai perayaan modern yang identik dengan bunga, cokelat, atau hadiah. Padahal, jauh sebelum berbagai perayaan itu dikenal luas, masyarakat Bali telah mewariskan sebuah tradisi yang sarat makna kasih sayang, yakni Tumpek Krulut.        

Tumpek Krulut bukan sekadar hari dalam penanggalan Bali. Ia adalah pengingat bahwa manusia dilahirkan bukan hanya untuk hidup bersama, tetapi juga untuk saling mengasihi, menghormati, dan menguatkan satu sama lain. Nilai-nilai itu diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari dresta Bali yang hingga kini tetap hidup dalam denyut kehidupan masyarakat.

Di tengah dunia yang semakin maju tetapi juga semakin mudah terpecah oleh perbedaan, Tumpek Krulut menjadi sangat relevan. Ketika media sosial sering dipenuhi ujaran kebencian, ketika empati perlahan tergeser oleh ego pribadi, dan ketika manusia semakin dekat melalui teknologi tetapi terasa semakin jauh dalam hubungan kemanusiaan, Tumpek Krulut hadir mengingatkan bahwa kasih sayang tetap menjadi fondasi utama kehidupan.

Dalam tradisi Hindu Bali, kata krulut dimaknai sebagai kelembutan hati, rasa cinta kasih, dan getaran kasih yang mampu menyentuh batin manusia. Tidak mengherankan apabila Tumpek Krulut juga dikenal sebagai hari untuk memuliakan seni, khususnya seni tabuh dan gamelan. Alunan gamelan dipercaya mampu menghadirkan rasa damai, menghaluskan budi pekerti, serta membangun keharmonisan antarmanusia.

Persembahyangan Tumpek Krulut di Kalangan Masyarakat

Secara filosofis, Tumpek Krulut merupakan ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah rasa, kasih, dan keindahan yang ditanamkan dalam diri manusia. Dalam beberapa lontar tattwa dan tradisi keagamaan Bali, hari ini dikaitkan dengan pemujaan kepada manifestasi Tuhan sebagai Sang Hyang Iswara, yang melimpahkan kehalusan budi, eni, dan keharmonisan hidup. Oleh karena itu, umat Hindu menghaturkan banten serta memohon agar kehidupan senantiasa dipenuhi cinta kasih, kedamaian, dan kebijaksanaan.

Prosesi Upakara Piranti Gamelan pada Tumpek Krulut

Nilai tersebut sejalan dengan ajaran dalam Bhagawad Gita Bab XII tentang Bhakti Yoga. Pada Bab XII ayat 13–14 dinyatakan bahwa orang yang dicintai Tuhan adalah mereka yang tidak membenci makhluk mana pun, bersahabat dengan semua, penuh kasih sayang (maitrah karuna eva ca), bebas dari rasa memiliki yang berlebihan, rendah hati, sabar, dan mampu mengendalikan diri. Ajaran ini menegaskan bahwa kasih sayang bukan sekadar perasaan, melainkan jalan hidup yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Demikian pula dalam Yajur Veda 36.18 terdapat doa yang mengandung pesan universal agar setiap manusia memandang sesamanya dengan mata persahabatan.

Mitrasya ma cakshusha sarvani bhutani samiksantam.

yang dimaknai sebagai harapan agar seluruh makhluk saling memandang dengan persahabatan, saling menghormati, dan saling mengasihi. Spirit inilah yang sesungguhnya hidup dalam perayaan Tumpek Krulut.

Nilai-nilai tersebut juga selaras dengan falsafah Tat Twam Asi—“Aku adalah engkau dan engkau adalah aku.” Ketika kita menyakiti orang lain, sesungguhnya kita sedang melukai diri sendiri. Sebaliknya, ketika kita menolong sesama, pada hakikatnya kita sedang memuliakan kemanusiaan yang juga ada dalam diri kita.

Dalam konteks pembangunan Bali, makna Tumpek Krulut menemukan relevansinya melalui program Pemerintah Provinsi Bali, yaitu Jana Kerti, salah satu bagian dari enam kerti yang menitikberatkan pada pembangunan kualitas manusia Bali. Jana Kerti tidak hanya berbicara tentang peningkatan kecerdasan atau kesehatan masyarakat, tetapi juga pembangunan karakter, etika, solidaritas sosial, dan kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut sejatinya telah lama hidup dalam tradisi Tumpek Krulut.

Inilah yang menunjukkan bahwa Bali sesungguhnya telah memiliki kearifan lokal yang bernilai universal. Dunia boleh mengenal berbagai konsep tentang cinta kasih dan kemanusiaan, tetapi masyarakat Bali telah mewariskannya melalui tradisi yang diwariskan lintas generasi. Tumpek Krulut bukan sekadar ritual, melainkan pendidikan karakter yang hidup di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, Tumpek Krulut tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu terus disosialisasikan secara lebih masif, terutama kepada generasi muda. Kasih sayang tidak cukup diajarkan melalui kata-kata, tetapi perlu dibiasakan melalui keteladanan dalam keluarga, pendidikan di sekolah, pelayanan publik, kehidupan bermasyarakat, hingga ruang-ruang digital yang kini menjadi bagian dari keseharian.

Secara sekala, kita patut bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup berdampingan dengan sesama. Kesempatan itu bukan hanya untuk mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga untuk saling menjaga, saling menghormati, saling menguatkan, dan saling berbagi. Tidak ada keberhasilan yang bermakna apabila diperoleh dengan mengorbankan kemanusiaan.

Sementara secara niskala, Tumpek Krulut mengingatkan bahwa seluruh rasa kasih yang kita miliki sesungguhnya bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Karena itu, umat Hindu Bali menghaturkan bhakti dan sujud syukur sebagai ungkapan terima kasih atas anugerah kehidupan, cinta kasih, serta keharmonisan yang menyatukan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta.

Pada akhirnya, Tumpek Krulut mengajarkan bahwa kasih sayang bukanlah sesuatu yang dirayakan sehari, melainkan nilai yang dihidupi setiap hari. Di tengah dunia yang sering dipenuhi prasangka, kebencian, dan perpecahan, Bali sesungguhnya telah memiliki warisan yang sangat berharga. Tinggal bagaimana kita merawatnya, mengamalkannya, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Sebagaimana diajarkan dalam Bhagawad Gita XII.13,

“Adveshta sarva-bhutanam maitrah karuna eva ca”—

(Ia yang tidak membenci makhluk mana pun, bersahabat dan penuh kasih sayang kepada semua, dialah yang dicintai Tuhan).

Barangkali, itulah makna terdalam Tumpek Krulut: kasih sayang bukan sekadar tradisi Bali, melainkan jalan menuju kemuliaan manusia.[T]

Tags: agama hinduTumpek Krulutupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

Next Post

Tuhan Yang Maha Puisi

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Tuhan Yang Maha Puisi

Tuhan Yang Maha Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co