22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
August 1, 2026
in Esai
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

Prosesi persembahyangan Tumpek Krulut di satuan pendidikan

“Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan hati.”

Kalimat itu mungkin terdengar sedikit berlebihan. Namun, jika direnungkan lebih dalam, justru di situlah letak keistimewaan Bali. Jauh sebelum berbagai perayaan kasih sayang modern dikenal luas, leluhur Bali telah mewariskan sebuah tradisi yang mengajarkan cinta kasih sebagai jalan hidup, bukan sekadar perayaan sesaat. Tradisi itu bernama Tumpek Krulut.

Hari ini, dunia memang semakin terhubung oleh teknologi. Jarak antarbenua dapat ditempuh dalam hitungan jam, sementara pesan dapat dikirim dalam hitungan detik. Ironisnya, kedekatan secara digital tidak selalu diikuti oleh kedekatan secara emosional. Ujaran kebencian lebih cepat menyebar daripada kabar baik. Empati sering kalah cepat dibandingkan prasangka. Kita hidup di zaman ketika jempol lebih sering bekerja daripada hati.

Dalam konteks seperti itulah Tumpek Krulut menjadi semakin relevan. Ia hadir bukan sekadar sebagai bagian dari kalender pawukon Bali, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia tidak cukup hanya hidup berdampingan. Manusia juga harus belajar saling mengasihi, saling menghormati, saling menguatkan, dan saling memuliakan. Nilai-nilai itulah yang menjadikan Tumpek Krulut layak disebut sebagai Hari Kasih Sayang Dresta Bali—sebuah warisan budaya yang lahir dari kebijaksanaan lokal, tetapi mengandung pesan yang bersifat universal.

Bagi masyarakat Bali, Tumpek Krulut bukan sekadar ritual keagamaan yang dirayakan setiap Saniscara Kliwon Wuku Krulut. Ia merupakan ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah rasa kasih, kelembutan hati, keharmonisan, dan keindahan yang menyatukan manusia dengan sesamanya. Dalam denyut gamelan yang ditabuh, dalam doa yang dipanjatkan, dan dalam kebersamaan yang dirajut, sesungguhnya tersimpan pesan bahwa kasih sayang adalah fondasi utama kehidupan.

Nilai-nilai luhur inilah yang patut terus dirawat, disosialisasikan, dan diaktualisasikan. Terlebih, Pemerintah Provinsi Bali melalui program Jana Kerti telah menempatkan pembangunan manusia sebagai salah satu prioritas utama. Dengan demikian, Tumpek Krulut bukan hanya menjadi warisan budaya yang patut dibanggakan, tetapi juga menjadi inspirasi nyata dalam membangun masyarakat Bali yang berkarakter, harmonis, dan berkeadaban.

Nilai Universal

Setiap kali berbicara tentang hari kasih sayang, sebagian besar orang akan langsung mengingat berbagai perayaan modern yang identik dengan bunga, cokelat, atau hadiah. Padahal, jauh sebelum berbagai perayaan itu dikenal luas, masyarakat Bali telah mewariskan sebuah tradisi yang sarat makna kasih sayang, yakni Tumpek Krulut.        

Tumpek Krulut bukan sekadar hari dalam penanggalan Bali. Ia adalah pengingat bahwa manusia dilahirkan bukan hanya untuk hidup bersama, tetapi juga untuk saling mengasihi, menghormati, dan menguatkan satu sama lain. Nilai-nilai itu diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari dresta Bali yang hingga kini tetap hidup dalam denyut kehidupan masyarakat.

Di tengah dunia yang semakin maju tetapi juga semakin mudah terpecah oleh perbedaan, Tumpek Krulut menjadi sangat relevan. Ketika media sosial sering dipenuhi ujaran kebencian, ketika empati perlahan tergeser oleh ego pribadi, dan ketika manusia semakin dekat melalui teknologi tetapi terasa semakin jauh dalam hubungan kemanusiaan, Tumpek Krulut hadir mengingatkan bahwa kasih sayang tetap menjadi fondasi utama kehidupan.

Dalam tradisi Hindu Bali, kata krulut dimaknai sebagai kelembutan hati, rasa cinta kasih, dan getaran kasih yang mampu menyentuh batin manusia. Tidak mengherankan apabila Tumpek Krulut juga dikenal sebagai hari untuk memuliakan seni, khususnya seni tabuh dan gamelan. Alunan gamelan dipercaya mampu menghadirkan rasa damai, menghaluskan budi pekerti, serta membangun keharmonisan antarmanusia.

Persembahyangan Tumpek Krulut di Kalangan Masyarakat

Secara filosofis, Tumpek Krulut merupakan ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah rasa, kasih, dan keindahan yang ditanamkan dalam diri manusia. Dalam beberapa lontar tattwa dan tradisi keagamaan Bali, hari ini dikaitkan dengan pemujaan kepada manifestasi Tuhan sebagai Sang Hyang Iswara, yang melimpahkan kehalusan budi, eni, dan keharmonisan hidup. Oleh karena itu, umat Hindu menghaturkan banten serta memohon agar kehidupan senantiasa dipenuhi cinta kasih, kedamaian, dan kebijaksanaan.

Prosesi Upakara Piranti Gamelan pada Tumpek Krulut

Nilai tersebut sejalan dengan ajaran dalam Bhagawad Gita Bab XII tentang Bhakti Yoga. Pada Bab XII ayat 13–14 dinyatakan bahwa orang yang dicintai Tuhan adalah mereka yang tidak membenci makhluk mana pun, bersahabat dengan semua, penuh kasih sayang (maitrah karuna eva ca), bebas dari rasa memiliki yang berlebihan, rendah hati, sabar, dan mampu mengendalikan diri. Ajaran ini menegaskan bahwa kasih sayang bukan sekadar perasaan, melainkan jalan hidup yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Demikian pula dalam Yajur Veda 36.18 terdapat doa yang mengandung pesan universal agar setiap manusia memandang sesamanya dengan mata persahabatan.

Mitrasya ma cakshusha sarvani bhutani samiksantam.

yang dimaknai sebagai harapan agar seluruh makhluk saling memandang dengan persahabatan, saling menghormati, dan saling mengasihi. Spirit inilah yang sesungguhnya hidup dalam perayaan Tumpek Krulut.

Nilai-nilai tersebut juga selaras dengan falsafah Tat Twam Asi—“Aku adalah engkau dan engkau adalah aku.” Ketika kita menyakiti orang lain, sesungguhnya kita sedang melukai diri sendiri. Sebaliknya, ketika kita menolong sesama, pada hakikatnya kita sedang memuliakan kemanusiaan yang juga ada dalam diri kita.

Dalam konteks pembangunan Bali, makna Tumpek Krulut menemukan relevansinya melalui program Pemerintah Provinsi Bali, yaitu Jana Kerti, salah satu bagian dari enam kerti yang menitikberatkan pada pembangunan kualitas manusia Bali. Jana Kerti tidak hanya berbicara tentang peningkatan kecerdasan atau kesehatan masyarakat, tetapi juga pembangunan karakter, etika, solidaritas sosial, dan kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut sejatinya telah lama hidup dalam tradisi Tumpek Krulut.

Inilah yang menunjukkan bahwa Bali sesungguhnya telah memiliki kearifan lokal yang bernilai universal. Dunia boleh mengenal berbagai konsep tentang cinta kasih dan kemanusiaan, tetapi masyarakat Bali telah mewariskannya melalui tradisi yang diwariskan lintas generasi. Tumpek Krulut bukan sekadar ritual, melainkan pendidikan karakter yang hidup di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, Tumpek Krulut tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu terus disosialisasikan secara lebih masif, terutama kepada generasi muda. Kasih sayang tidak cukup diajarkan melalui kata-kata, tetapi perlu dibiasakan melalui keteladanan dalam keluarga, pendidikan di sekolah, pelayanan publik, kehidupan bermasyarakat, hingga ruang-ruang digital yang kini menjadi bagian dari keseharian.

Secara sekala, kita patut bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup berdampingan dengan sesama. Kesempatan itu bukan hanya untuk mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga untuk saling menjaga, saling menghormati, saling menguatkan, dan saling berbagi. Tidak ada keberhasilan yang bermakna apabila diperoleh dengan mengorbankan kemanusiaan.

Sementara secara niskala, Tumpek Krulut mengingatkan bahwa seluruh rasa kasih yang kita miliki sesungguhnya bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Karena itu, umat Hindu Bali menghaturkan bhakti dan sujud syukur sebagai ungkapan terima kasih atas anugerah kehidupan, cinta kasih, serta keharmonisan yang menyatukan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta.

Pada akhirnya, Tumpek Krulut mengajarkan bahwa kasih sayang bukanlah sesuatu yang dirayakan sehari, melainkan nilai yang dihidupi setiap hari. Di tengah dunia yang sering dipenuhi prasangka, kebencian, dan perpecahan, Bali sesungguhnya telah memiliki warisan yang sangat berharga. Tinggal bagaimana kita merawatnya, mengamalkannya, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Sebagaimana diajarkan dalam Bhagawad Gita XII.13,

“Adveshta sarva-bhutanam maitrah karuna eva ca”—

(Ia yang tidak membenci makhluk mana pun, bersahabat dan penuh kasih sayang kepada semua, dialah yang dicintai Tuhan).

Barangkali, itulah makna terdalam Tumpek Krulut: kasih sayang bukan sekadar tradisi Bali, melainkan jalan menuju kemuliaan manusia.[T]

Tags: agama hinduTumpek Krulutupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

Next Post

Tuhan Yang Maha Puisi

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Tuhan Yang Maha Puisi

Tuhan Yang Maha Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co