11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 1, 2026
in Esai
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

“Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan kehilangan pengawasan. Dan ketika kaum cendekiawan berhenti menjadi penjaga nurani, pembangunan dapat berubah menjadi perlombaan beton, investasi, dan angka-angka pertumbuhan yang melupakan manusia, alam, serta kebudayaan.”

Ketika Nurani Tak Lagi Bersuara

Hampir satu abad lalu, filsuf Prancis Julien Benda mengguncang dunia intelektual melalui bukunya La Trahison des Clercs (The Treason of the Intellectuals). Buku ini diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 1997 dan diberikan judul Pengkhianatan Kaum Cendekiawan. Ia mengingatkan bahwa pengkhianatan terbesar kaum cendekiawan bukanlah karena mereka bodoh, melainkan karena mereka meninggalkan panggilan sucinya sebagai penjaga kebenaran. Ketika ilmu diperalat demi kekuasaan, jabatan, atau kepentingan ekonomi, maka ilmu kehilangan ruhnya.

Peringatan Benda terasa semakin relevan di Indonesia, terutama ketika pembangunan sering dipersepsikan hanya sebagai pertumbuhan ekonomi dan derasnya investasi. Padahal pembangunan sejati tidak hanya membangun gedung, jalan, atau kawasan ekonomi, tetapi juga menjaga keadilan, kelestarian alam, dan martabat manusia.

Di Bali, pertanyaan itu menjadi semakin mendesak. Di manakah suara kaum cendekiawan ketika berbagai persoalan pembangunan terus bermunculan?

Bali di Persimpangan Sejarah

Tidak ada yang menolak kemajuan. Bali membutuhkan infrastruktur yang baik, investasi yang sehat, dan lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya. Namun, pembangunan tidak boleh kehilangan arah. Ketika sawah produktif terus beralih fungsi, kawasan pesisir mengalami tekanan, kemacetan semakin parah, krisis sampah belum terselesaikan, dan daya dukung lingkungan semakin menurun, maka pertanyaan tentang arah pembangunan menjadi sesuatu yang wajar.

Temuan Panitia Khusus (Pansus) TRAP DPRD Bali mengenai berbagai persoalan tata ruang menunjukkan bahwa pengawasan terhadap pembangunan bukanlah sekadar isu politik, melainkan bagian dari upaya menjaga tata kelola pemerintahan yang baik. Temuan tersebut patut menjadi bahan kajian akademik, evaluasi kebijakan, dan dialog publik yang terbuka. Justru di sinilah kaum cendekiawan seharusnya hadir memberikan analisis yang jujur, objektif, dan berbasis data.

Sayangnya, yang sering terdengar justru suara-suara yang memuji pembangunan tanpa diimbangi keberanian mengkritisi dampak jangka panjangnya. Kritik sering dipersepsikan sebagai anti-pembangunan, padahal kritik yang berbasis ilmu adalah syarat utama agar pembangunan tidak kehilangan arah.

Ketika Diam Menjadi Bentuk Pengkhianatan

Julien Benda tidak mengatakan bahwa setiap intelektual harus menjadi aktivis politik. Namun ia menegaskan bahwa seorang cendekiawan tidak boleh menggadaikan independensi berpikirnya. Ketika ilmu digunakan untuk membenarkan kebijakan yang keliru, atau ketika orang-orang berilmu memilih diam demi kenyamanan dan kedudukan, maka di situlah pengkhianatan dimulai.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana patut diajukan. Di manakah suara kampus ketika daya dukung lingkungan Bali semakin tertekan? Di manakah para ahli tata ruang ketika ruang terbuka hijau terus menyusut? Di manakah para pakar hukum ketika berbagai temuan resmi memunculkan pertanyaan mengenai tata kelola pembangunan? Dan di manakah suara para intelektual ketika masyarakat mulai merasakan bahwa Bali berkembang begitu cepat, tetapi tidak selalu memberikan rasa aman, nyaman, dan adil?

Diam memang tidak selalu berarti setuju. Namun dalam sejarah, diamnya orang-orang yang mengetahui persoalan sering kali membuat penyimpangan berlangsung lebih lama. Sebuah masyarakat membutuhkan intelektual yang berani mengoreksi, bukan sekadar mengamini.

Ilmu, Kesadaran, dan Dharma

Dalam perspektif Pancamaya Kosha yang diajarkan Taittiriya Upanishad, manusia tidak berhenti pada kesadaran fisik semata. Perjalanan manusia bergerak dari tubuh fisik (Annamaya Kosha), energi (Pranamaya Kosha), pikiran dan perasaan (Manomaya Kosha), kebijaksanaan (Vijnanamaya Kosha), hingga kebahagiaan sejati (Anandamaya Kosha). Artinya, ilmu pengetahuan baru mencapai puncaknya ketika melahirkan kebijaksanaan.

Ajaran tujuh chakra juga menunjukkan bahwa perkembangan kesadaran manusia bukan hanya berhenti pada urusan makan, sex dan kenyamanan semata, namun semestinya naik menuju kesadaran yang lebih tinggi dengan memunculkan kemanusiaan dalam diri. Sementara itu, Peta Kesadaran David R. Hawkins menjelaskan bahwa keberanian, integritas, dan cinta berada pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi daripada rasa takut, keserakahan, atau ambisi kekuasaan.

Karena itu, gelar akademik bukan jaminan lahirnya kebijaksanaan. Seorang profesor dapat kehilangan nuraninya apabila ilmunya dipisahkan dari dharma. Sebaliknya, seseorang yang sederhana tanpa gelar akademik apapun, dapat menjadi cahaya masyarakat apabila keberaniannya membela kebenaran lebih besar daripada ketakutannya kehilangan kenyamanan.

Dalam tradisi Veda, sosok ideal bukan hanya ilmuwan, melainkan ṛṣi—mereka yang menjadikan ilmu sebagai jalan menemukan kebenaran dan mengingatkan penguasa ketika menyimpang dari dharma. Itulah fungsi luhur kaum cendekiawan yang sesungguhnya.

Mengembalikan Bali ke Jalan Dharma

Bali tidak membutuhkan pembangunan yang hanya mengejar angka investasi atau pertumbuhan ekonomi. Bali membutuhkan pembangunan yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, budaya, dan spiritualitas. Kemajuan yang mengorbankan sawah, mata air, kawasan suci, dan identitas budaya pada akhirnya hanya meninggalkan kemewahan fisik yang miskin makna.

Karena itu, kaum cendekiawan tidak boleh menjadi penonton. Mereka harus kembali menjadi penjaga nurani masyarakat. Kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan kritis. Penelitian harus menjadi alat menemukan kebenaran, bukan sekadar memenuhi target publikasi. Dan ilmu pengetahuan harus kembali berpihak kepada kepentingan rakyat serta kelestarian Bali.

Bali tidak kekurangan profesor, doktor, pakar, maupun intelektual. Yang dibutuhkan Bali hari ini adalah lebih banyak ṛṣi—mereka yang menjadikan ilmu sebagai cahaya, bukan komoditas; yang menjadikan kebenaran sebagai pengabdian, bukan transaksi. Sebab ketika kaum cendekiawan kembali berdiri di pihak dharma, pembangunan tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Dia Yang Satu Adanya.

Sejarah pada akhirnya tidak hanya mengingat siapa yang membangun gedung-gedung megah. Sejarah juga akan mencatat siapa yang berani menjaga nurani sebuah peradaban. Dan ketika kaum cendekiawan kembali menemukan keberaniannya, Bali masih memiliki harapan untuk berkembang tanpa kehilangan jiwanya.

Satyameva Jayate—hanya kebenaranlah yang pada akhirnya akan menang. [T]

Tags: bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

Next Post

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co