1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 1, 2026
in Esai
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

“Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan kehilangan pengawasan. Dan ketika kaum cendekiawan berhenti menjadi penjaga nurani, pembangunan dapat berubah menjadi perlombaan beton, investasi, dan angka-angka pertumbuhan yang melupakan manusia, alam, serta kebudayaan.”

Ketika Nurani Tak Lagi Bersuara

Hampir satu abad lalu, filsuf Prancis Julien Benda mengguncang dunia intelektual melalui bukunya La Trahison des Clercs (The Treason of the Intellectuals). Buku ini diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 1997 dan diberikan judul Pengkhianatan Kaum Cendekiawan. Ia mengingatkan bahwa pengkhianatan terbesar kaum cendekiawan bukanlah karena mereka bodoh, melainkan karena mereka meninggalkan panggilan sucinya sebagai penjaga kebenaran. Ketika ilmu diperalat demi kekuasaan, jabatan, atau kepentingan ekonomi, maka ilmu kehilangan ruhnya.

Peringatan Benda terasa semakin relevan di Indonesia, terutama ketika pembangunan sering dipersepsikan hanya sebagai pertumbuhan ekonomi dan derasnya investasi. Padahal pembangunan sejati tidak hanya membangun gedung, jalan, atau kawasan ekonomi, tetapi juga menjaga keadilan, kelestarian alam, dan martabat manusia.

Di Bali, pertanyaan itu menjadi semakin mendesak. Di manakah suara kaum cendekiawan ketika berbagai persoalan pembangunan terus bermunculan?

Bali di Persimpangan Sejarah

Tidak ada yang menolak kemajuan. Bali membutuhkan infrastruktur yang baik, investasi yang sehat, dan lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya. Namun, pembangunan tidak boleh kehilangan arah. Ketika sawah produktif terus beralih fungsi, kawasan pesisir mengalami tekanan, kemacetan semakin parah, krisis sampah belum terselesaikan, dan daya dukung lingkungan semakin menurun, maka pertanyaan tentang arah pembangunan menjadi sesuatu yang wajar.

Temuan Panitia Khusus (Pansus) TRAP DPRD Bali mengenai berbagai persoalan tata ruang menunjukkan bahwa pengawasan terhadap pembangunan bukanlah sekadar isu politik, melainkan bagian dari upaya menjaga tata kelola pemerintahan yang baik. Temuan tersebut patut menjadi bahan kajian akademik, evaluasi kebijakan, dan dialog publik yang terbuka. Justru di sinilah kaum cendekiawan seharusnya hadir memberikan analisis yang jujur, objektif, dan berbasis data.

Sayangnya, yang sering terdengar justru suara-suara yang memuji pembangunan tanpa diimbangi keberanian mengkritisi dampak jangka panjangnya. Kritik sering dipersepsikan sebagai anti-pembangunan, padahal kritik yang berbasis ilmu adalah syarat utama agar pembangunan tidak kehilangan arah.

Ketika Diam Menjadi Bentuk Pengkhianatan

Julien Benda tidak mengatakan bahwa setiap intelektual harus menjadi aktivis politik. Namun ia menegaskan bahwa seorang cendekiawan tidak boleh menggadaikan independensi berpikirnya. Ketika ilmu digunakan untuk membenarkan kebijakan yang keliru, atau ketika orang-orang berilmu memilih diam demi kenyamanan dan kedudukan, maka di situlah pengkhianatan dimulai.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana patut diajukan. Di manakah suara kampus ketika daya dukung lingkungan Bali semakin tertekan? Di manakah para ahli tata ruang ketika ruang terbuka hijau terus menyusut? Di manakah para pakar hukum ketika berbagai temuan resmi memunculkan pertanyaan mengenai tata kelola pembangunan? Dan di manakah suara para intelektual ketika masyarakat mulai merasakan bahwa Bali berkembang begitu cepat, tetapi tidak selalu memberikan rasa aman, nyaman, dan adil?

Diam memang tidak selalu berarti setuju. Namun dalam sejarah, diamnya orang-orang yang mengetahui persoalan sering kali membuat penyimpangan berlangsung lebih lama. Sebuah masyarakat membutuhkan intelektual yang berani mengoreksi, bukan sekadar mengamini.

Ilmu, Kesadaran, dan Dharma

Dalam perspektif Pancamaya Kosha yang diajarkan Taittiriya Upanishad, manusia tidak berhenti pada kesadaran fisik semata. Perjalanan manusia bergerak dari tubuh fisik (Annamaya Kosha), energi (Pranamaya Kosha), pikiran dan perasaan (Manomaya Kosha), kebijaksanaan (Vijnanamaya Kosha), hingga kebahagiaan sejati (Anandamaya Kosha). Artinya, ilmu pengetahuan baru mencapai puncaknya ketika melahirkan kebijaksanaan.

Ajaran tujuh chakra juga menunjukkan bahwa perkembangan kesadaran manusia bukan hanya berhenti pada urusan makan, sex dan kenyamanan semata, namun semestinya naik menuju kesadaran yang lebih tinggi dengan memunculkan kemanusiaan dalam diri. Sementara itu, Peta Kesadaran David R. Hawkins menjelaskan bahwa keberanian, integritas, dan cinta berada pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi daripada rasa takut, keserakahan, atau ambisi kekuasaan.

Karena itu, gelar akademik bukan jaminan lahirnya kebijaksanaan. Seorang profesor dapat kehilangan nuraninya apabila ilmunya dipisahkan dari dharma. Sebaliknya, seseorang yang sederhana tanpa gelar akademik apapun, dapat menjadi cahaya masyarakat apabila keberaniannya membela kebenaran lebih besar daripada ketakutannya kehilangan kenyamanan.

Dalam tradisi Veda, sosok ideal bukan hanya ilmuwan, melainkan ṛṣi—mereka yang menjadikan ilmu sebagai jalan menemukan kebenaran dan mengingatkan penguasa ketika menyimpang dari dharma. Itulah fungsi luhur kaum cendekiawan yang sesungguhnya.

Mengembalikan Bali ke Jalan Dharma

Bali tidak membutuhkan pembangunan yang hanya mengejar angka investasi atau pertumbuhan ekonomi. Bali membutuhkan pembangunan yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, budaya, dan spiritualitas. Kemajuan yang mengorbankan sawah, mata air, kawasan suci, dan identitas budaya pada akhirnya hanya meninggalkan kemewahan fisik yang miskin makna.

Karena itu, kaum cendekiawan tidak boleh menjadi penonton. Mereka harus kembali menjadi penjaga nurani masyarakat. Kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan kritis. Penelitian harus menjadi alat menemukan kebenaran, bukan sekadar memenuhi target publikasi. Dan ilmu pengetahuan harus kembali berpihak kepada kepentingan rakyat serta kelestarian Bali.

Bali tidak kekurangan profesor, doktor, pakar, maupun intelektual. Yang dibutuhkan Bali hari ini adalah lebih banyak ṛṣi—mereka yang menjadikan ilmu sebagai cahaya, bukan komoditas; yang menjadikan kebenaran sebagai pengabdian, bukan transaksi. Sebab ketika kaum cendekiawan kembali berdiri di pihak dharma, pembangunan tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Dia Yang Satu Adanya.

Sejarah pada akhirnya tidak hanya mengingat siapa yang membangun gedung-gedung megah. Sejarah juga akan mencatat siapa yang berani menjaga nurani sebuah peradaban. Dan ketika kaum cendekiawan kembali menemukan keberaniannya, Bali masih memiliki harapan untuk berkembang tanpa kehilangan jiwanya.

Satyameva Jayate—hanya kebenaranlah yang pada akhirnya akan menang. [T]

Tags: bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

Next Post

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co