22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 1, 2026
in Esai
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

“Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan kehilangan pengawasan. Dan ketika kaum cendekiawan berhenti menjadi penjaga nurani, pembangunan dapat berubah menjadi perlombaan beton, investasi, dan angka-angka pertumbuhan yang melupakan manusia, alam, serta kebudayaan.”

Ketika Nurani Tak Lagi Bersuara

Hampir satu abad lalu, filsuf Prancis Julien Benda mengguncang dunia intelektual melalui bukunya La Trahison des Clercs (The Treason of the Intellectuals). Buku ini diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 1997 dan diberikan judul Pengkhianatan Kaum Cendekiawan. Ia mengingatkan bahwa pengkhianatan terbesar kaum cendekiawan bukanlah karena mereka bodoh, melainkan karena mereka meninggalkan panggilan sucinya sebagai penjaga kebenaran. Ketika ilmu diperalat demi kekuasaan, jabatan, atau kepentingan ekonomi, maka ilmu kehilangan ruhnya.

Peringatan Benda terasa semakin relevan di Indonesia, terutama ketika pembangunan sering dipersepsikan hanya sebagai pertumbuhan ekonomi dan derasnya investasi. Padahal pembangunan sejati tidak hanya membangun gedung, jalan, atau kawasan ekonomi, tetapi juga menjaga keadilan, kelestarian alam, dan martabat manusia.

Di Bali, pertanyaan itu menjadi semakin mendesak. Di manakah suara kaum cendekiawan ketika berbagai persoalan pembangunan terus bermunculan?

Bali di Persimpangan Sejarah

Tidak ada yang menolak kemajuan. Bali membutuhkan infrastruktur yang baik, investasi yang sehat, dan lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya. Namun, pembangunan tidak boleh kehilangan arah. Ketika sawah produktif terus beralih fungsi, kawasan pesisir mengalami tekanan, kemacetan semakin parah, krisis sampah belum terselesaikan, dan daya dukung lingkungan semakin menurun, maka pertanyaan tentang arah pembangunan menjadi sesuatu yang wajar.

Temuan Panitia Khusus (Pansus) TRAP DPRD Bali mengenai berbagai persoalan tata ruang menunjukkan bahwa pengawasan terhadap pembangunan bukanlah sekadar isu politik, melainkan bagian dari upaya menjaga tata kelola pemerintahan yang baik. Temuan tersebut patut menjadi bahan kajian akademik, evaluasi kebijakan, dan dialog publik yang terbuka. Justru di sinilah kaum cendekiawan seharusnya hadir memberikan analisis yang jujur, objektif, dan berbasis data.

Sayangnya, yang sering terdengar justru suara-suara yang memuji pembangunan tanpa diimbangi keberanian mengkritisi dampak jangka panjangnya. Kritik sering dipersepsikan sebagai anti-pembangunan, padahal kritik yang berbasis ilmu adalah syarat utama agar pembangunan tidak kehilangan arah.

Ketika Diam Menjadi Bentuk Pengkhianatan

Julien Benda tidak mengatakan bahwa setiap intelektual harus menjadi aktivis politik. Namun ia menegaskan bahwa seorang cendekiawan tidak boleh menggadaikan independensi berpikirnya. Ketika ilmu digunakan untuk membenarkan kebijakan yang keliru, atau ketika orang-orang berilmu memilih diam demi kenyamanan dan kedudukan, maka di situlah pengkhianatan dimulai.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana patut diajukan. Di manakah suara kampus ketika daya dukung lingkungan Bali semakin tertekan? Di manakah para ahli tata ruang ketika ruang terbuka hijau terus menyusut? Di manakah para pakar hukum ketika berbagai temuan resmi memunculkan pertanyaan mengenai tata kelola pembangunan? Dan di manakah suara para intelektual ketika masyarakat mulai merasakan bahwa Bali berkembang begitu cepat, tetapi tidak selalu memberikan rasa aman, nyaman, dan adil?

Diam memang tidak selalu berarti setuju. Namun dalam sejarah, diamnya orang-orang yang mengetahui persoalan sering kali membuat penyimpangan berlangsung lebih lama. Sebuah masyarakat membutuhkan intelektual yang berani mengoreksi, bukan sekadar mengamini.

Ilmu, Kesadaran, dan Dharma

Dalam perspektif Pancamaya Kosha yang diajarkan Taittiriya Upanishad, manusia tidak berhenti pada kesadaran fisik semata. Perjalanan manusia bergerak dari tubuh fisik (Annamaya Kosha), energi (Pranamaya Kosha), pikiran dan perasaan (Manomaya Kosha), kebijaksanaan (Vijnanamaya Kosha), hingga kebahagiaan sejati (Anandamaya Kosha). Artinya, ilmu pengetahuan baru mencapai puncaknya ketika melahirkan kebijaksanaan.

Ajaran tujuh chakra juga menunjukkan bahwa perkembangan kesadaran manusia bukan hanya berhenti pada urusan makan, sex dan kenyamanan semata, namun semestinya naik menuju kesadaran yang lebih tinggi dengan memunculkan kemanusiaan dalam diri. Sementara itu, Peta Kesadaran David R. Hawkins menjelaskan bahwa keberanian, integritas, dan cinta berada pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi daripada rasa takut, keserakahan, atau ambisi kekuasaan.

Karena itu, gelar akademik bukan jaminan lahirnya kebijaksanaan. Seorang profesor dapat kehilangan nuraninya apabila ilmunya dipisahkan dari dharma. Sebaliknya, seseorang yang sederhana tanpa gelar akademik apapun, dapat menjadi cahaya masyarakat apabila keberaniannya membela kebenaran lebih besar daripada ketakutannya kehilangan kenyamanan.

Dalam tradisi Veda, sosok ideal bukan hanya ilmuwan, melainkan ṛṣi—mereka yang menjadikan ilmu sebagai jalan menemukan kebenaran dan mengingatkan penguasa ketika menyimpang dari dharma. Itulah fungsi luhur kaum cendekiawan yang sesungguhnya.

Mengembalikan Bali ke Jalan Dharma

Bali tidak membutuhkan pembangunan yang hanya mengejar angka investasi atau pertumbuhan ekonomi. Bali membutuhkan pembangunan yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, budaya, dan spiritualitas. Kemajuan yang mengorbankan sawah, mata air, kawasan suci, dan identitas budaya pada akhirnya hanya meninggalkan kemewahan fisik yang miskin makna.

Karena itu, kaum cendekiawan tidak boleh menjadi penonton. Mereka harus kembali menjadi penjaga nurani masyarakat. Kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan kritis. Penelitian harus menjadi alat menemukan kebenaran, bukan sekadar memenuhi target publikasi. Dan ilmu pengetahuan harus kembali berpihak kepada kepentingan rakyat serta kelestarian Bali.

Bali tidak kekurangan profesor, doktor, pakar, maupun intelektual. Yang dibutuhkan Bali hari ini adalah lebih banyak ṛṣi—mereka yang menjadikan ilmu sebagai cahaya, bukan komoditas; yang menjadikan kebenaran sebagai pengabdian, bukan transaksi. Sebab ketika kaum cendekiawan kembali berdiri di pihak dharma, pembangunan tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Dia Yang Satu Adanya.

Sejarah pada akhirnya tidak hanya mengingat siapa yang membangun gedung-gedung megah. Sejarah juga akan mencatat siapa yang berani menjaga nurani sebuah peradaban. Dan ketika kaum cendekiawan kembali menemukan keberaniannya, Bali masih memiliki harapan untuk berkembang tanpa kehilangan jiwanya.

Satyameva Jayate—hanya kebenaranlah yang pada akhirnya akan menang. [T]

Tags: bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

Next Post

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co