8 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
in Esai
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

Almarhum Made Taro (1939-2026) | Foto: BASAIbu Wiki

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath Tagore itu saya lontarkan sebagai penutup lokakarya “Sastra Masuk Kurikulum”, serangkaian Festival Seni Bali Jani VIII di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Denpasar, Senin (20/7/2026).

Ajakan itu saya kaitkan dengan pengenalan sastra melalui kunjungan ke rumah sastrawan uzur yang tidak memungkinkan diundang ke sekolah karena keterbatasan kondisinya. Saat itu, secara refleks saya menyebut I Made Taro. Tiga hari kemudian, bertepatan dengan Hari Anak Nasional, 23 Juli 2026, beliau berpulang di Rumah Sakit Bali Mandara setelah dirawat selama lebih dari dua pekan. Ia wafat dalam usia 87 tahun (lahir di Sengkidu, Karangasem, 16 April 1939 dan wafat di Denpasar, 23 Juli 2026).

Secara khusus, saya memiliki ikatan batin dengan Sang Maestro Made Taro. Pada 2006, ketika mulai menjadi kepala sekolah di SMA yang baru berdiri, saya mempercayakan penggarapan Mars SMA Negeri 2 Kuta kepada beliau. Lalu, pada 11 Februari 2023, saya kembali mengundang beliau dalam kegiatan outbound Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) SMA Negeri 2 Kuta Selatan di Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Bali. Kegiatan itu merupakan bagian dari pembentukan karakter pascapandemi Covid-19 sekaligus character building untuk mendukung well-being para GTK.

Selanjutnya, dalam rangkaian Pasraman Kilat bagi siswa pada 16 Juni 2023, saya juga mengundang beliau untuk mengedukasi para murid melalui dongeng.

Belajar bersama Maestro Made Taro diakhiri dengan berfoto bersama di Kebun Raya Ekakarya Bedugul Tabanan Bali (Sabtu, 11 Februari 2023) | Foto: Dok. Penulis

Kegiatan belajar bersama Maestro Made Taro di Kebun Raya Bedugul dibuka dengan dongeng berjudul “Memohon Hujan” yang dibawakan secara atraktif sambil bernyanyi. Kisahnya dimulai dari kegelisahan kodok, jengkrik, dan manusia akibat kekeringan. Mula-mula, kodok yang paling kepanasan memohon hujan kepada Dewi Hujan. Berkali-kali Si Kodok berdoa, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan” (Oh Tuhan, berkenanlah menurunkan hujan). Berkali-kali pula ia memohon, tetapi doanya belum dikabulkan. Sampai-sampai Si Kodok mengatakan Dewa Hujan pelit.

Makhluk lain juga merasakan kepanasan akibat kemarau panjang, termasuk jengkrik. Jengkrik pun berdoa. Doanya sama dengan doa Si Kodok, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan”. Namun, nasib si jengkrik juga apes. Hujan tak kunjung turun. Doanya terus diulang-ulang.

Kemudian, tibalah giliran manusia memanjatkan doa. Sawah-sawah mengering, padi tak dapat tumbuh, dan para petani mulai kelaparan. Manusia pun berdoa beramai-ramai dengan doa yang sama, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan”.

Begitulah doa terus diulang oleh Si Kodok, Si Jengkrik, dan Manusia. Bersamaan dengan itu, Made Taro memainkan instrumen cungklik dengan irama yang ritmis. Tiba-tiba petir bergemuruh menggelegar dari langit. Awan menebal. Langit menghitam. Hujan pun turun.

Si Kodok, Si Jengkrik, dan Si Manusia bersukaria. Si Kodok bersahut-sahutan karena kegembiraannya. Begitu pula Si Jengkrik dan Manusia. Doa mereka akhirnya dikabulkan setelah terjalin kerja sama yang bersifat tripartit. Koalisi yang padu di antara mereka menunjukkan bahwa setiap makhluk saling membutuhkan berkah hujan.

Begitulah dongeng dimainkan oleh Made Taro bersama putranya, Gede Tarmada (meninggal 27 November 2024), dan cucunya, Made Tarayana Amada Putra. Dongeng dipentaskan dengan sentuhan vokal yang diiringi instrumen cungklik bambu. Uniknya, cungklik itu dibuat dari barang bekas. Potongan-potongan bambu sisa bangunan yang dibuang begitu saja oleh undagi dipilih, kemudian dipadukan dan diselaraskan nadanya untuk mengiringi dongeng dengan maplalian.

Dongengnya pun khas Bali, terinspirasi dari tradisi agraris yang menjadi landasan peradaban Nusantara. Pertunjukan dibuka dengan intro irama cungklik, musik bambu yang dipukul, lalu dilanjutkan narasi dalam bahasa Indonesia yang disandingkan dengan lagu permohonan berbahasa Bali dan diiringi suara kodok. Para peserta pun berimprovisasi menjadi kodok ganteng dan kodok cantik untuk menyambut datangnya hujan. Seru.

“Dongeng ini ternyata dijawab alam. Tiba-tiba saja hujan gerimis datang. Sepanjang perjalanan pulang dari Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Tabanan, menyusuri tepi Danau Beratan hingga Denpasar, hujan turun sangat lebat. Dongeng memohon hujan menjadi kenyataan,” kata Wolf Bagus Wiguna yang mengantar Sang Maestro pulang-pergi dari Denpasar ke Bedugul.

Berbeda dengan dongeng yang disampaikan kepada siswa saat Pasraman Kilat pada 16 Juni 2023, kali ini Made Taro membawakan dongeng berjudul “Cinta dan Pariwisata” yang disesuaikan dengan kecenderungan remaja serta lokasi sekolah yang berada di kawasan pariwisata. Sebagai SMA di daerah pariwisata, Made Taro mengkreasikan dongeng-dongengnya dengan memadukan puisi. Puisi yang dipilihnya, “Pan Jantuk Magatra”, diambil dari buku Bebek Punyah (2004) terbitan Balai Bahasa Denpasar.

Puisi “Pan Jantuk Magatra” sangat lekat dengan situasi perubahan cepat di Nusa Dua dan sekitarnya akibat pembangunan pariwisata yang boros lahan. Para petani bersedih karena kehilangan abian jagung. Bentang alam diperkosa. Pepohonan ditebang. Tebing-tebing dipangkas. Beton tumbuh subur. Area bermain layang-layang pun lenyap. Pantai berubah menjadi ruang privat yang dijaga satpam galak-galak. Padahal sebelumnya, pantai merupakan ruang publik tempat anak-anak bercengkerama sambil mencari yuyu.

Nuju kacunduk/magatra Pan Jantuk,subuk ortane/numpuk sebete/
Inget layangan makorot ?/ditu nyanggol/di muncuk kelampok/kayang akah bongkol/ makatrol
magayot/magentos beton/
Di pesisi kelod/nampi pasih aad/cerik-cerik mrerod/makekarang bungan kapad/nyuluh ulad-
ulad/munuh yuh gremong/awaregan kanggo/da cening ngapak-apak/satpame galak-
galak/pasisi ento kocap/genah turis nglincak/… “Lacuran Cening lekad/luungan i maluan”…

Puisi yang sarat kritik sosial itu diolah Made Taro dalam bentuk permainan yang dipadukan dengan alunan musik dan pembacaan puisi. Puisi menjadi hidup dalam permainan. Permainan pun kian menggugah. Siswa riang gembira. Amanat puisi menyentuh sukma. Mereka diajak mengenang masa silam yang penuh sukacita, saat bermain layang-layang menjadi bagian dari keseharian. Lagu layang-layang pun mengalun. Namun kini, lapangan untuk bermain layang-layang semakin sulit ditemukan. Kalaupun masih ada, berbagai larangan diberlakukan demi keamanan helikopter yang lalu-lalang, konon demi wisatawan. Duh, Dewa Ratu!

Almarhum Made Taro (1939-2026) | Foto: BASAIbu Wiki

Begitulah Made Taro berdialog dengan anak-anak melalui dongeng. Ia mengajak jiwa mereka untuk bersikap kritis terhadap pembangunan pariwisata melalui maplalian. Kini Sang Maestro telah tiada. Bertepatan dengan Sasih Karo, kita kehilangan Made Taro. Tentang sasih ini pula, Made Taro melahirkan puisi berjudul “Sasih Karo ring Bali”.

Sasih karo ring Bali,
sediain saput alembar,
suryane ngedengang raga,
nanging kenyem ipun dingin
katiba ring kopine acangkir
Angin daret tur angin pesisi
mayus ipun ngupinin taru-taruan,
rauh ring puncak meru,
nenten wenten kidung rahina mangkin,
mawinan nenten wenten rahinan katur ring
suryan jagat,
angin tur garba
Sasih karo ring Bali,
ambil saput alembar
kurung ragane sarahina
ngiring mapaos raga-raga
sareng kopi acangkir

Bagi Made Taro, Sasih Karo bukan sekadar sasih dingin ketika di pegunungan mulai memasuki musim kopi, melainkan juga sasih untuk melakukan dialog dengan diri sendiri melalui kontemplasi. “kurung ragane sarahina, ngiring mapaos raga-raga, sareng kopi acangkir”. Bait pendek itu mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Mengurung diri sehari penuh, membaca diri sendiri, ditemani secangkir kopi. Kontemplasi tampaknya menjadi pilihan yang tepat ketika matahari pun enggan menampakkan diri. Begitu pula angin darat dan angin laut yang seakan bermalas-malasan. Saat itulah waktunya diam. Merenung. Meneng. Hening. Tenang.

Begitulah pilihan Sang Maestro untuk pulang ke rumah abadi, enam hari menjelang Purnama Sasih Karo. Namun, maplalian dalam dongeng-dongengnya akan tetap abadi di dunia anak-anak. Siapa tahu, saat Purnama Sasih Karo, 29 Juli 2026, tiga hari setelah diaben, Sang Maestro sedang asyik mendongeng di alam keabadian. Menghibur mereka yang telah lebih dahulu berpulang, sebagaimana sepanjang hidupnya ia menghibur anak-anak melalui seni mendongeng. Ars longa, vita brevis.[T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

Tags: in memoriamMade Taroobituari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

Next Post

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails
Next Post
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co