29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
in Esai
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

Almarhum Made Taro (1939-2026) | Foto: BASAIbu Wiki

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath Tagore itu saya lontarkan sebagai penutup lokakarya “Sastra Masuk Kurikulum”, serangkaian Festival Seni Bali Jani VIII di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Denpasar, Senin (20/7/2026).

Ajakan itu saya kaitkan dengan pengenalan sastra melalui kunjungan ke rumah sastrawan uzur yang tidak memungkinkan diundang ke sekolah karena keterbatasan kondisinya. Saat itu, secara refleks saya menyebut I Made Taro. Tiga hari kemudian, bertepatan dengan Hari Anak Nasional, 23 Juli 2026, beliau berpulang di Rumah Sakit Bali Mandara setelah dirawat selama lebih dari dua pekan. Ia wafat dalam usia 87 tahun (lahir di Sengkidu, Karangasem, 16 April 1939 dan wafat di Denpasar, 23 Juli 2026).

Secara khusus, saya memiliki ikatan batin dengan Sang Maestro Made Taro. Pada 2006, ketika mulai menjadi kepala sekolah di SMA yang baru berdiri, saya mempercayakan penggarapan Mars SMA Negeri 2 Kuta kepada beliau. Lalu, pada 11 Februari 2023, saya kembali mengundang beliau dalam kegiatan outbound Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) SMA Negeri 2 Kuta Selatan di Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Bali. Kegiatan itu merupakan bagian dari pembentukan karakter pascapandemi Covid-19 sekaligus character building untuk mendukung well-being para GTK.

Selanjutnya, dalam rangkaian Pasraman Kilat bagi siswa pada 16 Juni 2023, saya juga mengundang beliau untuk mengedukasi para murid melalui dongeng.

Belajar bersama Maestro Made Taro diakhiri dengan berfoto bersama di Kebun Raya Ekakarya Bedugul Tabanan Bali (Sabtu, 11 Februari 2023) | Foto: Dok. Penulis

Kegiatan belajar bersama Maestro Made Taro di Kebun Raya Bedugul dibuka dengan dongeng berjudul “Memohon Hujan” yang dibawakan secara atraktif sambil bernyanyi. Kisahnya dimulai dari kegelisahan kodok, jengkrik, dan manusia akibat kekeringan. Mula-mula, kodok yang paling kepanasan memohon hujan kepada Dewi Hujan. Berkali-kali Si Kodok berdoa, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan” (Oh Tuhan, berkenanlah menurunkan hujan). Berkali-kali pula ia memohon, tetapi doanya belum dikabulkan. Sampai-sampai Si Kodok mengatakan Dewa Hujan pelit.

Makhluk lain juga merasakan kepanasan akibat kemarau panjang, termasuk jengkrik. Jengkrik pun berdoa. Doanya sama dengan doa Si Kodok, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan”. Namun, nasib si jengkrik juga apes. Hujan tak kunjung turun. Doanya terus diulang-ulang.

Kemudian, tibalah giliran manusia memanjatkan doa. Sawah-sawah mengering, padi tak dapat tumbuh, dan para petani mulai kelaparan. Manusia pun berdoa beramai-ramai dengan doa yang sama, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan”.

Begitulah doa terus diulang oleh Si Kodok, Si Jengkrik, dan Manusia. Bersamaan dengan itu, Made Taro memainkan instrumen cungklik dengan irama yang ritmis. Tiba-tiba petir bergemuruh menggelegar dari langit. Awan menebal. Langit menghitam. Hujan pun turun.

Si Kodok, Si Jengkrik, dan Si Manusia bersukaria. Si Kodok bersahut-sahutan karena kegembiraannya. Begitu pula Si Jengkrik dan Manusia. Doa mereka akhirnya dikabulkan setelah terjalin kerja sama yang bersifat tripartit. Koalisi yang padu di antara mereka menunjukkan bahwa setiap makhluk saling membutuhkan berkah hujan.

Begitulah dongeng dimainkan oleh Made Taro bersama putranya, Gede Tarmada (meninggal 27 November 2024), dan cucunya, Made Tarayana Amada Putra. Dongeng dipentaskan dengan sentuhan vokal yang diiringi instrumen cungklik bambu. Uniknya, cungklik itu dibuat dari barang bekas. Potongan-potongan bambu sisa bangunan yang dibuang begitu saja oleh undagi dipilih, kemudian dipadukan dan diselaraskan nadanya untuk mengiringi dongeng dengan maplalian.

Dongengnya pun khas Bali, terinspirasi dari tradisi agraris yang menjadi landasan peradaban Nusantara. Pertunjukan dibuka dengan intro irama cungklik, musik bambu yang dipukul, lalu dilanjutkan narasi dalam bahasa Indonesia yang disandingkan dengan lagu permohonan berbahasa Bali dan diiringi suara kodok. Para peserta pun berimprovisasi menjadi kodok ganteng dan kodok cantik untuk menyambut datangnya hujan. Seru.

“Dongeng ini ternyata dijawab alam. Tiba-tiba saja hujan gerimis datang. Sepanjang perjalanan pulang dari Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Tabanan, menyusuri tepi Danau Beratan hingga Denpasar, hujan turun sangat lebat. Dongeng memohon hujan menjadi kenyataan,” kata Wolf Bagus Wiguna yang mengantar Sang Maestro pulang-pergi dari Denpasar ke Bedugul.

Berbeda dengan dongeng yang disampaikan kepada siswa saat Pasraman Kilat pada 16 Juni 2023, kali ini Made Taro membawakan dongeng berjudul “Cinta dan Pariwisata” yang disesuaikan dengan kecenderungan remaja serta lokasi sekolah yang berada di kawasan pariwisata. Sebagai SMA di daerah pariwisata, Made Taro mengkreasikan dongeng-dongengnya dengan memadukan puisi. Puisi yang dipilihnya, “Pan Jantuk Magatra”, diambil dari buku Bebek Punyah (2004) terbitan Balai Bahasa Denpasar.

Puisi “Pan Jantuk Magatra” sangat lekat dengan situasi perubahan cepat di Nusa Dua dan sekitarnya akibat pembangunan pariwisata yang boros lahan. Para petani bersedih karena kehilangan abian jagung. Bentang alam diperkosa. Pepohonan ditebang. Tebing-tebing dipangkas. Beton tumbuh subur. Area bermain layang-layang pun lenyap. Pantai berubah menjadi ruang privat yang dijaga satpam galak-galak. Padahal sebelumnya, pantai merupakan ruang publik tempat anak-anak bercengkerama sambil mencari yuyu.

Nuju kacunduk/magatra Pan Jantuk,subuk ortane/numpuk sebete/
Inget layangan makorot ?/ditu nyanggol/di muncuk kelampok/kayang akah bongkol/ makatrol
magayot/magentos beton/
Di pesisi kelod/nampi pasih aad/cerik-cerik mrerod/makekarang bungan kapad/nyuluh ulad-
ulad/munuh yuh gremong/awaregan kanggo/da cening ngapak-apak/satpame galak-
galak/pasisi ento kocap/genah turis nglincak/… “Lacuran Cening lekad/luungan i maluan”…

Puisi yang sarat kritik sosial itu diolah Made Taro dalam bentuk permainan yang dipadukan dengan alunan musik dan pembacaan puisi. Puisi menjadi hidup dalam permainan. Permainan pun kian menggugah. Siswa riang gembira. Amanat puisi menyentuh sukma. Mereka diajak mengenang masa silam yang penuh sukacita, saat bermain layang-layang menjadi bagian dari keseharian. Lagu layang-layang pun mengalun. Namun kini, lapangan untuk bermain layang-layang semakin sulit ditemukan. Kalaupun masih ada, berbagai larangan diberlakukan demi keamanan helikopter yang lalu-lalang, konon demi wisatawan. Duh, Dewa Ratu!

Almarhum Made Taro (1939-2026) | Foto: BASAIbu Wiki

Begitulah Made Taro berdialog dengan anak-anak melalui dongeng. Ia mengajak jiwa mereka untuk bersikap kritis terhadap pembangunan pariwisata melalui maplalian. Kini Sang Maestro telah tiada. Bertepatan dengan Sasih Karo, kita kehilangan Made Taro. Tentang sasih ini pula, Made Taro melahirkan puisi berjudul “Sasih Karo ring Bali”.

Sasih karo ring Bali,
sediain saput alembar,
suryane ngedengang raga,
nanging kenyem ipun dingin
katiba ring kopine acangkir
Angin daret tur angin pesisi
mayus ipun ngupinin taru-taruan,
rauh ring puncak meru,
nenten wenten kidung rahina mangkin,
mawinan nenten wenten rahinan katur ring
suryan jagat,
angin tur garba
Sasih karo ring Bali,
ambil saput alembar
kurung ragane sarahina
ngiring mapaos raga-raga
sareng kopi acangkir

Bagi Made Taro, Sasih Karo bukan sekadar sasih dingin ketika di pegunungan mulai memasuki musim kopi, melainkan juga sasih untuk melakukan dialog dengan diri sendiri melalui kontemplasi. “kurung ragane sarahina, ngiring mapaos raga-raga, sareng kopi acangkir”. Bait pendek itu mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Mengurung diri sehari penuh, membaca diri sendiri, ditemani secangkir kopi. Kontemplasi tampaknya menjadi pilihan yang tepat ketika matahari pun enggan menampakkan diri. Begitu pula angin darat dan angin laut yang seakan bermalas-malasan. Saat itulah waktunya diam. Merenung. Meneng. Hening. Tenang.

Begitulah pilihan Sang Maestro untuk pulang ke rumah abadi, enam hari menjelang Purnama Sasih Karo. Namun, maplalian dalam dongeng-dongengnya akan tetap abadi di dunia anak-anak. Siapa tahu, saat Purnama Sasih Karo, 29 Juli 2026, tiga hari setelah diaben, Sang Maestro sedang asyik mendongeng di alam keabadian. Menghibur mereka yang telah lebih dahulu berpulang, sebagaimana sepanjang hidupnya ia menghibur anak-anak melalui seni mendongeng. Ars longa, vita brevis.[T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

Tags: in memoriamMade Taroobituari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

Next Post

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails
Next Post
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co