19 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
in Esai
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

Almarhum Made Taro (1939-2026) | Foto: BASAIbu Wiki

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath Tagore itu saya lontarkan sebagai penutup lokakarya “Sastra Masuk Kurikulum”, serangkaian Festival Seni Bali Jani VIII di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Denpasar, Senin (20/7/2026).

Ajakan itu saya kaitkan dengan pengenalan sastra melalui kunjungan ke rumah sastrawan uzur yang tidak memungkinkan diundang ke sekolah karena keterbatasan kondisinya. Saat itu, secara refleks saya menyebut I Made Taro. Tiga hari kemudian, bertepatan dengan Hari Anak Nasional, 23 Juli 2026, beliau berpulang di Rumah Sakit Bali Mandara setelah dirawat selama lebih dari dua pekan. Ia wafat dalam usia 87 tahun (lahir di Sengkidu, Karangasem, 16 April 1939 dan wafat di Denpasar, 23 Juli 2026).

Secara khusus, saya memiliki ikatan batin dengan Sang Maestro Made Taro. Pada 2006, ketika mulai menjadi kepala sekolah di SMA yang baru berdiri, saya mempercayakan penggarapan Mars SMA Negeri 2 Kuta kepada beliau. Lalu, pada 11 Februari 2023, saya kembali mengundang beliau dalam kegiatan outbound Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) SMA Negeri 2 Kuta Selatan di Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Bali. Kegiatan itu merupakan bagian dari pembentukan karakter pascapandemi Covid-19 sekaligus character building untuk mendukung well-being para GTK.

Selanjutnya, dalam rangkaian Pasraman Kilat bagi siswa pada 16 Juni 2023, saya juga mengundang beliau untuk mengedukasi para murid melalui dongeng.

Belajar bersama Maestro Made Taro diakhiri dengan berfoto bersama di Kebun Raya Ekakarya Bedugul Tabanan Bali (Sabtu, 11 Februari 2023) | Foto: Dok. Penulis

Kegiatan belajar bersama Maestro Made Taro di Kebun Raya Bedugul dibuka dengan dongeng berjudul “Memohon Hujan” yang dibawakan secara atraktif sambil bernyanyi. Kisahnya dimulai dari kegelisahan kodok, jengkrik, dan manusia akibat kekeringan. Mula-mula, kodok yang paling kepanasan memohon hujan kepada Dewi Hujan. Berkali-kali Si Kodok berdoa, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan” (Oh Tuhan, berkenanlah menurunkan hujan). Berkali-kali pula ia memohon, tetapi doanya belum dikabulkan. Sampai-sampai Si Kodok mengatakan Dewa Hujan pelit.

Makhluk lain juga merasakan kepanasan akibat kemarau panjang, termasuk jengkrik. Jengkrik pun berdoa. Doanya sama dengan doa Si Kodok, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan”. Namun, nasib si jengkrik juga apes. Hujan tak kunjung turun. Doanya terus diulang-ulang.

Kemudian, tibalah giliran manusia memanjatkan doa. Sawah-sawah mengering, padi tak dapat tumbuh, dan para petani mulai kelaparan. Manusia pun berdoa beramai-ramai dengan doa yang sama, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan”.

Begitulah doa terus diulang oleh Si Kodok, Si Jengkrik, dan Manusia. Bersamaan dengan itu, Made Taro memainkan instrumen cungklik dengan irama yang ritmis. Tiba-tiba petir bergemuruh menggelegar dari langit. Awan menebal. Langit menghitam. Hujan pun turun.

Si Kodok, Si Jengkrik, dan Si Manusia bersukaria. Si Kodok bersahut-sahutan karena kegembiraannya. Begitu pula Si Jengkrik dan Manusia. Doa mereka akhirnya dikabulkan setelah terjalin kerja sama yang bersifat tripartit. Koalisi yang padu di antara mereka menunjukkan bahwa setiap makhluk saling membutuhkan berkah hujan.

Begitulah dongeng dimainkan oleh Made Taro bersama putranya, Gede Tarmada (meninggal 27 November 2024), dan cucunya, Made Tarayana Amada Putra. Dongeng dipentaskan dengan sentuhan vokal yang diiringi instrumen cungklik bambu. Uniknya, cungklik itu dibuat dari barang bekas. Potongan-potongan bambu sisa bangunan yang dibuang begitu saja oleh undagi dipilih, kemudian dipadukan dan diselaraskan nadanya untuk mengiringi dongeng dengan maplalian.

Dongengnya pun khas Bali, terinspirasi dari tradisi agraris yang menjadi landasan peradaban Nusantara. Pertunjukan dibuka dengan intro irama cungklik, musik bambu yang dipukul, lalu dilanjutkan narasi dalam bahasa Indonesia yang disandingkan dengan lagu permohonan berbahasa Bali dan diiringi suara kodok. Para peserta pun berimprovisasi menjadi kodok ganteng dan kodok cantik untuk menyambut datangnya hujan. Seru.

“Dongeng ini ternyata dijawab alam. Tiba-tiba saja hujan gerimis datang. Sepanjang perjalanan pulang dari Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Tabanan, menyusuri tepi Danau Beratan hingga Denpasar, hujan turun sangat lebat. Dongeng memohon hujan menjadi kenyataan,” kata Wolf Bagus Wiguna yang mengantar Sang Maestro pulang-pergi dari Denpasar ke Bedugul.

Berbeda dengan dongeng yang disampaikan kepada siswa saat Pasraman Kilat pada 16 Juni 2023, kali ini Made Taro membawakan dongeng berjudul “Cinta dan Pariwisata” yang disesuaikan dengan kecenderungan remaja serta lokasi sekolah yang berada di kawasan pariwisata. Sebagai SMA di daerah pariwisata, Made Taro mengkreasikan dongeng-dongengnya dengan memadukan puisi. Puisi yang dipilihnya, “Pan Jantuk Magatra”, diambil dari buku Bebek Punyah (2004) terbitan Balai Bahasa Denpasar.

Puisi “Pan Jantuk Magatra” sangat lekat dengan situasi perubahan cepat di Nusa Dua dan sekitarnya akibat pembangunan pariwisata yang boros lahan. Para petani bersedih karena kehilangan abian jagung. Bentang alam diperkosa. Pepohonan ditebang. Tebing-tebing dipangkas. Beton tumbuh subur. Area bermain layang-layang pun lenyap. Pantai berubah menjadi ruang privat yang dijaga satpam galak-galak. Padahal sebelumnya, pantai merupakan ruang publik tempat anak-anak bercengkerama sambil mencari yuyu.

Nuju kacunduk/magatra Pan Jantuk,subuk ortane/numpuk sebete/
Inget layangan makorot ?/ditu nyanggol/di muncuk kelampok/kayang akah bongkol/ makatrol
magayot/magentos beton/
Di pesisi kelod/nampi pasih aad/cerik-cerik mrerod/makekarang bungan kapad/nyuluh ulad-
ulad/munuh yuh gremong/awaregan kanggo/da cening ngapak-apak/satpame galak-
galak/pasisi ento kocap/genah turis nglincak/… “Lacuran Cening lekad/luungan i maluan”…

Puisi yang sarat kritik sosial itu diolah Made Taro dalam bentuk permainan yang dipadukan dengan alunan musik dan pembacaan puisi. Puisi menjadi hidup dalam permainan. Permainan pun kian menggugah. Siswa riang gembira. Amanat puisi menyentuh sukma. Mereka diajak mengenang masa silam yang penuh sukacita, saat bermain layang-layang menjadi bagian dari keseharian. Lagu layang-layang pun mengalun. Namun kini, lapangan untuk bermain layang-layang semakin sulit ditemukan. Kalaupun masih ada, berbagai larangan diberlakukan demi keamanan helikopter yang lalu-lalang, konon demi wisatawan. Duh, Dewa Ratu!

Almarhum Made Taro (1939-2026) | Foto: BASAIbu Wiki

Begitulah Made Taro berdialog dengan anak-anak melalui dongeng. Ia mengajak jiwa mereka untuk bersikap kritis terhadap pembangunan pariwisata melalui maplalian. Kini Sang Maestro telah tiada. Bertepatan dengan Sasih Karo, kita kehilangan Made Taro. Tentang sasih ini pula, Made Taro melahirkan puisi berjudul “Sasih Karo ring Bali”.

Sasih karo ring Bali,
sediain saput alembar,
suryane ngedengang raga,
nanging kenyem ipun dingin
katiba ring kopine acangkir
Angin daret tur angin pesisi
mayus ipun ngupinin taru-taruan,
rauh ring puncak meru,
nenten wenten kidung rahina mangkin,
mawinan nenten wenten rahinan katur ring
suryan jagat,
angin tur garba
Sasih karo ring Bali,
ambil saput alembar
kurung ragane sarahina
ngiring mapaos raga-raga
sareng kopi acangkir

Bagi Made Taro, Sasih Karo bukan sekadar sasih dingin ketika di pegunungan mulai memasuki musim kopi, melainkan juga sasih untuk melakukan dialog dengan diri sendiri melalui kontemplasi. “kurung ragane sarahina, ngiring mapaos raga-raga, sareng kopi acangkir”. Bait pendek itu mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Mengurung diri sehari penuh, membaca diri sendiri, ditemani secangkir kopi. Kontemplasi tampaknya menjadi pilihan yang tepat ketika matahari pun enggan menampakkan diri. Begitu pula angin darat dan angin laut yang seakan bermalas-malasan. Saat itulah waktunya diam. Merenung. Meneng. Hening. Tenang.

Begitulah pilihan Sang Maestro untuk pulang ke rumah abadi, enam hari menjelang Purnama Sasih Karo. Namun, maplalian dalam dongeng-dongengnya akan tetap abadi di dunia anak-anak. Siapa tahu, saat Purnama Sasih Karo, 29 Juli 2026, tiga hari setelah diaben, Sang Maestro sedang asyik mendongeng di alam keabadian. Menghibur mereka yang telah lebih dahulu berpulang, sebagaimana sepanjang hidupnya ia menghibur anak-anak melalui seni mendongeng. Ars longa, vita brevis.[T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

Tags: in memoriamMade Taroobituari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

Next Post

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails
Next Post
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         
Khas

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris
Pendidikan

FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris

DENPASAR | TATKALA.CO -- Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan Focus Group...

by Dewi Yulianti
August 19, 2026
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026
Panggung

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 18, 2026
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta
Khas

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh
Esai

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
Indonesia yang Muncul di Beranda
Esai

Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

by Angga Wijaya
August 18, 2026
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi
Tualang

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung
Bahasa

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

by I Made Sudiana
August 18, 2026
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co