“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath Tagore itu saya lontarkan sebagai penutup lokakarya “Sastra Masuk Kurikulum”, serangkaian Festival Seni Bali Jani VIII di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Denpasar, Senin (20/7/2026).
Ajakan itu saya kaitkan dengan pengenalan sastra melalui kunjungan ke rumah sastrawan uzur yang tidak memungkinkan diundang ke sekolah karena keterbatasan kondisinya. Saat itu, secara refleks saya menyebut I Made Taro. Tiga hari kemudian, bertepatan dengan Hari Anak Nasional, 23 Juli 2026, beliau berpulang di Rumah Sakit Bali Mandara setelah dirawat selama lebih dari dua pekan. Ia wafat dalam usia 87 tahun (lahir di Sengkidu, Karangasem, 16 April 1939 dan wafat di Denpasar, 23 Juli 2026).
Secara khusus, saya memiliki ikatan batin dengan Sang Maestro Made Taro. Pada 2006, ketika mulai menjadi kepala sekolah di SMA yang baru berdiri, saya mempercayakan penggarapan Mars SMA Negeri 2 Kuta kepada beliau. Lalu, pada 11 Februari 2023, saya kembali mengundang beliau dalam kegiatan outbound Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) SMA Negeri 2 Kuta Selatan di Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Bali. Kegiatan itu merupakan bagian dari pembentukan karakter pascapandemi Covid-19 sekaligus character building untuk mendukung well-being para GTK.
Selanjutnya, dalam rangkaian Pasraman Kilat bagi siswa pada 16 Juni 2023, saya juga mengundang beliau untuk mengedukasi para murid melalui dongeng.

Kegiatan belajar bersama Maestro Made Taro di Kebun Raya Bedugul dibuka dengan dongeng berjudul “Memohon Hujan” yang dibawakan secara atraktif sambil bernyanyi. Kisahnya dimulai dari kegelisahan kodok, jengkrik, dan manusia akibat kekeringan. Mula-mula, kodok yang paling kepanasan memohon hujan kepada Dewi Hujan. Berkali-kali Si Kodok berdoa, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan” (Oh Tuhan, berkenanlah menurunkan hujan). Berkali-kali pula ia memohon, tetapi doanya belum dikabulkan. Sampai-sampai Si Kodok mengatakan Dewa Hujan pelit.
Makhluk lain juga merasakan kepanasan akibat kemarau panjang, termasuk jengkrik. Jengkrik pun berdoa. Doanya sama dengan doa Si Kodok, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan”. Namun, nasib si jengkrik juga apes. Hujan tak kunjung turun. Doanya terus diulang-ulang.
Kemudian, tibalah giliran manusia memanjatkan doa. Sawah-sawah mengering, padi tak dapat tumbuh, dan para petani mulai kelaparan. Manusia pun berdoa beramai-ramai dengan doa yang sama, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan”.
Begitulah doa terus diulang oleh Si Kodok, Si Jengkrik, dan Manusia. Bersamaan dengan itu, Made Taro memainkan instrumen cungklik dengan irama yang ritmis. Tiba-tiba petir bergemuruh menggelegar dari langit. Awan menebal. Langit menghitam. Hujan pun turun.
Si Kodok, Si Jengkrik, dan Si Manusia bersukaria. Si Kodok bersahut-sahutan karena kegembiraannya. Begitu pula Si Jengkrik dan Manusia. Doa mereka akhirnya dikabulkan setelah terjalin kerja sama yang bersifat tripartit. Koalisi yang padu di antara mereka menunjukkan bahwa setiap makhluk saling membutuhkan berkah hujan.
Begitulah dongeng dimainkan oleh Made Taro bersama putranya, Gede Tarmada (meninggal 27 November 2024), dan cucunya, Made Tarayana Amada Putra. Dongeng dipentaskan dengan sentuhan vokal yang diiringi instrumen cungklik bambu. Uniknya, cungklik itu dibuat dari barang bekas. Potongan-potongan bambu sisa bangunan yang dibuang begitu saja oleh undagi dipilih, kemudian dipadukan dan diselaraskan nadanya untuk mengiringi dongeng dengan maplalian.
Dongengnya pun khas Bali, terinspirasi dari tradisi agraris yang menjadi landasan peradaban Nusantara. Pertunjukan dibuka dengan intro irama cungklik, musik bambu yang dipukul, lalu dilanjutkan narasi dalam bahasa Indonesia yang disandingkan dengan lagu permohonan berbahasa Bali dan diiringi suara kodok. Para peserta pun berimprovisasi menjadi kodok ganteng dan kodok cantik untuk menyambut datangnya hujan. Seru.
“Dongeng ini ternyata dijawab alam. Tiba-tiba saja hujan gerimis datang. Sepanjang perjalanan pulang dari Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Tabanan, menyusuri tepi Danau Beratan hingga Denpasar, hujan turun sangat lebat. Dongeng memohon hujan menjadi kenyataan,” kata Wolf Bagus Wiguna yang mengantar Sang Maestro pulang-pergi dari Denpasar ke Bedugul.
Berbeda dengan dongeng yang disampaikan kepada siswa saat Pasraman Kilat pada 16 Juni 2023, kali ini Made Taro membawakan dongeng berjudul “Cinta dan Pariwisata” yang disesuaikan dengan kecenderungan remaja serta lokasi sekolah yang berada di kawasan pariwisata. Sebagai SMA di daerah pariwisata, Made Taro mengkreasikan dongeng-dongengnya dengan memadukan puisi. Puisi yang dipilihnya, “Pan Jantuk Magatra”, diambil dari buku Bebek Punyah (2004) terbitan Balai Bahasa Denpasar.
Puisi “Pan Jantuk Magatra” sangat lekat dengan situasi perubahan cepat di Nusa Dua dan sekitarnya akibat pembangunan pariwisata yang boros lahan. Para petani bersedih karena kehilangan abian jagung. Bentang alam diperkosa. Pepohonan ditebang. Tebing-tebing dipangkas. Beton tumbuh subur. Area bermain layang-layang pun lenyap. Pantai berubah menjadi ruang privat yang dijaga satpam galak-galak. Padahal sebelumnya, pantai merupakan ruang publik tempat anak-anak bercengkerama sambil mencari yuyu.
Nuju kacunduk/magatra Pan Jantuk,subuk ortane/numpuk sebete/
Inget layangan makorot ?/ditu nyanggol/di muncuk kelampok/kayang akah bongkol/ makatrol
magayot/magentos beton/
Di pesisi kelod/nampi pasih aad/cerik-cerik mrerod/makekarang bungan kapad/nyuluh ulad-
ulad/munuh yuh gremong/awaregan kanggo/da cening ngapak-apak/satpame galak-
galak/pasisi ento kocap/genah turis nglincak/… “Lacuran Cening lekad/luungan i maluan”…
Puisi yang sarat kritik sosial itu diolah Made Taro dalam bentuk permainan yang dipadukan dengan alunan musik dan pembacaan puisi. Puisi menjadi hidup dalam permainan. Permainan pun kian menggugah. Siswa riang gembira. Amanat puisi menyentuh sukma. Mereka diajak mengenang masa silam yang penuh sukacita, saat bermain layang-layang menjadi bagian dari keseharian. Lagu layang-layang pun mengalun. Namun kini, lapangan untuk bermain layang-layang semakin sulit ditemukan. Kalaupun masih ada, berbagai larangan diberlakukan demi keamanan helikopter yang lalu-lalang, konon demi wisatawan. Duh, Dewa Ratu!

Begitulah Made Taro berdialog dengan anak-anak melalui dongeng. Ia mengajak jiwa mereka untuk bersikap kritis terhadap pembangunan pariwisata melalui maplalian. Kini Sang Maestro telah tiada. Bertepatan dengan Sasih Karo, kita kehilangan Made Taro. Tentang sasih ini pula, Made Taro melahirkan puisi berjudul “Sasih Karo ring Bali”.
Sasih karo ring Bali,
sediain saput alembar,
suryane ngedengang raga,
nanging kenyem ipun dingin
katiba ring kopine acangkir
Angin daret tur angin pesisi
mayus ipun ngupinin taru-taruan,
rauh ring puncak meru,
nenten wenten kidung rahina mangkin,
mawinan nenten wenten rahinan katur ring
suryan jagat,
angin tur garba
Sasih karo ring Bali,
ambil saput alembar
kurung ragane sarahina
ngiring mapaos raga-raga
sareng kopi acangkir
Bagi Made Taro, Sasih Karo bukan sekadar sasih dingin ketika di pegunungan mulai memasuki musim kopi, melainkan juga sasih untuk melakukan dialog dengan diri sendiri melalui kontemplasi. “kurung ragane sarahina, ngiring mapaos raga-raga, sareng kopi acangkir”. Bait pendek itu mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Mengurung diri sehari penuh, membaca diri sendiri, ditemani secangkir kopi. Kontemplasi tampaknya menjadi pilihan yang tepat ketika matahari pun enggan menampakkan diri. Begitu pula angin darat dan angin laut yang seakan bermalas-malasan. Saat itulah waktunya diam. Merenung. Meneng. Hening. Tenang.
Begitulah pilihan Sang Maestro untuk pulang ke rumah abadi, enam hari menjelang Purnama Sasih Karo. Namun, maplalian dalam dongeng-dongengnya akan tetap abadi di dunia anak-anak. Siapa tahu, saat Purnama Sasih Karo, 29 Juli 2026, tiga hari setelah diaben, Sang Maestro sedang asyik mendongeng di alam keabadian. Menghibur mereka yang telah lebih dahulu berpulang, sebagaimana sepanjang hidupnya ia menghibur anak-anak melalui seni mendongeng. Ars longa, vita brevis.[T]
Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto































