20 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
in Esai
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

Almarhum Made Taro (1939-2026) | Foto: BASAIbu Wiki

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath Tagore itu saya lontarkan sebagai penutup lokakarya “Sastra Masuk Kurikulum”, serangkaian Festival Seni Bali Jani VIII di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Denpasar, Senin (20/7/2026).

Ajakan itu saya kaitkan dengan pengenalan sastra melalui kunjungan ke rumah sastrawan uzur yang tidak memungkinkan diundang ke sekolah karena keterbatasan kondisinya. Saat itu, secara refleks saya menyebut I Made Taro. Tiga hari kemudian, bertepatan dengan Hari Anak Nasional, 23 Juli 2026, beliau berpulang di Rumah Sakit Bali Mandara setelah dirawat selama lebih dari dua pekan. Ia wafat dalam usia 87 tahun (lahir di Sengkidu, Karangasem, 16 April 1939 dan wafat di Denpasar, 23 Juli 2026).

Secara khusus, saya memiliki ikatan batin dengan Sang Maestro Made Taro. Pada 2006, ketika mulai menjadi kepala sekolah di SMA yang baru berdiri, saya mempercayakan penggarapan Mars SMA Negeri 2 Kuta kepada beliau. Lalu, pada 11 Februari 2023, saya kembali mengundang beliau dalam kegiatan outbound Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) SMA Negeri 2 Kuta Selatan di Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Bali. Kegiatan itu merupakan bagian dari pembentukan karakter pascapandemi Covid-19 sekaligus character building untuk mendukung well-being para GTK.

Selanjutnya, dalam rangkaian Pasraman Kilat bagi siswa pada 16 Juni 2023, saya juga mengundang beliau untuk mengedukasi para murid melalui dongeng.

Belajar bersama Maestro Made Taro diakhiri dengan berfoto bersama di Kebun Raya Ekakarya Bedugul Tabanan Bali (Sabtu, 11 Februari 2023) | Foto: Dok. Penulis

Kegiatan belajar bersama Maestro Made Taro di Kebun Raya Bedugul dibuka dengan dongeng berjudul “Memohon Hujan” yang dibawakan secara atraktif sambil bernyanyi. Kisahnya dimulai dari kegelisahan kodok, jengkrik, dan manusia akibat kekeringan. Mula-mula, kodok yang paling kepanasan memohon hujan kepada Dewi Hujan. Berkali-kali Si Kodok berdoa, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan” (Oh Tuhan, berkenanlah menurunkan hujan). Berkali-kali pula ia memohon, tetapi doanya belum dikabulkan. Sampai-sampai Si Kodok mengatakan Dewa Hujan pelit.

Makhluk lain juga merasakan kepanasan akibat kemarau panjang, termasuk jengkrik. Jengkrik pun berdoa. Doanya sama dengan doa Si Kodok, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan”. Namun, nasib si jengkrik juga apes. Hujan tak kunjung turun. Doanya terus diulang-ulang.

Kemudian, tibalah giliran manusia memanjatkan doa. Sawah-sawah mengering, padi tak dapat tumbuh, dan para petani mulai kelaparan. Manusia pun berdoa beramai-ramai dengan doa yang sama, “Ratu Hyang Widhi ledangang mapaica hujan”.

Begitulah doa terus diulang oleh Si Kodok, Si Jengkrik, dan Manusia. Bersamaan dengan itu, Made Taro memainkan instrumen cungklik dengan irama yang ritmis. Tiba-tiba petir bergemuruh menggelegar dari langit. Awan menebal. Langit menghitam. Hujan pun turun.

Si Kodok, Si Jengkrik, dan Si Manusia bersukaria. Si Kodok bersahut-sahutan karena kegembiraannya. Begitu pula Si Jengkrik dan Manusia. Doa mereka akhirnya dikabulkan setelah terjalin kerja sama yang bersifat tripartit. Koalisi yang padu di antara mereka menunjukkan bahwa setiap makhluk saling membutuhkan berkah hujan.

Begitulah dongeng dimainkan oleh Made Taro bersama putranya, Gede Tarmada (meninggal 27 November 2024), dan cucunya, Made Tarayana Amada Putra. Dongeng dipentaskan dengan sentuhan vokal yang diiringi instrumen cungklik bambu. Uniknya, cungklik itu dibuat dari barang bekas. Potongan-potongan bambu sisa bangunan yang dibuang begitu saja oleh undagi dipilih, kemudian dipadukan dan diselaraskan nadanya untuk mengiringi dongeng dengan maplalian.

Dongengnya pun khas Bali, terinspirasi dari tradisi agraris yang menjadi landasan peradaban Nusantara. Pertunjukan dibuka dengan intro irama cungklik, musik bambu yang dipukul, lalu dilanjutkan narasi dalam bahasa Indonesia yang disandingkan dengan lagu permohonan berbahasa Bali dan diiringi suara kodok. Para peserta pun berimprovisasi menjadi kodok ganteng dan kodok cantik untuk menyambut datangnya hujan. Seru.

“Dongeng ini ternyata dijawab alam. Tiba-tiba saja hujan gerimis datang. Sepanjang perjalanan pulang dari Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Tabanan, menyusuri tepi Danau Beratan hingga Denpasar, hujan turun sangat lebat. Dongeng memohon hujan menjadi kenyataan,” kata Wolf Bagus Wiguna yang mengantar Sang Maestro pulang-pergi dari Denpasar ke Bedugul.

Berbeda dengan dongeng yang disampaikan kepada siswa saat Pasraman Kilat pada 16 Juni 2023, kali ini Made Taro membawakan dongeng berjudul “Cinta dan Pariwisata” yang disesuaikan dengan kecenderungan remaja serta lokasi sekolah yang berada di kawasan pariwisata. Sebagai SMA di daerah pariwisata, Made Taro mengkreasikan dongeng-dongengnya dengan memadukan puisi. Puisi yang dipilihnya, “Pan Jantuk Magatra”, diambil dari buku Bebek Punyah (2004) terbitan Balai Bahasa Denpasar.

Puisi “Pan Jantuk Magatra” sangat lekat dengan situasi perubahan cepat di Nusa Dua dan sekitarnya akibat pembangunan pariwisata yang boros lahan. Para petani bersedih karena kehilangan abian jagung. Bentang alam diperkosa. Pepohonan ditebang. Tebing-tebing dipangkas. Beton tumbuh subur. Area bermain layang-layang pun lenyap. Pantai berubah menjadi ruang privat yang dijaga satpam galak-galak. Padahal sebelumnya, pantai merupakan ruang publik tempat anak-anak bercengkerama sambil mencari yuyu.

Nuju kacunduk/magatra Pan Jantuk,subuk ortane/numpuk sebete/
Inget layangan makorot ?/ditu nyanggol/di muncuk kelampok/kayang akah bongkol/ makatrol
magayot/magentos beton/
Di pesisi kelod/nampi pasih aad/cerik-cerik mrerod/makekarang bungan kapad/nyuluh ulad-
ulad/munuh yuh gremong/awaregan kanggo/da cening ngapak-apak/satpame galak-
galak/pasisi ento kocap/genah turis nglincak/… “Lacuran Cening lekad/luungan i maluan”…

Puisi yang sarat kritik sosial itu diolah Made Taro dalam bentuk permainan yang dipadukan dengan alunan musik dan pembacaan puisi. Puisi menjadi hidup dalam permainan. Permainan pun kian menggugah. Siswa riang gembira. Amanat puisi menyentuh sukma. Mereka diajak mengenang masa silam yang penuh sukacita, saat bermain layang-layang menjadi bagian dari keseharian. Lagu layang-layang pun mengalun. Namun kini, lapangan untuk bermain layang-layang semakin sulit ditemukan. Kalaupun masih ada, berbagai larangan diberlakukan demi keamanan helikopter yang lalu-lalang, konon demi wisatawan. Duh, Dewa Ratu!

Almarhum Made Taro (1939-2026) | Foto: BASAIbu Wiki

Begitulah Made Taro berdialog dengan anak-anak melalui dongeng. Ia mengajak jiwa mereka untuk bersikap kritis terhadap pembangunan pariwisata melalui maplalian. Kini Sang Maestro telah tiada. Bertepatan dengan Sasih Karo, kita kehilangan Made Taro. Tentang sasih ini pula, Made Taro melahirkan puisi berjudul “Sasih Karo ring Bali”.

Sasih karo ring Bali,
sediain saput alembar,
suryane ngedengang raga,
nanging kenyem ipun dingin
katiba ring kopine acangkir
Angin daret tur angin pesisi
mayus ipun ngupinin taru-taruan,
rauh ring puncak meru,
nenten wenten kidung rahina mangkin,
mawinan nenten wenten rahinan katur ring
suryan jagat,
angin tur garba
Sasih karo ring Bali,
ambil saput alembar
kurung ragane sarahina
ngiring mapaos raga-raga
sareng kopi acangkir

Bagi Made Taro, Sasih Karo bukan sekadar sasih dingin ketika di pegunungan mulai memasuki musim kopi, melainkan juga sasih untuk melakukan dialog dengan diri sendiri melalui kontemplasi. “kurung ragane sarahina, ngiring mapaos raga-raga, sareng kopi acangkir”. Bait pendek itu mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Mengurung diri sehari penuh, membaca diri sendiri, ditemani secangkir kopi. Kontemplasi tampaknya menjadi pilihan yang tepat ketika matahari pun enggan menampakkan diri. Begitu pula angin darat dan angin laut yang seakan bermalas-malasan. Saat itulah waktunya diam. Merenung. Meneng. Hening. Tenang.

Begitulah pilihan Sang Maestro untuk pulang ke rumah abadi, enam hari menjelang Purnama Sasih Karo. Namun, maplalian dalam dongeng-dongengnya akan tetap abadi di dunia anak-anak. Siapa tahu, saat Purnama Sasih Karo, 29 Juli 2026, tiga hari setelah diaben, Sang Maestro sedang asyik mendongeng di alam keabadian. Menghibur mereka yang telah lebih dahulu berpulang, sebagaimana sepanjang hidupnya ia menghibur anak-anak melalui seni mendongeng. Ars longa, vita brevis.[T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

Tags: in memoriamMade Taroobituari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

Next Post

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails
Next Post
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co