2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
in Panggung
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

Pertunjukan Angker Pancer Joged Pingitan Cipta Solah Bhuwana Tiga Hyang, karya I Wayan Sutirtha | Foto: Dok. I Wayan Sutirtha

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi tempat orang bersilang jalan, cahaya obor menggantikan lampu-lampu listrik. Asap dupa mengepul tipis, gamelan bebatelan mengalun perlahan, sementara tembang-tembang klasik menggema di antara rumah-rumah warga. Orang-orang berdiri mengitari perempatan, nyaris tanpa suara, seolah menunggu sesuatu yang telah lama hilang untuk kembali pulang.

Anak-anak masih maplayanan, memainkan permainan tradisional di sudut jalan. Namun ketika iring-iringan warga datang dari arah timur menuju pelinggih di depan Bale Tempekan Selat, suasana berubah. Lidah-lidah api dari obor menari mengikuti langkah para pengiring, menjadikan ruang desa yang sederhana seketika terasa magis.

Di antara iring-iringan itu tampak sejumlah gadis mengenakan busana adat sederhana. Mereka duduk bersila di atas jalan, sementara beberapa lainnya merebahkan tubuh di atas aspal. Seorang pemangku kemudian memimpin persembahyangan. Hening menyelimuti seluruh perempatan ketika gelungan Joged Pingitan dipasangkan kepada salah seorang gadis. Sejak saat itu, gerak-gerak tari perlahan lahir, bukan sekadar sebagai pertunjukan, melainkan sebagai peristiwa spiritual yang menghubungkan manusia dengan warisan leluhurnya.

Pertunjukan Angker Pancer Joged Pingitan Cipta Solah Bhuwana Tiga Hyang, karya I Wayan Sutirtha | Foto: Dok. I Wayan Sutirtha

Malam itu, Kamis (23 Juli 2026), warga Singapadu tidak sekadar menyaksikan sebuah pementasan. Mereka menjadi saksi hidupnya kembali Joged Pingitan, kesenian sakral yang telah lama tidak dipentaskan di Tempekan Selat. Kebangkitan itu hadir melalui Pertunjukan Angker Pancer Joged Pingitan Cipta Solah Bhuwana Tiga Hyang, karya I Wayan Sutirtha yang dipersembahkan sebagai ujian Program Doktor Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.

Tidak ada batas antara penari dan penonton. Ketika para penari muncul dari tengah kerumunan, warga yang semula hanya berdiri menyaksikan otomatis menjadi bagian dari ruang pertunjukan. Pendekatan koreografi lingkungan yang dipilih Sutirtha membuat seluruh catus pata berubah menjadi panggung bersama. Sekitar 100 seniman terlibat, mulai dari penari hingga penabuh gamelan bebatelan yang memainkan suling, tambur, gandrangan, gong, dan kendang sehingga ruang pertunjukan dipenuhi bunyi-bunyian yang memperkuat suasana sakral.

Lebih dari sebuah karya tari, pertunjukan ini merupakan upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap Joged Pingitan. Selama bertahun-tahun, kesenian tersebut nyaris tidak pernah dipentaskan. Padahal, bagi warga Tempekan Selat, Joged Pingitan bukan sekadar tarian, melainkan bagian dari keyakinan yang diwariskan turun-temurun.

Pertunjukan Angker Pancer Joged Pingitan Cipta Solah Bhuwana Tiga Hyang, karya I Wayan Sutirtha | Foto: Dok. I Wayan Sutirtha

“Karya ini lahir dari kegelisahan saya melihat kesenian Joged Pingitan yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum para bendesa yang sekarang lahir. Namun, hingga kini masyarakat masih mencintai warisan leluhur tersebut. Karena itu, kesenian ini perlu dihidupkan kembali sekaligus menyiapkan regenerasi agar tetap lestari,” ujar Sutirtha.

Dalam penelitiannya, Sutirtha menemukan bahwa Joged Pingitan di Selat, Singapadu memiliki nilai magis dan sakral yang membedakannya dari tari joged pada umumnya. Gelungan yang dikenakan penari bersama lampu sentir bukan sekadar pelengkap pertunjukan, melainkan menjadi simbol ikatan spiritual sekaligus penanda konservasi tradisi. Di baliknya tersimpan keyakinan masyarakat bahwa tarian tersebut memiliki fungsi sebagai penolak bala.

“Dari hasil penelitian yang saya lakukan, revitalisasi tersebut diwujudkan melalui penciptaan karya Pertunjukan Angker Pancer Joged Pingitan Cipta Solah Bhuwana Tiga Hyang dengan pendekatan koreografi lingkungan,” ungkapnya.

Konsep pertunjukan bertumpu pada tiga unsur utama, yakni Sanghyang Memedi, Sanghyang Dedari, dan Hyang Bhatari. Ketiganya menjadi landasan untuk merumuskan kembali nilai-nilai sakral dan mitis Joged Pingitan dalam bentuk pertunjukan yang tetap berpijak pada tradisi, namun mampu berdialog dengan masyarakat masa kini.

Pertunjukan Angker Pancer Joged Pingitan Cipta Solah Bhuwana Tiga Hyang, karya I Wayan Sutirtha | Foto: Dok. I Wayan Sutirtha

Dalam proses kreatifnya, Sutirtha mengembangkan metode Solah Bhuwana yang terdiri atas lima tahapan, yakni Nyeraya sebagai proses penelitian, Ngelaca untuk mengolah gagasan menjadi gerak, Matetegar sebagai ruang eksperimen, Ngwahya untuk menyusun bentuk pertunjukan, dan Nureksa sebagai tahap evaluasi. Keseluruhan proses tersebut menjadi fondasi penciptaan karya yang memadukan riset akademik dengan pengalaman artistik.

Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana, melihat pilihan catus pata sebagai ruang pertunjukan bukanlah sesuatu yang kebetulan. Menurutnya, perempatan merupakan ruang sosial tempat masyarakat membangun hubungan, berbagi nilai, sekaligus belajar tentang keteraturan hidup.

“Catus pata adalah ruang sosial untuk berbagi. Di sanalah manusia belajar membangun keteraturan, meski dalam praktiknya kerap diwarnai berbagai dinamika kehidupan. Melalui karya ini, seniman berhasil menghadirkan kembali esensi catus pata sebagai ruang interaksi, ruang berpikir, dan ruang untuk membangun ketertiban sosial,” ujarnya.

Di penghujung malam, obor mulai padam satu per satu. Gamelan berhenti bertalu. Warga perlahan meninggalkan catus pata. Namun, yang mereka bawa pulang bukan hanya kenangan tentang sebuah pertunjukan. Mereka membawa keyakinan bahwa warisan leluhur yang nyaris tenggelam itu masih memiliki ruang untuk hidup, selama ada generasi yang bersedia merawat dan menghidupkannya kembali.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Angker Pancer Joged PingitanSingapadu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tuhan Yang Maha Puisi

Next Post

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

Canang yang Terlindas ------Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co