1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang kita yakini. Maka ketika pemerintah merancang kebijakan agar seluruh dosen Indonesia berkualifikasi doktor dalam sepuluh tahun ke depan, sebagaimana tercantum dalam RUU Sisdiknas versi 8 Juli 2026, pesan yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana dan berniat baik. Intinya, kualitas dosen harus meningkat agar kualitas pendidikan nasional ikut meningkat.

Akan sulit menemukan orang yang menolak tujuan semulia itu. Lagi pula, siapa yang tidak ingin memiliki dosen yang lebih kompeten, atau siapa juga yang tidak ingin kampus Indonesia menghasilkan lebih banyak ilmuwan. Namun, sejarah kebijakan publik mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan, bahwasanya niat baik tidak selalu menghasilkan dampak baik.

Ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar apakah dosen perlu bergelar doktor. Pertanyaannya yang lebih mendasar saya kira adalah, apakah cara kita meningkatkan mutu pendidikan sudah memanusiakan manusia yang menjalankannya?

Latah Pendidikan

Beberapa tahun terakhir, pendidikan Indonesia tampaknya memiliki semacam sistem keyakinan atau bahkan semacam kelatahan sistem di sini. Orang latah itu kalau kaget, dia bergerak spontan tanpa dipikir. Di dunai pendidikan kita latahnya itu kalau ingin mutu meningkat, tambahkan syarat. Kalau ingin profesionalisme meningkat, tambahkan administrasi. Kalau ingin akuntabilitas meningkat, tambahkan laporan. 

Sekarang, kalau ingin kualitas perguruan tinggi meningkat, tambahkan kewajiban S3. Memang semua logika ini tampak masuk akal. Sayangnya, manusia tidak bekerja seperti spreadsheet atau perkakas elekronik. Manusia memiliki keterbatasan waktu, memiliki keluarga, didesak kebutuhan ekonomi, bahkan memiliki kecemasan. Manusia juga memiliki batas kemampuan fisik dan mental.  Di sinilah letak persoalannya. Kita sering kali merancang kebijakan pendidikan seolah-olah semua pendidik hidup dalam kondisi yang sama.

Padahal realitasnya sangat beragam. Ironisnya, Indonesia sebenarnya pernah mempunyai pengalaman serupa. Ketika berbagai kebijakan administrasi pendidikan diperkenalkan, harapan mulianya yaitu tata kelola menjadi lebih baik, kinerja lebih terukur, mutu meningkat. 

Namun dalam praktiknya, tidak sedikit guru maupun dosen yang mengeluhkan bahwa waktu mereka justru habis untuk mengisi formulir, menyusun laporan, memperbarui data sistem dan aplikasi ini itu, dan memenuhi berbagai indikator administratif. Akibatnya, energi yang semestinya digunakan untuk membaca, berdiskusi, menyiapkan pembelajaran, atau membimbing mahasiswa justru terserap ke pekerjaan birokratis. 

Belajar pada Jenjang Doktor Bukan Sekadar Duduk di Ruang Kuliah

Tetapi ketika administrasi mulai mengambil alih esensi pendidikan, maka yang lahir bukan peningkatan mutu, melainkan perpindahan fokus. Sebagian jiwa dan nafas para pendidik perlahan berubah menjadi administrator. Kini muncul kebijakan baru mengenai kewajiban studi doktoral.  Sekali lagi, tujuan kebijakannya patut diapresiasi. 

Namun, bagaimana nasib dosen yang harus kuliah kembali, sementara mereka tetap memiliki tanggung jawab mengajar, meneliti, mengabdi kepada masyarakat, mengejar publikasi, memenuhi target kinerja, sekaligus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya? Saat studi S3, dibutuhan konsentrasi penuh untuk membaca ratusan artikel ilmiah, menulis proposal, melakukan penelitian, menghadapi seminar. Belum harus revisi disertasi, ikut publikasi internasional sementara waktu untuk studi lanjut selalu bersaing dengan kebutuhan hidup, karena selama studi sebagian hak finansial dihilangkan.

Diskusi mengenai kesejahteraan dosen semakin mengemuka setelah muncul polemik mengenai besaran penghasilan dosen dalam sidang  Mahkamah Konstitusi. Pernyataan mengenai rata-rata take home pay dosen memunculkan tanggapan dari banyak dosen yang merasa angka tersebut tidak mencerminkan kenyataan mereka sehari-hari. Menariknya, perdebatan ini bukan terutama soal siapa yang benar. 

Yang menarik adalah soal bagaimana statistik dan pengalaman hidup berbicara dalam bahasa yang berbeda. Rata-rata memang penting. Tetapi manusia tidak pernah hidup sebagai rata-rata.  Seseorang bisa saja berada jauh di bawah angka rata-rata, yang lain berada jauh di atasnya.  Ketika kebijakan dibangun hanya berdasarkan angka agregat, sering kali pengalaman nyata individu malah menghilang dari diskusi. Padahal kebijakan pendidikan dijalankan bukan oleh statistik, tapi oleh manusia. 

Pemikir pendidikan Brasil, Paulo Freire, pernah mengatakan bahwa hakikat pendidikan adalah humanisasi, proses memanusiakan manusia. Dalam Pedagogy of the Oppressed, ia mengkritik pendidikan yang memperlakukan peserta didik sebagai “rekening kosong” yang tinggal diisi informasi. Pendidikan, menurut Freire, harus membangun kesadaran, kebebasan berpikir, dan martabat manusia.

Namun gagasan Freire hari ini saya kira layak diperluas. Bukan hanya peserta didik yang perlu dimanusiakan. Pendidiknya pun demikian.  Tidak mungkin kita berharap dosen membangun manusia yang merdeka, apabila mereka sendiri menjalani sistem yang membuat ruang berpikirnya semakin sempit.

Sosiolog Jerman, Max Weber, sejak awal abad ke-20 telah mengingatkan tentang bahaya apa yang ia sebut sebagai iron cage alias sangkar besi birokrasi. Ketika rasionalitas administratif menjadi tujuan, manusia perlahan berubah menjadi pelaksana prosedur. Yang dihitung bukan lagi kualitas pemikiran, melainkan kepatuhan terhadap indikator. 

Seratus tahun kemudian, filsuf Byung-Chul Han memberikan kritik yang berbeda tetapi terasa sangat relevan. Dalam The Burnout Society, ia menjelaskan bahwa masyarakat modern bukan lagi masyarakat disiplin, melainkan masyarakat prestasi. Kita didorong untuk terus meningkatkan diri, terus produktif, terus mencapai target, sampai akhirnya kelelahan menjadi sesuatu yang dianggap normal.

Dunia Akademik Mulai Menunjukkan Gejala yang Serupa

Publikasi harus bertambah, sitasi harus meningkat, indeks harus naik, jabatan akademik harus segera dicapai. Dan sekarang, gelar doktor pun harus segera diselesaikan. Tidak ada satu pun target itu yang keliru. Yang patut dipertanyakan adalah apakah semuanya dirancang dalam batas kemampuan manusia. Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah proses “menuntun” segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. 

Kita sering mengutip kalimat itu ketika berbicara tentang peserta didik. Tapi kita kini harus bertanya, apakah para penuntun itu selamat dan berbahagia? Apakah sistem memastikan bahwa guru dan dosen juga memiliki ruang untuk bertumbuh?  Sebab seorang pendidik yang hidup dalam kecemasan ekonomi, tekanan administratif, dan tuntutan akademik yang bertumpuk akan kesulitan menghadirkan pendidikan yang benar-benar membebaskan.

Di sinilah, menurut saya, muncul konsep yang perlu mulai kita bicarakan secara serius, yaitu humanisasi kebijakan pendidikan. Selama ini, kita banyak berbicara mengenai humanisasi pembelajaran, humanisasi kurikulum sampai pada humanisasi peserta didik. Padahal, persoalan sering kali ada pada akarnya, pada desain kebijakannya. 

Humanisasi kebijakan berarti setiap kebijakan pendidikan tidak hanya diuji berdasarkan target yang ingin dicapai, tetapi juga berdasarkan kajian yang lebih mendasar. Musti dikaji apakah kebijakan ini menjaga martabat manusia yang menjalankannya, apakah cukup memberi ruang untuk belajar, memperhatikan kesejahteraan, lebih jauh lagi apakah memungkinkan dosen benar-benar menjadi ilmuwan, bukan sekadar pemburu indikator? Karena kualitas pendidikan tidak pernah lahir hanya dari regulasi. Ia lahir dari manusia yang memiliki kesempatan berpikir.

Ekosistem Kecemasan

Tentu, bukan berarti kewajiban S3 harus ditolak. Justru sebaliknya. Karena semua dosen, semuanya, pasti haus akan pendidikan yang lebih tinggi. Indonesia memang membutuhkan lebih banyak doktor, peneliti, inovasi, dan ilmuwan yang mampu bersaing di tingkat global. Tetapi kebijakan seambisius itu memerlukan ekosistem yang sama besarnya. Sebut saja beasiswa yang memadai serta penghasilan yang tetap layak selama studi. 

Perlu juga sistem pengurangan beban kerja yang realistis, dukungan keluarga, dan fleksibilitas institusi. Tanpa itu semua, kewajiban belajar berpotensi berubah menjadi mode bertahan hidup. Dan ketika seseorang lebih sibuk memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan ekonominya daripada memikirkan disertasinya, maka yang sedang kita bangun bukanlah ekosistem akademik, melainkan ekosistem kecemasan dan stress.

Barangkali sudah saatnya kita mengubah cara berpikir latah dan percaya bahwa kualitas pendidikan meningkat jika syarat pendidikan ditambah. Mungkin kita perlu mulai mempertimbangkan kemungkinan lain. Bahwa kualitas pendidikan justru meningkat ketika manusia yang menjalankannya diberi kesempatan untuk menjadi manusia seutuhnya. Setidaknya ini yang saya tangkap dari banyak curhatan para dosen di luar sana.

Sebab pada akhirnya, universitas tidak dibangun oleh beton, peraturan, apalagi oleh indikator. Universitas harus dibangun oleh pikiran-pikiran yang memiliki antusiasme untuk membaca, keberanian untuk bertanya, dan ketenangan untuk berpikir. Bukan oleh latah pendidikan yang mencemaskan. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Jaswanto

Tags: PendidikanRUU Sisdiknas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

Next Post

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ------Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co