Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) justru memilih bersetia dengan jazz. Memasuki penyelenggaraan ke-13 pada 7–8 Agustus 2026 di Sthala, A Tribute Portfolio Hotel Ubud, festival ini kembali menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi ruang yang berpihak kepada jazz, bahkan ketika pilihan tersebut tidak selalu menguntungkan secara finansial.
Co-founder Sthala Ubud Village Jazz Festival, Anom Darsana, mengakui penyelenggaraan tahun ini merupakan salah satu yang paling berat sejak festival pertama digelar pada 2013. Kondisi finansial yang semakin menantang bahkan membuat panitia tidak menutup kemungkinan mengalami kerugian. Namun, baginya, keadaan tersebut bukan alasan untuk mengubah arah festival.
“Jujur dari sisi finansial kami tahun ini parah sekali. Mungkin kami rugi, mudah-mudahan tidak. Tapi untung rugi bukan menjadi masalah. Yang penting festival ini tetap berjalan,” ujar Anom dalam jumpa pers di Sanur, Kamis, 30 Juli 2026.
Pernyataan itu menggambarkan cara pandang yang selama ini menjadi fondasi SUVJF. Festival ini tidak dibangun semata sebagai perhelatan hiburan, melainkan sebagai ruang yang menjaga ekosistem jazz melalui pertunjukan, edukasi, regenerasi musisi, hingga kolaborasi lintas komunitas.

Anom Darsana menambahkan, bahwa SUVJF sejak awal tidak pernah dimaksudkan sebagai konser musik semata.
“Ini bukan hanya festival musik. Ini festival yang ada edukasinya,” katanya.
Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan pendukung seperti workshop, diskusi, hingga ruang kolaborasi yang mempertemukan beragam komunitas kreatif. Tahun ini, misalnya, SUVJF untuk pertama kalinya menggandeng komunitas Westside DJ asal Bali.
Kehadiran komunitas DJ bukan dimaksudkan untuk mengubah wajah festival menjadi pesta musik elektronik. Sebaliknya, mereka justru diajak mengeksplorasi repertoar yang berakar pada jazz.
“Biasanya orang menganggap DJ identik dengan party. Kami justru memberi ruang kepada mereka untuk memainkan tune yang lebih jazz. Kami ingin semua komunitas di Bali merasa dirangkul,” kata Anom.
Baginya, memperluas komunitas pendukung jazz merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan musik tersebut. Festival tidak hanya menghadirkan musisi jazz, tetapi juga membangun ruang perjumpaan yang memungkinkan berbagai komunitas saling belajar dan berkolaborasi.
Di tengah tekanan industri hiburan yang semakin berorientasi pada popularitas, keputusan itu menjadi sikap yang tidak mudah. Anom menilai banyak festival musik akhirnya memasukkan lebih banyak musisi pop demi mendongkrak penjualan tiket.
“Festival lain mungkin 60 sampai 70 persen pop, sisanya jazz. Kami tidak mau seperti itu,” katanya.
Pandangan tersebut mendapat penguatan dari musisi yang telah lama mengikuti perjalanan festival jazz, baik di Indonesia maupun luar negeri.

Pendiri Salamander Big Band, Devy Ferdianto, menyebut Sthala Ubud Village Jazz Festival sebagai salah satu festival jazz yang paling konsisten menjaga identitasnya.
“Dari sekian banyak festival yang kami ikuti, yang paling konsisten adalah Sthala Ubud Village Jazz Festival,” ujarnya.
Salamander Big Band akan kembali tampil pada SUVJF tahun ini dengan membawa sekitar 38 kru dan musisi. Bagi Devy, membawa kelompok sebesar itu ke Bali bukan perkara mudah. Biaya perjalanan, akomodasi, hingga kebutuhan produksi menjadi tantangan tersendiri. Ia menilai banyak festival kini harus berkompromi dengan pasar agar mampu bertahan. Sebaliknya, SUVJF tetap memilih menghadirkan jazz sebagai identitas utama.
Pengakuan serupa datang dari drummer asal Italia, Simone Prattico, yang kembali tampil di SUVJF setelah sebelumnya merasakan atmosfer festival tersebut.
Menurut Simone, Indonesia memiliki talenta musik yang sangat besar dengan karakter yang masih autentik.
Ia menilai alasan para musisi Indonesia berkarya masih didorong oleh hasrat kreatif, bukan semata tuntutan industri. Karakter itulah yang membuat pengalaman bermusik di Indonesia berbeda dibandingkan banyak negara lain.
“Yang saya rasakan di Indonesia adalah autentisitas. Orang-orang membuat musik karena memang mencintai musik. Festival seperti ini penting untuk menjaga itu,” katanya.
Komitmen menjaga jazz juga tercermin dalam cara SUVJF memberi ruang bagi regenerasi.
Co-founder SUVJF, Yuri Mahatma, mengatakan festival ini sejak awal dibangun sebagai platform bagi musisi Indonesia, termasuk musisi muda yang belum memiliki panggung besar.
Menurutnya, regenerasi merupakan tanggung jawab bersama komunitas jazz. Karena itu, SUVJF secara konsisten menghadirkan musisi muda berdampingan dengan nama-nama yang telah dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Berbeda dengan banyak penyelenggara festival yang menetapkan target jumlah pengunjung sebagai ukuran keberhasilan, SUVJF justru memilih membebaskan diri dari target tersebut.
Semangat menjaga identitas itu tidak hanya tampak pada kurasi musik. Filosofi yang sama juga diterjemahkan ke dalam rancangan ruang festival.

Kurator Vanue SUVJF, Diana Surya, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini mengusung tema Island Life, sebuah gagasan yang berangkat dari kehidupan pulau, khususnya Bali.
Namun tema tersebut tidak hanya menampilkan sisi indah Bali sebagai destinasi wisata. Sebaliknya, pengunjung juga diajak melihat berbagai persoalan yang dihadapi pulau ini, mulai dari persoalan sampah, relasi manusia dengan alam, hingga pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.
Seluruh gagasan itu diterjemahkan melalui berbagai instalasi seni yang tersebar di area festival.
“Yang kami tampilkan bukan hanya indahnya Bali, tetapi juga persoalan-persoalan yang sedang dihadapi pulau ini. Semua kami hadirkan dalam bentuk artwork,” kata Diana.
Konsep ruang festival pun mengikuti karakter alam lokasi penyelenggaraan yang berada di kawasan tepian Sungai Wos dengan kontur bertingkat yang kemudian direspon dengan membangun tiga level panggung.
Di bagian paling atas terdapat Panggung Giri yang merepresentasikan kawasan pegunungan. Area tengah menjadi Panggung Kolaborasi, ruang utama bagi berbagai aktivitas kreatif, workshop, komunitas, hingga pertunjukan lintas disiplin. Sementara, di bagian paling bawah yang berbatasan langsung dengan sungai dibangun Panggung Subak, sebagai simbol perjalanan air dari hulu menuju hilir.
Keseluruhan tata ruang tersebut menggambarkan perjalanan “dari gunung sampai hilir”, selaras dengan tema besar Island Life yang menghubungkan manusia, alam, dan kebudayaan dalam satu pengalaman festival.
Filosofi keberlanjutan itu tidak berhenti pada desain artistik. Namun, SUVJF kembali menerapkan konsep minim sampah dengan melarang penggunaan produk sekali pakai selama festival berlangsung.
Seluruh minuman akan disajikan menggunakan gelas pakai ulang melalui sistem deposit sebesar dua puluh ribu rupiah. Gelas dapat digunakan berulang kali selama festival, ditukar apabila kotor, atau dikembalikan di akhir acara untuk memperoleh kembali uang deposit.
Sementara itu, makanan akan disajikan menggunakan wadah tradisional seperti ingke dan tekor sebagai upaya mengurangi sampah yang sulit didaur ulang.

Panitia juga menghadirkan stasiun pengisian daya berbasis panel, Eco Games untuk membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini, pameran seni, workshop, hingga instalasi bambu yang dikembangkan bersama komunitas arsitektur dan perancang lokal.
Bagi Diana, seluruh elemen tersebut dirancang agar pengunjung tidak hanya datang untuk menonton konser, tetapi juga mengalami sebuah perjalanan yang menghubungkan musik, seni, ruang, dan lingkungan.
Pada akhirnya, yang dipertahankan Sthala Ubud Village Jazz Festival selama 13 tahun bukan hanya sebuah festival tahunan, yang dijaga adalah sebuah ekosistem.
Berikut adalah deretan musisi yang akan mempersembahkan karyanya di panggung Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026: Dattie Do Duo bersama Warman Sanjaya dan Sinuksma, Dodot Trio, Imelda Rosalin Quintet, Jadi Peperaku Quartet feat. Kasyfi Kalyasena, JZ.KA Trio, Koku Harsoe & San Trio, LaDy.Q, Pong Nakornchai Ensemble asal Thailand, Rason Trio, Salamander Big Band, Simone Prattico Java Collective feat. Sri Hanuraga dan Kevin Yosua, Straight & Stretch feat. Dian Pratiwi, Glen Wee, dan Masahiko Kitahara, Strings Corner Project, Watchdog dari Prancis, ZHETTRIO dari Jepang, Michael Amanda Trio, hingga Westside Vinyl Deejays. [T]
Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Adnyana Ole






























