Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar membuka pameran kelompok SAMATRA: Quiet Gestures, yang berlangsung hingga 3 Oktober 2026. Menghadirkan karya A. Jasmine, Dyah Ayu Wulandari, Made Virgie Avianthy, Novieta Tourisia, dan Studio Estรฉh, pameran ini mengajak pengunjung kembali memperhatikan hubungan manusia dengan alam melalui hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian.
Dalam bahasa Bali, samatra memiliki beragam makna: suguhan sederhana, sapaan singkat, sambutan yang tulus, hingga sesuatu yang diberikan secukupnya. Dari pengertian inilah pameran bertolak, menghadirkan karya-karya yang berbicara tentang keseharian, ruang hidup, ingatan, dan relasi manusia dengan lingkungan melalui gestur-gestur yang tenang.
Alih-alih menawarkan gagasan yang besar atau spektakuler, SAMATRA justru mengajak pengunjung memperhatikan isyarat-isyarat kecil yang menopang kehidupan. Kepedulian, perhatian, rasa syukur, dan tindakan sederhana menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh karya. Melalui beragam medium, para seniman menunjukkan bahwa perubahan sering kali berawal dari kesadaran yang tumbuh dalam keseharian.
Setiap seniman menghadirkan pendekatan yang berbeda
Melalui instalasi Sebuah Kerangka Berpikir, Studio Estรฉh, duo seniman Esmeralda Purwa Kustari dan Putu Teja Kesuma, mengajak publik menelusuri paradoks berpikir. Bagi mereka, berpikir bukan sekadar mencari jawaban, melainkan mempertentangkan berbagai pengetahuan yang selalu memiliki keterbatasan. Akal sehat berhadapan dengan sains, sains berdialog dengan spiritualitas, sementara setiap cara pandang membuka kemungkinan sekaligus menyisakan ruang untuk dipertanyakan kembali.

Berbeda dengan Studio Estรฉh, Novieta Tourisia menghadirkan hubungan yang lebih intim antara tubuh dan alam melalui karya Tanah, Tingi, dan Tubuh. Seniman sekaligus pendiri Cinta Bumi Artisans ini melihat kain sebagai “kulit kedua” manusia, benda pertama yang dikenakan saat lahir dan yang terakhir menyelimuti tubuh ketika meninggal. Karyanya memperlihatkan percakapan yang terus berlangsung antara tanah, tumbuhan, mineral, air, kain, dan tubuh, mengingatkan bahwa manusia merupakan bagian dari siklus alam yang tak pernah terputus.

Ingatan menjadi titik berangkat karya Made Virgie Avianthy. Melalui instalasi Melaut Melayat / Grief To The Sea, ia menelusuri bagaimana seseorang tetap hidup melalui cerita, ritual, dan memori yang diwariskan. Berawal dari pencarian personal terhadap sosok ayahnya yang meninggal ketika ia baru berusia tiga bulan, karya ini berkembang selama lima tahun melalui film eksperimental dan eksplorasi salt printing menggunakan air laut dari lokasi pelarungan abu kremasi masyarakat Hindu Bali. Proyeksi gambar bergerak dan televisi dua kanal menghadirkan dua cara mengingat yang berbeda, sekaligus mengajak pengunjung menyusun kembali fragmen-fragmen ingatan yang tersisa.

Sementara itu, A. Jasmine menghadirkan seri gambar Hide and Ascend, yang mengeksplorasi mark-making melalui proses menghapus, bukan menambahkan. Jejak yang perlahan dihilangkan justru memungkinkan cahaya muncul dan membentuk gambar. Dalam proses tersebut, tindakan menghapus menjadi cara mengingat, sebuah pencarian akan cahaya yang perlahan hadir dari dalam kegelapan.

Keterhubungan manusia dengan bumi hadir kuat dalam karya Dyah Ayu Wulandari (Wellwul) berjudul Lelampahan Menapak Bumi. Lelampahan berarti perjalanan, kisah, atau lakon. Berangkat dari kesadaran bahwa manusia bukan pusat alam, karya ini mengingatkan bahwa setiap langkah selalu berpijak pada bumi yang sama dan setiap tindakan memiliki kuasa untuk menghidupi ataupun menghabisi kehidupan. Dua sosok manusia, kain yang memudar, serta sepasang kaki gerabah menjadi simbol hubungan antara masa lalu, masa depan, dan bumi sebagai asal sekaligus tujuan akhir manusia. Seperti diungkapkan sang seniman, hidup pada akhirnya adalah praktik untuk terus menghidupi.

Selain pameran, Buki Gallery juga akan menghadirkan rangkaian program publik sepanjang periode penyelenggaraan, mulai dari temu seniman, diskusi, hingga lokakarya yang memperluas percakapan mengenai seni, lingkungan, dan praktik keseharian. Seluruh program berlangsung di kawasan Bumi Kinar, sebuah resor yang memadukan arsitektur tradisional Bali dengan desain kontemporer di tengah lanskap hijau Ubud.
Melalui SAMATRA, Buki Gallery membuka ruang dialog antara seni, alam, dan masyarakat. Pameran ini mengingatkan bahwa merawat bumi tidak selalu dimulai dari tindakan-tindakan besar, melainkan dari perhatian terhadap isyarat-isyarat kecil yang hadir dalam keseharian. Sebab, perubahan sering kali tumbuh perlahan, bermula dari gestur yang sederhana, dilakukan dengan kesadaran, dan dirawat bersama.
SAMATRA: Quiet Gestures dapat dikunjungi hingga 3 Oktober 2026 di Buki Gallery at Bumi Kinar, Ubud, Bali.[T]
Penulis:ย Gustra Adnyana
Editor: Adnyana Ole








![Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca โSundari Rajataโ Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-kebaya2-1-360x180.jpg)
![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-360x180.png)





















