19 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
July 29, 2026
in Esai
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih kaku karena belum sempat dicuci berkali-kali. Ada sepatu yang masih putih bersih, Ada pula orang tua yang tiba-tiba berubah menjadi fotografer profesional demi mengabadikan hari pertama sekolah anaknya. Media sosial pun mendadak dipenuhi unggahan bertagar back to school. Rasanya, negeri ini seperti baru saja menggelar pesta pendidikan.

Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) pun telah usai. Tahun ini, pemerintah mengusung tema MPLS Ramah. Sebuah tema yang sederhana, tetapi mengandung pesan yang sangat mendalam. Sekolah bukan lagi tempat yang menakutkan, melainkan rumah kedua yang menyenangkan bagi setiap peserta didik.

Namun, setelah gema tepuk tangan MPLS berakhir dan spanduk penyambutan mulai diturunkan, pekerjaan sesungguhnya justru baru dimulai. Sekolah kembali mengemban tugas yang tidak ringan: membentuk manusia yang cerdas sekaligus berkarakter.

Persoalannya, membangun karakter ternyata jauh lebih rumit daripada membangun gedung sekolah. Gedung cukup membutuhkan gambar, semen, batu, dan tukang. Karakter membutuhkan keteladanan, kesabaran, konsistensi, dan… doa yang tidak putus-putus.

Hari ini hampir semua pihak sepakat bahwa dunia usaha dan dunia industri tidak hanya mencari lulusan yang pintar. Nilai rapor memang penting, tetapi sikap jauh lebih menentukan. Perusahaan dapat melatih seseorang mengoperasikan mesin dalam beberapa minggu. Namun melatih kejujuran, disiplin, tanggung jawab, atau kemampuan menghargai orang lain, sering kali membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Penguatan karakter SMKN 1 Petang di Sumitra Luxury Villas & Resort Sanur

Maka dari itu, muncullah istilah yang kini akrab di telinga kita: soft skills dan hard skills. Anehnya, ketika terjadi persoalan di rung publik, yang sering ditanyakan bukan lagi, “Mengapa ini bisa terjadi?” melainkan, “Sekolahnya dulu di mana?”

Kalau ada remaja tawuran, sekolah disorot. Kalau anak melakukan perundungan, sekolah dipanggil. Kalau orang dewasa korupsi, entah bagaimana logikanya, ada juga yang bertanya, “Dulu waktu sekolah dia diajari apa?” Boleh jadi, kalau ada tetangga lupa mengembalikan wadah sayur, jangan-jangan sekolahnya juga ikut dimintai klarifikasi.

Bahkan, ketika muncul kasus kriminal yang sedang ramai, misalnya pencurian ayam yang kemudian berujung pada aksi persekusi, jagat maya seketika berubah menjadi ruang sidang terbuka. Perang opini pun tak terelakkan. Ada yang membela korban pencurian, ada yang mengecam tindakan persekusi, sementara sebagian lainnya sibuk mencari siapa yang paling layak disalahkan.

Dari itu, pandangan insan pendidikan pun tidak selalu seirama. Dalam situasi seperti ini, sekolah sering berada pada posisi yang serba sulit. Diam dianggap tidak peduli, bersuara dikhawatirkan ditafsirkan memihak. Tugas utama sekolah bukan menjadi hakim atas setiap peristiwa sosial. Sekolah wajib untuk terus menanamkan nilai-nilai kejujuran, empati, penghormatan terhadap hukum, dan kemanusiaan. Hal ini sangat penting agar peserta didik kelak mampu menyikapi persoalan dengan akal sehat, hati nurani, dan karakter yang baik.

Sekolah memang sering menjadi “tersangka favorit”. Padahal, kalau kita jujur, karakter manusia tidak dibentuk hanya selama enam atau tujuh jam di sekolah. Masih ada sekitar delapan belas jam lainnya yang dihabiskan di rumah, di lingkungan pergaulan, di media sosial, di dunia digital, bahkan di kolom komentar yang kadang memanaskan musim dingin di bulan Juli. Di sinilah persoalan pendidikan karakter menjadi semakin kompleks.

Dulu, guru cukup berhadapan dengan papan tulis. Sekarang guru harus berhadapan dengan papan tulis, gawai, media sosial, algoritma, influencer, konten viral, bahkan komentar netizen yang datang lebih cepat daripada bel masuk sekolah.

Belum selesai guru menjelaskan pentingnya berkata sopan, peserta didik sudah membuka media sosial yang mempertontonkan orang terkenal saling menghina demi jumlah penonton. Belum selesai guru mengajarkan kejujuran, muncul konten yang mengajarkan bagaimana memperoleh keuntungan dengan jalan pintas. Belum selesai guru menanamkan kesabaran, dunia digital justru menawarkan segala sesuatu serba instan, COD.

Guru mengajarkan karakter selama empat puluh menit. Algoritma media sosial bekerja dua puluh empat jam tanpa mengenal hari libur. Pertanyaannya, siapa yang lebih sering didengar? Ironisnya, ketika terjadi penyimpangan perilaku, sekolah kembali menjadi alamat pertama yang dituju.

Padahal pendidikan karakter adalah urusan bersama. Rumah adalah sekolah pertama. Orang tua adalah guru pertama. Lingkungan adalah ruang praktik pertama. Sekolah hanyalah salah satu mata rantai yang bekerja bersama keluarga, rung publik, pemerintah, media, dunia usaha, organisasi keagamaan, dan seluruh elemen bangsa. Kalau salah satu mata rantai itu putus, hasil akhirnya tentu tidak akan sempurna.

Rapat Koordinasi Penguatan Karakter antar-Orang tua-SMKN 1 Petang

Tantangan lain yang dihadapi pendidikan saat ini adalah derasnya arus persepsi publik. Di era media sosial, sebuah video berdurasi lima belas detik kadang lebih dipercaya daripada penjelasan utuh selama satu jam. Potongan peristiwa sering dianggap sebagai keseluruhan cerita. Opini berlari jauh mendahului fakta. Pengadilan media sosial kadang selesai lebih cepat daripada proses hukum yang sebenarnya.

Guru pun berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, mereka dituntut tegas mendidik. Di sisi lain, mereka harus sangat berhati-hati agar ketegasan itu tidak ditafsirkan sebagai pelanggaran.

Akibatnya, ada guru yang mulai berpikir dua kali sebelum menegur. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena khawatir salah dipahami. Padahal, pendidikan tanpa keberanian menegur ibarat mengemudi tanpa rem. Kendaraan mungkin tetap melaju, tetapi semua penumpangnya berdebar.

Tentu kita tidak sedang menginginkan guru kebal kritik. Guru tetap harus profesional, menghormati hak peserta didik, dan menjunjung tinggi etika. Namun rung publik pun perlu memberi ruang agar guru dapat menjalankan fungsi pendidik secara proporsional, bukan sekadar menjadi pengajar yang takut berbicara.

Mungkin sudah saatnya kini kita berhenti mencari siapa yang paling bersalah. Lalu mari mulai bertanya, “Siapa yang paling siap bekerja sama?”

Karakter tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari keteladanan. Ia berkembang dari kebiasaan. Ia menguat karena konsistensi. Ia hanya akan berhasil apabila sekolah, keluarga, rung publik, media, pemerintah, serta dunia usaha berjalan pada irama yang sama.

Kalau semua pihak hanya menunjuk sekolah, sementara yang lain sibuk menunjuk layar telepon genggam, jangan heran apabila pendidikan karakter berjalan seperti lomba tarik tambang yang talinya dipegang ke arah yang berbeda-beda.

Pendidikan karakter bukanlah pekerjaan satu institusi. Ia adalah pekerjaan seluruh bangsa. Karena sejatinya, dibutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Maka, jangan biarkan satu sekolah memikul beban seluruh kampung.

Di tengah berbagai tantangan itu, sekolah tentu tidak boleh menyerah. Guru tetap harus menjadi pelita yang menerangi jalan anak-anak bangsa. Namun, cahaya itu akan redup apabila rumah memadamkannya, lingkungan meniupnya, dan media sosial justru menyalakan api yang berbeda.

Sudah saatnya kita berhenti menjadikan sekolah sebagai “kambing hitam” setiap kali karakter bangsa dipersoalkan. Sebaliknya, menjadikan sekolah sebagai mitra utama dalam membangun generasi yang berilmu, beretika, dan berkepribadian luhur. Pendidikan karakter bukan pekerjaan satu lembaga, melainkan kerja kolektif seluruh elemen bangsa.

Ki Hajar Dewantara pernah mengingatkan, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Pesan sederhana itu tetap relevan hingga hari ini. Sebab, karakter anak tidak hanya dibentuk oleh apa yang diajarkan di ruang kelas, tetapi juga oleh apa yang ia lihat di ruang keluarga, di lingkungan rung publik, dan di ruang-ruang digital yang kini nyaris tanpa batas.

Kalau semua pihak bersedia menjadi guru bagi dirinya sendiri, mungkin sekolah tidak perlu lagi bekerja sendirian mendidik karakter bangsa.

Barangkali kita perlu mengubah satu kebiasaan lama. Setiap kali muncul persoalan perilaku anak, jangan buru-buru bertanya, “Sekolahnya di mana?” Cobalah sesekali bertanya, “Rumahnya seperti apa?”, “Lingkungannya bagaimana?”, atau bahkan, “Apa yang setiap hari ditonton di gawainya?”

Penguatan karakter industri SMKN 1 Petang di The Apurva Kempinsky Bali

Bagi saya, karakter bukanlah hasil belajar selama tujuh jam di sekolah. Karakter adalah akumulasi dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan diteladani setiap hari.

Maka dari itu, seperti pesan bijak yang sering dikaitkan dengan sebuah peribahasa Afrika, “It takes a village to raise a child”—dibutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Jika seluruh kampung ikut mendidik, sekolah tidak akan kelelahan. Namun jika seluruh kampung hanya pandai menyalahkan sekolah, jangan heran bila karakter bangsa berjalan tertatih-tatih mengejar zaman. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: pendidikan karakterSMKSMKN 1 Petang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

Next Post

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails
Next Post
Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ------Dari FGD ISI Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         
Khas

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris
Pendidikan

FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris

DENPASAR | TATKALA.CO -- Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan Focus Group...

by Dewi Yulianti
August 19, 2026
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026
Panggung

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 18, 2026
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta
Khas

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh
Esai

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
Indonesia yang Muncul di Beranda
Esai

Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

by Angga Wijaya
August 18, 2026
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi
Tualang

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung
Bahasa

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

by I Made Sudiana
August 18, 2026
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co