3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 12, 2026
in Esai
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day

Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti perayaan sederhana tentang anak muda, tetapi sejarahnya menunjukkan sesuatu yang jauh lebih penting: masyarakat internasional perlahan menyadari bahwa masa depan dunia tidak dapat dibangun tanpa melibatkan kaum muda. Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 1965 telah menaruh perhatian pada peran pemuda dalam perdamaian, saling menghormati, pembangunan, dan kehidupan masyarakat.

Tonggak penting berikutnya terjadi pada 1985, ketika PBB menetapkan International Youth Year dengan tema “Participation, Development and Peace”—partisipasi, pembangunan, dan perdamaian. Pesannya jelas: pemuda bukan sekadar generasi yang sedang menunggu giliran memimpin. Mereka sudah memiliki peran dalam kehidupan masyarakat hari ini. Bahkan PBB kemudian mengembangkan World Programme of Action for Youth untuk memberi kerangka yang lebih luas terhadap persoalan dan potensi generasi muda.

Yang menarik, gagasan mengenai International Youth Day sendiri tidak semata-mata lahir dari birokrasi internasional. Pada 1991, anak-anak muda yang berkumpul dalam World Youth Forum di Wina, Austria, mengusulkan adanya hari internasional untuk meningkatkan perhatian terhadap persoalan dan potensi kaum muda. Enam tahun kemudian, gagasan tersebut bergerak menuju keputusan internasional yang lebih konkret.

Pada 8–12 Agustus 1998, World Conference of Ministers Responsible for Youth berlangsung di Lisbon, Portugal. Konferensi tersebut mengusulkan tanggal 12 Agustus sebagai International Youth Day. Bahkan pemilihan tanggal itu menarik: semula ada usulan tanggal lain, tetapi 12 Agustus diterima karena merupakan hari penutupan konferensi.

Kemudian pada 17 Desember 1999, Majelis Umum PBB melalui Resolusi 54/120 secara resmi mengesahkan 12 Agustus sebagai International Youth Day. Peringatan pertamanya berlangsung pada 12 Agustus 2000. Dengan demikian, hari ini, 12 Agustus 2026, merupakan peringatan ke-27 sejak peringatan internasional pertamanya.

Ada sesuatu yang patut direnungkan dari sejarah tersebut. Dunia tidak sekadar membutuhkan pemuda yang pintar, tetapi pemuda yang berpartisipasi, kreatif, mampu menghadapi tantangan, dan memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab. Karena itu, Hari Pemuda seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia adalah undangan untuk bertanya: pemuda seperti apa yang sedang kita bentuk?

“Taklukkan Tantangan, Berdayakan Dirimu”

Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada buku Guruji Anand Krishna, Youth Challenges and Empowerment, Taklukkan Tantangan & Berdayakan Dirimu. Ada relevansi yang sangat kuat antara semangat buku tersebut dengan makna International Youth Day. Jika PBB berbicara tentang pemuda sebagai partner bagi masyarakat dunia, Guruji mengajak pemuda memulai perjalanan itu dari dalam dirinya sendiri.

Pesan Guruji yang teringat kembali adalah: “Pintar-pintarlah menentukan potensi diri.” Kalimat ini sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam. Tantangan pertama seorang anak muda bukan selalu dunia di luar dirinya. Tantangan pertama justru adalah menemukan siapa dirinya, apa kekuatannya, apa bakatnya, dan untuk apa potensi itu hendak digunakan.

Kita sering melakukan kesalahan ketika mengukur keberhasilan anak muda hanya dengan standar yang seragam. Semua diarahkan untuk mengejar profesi tertentu, gelar tertentu, pendapatan tertentu, atau status sosial tertentu. Padahal manusia tidak dilahirkan sebagai produk massal. Setiap orang membawa kemungkinan yang berbeda. Pendidikan semestinya membantu manusia menemukan potensinya, bukan sekadar mencetak manusia yang pandai mengikuti pola.

Karena itu pesan berikutnya menjadi sangat penting: “Jadilah orisinal karena orisinal adalah kreativitas.” Menjadi orisinal bukan berarti sengaja tampil berbeda demi mendapatkan perhatian. Orisinalitas berarti berani menemukan suara sendiri, cara berpikir sendiri, kekuatan sendiri, dan jalan pengembangan diri sendiri.

Di tengah dunia yang penuh imitasi, pesan ini semakin relevan. Media sosial membuat anak muda mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka melihat keberhasilan orang lain, kemudian merasa dirinya tertinggal. Mereka melihat gaya hidup orang lain, lalu ingin menirunya. Padahal mungkin justru di dalam dirinya terdapat sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

Pemberdayaan diri, dengan demikian, bukan sekadar membuat seseorang menjadi kuat. Ia adalah proses menemukan potensi, mengembangkan kreativitas, membangun keberanian, dan akhirnya mengubah kemampuan pribadi menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pemuda yang berdaya bukan pemuda yang merasa paling hebat, melainkan pemuda yang tahu siapa dirinya dan tahu untuk apa kekuatannya digunakan.

Dari Pemuda yang Orisinal Menuju Manusia yang Memberi

Kalau kita tarik lebih jauh, pesan tersebut sejalan dengan perjalanan manusia dalam kerangka Pancamaya Kosha. Pengembangan diri tidak berhenti pada tubuh dan keterampilan fisik. Manusia bergerak dari Annamaya Kosha, mengelola energi melalui Pranamaya, mengolah pikiran melalui Manomaya, menemukan kejernihan dan kebijaksanaan melalui Vijnanamaya, hingga menyentuh kedalaman keberadaan melalui Anandamaya.

Dengan perspektif ini, youth empowerment menjadi jauh lebih luas daripada sekadar pelatihan kepemimpinan atau kesiapan memasuki dunia kerja. Pemberdayaan adalah pendidikan manusia seutuhnya. Anak muda perlu kuat secara fisik, sehat dalam mengelola energi, jernih dalam berpikir, matang dalam mengambil keputusan, dan memiliki kesadaran bahwa hidupnya memiliki hubungan dengan kehidupan yang lebih luas.

Di sinilah slogan “Youth—The Dreamers of Today; Leaders of Tomorrow” memperoleh makna yang lebih dalam. Menjadi dreamer bukan sekadar memiliki mimpi. Mimpi perlu menemukan bentuknya melalui kreativitas, disiplin, keberanian, dan tindakan. Sedangkan menjadi pemimpin bukan sekadar memiliki jabatan. Kepemimpinan pertama-tama adalah kemampuan memimpin diri sendiri.

India bahkan memiliki tradisi kepemudaan yang sangat kuat melalui National Youth Day pada 12 Januari, yang memperingati kelahiran Swami Vivekananda. Pemerintah India mengaitkannya dengan National Youth Week dan berbagai kegiatan kepemudaan. Jadi, India memiliki dua momentum yang berbeda: 12 Januari sebagai National Youth Day, dan 12 Agustus sebagai International Youth Day.

Dalam konteks itu, buku Guruji terasa semakin aktual. Dunia boleh berbicara tentang youth participation, youth leadership, youth empowerment, dan youth creativity. Tetapi semuanya kembali kepada pertanyaan paling mendasar: sudahkah seorang anak muda mengenali potensinya sendiri?

Sebab manusia yang belum mengenal potensinya mudah menjadi pengikut. Ia mudah meniru, mudah terbawa arus, dan mudah kehilangan arah. Sebaliknya, manusia yang menemukan potensinya memiliki peluang menjadi orisinal. Dan ketika orisinalitas berkembang menjadi kreativitas, lahirlah kemungkinan untuk menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada.

Maka 12 Agustus bukan hanya Hari Pemuda. Ia dapat menjadi hari untuk bercermin, termasuk bagi mereka yang secara biologis sudah tidak muda lagi. Sebab semangat muda sesungguhnya bukan hanya soal usia. Ia adalah kemampuan untuk tetap belajar, bertumbuh, bertanya, mencipta, dan memberi.

Pesan Guruji akhirnya menemukan relevansinya: kenali potensimu, taklukkan tantanganmu, berdayakan dirimu, jadilah orisinal. Karena dunia tidak membutuhkan jutaan manusia yang menjadi salinan satu sama lain. Dunia membutuhkan manusia yang menemukan keunikannya, mengolahnya menjadi kreativitas, lalu mempersembahkannya bagi kehidupan.

Pemuda hari ini adalah pemimpi. Tetapi pemimpi yang menemukan potensi dirinya, berani menjadi orisinal, dan mau mengabdikan kreativitasnya bagi sesama—dialah yang berpeluang menjadi pemimpin masa depan. [T]

Tags: Hari Pemuda InternasionalInternational Youth Daypemuda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

Next Post

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co