2 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 12, 2026
in Esai
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day

Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti perayaan sederhana tentang anak muda, tetapi sejarahnya menunjukkan sesuatu yang jauh lebih penting: masyarakat internasional perlahan menyadari bahwa masa depan dunia tidak dapat dibangun tanpa melibatkan kaum muda. Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 1965 telah menaruh perhatian pada peran pemuda dalam perdamaian, saling menghormati, pembangunan, dan kehidupan masyarakat.

Tonggak penting berikutnya terjadi pada 1985, ketika PBB menetapkan International Youth Year dengan tema “Participation, Development and Peace”—partisipasi, pembangunan, dan perdamaian. Pesannya jelas: pemuda bukan sekadar generasi yang sedang menunggu giliran memimpin. Mereka sudah memiliki peran dalam kehidupan masyarakat hari ini. Bahkan PBB kemudian mengembangkan World Programme of Action for Youth untuk memberi kerangka yang lebih luas terhadap persoalan dan potensi generasi muda.

Yang menarik, gagasan mengenai International Youth Day sendiri tidak semata-mata lahir dari birokrasi internasional. Pada 1991, anak-anak muda yang berkumpul dalam World Youth Forum di Wina, Austria, mengusulkan adanya hari internasional untuk meningkatkan perhatian terhadap persoalan dan potensi kaum muda. Enam tahun kemudian, gagasan tersebut bergerak menuju keputusan internasional yang lebih konkret.

Pada 8–12 Agustus 1998, World Conference of Ministers Responsible for Youth berlangsung di Lisbon, Portugal. Konferensi tersebut mengusulkan tanggal 12 Agustus sebagai International Youth Day. Bahkan pemilihan tanggal itu menarik: semula ada usulan tanggal lain, tetapi 12 Agustus diterima karena merupakan hari penutupan konferensi.

Kemudian pada 17 Desember 1999, Majelis Umum PBB melalui Resolusi 54/120 secara resmi mengesahkan 12 Agustus sebagai International Youth Day. Peringatan pertamanya berlangsung pada 12 Agustus 2000. Dengan demikian, hari ini, 12 Agustus 2026, merupakan peringatan ke-27 sejak peringatan internasional pertamanya.

Ada sesuatu yang patut direnungkan dari sejarah tersebut. Dunia tidak sekadar membutuhkan pemuda yang pintar, tetapi pemuda yang berpartisipasi, kreatif, mampu menghadapi tantangan, dan memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab. Karena itu, Hari Pemuda seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia adalah undangan untuk bertanya: pemuda seperti apa yang sedang kita bentuk?

“Taklukkan Tantangan, Berdayakan Dirimu”

Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada buku Guruji Anand Krishna, Youth Challenges and Empowerment, Taklukkan Tantangan & Berdayakan Dirimu. Ada relevansi yang sangat kuat antara semangat buku tersebut dengan makna International Youth Day. Jika PBB berbicara tentang pemuda sebagai partner bagi masyarakat dunia, Guruji mengajak pemuda memulai perjalanan itu dari dalam dirinya sendiri.

Pesan Guruji yang teringat kembali adalah: “Pintar-pintarlah menentukan potensi diri.” Kalimat ini sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam. Tantangan pertama seorang anak muda bukan selalu dunia di luar dirinya. Tantangan pertama justru adalah menemukan siapa dirinya, apa kekuatannya, apa bakatnya, dan untuk apa potensi itu hendak digunakan.

Kita sering melakukan kesalahan ketika mengukur keberhasilan anak muda hanya dengan standar yang seragam. Semua diarahkan untuk mengejar profesi tertentu, gelar tertentu, pendapatan tertentu, atau status sosial tertentu. Padahal manusia tidak dilahirkan sebagai produk massal. Setiap orang membawa kemungkinan yang berbeda. Pendidikan semestinya membantu manusia menemukan potensinya, bukan sekadar mencetak manusia yang pandai mengikuti pola.

Karena itu pesan berikutnya menjadi sangat penting: “Jadilah orisinal karena orisinal adalah kreativitas.” Menjadi orisinal bukan berarti sengaja tampil berbeda demi mendapatkan perhatian. Orisinalitas berarti berani menemukan suara sendiri, cara berpikir sendiri, kekuatan sendiri, dan jalan pengembangan diri sendiri.

Di tengah dunia yang penuh imitasi, pesan ini semakin relevan. Media sosial membuat anak muda mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka melihat keberhasilan orang lain, kemudian merasa dirinya tertinggal. Mereka melihat gaya hidup orang lain, lalu ingin menirunya. Padahal mungkin justru di dalam dirinya terdapat sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

Pemberdayaan diri, dengan demikian, bukan sekadar membuat seseorang menjadi kuat. Ia adalah proses menemukan potensi, mengembangkan kreativitas, membangun keberanian, dan akhirnya mengubah kemampuan pribadi menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pemuda yang berdaya bukan pemuda yang merasa paling hebat, melainkan pemuda yang tahu siapa dirinya dan tahu untuk apa kekuatannya digunakan.

Dari Pemuda yang Orisinal Menuju Manusia yang Memberi

Kalau kita tarik lebih jauh, pesan tersebut sejalan dengan perjalanan manusia dalam kerangka Pancamaya Kosha. Pengembangan diri tidak berhenti pada tubuh dan keterampilan fisik. Manusia bergerak dari Annamaya Kosha, mengelola energi melalui Pranamaya, mengolah pikiran melalui Manomaya, menemukan kejernihan dan kebijaksanaan melalui Vijnanamaya, hingga menyentuh kedalaman keberadaan melalui Anandamaya.

Dengan perspektif ini, youth empowerment menjadi jauh lebih luas daripada sekadar pelatihan kepemimpinan atau kesiapan memasuki dunia kerja. Pemberdayaan adalah pendidikan manusia seutuhnya. Anak muda perlu kuat secara fisik, sehat dalam mengelola energi, jernih dalam berpikir, matang dalam mengambil keputusan, dan memiliki kesadaran bahwa hidupnya memiliki hubungan dengan kehidupan yang lebih luas.

Di sinilah slogan “Youth—The Dreamers of Today; Leaders of Tomorrow” memperoleh makna yang lebih dalam. Menjadi dreamer bukan sekadar memiliki mimpi. Mimpi perlu menemukan bentuknya melalui kreativitas, disiplin, keberanian, dan tindakan. Sedangkan menjadi pemimpin bukan sekadar memiliki jabatan. Kepemimpinan pertama-tama adalah kemampuan memimpin diri sendiri.

India bahkan memiliki tradisi kepemudaan yang sangat kuat melalui National Youth Day pada 12 Januari, yang memperingati kelahiran Swami Vivekananda. Pemerintah India mengaitkannya dengan National Youth Week dan berbagai kegiatan kepemudaan. Jadi, India memiliki dua momentum yang berbeda: 12 Januari sebagai National Youth Day, dan 12 Agustus sebagai International Youth Day.

Dalam konteks itu, buku Guruji terasa semakin aktual. Dunia boleh berbicara tentang youth participation, youth leadership, youth empowerment, dan youth creativity. Tetapi semuanya kembali kepada pertanyaan paling mendasar: sudahkah seorang anak muda mengenali potensinya sendiri?

Sebab manusia yang belum mengenal potensinya mudah menjadi pengikut. Ia mudah meniru, mudah terbawa arus, dan mudah kehilangan arah. Sebaliknya, manusia yang menemukan potensinya memiliki peluang menjadi orisinal. Dan ketika orisinalitas berkembang menjadi kreativitas, lahirlah kemungkinan untuk menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada.

Maka 12 Agustus bukan hanya Hari Pemuda. Ia dapat menjadi hari untuk bercermin, termasuk bagi mereka yang secara biologis sudah tidak muda lagi. Sebab semangat muda sesungguhnya bukan hanya soal usia. Ia adalah kemampuan untuk tetap belajar, bertumbuh, bertanya, mencipta, dan memberi.

Pesan Guruji akhirnya menemukan relevansinya: kenali potensimu, taklukkan tantanganmu, berdayakan dirimu, jadilah orisinal. Karena dunia tidak membutuhkan jutaan manusia yang menjadi salinan satu sama lain. Dunia membutuhkan manusia yang menemukan keunikannya, mengolahnya menjadi kreativitas, lalu mempersembahkannya bagi kehidupan.

Pemuda hari ini adalah pemimpi. Tetapi pemimpi yang menemukan potensi dirinya, berani menjadi orisinal, dan mau mengabdikan kreativitasnya bagi sesama—dialah yang berpeluang menjadi pemimpin masa depan. [T]

Tags: Hari Pemuda InternasionalInternational Youth Daypemuda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

Next Post

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails
Next Post
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co