3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
in Esai
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

Sosialisasi beasiswa Nak Badung dengan orangtua siswa di SMAN 2 Kuta Selatan

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa dengan persyaratan tertentu. Peryaratan tertentu itu antara lain ber-Kartu Keluarga Badung minimal 5 tahun, tidak sedang menerima beasiswa lain, orang tua berpenghasilan tidak lebih daripada Rp 5.000.000,00/bulan, dan tidak berlaku bagi anak ASN.

Dalam konteks Indonesia memasuki 81 Tahun Kemerdekaan, Program Beasiswa Motivasi Nak Badung adalah salah satu cara melunasi janji kemerdekaan, khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Program ini koheren dengan Program Pemerintah Provinsi Bali : satu keluarga satu sarjana. Lebih-lebih, Gubernur Koster punya program khusus berkearifan Bali dengan beasiswa bagi anak bergelar Nyoman dan Ketut. Program ini selain berbasis budaya Bali dengan KB 4 anak, juga  menyiratkan keberlanjutan program pembangunan Sumber Daya Manusia Bali Unggul yang utuh dari Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut. Manusia Bali Unggul bercirikan teliti/detail, lemuh tusing elung (lemah lembut), dabdab (tenang), ipil-ipil (mengumpulkan secara bertahap), tragia (siap siaga), lascarya (tulus ikhlas), dan someh (ramah, sopan).

Menariknya Program Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menggunakan diksi “Beasiswa Motivasi Nak Badung” yang merujuk pada makna anak-anak Badung dari Muncuk Keris (Petang) sampai Bongkol Keris (Kuta Selatan). Secara leksikal, badung artinya nakal. Nak Badung berarti anak nakal. Dalam konteks ini, nakal pun bisa bermakna positif. Cetetukan-celetukan nakal dapat dijumpai dalam pentas seni.

Sosialisasi beasiswa Nak Badung dengan orangtua siswa di SMAN 2 Kuta Selatan

Ketika Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII yang digelar di Taman Budaya Denpasar Juli 2026, celetukan-celetukan nakal misalnya muncul sebagai ruang kritik sosial terkait persoalan bangsa yang sedang berlangsung seperti janji-janji pemimpin yang belum dilaksanakan. Inilah  disebut pemikiran transitif kritis oleh Paulo Freira, paedog Brasil yang gagasannya dijumpai pula di  Perguruan Taman Siswa dengan  Ki Hadjar Dewantara sebagai arsiteknya. Para aktor dalam pentas FSBJ VIII 2026 hadir mengisi ruang kosong yang seharusnya disuarakan para legislator dan disajikan dengan cerdas dan penuh tawa. Mereka menerima pemimpin sekaligus mengkritisi sebagai pertanda memiliki, mencintai, sekaligus memperbaiki ke arah tujuan bersama ; mencerdaskan. Bukan menjajah, menindas dan membodohi, melainkan memerdekakan secara lahir batin.

Bila Nak Badung merujuk pada warga Badung dari Petang sampai Kuta Selatan yang pastinya mereka adalah anak-anak desa. Nak Desa dalam kearifan lokal Delod Ceking mengacu pada mereka yang tinggal di lingkungan pemukiman Tanah Ayahan Desa tempat Pura Paibon, Merajan, Dadia berdiri. Di tempat itu, umumnya sikut karang satakan diimani dan diajegkan. Di sana, mandala dibagi tiga : Utama Mandala, Madya Mandala, Nista Mandala.

Di Utama Mandala berdiri jejer kemiri Pura yang relatif lengkap termasuk ada Penyawangan ke berbagai Pura yang berbeda antar Paibon, Merajan, atau Dadia. Uniknya, banyak di antaranya tanpa catatan mengapa dan bagaimana penyawangan itu didirikan. Generasi pewarisnya meyakini secara gugon towon. Tidak berani mengubah apalagi meniadakan. Janji leluhur tidak terlacak dalam tulisan. Tanda rendahnya literasi. Pun tidak terdengar cerita lisan yang mengiringi sebagai bentuk transfer dari generasi terdahulu ke pewarisnya.

Di Madya Mandala, berdiri bale dangin (tempat tidur), bale daja, bale delod, bale gede, Sanggah Surya di tengah halaman, Tugu Karang di bucu Kaja Kauh,  dapur, kamar kecil. Selanjutnya, di Nista Mandala berdiri pintu gerbang dan telajakan. Madya mandala menjadi pusat aktivitas kemanusiaan dalam konteks Manusa Yadnya.

Dengan demikian, Nak Desa dalam konsep pemukiman Delod Ceking mengacu pada anak-anak dari orang tua yang menempati karang ayahan yang berada di pusat desa. Karang ayahan ini dapat dikatakan sebagai karang suci karena ditempat inilah berbagai upacara besar tingkat keluarga dimulai dan berakhir. Status mereka yang menempati karang ayahan desa  sebagai pangijeng bertugas sekala niskala. Ini mengingatkan kita pada lagu “Putri Cening Ayu” yang anonim pengarangnya. “Putri cening ayu, ngijeng cening jumah, meme luas malu, ka peken mablanja, apang ada daarang nasi”. Syair yang mendunia dengan diksi sederhana tetapi kaya makna. Lebih-lebih terus-menerus dinyanyikan. Dalam rangka mewujudkan SDM Bali Unggul, syair ini dapat menjadi lagu wajib dalam mendidik anak selain lagu “Bibi Anu”, misalnya.

Sosialisasi beasiswa Nak Badung dengan orangtua siswa di SMAN 2 Kuta Selatan

Penyebutan rumah di karang ayahan desa disebut Umah jumah, sesederhana apa pun bentuknya. Barangkali di sinilah makna mendalam dari frase,  “ngijeng cening jumah”, dalam syair lagu Putri Cening Ayu.  Mengapa ? Umah Jumah dengan sikut karang satakan, ada pura keluarga (paibon, dadia, merajan) yang harus dirawat dan dijaga. Merawat dengan mabanten saiban setiap hari, menjaga kebersihannya dengan menyapu setiap hari. “Geginane buka nyampat, ilang luu, buuke katah”, sebagaimana diingatkan dalam Pupuh Ginada. Itu menjadi tugas berat Nak Desa sebagai pangijeng.

Berbeda dengan rumah di luar karang ayahan di pusat desa, seelit apa pun bentuknya, tetap disebut sebagai kubu dimel. Di Delod Ceking, jika ada orang bertanya, “Kal kija?”  lalu dijawab

‘mulih’ dapat dipastikan ia tinggal di karang ayahan desa, sering pula disebut umah tua. Namun, jika dijawab “ke kubu” dapat dipastikan yang bersangkutan tinggal dimel. Dimel artinya di alas atau di teba, atau di abian.

Ketika zaman listrik belum merata sebelum 1990-an, ada perbedaan kontras antara Nak Dimel dan Nak Desa. Nak Dimel belajar pakai lampu sentir/sembe/lancir, Nak Desa belajar berdamar lampu listrik. Nak Dimel bila belajar malam hari lubang hidungnya penuh mangsi, Nak Desa bersih dari mangsi.

Ada pula yang menarik saat Desa Kutuh  masih satu wilayah perbekelan dengan Desa Ungasan.  Saat Lomba Desa pada 1980-an, wilayah desa pun disebut wilayah Perkotaan Desa Ungasan. Idiom yang sesungguhnya mengacu pada pusat desa yang berbeda dengan dimel yang relatif komel. Seolah belum terjamah kemajuan. Jalan berdebu kala panas, becek kala hujan dan harus dilalui dengan telanjang kaki. Maka, Nak Desa mengesankan priyayi, sedangkan Nak Dimel bisa di-cai. Umumnya Nak Dimel, matilesang raga. Tahu diri. Nyaris minder tanpa harga yang disebut inferiority complex dalam psikologi.

Penyebutan umah jumah dan kubu dimel merata berlaku sampai kini bagi desa-desa di Delod Ceking, seperti Jimbaran, Pecatu, Ungasan, Kutuh, Kampial, Bualu, Peminge, Tanjung, Tengkulung. Seiring dengan itu, sapaan untuk ayah pun, sama : Nanang setidaknya hingga menjelang1990-an. Namun kini, sapaan Nanang ditelan zaman  dimakan gengsi. Bahkan ada bapak-bapak yang merasa tidak nyaman dipanggil Nanang. Padahal, bagi orang Delod Ceking, Nanang sering diberikan tambahan makna positip dengan penekanan intonasi penegas Naaenang ‘kuat bertahan’. Kini dan nanti Nanang bertahan di dunia pewayangan, sedangkan generasinya makin tidak suka wayang. Dikalahkan drakor Korea atau Doraemon Jepang atau Upin-Ipin Malaysia. Mabalih wayang, mamangsi cunguhe. Mungkin.

Sosialisasi beasiswa Nak Badung dengan orangtua siswa di SMAN 2 Kuta Selatan

Begitulah beasiswa motivasi Nak Badung mesti dimaknai. Selain mencakup warga wilayah dari gunung di Petang, juga mencakup warga wilayah laut di Kuta Selatan. Maka dalam konteks Bebadungan, beasiswa ini mencerminkan keseimbangan wilayah segara-giri. Oleh karena ada di antara mereka yang tinggal di pusat desa menempati karang ayahan desa dengan status Nak Desa maka mereka pun harus terjangkau. Begitu pun mereka yang tinggal di luar karang ayahan desa, yang disebut dimel dengan status Nak Dimel juga harus dilayani. Demokratisasi Pendidikan berkearifan Bali menjadi inklusif dari Badung untuk Indonesia cerdas mendunia. Nak Badung, Nak Desa, dan Nak Dimel berdaya, berbudaya, dan bercahaya. Salam Cura Dharma Raksaka dari Nak Badung yang pernah nongos di kubu dimel, sekarang ngijeng jumah.[T]

Tags: BadungSMAN 2 Kuta Selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Next Post

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails
Next Post
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co