14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
in Esai
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

Sosialisasi beasiswa Nak Badung dengan orangtua siswa di SMAN 2 Kuta Selatan

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa dengan persyaratan tertentu. Peryaratan tertentu itu antara lain ber-Kartu Keluarga Badung minimal 5 tahun, tidak sedang menerima beasiswa lain, orang tua berpenghasilan tidak lebih daripada Rp 5.000.000,00/bulan, dan tidak berlaku bagi anak ASN.

Dalam konteks Indonesia memasuki 81 Tahun Kemerdekaan, Program Beasiswa Motivasi Nak Badung adalah salah satu cara melunasi janji kemerdekaan, khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Program ini koheren dengan Program Pemerintah Provinsi Bali : satu keluarga satu sarjana. Lebih-lebih, Gubernur Koster punya program khusus berkearifan Bali dengan beasiswa bagi anak bergelar Nyoman dan Ketut. Program ini selain berbasis budaya Bali dengan KB 4 anak, juga  menyiratkan keberlanjutan program pembangunan Sumber Daya Manusia Bali Unggul yang utuh dari Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut. Manusia Bali Unggul bercirikan teliti/detail, lemuh tusing elung (lemah lembut), dabdab (tenang), ipil-ipil (mengumpulkan secara bertahap), tragia (siap siaga), lascarya (tulus ikhlas), dan someh (ramah, sopan).

Menariknya Program Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menggunakan diksi “Beasiswa Motivasi Nak Badung” yang merujuk pada makna anak-anak Badung dari Muncuk Keris (Petang) sampai Bongkol Keris (Kuta Selatan). Secara leksikal, badung artinya nakal. Nak Badung berarti anak nakal. Dalam konteks ini, nakal pun bisa bermakna positif. Cetetukan-celetukan nakal dapat dijumpai dalam pentas seni.

Sosialisasi beasiswa Nak Badung dengan orangtua siswa di SMAN 2 Kuta Selatan

Ketika Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII yang digelar di Taman Budaya Denpasar Juli 2026, celetukan-celetukan nakal misalnya muncul sebagai ruang kritik sosial terkait persoalan bangsa yang sedang berlangsung seperti janji-janji pemimpin yang belum dilaksanakan. Inilah  disebut pemikiran transitif kritis oleh Paulo Freira, paedog Brasil yang gagasannya dijumpai pula di  Perguruan Taman Siswa dengan  Ki Hadjar Dewantara sebagai arsiteknya. Para aktor dalam pentas FSBJ VIII 2026 hadir mengisi ruang kosong yang seharusnya disuarakan para legislator dan disajikan dengan cerdas dan penuh tawa. Mereka menerima pemimpin sekaligus mengkritisi sebagai pertanda memiliki, mencintai, sekaligus memperbaiki ke arah tujuan bersama ; mencerdaskan. Bukan menjajah, menindas dan membodohi, melainkan memerdekakan secara lahir batin.

Bila Nak Badung merujuk pada warga Badung dari Petang sampai Kuta Selatan yang pastinya mereka adalah anak-anak desa. Nak Desa dalam kearifan lokal Delod Ceking mengacu pada mereka yang tinggal di lingkungan pemukiman Tanah Ayahan Desa tempat Pura Paibon, Merajan, Dadia berdiri. Di tempat itu, umumnya sikut karang satakan diimani dan diajegkan. Di sana, mandala dibagi tiga : Utama Mandala, Madya Mandala, Nista Mandala.

Di Utama Mandala berdiri jejer kemiri Pura yang relatif lengkap termasuk ada Penyawangan ke berbagai Pura yang berbeda antar Paibon, Merajan, atau Dadia. Uniknya, banyak di antaranya tanpa catatan mengapa dan bagaimana penyawangan itu didirikan. Generasi pewarisnya meyakini secara gugon towon. Tidak berani mengubah apalagi meniadakan. Janji leluhur tidak terlacak dalam tulisan. Tanda rendahnya literasi. Pun tidak terdengar cerita lisan yang mengiringi sebagai bentuk transfer dari generasi terdahulu ke pewarisnya.

Di Madya Mandala, berdiri bale dangin (tempat tidur), bale daja, bale delod, bale gede, Sanggah Surya di tengah halaman, Tugu Karang di bucu Kaja Kauh,  dapur, kamar kecil. Selanjutnya, di Nista Mandala berdiri pintu gerbang dan telajakan. Madya mandala menjadi pusat aktivitas kemanusiaan dalam konteks Manusa Yadnya.

Dengan demikian, Nak Desa dalam konsep pemukiman Delod Ceking mengacu pada anak-anak dari orang tua yang menempati karang ayahan yang berada di pusat desa. Karang ayahan ini dapat dikatakan sebagai karang suci karena ditempat inilah berbagai upacara besar tingkat keluarga dimulai dan berakhir. Status mereka yang menempati karang ayahan desa  sebagai pangijeng bertugas sekala niskala. Ini mengingatkan kita pada lagu “Putri Cening Ayu” yang anonim pengarangnya. “Putri cening ayu, ngijeng cening jumah, meme luas malu, ka peken mablanja, apang ada daarang nasi”. Syair yang mendunia dengan diksi sederhana tetapi kaya makna. Lebih-lebih terus-menerus dinyanyikan. Dalam rangka mewujudkan SDM Bali Unggul, syair ini dapat menjadi lagu wajib dalam mendidik anak selain lagu “Bibi Anu”, misalnya.

Sosialisasi beasiswa Nak Badung dengan orangtua siswa di SMAN 2 Kuta Selatan

Penyebutan rumah di karang ayahan desa disebut Umah jumah, sesederhana apa pun bentuknya. Barangkali di sinilah makna mendalam dari frase,  “ngijeng cening jumah”, dalam syair lagu Putri Cening Ayu.  Mengapa ? Umah Jumah dengan sikut karang satakan, ada pura keluarga (paibon, dadia, merajan) yang harus dirawat dan dijaga. Merawat dengan mabanten saiban setiap hari, menjaga kebersihannya dengan menyapu setiap hari. “Geginane buka nyampat, ilang luu, buuke katah”, sebagaimana diingatkan dalam Pupuh Ginada. Itu menjadi tugas berat Nak Desa sebagai pangijeng.

Berbeda dengan rumah di luar karang ayahan di pusat desa, seelit apa pun bentuknya, tetap disebut sebagai kubu dimel. Di Delod Ceking, jika ada orang bertanya, “Kal kija?”  lalu dijawab

‘mulih’ dapat dipastikan ia tinggal di karang ayahan desa, sering pula disebut umah tua. Namun, jika dijawab “ke kubu” dapat dipastikan yang bersangkutan tinggal dimel. Dimel artinya di alas atau di teba, atau di abian.

Ketika zaman listrik belum merata sebelum 1990-an, ada perbedaan kontras antara Nak Dimel dan Nak Desa. Nak Dimel belajar pakai lampu sentir/sembe/lancir, Nak Desa belajar berdamar lampu listrik. Nak Dimel bila belajar malam hari lubang hidungnya penuh mangsi, Nak Desa bersih dari mangsi.

Ada pula yang menarik saat Desa Kutuh  masih satu wilayah perbekelan dengan Desa Ungasan.  Saat Lomba Desa pada 1980-an, wilayah desa pun disebut wilayah Perkotaan Desa Ungasan. Idiom yang sesungguhnya mengacu pada pusat desa yang berbeda dengan dimel yang relatif komel. Seolah belum terjamah kemajuan. Jalan berdebu kala panas, becek kala hujan dan harus dilalui dengan telanjang kaki. Maka, Nak Desa mengesankan priyayi, sedangkan Nak Dimel bisa di-cai. Umumnya Nak Dimel, matilesang raga. Tahu diri. Nyaris minder tanpa harga yang disebut inferiority complex dalam psikologi.

Penyebutan umah jumah dan kubu dimel merata berlaku sampai kini bagi desa-desa di Delod Ceking, seperti Jimbaran, Pecatu, Ungasan, Kutuh, Kampial, Bualu, Peminge, Tanjung, Tengkulung. Seiring dengan itu, sapaan untuk ayah pun, sama : Nanang setidaknya hingga menjelang1990-an. Namun kini, sapaan Nanang ditelan zaman  dimakan gengsi. Bahkan ada bapak-bapak yang merasa tidak nyaman dipanggil Nanang. Padahal, bagi orang Delod Ceking, Nanang sering diberikan tambahan makna positip dengan penekanan intonasi penegas Naaenang ‘kuat bertahan’. Kini dan nanti Nanang bertahan di dunia pewayangan, sedangkan generasinya makin tidak suka wayang. Dikalahkan drakor Korea atau Doraemon Jepang atau Upin-Ipin Malaysia. Mabalih wayang, mamangsi cunguhe. Mungkin.

Sosialisasi beasiswa Nak Badung dengan orangtua siswa di SMAN 2 Kuta Selatan

Begitulah beasiswa motivasi Nak Badung mesti dimaknai. Selain mencakup warga wilayah dari gunung di Petang, juga mencakup warga wilayah laut di Kuta Selatan. Maka dalam konteks Bebadungan, beasiswa ini mencerminkan keseimbangan wilayah segara-giri. Oleh karena ada di antara mereka yang tinggal di pusat desa menempati karang ayahan desa dengan status Nak Desa maka mereka pun harus terjangkau. Begitu pun mereka yang tinggal di luar karang ayahan desa, yang disebut dimel dengan status Nak Dimel juga harus dilayani. Demokratisasi Pendidikan berkearifan Bali menjadi inklusif dari Badung untuk Indonesia cerdas mendunia. Nak Badung, Nak Desa, dan Nak Dimel berdaya, berbudaya, dan bercahaya. Salam Cura Dharma Raksaka dari Nak Badung yang pernah nongos di kubu dimel, sekarang ngijeng jumah.[T]

Tags: BadungSMAN 2 Kuta Selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Next Post

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co