22 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
in Opini
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara dengan sekumpulan laki-laki di sebuah desa yang masyarakatnya kental dengan fenomena janda yang mulih deha (janda yang kembali ke rumah asal) mencuat narasi tentang “janda metaksu”.

Di awal, penulis memprakirakan istilah taksu yang dilekatkan pada status kejandaan berorientasi pada pujian terhadap keberanian, ketangguhan, keuletan, kemandirian seorang janda setelah bercerai dari suaminya. Ternyata dugaan tersebut meleset bukan untuk sebuah sanjungan, tetapi menjurus ke urusan tubuh janda.

Secara konseptual, masyarakat Bali mengenal istilah taksu untuk penyebutan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan karisma spiritual atau hal-hal yang berkaitan dengan aspek transenden. Istilah taksu pada masyarakat Bali yang tradisional  dapat muncul dalam berbagai bidang. Misalnya, dalam dunia seni muncul istilah penari metaksu; dalam konteks profesi muncul istilah balian metaksu; politisi metaksu; guru metaksu. Pada urusan spiritual ada istilah pelinggih metaksu.  Namun, konsep itu mengalami pergeseran makna pada kasus janda (balu). Terjadi proses degradasi pada konsep taksu dari karisma spiritual ke “daya pikat erotis” atau kekuatan “mistis seksual”.

Ketika taksu pada status kejandaan dimaksudkan sebagai pujian atau sanjungan maka, tidak akan muncul problem kemanusiaan. Hanya saja, problem mendasarnya adalah diposisikannya label “janda metaksu” sebagai objektifikasi dan kambing hitam structural  atas ketakukan moral masyarakat patriarkhi. Di mana letak masalahnya? Di saat taksu yang tergradasi menjadi konsep yang dilekatkan pada janda dan terhubung pada “daya pikat erotis”.

Dalam kaitan ini sangatlah jelas perempuan janda hanya dilihat secara biologis untuk sebuah penyaluran hasrat seksual laki-laki. Cara pandang yang melihat manusia hanya sebatas ketubuhannya, disinilah titik singgung persoalan tentang melihat perempuan tidak dalam konteks manusia dan kemanusiaannya. Perempuan janda hanya dilihat sebagai benda yang tanpa rasa. Tidak sulit untuk mengerti manakala manusia diposisikan sebagai benda, maka sangatlah lentur untuk dijadikan objek sebagaimana maunya manusia lain. Memproduksi label janda pun menjadi “liar”. “Barang Bekas”/”Benda Sekon”/”turun Mesin”, “Janda gampang kesepian, sehingga terdorong mencari kehangatan”, semua itu   hanyalah sekelumit efek atas objektifikasi tubuh janda. Inilah  Male Gaze (sudut pandang laki-laki) sebagai representasi  terhadap tubuh yang tidak ada ruang berbicara atas dirinya sendiri.

Hasil riset Margi dan Sendratari (2018) menemukan anggapan berikut di lapangan.

  • Dari sudut pandang laki-laki tentang istilah metaksu diartikan memiliki daya pikat yang luar biasa. Janda yang mendapat kesan seperti ini dinilai mudah bereaksi atas pancingan yang diberikan oleh laki-laki. Janda semacam ini diibaratkan “mare ningeh munyi gong bedik dogen subek ngurek” artinya: baru mendengar bunyi/ suara gong sedikit saja sudah kerangsukan. Perumpamaan ini memperkuat kesan terhadap seorang janda yang sangat gampang terkena rayuan laki-laki. Dinilai pula bahwa janda gampang mabuk cinta dengan mengatakan: “jani ngalih buin mani buin ngalih” (artinya, sekarang mencari laki-laki, besok cari lagi). Ada pula pernyataan lain yang menarik untuk dicermati lebih jauh yaitu: “ane lame sube sing kanggoang, ane baru alih” ( artinya: yang lama sudah tidak diminati, sekarang cari yang baru). Munculnya anggapan seperti ini memperkuat label bahwa janda adalah orang yang mudah berganti-ganti pasangan untuk menyalurkan hasrat libido.

Akhirnya, “janda metaksu” bertumbuh menjadi salah satu mitos yang bergerak pada satu pemahaman bahwa tubuh bukan hanya sekedar entitas biologis, tetapi menjadi medan pertarungan atau medan tempur kultural nilai tempat patriakhi dipancangkan. Dalam kaitan inilah tubuh janda dijadikan objek politik hasrat laki-laki yang secara semiotic terbaca janda tidak ruang bersuara atas tubuhnya. Bisa jadi di saat tubuh janda diobjekkan di saat yang sama akan muncul stigma “tubuh tanpa pemilik”. Karena tidak ada yang “memiliki”, maka ada ruang untuk dimiliki secara leluasa, dan dianggap menjadi milik public. Akibatnya, muncullah fantasi bahkan pelecehan melalui sindiran, lelucon. Inilah bentuk pendisiplinan agar status janda tetap ada di posisi subordinat.

Ukuran moralitas janda pun tiba-tiba menjadi urusan public. Ukuran nilai berpenampilan seorang janda distandarisasi berdasarkan kepantasan budaya patriakhi.. Jenis pakaian, cara berpakaian, waktu berpakaian, cara berbicara menjadi urusan public. Di saat tampilan janda dinilai keluar dari ukuran kepantasan, lagi-lagi muncul label “sedang mencari mangsa”, “penggoda suami orang”. Di sinilah praktik kekerasan simbolik sedang berlangsung.

Predikat sebagai pelakor ketika dikaitkan dengan predikat “janda metaksu” tak ubahnya menjadikan janda sebagai ancaman atas manusia lainnya dan bisa diperpanjang sebagai pelaku kejahatan. Agar terbebas dari berbagai gunjingan maka, janda akan membatasi ruang geraknya sebagai bentuk pendisiplinan tubuhnya atas dorongan kultur patriarkhi.

Ada hal yang memprihatikan juga atas hal ini, ketika  janda terjerat atas kondisi kerentanan ekonomi, hadirlah laki-laki yang mengaku sebagai “penyelamat” atas kehidupan social ekonomi janda, namun melalui praktik perkawinan siri/nikah transaksional membuka kegamangan status perempuan janda beserta anak-anaknya. Biasanya pada kasus semacam ini, pengadilan social akan mudah menyudutkan si janda sebagai pihak yang menyulut hasrat laki-laki dengan pernyataan “laki-laki tergoda atas taksunya janda”. Sangatlah tidak diperkarakan bahwa hal itu terjadi bisa disebabkan atas kegagalan laki-laki mengontrol nafsu maskulinnya.

Adanya istilah “Janda Metaksu” merupakan kondisi ambigu yang ada  pada lingkaran hidup janda di masyarakat. Di satu sisi, bisa saja istilah itu dimaknai secara positif terhadap tata laku janda yang berjuang bertahan hidup dengan cara menjaga keuletannya, ketangguhannya dan kemandiriannya secara social ekonomi. Dalam konteks ini muncullah predikat janda yang jemet, jengah, ulet. Namun, yang senyatanya terjadi justru sebaliknya, istilah “Janda Metaksu” sebagai metafora janda yang mengundang birahi laki-laki.

Penilaian terhadap janda pun tidak berhenti hanya di ruang empiric, bahkan di medan digital pun status kejandaan “dihabisi dalam koridor kultur patriakhi.

Opini ini sebenarnya dapat didudukkan sebagai situasi yang ingin melihat betapa persoalan janda secara sosiokultural merupakan bentuk kekerasan berlapis (interlocking systems of oppression). Stigma di dunia digital tentang janda bisa dikatagorikan  patologi social, dimana ruang digital tidak lagi menjadi ruang emansipatoris/pembebasan yang netral bagi janda, tetapi justru berkontribusi menyudutkan janda. Di  ruang digital dicandrakan janda sebagai hiper objektifikasi yang “liar”. Apakah ini kondisi kritis yang perlu disikapi? Jika kita meng iyakan, perlu agenda apa ke depannya?

Mengacu pada pemikiran Moser (1993) tercatat, diperlukan ada tindakan gender praktis dan gender strategik dengan cara menyusun praktik baik untuk mengatasi ketimpangan relasi gender pada isu janda. Pengembalian marwah janda dalam status hukum melalui cara meninjau ulang aturan – aturan  local sebagai bentuk reformasi terhadap berbagai aturan yang menyudutkan janda, dan ini langkah strategik yang kelak akan menjadi harapan optimis.

Perlu juga dilakukan kampanye terus menerus sebagai tindakan kontra narasi terhadap narasi miring tentang janda. Ini pun tergolong gender strategik, termasuk memperhitungkan agensi janda di ruang pengambilan keputusan. Memberikan sumbangan sembako kepada para janda sebagai bentuk gender praktis bukanlah hal yang efektif tanpa dibarengi dengan penguatan kapasitas janda dan pengamanan di ruang digital. Adalah sebuah kesia-siaan tatkala mengembalikan marwah janda hanya berhenti pada tindakan charity semata. [T]

Penulis: Luh Putu Sendratari
Editor: Adnyana Ole

Tags: patriarkiPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Next Post

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails
Next Post
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co