3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
in Opini
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara dengan sekumpulan laki-laki di sebuah desa yang masyarakatnya kental dengan fenomena janda yang mulih deha (janda yang kembali ke rumah asal) mencuat narasi tentang “janda metaksu”.

Di awal, penulis memprakirakan istilah taksu yang dilekatkan pada status kejandaan berorientasi pada pujian terhadap keberanian, ketangguhan, keuletan, kemandirian seorang janda setelah bercerai dari suaminya. Ternyata dugaan tersebut meleset bukan untuk sebuah sanjungan, tetapi menjurus ke urusan tubuh janda.

Secara konseptual, masyarakat Bali mengenal istilah taksu untuk penyebutan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan karisma spiritual atau hal-hal yang berkaitan dengan aspek transenden. Istilah taksu pada masyarakat Bali yang tradisional  dapat muncul dalam berbagai bidang. Misalnya, dalam dunia seni muncul istilah penari metaksu; dalam konteks profesi muncul istilah balian metaksu; politisi metaksu; guru metaksu. Pada urusan spiritual ada istilah pelinggih metaksu.  Namun, konsep itu mengalami pergeseran makna pada kasus janda (balu). Terjadi proses degradasi pada konsep taksu dari karisma spiritual ke “daya pikat erotis” atau kekuatan “mistis seksual”.

Ketika taksu pada status kejandaan dimaksudkan sebagai pujian atau sanjungan maka, tidak akan muncul problem kemanusiaan. Hanya saja, problem mendasarnya adalah diposisikannya label “janda metaksu” sebagai objektifikasi dan kambing hitam structural  atas ketakukan moral masyarakat patriarkhi. Di mana letak masalahnya? Di saat taksu yang tergradasi menjadi konsep yang dilekatkan pada janda dan terhubung pada “daya pikat erotis”.

Dalam kaitan ini sangatlah jelas perempuan janda hanya dilihat secara biologis untuk sebuah penyaluran hasrat seksual laki-laki. Cara pandang yang melihat manusia hanya sebatas ketubuhannya, disinilah titik singgung persoalan tentang melihat perempuan tidak dalam konteks manusia dan kemanusiaannya. Perempuan janda hanya dilihat sebagai benda yang tanpa rasa. Tidak sulit untuk mengerti manakala manusia diposisikan sebagai benda, maka sangatlah lentur untuk dijadikan objek sebagaimana maunya manusia lain. Memproduksi label janda pun menjadi “liar”. “Barang Bekas”/”Benda Sekon”/”turun Mesin”, “Janda gampang kesepian, sehingga terdorong mencari kehangatan”, semua itu   hanyalah sekelumit efek atas objektifikasi tubuh janda. Inilah  Male Gaze (sudut pandang laki-laki) sebagai representasi  terhadap tubuh yang tidak ada ruang berbicara atas dirinya sendiri.

Hasil riset Margi dan Sendratari (2018) menemukan anggapan berikut di lapangan.

  • Dari sudut pandang laki-laki tentang istilah metaksu diartikan memiliki daya pikat yang luar biasa. Janda yang mendapat kesan seperti ini dinilai mudah bereaksi atas pancingan yang diberikan oleh laki-laki. Janda semacam ini diibaratkan “mare ningeh munyi gong bedik dogen subek ngurek” artinya: baru mendengar bunyi/ suara gong sedikit saja sudah kerangsukan. Perumpamaan ini memperkuat kesan terhadap seorang janda yang sangat gampang terkena rayuan laki-laki. Dinilai pula bahwa janda gampang mabuk cinta dengan mengatakan: “jani ngalih buin mani buin ngalih” (artinya, sekarang mencari laki-laki, besok cari lagi). Ada pula pernyataan lain yang menarik untuk dicermati lebih jauh yaitu: “ane lame sube sing kanggoang, ane baru alih” ( artinya: yang lama sudah tidak diminati, sekarang cari yang baru). Munculnya anggapan seperti ini memperkuat label bahwa janda adalah orang yang mudah berganti-ganti pasangan untuk menyalurkan hasrat libido.

Akhirnya, “janda metaksu” bertumbuh menjadi salah satu mitos yang bergerak pada satu pemahaman bahwa tubuh bukan hanya sekedar entitas biologis, tetapi menjadi medan pertarungan atau medan tempur kultural nilai tempat patriakhi dipancangkan. Dalam kaitan inilah tubuh janda dijadikan objek politik hasrat laki-laki yang secara semiotic terbaca janda tidak ruang bersuara atas tubuhnya. Bisa jadi di saat tubuh janda diobjekkan di saat yang sama akan muncul stigma “tubuh tanpa pemilik”. Karena tidak ada yang “memiliki”, maka ada ruang untuk dimiliki secara leluasa, dan dianggap menjadi milik public. Akibatnya, muncullah fantasi bahkan pelecehan melalui sindiran, lelucon. Inilah bentuk pendisiplinan agar status janda tetap ada di posisi subordinat.

Ukuran moralitas janda pun tiba-tiba menjadi urusan public. Ukuran nilai berpenampilan seorang janda distandarisasi berdasarkan kepantasan budaya patriakhi.. Jenis pakaian, cara berpakaian, waktu berpakaian, cara berbicara menjadi urusan public. Di saat tampilan janda dinilai keluar dari ukuran kepantasan, lagi-lagi muncul label “sedang mencari mangsa”, “penggoda suami orang”. Di sinilah praktik kekerasan simbolik sedang berlangsung.

Predikat sebagai pelakor ketika dikaitkan dengan predikat “janda metaksu” tak ubahnya menjadikan janda sebagai ancaman atas manusia lainnya dan bisa diperpanjang sebagai pelaku kejahatan. Agar terbebas dari berbagai gunjingan maka, janda akan membatasi ruang geraknya sebagai bentuk pendisiplinan tubuhnya atas dorongan kultur patriarkhi.

Ada hal yang memprihatikan juga atas hal ini, ketika  janda terjerat atas kondisi kerentanan ekonomi, hadirlah laki-laki yang mengaku sebagai “penyelamat” atas kehidupan social ekonomi janda, namun melalui praktik perkawinan siri/nikah transaksional membuka kegamangan status perempuan janda beserta anak-anaknya. Biasanya pada kasus semacam ini, pengadilan social akan mudah menyudutkan si janda sebagai pihak yang menyulut hasrat laki-laki dengan pernyataan “laki-laki tergoda atas taksunya janda”. Sangatlah tidak diperkarakan bahwa hal itu terjadi bisa disebabkan atas kegagalan laki-laki mengontrol nafsu maskulinnya.

Adanya istilah “Janda Metaksu” merupakan kondisi ambigu yang ada  pada lingkaran hidup janda di masyarakat. Di satu sisi, bisa saja istilah itu dimaknai secara positif terhadap tata laku janda yang berjuang bertahan hidup dengan cara menjaga keuletannya, ketangguhannya dan kemandiriannya secara social ekonomi. Dalam konteks ini muncullah predikat janda yang jemet, jengah, ulet. Namun, yang senyatanya terjadi justru sebaliknya, istilah “Janda Metaksu” sebagai metafora janda yang mengundang birahi laki-laki.

Penilaian terhadap janda pun tidak berhenti hanya di ruang empiric, bahkan di medan digital pun status kejandaan “dihabisi dalam koridor kultur patriakhi.

Opini ini sebenarnya dapat didudukkan sebagai situasi yang ingin melihat betapa persoalan janda secara sosiokultural merupakan bentuk kekerasan berlapis (interlocking systems of oppression). Stigma di dunia digital tentang janda bisa dikatagorikan  patologi social, dimana ruang digital tidak lagi menjadi ruang emansipatoris/pembebasan yang netral bagi janda, tetapi justru berkontribusi menyudutkan janda. Di  ruang digital dicandrakan janda sebagai hiper objektifikasi yang “liar”. Apakah ini kondisi kritis yang perlu disikapi? Jika kita meng iyakan, perlu agenda apa ke depannya?

Mengacu pada pemikiran Moser (1993) tercatat, diperlukan ada tindakan gender praktis dan gender strategik dengan cara menyusun praktik baik untuk mengatasi ketimpangan relasi gender pada isu janda. Pengembalian marwah janda dalam status hukum melalui cara meninjau ulang aturan – aturan  local sebagai bentuk reformasi terhadap berbagai aturan yang menyudutkan janda, dan ini langkah strategik yang kelak akan menjadi harapan optimis.

Perlu juga dilakukan kampanye terus menerus sebagai tindakan kontra narasi terhadap narasi miring tentang janda. Ini pun tergolong gender strategik, termasuk memperhitungkan agensi janda di ruang pengambilan keputusan. Memberikan sumbangan sembako kepada para janda sebagai bentuk gender praktis bukanlah hal yang efektif tanpa dibarengi dengan penguatan kapasitas janda dan pengamanan di ruang digital. Adalah sebuah kesia-siaan tatkala mengembalikan marwah janda hanya berhenti pada tindakan charity semata. [T]

Penulis: Luh Putu Sendratari
Editor: Adnyana Ole

Tags: patriarkiPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Next Post

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
0
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

Read moreDetails

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails
Next Post
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co