4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

I Kadek Adhi Dwipayana by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
in Opini
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering menjadi simbol kapasitas intelektual. Dulu kampus hadir sebagai ruang ideologis untuk pengembangan karakter dan ilmu pengetahuan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, wajah perguruan tinggi perlahan mengalami perubahan. Perguruan tinggi negeri tidak lagi fokus dengan urusan akademik, kini mereka berada dalam tekanan untuk bersaing, mencari sumber pendanaan, dan menarik sebanyak mungkin mahasiswa.

Ketika banyak perguruan tinggi negeri diberi otonomi oleh pemerintah untuk berstatus badan hukum (PTN-BH), perguruan tinggi bertransformasi menjadi institusi semi pasar. Otonomi kampus memberi keleluasaan perguruan tinggi untuk mengelola dan mengembangkan dirinya sendiri. Namun, juga diiringi dengan tanggung jawab yang semakin besar untuk memenuhi kebutuhan “rumah tangganya” secara mandiri. Persoalan mulai menjadi rumit ketika mahasiswa mulai dipandang sebagai ceruk sumber daya ekonomi yang sangat potensial. Pada saat yang sama, kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) juga semakin menambah beban biaya yang harus ditanggung mahasiswa.

Jalur masuk perguruan tinggi hari ini mulai berkembang bagaikan jalan tol dengan berbagai cabangnya. Ada jalur mandiri, jalur prestasi, jalur afirmasi, bahkan jalur tikus yang terkadang sulit dilacak. Semua jalur tersebut dibungkus dengan semangat memperluas akses pendidikan dengan berbagai narasi yang indah oleh tim marketing kampus. Bahkan tidak jarang pula melibatkan mahasiswa dengan paras yang rupawan sebagai tim marketing untuk menambah daya tarik promosi. Membuka peluang selebar-lebarnya bagi akses kesempatan pendidikan tentu saja adalah hal yang baik. Namun, realitasnya akses yang lebar jutsru tidak dijaga dengan kualitas.

Masalahnya, ketika kampus mulai terlalu bergantung pada jumlah mahasiswa sebagai sumber pendanaan, seleksi akademik sering berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, perguruan tinggi ingin menjaga reputasi mutu. Di sisi lain, kebutuhan finansial menuntut jumlah mahasiswa yang terus meningkat. Dalam situasi seperti ini, standar seleksi menjadi lebih fleksibel atau bahkan kompromistis.

Logika pasar bebas mulai perlahan merembes masuk ke dunia pendidikan tinggi negeri. Perguruang tinggi negeri tidak mau kalah berlomba dengan perguruan tinggi swasta untuk mendatangkan mahasiswa. Promosi sering dikemas melalui berbagai strategi pemasaran, mulai dari iklan digital, poster kreatif, mengerahkan kekuatan alumni dan mahasiswa, hingga menggunakan daya tarik dosen dan guru besar untuk promosi langsung ke sekolah-sekolah. Tidak hanya itu, kampus-kampus negeri berlomba mengajukan berkas-berkas persyaratan untuk membuka program studi baru yang sesuai dengan tren pasar dibandingkan kebutuhan pengembangan keilmuan. Upaya tersebut adalah respons terhadap perubahan ekosistem perguruan tinggi yang semakin kompetitif. Fenomena ini menunjukkan pergeseran orientasi dari idealisme keilmuan ke rasionalitas pragmatis.

Dampak dari masuknya logika pasar tersebut terasa nyata dalam dinamika akademik. Ketika kampus lebih menekankan kuantitas mahasiswa sebagai indikator keberhasilan, kualitas kesiapan akademik mahasiswa menjadi semakin beragam. Dosen dihadapkan pada sikap dilematis antara mempertahankan idealisme atau menyesuaikan standar akademik yang lebih kompromistis. Tekanan secara tidak langsung juga datang dari institusional kampus untuk menjaga tingkat kelulusan, kualitas IPK, dan kepuasan mahasiswa terhadap pelayanan kampus. Hal ini justru mendorong dosen melakukan penyederhanaan materi, penilaian yang lebih permisif, bahkan dosen harus meluluskan paksa. Dosen juga kerap diposisikan sebagai mesin pekerja melalui beban pengajaran SKS yang sangat tinggi dan melampaui batas kewajaran profesional. Di sisi lain, program studi dipaksa bekerja ekstra untuk meraih akreditasi unggul maupun akreditasi internasional demi meningkatkan citra dan daya saing institusi.

Perguruan tinggi yang telah memiliki reputasi kuat dengan peringkat nasional yang strategis, umumnya tetap mampu menjaga seleksi yang ketat karena daya tarik institusinya membuat jumlah peminat tetap tinggi. Kampus yang sedang berkemmbang atau dengan peringkat menengah sering berada dalam tekanan kompetisi untuk mempertahankan jumlah mahasiswa demi menjaga keberlanjutan finansial dan operasional institusi. Dalam situasi tersebut, standar penerimaan mahasiswa cenderung sengaja dilonggarkan sehingga kualitas input akademik menjadi tidak merata. Sistem kebijakan pendidikan tinggi yang melibatkan logika otonomi finansial secara tidak langsung mendorong komersialisasi pendidikan. Kampus dipaksa bertahan dalam situasi persaingan bisnis dengan orientasi keuntungan optimal. Padahal secara filosofis pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab sosial yang jauh lebih besar, yakni sebagai praksis humanisasi dan pembentukan pribadi yang kritis.

Ketika kualitas input mahasiswa menurun dan standar akademik ikut melemah, dampak jangka panjang yang dipertaruhkan adalah reputasi kampus dan kualitas lulusan yang menjadi tulang punggung bangsa. Perguruan tinggi seharusnya menjadi benteng terakhir penjaga kualitas intelektual masyarakat. Jika benteng itu mulai retak, dampaknya bisa terasa dalam berbagai sektor, mulai dari dunia kerja, usaha, dan industri. Bahkan, bisa saja berdampak hingga kualitas sumber daya manusia aparatur negara yang juga bermuara pada kualitas pengambilan kebijakan publik.

Pendidikan tinggi memang tidak boleh menjadi ruang eksklusif yang hanya bisa dimasuki segelintir kelompok. Tantangannya adalah bagaimana membuka akses tanpa menurunkan standar. Seleksi mahasiswa seharusnya tetap dijaga dengan standar yang ketat. Fungsinya digunakan sebagai penyaring dan alat pemetaan kemampuan. Kampus bisa tetap menerima mahasiswa dengan latar belakang akademik beragam, namun harus diimbangi dengan sistem pendampingan akademik yang terencana, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan belajar mahasiswa.

Otonomi kampus tidak boleh dibiarkan berubah menjadi komersialisasi yang menjadikan mahasiswa sebagai objek pasar bebas. Jumlah mahasiswa memang penting, tetapi mutu pendidikan jauh lebih menentukan masa depan. Jika kampus terus bergerak mengikuti logika pasar tanpa standar seleksi yang jelas, bukan tidak mungkin suatu saat perguruan tinggi hanya menjadi pabrik ijazah. Ketika kondisi tersebut terjadi, menurunnya kualitas pendidikan dan kepercayaan moral publik terhadap institusi akademik adalah keniscayaan. [T]

Penulis:I Kadek Adhi Dwipayana
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanPerguruan Tinggiperguruan tinggi negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

Next Post

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

I Kadek Adhi Dwipayana

I Kadek Adhi Dwipayana

Dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  ------ Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co