14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

I Kadek Adhi Dwipayana by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
in Opini
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering menjadi simbol kapasitas intelektual. Dulu kampus hadir sebagai ruang ideologis untuk pengembangan karakter dan ilmu pengetahuan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, wajah perguruan tinggi perlahan mengalami perubahan. Perguruan tinggi negeri tidak lagi fokus dengan urusan akademik, kini mereka berada dalam tekanan untuk bersaing, mencari sumber pendanaan, dan menarik sebanyak mungkin mahasiswa.

Ketika banyak perguruan tinggi negeri diberi otonomi oleh pemerintah untuk berstatus badan hukum (PTN-BH), perguruan tinggi bertransformasi menjadi institusi semi pasar. Otonomi kampus memberi keleluasaan perguruan tinggi untuk mengelola dan mengembangkan dirinya sendiri. Namun, juga diiringi dengan tanggung jawab yang semakin besar untuk memenuhi kebutuhan “rumah tangganya” secara mandiri. Persoalan mulai menjadi rumit ketika mahasiswa mulai dipandang sebagai ceruk sumber daya ekonomi yang sangat potensial. Pada saat yang sama, kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) juga semakin menambah beban biaya yang harus ditanggung mahasiswa.

Jalur masuk perguruan tinggi hari ini mulai berkembang bagaikan jalan tol dengan berbagai cabangnya. Ada jalur mandiri, jalur prestasi, jalur afirmasi, bahkan jalur tikus yang terkadang sulit dilacak. Semua jalur tersebut dibungkus dengan semangat memperluas akses pendidikan dengan berbagai narasi yang indah oleh tim marketing kampus. Bahkan tidak jarang pula melibatkan mahasiswa dengan paras yang rupawan sebagai tim marketing untuk menambah daya tarik promosi. Membuka peluang selebar-lebarnya bagi akses kesempatan pendidikan tentu saja adalah hal yang baik. Namun, realitasnya akses yang lebar jutsru tidak dijaga dengan kualitas.

Masalahnya, ketika kampus mulai terlalu bergantung pada jumlah mahasiswa sebagai sumber pendanaan, seleksi akademik sering berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, perguruan tinggi ingin menjaga reputasi mutu. Di sisi lain, kebutuhan finansial menuntut jumlah mahasiswa yang terus meningkat. Dalam situasi seperti ini, standar seleksi menjadi lebih fleksibel atau bahkan kompromistis.

Logika pasar bebas mulai perlahan merembes masuk ke dunia pendidikan tinggi negeri. Perguruang tinggi negeri tidak mau kalah berlomba dengan perguruan tinggi swasta untuk mendatangkan mahasiswa. Promosi sering dikemas melalui berbagai strategi pemasaran, mulai dari iklan digital, poster kreatif, mengerahkan kekuatan alumni dan mahasiswa, hingga menggunakan daya tarik dosen dan guru besar untuk promosi langsung ke sekolah-sekolah. Tidak hanya itu, kampus-kampus negeri berlomba mengajukan berkas-berkas persyaratan untuk membuka program studi baru yang sesuai dengan tren pasar dibandingkan kebutuhan pengembangan keilmuan. Upaya tersebut adalah respons terhadap perubahan ekosistem perguruan tinggi yang semakin kompetitif. Fenomena ini menunjukkan pergeseran orientasi dari idealisme keilmuan ke rasionalitas pragmatis.

Dampak dari masuknya logika pasar tersebut terasa nyata dalam dinamika akademik. Ketika kampus lebih menekankan kuantitas mahasiswa sebagai indikator keberhasilan, kualitas kesiapan akademik mahasiswa menjadi semakin beragam. Dosen dihadapkan pada sikap dilematis antara mempertahankan idealisme atau menyesuaikan standar akademik yang lebih kompromistis. Tekanan secara tidak langsung juga datang dari institusional kampus untuk menjaga tingkat kelulusan, kualitas IPK, dan kepuasan mahasiswa terhadap pelayanan kampus. Hal ini justru mendorong dosen melakukan penyederhanaan materi, penilaian yang lebih permisif, bahkan dosen harus meluluskan paksa. Dosen juga kerap diposisikan sebagai mesin pekerja melalui beban pengajaran SKS yang sangat tinggi dan melampaui batas kewajaran profesional. Di sisi lain, program studi dipaksa bekerja ekstra untuk meraih akreditasi unggul maupun akreditasi internasional demi meningkatkan citra dan daya saing institusi.

Perguruan tinggi yang telah memiliki reputasi kuat dengan peringkat nasional yang strategis, umumnya tetap mampu menjaga seleksi yang ketat karena daya tarik institusinya membuat jumlah peminat tetap tinggi. Kampus yang sedang berkemmbang atau dengan peringkat menengah sering berada dalam tekanan kompetisi untuk mempertahankan jumlah mahasiswa demi menjaga keberlanjutan finansial dan operasional institusi. Dalam situasi tersebut, standar penerimaan mahasiswa cenderung sengaja dilonggarkan sehingga kualitas input akademik menjadi tidak merata. Sistem kebijakan pendidikan tinggi yang melibatkan logika otonomi finansial secara tidak langsung mendorong komersialisasi pendidikan. Kampus dipaksa bertahan dalam situasi persaingan bisnis dengan orientasi keuntungan optimal. Padahal secara filosofis pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab sosial yang jauh lebih besar, yakni sebagai praksis humanisasi dan pembentukan pribadi yang kritis.

Ketika kualitas input mahasiswa menurun dan standar akademik ikut melemah, dampak jangka panjang yang dipertaruhkan adalah reputasi kampus dan kualitas lulusan yang menjadi tulang punggung bangsa. Perguruan tinggi seharusnya menjadi benteng terakhir penjaga kualitas intelektual masyarakat. Jika benteng itu mulai retak, dampaknya bisa terasa dalam berbagai sektor, mulai dari dunia kerja, usaha, dan industri. Bahkan, bisa saja berdampak hingga kualitas sumber daya manusia aparatur negara yang juga bermuara pada kualitas pengambilan kebijakan publik.

Pendidikan tinggi memang tidak boleh menjadi ruang eksklusif yang hanya bisa dimasuki segelintir kelompok. Tantangannya adalah bagaimana membuka akses tanpa menurunkan standar. Seleksi mahasiswa seharusnya tetap dijaga dengan standar yang ketat. Fungsinya digunakan sebagai penyaring dan alat pemetaan kemampuan. Kampus bisa tetap menerima mahasiswa dengan latar belakang akademik beragam, namun harus diimbangi dengan sistem pendampingan akademik yang terencana, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan belajar mahasiswa.

Otonomi kampus tidak boleh dibiarkan berubah menjadi komersialisasi yang menjadikan mahasiswa sebagai objek pasar bebas. Jumlah mahasiswa memang penting, tetapi mutu pendidikan jauh lebih menentukan masa depan. Jika kampus terus bergerak mengikuti logika pasar tanpa standar seleksi yang jelas, bukan tidak mungkin suatu saat perguruan tinggi hanya menjadi pabrik ijazah. Ketika kondisi tersebut terjadi, menurunnya kualitas pendidikan dan kepercayaan moral publik terhadap institusi akademik adalah keniscayaan. [T]

Penulis:I Kadek Adhi Dwipayana
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanPerguruan Tinggiperguruan tinggi negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

Next Post

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

I Kadek Adhi Dwipayana

I Kadek Adhi Dwipayana

Dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails
Next Post
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  ------ Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co