SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya. Gerakannya selalu diulang. Tetapi dari pengulangan itu, aku mulai memperhatikan bagaimana tubuh ayah terus bekerja tanpa banyak berpindah tempat. Pertanyaan pun muncul dalam kepalaku, “Bagaimana tubuh memanajemen tenaga di dalam posisi seperti itu?” Pertanyaan itu yang kemudian membawa perhatianku kembali pada tubuh, terutama pada bagian yang selama ini aku kenal sebagai sakrum. Sakrum mendekatkanku pada kerja ayah.
***
Sebelum lanjut lebih jauh, izinkan aku menyapa para pembaca yang telah menyediakan waktunya untuk berkunjung ke catatan kecil ini. Catatan ini merupakan upayaku menandai perjalanan proses penciptaan karya Sakrum yang sedang aku tumbuhkan. Karya Sakrum ini merupakan pertumbuhan dari karya sebelumnya yang bertajuk Tumbuh Setelah Serpihannya, sebuah karya tari yang berangkat dari pengamatanku terhadap praktik kerja ayah sebagai pemahat patung kayu.
Dalam pertunjukan Tumbuh Setelah Serpihannya, aku tidak sedang berusaha menjadikan aktivitas ayah sebagai sebuah tarian. Namun sebaliknya, aku mencoba melihatnya kembali dengan apa yang terjadi di dalam kerja tersebut. Sementara itu, karya Sakrum mencoba menelusuri perjalanan tubuh dari aktivitas kerja menuju kesadaran gerak—bukan hanya sebagai bagian anatomi, tetapi sebagai pusat tubuh yang membantu menjaga stabilitas, mendistribusikan tenaga, serta menghubungkan tubuh bagian atas dan tubuh bagian bawah.
Gagasan pertunjukan ini sesungguhnya mulai dan kian bertumbuh ketika aku melihat ayah yang setiap hari duduk dengan patung di pangkuannya. Patung itu kadang ia jepit pada kakinya, kadang diletakan pada alas tertentu, dan kadang diletakan begitu saja di depannya. Entah kenapa, aku seperti dihipnotis ketika melihat serpihan yang dihasilkan dari kikisan kayu yang bertaburan di sekitar tempat ayah bekerja.

Pada momen tertentu, aku merasa adegan ini seperti sebuah pertunjukan. Aku membayangkan, sepanjang kerja itu, ayah terus berdialog dan bernegosiasi. Ia berdialog dengan posisi patung; ia berdialog dengan tangannya yang memegang pahat; ia berdialog dengan tangannya yang memegang palu kayu; dan ia berdialog dengan bagian tubuhnya yang lain: seperti tangan, kaki, pandangan, fokus, sampai pada area yang menghubungkan tubuh bagian atas dan tubuh bagian bawah.
Dialog yang aku maksud adalah proses saling merespons antara tubuh ayah, alat, material yang digunakan, bahkan tubuhnya sendiri. Tapi aku merasa dialog itu juga terjadi ketika ayah mesti memahami material, memukul, menyesuaikan tenaga, posisi, serta arah geraknya. Aku membayangkan “dialog” ini seperti sebuah percakapan di tongkrongan. Kita mesti memahami orang lain agar percakapan tetap bergerak. Begitu pula Ayah. Ia mesti memahami kompleksitas peristiwa, tubuh, dan material agar patung tercipta.
Dari pengamatan itu, aku tidak melihat bagaimana patung itu akhirnya jadi. Tetapi sebaliknya, aku melihat bagaimana tubuh bekerja bersama material dalam proses penciptaanya: tubuh yang menahan, menopang, menjepit, dan memukul menunjukkan bahwa proses memahat membutuhkan tubuh dan tenaga yang stabil. Di titik itu, fokusku selalu kembali ke satu hal: pengulangan. Ada sesuatu yang terus berulang dalam kerja ayah, yaitu memukul, mengganti pahat, dan semua itu dilakukan berulang dalam posisi duduk. Bagiku, hal terpenting dari pengulangan itu adalah proses di mana tubuh terus melakukan cara yang sama untuk mempertahankan tenaga dan menyelesaikan pekerjaannya.
Area sekitar sakrum menjadi bagian yang aku perhatikan ketika ayah berada dalam posisi duduk. Namun pada saat yang sama, aku sebenarnya belum mengetahui apakah sakrum benar-benar bekerja dalam posisi itu. Aku hanya berasumsi dengan sesuatu yang ada di area itu, yang ikut bekerja untuk menjaga tubuh ayah tetap berada dalam posisinya. Asumsi itu juga muncul karena dalam praktik tari, istilah sakrum sering aku dengar. Sebagai penari, aku menyadari bahwa pertanyaan tersebut tidak akan terjawab, ketika aku hanya melihat tubuh ayah dari luar. Maka dari itu, aku merasa perlu mencoba mengalami posisi yang sama untuk mengetahui apa yang terjadi pada tubuhku ketika berada di dalam posisi itu.
Ketika aku duduk, kedua kaki menjepit patung, dan tangan memegang alat-alat pahat yang sama dengan alat yang digunakan ayah ketika memahat. Perlahan-lahan, aku mulai merasakan bagian tubuh yang saling membantu untuk menjaga keseimbangan, saling menopang, dan beban yang selalu berpindah. Ketika itu, terasa seperti ada sesuatu yang menghubungkan tubuh bagian atas dan tubuh bagian bawahku. Aku pun mencoba menjepit patung dengan posisi kedua kaki sedikit terangkat, seperti ketika melakukan sit up. Sementara itu, kedua tanganku memegang alat—tangan kiri memegang pahat, sedangkan tangan kanan memegang alat pemukul; kaki menahan tubuh dari bagian depan, tangan bekerja di bagian atas; sementara, beban terasa berpindah-pindah di antara lengan dan paha. Ketika tubuh mulai kehilangan keseimbangan, aku kembali mengatur posisi kaki, pinggul, dan badan agar tetap berada di tempatnya.

Kalau dibaca dari ilmu anatomi, sakrum adalah tulang berbentuk segitiga yang menghubungkan tulang belakang dengan panggul. Dari pengamatan dan pengalaman itu, aku kemudian menelusuri sakrum melalui penjelasan anatomi. Pemahaman itulah yang membantuku untuk mencari tahu dan menelusuri lebih dalam mengenai cara kerja sakrum dalam posisi-posisi tertentu.
Di dalam proses memahami sakrum, tentu ada banyak sekali pertanyaan yang selalu menghampiriku. Pertanyaan itu hadir seperti guru yang menuntunku di dalam proses ini. Sebelum aku lanjut lebih jauh, tentu aku bertanya lagi: bagaimana kita bisa membaca kerja sakrum? Karena berbeda dengan bagian tubuh yang lain, yang gerakannya bisa kita lihat secara langsung, sakrum bukan sesuatu yang dapat aku lihat ketika tubuh bergerak.
Maka dari itu, aku mencoba menggunakan pendekatan yang paling dekat dengan praktikku sebagai seorang penari, yaitu melalui gerak yang berangkat dari pengalaman menahan, menopang, dan memindahkan berat badan. Aku merasa ada sesuatu yang sedikit berbeda dengan sakrum di dalam praktik tari dan ilmu anatomi. Dalam ilmu anatomi, sakrum merupakan bagian tulang yang berada di antara tulang belakang dan panggul, sedangkan dalam praktik tari, istilah sakrum sering digunakan ketika membicarakan kesadaran pada bagian perut dan panggul ketika melakukan gerakan. Meskipun begitu, aku tetap yakin bahwa melalui gerak, tubuh dapat mengenali sakrum dengan cara yang berbeda–mungkin lebih kompleks atau mungkin lebih sederhana. Aku mencoba mengidentifikasi gerakan-gerakan apa yang membuat keberadaan sakrum menjadi terasa.
Kerja Studio
Aku mencoba melakukan beberapa rangkaian eksplorasi untuk merasakan bagaimana peran sakrum ketika tubuh bergerak, entah itu di dalam gerakan memahat, menari, ataupun di dalam gerakan sehari-hari, misalnya seperti eksplorasi tubuh menancap, tubuh memindahkan berat badan, tubuh mendorong, tubuh mengangkat beban, tubuh mengalami rotasi, dan tubuh merespons perubahan-perubahan yang terjadi selama tubuh bergerak. Dari beberapa eksplorasi tersebut, aku mulai merasakan bahwa setiap gerakan tidak berdiri sendiri.
Rangkaian itu kemudian aku coba eksekusi melalui ragam gerak yang ada pada tari Bali. Tari Bali adalah titik berangkatku untuk memahami tari sampai saat ini. Tubuhku telah lama mengenal ragam gerak dan sikap dasar pada tari Bali. Aku memulai belajar tari sejak umur 5 tahun. Waktu itu, ayah yang mengajakku ke salah satu sanggar tari yang ada di dekat rumahku, tepatnya di Banjar Batuaji, Sukawati, Gianyar Bali. Dan di dalam proses eksplorasi mengalami sakrum ini, aku kemudian mencoba membawa pertanyaan tentang hubungan tubuh, keseimbangan, dan sakrum ke dalam tubuh tari yang sudah aku kenal. Melalui ragam dan sikap dasar tari Bali, aku dapat mengalami kembali perasaan atas tubuh yang menahan, menopang, memindahkan beratnya, serta merespon perubahan-perubahan.
Di dalam upaya melacak sakrum, pertama-tama aku mencoba sikap kaki tapak sirang pada. Biasanya, di awal latihan, aku menggunakan teknik ini sebagai pemanasan sekaligus upaya melatih tubuh agar tetap tegak. Di dalam posisi kaki tapak sirang pada, aku membayangkan bahwa ada garis yang membentang dari atas hingga menancap ke bawah. Dari pengalaman itu, aku mulai memperhatikan bagaimana hubungan kaki, panggul, dan tulang belakang bekerja untuk mempertahankan posisi tubuh tetap tegak.
Yang kedua, aku mencoba posisi Nengkleng, atau gerakan mengangkat satu kaki. Di posisi ini, seluruh berat badan bertumpu pada satu kaki yang menopang ke bawah. Di posisi ini aku merasakan sesuatu yang saling terhubung dan bekerja seperti sebuah sistem yang membuat tubuh tidak goyah–ada perpindahan berat yang terus terjadi, walaupun secara kasat mata tubuh seperti sedang diam dalam satu posisi.

Kemudian yang ketiga, aku berpindah, melakukan gerakan kaki Gandang-gandang. Gerakan ini adalah gerakan berjalan dalam posisi ngaed, posisi agak merendah dengan lutut diarahkan ke samping; posisi lutut ini biasanya disebut dengan Pilak. Jadi di dalam gerakan Gandang-gandang, aku merasakan bagaimana tubuh selalu mengatur tekanan dan memindahkan berat badan.
Dan yang terakhir, sesuatu yang seperti merangkum seluruh rangkaian eksplorasi yang aku coba, yaitu ketika aku melakukan gerakan mepiteh atau berputar. Gerakan ini mempertegas perasaanku atas mengalami suatu peristiwa tubuh yang saling mengorganisasi satu sama lain untuk menjaga tubuh tetap seimbang dan tenaga yang stabil. Dalam gerakan mepiteh/berputar, pengalaman tubuh yang sebelumnya aku temukan tidak lagi hadir secara terpisah, tetapi bekerja secara bersamaan.
Ketika tubuh hendak berputar, tubuh memberikan dorongan sekaligus memindahkan berat badan. Pada saat yang sama, perasaan tubuh yang menancap tetap hadir melalui kaki yang menjadi tumpuan untuk menjaga tubuh agar tidak jatuh. Ketika salah satu kaki diangkat dalam putaran, perasaan tubuh mengangkat beban juga muncul karena seluruh berat badan bertumpu pada satu kaki. Sementara itu, tubuh terus merespon setiap perubahan yang terjadi selama putaran berlangsung. Ketika keseimbangan mulai tidak stabil, tubuh dengan cepat menyesuaikan kembali posisi, berat, dan tenaga agar tubuh tetap berdiri dan tidak jatuh.
Dari rangkaian eksplorasi tersebut, aku mulai mempertanyakan kembali, “apa yang sebenarnya sedang aku definisikan sebagai sakrum?” Aku tidak bisa mengatakan bahwa sakrum sendirilah yang membuat tubuh dapat berdiri tegak, karena sakrum bukan otot yang menghasilkan tenaga dan bukan bagian tubuh yang berkontraksi untuk menghasilkan gerakan. Yang menghasilkan tenaga tetaplah otot. Maka pertanyaanku setelahnya lagi: jika sakrum tidak menggerakkan tubuh, lalu bagaimana peran sakrum ketika tubuh bergerak?
Di titik ini, aku mencoba berdiskusi dengan kawan di ilmu kedokteran. Namanya I Putu Gede Arinanda Puriartha, yang biasa aku panggil Tude. Saat ini Tude sedang menempuh pendidikannya di Universitas Udayana, Fakultas Kedokteran, yang secara khusus mempelajari ilmu kinesiologi. Di dalam kerja ini, Tude memberikan analogi sakrum melalui prinsip tuas pada kerja permainan jungkat-jungkit.
Kalau jungkat-jungkit mempunyai poros, maka di dalam tubuh juga terdapat hubungan antara titik tumpu, gaya, dan beban. Semua gaya yang bekerja pada tubuh akan menghasilkan pengaruh terhadap bagian tubuh lainnya. Di sisi yang lain terdapat gaya yang dihasilkan oleh otot atau gaya kuasa. Otot bekerja untuk menjaga tubuh agar tidak jatuh. Selain itu terdapat berat tubuh yang terus ditarik ke bawah oleh gravitasi, yang disebut dengan gaya beban.
Jadi sebenarnya tubuh sedang melakukan tarik-menarik. Di satu titik, otot berusaha mempertahankan posisi. Di titik yang lain, gravitasi terus menarik tubuh ke bawah. Dari sini aku mulai memahami bahwa kestabilan tubuh bukanlah hasil kerja satu bagian tubuh saja, tetapi merupakan hubungan dari berbagai bagian tubuh yang saling bekerja.
Pascapentas Sakrum
Di dalam konteks yang lain, aku jadi tahu dunia ayah sebagai pemahat. Di dalam kerja ayah sebagai pemahat, posisi duduk membuat tubuhnya harus terus mengatur keseimbangan ketika berhadapan dengan patung, pahat, pukulan, dan berat tubuhnya sendiri. Sedangkan di dalam praktik tari, tubuhku terus berpindah, berdiri, merendah, menahan, mendorong, dan berputar.
Aku dan ayah berada di dalam jarak tertentu karena gelembung praktik yang berbeda. Ayah duduk di rumah memahat patung dengan keheningannya, sedangkan aku pentas dari satu titik ke titik yang lainnya diiringi riuh tepuk tangan. Cara kerja kami berbeda, material yang kami hadapi juga berbeda, tetapi melalui proses ini aku menemukan sesuatu yang membuat keduanya dapat aku baca dalam satu hubungan.

Sakrum kemudian menjadi caraku membaca jarak itu. Seperti perannya sebagai penghubung tulang belakang dan panggul, sakrum juga menjadi semacam titik temu antara tubuh ayah yang bekerja dalam keadaan seolah-olah diam namun sesungguhnya memiliki gerak dan tubuhku yang bekerja melalui gerak yang lebih lebar. Sakrum menjadi jembatanku untuk melihat hubungan antara posisi duduk dan tubuh yang bergerak; antara kerja memahat dan praktik menari.
Mungkin pada akhirnya aku tidak sedang mencari apakah sakrum benar-benar menjadi pusat dari tubuh ayah ataupun tubuhku sebagai penari, tetapi sakrum justru sedang mencari bagaimana bagian tubuh yang tidak dapat aku lihat secara langsung, perlahan menjadi sesuatu yang dapat aku rasakan melalui gerak, dan aku sadari sebagai sebuah konstruksi tubuhku. Dan ini aku sadari ketika pentas saat itu selesai pada 7 Agustus 2026 di Gedung Ni Ketut Reneng lantai 1, Institut Seni Indonesia Bali, pada pukul 14.10 Wita. Sakrum meretas jarak atas kerjaku dan ayah.[T]
Penulis:Yanik Parta
Editor: Jaswanto

























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)




