MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Bali ramai menunggu pengumuman untuk masuk ke studio 1. Saya sendiri mewakili Komunitas Budaya Gurat Indonesia sebagai mitra ISI Bali Berdampak melalui Studi Independen, dipilih oleh Ida Bagus Putu Raditya Mahijasena (Gus Sena) sebagai tempat berproses penciptaan karya Tugas Akhir (TA) sebagai syarat untuk menamatkan pendidikan S1 Seni Tari di ISI Bali, saya mendahului masuk ke ruangan bersama dua pembimbing sekaligus penguji yaitu Prof. Dr. I Ketut Suteja dan I Wayan Sutirtha, S.Sn., M.Sn.
Masuk ke dalam ruangan studio 1 cahaya nampak diredupkan, matras yoga digelar dalam komposisi formasi bentuk U, terdapat tiga layar digital pada tembok sisi selatan, kamera disetting untuk merekam live karya Gus Sena, beriringan dengan itu pengunjung mulai masuk dan menempati tempat duduk yang telah disediakan, di saat yang bersamaan juga penari-penari memulai adegan pertama mereka. Nampak vibes meditatif bebarengan dengan suasana kacau menyelimuti ruangan studio 1, bagi mereka yang tidak nyaman karena pertunjukan telah dimulai tetapi penonton secara bergelombang baru menyamankan posisi duduk mereka, ada pula suara-suara yang mengarahkan posisi duduk, suara langkah kaki, suara nafas yang tersengal, suara geraman berbisik, pun suara musik latar dari garapan Gus Sena bercampur menjadi satu memenuhi ruang.


Igel Prana atau dalam bahasa Indonesia adalah tari napas akhirnya dipilih oleh Gus Sena untuk karya yang lahir dari rahim eksperimentasi tubuh dan pemikirannya melalui rangkaian percobaan dan diskusi-diskusi bersama kawan-kawan di Gurat Institute maupun rekan sejawat Gus Sena sesama praktisi tari. Gus Sena mendasarkan pemikiran atas penciptaan Igel Prana dari praktik asanas, bertumpu pada nafas yang memberikan nyawa pada setiap gerakan yang hadir setelah napas itu dirasakan. Tujuannya sederhana, untuk menghayati kesadaran tubuh yang hidup melalui bernapas, Gus Sena membawa persoalan kesadaran tentang diri atau self consciousness pada masa kini dalam konteks dunia kontemporer yang penuh dengan segala macam bentuk distraksi, hal ini sering sekali membuat manusia lupa akan keberadaan dirinya sendiri.
Yang menarik dari Igel Prana ini adalah proses penciptaannya yang dinamis, Gus Sena mulai riset dari ruang publik yang ramai, praktik asanan dilakukan bersama beberapa teman-temannya, ia menghadirkan tubuh meditatif pada keramaian, menyerap segala bentuk distraksi dari lingkungan sekitar yang kemudian merangsang tubuh untuk bergerak. Pada kesempatan lainnya, ia bersama kawan-kawan dan anak-anak Ruang Tumbuh Bumi Bajra berkesempatan mementaskan pertunjukan asanas dengan basis lecturer, pada tahap ini Gus Sena nampak lebih memperhatikan pola kehadiran tubuh praktisi dan keterhubungannya dengan lingkungan sekitar.

Praktik-praktik awal ini menghasilkan dokumen berupa foto, video dan catatan terkait proses tersebut yang kemudian setelahnya ia olah melalui konfigurasi-konfigurasi tari. Praktik eksperimental pada seni pertunjukan tari ini kemudian nampaknya memberikan arah kreatif yang nampak pada karya Igel Prana, oleh karena ini merupakan karya eksperimental maka sesungguhnya karya ini tidaklah final meskipun telah diujikan pada ruang sidang seni pertunjukan, seturut dengan definisi eksperimental yang bersifat uji coba yaitu menekankan pada praksis proses kreatif dan sesuatu yang tidak biasa atau di luar kebiasaan.
Praktik-praktik seni kontemporer lebih dekat dengan apa yang dilakukan oleh Gus Sena pada Igel Prana yang meniadakan plot cerita sebab berfokus pada napas dan tubuh, menekankan pada emosi ekspresional bahkan mood yang spesifik sehingga inti dari Igel Prana dalam relasinya pada praksis seni masa kini nampak jelas mendobrak batas seni pertunjukan atau mengaburkannya. Tidak menunjukan aspek naratif yang berlebihan, tidak menyajikan unsur figuratif yang kuat, tidak pula ilustratif sebagaimana Deleuze dalam Francis Bacon: The Logic of Sensation (2003) menyatakan bahwa seni tradisional memiliki tiga aspek yang kuat yaitu figuratif, naratif, dan ilustratif sehingga ketika kita membahas tentang seni modern maka tiga aspek ini harusnya hilang karena jargon seni modern adalah menolak adanya ketradisian itu. Pada praktik seni kontemporer atau seni masa kini, membuka kembali tiga aspek ini untuk hadir tetapi dalam bentuk yang lebih subtle atau mentah pada sebuah laboratorium kreatif sehingga memungkinkan para penata atau seniman leluasa untuk memformulasikan ide dan gagasan kreatifnya dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan dan dari berbagai unsur lintas seni maupun disiplin ilmu.


Igel Prana yang dipentaskan pada ujian TA berkembang dari rangkaian uji coba yang dilakukan Gus Sena, pada setiap uji coba pementasan selalu berbeda seolah menemukan atau terbentuk atas berbagai kemungkinan saat itu. Satu hal yang penting untuk digaris bawahi adalah penekanan Gus Sena terhadap praktik yoga asanas, menekankan pada kesadaran akan napas yang menimbulkan gerak. Tubuh-tubuh yang bergerak itu menciptakan ritme (rhythm) yang tentu tidak sama antara satu penari dengan penari lainnya sebab masing-masing pendukung tari memiliki rentang napas yang berbeda-beda.
Gus Sena menemukan konfigurasi poros pada tubuh yang diaplikasikan melalui gerak, hal ini ia dapatkan dari proses kreatifnya bersama rekan-rekan pendukung tari ketika sesi diskusi setelah melakukan asanas, nampak pada gerakan yang seolah gestur tubuh penari mencari keseimbangan tubuh mereka sembari mengatur pernapasan masing-masing. Dari napas-gerak-poros tubuh, tiga hal ini membentuk kesadaran sekaligus menjadi dasar gestur Igel Prana, selain kekayaan ritme pada masing-masing tubuh, Gus Sena nampak juga membangun ritme komunal melalui pola berulang yaitu menggulung matras yoga, berjalan, berjalan melingkar, membuka matras pada lantai, tubuh direbahkan, bangun, jongkok, dan menggulung matras lagi. Ritme tersebut dilakukan berulang-ulang dengan tempo yang semakin cepat sehingga dapat dibayangkan bagaimana tubuh mengatasi gerakan dari yang teratur menjadi ketidak teraturan itu secara sadar.

Sistem pemanggungan yang dilakukan oleh Gus Sena pada karya Igel Prana menyajikan satu pemanggungan yang mengadopsi pola kalangan, penonton dapat menonton dari sisi dimensi mana saja, tiga panel layar besar ditempatkan sebagai latar belakang dengan settingan kamera yang merekam secara live dan ditayangkan pada layar, penonton diberikan celah melihat sisi belakang atau sisi lain dari pertunjukan sekaligus juga sebagai bentuk distraksi digital masa kini. Para penari bergerak menari di sisi lain beberapa kameran ditempatkan pada posisi tertentu untuk mendapatkan sudut pandang yang diinginkan sehingga selain menonton dari posisi berhadapan dengan penari, penonton juga dapat melihat sudut lain penari secara bersamaan. Pada kondisi ini, Gus Sena seolah memberikan ruang kepada penonton untuk menyadari realitas dalam satu momentum, kesadaran terhadap realitas tubuh yang nyata sekaligus realitas dunia digital tempat separuh hidup kita hari ini beraktivitas. Pada tahapan ini saya teringat akan pernyataan Jean Jacques Rousseau bahwa “dunia nyata memiliki batas; dunia imajinasi tidak terbatas.” dan apa yang ada pada Igel Prana memberikan saya pandangan baru bahwa jika dunia nyata ada batasnya sedangkan dunia imaji tak terbatas maka dunia digital menyodorkan praktik muslihat.
Saya tidak yakin bahwa karya Igel Prana ini telah selesai, dalam arti final yang sesungguhnya sebagai karya seni yang selesai dan dapat dipertunjukan dengan pola sama pada panggung lainnya. Berdasarkan pada pola kerja kreatif Gus Sena, karya Igel Prana yang diujikan pada panggung akademik strata 1 memang selesai pada tahap itu dan saya yakin akan senantiasa menemukan bentuk barunya dari panggung satu ke panggung lainnya, tidak akan pernah sama, sejalan dengan sifat seni kontemporer yang dinamis, terbuka pada berbagai medium baru dan isu-isu sosial masa kini.

Melalui catatan ini saya menawarkan kepada Gus Sena dua hal, yang pertama fokus pada karir kesenimanan independent melalui riset mandiri dan praksis seni pertunjukan, sedangkan yang kedua adalah melanjutkan studi akademik ke jenjang selanjutnya mendalami metode riset seni dan praksis seni pertunjukan. Meski keduanya terasa sama, percayalah bahwa pengalaman keduanya akan memberikan dampak atau konsekwensi yang berbeda di masa depan, merujuk kepada pernyataan Cok Sawitri dalam Novel Sutasoma bahwa di kakilah letak tujuan. By the way, selamat Gus Sena. [T]
Antara Pohmanis dan Panjer, 31 Juli 2026
Penulis: Purwita Sukahet
Editor: Adnyana Ole






























