31 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
in Ulas Pentas
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

Igel Prana Karya Gus Sena | Foto: Om Gun

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Bali ramai menunggu pengumuman untuk masuk ke studio 1. Saya sendiri mewakili Komunitas Budaya Gurat Indonesia sebagai mitra ISI Bali Berdampak melalui Studi Independen, dipilih oleh Ida Bagus Putu Raditya Mahijasena (Gus Sena) sebagai tempat berproses penciptaan karya Tugas Akhir (TA) sebagai syarat untuk menamatkan pendidikan S1 Seni Tari di ISI Bali, saya mendahului masuk ke ruangan bersama dua pembimbing sekaligus penguji yaitu Prof. Dr. I Ketut Suteja dan I Wayan Sutirtha, S.Sn., M.Sn.

Masuk ke dalam ruangan studio 1 cahaya nampak diredupkan, matras yoga digelar dalam komposisi formasi bentuk U, terdapat tiga layar digital pada tembok sisi selatan, kamera disetting untuk merekam live karya Gus Sena, beriringan dengan itu pengunjung mulai masuk dan menempati tempat duduk yang telah disediakan, di saat yang bersamaan juga penari-penari memulai adegan pertama mereka. Nampak vibes meditatif bebarengan dengan suasana kacau menyelimuti ruangan studio 1, bagi mereka yang tidak nyaman karena pertunjukan telah dimulai tetapi penonton secara bergelombang baru menyamankan posisi duduk mereka, ada pula suara-suara yang mengarahkan posisi duduk, suara langkah kaki, suara nafas yang tersengal, suara geraman berbisik, pun suara musik latar dari garapan Gus Sena bercampur menjadi satu memenuhi ruang.

Igel Prana Karya Gus Sena | Foto: Luciana Ferrero

Igel Prana atau dalam bahasa Indonesia adalah tari napas akhirnya dipilih oleh Gus Sena untuk karya yang lahir dari rahim eksperimentasi tubuh dan pemikirannya melalui rangkaian percobaan dan diskusi-diskusi bersama kawan-kawan di Gurat Institute maupun rekan sejawat Gus Sena sesama praktisi tari. Gus Sena mendasarkan pemikiran atas penciptaan Igel Prana dari praktik asanas, bertumpu pada nafas yang memberikan nyawa pada setiap gerakan yang hadir setelah napas itu dirasakan. Tujuannya sederhana, untuk menghayati kesadaran tubuh yang hidup melalui bernapas, Gus Sena membawa persoalan kesadaran tentang diri atau self consciousness pada masa kini dalam konteks dunia kontemporer yang penuh dengan segala macam bentuk distraksi, hal ini sering sekali membuat manusia lupa akan keberadaan dirinya sendiri.

Yang menarik dari Igel Prana ini adalah proses penciptaannya yang dinamis, Gus Sena mulai riset dari ruang publik yang ramai, praktik asanan dilakukan bersama beberapa teman-temannya, ia menghadirkan tubuh meditatif pada keramaian, menyerap segala bentuk distraksi dari lingkungan sekitar yang kemudian merangsang tubuh untuk bergerak. Pada kesempatan lainnya, ia bersama kawan-kawan dan anak-anak Ruang Tumbuh Bumi Bajra berkesempatan mementaskan pertunjukan asanas dengan basis lecturer, pada tahap ini Gus Sena nampak lebih memperhatikan pola kehadiran tubuh praktisi dan keterhubungannya dengan lingkungan sekitar.

Igel Prana Karya Gus Sena | Foto: Om Gun

Praktik-praktik awal ini menghasilkan dokumen berupa foto, video dan catatan terkait proses tersebut yang kemudian setelahnya ia olah melalui konfigurasi-konfigurasi tari. Praktik eksperimental pada seni pertunjukan tari ini kemudian nampaknya memberikan arah kreatif yang nampak pada karya Igel Prana, oleh karena ini merupakan karya eksperimental maka sesungguhnya karya ini tidaklah final meskipun telah diujikan pada ruang sidang seni pertunjukan, seturut dengan definisi eksperimental yang bersifat uji coba yaitu menekankan pada praksis proses kreatif dan sesuatu yang tidak biasa atau di luar kebiasaan.

Praktik-praktik seni kontemporer lebih dekat dengan apa yang dilakukan oleh Gus Sena pada Igel Prana yang meniadakan plot cerita sebab berfokus pada napas dan tubuh, menekankan pada emosi ekspresional bahkan mood yang spesifik sehingga inti dari Igel Prana dalam relasinya pada praksis seni masa kini nampak jelas mendobrak batas seni pertunjukan atau mengaburkannya. Tidak menunjukan aspek naratif yang berlebihan, tidak menyajikan unsur figuratif yang kuat, tidak pula ilustratif sebagaimana Deleuze dalam Francis Bacon: The Logic of Sensation (2003) menyatakan bahwa seni tradisional memiliki tiga aspek yang kuat yaitu figuratif, naratif, dan ilustratif sehingga ketika kita membahas tentang seni modern maka tiga aspek ini harusnya hilang karena jargon seni modern adalah menolak adanya ketradisian itu. Pada praktik seni kontemporer atau seni masa kini, membuka kembali tiga aspek ini untuk hadir tetapi dalam bentuk yang lebih subtle atau mentah pada sebuah laboratorium kreatif sehingga memungkinkan para penata atau seniman leluasa untuk memformulasikan ide dan gagasan kreatifnya dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan dan dari berbagai unsur lintas seni maupun disiplin ilmu.

Igel Prana Karya Gus Sena | Foto: Om Gun

Igel Prana yang dipentaskan pada ujian TA berkembang dari rangkaian uji coba yang dilakukan Gus Sena, pada setiap uji coba pementasan selalu berbeda seolah menemukan atau terbentuk atas berbagai kemungkinan saat itu. Satu hal yang penting untuk digaris bawahi adalah penekanan Gus Sena terhadap praktik yoga asanas, menekankan pada kesadaran akan napas yang menimbulkan gerak. Tubuh-tubuh yang bergerak itu menciptakan ritme (rhythm) yang tentu tidak sama antara satu penari dengan penari lainnya sebab masing-masing pendukung tari memiliki rentang napas yang berbeda-beda.

Gus Sena menemukan konfigurasi poros pada tubuh yang diaplikasikan melalui gerak, hal ini ia dapatkan dari proses kreatifnya bersama rekan-rekan pendukung tari ketika sesi diskusi setelah melakukan asanas, nampak pada gerakan yang seolah gestur tubuh penari mencari keseimbangan tubuh mereka sembari mengatur pernapasan masing-masing. Dari napas-gerak-poros tubuh, tiga  hal ini membentuk kesadaran sekaligus menjadi dasar gestur Igel Prana, selain kekayaan ritme pada masing-masing tubuh, Gus Sena nampak juga membangun ritme komunal melalui pola berulang yaitu menggulung matras yoga, berjalan, berjalan melingkar, membuka matras pada lantai, tubuh direbahkan, bangun, jongkok, dan menggulung matras lagi. Ritme tersebut dilakukan berulang-ulang dengan tempo yang semakin cepat sehingga dapat dibayangkan bagaimana tubuh mengatasi gerakan dari yang teratur menjadi ketidak teraturan itu secara sadar.

Igel Prana Karya Gus Sena | Foto: Luciana Ferrero

Sistem pemanggungan yang dilakukan oleh Gus Sena pada karya Igel Prana menyajikan satu pemanggungan yang mengadopsi pola kalangan, penonton dapat menonton dari sisi dimensi mana saja, tiga panel layar besar ditempatkan sebagai latar belakang dengan settingan kamera yang merekam secara live dan ditayangkan pada layar, penonton diberikan celah melihat sisi belakang atau sisi lain dari pertunjukan sekaligus juga sebagai bentuk distraksi digital masa kini. Para penari bergerak menari di sisi lain beberapa kameran ditempatkan pada posisi tertentu untuk mendapatkan sudut pandang yang diinginkan sehingga selain menonton dari posisi berhadapan dengan penari, penonton juga dapat melihat sudut lain penari secara bersamaan. Pada kondisi ini, Gus Sena seolah memberikan ruang kepada penonton untuk menyadari realitas dalam satu momentum, kesadaran terhadap realitas tubuh yang nyata sekaligus realitas dunia digital tempat separuh hidup kita hari ini beraktivitas. Pada tahapan ini saya teringat akan pernyataan Jean Jacques Rousseau bahwa “dunia nyata memiliki batas; dunia imajinasi tidak terbatas.” dan apa yang ada pada Igel Prana memberikan saya pandangan baru bahwa jika dunia nyata ada batasnya sedangkan dunia imaji tak terbatas maka dunia digital menyodorkan praktik muslihat.

Saya tidak yakin bahwa karya Igel Prana ini telah selesai, dalam arti final yang sesungguhnya sebagai karya seni yang selesai dan dapat dipertunjukan dengan pola sama pada panggung lainnya. Berdasarkan pada pola kerja kreatif Gus Sena, karya Igel Prana yang diujikan pada panggung akademik strata 1 memang selesai pada tahap itu dan saya yakin akan senantiasa menemukan bentuk barunya dari panggung satu ke panggung lainnya, tidak akan pernah sama, sejalan dengan sifat seni kontemporer yang dinamis, terbuka pada berbagai medium baru dan isu-isu sosial masa kini.

Igel Prana Karya Gus Sena | Foto: Om Gun

Melalui catatan ini saya menawarkan kepada Gus Sena dua hal, yang pertama fokus pada karir kesenimanan independent melalui riset mandiri dan praksis seni pertunjukan, sedangkan yang kedua adalah melanjutkan studi akademik ke jenjang selanjutnya mendalami metode riset seni dan praksis seni pertunjukan. Meski keduanya terasa sama, percayalah bahwa pengalaman keduanya akan memberikan dampak atau konsekwensi yang berbeda di masa depan, merujuk kepada pernyataan Cok Sawitri dalam Novel Sutasoma bahwa di kakilah letak tujuan. By the way, selamat Gus Sena. [T]

Antara Pohmanis dan Panjer, 31 Juli 2026

Penulis: Purwita Sukahet
Editor: Adnyana Ole

Tags: ISI BaliMahijasenaseni pertunjukanseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

by Sugi Lanus
July 31, 2026
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit
Ulas Film

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

by Angga Wijaya
July 31, 2026
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud
Ulas Rupa

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra
Kritik Seni

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew
Ulas Rupa

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

by Angga Wijaya
July 30, 2026
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer
Ulas Rupa

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

by Hartanto
July 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co