1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

Anselmus Dore Woho Atasoge by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
in Ulas Pentas
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

Pertunjukan "The Last Poison" di Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu refleksi teologis dan estetis. Darmawan Dadijono, koreografer dan penari yang akrab disapa Iwan, mementaskan karya terbarunya, The Last Poison. Di tengah ruang publik yang hiruk-pikuk dengan sejuta persoalan, Iwan mengajak para penonton untuk menyelami diskursus mengenai pengkhianatan, penderitaan dan penebusan melalui medium tubuh.

The Last Poison mengisahkan tentang ‘si pengkhianat’ yang diposisikan sebagai ‘racun terakhir’. Racun ini seakan menjadi katalisator yang menjadikan Yesus, Sang Juru Selamat, tertuduh, disiksa hingga akhirnya disalibkan. Namun, narasi yang dibangun Iwan tidak berhenti pada tragedi. Penderitaan tersebut bertransformasi menjadi jalan menuju ‘kemenangan Ilahi’ untuk menebus dosa manusia. Bagi saya, karya ini membongkar paradoks teologis ‘bagaimana sebuah kejahatan (pengkhianatan) justru menjadi syarat mutlak bagi terwujudnya keselamatan (penebusan)’.

Di titik tersebut, Iwan menerjemahkan konsep ‘racun’ it uke dalam bahasa tubuh yang tegang, kontradiktif, dan penuh dialektika. Tubuh penari tidak lagi ditampilkan hanya sebagai alat gerak. Oleh Iwan, ia ‘diubah’ menjadi medan pertempuran antara kehendak manusia yang rapuh dan rencana Ilahi yang melampaui akal budi. Dukungan komposisi musik garapan Delano Christian memperkuat atmoster ini. Sonoritas yang dibangun Delano hadir sebagai ruang resonansi dan mempertegas ketegangan antara racun yang mematikan dan anugerah yang menghidupkan. Inteaksi antara gerak dan suara ini menciptakan katarsis. Pada titian ini, penonton diajak menyadari bahwa kemenangan atas dosa sering kali harus dibayar dengan harga penderitaan yang ekstrem.

Pertunjukan “The Last Poison” di Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT

Dari keseluruhan perform yang ditampilkan Iwan, salah satu elemen visual yang menarik perhatian adalah ‘topeng’. Iwan menginterpretasikan Yudas, sang pengkhianat, sebagai figure yang mengenakan topeng. Sebuah kedok kebaikan yang hanya diketahui oleh pemakainya. Topeng yang digunakan sengaja tidak merepresentasikan karakter atau tokoh tertentu secara eksplisit. Ambiguitas ini memperkuat kesan bahwa pengkhianatan sering kali tersembunyi di balik wajah yang tampak saleh. Dalam salah satu momen yang paling menyentuh, Iwan mewujudkan adegan di mana Yudas dipeluk oleh Yesus. Adegan ini menjadi simbol paradoksal. Bahwa sesungguhnya, kasih Ilahi tetap diberikan bahkan kepada mereka yang bersembunyi di balik topeng kemunafikan.

Konstelasi pemahaman dan performa-nya Iwan sebagai dosen sekaligus seniman tentang ritus, teologi dan tradisi tidak muncul sebagai entitas spontan. Jejak artitistiknya menunjukkan sebuah konsistensi riset yang orisinal. Karya-karya sebelumnya seperti ‘Ovos, Jalan Salib Hidup di Konga’, dan ‘Maria Alleluya di Konga’ (2018) menunjukkan bahwa ia telah lama bergulat dengan ‘memori kolektif’ umat Katolik di Larantuka, Flores Timur.

Pertunjukan “The Last Poison” di Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT

Kematangan artistik Iwan dalam The Last Poison (2024) yang kala ini dipentaskan kembali di Larantuka dengan kedalaman interpretasi baru merupakan akumulasi dari proses panjangnya. Pada 2023, ia mengeksplorasi gerak melalui ‘Mbarang dan Laku-ku’, dan pada 2025 memperkaya Khazanah karyanya dengan  ‘Wana, Isak Tirta, dan Lempung-Lengkung-Urna’. Konsistensi ini membuktikan bahwa The Last Poison menjadi sebuah ‘tesis artistik’ yang dirancang dengan kalkulasi estetis yang mendalam.

Selain sebagai koreografer, kapasitas Iwan sebagai penari juga teruji dalam berbagai panggung, baik nasional maupun internasional. Pengalaman menari bersama Nara Teater dalam Ibu Tanah di desa Lamanabi Larantuka (2025), serta keterlibatannya dalam Festival Pasca ISI Surakarta bersama para pelaku tradisi  Semana Santa dari Konga, Larantuka, menunjukkan komitmennya untuk tetap ‘membumikan gerak’ pada akar tradisi.

Jam terbang internasionalnya, mulai dari menari di Universitas Srinakawiroth Thailand, Andong International Maskdance Festival Korea, Indonesia Mask Festival (IMF) di Solo, hingga Festival Nubun Tawa di Flores Timur (2018), menegaskan bahwa ‘bahasa tubuh’ yang ia tawarkan memiliki nilai dan pesan universalitas. Di sinilah, ia bergerak melampaui sekat-sekat budaya lokal tanpa kehilangan roh aslinya.

Pertunjukan “The Last Poison” di Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT

Dalam tarikan nafas ontologis, The Last Poison menawarkan sebuah pandangan baru mengenai representasi ‘kisah suci’ dalam kesenian kontemporer. Iwan berhasil menghindarkan karya ini dari ‘jebakan klise’ atau ‘romantisme penderitaan’. Sebaliknya, ia menyajikan kisah pengkhianatan sebagai sebuah ‘realitas pahit’ yang harus diakui keberadaannya dalam sejarah keselamatan manusia. Si Pengkhianat dan racunnya, di tangan dan pikiran Iwan, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ‘mosaik penebusan-mosaik keselamatan’. Jejak The Last Poison di Larantuka akan menjadi ingatan kolektif.

Di tengah dunia yang sering kali terjebak dalam ‘hitam-putih’ moralitas, kesenian hadir menawarkan ‘ruang abu-abu’ yang reflektif. Melalui tubuh, Dadijono membuktikan bahwa teologi tidak hanya bisa dibaca dalam Kitab Suci dan ajaran dogmatis atau didiskusikan di ruang akademik. Ia pun bisa dirasakan, dihayati dan dirayakan melalui ‘keringat, gerak, cahaya dan musik’ di atas panggung.[T]

Penulis: Anselmus Dore Woho Atasoge
Editor: Adnyana Ole

Tags: Festival Bale NagiFlores TimurLarantukaNTTseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

Next Post

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

Lahir di Naikoten II Kupang, NTT, 05 Nop 1977, Studi Filsafat di Ledalero, Studi Magister Teologi Kontekstual di Ledalero, S3 Studi Antar Iman di UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta. Sekarang Dosen Mata kuliah Sosiologi dan Hubungan Antar Iman di Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails
Next Post
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co