MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu refleksi teologis dan estetis. Darmawan Dadijono, koreografer dan penari yang akrab disapa Iwan, mementaskan karya terbarunya, The Last Poison. Di tengah ruang publik yang hiruk-pikuk dengan sejuta persoalan, Iwan mengajak para penonton untuk menyelami diskursus mengenai pengkhianatan, penderitaan dan penebusan melalui medium tubuh.
The Last Poison mengisahkan tentang ‘si pengkhianat’ yang diposisikan sebagai ‘racun terakhir’. Racun ini seakan menjadi katalisator yang menjadikan Yesus, Sang Juru Selamat, tertuduh, disiksa hingga akhirnya disalibkan. Namun, narasi yang dibangun Iwan tidak berhenti pada tragedi. Penderitaan tersebut bertransformasi menjadi jalan menuju ‘kemenangan Ilahi’ untuk menebus dosa manusia. Bagi saya, karya ini membongkar paradoks teologis ‘bagaimana sebuah kejahatan (pengkhianatan) justru menjadi syarat mutlak bagi terwujudnya keselamatan (penebusan)’.
Di titik tersebut, Iwan menerjemahkan konsep ‘racun’ it uke dalam bahasa tubuh yang tegang, kontradiktif, dan penuh dialektika. Tubuh penari tidak lagi ditampilkan hanya sebagai alat gerak. Oleh Iwan, ia ‘diubah’ menjadi medan pertempuran antara kehendak manusia yang rapuh dan rencana Ilahi yang melampaui akal budi. Dukungan komposisi musik garapan Delano Christian memperkuat atmoster ini. Sonoritas yang dibangun Delano hadir sebagai ruang resonansi dan mempertegas ketegangan antara racun yang mematikan dan anugerah yang menghidupkan. Inteaksi antara gerak dan suara ini menciptakan katarsis. Pada titian ini, penonton diajak menyadari bahwa kemenangan atas dosa sering kali harus dibayar dengan harga penderitaan yang ekstrem.

Dari keseluruhan perform yang ditampilkan Iwan, salah satu elemen visual yang menarik perhatian adalah ‘topeng’. Iwan menginterpretasikan Yudas, sang pengkhianat, sebagai figure yang mengenakan topeng. Sebuah kedok kebaikan yang hanya diketahui oleh pemakainya. Topeng yang digunakan sengaja tidak merepresentasikan karakter atau tokoh tertentu secara eksplisit. Ambiguitas ini memperkuat kesan bahwa pengkhianatan sering kali tersembunyi di balik wajah yang tampak saleh. Dalam salah satu momen yang paling menyentuh, Iwan mewujudkan adegan di mana Yudas dipeluk oleh Yesus. Adegan ini menjadi simbol paradoksal. Bahwa sesungguhnya, kasih Ilahi tetap diberikan bahkan kepada mereka yang bersembunyi di balik topeng kemunafikan.
Konstelasi pemahaman dan performa-nya Iwan sebagai dosen sekaligus seniman tentang ritus, teologi dan tradisi tidak muncul sebagai entitas spontan. Jejak artitistiknya menunjukkan sebuah konsistensi riset yang orisinal. Karya-karya sebelumnya seperti ‘Ovos, Jalan Salib Hidup di Konga’, dan ‘Maria Alleluya di Konga’ (2018) menunjukkan bahwa ia telah lama bergulat dengan ‘memori kolektif’ umat Katolik di Larantuka, Flores Timur.

Kematangan artistik Iwan dalam The Last Poison (2024) yang kala ini dipentaskan kembali di Larantuka dengan kedalaman interpretasi baru merupakan akumulasi dari proses panjangnya. Pada 2023, ia mengeksplorasi gerak melalui ‘Mbarang dan Laku-ku’, dan pada 2025 memperkaya Khazanah karyanya dengan ‘Wana, Isak Tirta, dan Lempung-Lengkung-Urna’. Konsistensi ini membuktikan bahwa The Last Poison menjadi sebuah ‘tesis artistik’ yang dirancang dengan kalkulasi estetis yang mendalam.
Selain sebagai koreografer, kapasitas Iwan sebagai penari juga teruji dalam berbagai panggung, baik nasional maupun internasional. Pengalaman menari bersama Nara Teater dalam Ibu Tanah di desa Lamanabi Larantuka (2025), serta keterlibatannya dalam Festival Pasca ISI Surakarta bersama para pelaku tradisi Semana Santa dari Konga, Larantuka, menunjukkan komitmennya untuk tetap ‘membumikan gerak’ pada akar tradisi.
Jam terbang internasionalnya, mulai dari menari di Universitas Srinakawiroth Thailand, Andong International Maskdance Festival Korea, Indonesia Mask Festival (IMF) di Solo, hingga Festival Nubun Tawa di Flores Timur (2018), menegaskan bahwa ‘bahasa tubuh’ yang ia tawarkan memiliki nilai dan pesan universalitas. Di sinilah, ia bergerak melampaui sekat-sekat budaya lokal tanpa kehilangan roh aslinya.

Dalam tarikan nafas ontologis, The Last Poison menawarkan sebuah pandangan baru mengenai representasi ‘kisah suci’ dalam kesenian kontemporer. Iwan berhasil menghindarkan karya ini dari ‘jebakan klise’ atau ‘romantisme penderitaan’. Sebaliknya, ia menyajikan kisah pengkhianatan sebagai sebuah ‘realitas pahit’ yang harus diakui keberadaannya dalam sejarah keselamatan manusia. Si Pengkhianat dan racunnya, di tangan dan pikiran Iwan, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ‘mosaik penebusan-mosaik keselamatan’. Jejak The Last Poison di Larantuka akan menjadi ingatan kolektif.
Di tengah dunia yang sering kali terjebak dalam ‘hitam-putih’ moralitas, kesenian hadir menawarkan ‘ruang abu-abu’ yang reflektif. Melalui tubuh, Dadijono membuktikan bahwa teologi tidak hanya bisa dibaca dalam Kitab Suci dan ajaran dogmatis atau didiskusikan di ruang akademik. Ia pun bisa dirasakan, dihayati dan dirayakan melalui ‘keringat, gerak, cahaya dan musik’ di atas panggung.[T]
Penulis: Anselmus Dore Woho Atasoge
Editor: Adnyana Ole































