BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang pentas di sana telah ditunggu oleh dimensi panggung luas, latar belakang gapura tinggi besar menjulang dengan tatahan ornamen, dan backdrop dihias elemen estetik pada posisi penabuh yang sering sekali terlihat kontras dengan gapura utamanya bahkan seringkali mengalahkan pesona penabuh gong yang duduk di depannya.
Utami Evi Riyani dalam tulisannya “Menengok Persiapan Panggung Terbuka Ardha Candra, Tempat Pembukaan Pesta Kesenian Bali” yang diunggah pada laman web okezone.com menyatakan bahwa panggung terbuka ini, sebagai tempat pertunjukan utama, memiliki luas bangunan 7.200 meter persegi dengan kapasitas penonton sekiranya 7.000 orang. Panggung terbuka ini menjadi panggung pementasan utama yang di dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu dianggap menjadi tempat pertunjukan “sakral” nan bergengsi sehingga mereka yang berkesempatan unjuk pagelaran di sini selalu berusaha mati-matian untuk menunjukan performa maksimal, salah satunya yang masih menjadi primadona masyarakat adalah gong kebyar dewasa (GKD).
Pengalaman saya, pada tahun 2010-2014, selalu rutin hadir di panggung ini untuk memotret pagelaran gong kebyar saat PKB. Maklum, saat itu fotografi sedang naik daun di Bali dan saya salah satu yang bisa dikatakan fomo terlibat dalam hype-nya fotografi. Gong kebyar dewasa menjadi sasaran banyak bidikan fotografer pro maupun yang fomo seperti saya. Yang ditunggu-tunggu tentu saja materi fragmen tari dari gong kebyar dewasa dalam momentum mebarung.

Cerita yang digarap oleh masing-masing duta kabupaten/kota seputaran kisah epos hingga carangan dari Bharatayudha, Ramayana, Sutasoma, Babad, maupun folklore suatu desa. Fragmen tari yang menjadi materi pamungkas GKD kemudian banyak mengadopsi penggunaan properti tari yang mewah. Dari penambahan panggung, alat bantu serupa crane―agar penari dapat digantung seolah terbang―, kereta-kereta kuda, perahu-perahuan, gunung-gunungan, batu-batuan, pohon-pohonan, istana/rumah-rumahan, dan lain sebagainya, yang mendukung gelaran tersebut. Sehingga, sering sekali properti-properti yang dipergunakan berupaya untuk menaklukan luasnya dimensi panggung dan komposisi yang sesak, bahkan mencoba melawan dominasi gagahnya siluet gapura utama dan backdrop para penabuh dengan ornamen-ornamen Bali (yang menurut saya) dipaksakan hadir dalam ukuran besar pun dominasi warna emas.
Apa yang saya saksikan kemudian memberikan pandangan bahwa memang ada upaya untuk memenuhi panggung bergengsi ini ketika fragmen tari memberikan kesan kolosal pada gelaran, hingga menunjukan perkembangan kekinian suatu pagelaran dengan mempergunakan teknologi baik berupa video mapping, lighting set, properti pertunjukan mekanistik.
Ketika pertunjukan dimulai, antara penari, properti, dan latar panggung Ardha Candra seolah saling tumpang tindih menghadirkan dominasinya. Dalam hal ini, antara penari, properti, dan panggung berdiri secara fragmentasi, terpisah-pisah. Bisanya, di samping penari hadir dengan gerak tarinya dalam memainkan peran; properti hadir sekadar sebagai pendukung bagi para penari untuk menguatkan peran/figur itu, untuk menguatkan sisi naratif latar cerita, untuk membangun adegan atau mengilustrasikan adegan dalam cerita. Sejalan dengan pandangan Mabruri Pudyas Salim―dalam artikelnya “Apa Fungsi Properti Tari?” pada laman web Liputan6.com―bahwa properti tari adalah benda-benda atau alat yang digunakan untuk mendukung peragaan dalam pertunjukan seni tari, sebagai pendukung gerak, sebagai penguat simbolik.
Namun, saya menyaksikan ada kesan visual yang berbeda dari fragmen tari berjudul Gita Sarayu oleh Desa Selat sebagai duta Kabupaten Karangasem pada Kamis malam, 9 Juli 2026. Saya mendapatkan kesan bahwa properti yang dirancang dan dipergunakan malam itu tidak hanya sebagai medium pendukung semata, melainkan juga sebagai suatu instalasi yang menjembatani antara penari dengan panggung, pun sekaligus hadir sebagai satu kesatuan visual yang instalatif.

Fragmen tari berjudul Gita Sarayu oleh Desa Selat sebagai duta Kabupaten Karangasem pada Kamis malam, 9 Juli 2026 | Foto: Purwita Sukahet
Malam sebelumnya saya juga hadir di sana pada saat penabuh dan penari duta Kabupaten Karangasem melakukan geladi karena anak-anak saya dan ibunya ikut mendukung fragmen tari Gita Sarayu ini. Jarak pandang saya cukup dekat dengan panggung, penggunaan material sederhana seperti 5 buah kain putih panjang yang ditautkan pada ujung bambu penjor menjuntai ke bawah, kemudian sebuah anyaman daun kelapa menyerupai figur manusia yang dipergunakan penari yang diperebutkan dalam suatu adegan, sebuah tangga tinggi dari bambu, dan beberapa tambur (bedug) jelas terlihat.
Saya cukup penasaran sebenarnya dengan keseluruhan tampilan penggunaan properti tersebut―bahkan saya sempat menuju tribun panggung paling belakang. Tapi saya masih belum menemukan gambaran utuh tentang properti-properti ini akan bagaimana atau menyajikan apa atau memberikan efek apa. Hingga pada saat pementasan tiba, saya bergerak ke posisi agak tengah tribun paling belakang, mencoba mendapatkan visual yang lebih lebar dan menyeluruh dari gelaran fragmen tari ini. Properti-properti disetting sedemikian rupa, lighting mulai dihidupan menyesuaikan dengan konsep yang telah disepakati, dan apa yang saya saksikan adalah satu bentuk komposisi yang saling mengisi, saling mendukung satu dengan lainnya.
Sejak awal, kain panjang pada bambu penjor hadir di panggung dengan latar siluet megah gapura utama Ardha Candra. Sedangkn tangga besar dan tinggi juga disetting di sisi selatan gapura dengan arah menyerong ke barat laut. Efek kain yang dihembus angin dan warna tata lampu turut membangun suasana, kain itu dapat berpindah tempat maju-mundur dan dapat diatur lepas dari kaitannya pada ujung bambu, menyesuaikan dengan alur cerita.

Fragmen tari berjudul Gita Sarayu oleh Desa Selat sebagai duta Kabupaten Karangasem pada Kamis malam, 9 Juli 2026 | Foto: Purwita Sukahet
Saya cukup terkejut ketika penari mulai masuk dalam panggung, bergerak, membentuk komposisi, menghilang, berganti penari lainnya, kehadiran properti dan penari pada panggung serupa medium rupa pada permukaan kanvas, bergerak membentuk posisi. Tubuh-properti-komposisi dan ini bukan hanya sekadar pertunjukan fragmen tari, tetapi lebih kepada gelaran yang juga mempertimbangkan visual. Sehingga, bagi saya, apa yang dihadirkan adalah sebuah gelaran fragmen tari instalatif. Properti terlihat menjadi lebih site-specific yang berarti properti tari sebagai bagian instalasi dibuat atau dihadirkan dengan pertimbangan lokasi tertentu, sehingga area pagelaran dianggap sebagai bagian dari karya seni tersebut, yang kemudian mengubah cara kita memandang lingkungan sekitarnya.
Karya seni instalasi, menyitir Mikke Susanto dalam Diksi Rupa (2011), menempatkan seni instalasi sebagai deskripsi atas perkembangan lebih lanjut dari salah satu teknik seni rupa, yaitu asemblasi, unsur peristiwa atau tepatnya proses kejadian suatu peristiwa telah dianggap sebagai representasi. Secara kebentukan, seni instalasi masih merupakan sebuah seni yang mengalami banyak perkembangan, mulai dari ekspresi hingga pada tingkat praksisnya.
Pada dasarnya, saya memandang bahwa karya seni instalasi adalah karya yang mengisi ruang dan waktu pada waktu tertentu (temporer) dan memberikan ruang dialog yang luas bagi audiens, dan pada beberapa kasus memberikan pengalaman imersif kepada audiens. Dengan kata lain, seni instalasi tidak hanya memenuhi tempat melainkan suatu bentuk pengalaman atas kehadiran objek dan ruang sehingga terjadi pertautan antara manusia, objek, dan latar tempatnya dalam suatu gagasan atau wacana.

Fragmen tari berjudul Gita Sarayu oleh Desa Selat sebagai duta Kabupaten Karangasem pada Kamis malam, 9 Juli 2026 | Foto: Purwita Sukahet
Mengutip juga tentang karakteristik seni instalasi dari Irish Museum of Modern Art (IMMA) “What is Instalation Art” yang menyebutkan bahwa seni instalasi adalah istilah luas yang mencakup berbagai praktik seni yang melibatkan penempatan atau penataan objek di dalam suatu ruang, di mana keseluruhan objek dan ruang tersebut membentuk karya seni itu sendiri. Seni instalasi terus dibentuk dan dipengaruhi oleh perkembangan di berbagai bidang dan disiplin ilmu lainnya. Unsur-unsur performatif dalam seni instalasi telah dipengaruhi oleh perkembangan teater dan tari avant-garde; demikian pula, perkembangan dalam arsitektur dan desain interior terus memengaruhi pertimbangan mengenai penggunaan serta peruntukan ruang publik dan privat.
Dengan demikian, apa yang dihadirkan oleh para kreator dan tim artistik fragmen tari Desa Selat, Karangsem (Gus De Homa, Dayu Arya Satyani, I Wayan Gede Rikiana Adiputra, Aditya Guna Eka Putra, Dayu Prihandari, Gus Sena, Arya Krisna, Ria Andayani, Gus Mame, Thaly Titi Kasih, Dayu Mang Ana, Pengangge Art, Jojo, Janu Janardana, Ruang Tumbuh Bumi Bajra), dan penabuh dari Sekaa Gong Yowana Widya Sandhi Swara, Desa Duda, Selat, Karangasem, sebagai duta gong kebyar dewasa Kabupaten Karangasem pada Pesta Kesenian Bali kali ini, bisa dibilang sebagai sebuah bentuk karya seni fragmen tari yang memberikan kesan kuat, performatif, sekaligus menyajikan visual (seni) instalatif pada propertinya dalam satu kesatuan kompleksitas pertunjukan fragmen tari gong kebyar masa kini (kontemporer)― sebuah pagelaran yang menghadirkan komposisi musikal, gambelan, vokal, penari, properti, dan latar tempat pertunjukan serta capaian visual yang secara keseluruhan saling mengisi dan saling memberi dalam satu momentum ruang waktu. Tentunya, sekali lagi, bahwa ini adalah sudut pandang yang subjektif dari sisi (seni) rupa, apabila ada yang berkenan memberikan pandangan lainnya, dipersilakan.[T]
Pohmanis, 11 Juli 2026
Penulis: Purwita Sukahet
Editor: Jaswanto































