SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026), Krama Desa Ubud Kaja mempersembahkan sebuah drama-tari bertajuk Pemurtian Sunda Upasunda. Diangkat dari kisah tua Adiparwa yang sarat dengan tuntunan tentang rapuhnya persaudaraan ketika keserakahan merasuki dan menguasai diri.
Buda Umanis Medangsia, hari Selasa 8 Juli 2026, penonton telah berjibun memenuhi wantilan jaba Pura Dalem Ubud. Mereka sedang bersiap menyaksikan penampilan dari para seniman lintas generasi Krama Desa Ubud Kaja yang diiringi oleh tabuh gambelan Sekaa Gong Raja Peni. Suasana keramaian yang cukup langka terjadi di tengah menurunnya antusiasme masyarakat (Ubud) menyaksikan secara live drama-tari tradisional.
Sebelum menapaki pertunjukan utama Pemurtian Sunda Upasunda, penonton disuguhi tarian Panyembrama yang ditarikan oleh sepuluh wanita berbaju kebaya putih dengan hiasan bunga emas dan membawa wadah berisi bunga. Tarian ini dibawakan dengan apik oleh penari tua yang rata-rata berumur lima puluh tahun ke atas. Meskipun sepuh, mereka menari dengan penuh semangat dan disambut dengan meriah oleh penonton. Hingga pada bagian akhir seorang penari mengalami kerasukan (kerauhan) yang membuat suasana menjadi heboh, namun kemudian berubah menjadi gelak tawa karena memang menjadi bagian dari pertunjukkan.
Kemudian dilanjutkan dengan penampilan lima pemudi yang menarikan tarian Sekar Jagat. Pertunjukan yang ketiga adalah Tari Wirayuda, yang ditarikan oleh lima penari yang merupakan prajuru atau pengurus PKK Ubud Kaja, penampilan mereka juga disambut meriah oleh penonton.

Selanjutnya, suasana berganti dengan hadirnya dua sosok abdi (Bondres) yang diperankan oleh Wayan Weca dan Aris. Mereka tampil dengan lontaran candaan, sambil menyampaikan prolog dari cerita drama-tari Pemurtian Sunda Upasunda. Dua penari beda generasi ini, berperan sebagai abdi bagi junjungan mereka Raja Sunda dan Upasunda. Konon, dua raja raksasa ini mendapat anugrah kesaktian yang tidak tertandingi oleh siapa pun termasuk oleh para Dewa.
Diperankan oleh Wayan Astina dan Pak Gender, dua penari beda generasi ini menghadirkan tarian yang penuh wibawa, mengenakan busana dan hiasan yang menunjukkan sebagai raja raksasa. Namun, di balik tampilan yang berwibawa itu, raja raksasa sering menyelipkan tingkah polah kocak yang menyegarkan suasana.
Dua raja raksasa ini digambarkan memiliki ikatan persaudaraan sangat erat. Meskipun terlahir sebagai raksasa, mereka hidup dalam kesetiaan, saling menjaga, dan bersumpah untuk tidak pernah saling mengkhianati. Kekuatan persaudaraan mereka dibangun di atas ambisi yang sama, yaitu menguasai tiga dunia. Tentu hal ini menggangu ketentraman kahyangan yang dihuni para Dewa.
Melalui ritus tapa berata semadi yang sangat kuat, mereka mampu mengguncang jagat raya. Menyadari bahaya yang dapat mengancam keseimbangan alam semesta, para dewa berupaya menggagalkan pertapaan itu. Diutuslah delapan bidadari yang dipimpin oleh seorang bidadari cantik bernama Dewi Tilottama, turun ke dunia untuk menggoda kedua asura tersebut agar terbangun dari tapa mereka.
Selanjutnya, adegan menampilkan kemunculan delapan bidadari di kahyangan yang sedang menerima perintah dari bidadari Tilottama untuk turun ke bumi menggoda dua raja raksasa. Adegan ini mampu memancing gelak tawa penonton, karena para bidadari diperankan oleh laki-laki berbusana wanita. Sehingga, mewujudlah delapan bidadari dengan keaneka ragaman tampilan dan bentuk tubuh. Ada yang tinggi langsing namun berjenggot tebal, gemoi, gendut hingga cabi. Mereka turun ke bumi, meliak-liuk mengeluarkan segala jurus ampuh, mengganggu tapa dua Asura ini.

Rombongan para bidadari diperankan oleh Es Moni, Rudi (tudeg), Kadek Rudi, Si Koming, Gung Aji Negara, Ketut Sutarma, Unyil, dan Suka. Segala jurus menggoda telah dilakukan, namun sedikit pun tidak mampu membuat kedua asura ini beranjak dari tapa mereka, malah alam semesta semakin kuat berguncang.
Hingga akhirnya, para dewa menghadirkan senjata terakhir. Turunlah bidadari tercantik di kahyangan, yaitu Dewi Tilottama, yang dalam drama-tari ini diperankan secara memikat oleh Gung Jus yang juga merupakan penari pria. Penampilan laki-laki yang menarikan peran wanita dalam tradisi Bali merupakan tradisi lampau yang kembali diketengahkan sebagai pilihan artistik dan sekaligus menghadirkan nuansa humor yang mengundang senyum dan tawa penonton. Dengan cekatan Dewi Tilottama mulai memainkan pesona kecantikannya. Hingga keteguhan tapa brata kedua raksasa terganggu.
Mereka tidak mampu menolak daya pikat bidadari tercantik di kahyangan ini. Dari mata turun ke hati, hingga munculah keinginan dua raja raksasa ini untuk memiliki Dewi Tilottama. Perlahan ego dan keserakahan mulai mengikis sumpah persaudaraan yang selama ini mereka junjung tinggi. Ambisi yang dahulu ditujukan untuk menguasai tiga dunia berubah menjadi nafsu untuk saling mengalahkan dan memenangkan hati wanita. Persaudaraan yang dibangun sejak kecil kemudian runtuh dalam sekejap oleh seorang wanita. Pertengkaran berubah menjadi peperangan.
Dalam drama-tari ini, bibit perseteruan diawali dengan sayembara yang disyaratkan oleh Dewi Tilottama untuk memenangkannya. Mereka diminta menunjukkan kepiawaian dalam bidang menyanyi. Raja Upasunda menyanyikan lagu “Dewi Tresna” (dipopulerkan Denanda ft Dewi Pradewi) sedangkan Raja Sunda menyanyikan lagu “Begadang jangan begadang” milik Roma Irama.
Sejenak, drama-tari menjadi kontes menyanyi oleh dua raja raksasa. Beberapa penonton terpancing untuk memberikan saweran kepada dua asura ini, suatu kondisi interaktif yang meniadakan sekat pemisah antara pemain dan penonton. Setelah menyita waktu yang cukup panjang, kontes sayembara ini tidak menghasilkan penyelesaian, tidak ada yang kalah atau menang hingga harus dituntaskan dengan adu kesaktian.

Puncak dramatik pertunjukan hadir ketika Sunda dan Upasunda melakukan pemurtian. Sunda menjelma menjadi sosok raksasa besar yang mengerikan. Wajah beringas dengan taring tajam, mata menyala, lidah menjulur panjang memuntahkan lahar api, sementara rambutnya terurai dengan kobaran api di atas ubun-ubun. Transformasi wujud Rangda yang diperankan oleh Wahyu itu menghadirkan aura angker yang membuat suasana panggung berubah mencekam.
Tidak mau kalah, Upasunda juga melakukan pemurtian. Ia menjelma menjadi Banaspati Raja dalam wujud Barong Ket yang ditarikan oleh Dek Angga dan Angga Mahaputra. Layaknya sang penguasa hutan, dengan tubuh berbulu lebat, dilingkupi dengan pancaran cahaya yang menyilaukan, bergerak-gerak dengan lincah mencoba menandingi kekuatan pemurtian Sunda. Pertempuran dahsyat pun tak terelakkan.
Di tengah sengitnya pertarungan, Banaspati Raja tiba-tiba menghilang secara gaib. Sebagai gantinya muncul belasan penari Onying yang menghunus keris, yang diperankan dengan penuh semangat oleh anak-anak kecil (SD) Ubud Kaja. Dengan pekik dan teriakan yang menggetarkan, mereka berani menghadapi kemarahan Rangda yang mengibas-ibaskan kain putih. Setelah rangda lenyap, seketika Onying yang dilingkupi rasa marah, menusukkan keris ke tubuh mereka sendiri hingga semuanya tergeletak tidak sadarkan diri, barong dan seorang pemangku yang diperankan oleh Made Suardika “Tungtung”, kemudian hadir memercikkan tirta air suci untuk menetralkan kondisi itu.
Ketika para penari Onying menghunus keris ke tubuh mereka sendiri, pertunjukan itu seolah menegaskan bahwa musuh yang paling sulit ditaklukkan bukanlah yang berdiri di hadapan kita, melainkan keserakahan, amarah, dan nafsu yang bersemayam di dalam diri. Pertempuran itu berakhir tragis. Tidak ada pemenang. Sunda dan Upasunda sama-sama menemui kematian akibat keserakahan yang menghancurkan persaudaraan mereka sendiri.
Di balik kekuatan cerita Pemurtian Sunda Upasunda, pertunjukan ini juga menjadi cermin kuatnya semangat persaudaraan Krama Desa Ubud Kaja. Seluruh pemain merupakan seniman, penata tari, penulis naskah lokal yang berasal dari lintas generasi di Ubud Kaja. Generasi tua (krama desa), pemuda-pemudi (STT SGUK), hingga anak-anak tampil bersama dalam satu panggung sebagai wujud memekarnya potensi dan regenerasi seni yang berlangsung secara alami di lingkungan desa adat.
Gagasan cerita dikembangkan oleh Astina dan Pak Weca, penata tari Agus Swastika, penata tabuh oleh Eris, iringan tabuh oleh Sekaa Gong Raja Peni Ubud, perlengkapan oleh Jik Klemek.[T]
Penulis: Agus Eka Cahyadi
Editor: Jaswanto






























