1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

Agus Eka Cahyadi by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
in Panggung
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

Para Bidadari Kahyangan yang dipimpin Dewi Tilottama ditarikan oleh Krama Lanang Ubud Kaja | Foto: Dokumentasi Media Ubud Kaja

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026), Krama Desa Ubud Kaja mempersembahkan sebuah drama-tari bertajuk Pemurtian Sunda Upasunda. Diangkat dari kisah tua Adiparwa yang sarat dengan tuntunan tentang rapuhnya persaudaraan ketika keserakahan merasuki dan menguasai diri.

Buda Umanis Medangsia, hari Selasa 8 Juli 2026, penonton telah berjibun memenuhi wantilan jaba Pura Dalem Ubud. Mereka sedang bersiap menyaksikan penampilan dari para seniman lintas generasi Krama Desa Ubud Kaja yang diiringi oleh tabuh gambelan Sekaa Gong Raja Peni. Suasana keramaian yang cukup langka terjadi di tengah menurunnya antusiasme masyarakat (Ubud) menyaksikan secara live drama-tari tradisional.

Sebelum menapaki pertunjukan utama Pemurtian Sunda Upasunda, penonton disuguhi tarian Panyembrama yang ditarikan oleh sepuluh wanita berbaju kebaya putih dengan hiasan bunga emas dan membawa wadah berisi bunga. Tarian ini dibawakan dengan apik oleh penari tua yang rata-rata berumur lima puluh tahun ke atas. Meskipun sepuh, mereka menari dengan penuh semangat dan disambut dengan meriah oleh penonton. Hingga pada bagian akhir seorang penari mengalami kerasukan (kerauhan) yang membuat suasana menjadi heboh, namun kemudian berubah menjadi gelak tawa karena memang menjadi bagian dari pertunjukkan.

Kemudian dilanjutkan dengan penampilan lima pemudi yang menarikan tarian Sekar Jagat. Pertunjukan yang ketiga adalah Tari Wirayuda, yang ditarikan oleh lima penari yang merupakan prajuru atau pengurus PKK Ubud Kaja, penampilan mereka juga disambut meriah oleh penonton.

Tari Panyembrama oleh penari sepuh Ubud Kaja | Foto: Dokumentasi Media Ubud Kaja

Selanjutnya, suasana berganti dengan hadirnya dua sosok abdi (Bondres) yang diperankan oleh Wayan Weca dan Aris. Mereka tampil dengan lontaran candaan, sambil menyampaikan prolog dari cerita drama-tari Pemurtian Sunda Upasunda. Dua penari beda generasi ini, berperan sebagai abdi bagi junjungan mereka Raja Sunda dan Upasunda. Konon, dua raja raksasa ini mendapat anugrah kesaktian yang tidak tertandingi oleh siapa pun termasuk oleh para Dewa.

Diperankan oleh Wayan Astina dan Pak Gender, dua penari beda generasi ini menghadirkan tarian yang penuh wibawa, mengenakan busana dan hiasan yang menunjukkan sebagai raja raksasa. Namun, di balik tampilan yang berwibawa itu, raja raksasa sering menyelipkan tingkah polah kocak yang menyegarkan suasana.

Dua raja raksasa ini digambarkan memiliki ikatan persaudaraan sangat erat. Meskipun terlahir sebagai raksasa, mereka hidup dalam kesetiaan, saling menjaga, dan bersumpah untuk tidak pernah saling mengkhianati. Kekuatan persaudaraan mereka dibangun di atas ambisi yang sama, yaitu menguasai tiga dunia. Tentu hal ini menggangu ketentraman kahyangan yang dihuni para Dewa.

Melalui ritus tapa berata semadi yang sangat kuat, mereka mampu mengguncang jagat raya. Menyadari bahaya yang dapat mengancam keseimbangan alam semesta, para dewa berupaya menggagalkan pertapaan itu. Diutuslah delapan bidadari yang dipimpin oleh seorang bidadari cantik bernama Dewi Tilottama, turun ke dunia untuk menggoda kedua asura tersebut agar terbangun dari tapa mereka.

Selanjutnya, adegan menampilkan kemunculan delapan bidadari di kahyangan yang sedang menerima perintah dari bidadari Tilottama untuk turun ke bumi menggoda dua raja raksasa. Adegan ini mampu memancing gelak tawa penonton, karena para bidadari diperankan oleh laki-laki berbusana wanita. Sehingga, mewujudlah delapan bidadari dengan keaneka ragaman tampilan dan bentuk tubuh. Ada yang tinggi langsing namun berjenggot tebal, gemoi, gendut hingga cabi. Mereka turun ke bumi, meliak-liuk mengeluarkan segala jurus ampuh, mengganggu tapa dua Asura ini.

Raja Raksasa Sunda dan Upasunda didampingi abdi | Foto: Dokumentasi Media Ubud Kaja

Rombongan para bidadari diperankan oleh Es Moni, Rudi (tudeg), Kadek Rudi, Si Koming, Gung Aji Negara, Ketut Sutarma, Unyil, dan Suka. Segala jurus menggoda telah dilakukan, namun sedikit pun tidak mampu membuat kedua asura ini beranjak dari tapa mereka, malah alam semesta semakin kuat berguncang.

Hingga akhirnya, para dewa menghadirkan senjata terakhir. Turunlah bidadari tercantik di kahyangan, yaitu Dewi Tilottama, yang dalam drama-tari ini diperankan secara memikat oleh Gung Jus yang juga merupakan penari pria. Penampilan laki-laki yang menarikan peran wanita  dalam tradisi Bali merupakan tradisi lampau yang kembali diketengahkan sebagai pilihan artistik dan sekaligus menghadirkan nuansa humor yang mengundang senyum dan tawa penonton. Dengan cekatan Dewi Tilottama mulai memainkan pesona kecantikannya. Hingga keteguhan tapa brata kedua raksasa terganggu.

Mereka tidak mampu menolak daya pikat bidadari tercantik di kahyangan ini. Dari mata turun ke hati, hingga munculah keinginan dua raja raksasa ini untuk memiliki Dewi Tilottama. Perlahan ego dan keserakahan mulai mengikis sumpah persaudaraan yang selama ini mereka junjung tinggi. Ambisi yang dahulu ditujukan untuk menguasai tiga dunia berubah menjadi nafsu untuk saling mengalahkan dan memenangkan hati wanita. Persaudaraan yang dibangun sejak kecil kemudian runtuh dalam sekejap oleh seorang wanita. Pertengkaran berubah menjadi peperangan.

Dalam drama-tari ini, bibit perseteruan diawali dengan sayembara yang disyaratkan oleh Dewi Tilottama untuk memenangkannya. Mereka diminta menunjukkan kepiawaian dalam bidang menyanyi. Raja Upasunda menyanyikan lagu “Dewi Tresna” (dipopulerkan Denanda ft Dewi Pradewi) sedangkan Raja Sunda menyanyikan lagu “Begadang jangan begadang” milik Roma Irama.

Sejenak, drama-tari menjadi kontes menyanyi oleh dua raja raksasa. Beberapa penonton terpancing untuk memberikan saweran kepada dua asura ini, suatu kondisi interaktif yang meniadakan sekat pemisah antara pemain dan penonton. Setelah menyita waktu yang cukup panjang, kontes sayembara ini tidak menghasilkan penyelesaian, tidak ada yang kalah atau menang hingga harus dituntaskan dengan adu kesaktian.

Tarian Rangda dan Onying alit-alit Ubud Kaja dalam drama-tari Pemurtian Sunda Upasunda | Foto: Dokumentasi Media Ubud Kaja

Puncak dramatik pertunjukan hadir ketika Sunda dan Upasunda melakukan pemurtian. Sunda menjelma menjadi sosok raksasa besar yang mengerikan. Wajah beringas dengan taring tajam, mata menyala, lidah menjulur panjang memuntahkan lahar api, sementara rambutnya terurai dengan kobaran api di atas ubun-ubun. Transformasi wujud Rangda yang diperankan oleh Wahyu itu menghadirkan aura angker yang membuat suasana panggung berubah mencekam.

Tidak mau kalah, Upasunda juga melakukan pemurtian. Ia menjelma menjadi Banaspati Raja dalam wujud Barong Ket yang ditarikan oleh Dek Angga dan Angga Mahaputra. Layaknya sang penguasa hutan, dengan tubuh berbulu lebat, dilingkupi dengan pancaran cahaya yang menyilaukan, bergerak-gerak dengan lincah mencoba menandingi kekuatan pemurtian Sunda. Pertempuran dahsyat pun tak terelakkan.

Di tengah sengitnya pertarungan, Banaspati Raja tiba-tiba menghilang secara gaib. Sebagai gantinya muncul belasan penari Onying yang menghunus keris, yang diperankan dengan penuh semangat oleh anak-anak kecil (SD) Ubud Kaja. Dengan pekik dan teriakan yang menggetarkan, mereka berani menghadapi kemarahan Rangda yang mengibas-ibaskan kain putih. Setelah rangda lenyap, seketika Onying yang dilingkupi rasa marah, menusukkan keris ke tubuh mereka sendiri hingga semuanya tergeletak tidak sadarkan diri, barong dan seorang pemangku yang diperankan oleh Made Suardika “Tungtung”, kemudian hadir memercikkan tirta air suci untuk menetralkan kondisi itu.

Ketika para penari Onying menghunus keris ke tubuh mereka sendiri, pertunjukan itu seolah menegaskan bahwa musuh yang paling sulit ditaklukkan bukanlah yang berdiri di hadapan kita, melainkan keserakahan, amarah, dan nafsu yang bersemayam di dalam diri. Pertempuran itu berakhir tragis. Tidak ada pemenang. Sunda dan Upasunda sama-sama menemui kematian akibat keserakahan yang menghancurkan persaudaraan mereka sendiri.

Di balik kekuatan cerita Pemurtian Sunda Upasunda, pertunjukan ini juga menjadi cermin kuatnya semangat persaudaraan Krama Desa Ubud Kaja. Seluruh pemain merupakan seniman, penata tari, penulis naskah lokal yang berasal dari lintas generasi di Ubud Kaja. Generasi tua (krama desa), pemuda-pemudi (STT SGUK), hingga anak-anak tampil bersama dalam satu panggung sebagai wujud memekarnya potensi dan regenerasi seni yang berlangsung secara alami di lingkungan desa adat.

Gagasan cerita dikembangkan oleh Astina dan Pak Weca, penata tari Agus Swastika, penata tabuh oleh Eris, iringan tabuh oleh Sekaa Gong Raja Peni Ubud, perlengkapan oleh Jik Klemek.[T]

Penulis: Agus Eka Cahyadi
Editor: Jaswanto

Tags: Drama-Tari "Pemurtian Sunda Upasunda"Piodalan Pura Dalem Desa Adat UbudPura Dalem Desa Adat Ubud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

Next Post

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Agus Eka Cahyadi

Agus Eka Cahyadi

I Wayan Agus Eka Cahyadi. Lahir di Ubud, 12 Agustus 1984. Dosen FSRD ISI Denpasar

Related Posts

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails
Next Post
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Tak Ada Goresan yang Salah ---Mengenang Made Budhiana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co