PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu terbuka ruang bagi kasih yang melampaui batas-batas permusuhan. Gagasan itulah yang menjadi ruh pertunjukan Bunyi Mata Ugra, produksi Sanggar Bajradnyana Music Teater yang berkolaborasi dengan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Bali dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII.
Pertunjukan berdurasi sekitar 80 menit ini dipentaskan di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, pada Rabu, 22 Juli 2026. Meski masih banyak kursi yang kosong, penonton yang hadir tampak terpesona oleh akting dan ekspresi para pemain yang begitu kuat. Walaupun kisah yang diangkat terkesan serius, para pemain tetap mampu menyelipkan adegan-adegan jenaka yang mencairkan suasana tanpa mengurangi bobot dramatiknya.

Bunyi Mata Ugra merupakan karya teater pakeliran yang berangkat dari esensi teater tradisi Bali. Garapan ini memadukan tari, drama, tembang, musik, dan tutur dalam satu kesatuan artistik yang lentur. Struktur dramatiknya mengadopsi pola penceritaan wayang kulit sehingga ruang imajinasi penonton dibangun melalui perpindahan adegan, narasi, serta simbol-simbol visual yang saling menguatkan.
Kekuatan pertunjukan juga terletak pada tata musikalnya. Sebanyak 42 penari dan pemusik menghadirkan komposisi yang memadukan instrumen gamelan dengan biola, perkusi, dan handpan. Unsur gamelan tidak disajikan dalam satu barungan utuh, melainkan melalui beberapa ricikan seperti bonang, gender, gong, dan suling gambuh. Perpaduan bunyi tradisi dan instrumen modern tersebut berhasil membangun atmosfer dramatik yang memperkuat setiap adegan.

Pertunjukan dibuka dengan alunan tembang berbahasa Kawi yang berpadu dengan lirik berbahasa Indonesia. Suara biola dan suling saling bersahutan, diselingi ritme perkusi yang mengingatkan pada gendang India, lalu ditutup dentuman gong yang memberi penegasan suasana. Tata cahaya bernuansa biru mengawali perjalanan dramatik sebelum para pemain memasuki panggung dan menghidupkan kisah.
Secara artistik, Bunyi Mata Ugra menghadirkan pendekatan modern tanpa meninggalkan akar tradisi Bali. Garapan ini disutradarai sekaligus ditulis oleh I Gusti Putu Sudarta, dengan dramaturgi oleh Ni Wayan Suratni, tata cahaya oleh I Gusti Ngurah Sudibya, koreografi oleh I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra, koordinasi produksi oleh I Kadek Bhaswara Dwitiya, desain kostum oleh I Dewa Ayu Galuh Intan Raka Siwi, serta manajemen panggung oleh Ni Putu Ratna Dewi Gayatri.

Menurut I Gusti Putu Sudarta, pertunjukan ini mengangkat perjalanan spiritual manusia menuju pencerahan. Kesadaran manusia bergerak dari citta dan manah, berkembang menjadi budhi, melampaui ego (ahamkara), hingga mencapai subudhi, yakni kesadaran yang melampaui pikiran dan emosi. Melalui perjalanan batin tersebut, manusia diajak menemukan kasih sebagai jalan menuju kebijaksanaan.
Gagasan tersebut selaras dengan tema Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026, “Atma Kerthi: Kembara Sukma”, yang dimaknai sebagai pengembaraan menuju kesucian jiwa. Karena itu, Bunyi Mata Ugra tidak hanya menawarkan pengalaman estetis, tetapi juga menghadirkan refleksi mengenai kemanusiaan, cinta kasih, dan nilai-nilai budi pekerti.

Garapan ini berkisah tentang peperangan antara Wangsa Arya dan Wangsa Dasiu di Negeri Bharata. Di tengah pertikaian itu tumbuh benih cinta antara Ugra, putri Raja Shambara, dan Wishwaratha, putra mahkota Wangsa Arya yang menjadi tawanan perang. Pertemuan mereka menghapus prasangka dan menumbuhkan keyakinan bahwa kasih mampu mengakhiri permusuhan. Namun, cinta mereka ditentang Resi Agastya karena perbedaan asal-usul kedua wangsa.
Demi mengakhiri pertikaian dan pengorbanan yang terus berlanjut, Ugra memilih mengakhiri hidupnya. Kepergiannya menjadi titik balik bagi Wishwaratha yang melepaskan takhta demi mengabdikan hidup untuk menyebarkan cinta kasih. Sementara itu, Agastya akhirnya menyadari bahwa pencerahan sejati lahir dari kasih yang melampaui kebencian.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























![Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-kebaya2-1-350x250.jpg)


